Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGAWETAN

SPESIMEN
“ PENGUMPULAN SPESIMEN “

Dosen Pengampu : Ir. E. Mulyati Effendi, M.Si

Disusun Oleh :
Ifan Sunandy 061115010
Noor Fitri Fadhillah 061115030
Dede Giwang Maelani 061115035

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah teknik pengawetan spesimen dengan judul mengenai “
Pengumpulan spesimen ”.
Adapun makalah ini yang telah diusahakan semaksimal mungkin dan
tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu saya tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Terima kasih saya sampaikan kepada Ibu Ir.E. Mulyati Effendi, M.Si selaku
dosen mata kuliah Teknik pengawetan spesimen yang telah membimbing dan
memberikan kuliah demi kelancaran terselesaikannya tugas makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun dalam hal lainnya. Oleh
karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka saya membuka selebar-lebarnya
bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik sehingga saya dapat
memperbaiki makalah dan dikemudian hari kami dapat membuat lebih baik lagi

Demikianlah tugas ini kami susun semoga bermanfaat dan dapat memenuhi
tugas mata kuliah teknik pengawetan spesimen dan penulis berharap makalah ini
bermanfaat bagi diri kami dan khususnya untuk pembaca

Bogor, 10 Oktober 2017

ii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................ ii
Daftar Isi ................................................................................................................ iii

BABI PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................................ 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Deskripsi Umum Kelas Pisces ........................................................................... 4
2.2 Deskripsi Umum Ikan Sapu - Sapu .................................................................... 5

BAB III BAHAN DAN METODE


3.1 Alat dan bahan.................................................................................................... 9
3.2 Metode kerja....................................................................................................... 9

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan .............................................................................................10
4.2 Pembahasan ......................................................................................................11

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ......................................................................................................15
5.2 Saran .................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................16


LAMPIRAN ..........................................................................................................17

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pengumpulan spesimen merupakan aset ilmiah yang penting sebagai
bahan penelitian keanekeragaman fauna baik taraf nasional ataupun taraf
internasional. Kegiatan pengelolaan yang dapat dilakukan adalah proses
pengawetan, perawatan, perekaman data, pengawasan dalam penggunaan
spesimen ilmiah (Suhardjono, 1999). Pembuatan awetan spesimen diperlukan
untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan
segar yang baru, terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di
alam. Spesimen adalah contoh binatang atau tumbuhan atau mikroba utuh
(misal serangga dan ikan), bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan (misal
tengkorak mamalia, tulang burung, daun yang diserang hama dan bunga) atau
organ (hati dan pucuk akar serabut) atau darah (untuk material DNA) yang
dikumpulkan dan disimpan untuk jangka waktu tertentu (Suhardjono, 1999).
Pengumpulan spesimen yaitu pengawetan yang digunakan dalam
mempertahankan organ spesimen. Teknik pengumpulan dibedakan menjadi
dua yaitu pengumpulan spesimen basah dan pengumpulan spesiemen kering.
Pengumpulan spesimen kering dilakukan untuk hewan seperti kelas Mamalia,
Amphibi dan Aves, sedangkan koleksi basah digunakan untuk kelas Reptil dan
Pisces. Persiapan koleksi spesimen yaitu mematikan objek, fiksasi, dan
pengawetan. Objek yang akan dijadikan spesimen harus dimatikan
terlebih dahulu, hal ini dilakukan bertujuan untuk memudahkan dalam
melakukan pengawetan, kemudian dilakukan fiksasi yang bertujuan
mempertahankan ukuran dan bentuk sel tubuh, dilanjutkan pengawetan
spesimen agar spesimen tersebut tidak rusak sehingga dapat dijadikan koleksi
rujukan dalam identifikasi hewan. Cara pengumpulan tergantung pada taksa
suatu spesies (Tjakrawidjaya, 1999).
Manfaat dan dayaguna pengumpulan spesimen menurut Suhardjono
(1999), diantaranya yaitu :
• Membantu dalam identifikasi atau mengenali jenisnya.
• Mendiagnosa atau mendeskripsikan karakter pemiliknya.

1
• Membantu mempelajari hubungan kekerabatan.
• Mempelajari pola sebaran geografi.
• Mempelajari pola musim keberadaanya.
• Mengetahui habitat.
• Mengetahui tumbuhan atau hewan inang.
• Mengetahui biologi : perilaku, daur hidup.
Spesimen dari bermacam-macam hewan sering dibutuhkan untuk
keperluan penelitian maupaun alat peraga dalam dunia pendidikan. Ahli
pengetahuan alam, tidak dapat mengambil manfaat pada spesimen yang tidak
diawetkan, dalam kegiatan pengumpulan hewan perlu memperhatikan
beberapa hal, diantaranya jangan sampai menggangu keberadaan satwa langka
atau merusak sisa-sisa peninggalan dalam gua yang sudah ditingalkan manusia
purba. Hewan yang dikoleksi adalah hewan-hewan yang dibutuhkan untuk
pengawetan dengan tujuan pengujian di kemudian hari. Semua spesimen
koleksi harus diberi label yang berisi keterangan tantang nama spesies, lokasi
penemuan tanggal koleksi dan data lain yang diperlukan. Label harus ditulis
ketika spesimen diawetkan agar tidak terjadi kesalahan informasi mengenai
spesies awetan (Jasin, 1989).
Kegiatan analisis sampel merupakan pekerjaan yang membutuhkan
waktu lama, sehingga sampel perlu diawetkan. Pengawetan objek dilakukan
agar menjadi awet, jaringanya tidak rusak dan terhindar dari serangan bakteri
maupun jamur. Spesimen awetan yang dibuat harus dibersihkan dari rambut
dan kulit dengan cara dikerok hal ini digunakan untuk isolasi dari bakteri
patogen dan jamur (Dermici et al., 2012).
Terdapat dua macam tipe koleksi spesimen, yaitu koleksi basah dan
koleksi kering. Koleksi basah adalah koleksi yang disimpan dalam larutan
pengawet ethanol 70%, sedangkan koleksi kering berupa tulang dan kulit yang
diawetkan dengan bahan kimia formalin atau boraks.
Bahan pengawet dan peneguh yang digunakan biasanya berbahaya bagi
manusia, maka perlu dikenali sifat-sifatnya. Dengan mengenal sifat-sifat ini,
diharapkan dapat dihindari bahaya yang mungkin ditimbulkan.

2
❖ Alkohol, merupakan bahan yang mudah terbakar, bersifat disinfektan
dan tidak korosif.
❖ Formalin, larutan mudah menguap, menyebabkan iritasi selaput lendir
hidung, mata, dan sangat korosif, bila pekat berbahaya bagi kulit.
❖ Ether, larutan mudah menguap, beracun, dapat membius dengan
konsentrasi rendah, eksplosiv.
❖ Kloroform, Larutan mudah menguap, dapat membius dan melarutkan
plastik.
❖ Karbon tetracloride, larutan mudah menguap, melarutkan plastik dan
lemak, membunuh serangga.
❖ Ethil acetat, larutan mudah menguap, dapat membius dan mematikan
serangga atau manusia.
❖ Resin, merupakan larutan yang tidak mudah menguap mudah
mengeras dengan penambahan larutan katalis, karsinogenik, dapat
mengawetkan specimen dalam waktu yang sangat lama.
❖ KCN/HCN, larutan pembunuh yang sangat kuat, sangat beracun, bila
tidak terpaksa jangan gunakan larutan ini.

1.2 TUJUAN
▪ Mengetahui teknik dari pengumpulan spesimen dan pengawetan spesimen
hewan.
▪ Melakukan pengawetan terhadap hewan avertebrata ataupun vertebrata.
▪ Membuat koleksi spesimen yang dapat bertahan lama.
▪ Untuk mengetahui langkah-langkah dalam teknik awetan basah.
▪ Untuk mengetahui bagaimana perubahan tekstur, larutan dan ketahanan
yang terjadi pada specimen.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

4.3 Deskripsi Umum Kelas Pisces


Kelas Pisces merupakan hewan berdarah dingin, bernafas dengan
insang, tubuh ditutupi oleh sisik dan bergerak menggunakan sirip. Hidup di air
tawar dan air asin (laut). Berdasarkan tulang penyusun, kelas ini dibedakan atas
ikan bertulang sejati (Osteichtyes) dan ikan yang bertulang rawan
(Chondrichetyes). Kalau dilihat dari jumlah spesiesnya yang dikatakan
terbanyak dari vertebrata. Penyebaran ikan boleh dikatakan hampir diseluruh
permukaan bumi ditemukan di air tawar maupun air asin (Hayati, 2011).
Pada sistematika atau taksonomi ada 3 pekerjaan yang biasa dilakukan,
yaitu identifikasi, klasifikasi, dan pengamatan evolusi. Identifikasi merupakan
pengenalan dan deskripsi yang teliti dan tepat terhadap suatu jenis/spesies yang
selanjutnya diberi nama ilmiahnya sehingga diakui oleh para ahli diseluruh
dunia. Klasifikasi adalah suatu kegiatan pembentukan kelompok-kelompok
makhluk hidup dengan cara memberi keseragaman ciri/sifat di dalam
keanekaragaman ciri yang ada pada makhluk hidup tersebut (Riki, 2010).
Pisces atau ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah
dingin) hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok
vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000
di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic
yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi
menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan
ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk
hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes)
(Rio, 2005).
Ikan memiliki bermacam ukuran, mulai dari paus hiu yang berukuran 14
meter (45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira 1/4
inci). Ada beberapa hewan air yang sering dianggap sebagai "ikan", seperti
ikan paus, ikan cumi dan ikan duyung, yang sebenarnya tidak tergolong sebagai
ikan (Anoymous, 2012).

4
Ikan dapat ditemukan di hampir semua "genangan" air yang berukuran
besar baik air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari
dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Namun,
danau yang terlalu asin seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan. Ada
beberapa spesies ikan dibudidayakan untuk dipelihara untuk dipamerkan dalam
akuarium (Anonymous, 2011).
Ciri utama Pisces sebagai berikut:
• Hewan berdarah dingin yang hidup di dalam air.
• Bernapas dengan insang (operculum) dan dibantu oleh kulit.
• Tubuh terdiri atas Kepala.
• Rangka tersusun atas tulang sejati.
• Jantung terdiri atas satu serambi dan satu bilik.
• Tubuh ditutupi oleh sisik dan memiliki gurat sisi untuk menentukan
arah dan posisi berenang.
Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan
spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama
untuk spesimen-spesimen yang sulit ditemukan di alam. Awetan spesimen
dapat berupa awetan basah atau kering. Untuk awetan kering, tanaman
diawetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk mengawetkan hewan
dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ dalamnya. Awetan basah, baik
untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh
spesimen dalam larutan formalin 4%.
4.4 Deskripsi Umum Ikan Sapu - Sapu
Ikan sapu-sapu adalah sekelompok ikan air tawar yang berasal dari
Amerika tropis yang termasuk dalam famili Loricariidae, namun tidak semua
anggota Loricariidae adalah sapu-sapu. Ikan ini dikenal sebagai pemakan
alga/"lumut" dan sangat populer sebagai ikan pembersih akuarium. Ikan
dengan nama ilmiah Hypostomus plecostomus ini memang dikenal pemakan
alga atau lumut. Hal ini tentu menguntungkan jika ia dipelihara bersama ikan
lainnya di dalam akuarium, sebab ia akan berfungsi sebagai pembersih, sapu
dalam akuarium. Ikan sapu-sapu dikenal juga dengan nama ikan bandaraya.
Habitat aslinya di air tawar dan dikelompokkan ke dalam kerabat Loricariidae.

5
Karakteristiknya memang kurang bersahabat namun ikan ini tetap digemari
sebab ia memang fungsional bukan hanya sebagai penghias belaka. Dalam
perdagangan ikan internasional ia dikenal sebagai plecostomus atau
singkatannya, plecos dan plecs.
Di Malaysia orang menyebutnya "ikan bandaraya" karena fungsinya
seperti petugas pembersih kota ("bandar"). Di Indonesia, analogiyang sama
juga dipakai tetapi alatnya yang dipakai sebagai nama (sapu). Ikan ini nyaris
dapat hidup bersama dengan ikan akuarium apa saja dan diperdagangkan dalam
ukuran kecil atau sedang. Meskipun demikian, ia bisa tumbuh sepanjang 60 cm
dan menjadi kurang aktif dan kurang bersahabat. Ikan ini bersifat omnivora
(pemakan segala) tapi biasanya mencari sisa-sisa tumbuhan air di malam hari.
Sebenarnya sapu-sapu mencakup banyak jenis anggota Loricariidae, meskipun
yang paling umum dikenal adalah Hypostomus plecostomus. Karena
banyaknya impor berbagai macam sapu-sapu, dan banyak sekali yang belum
diidentifikasi secara benar, disusunlah suatu daftar sapu-sapu yang disebut
nomor-L (L-number) untuk mencirikannya secara sementara.
Ikan asli Sungai Amazon ini merupakan jenis yang tahan banting,
termasuk kemampuannyamendominasi sungai tercemar di mana ikan lain
sudah angkat tangan entah kabur atau matikarena kualitas air yang buruk.Ikan
ini banyak dijual sebagai ikan hias, atau tepatnya sebagai ikan pembersih
kacaakuarium. Karena mulutnya yang menempel pada kaca dan sering disebut
ikan pembersihkaca. Beberapa menyebutnya ikan sakarmut (dari kata sucker
mouth yang artinya memakan dengan cara menghisap), karena harganya murah
ikan ini sering dibuang begitu saja ke sungai sehingga berkembang pesat di
sungai.
Ikan sapu-sapu ini nyaris dapat hidup bersama dengan ikan akuarium apa
saja. Meskipun demikian, ia bisa tumbuh sepanjang 60 cm dan menjadi kurang
aktif dan kurang bersahabat. Makanan ikan sapu-sapu adalah mentimun. Selain
mentimun, ikan sapu-sapu juga memakan lendir-lendir hewan dan lumut. Ikan
ini omnivora (pemakan segala) tapi biasanya mencari sisa-sisa tumbuhan air di
malam hari (Prihardhyanto, 1995).

6
SISTEMATIK
Klasifikasi dan Deskripsi Ikan Sapu - Sapu
Menurut Kotellat et al (1993), klasifikasi ikan sapu-sapu adalah sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Ordo : Siluridea
Famili : Loricariidae
Genus : Hypostosmus
Hyposarcus
Spesies : Hypostosmus plecostomus
Hyposarcus pardalis

Ikan Sapu-sapu dapat hidup secara optimal di perairan tropis dengan


kisaran pH 7-7,5 dan suhu antara 23-28oC. Walaupun demikian, ikan ini masih
dapat hidup dengan baik pada kondisi fisika kimia perairan yang kurang baik
sehingga dapat berperan sebagai indikator lingkungan (Page et al. 1996 in
Sutanti 2005). Kemudian menurut Grzimek (1973) in Prihardhyanto (1995)
mengatakan bahwa, Ikan Sapu-sapu biasa mengkonsumsi alga yang melekat
pada bebatuan, tumbuhan air, dan detritus. Sapu-sapu juga mengkonsumsi
bangkai ikan dan hewan-hewan lain yang tenggelam di dasar perairan,
sehingga Ikan Sapu-sapu digolongkan ke dalam kelompok omnivora. Jika
diamati cara makan ikan sapu-sapu, gerakannya yang lambat dan cenderung
menetap di dasar perairan, dengan kemampuan hidup yang kuat, ikan ini
cenderung memiliki kandungan logam berat yang hampir sama dengan
lingkungan tempat hidupnya. Bila perairannya bersih, maka ikan ini aman
untuk dikonsumsi demikian juga sebaliknya.
Sistem Pencernaan
Berdasarkan ususnya yang panjang dan tersusun melingkar seperti spiral,
ikan sapu-sapu dapat dikelompokkan ke dalam jenis ikan herbivora. Sedangkan
berdasarkan relung makannya yang luas maka ikan sapu-sapu dikelompokkan

7
ke dalam jenis eurifagic (ikan pemakan bermacam-macam makanan)
(Prihardhyanto, 1995).
Ikan ini bersifat omnivora (pemakan segala) tapi biasanya mencari sisa-
sisa tumbuhan air di malam hari. Ikan yang hidup di dasar permukaan ini adalah
ikan yang tidak agresif terhadap ikan lain, namun hanya sedikit
memperebutkan daerah kekuasaan dengan sesama jenisnya.
MORFOLOGI
Ikan Sapu-sapu termasuk ke dalam suku catfish dan famili Loricariidae
yang ditandai dengan tubuh yang tertutup oleh kulit yang mengeras dengan
bentuk mulut cakram. Menurut Sterba (1983) in Sutanti (2005), kepala serta
tubuh ikan sapu-sapu melebar dan membentuk seperti panah. Batang ekor
memanjang dan sirip punggung lebar. Pada semua siripnya kecuali sirip ekor
selalu diawali oleh duri keras. Terdapat juga adipose fin yang terletak dekat
dengan ujung batang ekor yang ditutupi oleh kulit yang mengeras. Sapu-sapu
dapat mencapai panjang maksimum 50 cm. Ikan ini berasal dari perairan air
tawar Amerika Selatan dan bagian utara Amerika Tengah hingga Nikaragua
(Sutanti, 2005).
Sistem Pernafasan
Ikan sapu-sapu memiliki 2 alat pernafasan. Alat pernafasan yang pertama
adalah insang. Insang digunakan oleh ikan sapu-sapu saat berada di air yang
jernih. Alat pernafasan ikan sapu-sapu yang kedua adalah labirin. Labirin
adalah alat pernafasan binatang lumpur atau air yang keruh. Karena memiliki
2 alat pernafasan, Ikan sapu-sapu dapat hidup di air dan di lumpur. Jadi, kita
tidak perlu menguras air sapu-sapu terlalu sering.

8
BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1 Alat Dan Bahan
3.1.1 Alat
❖ Botol kaca
❖ Pinset
❖ Stopwatch
❖ Alumunium foil
3.1.2 Bahan
❖ Ikan sapu – sapu (Hypostosmus plecostomus)
❖ Larutan alkohol 70%
❖ Larutan formalin 4%
❖ Larutan campuran (alkohol 70% ( 90 bagian ); formalin 4% ( 5 bagian
); asam asetat glasial (5 bagian )).

3.2 Metode kerja


1) Spesimen yang didapatkan kemudian dibersihkan dengan air.
2) Kemudian sediakan berbagai larutan yang diperlukan. Seperti : larutan
alkohol 70%; formalin 4%; dan larutan campuran.
3) Sediakan botol kaca yang akan digunakan sebagai tempat uji coba
spesimen.
4) Spesimen yang akan diuji dimasukan kedalam botol kaca yang telah berisi
larutan, dengan masing – masing diisi oleh satu ekor spesimen yaitu ikan
sapu – sapu (Hypostosmus plecostomus).
5) Setelah itu, hitunglah berapa lama waktu kematian spesimen.
6) Amati perubahan yang terjadi pada larutan dan spesimen pada jangka
waktu 1 hari; 3 hari dan 5 hari.
7) Tulislah hasil pengamatan pada tabel.

9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
Waktu Larutan penguji
penga Parameter uji Alkohol 70 % Formalin 4 % Campuran
matan
Waktu kematian 3 menit 20 detik 11 menit 35 detik 3 menit 09 detik
Posisi spesimen Tengelam Tengelam Tengelam
Tektur spesimen Tidak terlalu keras Sedikit kaku dan Spesimen lebih
keras lunak dibanding
perlakuan lain
Kondisi Baik dan utuh Baik dan utuh Baik dan utuh
1
spesimen
Warna spesimen Hitam kekuningan Hitam Hitam pucat
Warna larutan Kuning Putih bening Bening
Kondisi mata Putih pucat Baik (hitam Putih pucat
bening)
Kondisi larutan Jernih Jernih Sedikit keruh
Posisi spesimen Tenggelam Tenggelam Tenggelam

Tektur spesimen Lebih keras dari Lebih keras dan Lebh lunak dari
pengamatan kaku dari perlakuan perlakuan lainnya
sebelumnya lainnya
Kondisi Baik, tetapi sirip Baik dan utuh Baik dan utuh
spesimen bagian dorsal
3
sedikit terkelupas
Warna spesimen Hitam kekuningan Hitam Lebih putih dan
sedikit pucat Pucat
Warna larutan Kuning Kuning kecoklatan Bening
Kondisi mata Putih lebih pucat Sedikit pucat Putih pucat
Kondisi larutan Jernih Sedikit keruh Sedikit keruh

10
Posisi spesimen Tenggelam Tenggelam Tenggelam

Tektur spesimen Keras dan sedikit Keras dan kaku Lebih lunak dari
kaku perlakuanlainnya
Kondisi Baik, tetapi sirip Baik dan utuh Baik dan utuh
spesimen bagian dorsal
sedikit terkelupas
5 Warna spesimen Lebih pucat Hitam Putih pucat
kekuningan
Warna larutan Lebih kuning Kuning kecoklatan Bening sedikit
Kuning
Kondisi mata Putih dan lebih Putih pucat Putih dan lebih
pucat Pucat
Kondisi larutan Sedikit keruh Sedikit keruh Jernih

4.2 Pembahasan
Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan
spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama
untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. Pada percobaan yang
dilakukan pada tanggal 03 Oktober 2017 lalu bertujuan untuk mengetahui
pengaruh berbagai larutan terhadap spesimen ikan sapu - sapu (Hypostomus
pecostomus) Ada beberapa macam larutan yang dipakai yaitu Alkohol 70 %,
Formalin 4 % dan larutan campuran yang terdiri dari alkohol 70 % 90 bagian,
formalin 4 % 5 bagian dan asam asetat glasial 5 bagian.
Selama pengamatan satu minggu, untuk pengawetan spesimen dengan
menggunakan larutan alkohol 70% ketika pertama kali ikan dimasukan
kedalam larutan tersebut ikan tidak langsung mati tetapi setelah beberapa
menit kemudian ikan mati pada menit ke 3 lewat 20 detik, dimana ikan
tersebut berubah warna dari yang asalnya hitam kekuningan berubah menjadi
hitam kekuningan dan sedikit pucat. Hal ini dapat terjadi karena alkohol
memiliki sifat yang keras dan mematikan sel saraf dan dengan adanya sifat
fasa dilatasi pada alkohol yang menyebabkan pembuluh darah menyempit

11
dan tekanan darah rendah sehingga aliran darah pun melambat dan
menyebabkan kematian (Ina, 2015). Tekstur dari ikan sapu - sapu yang
direndam alkohol 70% terjadi sedikit perubahan yaitu tekstur kulitnya tidak
terlalu keras dibandingkan dengan larutan formalin dan pada hari pengamatan
terakhir tekstur berubah menjadi keras dan sedikit kaku. Warna larutan
alkohol setelah diisi oleh ikan berubah menjadi kuning dan pada hari terakhir
pengamatan menjadi lebih kuning, kondisi air larutan mengalami perubahan
yang semula kondisi larutan jernih menjadi sedikit keruh, hal ini dikarenakan
oleh rontoknya sel kulit bagian luar ikan atau kulit epidermis ikan akibat
reaksi terhadap larutan alkohol. Morfologi ikan sapu - sapu tersebut terjadi
perubahan pada bagian mata, dimana mata tersebut dari hitam bening menjadi
putih pucat bahkan pada pengamatan terakhir menjadi plebih putih dan lebih
pucat, hal tersebut disebabkan karena alasan yang pertama yaitu karena
alkohol mematikan sel saraf dan sifat fasa yang menyebabkan pembuluh
darah menyempit sehingga otot yang ada disekitar area mata ikan pun
ototmatis mengkerut dan mengecil, sebagai mana kita ketahui area mata
adalah salah satu bagian yang banyak mengandung sel saraf dan aliran
pembuluh darah.
Dari 3 bahan larutan yang digunakan terlihat hasil yang lebih baik untuk
pengawetan basah spesimen ikan sapu - sapu (Hypostomus plecostomus)
adalah dengan menggunakan larutan formalin 4%. Hal ini terlihat dari
morfologi ikan sapu - sapu yang masih utuh, warna ikan sapu - sapu
(Hypostomus plecostomus) yang tetap mempertahankan warna hitam atau
larutan formalin 4% tidak merubah warna dari ikan sapu - sapu tersebut, larutan
tidak berbau busuk dan tidak terjadi autolisis maupun pembusukan oleh
mikroba, ini dimungkinkan dapat terjadi karena formaldehida membunuh
bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi (kekurangan air),
sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan.
Formalin merupakan larutan formaldehida dalam air dengan kadar 36-40%
yang berfungsi sebagai stabilisator agar formaldehidanya tidak mengalami
polimerasi. Formalin digunakan untuk mengawetkan spesimen hayati,
formalin dehida dalam larutan bergabung dengan protein dalam jaringan
sehingga membuat keras dan tidak larut dalam air, keadaan ini mencegah
pembusukan spesimen (Wilbraham, 1992). Pada saat ikan sapu-sapu tersebut

12
dimasukan pertama kali kedalam larutan yang berisi formalin 4 % keadaan ikan
tersebut tidak langsung mati hanya saja lemas hingga lama kelamaan mati. Ikan
sapu-sapu yang mati tersebut tenggelam dalam larutan formalin 4 %, hal
tersebut dimungkingkan karena formalin tersebut diserap oleh jaringan ikan

13
sehingga bobot ikan bertambah. Setelah diamati selama satu minggu tekstur
dari ikan tersebut menjadi keras hal ini dapat terjadi karena sifat dari formalin
tersebut yang memiliki unsur aldehida dan bersifat mudah bereaksi dengan
protein, formalin akan mengikat unsur protein mulai dari bagian permukaan
hingga terus meresap kebagian dalam dari jaringan ikan tersebut dengan
matinya protein setelah terikat unsur kimia dari formalin maka bila ditekan ikan
terasa lebih keras. Penggunaan larutan formalin 4% setelah satu minggu tidak
terjadi perubahan pada warna dari larutan artinya larutan tetap bening, hal ini
mungkin terjadi karena pigmen formalin hanya dapat terbentuk bila terjadi
interaksi antara larutan formalin ber-pH asam dengan hemoglobin atau
produknya. Pigmen formalin sering dijumpai pada organ yang mengandung
banyak darah seperti hati, limpa, dan sumsum tulang. (Agathanica dkk, 2011).

Penggunaan larutan campuran yang terdiri dari alkohol 70 % 90 bagian,


formalin 4 % 5 bagian dan asam asetat glasial 5 bagian. Penggunaan larutan ini
pada saat pertama kali dimasukan ikan sapu - sapu menjadikan warna spesimen
berubah, dari yang semula berwarna hitam menjadi hitam pucat dan warna
larutan tidak berubah tetap bening seperti awal hanya sekit kuning. Setelah
lima hari direndam dalam larutan campuran tekstur dari ikan berdasarkan
tingkat kekenyalan tubuh ikan tetap baik yaitu tidak mengeras dan seperti awal
ketika sebelum dimasukan kedalam cairan campuran. Larutan campuran
tersebut biasanya berfungsi sebagai fiksatif. Fiksatif adalah perlakuan untuk
mematikan sel tanpa merusak bentuk dan kandungnnya (Denton 1973 dalam
Sucipto, 2008). Dari pernyataan Denton sesuai dengan hasil pengamatan kami
selama 1 minggu ikan sapu-sapu dimasukkan kedalam larutan campuran, yaitu
tekstur kekenyalan tubuh ikan tetap seperti awal karena larutan campuran
bersifat fiksatif, sel sel yang berada di dalam tubuh ikan sapu-sapu memang
mati namun bentuk sel dan kandungannya tidak berubah sehingga tidak
terjadi hemolisis (meregang nya membran sel) dan krenasi (mengkerut nya
membran sel), hal tersebut yang menyebabkan kekenyalan tubuh ikan sapu-
sapu stabil (Sucipto, 2008).

14
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesi
men secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk
spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam dalam percobaan kali ini
diuji perbandingan dari berbagai larutan penguji yakni alkohol 70%; formalin
4% dan larutan campuran yang terdiri dari alkohol 70% 90 bagian; formalin
4% 5 bagian; serta ditambah asam asetat glasial 5 bagian. Dan dari hasil
percobaan yang telah kami lakukan ini dapat disimpulkan :
bahwa apabila dilihat larutan campuran paling cepat dalam mematikan
spesimen, dengan warna larutan yang bening dan jernih, sementara itu untuk
larutan alkohol berubah kuning dan formalin berubah menjadi kuning
kecoklatan. Akan tetapi, dalam mempertahankan warna dan kemiripan dengan
bahan segar larutan formalin merupakan yang terbaik apabila dibandingkan
dengan larutan lainnya yang mana pada larutan alkohol spesimen berubah
menjadi sedikit pucat, dan pada larutan campuran spesimen berubah menjadi
putih pucat. Disisi lain pada tektur atau kondisi spesies larutan formalin
membuat spesimen menjadi keras dan kaku, lain halnya pada alkohol dimana
spesimen tidak terlalu kerasdan tidak terlalu kaku, pada larutan campuran
kondisi spesimen tidak kerasdan tidak kaku.

5.2 SARAN
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan yang perlu ditambah dan diperbaiki. Untuk itu penulis
mengharapkan inspirasi dan kritik dari para pembaca dalam hal membantu
menyempurkan makalah ini. Untuk terakhir kalinya penulis berharap agar
dengan hadirnya makalah ini akan memberikan sebuah perubahan khususnya
dunia pendidikan, dalam mengetahui tentang teknik pengawetan spesimen
terhadap berbagai kelompok makhluk hidup.

15
DAFTAR PUSTAKA

Astiwulan, Agathanica., Bunga, Yunia., dkk. 2011. Makalah Sitohistoteknologi


“Fiksasi Basah Kering”. Akademi Analisis Kesehatan Nasional:
Surakarta
Demirci, B., Gultiken M.E., Karayigit, M.O. dan Atalar, K. 2012. Is Frozen
Taxidermy an Alternative Method for Demonstration of Dermatopaties.
Eurasian Journal of Veterinary Sciences, 28(3), pp.172-176.
Hayati, 2011. Buku Praktikum Vertebrata. Erlangga. Jakarta.
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Surabaya: Sinar
Wijaya.
Maesaroh, S. S. 2012. Hasil Pengawetan Spesimen Awetan Basah Dan Kering.
Bogor: Universitas Pakuan.
Prihardhyanto, A. 1995. Beberapa Aspek Biologi Ikan Sapu-sapu (Hypostosmus
sp. dan Hyposarcus pardalis), Suatu Tinjauan Ringkas. Depok: Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.
Rahmawati, Ina. 2015. Pengaruh Pertambahan Larutan Alkohol dan Nikotin
Pada Pembuluh Arteri atau Vena Sirip Ekor Ikan Mas. Bogor
Riki, 2010. Vertebrata. Yudistira. Bandung
Rio, 2005. Dunia Hewan. Bumi Aksara. Jakarta
Sucipto, A. 2008. Preparasi Kromosom. Program Studi Budidaya Perairan:
Institut Pertanian Bogor
Suhardjono., Yayuk, R. 2006. Status Taksonomi Fauna Di Indonesia Dengan
Tinjauan Khusus Pada Collembola. Zoo Indonesia. 15(2), hal 67 – 86.
Suhardjono, Y.R. 1999. Buku Pegangan Pengelolaan Koleksi Spesimen Zoologi.
Bogor: LIPI Press.
Tjakrawidjaya, F. 1999. Arsenic In Taxidermy Collections. Bogor: Puslitbang
Biologi.

16
LAMPIRAN
Pengamatan hari ke -1
- Dengan larutan alkohol 70%

- Dengan larutan Formalin 4%

- Dengan larutan campuran

17
Pengamatan hari ke -3
Dengan larutan alkohol 70%

- Dengan larutan Formalin 4%

- Dengan larutan campuran

18
Pengamatan hari ke -5
- Dengan larutan alkohol 70%

- Dengan larutan Formalin 4%

- Dengan larutan campuran

19