Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KEDOKTERAN KERJA

SISTEM KEDOKTERAN KOMUNITAS II

“Diagnosis Penyakit Akibat Kerja Pada Pekerja Mebel”

Oleh :

Azlin Nur Suliany Sujali (2012730016)

Penguji : dr. Atthariq, MPH

UPT PUSKESMAS SERPONG 1 – TANGERANG SELATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan Laporan kasus Penyakit Akibat Kerja mengenai
“Diagnosis Penyakit Akibat Kerja pada Pekerja Mebel” Stase Kedokteran Komunitas.

Penulisan laporan kasus ini diajukan dalam rangka untuk memenuhi salah satu tugas akhir
Stase Kedokteran Komunitas II. Kami menyadari laporan ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat di harapkan guna perbaikan
selanjutnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak memberikan
bimbingan dan arahan. Semoga Laporan ini bermanfaat bagi semuanya dan bisa dijadikan
bahan bacaan untuk menambah ilmu pengetahuan kita.

Jakarta, Januari 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai angka tenaga kerja yang tinggi.
Dengan banyaknya tenaga kerja, tentunya semua aspek ketenagakerjaan ---salah satunya K3
(Kesehatan dan Keselamatan Kerja)---mempunyai peran penting dan sudah seharusnya
diperhatikan oleh baik pemerintah maupun pihak-pihak yang terkait dengan ketenagakerjaan.
Faktanya, angka kecelakaan kerja di Indonesia termasuk angka kecelakaan tertinggi di
kawasan ASEAN. Berdasarkan hasil audit SMK3 pada tahun 2001, dari 70 perusahaan yang
bergerak di bidang konstruksi terdapat sebagian besar perusahaan yang bekerja tidak
berdasarkan SMK3. Ini menggambarkan rendahnya pengetahuan masyarakat kita terhadap
penerapan K3 dalam bekerja. Angka di atas menunjukkan kecelakaan kerja di bidang
konstruksi, namun setiap pekerjaan, baik di dalam (pegawai kantor) maupun di luar ruangan
(pedagang, nelayan, pekerja tambang) hakikatnya mempunyai faktor risiko yang dapat
menyebabkan pekerjanya mengalami penyakit maupun akibat kerja.
Sebagai dokter pelayanan primer, dokter umum dituntut mempunyai kompetensi untuk
mendiagnosis penyakit akibat kerja dan juga memberikan pelayanan sebagai dokter kesehatan
kerja kepada pasiennya.
Dengan latar belakang di atas, pada laporan ini penulis memilih menganalisis faktor
risiko atau potensi bahaya kecelakaan kerja serta gejala penyakit akibat kerja yang mungkin
terjadi pada pekerja mebel. Sebagai seorang pekerja mebel, tentu memiliki risiko kecelakaan
dalam kerja, diantaranya tertusuk paku, tertimpa kayu, kebakaran dll. Oleh karena itu, kami
akan mengkaji lebih lanjut mengenai risiko yang terdapat pada seorang pekerja mebel.

1.2 Tujuan
 Untuk melatih kemampuan dalam menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan aspek
K3 sesuai dengan perannya sebagai kedokteran kerja.
 Untuk mengetahui adanya faktor risiko atau potensi bahaya pada suatu pekerjaan.
BAB II
PEMBAHASAN

2. 1. Profil Perusahaan
Lucky Art & Curios merupakan perusahaan furniture yang sudah berdiri selama 30
tahun terletak di Rempoa. Perusahaan ini adalah perusahaan turun temurun dari keluarga
yang sekarang di pimpin oleh pak Riwal dengan dibantu oleh 2 pekerja tetap, perusahaan ini
menerima pesanan seperti kursi, meja dan lemari. Pasokan kayu di peroleh dari jawa tengah
lalu di olah menjadi furniture oleh pekerjanya, lama jam kerja adalah 8 jam (08.00 – 16.00
WIB) dari Senin hingga Minggu, kadang lebih jika pesanan sedang banyak dan perusahaan
ini tidak pernah tutup kecuali pada hari Raya.
2.2. Status Kesehatan Penderita

STATUS KESEHATAN PENDERITA


( DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA )

No.Status : 001 Kode: 01


I. Identitas Penderita
Nama : Tn. Riwal
Usia : 49 Tahun
Alamat : Rempoa
Kedudukan dalam keluarga : Kepala keluarga
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pendidikan : S1 (Administrasi)
Pekerjaan : Pemilik dan Pembuat Furniture
Status Perkawinan : Menikah
Tanggal kunjungan : 27 Desember 2017
II. Riwayat Penyakit
1. Keluhan Utama : Sesak napas sejak 6 bulan yang lalu
2. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang :
Os mengeluhkan sesak napas terutama saat sedang bekerja sejak 6
bulan yang lalu, Sesak hanya dirasakan os saat berada di lingkungan
kerja dan berkurang saat sedang istirahat atau tidak berada di
lingkungan kerja. Keluhan os dirasakan hilang timbul. Os mengaku
sering mengalami hal serupa sejak bekerja di perusahaan mebel
miliknya dan dirasa bertambah berat akhir-akhir ini. Batuk berdahak
juga dikeluhkan dan sering terdengar bunyi ngik-ngik pada saat
sesak. Saat mengalami sesak, os merasa lebih nyaman duduk
dibandingkan berbaring. Ketika sesak, os masih dapat berbicara dan
melakukan aktivitasnya. Os
mengaku dalam sebulan ini ia sudah mengalami 2 kali serangan
sesak.
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung dan asma
disangkal.
4. Riwayat penyakit dalam keluarga :
Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung dan asma
pada keluarga disangkal.
5. Riwayat Psikososial :
Os merupakan perokok, biasanya 1 bungkus/hari. Minum alkohol
disangkal

III. Riwayat Pekerjaan


a. Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan Alat dan bahan yang Tempat Kerja Lama Kerja
digunakan
Pekerja Mebel Kayu Di sebuah Bekerja 8 jam perhari
Mesin penghalus kayu tempat senin sampai sabtu
Gergaji seperti Kadang lembur
Paku rumah sampai malam hari
Pahat dipinggir
Lem jalan
Palu
Cat kayu

b. Uraian tugas / pekerjaan

 Cara melakukan pekerjaan


Memotong kayu kemudian membentuk kayu sesuai dengan pesanan
atau yang diinginkan kemudian, kayu itu dihaluskan dengan mesin
penghalus. Setelah halus kayu itu dipahat setelah itu di amplas lalu
kayu di cat. Pekerjaan dilakukan selama 8 jam dan tidak ada shift
kerja, kadang lembur apabila pesanan sedang banyak.

 Detil aktifitas selama 8 jam kerja


Urutan aktifitas jam kerja :
1. Hari Senin s/d Minggu : Jam 08.00 – 16.00 WIB
2. Istirahat kerja : jam 12.00 – 13.00 WIB
 Alat dan bahan yang digunakan:
1. Kayu : digunakan sebagai bahan baku untuk membuat
furniture.
2. Mesin penghalus kayu : digunakan untuk menghaluskan kayu,
akibatnya banyak debu kayu yang dihasilkan.
3. Gergaji : digunakan untuk memotong kayu.
4. Pahat : di gunakan untuk memahat kayu.
5. Cat : digunakan untuk mengecat kayu.

c. Bahaya potensial :
1.Urutan Kegiatan (secara detil)

Waktu & Jam Kegiatan


Bekerja
07.30 Berangkat dari rumah mengendarai motor
08.00-12.00 Memotong, memahat, menghaluskan, membentuk dan mencat
kayu sesuai pesanan
12.00-13.00 Istirahat
13.00-16.00 Melanjutkan pekerjaan
16.00 Pulang

2.Alat Pelindung Diri :


Hanya menggunakan masker.

3.Bahaya Potensial
Fisik Kimia Ergonomi Psikososial Potensial penyakit Potensial
akibat kerja kecelakaan akibat
kerja

- Bising Uap cat Posisi kerja yang - Jenuh - NIHL - Kebakaran


berpindah-pindah
- Getaran (mengandung kadang - Stress - Gangguan pada otot - Tertusuk paku
VOC seperti membungkuk,jongk bila rangka
- Cahaya solvent dan pesanan - Tertimpa kayu
ok dan berdiri
yang thinner) banyak - Asma
kurang - Teriris pisau
- Iritasi mata
- Debu - Terkena palu
- Alergi pada kulit dan
saluran nafas - Kecelakaan lalu
lintas
- LBP

- Gangguan
penglihatan

IV. Pemeriksaan :
a. Pemeriksaan Fisik (secara umum)
i. Keadaan umum : Baik
ii. Tanda Vital :
1. Tekanan Darah : 120/70 (Normal)
2. Frekuensi Nadi : 82x/menit (Normal)
3. Frekuensi Nafas : 16x/menit (Normal)
4. Suhu : 370C (Normal)
iii. Keadaan Gizi :
1. Berat Badan : 52 kg
2. Tinggi Badan : 168 cm
3. BMI : BB (kg)/ TB(m)2 = 18,42

Normal BMI untuk laki-laki: 18.5 – 22.9 ---- > Underweight


4. Kesan : Gizi Kurang

b. Pemeriksaan Klinis
i. Kelenjar limph :
1. Leher : Normal
2. Axilla : Normal
3. Groin : Normal
4. Inguinal : Normal
ii. Mata :
1. Pupil : bulat isokor/bulat isokor
2. Reflex cahaya : postif/positif
3. Sklera : normal/normal
4. Konjungtiva : anemis/anemis
5. Bola mata : normal/normal
6. Visus : Dx 6/30 / Sx 6/30
7. Persepsi warna : baik/baik
iii. Hidung :
1. Septum nasi : normal
2. Mukosa : baik
3. Penciuman : normosmik/normosmik
iv. Gigi / Gusi : Baik
1. 87654321 -87654321
2. 87654321 -87654321
3. Pada pasien terdapat gigi tetap dengan jumlah 32
Tiap setengah rahang terdapat : 8 buah gigi yaitu, 2 gigi
insivus (gigi seri), 1 kaninus (taring), 2 premolar (yang
menggantikan gigi susu) gigi molar/geraham.
v. Tenggorokan :
(pharing/nasopharing/laring/tonsil)  normal
vi. Leher :
Kelenjar thyroid  normal / JVP  normal
vii. Thorak :
Paru-paru (ronkhi) / jantung normal
viii. Abdomen :
Hati/limfa (tidak terdapat pembesaran)
ix. Genito urinary : Normal
x. Anorectal : Normal
xi. Ekstremitas & muscular sistem :

Tangan Kanan Kiri


Otot Normal Normal
Kekuatan Normal Normal
Tulang Normal Normal
Sensoris Normal Normal
Lain-lain (tendon) Normal Normal

Kaki Kanan Kiri


Otot Normal Normal
Kekuatan Normal Normal
Tulang Normal Normal
Sensoris Normal Normal
Lain-lain (tendon) Normal Normal

xii. Refleks fisiologi : tendon (baik)


xiii. refleks patologis : Babinsky (negatif)
xiv. Kulit :
xv. Status lokalis : -
xvi. Resume lain yang didapat : -

5. Pemeriksaan Laboratorium :
i. Laboratorium rutin

a. Darah : tidak dilakukan

1. Pemeriksaan laju endap darah (-)


2. Pemeriksaan blood cell : (-)
- Pemeriksaan konsentrasi hemoglobin (-)
- Periksaan Sel Darah Putih (-)
- Platelet time (-)
- Hitung hematocrit (-)

b. Urin : tidak dilakukan


1. Pemeriksaan Fisik (meliputi pemeriksaan warna,
kekeruhan, berat jenis, volume)
2. Pemeriksaan Kimiawi (meliputi pemeriksaan spesific
gravity, pH, Blood, Leukocyte esterase, Nitrit, protein,
glukosa, Keton, Bilirubin & Urobilinogen )
3. Pemeriksaan Mikroskopik (White blood cells, Red blood
Cells, Epithelial cells, crystal, bakteri).

c. Feces : Tidak dilakukan

1. Pemeriksaan Makroskopik : warna, konsistensi, bentuk.

2. Microscopik : melihat ada tropozoit, telur parasit, maupun


telur cacing. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk melihat
leukosit dalam feses.

ii. Laboratorium khusus (tidak dilakukan)


a. Fungsi Hati (lever): Bilirubin, SGOT, SGPT, Protein,
Albumin, Alkali fosfatase.

b. Fungsi Ginjal: Kreatinin, Ureum, Asam Urat.

c. Pemeriksaan lemak : trigliserida, Kolesterol total,


kolesterol HDL dan Kolesterol LDL.

d. Pemeriksaan elektrolit : Natrium, Kalium, Klorida,


Kalsium dan Magnesium menggambarkan keadaan
keseimbangan elektrolit cairan tubuh.

iii. Pemeriksaan radiologis


Foto Rontgen thorax PA/lateral
iv. Pemeriksaan Non-Lab
Spirometri:
- Melihat fungsi paru
- Fungsi yang terganggu belum tentu terlihat pada
gambaran anatomis

Audiometri:
- Dilakukan untuk medical check up
- Jenis gangguan pendengaran
- Fungsi dari telinga

6. Analisis hubungan pekerjaan dengan penyakit yang diderita


1. Pemeriksaan ruang/tempat kerja :
Pekerjaan dilakukan di ruang terbuka, namun dipenuhi
dengan kayu dan debu kayu. Ruang kerja tidak tentu tergantung
apa yang sedang dikerjakan, posisi bekerja tidak tentu
tergantung apa yang sedang dikerjakan, posisi bekerja juga
sering berpindah-pindah kadang jongkok, membungkuk,
berdiri, duduk sehingga posisi kerja tidak ergonomis.
2. Pembuktian hubungan penyakit dengan bekerja:
Pasien bekerja sebagai tukang kayu banyak terdapat
debu kayu dan bising akibat alat yang digunakan. Pasien tidak
memakai APD yang lengkap,hanya menggunakan masker saja.
Keluhan yang ia derita berkurang ketika menghentikan
pekerjaannya.
3. Pembuktian tidak adanya hubungan penyakit dengan penyebab
di luar pekerjaan :
Aktivitas diluar pekerjaan selain tukang kayu tidak ada
hubungannya dengan penyakit yang ia derita.
7. Menegakkan Diagnosa Penyakit Akibat Kerja
Diagnosa Kerja :
Asma akibat kerja
Diagnosa Differensial :
- PPOK
- Bronkhitis
Diagnosa Okupasi :
J45.5 Atsma Unspecified Cause Woods Dusts
Kategori Kesehatan
“Kesehatan cukup baik dengan kelainan yang dapat dipulihkan”

8. Prognosa
 Ad Vitam : Ad Bonam (menyangkut kehidupan)
 Ad Sanasionam : Ad Bonam (menyangkut kesembuhan)
 Ad Fungsionam : Ad Bonam (menyangkut fungsional)

Prognosa Okupasi : Ad Bonam

9. Permasalahan pasien dan rencana penatalaksanaannya

Jenis Permasalahan Rencana Tindakan Target Waktu & Evaluasi


Posisi bekerja yang Mendesain peralatan Prosedur monitor & pemeriksaan
tidak ergonomi kerja, mesin, lingkungan lingkungan kerja :
kerja, cara kerja serta  Evaluasi pajanan saat kerja (8 jam
prosedur kerja agar kerja), pada pasien ini karena
mengakomodasi tidak ada shift kerja maka yang
keterbatasan pekerja. dievaluasi adalah lama pajanan
APD yang tidak sesuai Memakai APD yang saat bekerja dan lama profesi
sesuai standar yang sebagai tukang kayu
direkomendasikan
dengan : sarung tangan,
masker yang rapat,
penutup telinga,
kacamata google.
Dampak stress Permasalahan ada pada
rutinitas setiap hari yang
sama dari hari Senin
hingga Minggu.
PEMECAHAN MASALAH

Kebisingan
a. Mengurangi kebisingan pada sumbernya dengan cara :

Memberi sekat (dari bahan kain, gabus atau karet pada landasan mesin, penempaan atau
lainnya).

Penanaman pohon di sekitar tempat kerja.


Penempaan dilakukan pada ruangan tersendiri atau ruang kedap suara.

b. Mengatur lama waktu kerja agar tidak melebihi dari ambang batas kebisingan yang
diperkenankan, misalnya:

 85 db ( A) untuk 8 Jam pemajanan.


 90 db ( A) untuk 4 jam pemajanan.
 95 db ( A ) untuk 2 Jam pemajanan, dan seterusnya.

c. Menggunakan sumbat telinga (ear plugs) atau tutup telinga (ear muffs) pada waktu bekerja
di tempat bising, karena alat tersebut mampu mengurangi intensitas bising sampai sekitar 25
– 40 db (A).

Uap Logam / Zat-zat kimia


 Posisi kerja menghadap searah dengan arah angin.
 Menggunakan masker penutup mulut dan hidung.
 Tidak merokok sewaktu kerja.
 Tata udara yang baik di tempat kerja dan menggunakan cerobong asap di atas tungku.
 Pengaturan waktu kerja agar pekerja tidak terlalu terpapar oleh uap logam atau zat-zat
kimia.
 Bila timbul gejala gangguan saluran pernafasan segera periksakan ke sarana kesehatan.
Sikap kerja yang tidak benar (tidak ergonomis)
 Menyesuaikan alat kerja dengan postur tubuh pekerja sesuai dengan jenis dan sifat
pekerjaan masing-masing, sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan posisi duduk atau
berdiri, misalnya :
o Duduk dikursi dan menggunakan meja yang sesuai : tingginya untuk tempat peralatan
kerja.
o Berdiri tegak, dengan peralatan kerja diatas meja yang sesuai fungsinya.
o Pekerja tidak membungkuk , jongkok atau duduk dilantai dan memaksakan posisi tubuh
pada keadaan alami.
o Usahakan istirahat atau mengganti posisi kerja secara berkala.
 Melakukan latihan pada otot yang mengalami gangguan.
 Rujuk ke Puskesmas atau sarana kesehatan terdekat.

Contoh APD yang sesuai


BAB III
SIMPULAN & SARAN

A. Simpulan
Dari seluruh kasus penyakit saluran napas yang ditemui, yang terbanyak adalah asma,
dan prevalensi asma kerja pada pekerja mebel yang diakibatka debu kayu cukup
tinggi, yaitu berkisar 15% dari asma dewasa. Walaupun jumlah pasti mengenai kasus
asma belum diketahui, hal ini disebabkan karena pada asma kerja maupun asma
lingkungan mempunyai gejala yang tidak khas sehingga sulit untuk dibedakan dengan
penyakit paru yang lainnya. Debu kayu merupakan biological agent sehingga
menimbulkan proses sensitisasi maupun reaksi hipersensitiv tipe IV, walaupun
patogenesis terjadinya tidak diketahui biasanya keluhan asma disertai juga dengan
keluhan alergi lainnya seperti dengan keluhan rhinitis dan dermatitis.

B. Saran
Pihak perusahaan sebaiknya tidak hanya mementingkan keuntungan semata tetapi
juga harus lebih memperhatikan kesehatan dan perlindungan diri terhadap tenaga
kerja, karena terkait dengan PAK dan K3 juga berbanding lurus dengan produktivitas.
Perlu dilakukan screening pada saat masuk menjadi tenaga kerja di perusahaan untuk
mengetahui apakah penyakit yang dialami setelah bekerja di perusahaan tersebut atau
memang sudah dialami sebelumnya. Sedangkan pada umumnya proses pencegahan
seperti pemakaian alat pelindung diri masih belum banyak diketahui. Untuk itu
dilakukan pelatihan dan penyuluhan kerja secara berkala pada sektor ini.
Dokumentasi Kegiatan