Anda di halaman 1dari 3

Laporan Observasi Perkembangan Peserta Didik

1. Perkembangan Fisik Motorik


Berdasarkan informasi dari observasi di lapangan Anak yang berada di kelas awal SD 1, 2, dan 3
adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa
perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi
kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong
sehingga akan berkembang secara optimal. 3. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu,
dua dan tiga SD Perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan
fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan
keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat
mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan
dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan
anak dari sisi sosial, terutama anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah
dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan
teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
Selain berkaitan erat dengan fisik dan intelektual anak, kemampuan motorik pun berhubungan
dengan aspek psikologis anak. Damon & Hart, 1982 (Petterson 1996) menyatakan bahwa
kemampuan fisik berkaitan erat dengan self-image anak. Anak yang memiliki kemampuan fisik
yang lebih baik di bidang olah raga akan menyebabkan dia dihargai teman-temannya. Hal
tersebut juga seiring dengan hasil penelitian yang dilakukan Ellerman, 1980 (Peterson, 1996)
bahwa kemampuan motorik yang baik berhubungan erat dengan self-esteem.
Teori yang menjelaskan secara detai tentang sistematika motorik anak adalah Dynamic System
Theory yang dikembangkan Thelen & whiteneyerr. Teori tersebut mengungkapkan bahwa untuk
membangun kemampuan motorik anak harus mempersepsikan sesuatu di lingkungannya yang
memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu dan menggunakan persepsi mereka tersebut untuk
bergerak. Kemampuan motorik merepresentasikan keinginan anak. Misalnnya ketika anak
melihat mainan dengan beraneka ragam, anak mempersepsikan dalam otaknnya bahwa dia ingin
memainkannya. Persepsi tersebut memotivasi anak untuk melakukan sesuatu, yaitu bergerak
untuk mengambilnya. Akibat gerakan tersebut, anak berhasil mendapatkan apa yang di tujunya
yaitu mengambil mainan yang menarik baginya.

2. Perkembangan Intelektual
Di lihat dari hasil penelitian dilapangan Pada usia anak kelas SD 1, 2, dan 3, anak sudah dapat
mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menutup
kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif ( seperti membaca, menulis dan menghitung ).
Sebelum masa ini, yaitu masa sekolah (usia masa kanak-kanak) daya piker anak masih bersifat
imajinatif,berangan angan atau berhayal, sedangkan pada usia SD daya pikirnya sudah
berkembang kearah berpikir kongrit dan rasional.
Dilihat dari aspek perkembangan kognitif, menurut piaget masa ini berada pada tahap operasi
kogrit, yang ditandai dengan kemampuan, yaitu : mengklasifikasikan atau
(mengelompokan)benda-benda berdasarkan ciri yang sama, menusun atau mengasosiasikan
(menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan, memecahkan masalah (problem
solving) yang sederhana. Kemampuan intelektual pada masa ini cukup untuk menjadi dasar
diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola piker atau daya nalarnya.
Kepada anak sudah dapar di berikan dasar-dasr keilmuan seperti membaca,menulis,dan
berhitung ( CALISTUNG ). Disamping itu, kepada anak juga sudah dapat diberikan dasar-dasar
pengetahuan yang terkait dengan kehidupan manusia, hewan,lingkungan alam,lingkungan sosial
budaya dan agama.
Untuk mengembangkan daya nalarnya, daya cipta atau kreatifitas anak,maka kepada anak perlu
diberikan peluang-peluang untuk bertanya, berpendapat, atau menilai ( memberikan kritik )
tentang berbagai hal dengan pelajaran, atau peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Upaya lain
yang dapat dilakukan sekolah dalam hal ini para guru dalam mengembangkan kreatifitas anak,
adalah dengan menyelenggarakan kegiatan-egiatan,seperti perlombaan mengarang, menggambar,
cabaret/drama, berpidato ( bahasa ibu dan Indonesia ), dan cerdas cermat ( terkait dengan
pelajaran matematika, IPA, IPS, bahasa, dan agama ).

3. Perkembangan Emosi
Berdasarkan hasil observasi dilapangan dengan teori di buku Emosi anak didik kelas 1, 2, dan 3
factor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula prilaku
belajar ( Learning ). Emosi positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa
ingin tahu ( curiosity ) yang tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan
dirinya terhadap aktifitas belajar, seperti memerhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif
berdiskusi, mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah, dan disiplin dalam belajar. Sebaliknya,
apabila yang menyertai proses belajar itu emosi yang negatif, seperti perasaan tidak senang,
kecewa, tidak bergairah, maka proses belajar tersebut akan mengalami hambatan, dalam arti
individu tidak dapat memusatkan perhatiaannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia
akan mengalami kegagalan dalam belajarnya.
Mengingat hal tersebut, maka guru seyogianya mempunyai kepedulian untuk menciptakan
suasana proses belajar mengajar yang menyenangkan atau kondusip bagi terciptanya proses
belajar siswa secara efektif. Perkembangan anak usia 6-8 tahun dari sisi emosi antara lain anak
telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah
mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang konsep nilai misalnya benar
dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan
kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan
tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan
berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.
4. Perkembangan Bahasa
Pada anak kelas 1, 2, dan 3 SD pada tempat observasi, Usia sekolah dasar merupakan masa
perkembangan pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata ( vocabulary
). Pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2500 kata, dan masa akhir ( kira-kira usia
11-12 tahun ) anak sudah menguasai 5000 kata ( Abin Syamsuddin M, 2001; dan Nana syaodih
S.,1990 ). Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup
semua cara untuk berkomunikasi, di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan,
tulisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata, symbol, lambang, gambar atau
lukisan. Melalui bahasa, setiap manusi dapat mengendalikan dirinya, sesamanya, alam sekitar,
ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral agama.
Bahasa telah berkembang sejak anak berusia 4 – 5 bulan. Orang tua yang bijak selalu
membimbing anaknya untuk belajar berbicara mulai dari yang sederhana sampai anak memiliki
keterampilan berkomunikasi dengan mempergunakan bahasa. Oleh karena itu bahasa
berkembang setahap demi setahap sesuai dengan pertumbuhan organ pada anak dan kesediaan
orang tua membimbing anaknya. Fungsi dan tujuan berbicara antara lain:
 sebagai pemuas kebutuhan,

 sebagai alat untuk menarik orang lain,

 sebagai alat untuk membina hubungan sosial,

 sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri,

 untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain,

 untuk mempengaruhi perilaku orang lain.

 Potensi anak berbicara didukung oleh beberapa hal, Yaitu:

 kematangan alat berbicara,

 kesiapan mental,

 adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak,

 kesempatan berlatih,

 motivasi untuk belajar dan berlatih dan

 bimbingan dari orang tua.

Di samping adanya berbagai dukungan tersebut juga terdapat gangguan perkembangan berbicara
bagi anak, yaitu: (a) anak cengeng, (b) anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain. Pada
kenyataanya, anak lebih mudah menangkap pembicaraan orang lain dengan hal – hal yang tidak
baik, missal :
ketika guru sedang menjelaskan maka seorang siswa yang sulit menangkap penjelasan guru,
seorang guru tersebut mengeluarkan kata – kata yang tidak baik sehingga membuat siswa
semakin takut dan susah menerima pelajaran. Pada saat ini anak SD lebih bisa memahami
kalimat dengan memggunakan simbol. Anak akan mudah memahami perkataan guru dengan
dongeng. Anak akan memiliki banyak kata – kata karena anak zaman sekarang sudah berpikir
maju dan mereka akan lebih banyak bertanya pada saat belajar dan mulai memahami kalimat
tersebut.