Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH TEKNOLOGI SEMI SOLID

“FORMULASI INFUS RINGER LAKTAT”

Disusun oleh:

Dinda Aulia Hanifah (15330018)

Jihana Dwi Anisa (15330029)

Ami Rahmawati Sukamto (15330032)

Riswan Arianto (15330033)

Ila Rizki Idrus (16330501)

PROGRAM STUDI FARMASI S1

FAKULTAS FARMASI

INSTITUT SAINS TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, 8 Desember 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda,
sehingga teknologi steril sebagai salah satu bagian dari ilmu farmasi mengalami
dinamika yang begitu cepat. Teknologi Steril merupakan ilmu yang mempelajari tentang
bagaimana membuat suatu sediaan (Injeksi volume kecil, Injeksi volume besar, Infus,
Tetes Mata dan Salep Mata) yang steril, mutlak bebas dari jasad renik, patogen, atau non
patogen, vegetatif atau non vegetatif (tidak ada jasad renik yang hidup dalam suatu
sediaan). Teknologi steril berhubungan dengan proses sterilisasi yang berarti proses
mematikan jasad renik (kalor, radiasi, zat kimia) agar diperoleh kondisi steril. Tentunya
di setiap fakultas mendapatkan mata kuliah tersebut, karena teknologi steril berperan
penting dan menjadi mata kuliah pokok farmasi.
Dalam teknologi steril, kita dapat mempelajari tentang bagaimana menghasilkan
atau membuat sediaan yang steril, sediaan steril dapat dibuat secara sterilisasi kalor
basah, kalor kering, penyaringan, sterilisasi gas, radiasi ion dan teknik aseptik. Kemudian
sediaan steril tersebut dilakukan uji sterilitas, uji pirogenitas (ada atau tidaknya pirogen).
Pada saat kuliah teknologi steril akan kita dapatkan sediaan dalam bentuk larutan,
emulsi, suspensi dan semi solid yang steril (bebas dari pirogen).
Infus adalah salah satu bentuk sediaan obat dalam dunia farmasi yang
mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan sediaan obat lainnya. Infus adalah sediaan
cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90° selama 15
menit. Selain itu infus dapat digunakan untuk keadaan pengobatan darurat, untuk pasien
yang muntah – muntah atau tidak sadarkan diri, dan tidak bisa menyebabkan iritasi di
dalam lambung dibandingkan dengan sediaan tablet, infus juga merupakan sediaan
dalam farmasi yang wajib bebas dari pirogen dan harus steril dalam pembuatannya.
Sehingga efek obat dapat langsung bekerja karena langsung berhubungan dengan darah.
Laktat dalam ringer laktat sebagian besar dimetabolisme melalui proses
glukoneogenesis. Setiap satu mol laktat akan menghasilkan satu mol bikarbonat. Pasien
dengan kondisi hamil memiliki kadar laktat yang berbeda karena plasenta menghasilkan
laktat yang akan menuju sirkulasi maternal.
Suatu cairan dikatakan sebagai cairan isotonis apabila mereka memiliki
osmolalita sama dengan plasma manusia atau osmolaritas teoritis yang sama sebagai
cairan NaCl fisiologis. Ringer asetat malat, dengan osmolalitas 286 mosm/kgH2O dan
osmolaritas 304 mosm/l adalah isotonis. Tekanan osmotik ditentukan oleh osmolaritas
dan osmolalitas dari cairan. Osmolaritas dan osmolalitas merupakan ukuran dari jumlah
konsentrasi molar dari zat terlarut.
Sehubungan dengan Teori tersebut diatas dan penerapan dari teori yang sudah
didapat. Kami melakukan praktikum teknologi steril dalam hal ini membuat sediaan
infus dengan harapan semoga dalam kegiatan praktikum ini, kami dapat menambah
wawasan, melaksanakan desain dan rancangan serta pembuatan sediaan steril untuk
dalam upaya meningkatkan pengetahuan ilmu farmasi.

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa dapat memanfaatkan dan melaksanakan pengkajian praformulasi untuk
sediaan steril.
2. Mahasiswa mampu melaksanakan desain sediaan injeksi infuse.
3. Mahasiswa mampu menyusun SOP dan IK pembuatan injeksi infuse .
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Injeksi

Sediaan Injeksi Volume Besar adalah larutan produk obat yang disterilisasi akhir dan
dikemas dalam wadah dosis tunggal dengan kapasitas 100 ml atau lebih dan ditujukan
untuk manusia. Parenteral volume besar meliputi infus intravena, larutan irigasi, larutan
dialisis peritonal & blood collecting units with antikoagulant (Lachman Parenteral vol 1
hal 249).

Definisi yang diperluas dari sediaan parenteral volume besar adalah produk obat
dengan pembawa air dalam bentuk konterner dosis tunggal, disterilkan secara terminal
dengan kapasitas 100 mililiter atau lebih, yang digunakan atau diberikan kepada
manusia.

2.2 Sediaan Steril


Infus merupakan sediaan steril, berupa larutan atau emulsi dengan air sebagai fase
kontinyu; biasanya dibuat isotonis dengan darah. Prinsipnya infus dimaksudkan untuk
pemberian dalam volume yang besar. Infus tidak mengandung tambahan berupa
pengawet antimikroba.Larutan untuk infus, diperiksa secara visible pada kondisi yang
sesuai, adalah jernih dan praktis bebas partikel-partikel. Emulsi pada infus tidak
menujukkan adanya pemisahan fase. (British Pharmaceutical, 2002).
Pembuatan infus ini mengacu pada penggunaannya sebagai cairan infus yang
dapat menstabilkan jumlah elektrolit-elektrolit yang sama kadarnya dalam
cairan fisiologis normal, sehingga diharapkan pasien dapat mempertahankan kondisi
elektrolitnya agar sesuai dengan batas-batas atau jumlah elektrolit yang normal
pada plasma. Selain itu, digunakan pengisotonis dekstrosa yang diharapkan mampu
menambah kalori bagi pasien serta meningkatkan stamina karena biasanya kondisi
pasien yang kekurangan elektrolit dalam keadaan lemas (sehingga perlu diinfus).
Infus ringer digunakan untuk untuk mengatasi kondisi kekurangan volume
darah, larutan natrium klorida 0,9% - 1,0% menjadi kehilangan maka secara terapeutik
sebaiknya digunakan larutan ringer, larutan ini mengandung KCl dan CaCl2
disamping NaCl.
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral,
suntikkan dengan cara menembus atau merobek jaringan kedalam atau melalui
kulit atau selaput lendir. Injeksi diracik dengan melarutkan, mengemulsi atau
mensuspensikan sejumlah obat dalam sejumlah pelarut atau dengan mengisikan
sejumlah obat ke dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda.
Terapi intravena adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan,
elektrolit, obat intravena dan nutrisi parenteral ke dalam tubuh melalui intravena.
Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang
banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang
aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan dan elektrolit serta
asam basa. Tindakan ini merupakan metode efektif dan efisien dalam memberikan suplai
cairan ke dalam kompartemen intravaskuler.
Infus Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium
klorida dalam air. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut dalam
larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang
diperlukan tubuh.
Sediaan steril adalah sediaan terapeutis dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari
mikroorganisme hidup. Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan
keadaan steril. Secara tradisional keaadan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta
sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Adapun
syarat-syarat sediaan parenteral volume besar yaitu steril, bebas pirogen, isotonis,
isohidris, bebas partikel asing, aman, jernih, stabil baik secarafisika, kimia, maupun
mikrobiologi, tidak terjadi reaksi antar bahan dalam formula, dikemas dalam wadah
dosis tunggal, tidak mengadung bahan baktersid karena volume cairan terlalu besar,
penggunaan wadah yang sesuai, sehingga mencegahterjadinya interaksi dengan bahan
obat,dan sesuai antara bahan obat yang adadalam wadah dengan etiket, dan tidak terjadi
pengurangan kualitas selama penyimpanan. Salah satu sediaan yang termasuk sediaan
steril parenteral volume besar adalah sediaan infus.
Infus adalah suatu sediaan steril berupa larutan atau emulsi bebas pirogen sedapat
mungkin dibuat isotonis terhadap darah yang disuntikkan langsung kedalam vena dalam
volume relatif banyak yang dikemas dalam wadah kapasitas 100-1000 ml yang
digunakan untuk memperbaiki gangguan elektrolit cairan tubuh yang serius yang
menyediakan nutrisi dasar dan digunakan sebagai pembawa untuk bahan-bahan
obat.Salah satu contoh infus yangdigunakan untuk mencukupi kebutuhan elektrolit tubuh
adalah infus ringer. Infus ringer adalah larutan steril yangmengandung kalsium klorida,
kaliumklorida, dan natrium klorida dalam aqua pro injeksi.
Menurut Farmakope Indonesia edisi III, Infus adalah sediaan cair yang dibuat
dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90° selama 15 menit. Menurut
Farmakope Indonesia edisi IV Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari
simplisia nabati dengan air pada suhu 90° selama 15 menit.
Infus adalah proses mengekstraksi unsur-unsur substansi terlarutkan (khususnya
obat) atau terapi dengan cara memasukkan cairan ke dalam tubuh. Infus adalah tindakan
memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien untuk memenuhi
kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian
makanan.
Infus adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui sebuah jarum ke
dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-
zat makanan dari tubuh.
Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah plastik
atau gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain. Oleh karena
volumenya yang besar, pengawet tidak pernah digunakan dalam infus intravena
untuk menghindari toksisitas yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu
sendiri. Cairan infus intravena.
Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang
isotonis untuk meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis
maupun hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah,
larutan hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat.

2.3 Jenis Cairan Infus

a. Cairan hipotonik
osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih
rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan
osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke
jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas
tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel
“mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi
diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis
diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari
dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan
tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45%
dan Dekstrosa 2,5%.
b. Cairan Isotonik
osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari
komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada
pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah
terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya
pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan
Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
c. Cairan hipertonik
osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga “menarik” cairan dan
elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan
tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak).
Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl
45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk
darah (darah), dan albumin.

2.4 Persyaratan infus intravena


Persyaratan infus intravena menurut FI III antara lain :
1. Sediaan steril berupa larutan
2. Bebas pirogen
3. Sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah
4. Infus emulsi dibuat dengan air sebagai fase luar, diameter fase dalam tidak
lebih dari 5 µm
5. Infus intravena tidak mengandung bakterisida dan zat dapar
6. Larutan untuk infus intravena harus jernih dan praktis bebas partikel
7. Emulsi untuk infus intravena setelah dikocok harus homogen dan tidak
menunjukkan pemisahan fase, diameter globul fase terdispersi untuk infus
intravena harus dinyatakan
8. Volume netto atau volume terukur tidak kurang dari nominal
9. Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal
10. Memenuhi syarat injeksi

2.5 Keuntungan dan Kerugian


Keuntungan pemberian infus intravena adalah menghasilkan kerja obat yang cepat
dibandingkan cara-cara pemberian lain dan tidak menyebabkan masalah terhadap
absorbsi obat.
Sedangkan kerugiannya yaitu obat yang diberikan sekali lewat intravena maka obat
tidak dapat dikeluarkan dari sirkulasi seperti dapat dilakukan untuk obat bila diberikan
per oral, misalnya dengan cara dimuntahkan.

2.6 Pembagian Cairan Tubuh


Air beserta unsur-unsur didalamnya yang diperlukan untuk kesehatan sel disebut cairan
tubuh. Cairan tubuh dibagi menjadi dua yaitu :
1. Cairan Intraseluler, cairan ini mengandung sejumlah ion Na dan klorida serta hampir
tidak mengandung ion kalsium, tetapi cairan ini mengandung ion kalium dan fosfat
dalam jumlah besar serta ion Magnesium dan Sulfat dalam jumlah cukup besar.
2. Cairan Ekstraseluler, cairan ini mengandung ion Natrium dan Klorida dalam jumlah
besar, ion bikarbonat dalam jumlah besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion Kalium,
Kalsium, Magnesium, Posfat, Sulfat, dan asam-asam organic.

Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima
sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan atau
pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat. Ini menekankan
pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam
bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya.
Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl.
1. Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk
mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air
sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.
2. Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam
cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta
isotonis sel.
3. Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses
penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium dibawah
konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
4. Ion Magnesium (Mg2+) juga diperlukan tubuh untuk aktivitas neuromuskuler sebagai
koenzim pada metabolisme karbohidrat dan protein.

2.7 Evaluasi Sediaan

Evaluasi yang dilakukan dalam sediaan parenteran volume besar diantaranya, yaitu:

1. Pemeriksaan sterilisasi

Dilakukan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri, jamur, dan ragi yang hidup dalam
sediaan yang diperiksa. Dilakukan teknikaseptis yang cocok.

Menurut FI III, pemeriksaan dilakukan sebagai berikut:

a. Dibuat pemebenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari:

Pembenihan tioglikolat untuk bakteri aerob; sebagai pembanding digunakan


Bacillus subtilise atau Sarcina lutea

Pembenihan tioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut, dengan cara


memanaskan pada suhu 1000 C selama waktu yang diperlukan untuk bakteri
anaerob; sebagai pembanding digunakan Bacteriodes vulgates atau Clostridium
sporogenus

b. Dibuat perbenihan B untuk memeriksa adanya jamur dan ragi, untuk dipakai
perbenihan asam amino; sebagai pembanding digunkan Candida albicans,

Penafsiran hasil:

Zat uji dinyatakan pada suhu 300-320 C selama tidak kurang dari 7 hari, tidak
terdapat pertumbuhan jasad renik.
2. Pemeriksaan pirogen

Dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci percobaan yang disuntik dengan
sediaan uji pirogenitas secara intravena. Jumlah kelinci percobaan bisa 3, 6, 9, 12
(untuk rincian lihat di FI II)

3. Pemerihan kejernihan dan warna

Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih, disinari dari
samping. Kotoran berwarna akan terlihat pada latar belakang hitam.

4. Pemeriksaan keseragaman bobot

Syarat keseragaman bobot:

Bobot yang tertera pada etiket Batas penyimpangan (%)

Tidak lebih dari 120 mg 10,0

Antara 120 mg dan 300 mg 7,5

300 mg atau lebih 5,0

5. Pemeriksaan keseragaman volume

Untuk injeksi dlam bentuk cairan, volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih
dari volume yang ditetapkan. Kelebihan volume volume yang dianjurkan tertera
dalam daftar berikut ini

Volume pada etiket Volume tambahan yang diajurkan

Cairan encer Cairan kental

0,5 mL 0,10 mL (20%) 0,12 mL (24%)

1,0 mL 0,10 mL (10%) 0,15 mL (15%)

2,1 mL 0,15 mL (7,5%) 0,25 mL (12,5%)

5,0 mL 0,30 mL (6%) 0,50mL (10%)

10,0 mL 0,50 mL (5%) 0,70 mL (7%)


20,0 mL 0,60 mL (3%) 0,90 mL (4,5%)

30,0 mL 0,80 mL (2,6%) 1,2 mL (4%)

50,0 mL 2 mL (4%) 3,00 mL (6%)


BAB III

METODE KERJA

3.1 Praformulasi
Uraian Bahan
1. NaCl (FI III : 403;Exp : 478)
Nama resmi : NATRII CHLORIDUM

Sinonim : Sodium klorida

RM/BM : NaCl/58,44

Pemerian : Hablur heksahidrat, tidak berwarna atau hablur

putih, tidak berbau, rasa asin.

Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian

air mendidih, dan dalam lebih kurang 10 bagian

gliserol, sukar larut dalam etanol (95%) P.

Kegunaan : Zat pengisotonis

Sterilisasi : Otoklaf atau penyaringan

Incompatibilitas : Larutan berair korosit terhadap Fe, juga

Bereaksi membentuk endapan dengan perak dan

Garam merkuri. Bahan pengoksidasi kuat


melepaskan ion klorin dari larutan asam NaCl.

Viskositas gel karbomer larutan HgC dan HPC

Berkurang viskositasnya dengan penambahan

NaCl.

Kestabilan : Larutan NaCl stabil, dapat menyebabkan

pemisahan partikel gelas dan beberapa wadah tipe


gelas tertentu.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, sejuk dan kering.

pH : 6,3-7,3 (larutan berair jenuh),0,9% larutan dalam

air isotonik dengan serum.

2. KCl (FI III : 329; Exp : 426)


Nama resmi : KALII CHLORIDUM

Sinonim : Kalium klorida

RM/BM : KCl/74,55

Pemerian : Hablur berbentuk kubus atau berbentuk prisma,

tidak berwarna atau serbuk butir putih, tidak

berbau, rasa asin, mantap di udara.

Kelarutan : Larut dalam 3 bagian air; sangat mudah larut

dalam air mendidih; praktis tidak larut dalam

etanol mutlak P dan dalam eter P.

Sterilisasi : Penyaringan atau autoklaf

pH : 7 untuk larutan berair jenuh

Kestabilan : Tablet KCl menjadi meningkat kekerasannya jika

disimpan pada tempat dengan kelembaban rendah

Incompatibilitas : Bereaksi warna ungu dengan bromine trisulfida

dan dengan campuran asam sulfur dan kalium

permanganat. Larutannya dapat mengendap

dengan garam perak.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.


Kegunaan : Elektrolit

3. CaCl2 (FI III : 120 )


Nama resmi : CALCII CHLORIDUM

Sinonim : Kalsium klorida

RM/BM : CaCl2/110,99

Pemerian : Hablur, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak

pahit.

Kelarutan : Larut dalam 0,25 bagian air, mudah larut dalam

etanol (95%)P.

Sterilisasi : Penyaringan atau autoklaf

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

Kegunaan : Elektrolit

4. Na Laktat (RPS 18th : 821)


Nama resmi : NATRII LACTAS

Sinonim : Natrium laktat/sodium lactate

RM/BM : CH3CH(OH)COONa/112,06

Pemerian : Larutan steril asam laktat dalam air injeksi yang

disiapkan dengan NaOH.

Sterilisasi : Autoklaf

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

Kegunaan : Elektrolit

5. Air Untuk Injeksi (FI III : 97; FI IV : 112)


Nama resmi : AQUA STERILE PRO INJECTIONEA

Sinonim : Aqua pro injeksi


RM/BM : H2O, 18,02

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak

berasa.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, jika disimpan dalam

wadah tertutup kapas berlemak harus digunakan 3


hari setelah pembuatan

Kegunaan : Pembawa/pelarut

Sterilisasi : Outoklaf

3.2 Formula Asli


Formula Infus Ringer Laktat (Fornas Hal 203)
Tiap 500 ml mengandung :
R/ Natrii Chloridum 4,3 g
Kalii Chloridum 150 mg
Calcii Chloridum 2,4 g
API ad 500 ml
Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal
Catatan :

1. pH 5 sampai 7.5
2. Tidak boleh mengandung bakterisida
3. Disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C, segera setelah dibuat
4. Bebas Pirogen
5. Pada etiket harus juga tertera banyaknya ion Kalium, ion Ca, Ion Klorida dan ion
Natrium masing-masing dalam mEq per liter
6. diinjeksikan secara infusi
3.3 Rancangan Formula

Tiap 500 mL Ringer Laktat mengandung :

NaCl 0,3 gram

KCl 0,15 gram

CaCl2 0,10 gram

Na.Laktat 1,55 gram

A.P.I ad 500 mL

Osmolaritas : 271 mOm/L

Na+ = 130 mEq/L

Cl = 109,5 mEq/L

K+ = 4 mEq/L

Ca++ = 2,7 mEq/L

Laktat = 27,5 mEq/L

3.4 Master Formula

Nama produk : Ringlat® Infusion

Jumlah produk : 10 Botol Infus @ 500 mL

Tanggal formulasi : 08 Mei 2013

No.Batch : DKL 0782300549A1

No.Reg : G 07205
No Nama kode bahan Nama bahan Fungsi Tiap dosis Tiap betch

1 001 – NC NaCl Zat aktif 0,3 gram 1500 gram

2 002 – KC KCl Zat aktif 0,15 gram 750 gram

3 003 – CC CaCl2 Zat aktif 0,10 gram 500 gram

4 004 – NL Na.Laktat Zat aktif 1,5 gram 7500 gram

5 005 – AK Arang aktif Anti pirogen 0,515 gram 2575 gram

6 006 - AQ A.P.I Pelarut 515 mL 5000 mL

3.5 Perhitungan
1. Perhitungan Berat yang ditimbang
a. NaCL
mEq = weight(gram)

mEq weigh

mEq = weight(gram)

Eq weigh/1000

mEq = weight(gram)

58,8/1 / 1000

102,5 = weight(gram)

0,0585

Weight = 5,999/ liter = 6 gram/liter

= 0,3 gram / 500 mL

b. KCl
mEq = weight(gram)

mEq weigh
mEq = weigh(gram)

Eq weigh/1000

mEq = weight(gram)

74,6/1 / 1000

4 = weight(gram)

0,0746

Weight = 0,2984/ liter = 0,3 gram/liter

= 0,15 gram / 500 mL

c. CaCl2
mEq = weight(gram)

mEq weigh

mEq = weigh(gram)

Eq weigh/1000

mEq = weight(gram)

147/2 / 1000

2,7 = weight(gram)

73,5/1000

Weight = 0,19 / liter = 0,20 gram/liter

= 0,10 gram / 500 mL

d. Na.Laktat
mEq = weight(gram)

mEq weigh

mEq = weigh(gram)
Eq weigh/1000

mEq = weight(gram)

117,06/1 / 1000

27,5 = weight(gram)

117,06/1000

Weight = 3,0816 / liter = 3,1 gram/liter

= 1,55 gram / 500 mL

2. Perhitungan Bahan
a. PerDosis
Dibuat 500 mL

Volume yang dilebihkan 3% = 3% x 500 mL = 15 mL

Jadi :

500 mL + 15 mL= 515 mL

 NaCl = 0,6% x 515 mL = 3,09 g = 3090 mg


 KCl = 0,03 % x 515 mL = 0,1545 g = 1545 mg
 CaCl2= 0,02% x 515 mL = 0,103 g = 103 mg
 Na Laktat = 0,31% x 515 mL = 1,5965 g = 15965 mg
 Karbon aktif = 0,1% x 515 mL = 0,515 g = 515 mg
 API ad 515 mL (dikarena kan pembawa yang digunakan adalah air maka bj =
1)

b. PerBacht
Jumlah produk 10 @ 500 mL

 NaCl = 300 mg x 5000 = 1500000 mg = 1500 gram


 KCl = 150 mg x 5000 = 750000 mg = 750 gram
 CaCl2= 100 mg x 5000 = 500000 mg = 500 gram
 Na Laktat = 1500 mg x 5000 = 7500000 mg = 7500 gram
 Karbon aktif = 515 mg x 5000 = 2575000 mg = 2575 gram
 API ad 5000 mL

2. Perhitungan Isotonisitas

a. Rumus Catelyn

g /100 ml = F- %b/v .k M'

M k'

BM NaCl = 58,44 Fd = 2 a = 0,6

BM KCl = 74,55 Fd = 2 a = 0,03

BM CaCl2 = 110,99 Fd = 3 a = 0,02

BM Na Laktat = 112,06 Fd = 2 a = 0,31

g /100 mL = 0,031 - 0,6 x 2 + 0,02 x 3 + 0,03 x 2 + 0,31 x 2 58,44

58,44 110,99 74,55 112,06 2

= [0,031- (0,0205339+0,0005406+0,0008048 0,0055328)] 29,22

= [0,031-0,027] 29,22

= 0,004 x 29,22

= 0,1 gr/100 mL

Karena hipotonis, maka perlu penambahan bahan pengisotonis.

Dibuat 500 ml, NaCl yang ditambahkan = 0,11688 gr x 500 mL

100 mL

= 0,5 gr atau 500 mg


b. Rumus PTB

W = 0,52 – a.c

PTB KCl = 0,43 a1 = 0,03%

PTB CaCl2 = 0,29 a2 = 0,02%

PTB Na Laktat = 0,31 a3 = 0,31%

PTB NaCl = 0,576 a4 = 0,6%

W = 0,52- [0,03.0,43)+(0,02.0,29)+(0,31.0,31)+(0,6.0,576]

0,576

= 0,52-(0,0129 + 0,0058 + 0,0961 + 0,3456)

0,576

= 0,52 – 0,4604

0,576

= 0,0596

0,576

= 0,1 g/100 mL

Karena hipotonis, maka perlu penambahan bahan pengisotonis.

Dibuat 500 mL, NaCl yang ditambahkan = 0,1035 gr x 500 mL

100 mL

= 0,5 gr atau 500 mg


3.6 Alat dan Bahan
Tabel Sterilisasi

No Nama Alat/ Metode Pustaka

Bahan Sterilisasi

1 Botol infus Oven, 1700C, 2 jam Parrot : 286

2 Batang pengaduk Autoklaf, 1210C, 20 menit Parrot : 286

3 Sendok tanduk Autoklaf, 1210C, 20 menit Parrot : 286

4 Gelas ukur Autoklaf, 1210C, 20 menit Parrot : 286

5 Pipet skala Autoklaf, 1210C, 20 menit Parrot : 286

6 Pipet tetes Autoklaf, 1210C, 20 menit Parrot : 286

7 Gelas kimia Oven, 1700C, 2 jam Parrot : 286

8 Erlenmeyer Oven, 1700C, 2 jam Parrot : 286

9 Kertas saring Oven, 1700C, 2 jam Lachman :623

10 Kertas perkemen Oven, 1700C, 2 jam Lachman :623

11 Buret Sublimasi

12 Sediaan akhir Autoklaf, 1210C, 20 menit MD 28th :1217

13 Na Laktat Autoklaf, atau filtrasi RPS 18th:821

14 NaCl Autoklaf, penyaringan Exp : 266

15 KCl Autoklaf atau penyaringan Exp : 426

16 CaCl2 Autoklaf atau penyaringan

17 Aquadest Autoklaf FI IV : 112


3.7 Cara Kerja

1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dan disterilkan sesuai dengan
metodenya masing-masing.
2. Tutup karet dibebassulfurkan dengan cara direndam dalam larutan Na2CO3 2%
selama 15 menit yang mengandung Na Lauril Sulfat 0,1 % lalu dibilas dengan
aquadest.
3. Alat-alat gelas dibebasalkalikan dengan cara direndam dalam HCl 0,1 N panas
selama 30 menit, kemudian dibilas dengan aquadest.
4. Bahan ditimbang sesuai dengan perhitungan bahan.
5. NaCl dilarutkan dalam 100 mL API, lalu ditambahkan KCl, CaCl2, dan Na Laktat
lalu dihomogenkan.
6. Dicukupkan volume hingga 70% dari volume akhir.
7. Dicek pH 7,0.
8. Dicukupkan volumenya hingga 550 mL.
9. Dibebaspirogenkan dengan menambahkan arang aktif 0,51 g dengan cara
dihancurkan dengan pemanasan tinggi untuk oksidasi atau pembakaran, dimana suhu
tinggi yang sangat memuaskan adalah 250oC selama 30-45 menit atau 170 oC selama
3-4 jam.
10. Dimasukkan ke dalam botol infus sebanyak 500 mL lalu disterilkan dalam autoklaf
selama 15 menit suhu 121 0C.
11. Diberi etiket, brosur dan dikemas dalam wadah.

3.8 Alasan Penambahan Bahan


1. Panambahan zat aktif
a. Ringer Laktat

 Alasan dibuat infus (RPS 18th : 1570)


Karena komposisi dari ringer laktat adalah garam-garam yang berfungsi untuk
memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit dan cairan tubuh maka sesuai
dengan tujuan dibuat infus.

 Mengapa infus harus steril (Lachman : 1292)


Sediaan parenteral merupakan sediaan yang unik di antara bentuk obat terbagi,
karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit adalah membran mukosa ke dalam
tubuh. Sediaan mengelakkan pertahanan pertama dari tubuh yang paling efesien
yaitu membran kulit dan mukosa. Sediaan harus bebas dari kontaminasi mikroba
dan dari komponen toksis dan harus mempunyai tingkat kemurnian yang tinggi.

 Ringer laktat adalah perawatan yang disiapkan untuk beberapa defesiensi ketika
rehidrasi oral tidak memungkinkan. Meskipun larutan ini lebih mendekati
perkiraan konsentrasi elektrolit ekstraseluler normal, penambahan elektrolit
dibutuhkan untuk mencapai kebutuhan spesifik dan pasien untuk memperbaiki
oksidosis, alkalosis atau defisit individu (elektrolit). Larutan ini tidak
diindikasikan untuk pengembalian atau pengembangan volume plasma ketika
kemudian digunakan secara individu kecuali untuk pemeliharaan sementara dari
keadaan gawat volume besar.
 Injeksi ringer laktat adalah larutan steril dari kalsium klorida, kalium klorida,
natrium klorida dalam air untuk injeksi. Sediaan ini tidak mengandung bahan
antimikroba. Kalsium, kalium dan natrium terdiri atas kira-kira 2,7;4 dan 130
mEq/L masing-masing. (RPS 18th : 806)
 Komposisi Ringer Laktat (SDF : 116)
Ringer Laktat (Hartmann's)

NaCl 0,6

KCl 0,03 pH 6,0-7,5

CaCl2 0,02

Na Laktat 0,3

Berfungsi untuk memperbaiki cairan dan elektrolit.


 Komposisi Elektrolit Tubuh (SDF : 200)
Ekstraseluler
Komponen Intraseluler
Plasma Intestisial

Na+ 142 146 5

K+ 5 5 150

Ca2+ 5 3 2

Mg2+ 2 1 27

Cl- 103 144 1

HCO3- 27 30 10

HPO4- 2 2 100

SO42- 1 1 20

As organik 5 8 -

Protein 16 0 63

2. Panambaham bahan tambahan


b. NaCl
 RPS 18th : 820
Ion NaCl dan bikarbonat merupakan ion-ion utama yang terdapat dalam
cairan ekstraseluler dari tubuh. Lebih dari 0,9% kation dalam CES atau Na
lebih dari 60% anionnya adalah klorida. Larutan NaCl 0,9% diperkirakan
mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan cairan tubuh. NaCl pada
injeksi digunakan sebagai pengganti elektrolit untuk mengganti cairan CES
yang kurang. Injeksi ini digunakan sebagai pengganti elektrolit untuk
memelihara dan mengganti kekurangan cairan ekstraseluler karena larutan
berpotensi menghasilkan metabolit asidosis (dengan cara melarutkan ion
karbonat) dan tidak menyediakan seluruh kation-kation utama CES, larutan
lain seperti injeksi RL, dapat disiapkan jika volume besar dari cairan
dipergunakan.

 SDF : 200-203
Zat terlarut yang dibuat dalam cairan tubuh adalah elektrolit dan nonelektrolit
kation (Na+, K+, Mg2+, dan Ca+) dan anion (Cl-, HCO3-, SO42-, dan HPO4-)
adalah elektrolit utama yang terdapat dalam tubuh. Keseimbangan kimia selalu
dipertahankan. Elektrolit mengkonstribusikan hubungan osmotik,
mempertahankan keseimbangan asam basa dan kebutuhan untuk konduksi
saraf.

c. KCl
Garam yang paling sering digunakan ketika aksi kalium diinginkan. Ini digunakan
ketika hipokalemia/hipokloremia alkalosis setelah diare yang panjang dan muntah
atau untuk terapi adrenal steroid dengan diuretik tertentu, khususnya tiazid. Ia
digunakan ketika diinginkan untuk mengelevasi level kalium normal plasma sebagai
pengobatan intoksikasi digitalis ( RPS 18th : 819 )

d. CaCl2
Ion kalsium disiapkan dalam perawatan hipokalsemia tetani. Ion Ca juga
menggambarkan spasme otot dan nyeri otot dan block widow-bites. Bahan ini
diberikan selama transfuse penggantian supaya memperbaiki kekurangan Ca darah
tersirat, Ca gluseptat disiapkan untuk penggunaan ini. Ion Ca adalah antispasmodik
untuk otot halus dan efektif dalam mengambarkan nyeri abnormal dan diare,
tubercolusis dan kolik logam. Untuk tujuan ini, Ca diberikan secara oral, garam
netral disiapkan. Ion Ca distimulasi automotisitas jantung dan kontraktilitasnya dan
digunakan resusitasi jantung. Kalsium digunakan dalam pengaturan reaksi
hipersensitivitas khususnya urtikaria dan edema angionneurik. Untuk pemulihan
elektrolit, Ca dibutuhkan dalam farmasetik untuk injeksi RL dan Ringer ( RPS 18th :
817 )

e. Na Laktat
Sebagai pengganti natrium bikarbonat dalam larutan untuk terapi elektrolit dan
cairan parenteral. Karena ion laktat secara umum dimetabolisme secara cepat
dalam tubuh, garam ini adalah sumber potensial kation tercampurkan untuk
memperbaiki metabolik asidosis. Meskipun demikian, dalam shock, beberapa
penyakit hati dan asidemik, hiperlaktat jenis lainnya menyatakan asidosis laktat
dikurangi dan larutan ini dikontraindikasikan untuk orang-orang dengan kapasitas
oksidatif seluler normal, laktat akan diubah menjadi bikarbonat dalam 1-2 jam
((RPS 18th : 821)

f. Arang Aktif
Karbon aktif, sebagai peraturan, mempunyai sifat adsorpsi tidak hanya tentang
warna, tetapi juga untuk banyak sediaan obat pada bahan aktifnya, seperti alkaloid
dan glikosida (RPS 18th : 1464)

Scoville's : 205

Karbon aktif kadang-kadang digunakan untuk kejernihan dan kenyamanannya


untuk banyak larutan seperti dekstrosa, NaCl, dan pentilentetrazol.

g. Air Untuk Injeksi (API)


- Air untuk injeksi (USP) adalah air murni melalui destilasi atau dengan osmosa
balik, bebas pirogen dan tidak mengandung bahan tambahan. Cenderung
digunakan sebagai pelarut dalam larutan parenteral yang akan disterilkan setelah
penyiapan sediaan akhir. (MD 20th : 1670)
- Sejauh ini pembawa yang paling sering digunakan untuk produk steril adalah air,
karena air merupakan pembawa untuk semua cairan tubuh. (Lachman : 1294)
- Air steril untuk injeksi pada temperatur tinggi (ekstrim) akan mencegah terjadinya
reaksi pirogen dengan cara penghambatan pertumbuhan mikroorganisme. (SDF :
19)

3.9 Cara Pengujian (Evaluasi)

a. Uji derajat keasaman (pH)


1. Diambil kertas pH universal
2. Dimasukan kedalam injeksi Ringer laktat
3. Diamati perubahan warna kertas pH universal,
4. Dicocokan dengan warna yang ada di kemasan pH universal
b. Uji keseragaman bobot
1. Diletakkan ampul pada permukaan yang rata secarasejajar
2. Di lihat secara langsung keseragaman volume secara visual
c. Uji kebocoran
1.Dimasukan ampul kedalam larutan metilen blue 1% dalam ruangan vakum
2.Diatur tekanan yang diberikan
3.Didiamkan 15 menit
4.Diamati apakah larutan ampul ada yang berwarna biru, bila ada artinya tidak lolos
uji kebocoran
d. Ujipartikel dan kejernihan
1.Diputar vial di latarbelakang putih atau hitam
2.Diamati secara visual injeksi Ringer laktat apakah ada partikel dalam sediaan
tersebut.
BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil sediaan yang belum diberi etiket Hasil sediaan yang sudah diberi ertiket

Hasil pH sediaan yaitu 4

2.8 Pembahasan
Pada praktikum kali ini, akan dibuat sediaan parenteral volume besar,
yaitu infus ringer. Infus Ringer mengandung berbagai macam elektrolit,
sehingga digunakan untuk memenuhi kebutuhan elektrolit ataupun cairan tubuh
secara fisiologis. Infus Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium
klorida, dan Kalsium klorida dalam air untuk obat suntik yang diberikan melalui
Pembuatan Sediaan Infus Ringer intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan
yang cocok.
Larutan Ringer sering digunakan untuk mengisi cairan yang hilang setelah
kehilangan darah akibat trauma, operasi atau cedera kebakaran. Hal yang pertama
dilakukan dalam membuat sediaan ini adalah mengecek apakah larutan ini isotonis
atau tidak. Pada pemberian intravenus dalam volume kecil, isotonis bukanlah suatu
syarat yang mutlak. Hal ini karena jumlah cairan tubuh jauh lebih besar dibandingkan
jumlah cairan yang dimasukkan sehingga terjadi pengenceran yang cepat. Tetapi tidak
demikian jika larutan intravenus volume besar yang diberikan tidak isotonis. Jika
larutan hipertonis (tekanan osmotiknya lebih besar daripada darah) maka dapat terjadi
plasmolisis yaitu hilangnya air dari sel darah sehingga sel darah akan mengkerut. Jika
larutan hipotonis (tekanan osmotik lebih kecil daripada darah) maka dapat terjadi
hemolisis yaitu eritrosit akan pecah.
Pengecekan isotonis larutan dilakukan dengan perhitungan menggunakan rumus
sebagai berikut : M osmole/liter = Sehingga didapat bahwa larutan infus ringer
yang akan dibuat bersifat isotonis yang bernilai 309,08 M osmole/liter.
Pada sediaan Infus, tidak perlu pengawet karena volume sediaan besar.
Jika ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet yang dibutuhkan besar sehingga
dapat memberikan efek toksik yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu
sendiri. Sediaan infus diberikan secara intravena untuk segera dapat memberikan
efek. Pelarut yang digunakan adalah Air Pro Injection bebas pirogen. Sediaan infus
yang kami buat sebanyak 500 ml dengan penambahan volume pada saat pembuatan
sediaan sebanyak 3% sehingga menjadi 515 ml
Selanjutnya, bahan-bahan yang ada dalam formula dilarutkan didalam aquadest
bebas pirogen. Ion natrium (Na+) dalam infus berupa natrium klorida dapat digunakan
untuk mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah
retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi. NaCl digunakan sebagai
larutan pengisotonis agar sediaan infus setara dengan 0,9% larutan NaCl, dimana
larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan cairan tubuh.
Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam
cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta
isotonis sel. Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam
proses penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di
bawah konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi. Kalsium yang
dipakai dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah larut dalam air.
Setelah masing-masing bahan larut sempurna kemudian dicampurkan di dalam
backer glass yang telah ditara dan ditambahkan dengan aquadest bebas pirogen di
bawah batas tanda tara. Setelah itu dilakukan pengecekan pH. Hal ini dimaksudkan
agar sediaan tidak menyebabkan phlebesetis (inflamasi pada pembuluh darah) dan
throbosis (timbulnya gumpalan darah yang dapat menyumbat pembuluh darah). Selain
itu, tujuan dari pengaturan pH ini adalah agar sediaan yang dibuat tetap stabil pada
penyimpanan. Namun jika dalam uji ini belum memenuhi persyaratan pH maka perlu
dilakukan penyesuaian pH agar memenuhi syarat. Jika terlalu asam, maka bisa
ditambah larutan NaOH 0,1 N. Dan jika terlalu basa dapat ditambah larutan HCl 0,1 N.
Obat suntik sebaiknya mempunyai pH yang mendekati pH fisiologis yang artinya
isohidris dengan darah dan cairan tubuh lainnya. Pada sediaan kami, pH yang
kami dapat yaitu 4, ini berarti pH pada sediaan yang kami buat adalah tidak memenuhi
syarat pH cairan infus dimana pH pada larutan yang kami buat kurang dari 5, ini bisa
saja disebabkan kaena degradasi dari banyak senyawa obat dalam larutan dapat
dipercepat atau diperlambat secara ekponensial oleh nilai pH yg naik atau turun dari
rentang pH nya. Nilai pH yang di luar rentang dan paparan terhadap temperatur yang
tinggi adalah faktor yang mudah mengkibatkan efek klinik dari obat secara signifikan,
akibat dari reaksi hidrolisis dan oksidasi. Larutan obat atau suspensi obat dapat stabil
dalam beberapa hari, beberapa minggu, atau bertahun-tahun pada formulasi aslinya,
tetapi ketika dicampurkan dengan larutan lain yg dapat mempengaruhi nilai pH nya,
senyawa aktif dapat terdegradasi dalam hitungan menit. Sistem pH dapar yang biasanya
terdegradasi dari asam atau basa lemah dan garamnya biasanya ditambahkan ke dalam
sediaan cair ditambahkan untuk mempertahankan pHnya pada rentang dimana
terjadinya degradasi obat minimum. Tujuan utama pengaturan pH dalam sediaan infus
ini adalah untuk mempertinggi stabilitas obat, misalnya perubahan warna, efek terapi
optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat tersebut, sehingga
obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi. Selain itu, untuk mencegah terjadinya
rangsangan atau rasa sakit seaktu disuntikkan. pH yang terlalu tinggi akan
menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan pH yang terlalu rendah menyebabkan rasa
sakit jika disuntikkan. Infus harus bebas pirogen karena pirogen menyebabkan
kenaikan suhu tubuh yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah
arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi. Untuk menghilangkan pirogen larutan
dilakukan dengan penambahan 0,1% karbon aktif dihitung terhadap volume total
larutan, kemudian dihangatkan pada suhu 60-70°C selama 15 menit sambil sesekali
diaduk. Setelah itu larutan disaring menggunakan kertas saring ganda, seharusnya
penyaringan ini dilakukan menggunakan penyaring G3 namun tidak dilakukan
karena keterbatasan alat. Setelah disaring sampai diperoleh larutan yang jernih,
hasilnya dimasukkan kedalam wadah berupa botol gelas dengan volume yang sesuai.
Sterilisasi yang dilakukan untuk larutan Ringer laktat adalah termasuk sterilisai
akhir dimana sterilisasi dilakukan setelah larutan dimasukan ke dalam wadah.

Metode sterilisasi untuk larutan ini adalah sterilisasi uap (panas basah). Pada
umumnya, metode sterilisasi ini digunakan untuk sediaan farmasi dan bahan-
bahan yang tahan terhadap temperatur yang digunakan dan terhadap penembusan
uap air, tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap air
tersebut Sterilisasi uap air ini lebih efektif dibandingkan sterilisasi panas kering.
Sterilisasi larutan ringer dilakukan dengan autoclave pada suhu 121° C selama 15
menit. Namun karna keterbatasan alat kami tidak melakukannya.

Penandaan obat sediaan infus ringer yang digunakan adalah label obat keras,
karena pada umumnya pemberian sediaan infus perlu dilakukan oleh tenaga ahli
medis dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan.
Pada etiket, selain dituliskan lambang obat keras, juga dicantumkan jumlah isi
atau volume sediaan. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga
sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, hal ini dilakukan untuk mempermudah
pemeriksaan isi secara visual.
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian kali ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Infus Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan
klorida dalam air untuk obat suntik yang diberikan melalui intravena tetes demi
tetes dengan bantuan peralatan yang cocok.
2. Sediaan infus ringer yang dibuat bersifat isotonis.
3. Pada sediaan Infus, tidak perlu pengawet karena volume sediaan besar.
4. pH sediaan tidak sesuai pada rentang pH stabilitas obat.
5. Infus harus bebas pirogen karena pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh
yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1
jam setelah injeksi.
6. Untuk menghilangkan pirogen larutan dilakukan dengan penambahan 0,1% karbon
aktif dihitung terhadap volume total larutan.
7. Sterilisasi yang dilakukan untuk larutan Ringer laktat adalah termasuk sterilisai
akhir.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia, III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.

Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia, IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.

Priyambodo, B., 2007, Manajemen Farmasi Industri, Global Pustaka Utama, Yogyakarta.

Voight, 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, edisi ke 5, UGM Press, Yogyakarta.

Lachman, Leon. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Penerbit Universitas Indonesia
(UI-Press). Jakarta

Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Penerbit Universitas Indonesia
(UI-Press). Jakarta.