Anda di halaman 1dari 29

SEJARAH KRISIS EKONOMI DUNIA

Krisis ekonomi global yang bermula pada bulan Oktober 2008 yang bersumber dari
runtuhnya perekonomian Amerika Serikat. Dengan dominasi yang dimiliki negara adidaya
tersebut terutama di bidang perekonomian global telah berdampak luas pada perekonomian
negara-negara di seluruh dunia. Krisis ekonomi global, sebenarnya bukan merupakan krisis yang
pertama terjadi di dunia internasional. Krisis yang kemudian kita pahami sebagai masalah-
masalah ekonomi ternyata telah terjadi sejak abad ke-18. Beberapa rentetan sejarah krisis global
itu antara lain:
1. Kepanikan 1797, yang berlangsung selama 3 tahun dari tahun 1797 hingga 1800 akibat dari
deflasi Bank of England yang menyebar hingga lautan Atlantik di Amerika Utara dan
menyebabkan hancurnya perdagangan dan pemasaran real estate di Amerika Serikat dan sekitar
Karibia. Ekonomi Inggris terpengaruh akibat adanya pembalikan deflasi selama perang dengan
Perancis saat terjadinya revolusi Perancis.
2. Depresi 1807, yang terjadi selama tujuh tahun sejak 1807 hingga 1814. Undang-undang embargo
Amerika Serikat 1807 pada saat itu diluluskan oleh kongres Amerika saat presiden Thomas
Jefferson memimpin. Hal ini menghancurkan industri yang terkait dengan pengapalan. Kaum
federal berusaha melawan embargo ini dan berusaha melakukan penyelundupan di New England.
3. Kepanikan 1819, terjadi selama 5 tahun dari 1819 hingga 1824. Ini adalah finansial pertama
yang mempengaruhi keuangan Amerika Serikat secara besar-besaran, bank-bank berjatuhan,
munculnya pengangguran, dan merosotnya pertanian dan industri manufaktur. Ini juga
menandakan berakhirnya ekspansi ekonomi yang mengikuti Perang 1812.
4. Kepanikan 1837, saat itu, ekonomi Amerika jatuh secara tajam disebabkan kegagalan bank dan
kurangnya keyakinan pada uang kertas. Spekulasi pasar menyebabkan bank di Amerika berhenti
bertransaksi dalam bentuk koin emas dan perak.
5. Kepanikan 1857, Kejatuhan Perusahaan Asuransi Hidup dan Kepercayaan Ohio menimbulkan
ledakan spekulasi di sektor transportasi Amerika Serikat. Lebih dari 5000 bisnis gagal kurang
dari setahun sejak terjadinya kepanikan dan kaum pengangguran melakukan protes di kawasan
urban.
6. Kepanikan 1873, Terjadi selama enam tahun disebabkan masalah ekonomi di Eropa
mengakibatkan jatuhnya Jay Cooke & Company, bank terbesar di Amerika Serikat. Hal ini juga
menimbulkan spekulasi terhadap perang saudara di Amerika. Undang-undang koin 1873 juga
memberikan kontribusi dalam jatuhnya harga perak yang menghancurkan industri pertambangan
Amerika Utara.
7. Depresi Berkepanjangan (The Long Depression), Sesuai namanya, depresi ini menelan waktu
23 tahun sejak 1873 hingga 1896. Runtuhnya Bursa Efek Vienna menyebabkan depresi ekonomi
yang menyebar ke seluruh dunia. Ini sangat penting dicatat dimana pada periode ini, produksi
industri global meningkat pesat. Di Amerika Serikat misalnya, pertumbuhan produksi mencapai
empat kali lipat.
8. Kepanikan 1893, Terjadi selama tiga tahun hingga 1896. Terjadi akibat kegagalan Reading
Railroad Amerika Serikat dan penarikan investor Eropa terhadap pasar saham serta jatuhnya
bank-bank.
9. Resesi Perang Dunia I, Terjadi selama tiga tahun hingga 1921. Terjadinya hiperinflasi di Eropa
menyebabkan kelebihan produksi besar-besaran di Amerika Utara.
10. Depresi Besar 1929 (The Great Depression), Depresi yang paling besar dan dikenang sepanjang
sejarah. Terjadi selama 10 tahun sejak 1929 hingga 1939. Pasar saham di seluruh dunia saat itu
berjatuhan dan bank-bank di Amerika Serikat mengalami kebangkrutan. Jutaan pengangguran
bermunculan dan kemiskinan merajalela.
11. Resesi 1953, Terjadi selama satu tahun. Setelah periode inflasi perang Korea berakhir, banyak
uang yang ditransferkan untuk keamanan nasional Amerika Serikat. Berubahnya kebijakan The
Fed yang lebih membatasi tahun 1952 menyebabkan terjadinya inflasi yang lebih lanjut.
12. Krisis Minyak 1973, Terjadi selama dua tahun hingga 1975. Naiknya harga minyak yang
ditetapkan oleh OPEC dan tingginya biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat pada Perang
Vietnam menyebabkan terjadinya stagflasi di Amerika Serikat.
13. Resesi Awal 1980, Terjadi di awal tahun 1980 selama dua tahun, revolusi Iran membuat
melonjaknya harga minyak dan munculnya krisis energi 1979. Pergantian rezim di Iran
menyebabkan menurunnya pasokan minyak sehingga harga minyak melambung. Ketatnya
kebijakan moneter di Amerika Serikat untuk mengontrol inflasi menyebabkan terjadi resesi
lainnya.
14. Resensi Awal 1990, Terjadi selama satu tahun dimana perdagangan produk industri dan
manufaktur menurun.
15. Resesi Awal 2000, Terjadi selama dua tahun dari 2001 hingga 2003. Keruntuhan bisnis dot-com,
serangan 11 September dan skandal pembukuan menyebabkan krisis di sekitar Amerika Utara.
16. Depresi Ekonomi 2008, Depresi yang saat ini tengah melanda dunia. Hal ini disebabkan
beberapa faktor diantaranya naiknya harga minyak yang menyebabkan naiknya harga makanan
di seluruh dunia, krisis kredit dan bangkrutnya berbagai investor bank, meningkatnya
pengangguran sehingga menyebabkan inflasi global. Bursa saham di beberapa negara terpaksa
ditutup beberapa hari termasuk di Indonesia, harga-harga saham juga turut anjlok. Diperkirakan
depresi ekonomi kali ini separah/ lebih parah dari depresi besar ekonomi 1929.
Posted 13th December 2012 by Kurniawan Cyber
KRISIS MONETER
Pada abad ke 19 sampai pada awal abad ke 20 sistem moneter internasional yang berlaku
adalah sistem standar emas. Namun karena terjadi perang dunia pertama maka sistem standar
emas inipun mulai ditinggalkan. Setelah perang dunia pertama standar emas mulai digunakan
lagi namun hal ini terhalang oleh depresi dunia pasa tahun 1939. Kemudian pada tahun 1944,
perwakilan dari 44 negara di dunia bertemu untuk merumuskan sebuah tatanan moneter
internasional yang baru. Pertemuan ini berlangsung di Bretten Wood, New Hampshire, Amerika
Serikat. Pada pertemuan ini terbentuk tiga lembaga keuangan untuk membangun sistem ekonomi
internasional. Yaitu International Monetary Fund (IMF), International Bank for Reconstruction
and Development (IBRD), dan World Bank atau Bank Dunia. Ketiga lembaga ini yang
diharapkan akan menghindarkan ekonomi dunia dari masa krisis. Namun pada tahun 1947,
sistem Bretten Woods ini tidak dapat berfungsi dengan baik. Sistem ekonomi Eropa telah
mengalami kehancuran sabagai akibat dari perang dunia kedua. IMF yang berfungsi sebagai
penyedia dana kredit tidak mampu untuk menangani kebutuhan Eropa yang sangat besar. Bank
Dunia dan IMF mengakui tidak dapat menangani masalah sistem keuangan saat itu. Dan masalah
ekonomi ini semakin merambat ke ranah politik. Seperti yang terjadi di Italia dan Prancis yang
mendapat tekanan dari para serikat buruh, serta Inggris yang menarik diri dari India dan
Palestina. Di tengah berbagai krisis yang menimpa Eropa, Amerika Serikat mengambil peran
kepemimpinan yang sangat besar dalam manajemen moneter internasional. Hal ini diakibatkan
oleh sistem ekonomi Amerika Serikat yang baik, sehingga negara-negara Eropa dan Jepang yang
diterpa krisis memercayai manajemen moneter yang dilakukan oleh Amerika Serkat. Pada tahun
1947 jug a, produksi emas tidak mampu untuk memenuhi pertumbuhan perdagangan
internasional. Inggris yang mengalami krisis juga mengakibatkan mata uangnya, pounds, tidak
dapat lagi digunakan sebagai mata uang dunia. Yang mampu untuk memenuhi likuiditas saat itu
hanyalah Dollar Amerika, sehingga sejak saat itu Dollar Amerika dijadikan acuan mata uang
dunia. Sebagai negara yang dianggap mempunyai ekonomi paling baik , Amerika Serikat
memberikan bantuan likuiditas ke perekonomian internasional. Sebagai contoh adalah Truman
Plan yang berisi bantuan ke Yunani dan Turki dan Marshall Plan yang berisi bantuan Amerika
kepada 16 negara Eropa Barat kurun tahun 1948-1952 yang jumlahnya sampai $ 17 miliar.
Namun sistem Bretten Wood sendiri mempunyai kelemahan yang nampak pada tahun 1960an.
Ketika ekonomi negara-negara Eropa mulai membaik, negara-negara Eropa dan Jepang mulai
menukarkan $US dengan emas yang dimiliki Amerika. Hal ini mengakibatkan emas yang
dimiliki Amerika terus berkurang. Untuk menghentikan cadangan emas Amerika yang terus
menurun maka Amerika Serikat mencabut konvertibilitas dollarnya terhadap emas.Dengan
pencabutan ini maka berakhirlah pula sistem Bretten Woods. Sistem dollar tidak runtuh saat itu,
Amerika Serikat masih memegang peran kepeminpinan, begitu pula sistem perekonomiannya
masih tetap baik, namun Amerika tidak dapat lagi mengelola sistem sendiri. Sejak 1960 Amerika
Serikat diwajibkan untuk menerapkan manajemen kolektif. Lalu pada Desember 1961
terbentuklah G-10. G-10 ini beranggotakan negara-negara industri yaitu Belgia, Kanada,
Perancis, Jerman, Italia,Jepang, Belanda, Swedia, Inggris, dan Amerika Serikat. Awal mula
mereka mencipatakan General Arrangement to Borrow (GAB). Pada tahun 1968 krisis dollar dan
pasokan emas Amerika dapat ditekan dengan cara menciptakan sistem emas dua tingkat, yaitu
pasar pribadi ( harganya naik turun), dan pasar publik ( harganya dipastikan $35 per ons). G-10
pada tahun 1968 juga menciptakan Special Drawing Rights (SDR) yaitu cadangan unit
internasional yang diciptakan oleh IMF yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah
rekening antar bank sentral.
Secara signifikan, keberhasilan bentuk baru likuiditas internasional ini tidak hanya
menguntungkan Amerika Serikat tetapi juga semua anggota G-10. Pada tahun 1
971 diadakan pertemuan”Smithsonian Agreement” . Pertemuan ini
menetapkan bahwa $US didevaluasi serta titik-titik dukung yang semula ditetapkan plus minus
1% berubah menjadi 2.25%. Pada Februari 1973 Amerika kembali mendevaluasi mata uangnya.
Dengan membiarkan mata uangnya tetap mengambang serta kebijakan tidak mengknvertibel
dolar terhadap emas, maka sistem Bretten Woods resmi berakhir. Tahun 1979-1980 kembali
terjadi krisis. Terjadi
Deep recession
di negara-negara industri akibat boikot minyak oleh OPEC membuat tingkat suku bunga negara-
negara industri melambung. Pada tahun 1980 krisis dunia ketiga; banyaknya hutang dari negara
dunia ketiga disebabkan oleh
oil booming
pada th 1974, tapi ketika negara maju menaikkan tingkat suku bunga untuk menekan inflasi,
hutang negara ketiga meningkat melebihi kemampuan bayarnya. Pada tahun 1980 itulah terjadi
krisis hutang di Polandia; akibat terpengaruh dampak negatif dari krisis hutang dunia ketiga.
Banyak bank di Eropa Barat yang menarik dananya dari bank di Eropa Timur. Di era globalisasi,
dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, negara-negara berkembang turut berperan
dalam
international negotiation
di bidang ekonomi. Hal memilukan terjadi di Eropa dan Jepang. Akibat kesalahan pengaturan,
nilai Yen dan Euro terjun bebas. Jatuhnya nilai Euro memberi dampak hebat pada dunia. Krisis-
krisis bermunculan Pada tahun 1997-2002 krisis keuangan melanda Asia Tenggara; krisis yang
dimulai di Thailand, Malaysia kemudian Indonesia, akibat kebijakan hutang yang tidak
transparan. Krisis Keuangan di Korea; memiliki sebab yang sama dengan Asia Tengah.
Kemudian, pada tahun 1998 terjadi krisis keuangan di Rusia; dengan jatuhnya nilai Rubel Rusia
(akibat spekulasi) Selanjutnya krisis keuangan melanda Brazil di tahun 1998. pada saat yang
hampir bersamaan krisis keuangan melanda Argentina di tahun 1999. Dan terakhir, pada tahun
2007-hingga saat ini, krisis keuangan melanda Amerika Serikat.
 Revolusi Industri

Pada masa revolusi industri yang terjadi di abad ke-18, dan 19, perubahan besar terjadi
di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, dan transportasi. Hal ini
mempengaruhi kondisi sosial ekonomi, dan budaya di seluruh Eropa, Amerika Serikat,
dan seluruh dunia. Paham kapitalisme yang lebih bebas muncul menggantikan paham
merkantilisme. Revolusi industri sendiri terjadi karena peran dari berkembangnya ilmu
ekonomi di abad ini.
ilmu ekonomi saat itu dikembangkan oleh ilmuwan seperti Scotsman Adam Smith
(1723-1790), yang kini diakui sebagai ekonom pertama di dunia. Ia memperkenalkan
ide bahwa harga sebuah produk tercipta dari hasil tarik menarik antara pasokan, dan
permintaan serta pembagian tenaga kerja. Ia berpendapat bahwa motif utama dari
perdagangan adalah keuntungan diri pribadi. Paham ini kemudian menjadi basis yang
dikembangkan oleh berbagai ilmuwan selanjutnya seperti Thomas Malthus (1766-1834)
yang mengembangkan ide pasokan-permintaan untuk memecahkan masalah populasi
yang berlebihan. Berkat paham ini pula, orang mulai berpikir untuk memproduksi
barang, dan jasa secara besar-besaran.
PENDAHULUAN : KRISIS EKONOMI

Krisis Ekonomi, gw mulai dengan kata ekonomi. Isitlah dalam ekonomi ialah “lu kerja ada makan, kalo
gak kerja gak bisa makan” Ekonomi berasal dari kata Yunani yakni Oikos (artinya "Rumah”) dan Nomos
(“pengelolaan, distribusi”). Kata yang tercatat pertama kali digunakan pada karya yang dibuat gereja
pada tahun 1440 untuk menggambarkan pengelolaan dan administrasi . Ekonomi dapat dikatakan
terjadi secara sendirinya karena setiap jaman bahkan dikatakan dari bumi ini terbentuk sudah
mempunyai kebutuhan yang semakin rumit. Dan metode yang digunakan diawal – Barter – sudah usang
digunakan.

Mengapa bisa begitu rumit? Pasti diawali dari karakter manusia yang berubah. Dengan begitu sistem
perekonomian lahir. Melihat kilas balik diatas ekonomi ada bukan karena temuan, tapi melihat
keberadaan manusia yang begitu kompleks. Maka dibutuhkanlah mekanisme tersendiri untuk mengelola
kebutuhan tersebut. Dibutuhkan praktik lapangan untuk mengelola sumber daya manusia. Yaitu
pelajaran sosiologi juga ilmu sejarah. Jika digabungkan maka lahirlah Politik. Inilah sahabatnya ekonomi.
Dwitunggal (dua sejoli) yang tidak terpisahkan antara ekonomi dan politik. Politik merupakan panglima
tertinggi dari sebagian besar seluruh perekonomian dunia.

Kenal VOC dong? VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie tahun 1600an) yang ingin menguasai secara
langsung maupun tidak langsung teritorial wilayah Indonesia. Kita tahu bahwa Indonesia dari memiliki
13.466 pulau dengan populasi kurang lebih 258 juta jiwa dan luas tanah 1,9 juta km2.

Didalam tanah air Nusantara terdapat sumber daya alam yang begitu sangat banyak. Maka dari itulah
VOC ingin menguasai Indonesia. Guna kepentingan organisasinya sendiri dan bukan untuk Negara
asalnya yakni Belanda. Dalam permainannya VOC menggunakan politik dan birokrasi sebagai alatnya
untuk mengambil sumber daya Indonesia. Sumber daya manusia yakni berasala dari luar dan dalam
negeri. Dari dalam negeri guna mempermudah merangkul karakter orang dalam. Dan dari luar negeri –
rakyat Belanda itu sendiri – yang membuat kebijakan kongsi dagang. Sehingga perekonomian pada masa
itu sangat bagus, akan tetapi tidak maksimal mensejahterahkan petani/peternak yang ada didalamnya.
Pada masa kejayaannya VOC, ekonomi sangat berkembang luas dan tiada henti menguras kekayaan
alam Nusantara. Sehingga timbulah korupsi dan suasana ekonomi VOC meranah pada kebangkrutan.
Segera VOC diambil alih oleh pemerintahan Belanda pada abad 19-20. Politik berubah maka sistem
ekonomi yang awalnya dagang dan untuk menguntungkan VOC, maka ketika kerajaan Belanda
menguasainya mulailah struktur perekonomian pemerintahan layaknya “Negara”. Saat itulah Indonesia
disebut Negara Hindia Belanda.

Memang abad 18 tepatnya tahun 1776, seorang pelopor ekonomi modern yang terkenal dengan
bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (disingkat The Wealth of
Nation) yaitu John Adam Smith menemukan teori ekonomi Laissez-Faire.

Maka dari itulah kenapa Kerajaan Belanda berhasil membuat Hindia Belanda tertib dan aman. Memang
tidak hanya Hindia Belanda waktu itu yang memakai teori Smith. Pendeklarasian Amerika yaitu pada
tanggal 4 Juli 1776 akibat pecahnya revolusi Amerika akibat perselisihan antara Inggris dan para kolonis
Amerika waktu bangsa Indian dari dataran Asia tinggal sejak 1500 Masehi dan populasi bangsa Eropa
menduduki negeri ini pada 1600 Masehi.
Membahas Negara Amerika memang tidak ada habisnya. Negara adidaya yang sekitar 20%
perekonomian dunia dikendalikan Amerika menjadi peranan penting bagi dunia ekonomi. Mengenai
ekonomi dunia bisa jadi bermula dari kepolitikan kelompok elit, Freemansory dan Ordo Illuminati. Yang
diketahui mereka berdua adalah salah satu kelompok yang bergerak sendiri dengan meng-atas nama-
kan agama. Yakni mereka tidak memiliki preferensi dari ajaran/dogma agama yang diakui saat ini.
Bahkan mereka mempunyai pemikiran bebas dan teologinya sendiri yang mempunyai tujuan dan
maksud yakni membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir dengan
standar moral yang tinggi

Kedua organisasi ini berdiri antara abad 15 sampai dengan abad 16. Illuminati berdiri pada tanggal 1 Mei
1776. Entah kenapa baru sampai saat abad ini mulai adanya sistem kebutuhan yang kompleks. Tapi
bukan berarti ekonomi baru dimulai abad 15. Ekonomi dimulai semenjak zaman penciptaan dunia ketika
manusia pertama yakni Adam diberikan delegasi untuk mengusahakan semua tanah yang ada. Namun
baru di abad 15 Sesudah Masehi, sistematis dan disiplin Ekonomi modern akhirnya datang.
Abad 15 sampai dengan 19 merupakan pembangunan awal dari ekonomi itu sendiri. Yakni tepatnya
ketika kelompok elit berkembang, disana juga perekonomian modern berkembang. Lalu apa
hubungannya dengan semua ini? Penjelasan diatas merupakan mula-mula perekonomian dari ilmu dan
displin ekonomi modern sekaligus penjelasan bahwa Politik dan Ekonomi adalah sahabat yang tak dapat
dipisahkan. Dimana Politik memiliki sifat Koleris dibandingkan dengan temannya, Ekonomi.

KISAH KASIH : KRISIS EKONOMI

Saat Belanda menjajah Indonesia dengan sistem ekonomi kolonial dengan mencapai ketertiban dan
keamanan yang terjalin sangat lancar saat itu, tiba pada masa puncaknya yakni pada tahun 24 Oktober –
29 Oktober 1929 atau biasa disebut Depresi Besar / Selasa Hitam. Depresi awalnya berawal dari Amerika
– runtuhnya bursa efek di Wall Street – akibat gelembung ekonomi yang sangat maju tapi langsung
mengalami ledakan yang begitu parah. Seiring timbulnya Perang Dunia II (tahun 1939 sampai dengan
1945) membuat krisis politik dan ekonomi yang kacau sampai tiba saatnya Indonesia direbut oleh
pemerintahan Negara Jepang. Saat itu Indonesia menggunakkan sistem Ekonomi Perang. Yang berarti
rakyat Indonesia saat itu mengalami kesengsaraan yang besar karena perekonomiannya mempunyai
tujuan yaitu memperkuat senjata Jepang untuk perang.

Hasil dari perang dunia ini membentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai pengganti Liga
Bangsa-Bangsa. Serta kemunculan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai kekuatan super.

Akibat perang tersebut maka banyak sekali terjadinya masa penjajahan diberbagai Negara berkembang.
Sehingga membuat mereka mendesak rakyat bangsa dan Negara untuk segera mendeklarasikan
kemerdekaan secepatnya. Salah satunya Indonesia yang merdeka pada tahun 1945. Filipina, Replubik
Rakyat Cina, Malaysia tahun 1946, dan Israel tahun 1948. Yang awalnya adalah ras, berbangsa dan pada
akhirnya terbentuk Negara. Masa inilah awal dari praktik Ekonomi Modern tersebut sekaligus adanya
kasta antara Negara Maju dan Negara Berkembang serta adanya Negara Ketiga. Kasta Negara ini lebih
banyak diukur dengan menggunakan indikator infrastruktur perekonomian dan poltik.

Negara memiliki sistem perekenomiannya masing masing. Seperti di Indonesia pasca kemerdekaan.
Belanda ingin merebut kembali Indonesia setelah lepas dari Negara Jepang. Maka sistem perekonomian
yang dibentuk masih belum teratur dan membawa kesan yang sangat sulit untuk memajukan ekonomi
rakyat. Akhirnya dibuatlah sistem Ekonomi komando dengan Negara dengan konsepsi poltiknya, BUMN
(Badan Usaha Milik Negara) menjadi tulang punggungnya . Dengan begini sistem perekonomian
Indonesia sudah berada dalam struktur yang jelas. Tapi kurangnya pengetahuan Ekonomi sehingga
terjadilah hiperinflasi akibat peredaran uang yang besar karena hanya berfokus pada APBN – mikro
belum menjadi salah satu fokus utama. Kemorosotan ekonomi masa itu (Tahun 1950 sampai dengan
1957) menjadi awal pengalaman Bangsa Indonesia menghadapi Krisis Ekonomi. Padahal dikatakan
bahwa kinerja ekonomi Hindia Belanda diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia

Dari penjelasan diatas, bahwa selalu poltik selalu menjadi penggerak untuk perubahan sistem ekonomi.
Apakah pernah ekonomi mengendarai poltik? Jawabannya ya, yaitu tahun 1998 pada Krisis Keuangan
Asia pada mata uang Bath. Menjelang tahun 1997 kemakmuran Indonesia sangat meningkat dan
kesejahteraan dirasakan semua rakyat Indonesia. Akan tetapi payung dalam lembaga yang dibuat belum
dibentuk sehingga ketika krisis keuangan Asia menghadang, Indonesia mengalami suatu gejolak yang
mengakibatkan revolusi politik. Seperti datangnya hujan lebat, rakyat Indonesia kebasahan bahkan
sampai tidak bisa lihat ke atas (langit) karena tidak siap payung.
Kepulihan Thailand dari Krisis Finansial Asia pada 1997-1998 banyak tergantung permintaan luar dari
Amerika Serikat dan pasar asing lainnya . Modal keluar bersamaan secara berjamaah dari Asia.
Akibatnya konflik ini tidak terhindarkan khususnya bagi Negara ASEAN. Dari sanalah likuiditas bank
menjadi ambruk dan dalam hal ini Indonesia belum mampu mengatasinya - karena belum punya
pengalaman. Yang timbul hanyalah kepanikan rakyat. Kurva permintaan akan devisa yang terus bergeser
ke kanan disaat kurva penawarannya justru bergeser ke kiri . Oleh sebab itu kurs USD terhadap Rupiah
menjadi Rp. 17.000. Dan inflasi terus menerus tinggi dan tidak tertahankan. Ketidakpastian politik
muncul menjadi faktor baru. Kerusuhan-kerusuhan sosial (khususnya anti-etnis Cina) timbul di sejumlah
daerah-daerah. IMF menjadi konsultan untuk Indonesia saat itu. Indonesia meminjam dana kepada IMF
guna memfasilitasi kebutuhan rakyat yang serba kurang.
Situs Resmi DPP IAEI - Contact Center 021-3840059

Indonesia

Login Daftar

Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia

Hi Guest !

Selamat Datang di Situs Resmi DPP IAEI

 Home
 About Us
 Publication
 Article
 Event
 Gallery
 Member Post
 Forum Riset
 Muktamar

Tetap Terhubung Bersama IAEI di Media Sosial Facebook , Twitter, Instagram dan Youtube
Channel dengan tagar #EkonomiIslam

 Beranda/
 Article/
 Ekonomi Syariah/
 Akar Krisis Keua...

Akar Krisis Keuangan Global dan Momentum Ekonomi Syariah Sebagai Solusi
Updated: Wednesday 25 September 2013 - 11:23 Kategori: Ekonomi Syariah Posted by: Administrator

Krisis keuangan Amerika Serikat saat ini, mulai merambah ke berbagai negara, termasuk
Indonesia. Pada tanggal 8 Oktober 2008, kemaren, IHSG tertekan tajam turun 10 %, demikian
pula Nikken di Jepang jatuh lebih dari 9 %. Hampir semua pasar keuangan dunia terimbas krisis
financial US tersebut. Karena itu para pengamat menyebut krisis ini sebagai krisis finansial
global. Krisis keuangan global yang terjadi belakangan ini, merupakan fenomena yang
mengejutkan dunia, tidak saja bagi pemikir ekonomi mikro dan makro, tetapi juga bagi para elite
politik dan para pengusaha.

Dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis sering terjadi di mana-mana melanda hampir semua
negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada
henti, sejak tahun 1923,1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998 – 2001 bahkan sampai saat ini
krisis semakin mengkhawatirkan dengan munculnya krisis finansial di Amerika Serikat . Krisis
itu terjadi tidak saja di Amerika latin, Asia, Eropa, tetapi juga melanda Amerika Serikat.

Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time to
Present Day, menguraikan sejarah kronologi secara komprehensif. Menurut mereka, sepanjang
abad 20 telah terjadi lebih 20kali kriss besar yang melanda banyak negara. Fakta ini
menunjukkan bahwa secara rata-rata, setiap 5 tahun terjadi krisis keuangan hebat yang
mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia.

Pada tahun 1907 krisis perbankan Internasional dimulai di New York, setelah beberapa decade
sebelumnya yakni mulai tahun 1860-1921 terjadi peningkatan hebat jumlah bank di Amerika s/d
19 kali lipat. Selanjutnya, tahun1920 terjadi depresi ekonomi di Jepang. Kemudian pada tahun
1922 – 1923 German mengalami krisis dengan hyper inflasi yang tinggi. Karena takut mata uang
menurun nilainya, gaji dibayar sampai dua kali dalam sehari. Selanjutnya, pada tahun 1927 krisis
keuangan melanda Jepang (37 Bank tutup); akibat krisis yang terjadi pada bank-bank Taiwan

Pada tahun 1929– 30 The Great Crash (di pasar modal NY) & Great Depression (Kegagalan
Perbankan); di US, hingga net national product-nya terbangkas lebih dari setengahnya.
Selanjutnya, pada tahun 1931 Austria mengalami krisis perbankan, akibatnya kejatuhan
perbankan di German, yang kemudian mengakibatkan berfluktuasinya mata uang internasional.
Hal ini membuat UK meninggalkan standard emas. Kemudian1944 – 66 Prancis mengalami
hyper inflasi akibat dari kebijakan yang mulai meliberalkan perekonomiannya. Berikutnya, pada
tahun 1944– 46 Hungaria mengalami hyper inflasi dan krisis moneter. Ini merupakan krisis
terburuk eropa. Note issues Hungaria meningkat dari 12000 million (11 digits)hingga 27 digits.

Pada tahun 1945– 48 Jerman mengalami hyper inflasi akibat perang dunia kedua.. Selanjutnya
tahun 1945 – 55 Krisis Perbankan di Nigeria Akibat pertumbuhan bank yang tidak teregulasi
dengan baik pada tahun 1945. Pada saat yang sama, Perancis mengalami hyperinflasi sejak tahun
1944 sampai 1966. Pada tahun (1950-1972) ekonomi dunia terasa lebih stabil sementara, karena
pada periode ini tidak terjadi krisis untuk masa tertentu. Hal ini disebabkan karena Bretton
Woods Agreements, yang mengeluarkan regulasi di sektor moneter relatif lebih ketat (Fixed
Exchange Rate Regime). Disamping itu IMF memainkan perannya dalam mengatasi anomali-
anomali keuangan di dunia. Jadi regulasi khususnya di perbankan dan umumnya di sektor
keuangan, serta penerapan rezim nilai tukar yang stabil membuat sektor keuangan dunia (untuk
sementara) "tenang".

Namun ketika tahun 1971 Kesepakatan Breton Woods runtuh (collapsed). Pada hakikatnya
perjanjian ini runtuh akibat sistem dengan mekanisme bunganya tak dapat dibendung untuk tetap
mempertahankan rezim nilai tukar yang fixed exchange rate. Selanjutnya pada tahun 1971-73
terjadi kesepakatan Smithsonian (di mana saat itu nilai 1 Ons emas = 38 USD). Pada fase ini
dicoba untuk menenangkan kembali sektor keuangan dengan perjanjian baru. Namun hanya
bertahan 2-3 tahun saja.

Pada tahun 1973 Amerika meninggalkan standar emas. Akibat hukum "uang buruk (foreign
exchange) menggantikan uang bagus (dollar yang di-back-up dengan emas)-(Gresham Law)".
Pada tahun 1973 dan sesudahnya mengglobalnya aktifitas spekulasi sebagai dinamika baru di
pasar moneter konvensional akibat penerapan floating exchange rate sistem. Periode Spekulasi;
di pasar modal,uang, obligasi dan derivative. Maka tak aneh jika pada tahun 1973 – 1874 terjadi
krisis perbankan kedua di Inggris; akibat Bank of England meningkatkan kompetisi pada supply
of credit.

Pada tahun 1974 Krisis pada Euro dollar Market; akibat west German Bankhaus ID Herstatt
gagal mengantisipasi international crisis. Selanjutnya tahun 1978-80 Deep recession di negara-
negara industri akibat boikot minyak oleh OPEC, yang kemudian membuat melambung
tingginya interest rate negara-negara industri.

Selanjutnya sejarah mencatat bahwa pada tahun 1980 krisis dunia ketiga; banyaknya hutang dari
negara dunia ketiga disebabkan oleh oil booming pada th 1974, tapi ketika negara maju
meningkatkan interest rate untuk menekan inflasi, hutang negara ketiga meningkat melebihi
kemampuan bayarnya. Pada tahun 1980 itulah terjadi krisis hutang di Polandia; akibat
terpengaruh dampak negatif dari krisis hutang dunia ketiga. Banyak bank di eropa barat yang
menarik dananya dari bank di eropa timur.

Pada saat yang hampir bersamaan yakni di tahun 1982 terjadi krisis hutang di Mexico;
disebabkan outflow kapital yang massiveke US, kemudian di-treatments dengan hutang dari US,
IMF, BIS. Krisis ini jugamenarik Argentina, Brazil dan Venezuela untuk masuk dalam lingkaran
krisis.

Perkembangan berikutnya, pada tahun1987 The Great Crash (Stock Exchange), 16 Oct 1987 di
pasar modal US & UK.Mengakibatkan otoritas moneter dunia meningkatkan money supply.
Selanjutnya pada tahun 1994 terjadi krisis keuangan di Mexico; kembali akibat kebijakan
finansial yang tidak tepat.

Pada tahun 1997-2002 krisis keuangan melanda Asia Tenggara; krisis yang dimulai di Thailand,
Malaysia kemudian Indonesia, akibat kebijakan hutang yang tidak transparan. Krisis Keuangan
di Korea; memiliki sebab yang sama dengan Asteng.

Kemudian, pada tahun 1998 terjadi krisis keuangan di Rusia; dengan jatuhnya nilai Rubel Rusia
(akibat spekulasi) Selanjutnya krisis keuangan melanda Brazil di tahun 1998. pada saat yang
hamper bersamaan krisis keuangan melanda Argentina di tahun 1999. Terakhir, pada tahun
2007-hingga saat ini, krisis keuangan melanda Amerika Serikat.

Dari data dan fakta historis tersebut terlihat bahwa dunia tidak pernah sepi dari krisis yang sangat
membayakan kehidupan ekonomi umat manusia di muka bumi ini.

Apakah akar persoalan krisis dan resesi yang menimpa berbagai belahan dunia tersebut ?
Dalam menjawab pertanyaan tersebut, cukup banyak para pengamat dan ekonom yang
berkomentar dan memberikan analisis dari berbagai sudut pandang.

Dalam menganalisa penyebab utama timbulnya krisis moneter tersebut, banyak yang berkonklusi
bahwa kerapuhan fundamental ekonomi (fundamental economic fragility) adalah merupakan
penyebab utama munculnya krisis ekonomi. Hal ini seperti disebutkan oleh Michael Camdessus
(1997), Direktur International Monetary Fund (IMF) dalam kata-kata sambutannya pada Growth-
Oriented Adjustment Programmes (kurang lebih) sebagai berikut: "Ekonomi yang mengalami
inflasi yang tidak terkawal, defisit neraca pembayaran yang besar, pembatasan perdagangan yang
berkelanjutan, kadar pertukaran mata uang yang tidak seimbang, tingkat bunga yang tidak
realistik, beban hutang luar negeri yang membengkak dan pengaliran modal yang berlaku
berulang kali, telah menyebabkan kesulitan ekonomi, yang akhirnya akan memerangkapkan
ekonomi negara ke dalam krisis ekonomi".

Ini dengan jelas menunjukkan bahwa defisit neraca pembayaran (deficit balance of payment),
beban hutang luar negeri (foreign debt-burden) yang membengkak--terutama sekali hutang
jangka pendek, investasi yang tidak efisien (inefficient investment),dan banyak indikator
ekonomi lainnya telah berperan aktif dalam mengundang munculnya krisis ekonomi.

Sementara itu,menurut pakar ekonomi Islam, penyebab utama krisis adalah kepincangan sektor
moneter (keuangan)dan sektor riel yang dalam Islam dikategorikan dengan riba. Sektor keuangan
berkembangcepat melepaskan dan meninggalkan jauh sektor riel. Bahkan ekonomi
kapitalis,tidak mengaitkan sama sekali antara sektor keuangan dengan sektor riel.

Tercerabutnyasektor moneter dari sektor riel terlihat dengan nyata dalam bisnis transaksi maya
(virtual transaction) melalui transaksi derivatif yang penuh ribawi. Tegasnya, Transaksi maya
sangat dominan ketimbang transaksi riil.Transaksi maya mencapai lebih dari 95 persen dari
seluruh transaksi dunia. Sementara transaksi di sektor riel berupa perdagngan barang dan jasa
hanyasekitar limapersen saja.

Menurut analisis lain, perbandingan tersebut semakin tajam, tidak lagi 95 % : 5 %, melainkan
99% : 1 %. Dalam tulisan Agustianto di sebuah seminar Nasional tahun 2007 di UINJakarta,
disebutkan bahwa volume transaksi yang terjadi di pasaruang (currency speculation and
derivative market) dunia berjumlah US$1,5 trillion hanya dalam sehari, sedangkan volume
transaksi pada perdagangan dunia di sektor riil hanya US$ 6 trillion setiap tahunnya (Rasio 500 :
6 ), Jadi sekitar 1-an %. Celakanya lagi, hanya 45 persen dari transaksi di pasar, yangspot,
selebihnya adalah forward, futures,dan options.

Islam sangat mencela transaksi dirivatif ribawi dan menghalalkan transaksi riel. Hal ini dengan
tegas difirmankan Allah dalam Surah Al-Baqarah : 275 : Allah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba.

Sebagaimana disebut di atas, perkembangan dan pertumbuhan finansial di dunia saat ini, sangat
tak seimbang dengan pertumbuhan sektor riel. Realitas ketidakseimbangan arus moneter dan arus
barang/jasatersebut, mencemaskan dan mengancam ekonomi berbagai negara.
Pakar manajamen tingkat dunia, Peter Drucker, menyebut gejala ketidak seimbangan antara arus
moneter dan arus barang/jasa sebagai adanya decopling, yakni fenomena keterputusan antara
maraknya arus uang (moneter) dengan arus barang dan jasa. Fenomena ketidakseimbangan itu
dipicu oleh maraknya bisnis spekulasi (terutama di dunia pasar modal, pasar valas dan proverti),
sehingga potret ekonomi dunia seperti balon saja (bubble economy).

Disebut ekonomi balon, karena secara lahir tampak besar, tetapi ternyata tidak berisi apa-apa
kecuali udara. Ketika ditusuk, ternyata ia kosong. Jadi, bublle economy adalah sebuah ekonomi
yang besar dalam perhitungan kuantitas moneternya, namun tak diimbangi oleh sektor riel,
bahkan sektor riel tersebut amat jauh ketinggalan perkembangannya.

Sekedar ilustrasi dari fenomena decoupling tersebut, misalnya sebelum krisis moneter Asia,
dalam satu hari, dana yang gentayangan dalam transaksi maya di pasar modal dan pasar uang
dunia, diperkirakan rata-rata beredar sekitar 2-3 triliun dolar AS atau dalam satu tahun sekitar
700 triliun dolar AS.

Padahal arus perdagangan barang secara international dalam satu tahunnya hanya berkisar 7
triliun dolar AS. Jadi, arus uang 100 kali lebih cepat dibandingkan dengan arus barang (Didin S
Damanhuri, Problem Utang dalam Hegemoni Ekonomi),

Dalam ekonomi Islam, jumlah uang yang beredar bukanlah variabel yang dapat ditentukan
begitu saja oleh pemerintah sebagai variabel eksogen. Dalam ekonomi Islam, jumlah uang yang
beredar ditentukan di dalam perekonomian sebagai variabel endogen, yaitu ditentukan oleh
banyaknya permintaan uang di sektor riel atau dengan kata lain, jumlah uang yang beredar sama
banyaknya dengan nilai barang dan jasa dalam perekonomian.

Dalam ekonomi Islam, sektor finansial mengikuti pertumbuhan sektor riel, inilah perbedaan
konsep ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional, yaitu ekonomi konvensional, jelas
memisahkan antara sektor finansial dan sektor riel. Akibat pemisahan itu, ekonomi dunia rawan
krisis, khususnya negara–negara berkembang (terparah Indonesia). Sebab, pelaku ekonomi tidak
lagi menggunakan uang untuk kepentingan sektor riel, tetapi untuk kepentingan spekulasi mata
uang. Spekulasi inilah yang dapat menggoncang ekonomi berbagai negara, khususnya negara
yang kondisi politiknya tidak stabil. Akibat spekulasi itu, jumlah uang yang beredar sangat tidak
seimbang dengan jumlah barang di sektor riel.

Spekulasi mata uang yang mengganggu ekonomi dunia, umumnya dilakukan di pasar-pasar
uang. Pasar uang di dunia ini saat ini, dikuasai oleh enam pusat keuangan dunia (London, New
York, Chicago, Tokyo,Hongkong dan Singapura). Nilai mata uang negara lain, bisa saja tiba-tiba
menguat atau sebaliknya. Lihat saja nasib rupiah semakin hari semakin merosot dan nilainya
tidak menentu.

Di pasar uang tersebut, peran spekulan cukup signifikan untuk menggoncang ekonomi suatu
negara. Lihatlah Inggris, sebagai negara yang kuat ekonominya, ternyata pernah sempoyongan
gara-gara ulah spekulan di pasar uang, apalagi kondisinya seperti Indonesia, jelas menjadi bulan-
bulanan para spekulan. Demikian pula ulah George Soros di Asia Tenggara.
Bagi spekulan, tidak penting apakah nilai menguat atau melemah. Bagi mereka yang penting
adalah mata uang selalu berfluktuasi. Tidak jarang mereka melakukan rekayasa untuk
menciptakan fluktuasi bila ada momen yang tepat, biasanya satu peristiwa politik yang
menimbulkan ketidak pastian.

Menjelang momentum tersebut, secara perlahan-lahan mereka membeli rupiah, sehingga


permintaan akan rupiah meningkat. Ini akan mendorong nilai rupiah secara semu ini, akan
menjadi makanan empuk para spekulan. Bila momentumnya muncul dan ketidak pastian mulai
merebak, mereka akan melepas secara sekaligus dalam jumlah besar. Pasar akan kebanjiran
rupiah dan tentunya nilai rupiah akan anjlok.

Robin Hahnel dalam artikelnya Capitalist Globalism In Crisis:Understanding the Global


Economic Crisis (2000), mengatakan bahwa globalisasi - khususnya dalam financial market,
hanya membuat pemegang asset semakin memperbesar jumlah kekayaannya tanpa melakukan
apa-apa. Dalam kacamata ekonomi Islam, mereka meraup keuntungan tanpa 'iwadh (aktivitas
bisnis riil,seperti perdagangan barang dan jasariil) Mereka hanya memanfaatkan fasilitas-fasilitas
yang terdapat dalam pasar uang dengan kegiatan spekulasi untuk menumpuk kekayaan mereka
tanpa kegiatan produksi yang riil. Dapat dikatakan uang tertarik pada segelintir pelaku ekonomi
meninggalkan lubang yang menganga pada sebagian besar spot ekonomi.

They do not work, they do not roduce, they trade money for stocks, stocks for bonds, dollars for
yen, etc.They speculate that some way to hold their wealth will be safer and more remunerative
than some other way. Broadly speaking, the global credit system has been changed over the past
two decades in ways that pleased the speculators (Hahnel, 2000).

Hahnel juga menyoroti bagaimana sistem kredit atau sistem hutang sudah memerangkap
perekonomian dunia sedemikian dalam. Apalagi mekanisme bunga (interestrate) juga menggurita
bersama sistem hutang ini. Yang kemudian membuat sistem perekonomian harus menderita
ketidak seimbangan kronis. Sistem hutang ini menurut Hahnel hanya melayani kepentingan
spekulator, kepentingan segelintir pelaku ekonomi. Namun segelintir pelaku ekonomi tersebut
menguasai sebagian besar asset yang ada di dunia. Jika kita kaji pemikiran Hahner ini lebih
mendalam akan kita lihat dengan sangat jelas bahwa perekonomian akan berakhir dengan
kehancuran akibat sistem yang dianutnya, yakni kapitalisme ribawi

Penasihat keuangan Barat, bernama Dan Taylor, mempunyai keyakinan bahwa sistem kewangan
dan perbankan Islam mempuyai keunggulan system yang lebih baik berbanding dengan sistem
keuangan Barat yang berasaskan riba. Krisis keuangan yang sedang dihadapai oleh negara-
negara Barat seperti USA dan UK memberikan kekuatan secara langsung dan tidak langsung
kepada sistem finansial Islam yang berdasarkan Syariah. Sistem keuangan Barat sudah runtuh....
"Islamic finance and banking willwin", begitulah kata penasihat kewangan Barat. BDO Stoy
Hayward says financial turmoil puts Islamic products in strong position.

According to the financial advisers Islamic banks areone of the few financial institutions who
still have significant sums of money available to finance individuals and corporates, unlike their
western banking counterparts, who will only continue to constrict their lending policies inlight of
the current economic crisis.

Dan Taylor, Head of Banking at BDO Stoy Hayward, says: "As the riskprofile of Islamic Banks
is generally lower than conventional western banks, this presents a more solid option for both
retail and institutional investors and suggests that dealings with Islamic financial institutions will
grow dramatically as people switch to more secure products in this environment."

"Further growth of Islamic banking in the UK will also be attributed to their more conservative
approach to financing, as the risks are shared with theinvestor, much like the private equity
model. In addition, it is more difficult for Islamic financial institutions to use leverage; therefore
their risk profile is naturally lower," continues Taylor (Ahmad Sanusi Husein, IIUM)

Kembali kepada aktivitas riba para spekulan, bahwa Mereka meraup keuntungan dari selisih
harga beli dan harga jual. Makin besar selisihnya, makin menarik bagi para spekulan untuk
bermain. Berdasarkan realitas itulah, maka Konferensi Tahunan Association of Muslim Scientist
di Chicago, Oktober 1998 yang membahas masalah krisis ekonomi Asia dalam perspektif
ekonomi Islam, menyepakati bahwa akar persoalan krisis adalah perkembangan sektor finansial
yang berjalan sendiri, tanpa terkait dengan sektor riel.

Dengan demikian, nilai suatu mata uang dapat berfluktuasi secara liar. Solusinya adalah
mengatur sektor finansial agar menjauhi dari segala transaksi yang mengandung riba, termasuk
transaksi-transaksi maya di pasar uang. Gejala decoupling, sebagaimana digambarkan di atas,
disebabkan, karena fungsi uang bukan lagi sekedar menjadi alat tukar dan penyimpanan
kekayaan, tetapi telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan dan sangat menguntungkan bagi
mereka yang memperoleh gain. Meskipun bisa berlaku mengalami kerugian milyaran dollar AS.

Dapat disimpulkan, perekonomian saat ini digelembungkan oleh transaksi maya yang dilakukan
oleh segelintir orang di beberapa kota dunia, seperti London (27 persen), Tokyo-Hong Kong-
Singapura(25 persen), dan Chicago-New York (17 persen). Kekuatan pasar uangini sangat besar
dibandingkan kekuatan perekonomian dunia secara keseluruhan.Perekonomian global praktis
ditentukan oleh perilaku lima negara tersebut.

Karena itu, Islam menolak keras segala jenis transaksi maya seperti yang terjadi di pasar uang
saat ini. Sekali lagi ditegaskan, "Uang bukan komoditas". Praktek penggandaan uang dan
spekulasi dilarang. Sebaliknya, Islam mendorong globalisasi dalam arti mengembangkan
perdagangan internasional.

Dalam ekonomiIslam, globalisasi merupakan bagian integral dari konsep universal Islam.
Rasulullah telah menjadi pedagang internasional sejak usia remaja. Ketika berusia belasan tahun,
dia telah berdagang ke Syam (Suriah), Yaman, dan beberapa negara di kawasan Teluk sekarang.
Sejak awal kekuasaannya, umat Islam menjalin kontak bisnis dengan Cina, India, Persia, dan
Romawi. Bahkan hanya dua abad kemudian (abad kedelapan), para pedagang Islam telah
mencapai EropaUtara. Ternyata nilai-nilai ekonomi syariah selalu aktual, dan terbukti dapat
menjadi solusi terhadap resesi perekonomian.
Di zaman Nabi Muhammad jarang sekali terjadi resesi. Zaman khalifah yang empat juga
begitu.Pernah sekali Nabi mengalami defisit, yaitu sebelum Perang Hunain, namun
segeradilunasi setelah perang. Di zaman Umar bin Khattab (khalifah kedua) dan Utsman
(khalifahketiga) , malah APBN mengalami surplus. Pernah dalam zaman pemerintahan Khalifah
Umar bin Abdul Aziz, tak dijumpai lagi satu orang miskinpun!!!

Apa rahasianya? Kebijakan moneter Rasulullah Saw -- yang kemudian diikuti oleh para khalifah
-- selalu terkait dengan sektor riil perekonomian berupa perdagangan . Hasilnya
adalahpertumbuhan sekaligus stabilitas.

Pengaitan sektor moneter dengan sektor riil merupakan obat mujarab untuk mengatasi gejolak
kurs mata uang -- seperti yang melanda Indonesia sejak akhir 1997 sampai saat ini.
"Perekonomian yang mengaitkan sektor moneter langsung dengansektor riil akan membuat kurs
mata uang stabil." Inilah yang dijalankan bank-bank Islam dewasa ini, di mana setiap
pembiayaan harus ada underline transactionnya.Tidak seperti bank konvensional yang
menerapkan sistem ribawi.

Tantangan umatIslam dewasa ini adalah menunjukkan keagungan dan keampuhan ekonomi
syariah.Tidak hanya bagi masyarakat muslim, melainkan juga bagi masyarakat non muslim,tidak
hanya di Indonesia tetapi juga di dunia international. Islam ternyata mewariskan sistem
perekonomian yang tepat, fair, adil, manusiawi, untuk menciptakan kemaslahatan
dankesejahteraan hidup, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat . Wallahu a'lam.

Tulisan: Agustianto M.Ag

Share1

Artikel Lainnya

Urgensi Ushul Fi...


Memahami Ekonomi...

OJK-IAEI Kampany...

Multi Level Mark...


Feature Articles

1.
2.
3.
4.
5.

GRAND LAUNCHING KNKS, SILAKNAS IAEI, HIGH LEVEL DISCUSSION, & HALAL BIHALAL
STAKEHOLDERS EKONOMI SYARIAH

GRAND LAUNCHING KNKS, SILAKNAS IAEI, HIGH LEV...

Popular News
9 September 2013 - 13:29

Bisnis Investasi Yusuf Mansur berma...

8539

2 February 2015 - 20:01

Call for Papers - Forum Riset Ekono...

7539

30 September 2013 - 13:28

Ingin Berkarir di Bank Syariah?...

6676

29 August 2013 - 11:37

Harga BBM Naik? Berikut Pendapat Ke...


5747

22 November 2014 - 6:46

Bank Syariah di Indonesia lebih Isl...

5093

65 Tulisan Member
See More

15 March 2017 - 20:34

Kaidah Fiqh Muamalah Perbankan...

14 March 2017 - 12:42

Konsep Harta dalam Perspektif Hukum...


12 March 2017 - 10:16

Membangun Mindset Enterpreneurship ...

8 March 2017 - 22:06

Peran Strategis KNKS dalam Pembangu...

8 March 2017 - 21:09

Strategi Bisnis Syariah Berbasis Pa...

Trending Content

Recent Comments
Isni Riskiyawati
26 September 2017 - 2:09

Islamic Social Reporting (ISR) sebagai Model Pelaporan CSR Institusi Bisnis Syariah Assalamualaikum wr.
wb. bolehkah saya minta jurnal Haniffa 2002 " “Social Reporting Disclosure: A...

astrid indri
25 September 2017 - 4:04

Islamic Social Reporting (ISR) sebagai Model Pelaporan CSR Institusi Bisnis Syariah Assalamualaikum
bolehkah sya meminta file jurnal dari haniffa 2002?? Terima kasih

Nevi Khumaila
15 June 2017 - 16:52

Islamic Social Reporting (ISR) sebagai Model Pelaporan CSR Institusi Bisnis Syariah assalamualaykum,
bolehkah saya meminta file jurnal/artike dari haniffa 2002? karena saya membutuhkan...

Copyright © 2017 DPP IAEI - Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia.
All Rights Reserved.

AddThis Sharing Sidebar

Share to Facebook

, Number of shares

Share to TwitterShare to PrintMore AddThis Share options

, Number of shares

Anda mungkin juga menyukai