Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS FILTRASI GINJAL

Oleh :
Nama : Finna Fernanda Hapsari
NIM : B1A015122
Kelompok : 4
Rombongan : IV
Asisiten : Dini Darmawati

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekskresi adalah pengeluaran zat-zat sisa metabolisme yang tidak terpakai lagi
oleh sel dan darah, dikeluarkan bersama urin, keringat dan pernapasan. Pada ginjal
mamalia terdapat unit-unit yang disebut nefron dengan fungsi filtrasi. Itulah
mengapa ginjal memiliki fungsi memfilter darah mamalia agar selalu bersih dari
limbah metabolisme yang terjadi di dalam tubuh. Ginjal mamalia pada umumnya
memfilter darah sebanyak 25% dari output jantung, sehingga banyak cairan darah
yang harus dibersihkan setiap harinya. Namun demikian urin yang dihasilkan ginjal
umumnya hanya 1% dari seluruh cairan yang difilter oleh ginjal (Dahelmi, 1991).
Setiap hari lebih kurang 1500 liter darah melewati ginjal untuk disaring dan
terbentuklah lebih kurang 150-170 liter urin primer. Namun demikian, hanya 1-1,5
liter urin yang kita keluarkan setiap hari. Banyak sedikitnya urin yang dikeluarkan
seseorang setiap harinya dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: zat-zat diuritik
seperti kopi dan alkohol yang akan menghambat reabsorsi ion Na+ sehingga volume
air meningkat, urin yang dikeluarkan menjadi lebih banyak. Suhu yang tinggi akan
menurunkan volume air dalam tubuh, aliran darah dalam filtrasi menurun sehingga
mengurangi volume urin (Kimball, 1996).
Pembentukan urin di dalam ginjal terjadi melalui serangkaian proses filtrasi
(penyaringan), reabsorbsi (penyerapan kembali), dan augmentasi (pengeluaran zat
sisa) (Kee, 2001). Urin dibentuk dengan diawali proses filtrasi darah di glomerulus.
Darah hasil filtrasi akan direabsorbsi oleh tubulus renalis, setelah reabsorbsi kadar
urea akan menjadi lebih tinggi dan zat–zat yang dibutuhkan tubuh tidak ditemukan
lagi (Biggs, 1999).

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk menganalisis senyawa yang dapat
melewati filter sebagai gambaran fungsi filtrasi ginjal mamalia.
II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah larutan biuret
1%, larutan Benedict 1%, larutan KI 1%, larutan protein, larutan glukosa, larutan
amilum, dan akuades.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tabung reaksi, spuit
ukuran 1 ml, kertas filter sartorius (ukuran pori 0,2 µm), gelas ukur, pemanas air,
dan corong plastik.

2.2 Cara Kerja

1. Larutan uji (protein, glukosa, amilum dan akuades) dimasukkan ke dalam 4


tabung reaksi yang telah disiapkan, protein, glukosa, dan amilum sebanyak 1
ml, sedangkan akuades 2 ml.
2. Masing-masing larutan uji disaring menggunakan kertas filter sartorius.
3. Setiap tabung reaksi diberi label sesuai dengan isi larutan uji.
4. Larutan biuret sebanyak 1 ml ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi
protein yang telah mengalami penyaringan, perubahan yang terjadi diamati dan
dicatat.
5. Larutan Benedict sebanyak 1 ml ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang
berisi glukosa yang telah mengalami penyaringan. Kemudian, tabung reaksi
dimasukkan ke dalam air mendidih (100o C) selama 5 menit lalu dikocok,
perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.
6. Larutan KI sebanyak 1 tetes ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi
amilum yang telah mengalami penyaringan, perubahan yang terjadi diamati dan
dicatat.
7. Larutan biuret sebanyak 1 ml ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi
akuades yang telah mengalami penyaringan, perubahan yang terjadi diamati dan
dicatat.
8. Larutan kontrol dibuat dengan cara memasukkan larutan uji (protein, glukosa,
amilum, dan akuades) ke dalam 4 tabung reaksi yang telah disiapkan masing-
masing 1 ml.
9. Larutan biuret sebanyak 1 ml ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi
protein, perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.
10. Larutan Benedict sebanyak 1 ml ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang
berisi glukosa. Kemudian, tabung reaksi dimasukkan ke dalam air mendidih
(100o C) selama 5 menit lalu dikocok, perubahan yang terjadi diamati dan
dicatat.
11. Larutan KI sebanyak 1 tetes ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi
amilum, perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.
12. Larutan biuret sebanyak 1 ml ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi
akuades, perubahan yang terjadi diamati dan dicatat.
13. Perubahan warna yang dihasilkan larutan uji hasil penyaringan dengan larutan
uji kontrol diamati.
14. Hasil pengamatan dicatat dan dimasukkan ke dalam tabel.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1 Data Percobaan Uji Filtrasi


Larutan Kontrol Perlakuan
Protein ++++ +++
Glukosa ++++ ++++
Amilum ++++ ++++
Akuades ++++ ++++

Keterangan:
+ : intensitas warna lemah
++ : intensitas warna sedang
+++ : intensitas warna kuat
++++ : intensitas warna sangat kuat

Gambar 3.1 Hasil Percobaan Kontrol dan Uji

Gambar 1. Larutan kontrol, Gambar 2. Larutan uji, dari


dari kiri ke kanan, amilum (KI), kiri ke kanan, amilum (KI),
glukosa (Benedict), protein glukosa (Benedict), protein
(biuret), dan akuades (biuret). (biuret), dan akuades (biuret).
3.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil percobaan pada kelompok 4, didapatkan hasil larutan uji


protein, glukosa, amilum, dan akuades sebelum disaring (kontrol) memiliki
intensitas warna yang sangat kuat (++++) yaitu biru muda, merah bata, ungu
kehitaman, dan biru. Sesudah disaring (filtrat) dengan kertas saring, glukosa,
amilum, dan akuades memiliki intensitas warna yang sangat kuat (++++) juga,
sedangkan protein kepekatan warnanya berkurang (+++). Menurut Biggs (1999),
percobaan filtrasi ginjal yang dilakukan merupakan miniatur dari kerja ginjal di
dalam tubuh. Larutan glukosa, protein, amilum dan akuades yang dituang ke tabung
reaksi dianalogikan sebagai senyawa atau zat-zat yang terdapat di dalam tubuh dan
kertas filter sartorius dianalogikan sebagai ginjal yang melakukan filtrasi,
perbedaan warna yang terjadi ketika larutan filtrat dibandingkan dengan larutan
kontrol merupakan bukti bahwa larutan tersebut mengalami penyaringan atau
filtrasi sehingga kandungan zat yang terdapat pada larutan tersebut berkurang pada
larutan hasil filtrat, hal tersebut dapat dilihat dari warna larutan filtrat yang lebih
pudar daripada larutan kontrol. Pembentukan urin terjadi di dalam ginjal.
Pembentukan urin yang terjadi ini melalui serangkaian proses yaitu filtrasi,
reabsorbsi, dan augmentasi. Proses filtrasi dilakukan oleh glomerulus untuk
menyaring darah. Sel-sel darah, trombosit dan sebagian besar protein plasma
disaring dan diikat agar tidak ikut dikeluarkan. Hasil filtrasi tersebut adalah urin
primer. Urin primer yang berada dalam keadaan normal tidak mengandung eritrosit
tetapi mengandung protein yang kurang dari 0,03%, glukosa, garam-garam,
natrium, kalium, dan asam amino. Urin primer tersebut kemudian mengalami
proses reabsorbsi untuk penyerapan kembali zat-zat yang masih dibutuhkan oleh
tubuh sehingga terbentuklah urin sekunder yang tidak lagi mengandung zat-zat
yang dibutuhkan tubuh.
Ginjal merupakan organ ekskresi utama yang sangat penting untuk
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme tubuh, termasuk zat-zat toksik yang tidak
sengaja masuk ke dalam tubuh akibatnya ginjal menjadi salah satu organ sasaran
utama dari efek toksik. Urin sebagai jalur utama ekskresi, dapat mengakibatkan
ginjal memiliki volume darah yang tinggi, mengkonsentrasikan toksikan pada
filtrat, membawa toksikan melalui sel tubulus dan mengaktifkan toksikan tertentu
(Mayori et al., 2013). Ginjal berbentuk seperti kacang pada kebanyakan spesies
hewan mamalia. Bagian paling luar diselubungi oleh jaringan ikat tipis yang disebut
kapsula renalis. Ginjal dapat dibedakan menjadi bagian korteks yakni bagian
sebelah luar warnanya coklat agak terang dan medulla yaitu lapisan sebelah dalam
warnanya agak gelap. Ginjal mempunyai bagian cekungan yang disebut hilum.
Terdapat bundle saraf pada hilum, arteri renalis, vena renalis, dan ureter. Ginjal
memperoleh suplai darah dari aorta abdominalis yang bercabang menjadi arteri
renalis, arteri interlobaris, arteri arcuata, arteri interlobularis, arteriol aferen,
glomerulus, arteriol eferen, kapiler peritubuler, vena interlobularis, vena arcuata,
vena interlobularis, vena renalis. Ginjal selain berfungsi sebagai alat ekskresi juga
berperan menghasilkan hormone seperti: rennin-angiotensin, eritropoietin, dan
mengubah provitamin D menjadi bentuk aktif (vitamin D) (Pearce, 2006). Ginjal
terletak pada kedua sisi kolumna vertebralis, di belakang peritoneum. Korteks berisi
glomerulus dan tubulus proksimal dan tubulus distal dari nefron (Ward & Linden,
2009). Nefron dianggap sebagai unit fungsional utama ginjal. Setiap ginjal
memiliki sekitar 1 juta nefron, sementara masing-masing nefron terdiri dari sistem
penyaringan bernama glomerulus dan sebuah tubulus yang memodifikasi cairan
filtrasi (Huang et al., 2016).
Mekanisme filtrasi glomerulus adalah darah yang masuk ke dalam nefron
melalui alteriol aferen dan selanjutnya menuju glomerulus akan mengalami filtrasi
tekanan darah pada arteriol aferen relatif cukup tinggi sedangkan pada arteriol
eferen relatif lebih rendah sehingga keadaan ini menimbulkan filtrasi pada
glomerulus. Hasil saringan (filtrat) dari glomerulus dan kapsula Bowman disebut
urin primer. Dalam urin primer masih terdapat air, glukosa, asam amino, dan garam
mineral. Cairan filtrasi pada glomerulus akan masuk menuju tubulus, dari tubulus
masuk menuju ansa henle, tubulus distal, duktus koligentes, pelvis ginjal, ureter,
vesica urinaria, dan akhirnya keluar berupa urin (Bone, 1979).
Fungsi reagen biuret adalah untuk membentuk kompleks sehingga yang
dikandung dapat diidentifikasi. Reaksi biuret ini bersifat spesifik, artinya hanya
senyawa yang mengandung ikatan pepetida saja yang akan bereaksi dengan
pereaksi biuret. Benedict adalah reagen untuk menguji kandungan makanan yang
mengandung glukosa. Sama seperti pengujian menggunakan biuret, bahan makanan
yang diuji harus berbentuk larutan, kemudian ditambah reagen Benedict (biasanya
setengah dari jumlah larutan). Setelah itu dipanaskan selama beberapa menit.
Pereaksi Benedict yang mengandung kuprisulfat dalam suasana basa akan tereduksi
oleh gula yang menpunyai gugus aldehid atau keton bebas (misal oleh glukosa),
yang dibuktikan dengan terbentuknya kuprooksida berwarna merah atau coklat. Uji
glukosa ini sering tidak valid jika reagen yang digunakan telah kadaluwarsa atau
terbuka terlalu lama di udara dan bercampur dengan air. Pereaksi KI terdiri dari
unsur iodium dan iodida kalium dalam air. Pati tersusun dari dua macam
karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda.
Amilosa memberikan sifat keras sedangkan amilopektin menyebabkan sifat
lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan
amilopektin tidak bereaksi (Djuhanda, 1980).
Menurut Yatim (1982), faktor-faktor yang mempengaruhi proses
pembentukan urin adalah :
a. Hormon antidiuretik (ADH), fungsinya adalah untuk menjaga tekanan osmotik
dalam tubuh, jadi apabila tubuh sedang dehidrasi maka ADH akan disekresi
lebih banyak sehingga mengakibatkan urin yang dihasilkan sedikit dan lebih
pekat.
b. Hormon insulin, fungsinya adalah untuk mengatur kadar gula dalam darah.
Penderita diabetes melitus memiliki konsentrasi hormon insulin yang rendah
sehingga kadar gula dalam darah akan tinggi dan mengakibatkan gangguan pada
proses reabsorpsi di tubulus distal sehingga urin masih mengandung glukosa.
c. Jumlah air yang diminum, semakin banyak seseorang meminum air, maka
sekresi ADH berkurang, konsentrasi air dalam darah meningkat sedangkan
konsentrasi protein dalam darah menurun sehingga menyebabkan filtrasi jadi
berkurang, keadaan ini akan membuat urin yang dihasilkan banyak dan encer.
Kelainan atau penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi bermacam-macam,
antara lain adalah sebagai berikut. Albuminuria adalah kelainan pada ginjal karena
terdapat albumin dan protein di dalam urin. Hal ini merupakan suatu gejala
kerusakan alat filtrasi pada ginjal. Penyakit ini menyebabkan terlalu banyak
albumin yang lolos dari saringan ginjal dan terbuang bersama urin. Albumin
merupakan protein yang bermanfaat bagi manusia karena berfungsi untuk
mencegah agar cairan tidak terlalu banyak keluar dari darah. Penyebab albuminuria
di antaranya adalah kekurangan protein, penyakit ginjal, dan penyakit hati (Yatim,
1982).
Diabetes melitus adalah penyakit yang ditimbulkan akibat adanya kandungan
glukosa dalam urin, hal ini dapat menyebabkan menurunnya hormon insulin
sehingga proses perombakan glikogen, filtrasi, dan reabsorbsi glukosa di dalam
glomerulus akan terganggu. Pencegahan penyakit ginjal diabetes atau setidaknya
penundaan atau memperlambat proses penyakit, telah muncul sebagai kunci
permasalahan. Filtrasi tingkat glomerulus adalah indeks terbaik fungsi keseluruhan
ginjal bagi kesehatan dan penyakit (Shima et al., 2011).
Nefritis adalah penyakit pada ginjal karena kerusakan pada glomerulus yang
disebabkan oleh infeksi kuman. Penyakit ini dapat menyebabkan uremia (urea dan
asam urin masuk kembali ke darah) sehingga kemampuan penyerapan air
terganggu. Akibatnya terjadi penimbunan air pada kaki atau sering disebut oedema
(kaki penderita membengkak). Gejala ini lebih sering nampak terjadi pada masa
kanak-kanak dan dewasa dibandingkan pada orang-orang setengah baya. Penderita
biasanya mengeluh tentang rasa dingin, demam, sakit kepala, sakit punggung, dan
udema (bengkak) pada bagian muka biasanya sekitar mata (kelopak), mual, dan
muntah-muntah. Sulit buang air kecil dan air seni menjadi keruh (Yatim, 1982).
Poliuria adalah gangguan pada ginjal, dimana urin dikeluarkan sangat banyak
dan encer. Sedangkan, oligouria adalah urin yang dihasilkan sangat sedikit. Anuria
adalah kegagalan ginjal sehingga tidak dapat membuat urin. Hal ini disebabkan
oleh adanya kerusakan pada glomerulus. Akibatnya, proses filtrasi tidak dapat
dilakukan dan tidak ada urin yang dihasilkan. Sebagai akibat terjadinya anuria,
maka akan timbul gangguan keseimbangan di dalam tubuh. Misalnya, penumpukan
cairan, elektrolit, dan sisa-sisa metabolisme tubuh yang seharusnya keluar bersama
urin. Keadaan inilah yang akan memberikan gambaran klinis daripada anuria.
Tindakan pencegahan anuria sangat penting untuk dilakukan. Misalnya, pada
keadaan yang memungkinkan terjadinya anuria tinggi, pemberian cairan untuk
tubuh harus selalu diusahakan sebelum anuria terjadi (Yatim, 1982).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa


senyawa yang dapat difilter oleh ginjal adalah protein, amilum dan glukosa, sedangkan
akuades lolos dalam fungsi filtrasi ginjal.
DAFTAR REFERENSI

Biggs, A. 1999. Biologi: The Dinamic of life. USA: Meril Publishing Company.

Bone, J. F. 1979. Animal Anatomy and Physiology. Virginia: Reston Publishing


Company.

Dahelmi, M. S. 1991. Fisiologi Hewan. Padang: Universitas Andalas.

Djuhanda, T. 1980. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata. Bandung: Armico.

Huang, J., Gretz, N. & Weinfurter, S. 2016. Filtration markers and determination
methods for the assessment of kidney function. European Journal of
Pharmacology, 1(1), pp. 1-7.

Kee, L. 2001. Biology: The Living Science. Singapore: Person Education Asia, Ltd.

Kimball, J. W. 1996. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Mayori, R., Marusin, N. & Tjong, D. H. 2013. Pengaruh Pemberian Rhodamin B


Terhadap Struktur Histologis Ginjal Mencit Putih (Mus musculus L.). Jurnal
Biologi Universitas Andalas, 2(1), pp. 43-49.

Pearce, E. C. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedic. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.

Shima, T. S., Khatun, A., Yeasmin, F., Ferdousi, S., Kirtania, K. & Sultana, N. 2011.
Cystatin C: A Better Predictor of Kidney Function in Diabetic Patients.
Bangladesh. Journal Med Biochem, 4(1), pp. 16-20.

Ward, C. & Linden. 2009. At a Glance Physiology. Jakarta: Erlangga.

Yatim, W. 1982. Biologi Modern. Bandung: Tarsito.