Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tingkat persaingan dalam dunia usaha yang semakin ketat seiring
dengan semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
menyebabkan dunia kerja menuntut tersedianya tenaga kerja yang dapat
menguasai pekerjaannya dengan baik, terampil dan profesional.
Perguruan tinggi sebagai suatu lembaga pendidikan bertanggung
jawab mempersiapkan calon-calon tenaga kerja yang profesional. Bila
perguruan tinggi hanya memberikan pendidikan sebatas teori saja kepada
mahasiswa, akan tetapi kurang memadai dalam prakteknya, maka perguruan
tinggi tersebut hanya akan meluluskan sarjana yang kurang mampu
menerapkan ilmu yang diperolehnya selama di bangku kuliah karena belum
mengenal secara langsung dunia kerja yang akan dimasukinya.
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta khususnya
Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Industri melengkapi
kurikulumnya dengan Kerja Praktek yang berbobot 2 SKS, yang wajib
dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan.
Hubungan yang terjalin antara perguruan tinggi sebagai pihak yang
memegang peranan penting dalam mempersiapkan calon tenaga kerja yang
berkualitas, dengan perusahaan atau industri sebagai pihak yang
memerlukan tenaga kerja yang terampil, terdidik, terlatih serta mampu
memahami dunia kerja perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, untuk mencapai
tujuan tersebut maka, saya bermaksud melaksanakan kerja praktek di Pusat
Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM
Migas) Cepu, Kerja praktik di PPSDM MIGAS Cepu diharapkan
mampu menjadi sarana pembelajaran, pemahaman dan pengaplikasian
disiplin ilmu teknik kimia di dunia industri.

1
1.2 Tujuan Kerja Praktik
1.2.1 Tujuan Umum
a. Memenuhi salah satu kurikulum yang telah ditetapkan pada Program
Studi Teknik Kimia S-1, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik
Industri UPN “Veteran” Yogyakarta.
b. Mengetahui secara langsung permasalahan yang terjadi di dalam
pabrik serta upaya penanganannya.
c. Memperdalam pengetahuan ilmiah yang terkait dengan bidang industri
tempat kerja praktek dilaksanakan.
d. Sebagai bekal dimasa depan dan menambah wawasan serta
pengalaman kerja di lapangan.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Melatih kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja.
b. Melihat secara langsung aktivitas dan perilaku terhadap suatu bahan
agar dapat berproduksi.
c. Melatih kedisiplinan.
d. Melatih kemampuan bergaul dengan bawahan, rekan sejawat, dan
atasan dalam perusahaan.
e. Melengkapi teori yang diperoleh di perkuliahan dengan keadaan
sebenarnya yang ada di pabrik.
f. Melaksanakan tugas khusus yang diberikan Dosen Pembimbing Kerja
Praktek.
g. Melihat secara langsung cara kerja alat-alat dalam proses produksi dan
membandingkannya dengan teori yang diberikan di perkuliahan.
1.3 Manfaat Kerja Praktik
1.3.1 Bagi Mahasiswa
a. Mengenal cara kerja suatu perusahaan atau industri secara umum
dengan lebih mendalam, khususnya peralatan dan proses produksi yang
dilakukan.

2
b. Menambah pengetahuan dan pemahaman keteknikan secara praktis
yang diterapkan pada industri.
c. Menambah wawasan dan pengalaman tentang praktek kerja di
lapangan.
d. Memberikan bekal tentang perindustrian, sebelum terjun ke lapangan
kerja secara nyata.
1.3.2 Bagi Lembaga Pendidikan
a. Terjalinnya hubungan baik antara Program Studi Teknik Kimia S-1,
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta dengan PPSDM
MIGAS CEPU sehingga memungkinkan kerjasama ketenagakerjaan
dan kerjasama lainnya.
b. Mendapat umpan balik untuk meningkatkan kualitas pendidikan
sehingga selalu sesuai dengan perkembangan dunia industri.
1.3.3 Bagi Perusahaan
a. Memperoleh masukan-masukan baru dari lembaga pendidikan melalui
mahasiswa yang sedang dan telah melakukan kerja praktik.
b. Dapat menjalin hubungan baik dengan lembaga pendidikan khususnya
Program Studi Teknik Kimia S-1, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas
Teknik Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Yogyakarta, sehingga semakin dikenal oleh lembaga pendidikan sebagai
pemasok tenaga kerja dan masyarakat sebagai konsumen.
c. Membantu menyelesaikan tugas dan pekerjaan sehari-hari di
perusahaan tempat Kerja Praktik.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengolahan Minyak Bumi

Sifat-sifat minyak mentah sangat bervariasi dan jenis produk yang


dihasilkan juga didapat sangat banyak, maka istilah kilang mengenai
operasi-operasi tidak dilakukan satu kilang. Suatu operasi tentu
dijumpai didalam semua kilang adalah distilasi yang memisahkan
minyak bumi kedalam fraksi-fraksinya berdasarkan daerah didihnya
(Hardjono,2001).

Minyak mentah mengandung senyawa-senyawa hidrokarbon yang


tidak semuanya cocok untuk semua produk yang diingkan, Misalnya
adanya aromat didalam fraksi kerosin atau fraksi minyak gas
menyebabkan mutu kerosin atau bahan bakar diesel yang dihasilkan
dari distilasi langsung minyak mentah tidak baik (Hardjono,2001).

Gambar. 2.1 Diagram Alir Sebuah Kilang Minyak (Sukanto, 1986.


Hal-16)

4
2.1.1 Distilasi Atmosferis (Crude Distillation Unit)

William, et all (1967), Crude Distillation Unit (CDU) beroperasi


dengan prinsip dasar pemisahan berdasarkan titik didih komponen
penyusunnya. Kolom CDU memproduksi produk LPG, naphtha,
kerosene, dan diesel sebesar 50-60% volume feed, sedangkan produk
lainnya sebesar 40-50% volume feed berupa atmospheric residue.
Distilasi Atmosferik berfungsi memisahkan minyak mentah (crude oil)
atas fraksi-fraksinya berdasarkan perbedaan titik didih masing masing
pada keadaan Atmosferik. Atmospheric residue pada kilang lama, yang
tidak memiliki Vacum Distillation Unit/VDU, biasanya hanya dijadikan
fuel oil yang value-nya sangat rendah atau dijual ke kilang lain untuk
dioleh lebih lanjut di VDU. Sedangkan pada kilang modern,
atmospheric residue dikirim sebagai feed Vacum Distillation Unit atau
sebagai feed Residuel Catalytic Cracking (setelah sebagiannya di-
treating di Atmospheric Residue Hydro Demetalization unit untuk
menghilangkan kandungan metal atmospheric residue).

Tabel 2.1. Karakteristik Produk Distilasi Atmosferik Minyak Bumi


Mentah ( Risdiyanta)

5
2.2 PPSDM Migas Cepu

2.2.1 Sejarah PPSDM Migas Cepu

a. Jaman Hindia Belanda ( 1886-1942 )

Pada tahun 1886 seorang sarjana pertambangan Mr. Andrian Stoop


berhasil mengadakan penyedikan minyak bumi di Jawa yang kemudian
mendirikan DPM pada tahun 1886. Pengeboran pertama dilakukan di
Surabaya kemudian pada tahun 1890 didirikan tempat penyaringan
minyak didaerah Wonokromo. Selain di Surabaya Mr. Andrian Stoop
juga menemukan minyak di daerah Rembang.

Pada januari tahun 1896 Mr. Andrian Stoop mengadakan


perjalanan dengan rakit dari Ngawi menelusuri Solo menuju Ngareng,
Cepu merupakan kota kecil di Bengawan Solo, diperbatasan Jawa
Timur Jawa Tengah. Konsensi minyak didaerah ini bernama Panolan
yang diresmikan pada tanggal 28 Mei 1893 atas nama AB Versteneegh.
AB Verssteegh tidak mengusahakan sendiri sumber minyak tersebut
tetapi mengontrakan kepada perusahan yang sudah kuat pada masa itu
yaitu perusahaan DPM di Surabaya. Kontrak berlangsung selama 3
tahun dan baru sah menjadi milik DPM pada tahun 1899.

Penemuan sumur minyak bumi bermula pada sumber minyak


Ledok 1 di bor pada bulan juli 1893 yang merupakan sumber pertama di
daerah Cepu. Mr. Andrian Stoop menyimpulkan bahwa didaerah
Panolan terdapat ladang minyak berkualitas besar. Namun derah
tersebut telah dikuasai perusahan lainnya. Luas area dan konsensi
Panolan adalah 11.977 bahu yang meliputi distrik Panolan sampai
dengan perbatasan dengan konsensi Tinawun. Yang termasuk lapangan
Ledok adalah area Gelur dan Nglebur yang produktif sepanjang 2,5 km
dan lebar 1,25 km.

Pada tahun 1893 oleh Mr. Andrian Stoop, pengeboran pertama


dilakukan dengan kedalaman pertama 94 m dengan produksi 4m³

6
perhari di Gelur pada tahun 1897 dengan kedalaman 239-295 dengan
produksi 20m³ per hari (sebanyak 7 sumur). Minyak mentah yang
dihasilkan diolah di kilang Cepu. Sebelum perusahaan di Cepu dan
Wonokromo terpusat di Jawa Timur, namun pada perkembangan usaha
diperluas meliputi lapangan minyak Kawengan,Wonocolo, Ledok,
Nglobo, Semanggi dan Lusi.

b. Jaman Jepang ( 1942-1945 )

Perang Eropa membuat pemerintah Jepang memperluas kekuasaan


di Asia.Pada tanggal 8 desember 1941 Pearl Harbour yang terletak di
Hawai dibom oleh Jepang.Pengeboman ini menyebabkan meluasnya
peperangan di Asia. Pemerintah belanda di Indonesia merasa
kedudukannya terancam sehingga untuk menghabat laju serangan
Jepang mereka menghancurkan instalasi atau Kilang minyak yang
menunjang perang,karena pemerintah Jepang sangat memperlukan
minyak untuk diangkat ke negerinya. Perusahan minyak yang terakhir
dikuasai Belanda yang terdapat di pulau Jawa yaitu Surabaya,Cepu,dan
Cirebon.Dimana pada waktu itu produksi di Cepu merupakan yang
paling besar dengan total produksi 5,2 juta barel/tahun.

Jepang menyadari bahwa pengeboran atas daerah minyak akan


merugikan diri sendiri sehingga perebutan daerah minyak jangan
sampai menghancurkan fasilitas lapangan dan Kilang
Minyak.Meskipun sumber-sumber minyak dan kilang sebagian besar
dalam keadaan rusak akibat taktik fdari Belanda,Jepang berusaha agar
minyak mengalir kembali secepatnya. Tentara Jepang tidak mempunyai
kemampuan di bidang Perminyakan sehingga untuk memperoleh
kebutuhan tenaga terampil dan terdidik dalam bidang perminyakan
sehingga di dapat bantuan tenaga sipil Jepang yang pernah bekerja di
perusahhan minyak Belanda,kemudian menyelenggarakan pendidikan
di Indonesia.

7
Kehadiran lembaga perminyakan di Cepu diawali oloh Belanda
bernama Midlebare Potreleum School Bendera NV.Bataafsche
Potreleum Maatschapiiy (BPM).Setelah Belanda menyerah dan Cepu
diduduki oleh Jepang maka Lembaga itu dibuka kembali dengan nama
“Shokko Gakko”.

c. Masa Indonesia Merdeka

Searah terima kekuasaan dari Jepang dilaksanakan oleh pimpinan


setempat kepada bangsa Indonesia.Untuk membenahi daerah minyak di
Cepu segera diadakan tugas-tugas operasional dan pertahanan
berdasarkan Maklumat Menteri Kemakmuran No.5 perusahaan minyak
di Cepu dipersiapakan sebagai perusahaan tambang minyak nasional
(PTMD).Adapun daerah kekuasan meliputi lapangan-lapangan minyak
di sekitar Cepu, Kilang Cepu dan lapangan-lapngan di daerah Bongas.

Pada bulan Desember 1948 Belanda menyerbu Cepu pabrik


minyak PTPN Cepu dibumihangusakan.Pada akhir tahun 1947
menjelang tahun 1950 setelah adanya penyerahaan kedaulatan maka
pabrik minyak Cepu dan Kawengan diserahkan dan diusahakn kembali
oleh BPM.

d. Periode Tahun 1950-1951 (Administrasi Sumber Minyak)

Setelah kembalinya pemerintah RI di Yogyakarta,maka tambang


minyak LEDOK Nglobo,Semanggi dan Lusi diserahkan kepada
Komandan Distrik Militer Blora Tmbang Minyak didaerah tersebut
diberi nama Administrasi Sumber Minyak (ASM) dan dibawah
pengawasa Kodim MORA.

e. Periode Tahun 1950-1951 (BPM-SHEEL)

Perusahaan BPM sebelum PD 2 menguasai Kilang Minyak di Cepu


dan Agresi Militer Belanda II berubah nama menjadi SHEEL.
Selanjutnya SHEEL melakukan perbaikan – perbaikan seperlunya

8
dilapangan minyak Kawengan dan kilang minyak Cepu. Tingkat
Produksi kurang menguntungkan sedangkan biaya yang dibutuhkan
besar sehingga merugikan perusahaan SHEEL sendiri.

f. Periode Tahun 1951 – 1957 (Perusahaan Tambang RI)

Pada tahun 1951 pengusahaan Minyak di Lapangan Ledok, Nglobo


dan Semanggi oleh ASM diserahkan pada pemerintah sipil untuk
kepentingan tersebut di bentuk panitia kerja yaitu Badan Penyelenggara
perusahaan Negara di Bulan Januari 1951 yang kemudian melahirkan
perusahaan Minyak RI (PTMRI). Produk yang dihasilkan PTMRI
berupa Bensin, kerosin, solar dan sisanya residu. Pada tahun 1957
PTMRI diganti Tambang Minyak Nglobo CA (Combie Anexis).

g. Periode Tahun 1961 – 1965 (PN. PERMIGAN)

Pada tahun 1961 berdasarkan UU No. 19/1960 dan UU No.


44/1960 maka didirikan tiga perusahan yaitu :

1. PN Pertambangan Minyak Indonesia (PN PERTAMIN) sebagai


perusahaan modal campuran antara pemerintah RI dengan BPM
atas dasar 50 % : 50 %.

2. PN. Pertambangan Minyak Nasional (PN PERMINA) sebagai


pernjelmaan dari PT.PERTAMINA yang didirikan pada tahun 1957
dengan PP No. 198 / 1961.

3. PN. Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (PN. PERMIGAN).


Sebagai penjelmaan dari tambang Minyak Nglobo CA (dahulu
PTMRI) dengan PP No. 199 tanggal 45 Juni 1961.

Dari ketiga perusahaan tersebut PN. PERMIGAN adalah yang


terkecil dimana kapasitas produksinya adalah 175 – 350 m3 / hari.

h. Periode Tahun 1965 – 1978 (LEMIGAS PUSDIK MIGAS)

9
Pada tahun 1963 biro minyak berubah menjadi direktorat Minyak
dan Gas Bumi (DGMB). Didalam organisasi DGMB terdapat bagian
laboratorium untuk persiapan penelitian dalam industri perminyakan di
Indonesia.Menteri Perindustrian dan perdagangan menginstruksikan
agar DGMB meningkatkan kemampuannya dalam aspek teknis minyak
dan gas bumi. Untuk keperluan diatas maka dibentuk kepanitiaan yang
terdiri dari unsur –unsur pemerintah, Pertamin, Permina dan Permigan.
Panitia mengusulkan agar dibentuk badan yang bergerak dalam bidang
riset dan pendidikan minyak dan gas bumi.

Dengan surat keputusan menteri dilingkungan Departemen Urusan


Minyak dan Gas Bumi No. 17/M/MIGAS/1965 ditetapkan Organisasi
urusan Minyak dan gas bumi adalah LEMIGAS (Lembaga Minyak dan
Gas Bumi).

Berdasarkan peraturan pemerintah No. 27 tanggal 20 Agustus


1968, dalam rangka peningkatan dan melancarkan produksi minyak dan
gas bumi terjadi penggabungan antara PN Pertamin dan PN. Permina
menjadi satu perusahaan dengan nama Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi Nasional ( PN. PERTAMINA ).

Upaya PUSDIK MIGAS LEMIGAS untuk meningkatkan fungsi


kilang Cepu sebagai sarana operasi pengolahan dan sebagai sarana diklat
proses dan aplikasi sudah cukup memadai, namun kilang Cepu yang
sebagian eks pembuatan dan pemasangan tahun 1930-an dan pernah
mengalami pembumihangusan waktu tentara Jepang masuk Cepu.

Karena banyaknya kebutuhan tenaga ahli dan terampil dalam


kegiatan minyak dan gas bumi, maka tenaga – tenaga muda Indonesia
banyak dikirim keluar Negeri pada tanggal 7 Februari 1967 di Cepu
dihasilkan AKAMIGAS ( Akademi Minyak dan Gas Bumi ) angkatan I.
Pada tanggal 4 Januari tahun 1966 sebagai pusat Pendidikan dan latihan
lapangan Perindustrian Minyak dan Gas Bumi (PUSDIK MIGAS).

10
i. Periode Tahun 1978 – 1984 (PPTMGB ”LEMIGAS”)

Dengan surat keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 646


tanggal 26 Desember 1977, LEMIGAS diubah menjadi bagian
Direktorat Jendral Minyak dan Gas Bumi dan namanya diganti menjadi
Pusat Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi
”LEMIGAS”(PPTMGB ”LEMIGAS”).

Sejak dikelola PPTMGB ”LEMIGAS” produksi minyak lapangan


Cepu ± 29.500 – 36.000 m3/tahun sehingga kilang beroperasi 120 hari
per tahun dengan kapasitas kilang 250 – 300 m3/hari. Produksi BBM
seperti kerosin dan solar diserahkan pada depot Cepu.

Dalam memasarkan produksi naphta, filter oil dan residu,


PPTMGB ”LEMIGAS” mengalami kesulitan sehingga kadang – kadang
kilang harus berhenti beroperasi karena semua tangki penuh. Pada tahun
1979 spesifikasi yang diterapkan pemerintah lebih tinggi, sehingga
pemasaran produksi Cepu lebih sulit.

j. Periode Tahun 1984 – 2001 (PPT MIGAS)

Berdasarkan surat Kepres No. 15 tanggal 6 maret 1984, organisasi


pertambangan dan Energi dikembangkan dan PPTMGB ”LEMIGAS”
menjadi Pusat Pengembangan Tenaga Perminyakan dan Gas Bumi (PPT
MIGAS).

k. Periode Tahun 2001 – 2016 (PUSDIKLAT MIGAS)

Berdasarkan surat Keputusan Menteri ESDM no.150/2001 tanggal


2 Maret 2001,PPT MIGAS diganti menjadi PUSDIKLAT MIGAS ,dan
setelah diperbarui dengan Peraturan Menteri ESDM No.18 Tahun 2010
Tanggal 22 November 2010.

l. Periode Tahun 2006 – Sekarang Pusat Pengembangan Sumber Daya


Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas)

11
2.2.2 Unit Kilang PPSDM Migas Cepu

Distilasi atmospheric

Distilasi atmospheric adalah proses pemisahan minyak bumi secara


fisik dengan menggunakan perbedaan titik didih. Karena crude oil
adalah campuran dari komponen-komponen yang sangat komplek dan
pemisahan berdasarkan fraksi-fraksinya sehingga distilasi ini pemisahan
dengan berdasarkan trayek titik didihnya (jarak didih). Tekanan kerja
dari distilasi atmospheric pada tekanan atmosfer yaitu tekanan operasi
antara 1 atmosfer samapi dengan 1,5 atmosfer.

Minyak mentah yang diolah di PPSDM Migas Cepu berasal dari


lapangan Kawengan dan Ledok. Setelah dikurangi kandungan airnya,
minyak mentah dikirim ke kilang untuk ditampung didalam tanki.
Minyak mentah merupakan campuran (mixed crude) dari sebagian besar
HHPO dan sebagian kecil dan sebagian kecil dari LPPO yang telah
memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan, terutama menghilangkan
kotoran-kotoran seperti garam.

Pemisahan dilakukan dengan memanaskan minyak mentah pada


suhu tertentu sehingga ada yang dalam fase uap dan dan kemudian di
embunkan lalu didinginkan. Proses pengolahan distilasi atmosperik
dibagi menjadi empat bagian yaitu :

a. Pemanasan didalam furnace.

b. Penguapan didalam evaporator.

c. Pemisahan didalam kolom fraksinasi dan stipper kolom

d. Pengembunan dan pendinginan didalam kondensor dan cooler


disertai dengan pemisahan didalam separator untuk memperoleh hasil.

12
2.2.2 Produk PPSDM Migas Cepu

Kilang PPSDM Migas mengolah minyak mentah yang dikirim dari


PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu dan menghasilkan produk-produk
Pertasol CA, Pertasol CB, Pertasol CC, solar, dan, Residu/Minyak
Bakar Cepu (MBC) (Yueswono et. all, 2016).

13
BAB III
RENCANA KERJA PRAKTIK

3.1 Peserta
Peserta kerja praktik adalah mahasiswa Program Studi Teknik Kimia
S-1, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri, Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.
Nama : Iman Aswantara
NIM : 121130144
Semester : Gasal 2017/2018 ( IX )
No Hp : 082323239644

3.2 Waktu Pelaksanaan


Waktu pelaksanaan kerja praktik yang diajukan oleh pemohon adalah
1 Desember – 30 Desember 2017.

Tabel 3.1 Rencana Jadwal Selama Kerja Praktik


No Kegiatan Minggu ke
1 2 3 4 5
1 Perkenalan
2 Observasi lapangan secara umum
3 Pengamatan bahan baku dan proses
4 Pengamatan produk
5 Peninjauan tugas khusus
6 Pengamatan alat-alat produksi
7 Evaluasi dan penyusunan laporan

Adapun rencana kegiatan yang diajukan adalah sebagai berikut :


Minggu I : Orientasi dan pengenalan lapangan secara umum.
Minggu II : Pengamatan bahan baku dan proses, Pengamatan
produk, Peninjauan tugas khusus.
Minggu III : Peninjauan tugas khusus, pengamatan alat
produksi.
Minggu IV & V : Evaluasi dan penyusunan laporan.

14
3.3 Tugas Khusus
Mengenai tugas khusus bisa diberikan oleh pihak dari pabrik
ataupun bisa dari Dosen Pembimbing Kerja Praktik setelah
mendapatkan surat balasan persetujuan dari PPSDM MIGAS
CEPU yang menyatakan bahwa mahasiswa tersebut diatas diterima
kerja pratek.
3.4 Metode Kerja Praktik
Metode yang digunakan dalam mengambil data yang dibutuhkan
untuk keperluan penyelesaian penulisan laporan kerja praktik adalah :
3.4.1 Data Primer
Data ini diperoleh dengan cara :
a. Survey
Dengan cara mengambil informasi data-data teknis yang tersedia
di lapangan dan keterangan-keterangan yang diperoleh dari pihak
Manajemen di PPSDM MIGAS CEPU.
b. Observasi
Dengan cara melakukan pengamatan langsung dan pencatatan
secara sistematis dengan jelas mengenai kondisi obyek pengamatan di
lapangan.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder dapat diperoleh dengan metode pustaka yaitu
memperoleh data dengan cara penelusuran literatur-literatur, baik yang
terdapat di dalam perusahaan (perpustakaan perusahaan) maupun yang
diperoleh di luar perusahaan yang berhubungan dengan permasalahan
yang dihadapi.

3.5 Hasil Kerja Praktik


Hasil kerja praktik diwujudkan dalam bentuk laporan kerja
praktek oleh mahasiswa yang melakukan kerja praktek di PPSDM

15
MIGAS CEPU. Laporan kerja praktik akan disahkan oleh dosen
pembimbing kerja praktek dan diketahui oleh pembimbing kerja praktek
di PPSDM MIGAS CEPU Selanjutnya laporan resmi kerja praktek
tidak untuk dipublikasikan hanya diperuntukkan Jurusan Teknik Kimia
namun pihak PPSDM MIGAS CEPU tetap berhak menerima laporan
resmi dari mahasiswa peserta kerja praktik.

BAB III
PENUTUP

16
Demikian Proposal ini saya buat, sebagai bahan pertimbangan dan
acuan dalam pelaksanaan kerja praktik. Saya berharap dapat diberi
kesempatan untuk melaksanakan Kerja Praktek di PPSDM MIGAS
CEPU, sehingga dapat menambah pengetahuan dan pengembangan diri
secara progresif yang nantinya dapat diaplikasikan, baik di lingkungan
kampus maupun setelah berkecimpung di dunia kerja.

DAFTAR PUSTAKA

17
Hardjono, A. 2001. Teknologi Minyak Bumi. ISBN 979-420-487-0. Gajah Mada
University Press, Yogyakarta
Pusat Pengenbangan Sumber Daya Minyak Dan Gas Bumi (PPSDM),
http://pusdiklatmigas.esdm.go.id
Yoeswono, dkk. 2016. Perengkahan katalitik residu kilang ppsdm migas dengan
katalis zeolit alam.Karya Tulis Ilmiah di PPSDM Migas

LAMPIRAN

18
Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan, saya lampirkan beberapa dokumen,
antara lain :
1. Transkrip nilai
2. Photo Copy Kartu Tanda Mahasiswa
3. Curriculum vitae

19