Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

PEMBAHASAN

Setelah diberikan Asuhan Keperawatan pada klien Ny. R dengan CHF di


Ruang Teratai 3 Rumah Sakit AK GANI Palembang diperoleh data sebagai
berikut :

1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan
verifikasi, komunikasi dan dari data tentang pasien. Pengkajian ini didapat dari
dua tipe yaitu data subjektif dan dari persepsi tentang masalah kesehatan yang
mereka rasakan dan data objektif yaitu pengamatan/pengukuran yang dibuat
oleh pengumpulan data (Potter, 2012).
Saat pengkajian pada Ny. R tidak ada kesulitan karena informasi juga
didapat dari keluarga klien dimana informasi didapatkan langsung melalui
wawancara, observasi, tindakan medis dan keperawatan. Dalam pengkajian
pada pasien dilakukan pengkajian perdomain NANDA dan review of system.
Hasil pengkajian didapatkan bahwa pasien masuk ke RS dengan diagnosa
medis CHF keluhan utama klien saat pengkajian adalah klien sesak nafas. Riwayat
kesahatan saat ini dengan data fokus yang menjadi subjektif bahwa klien
mengatakan terasa lemah dan sesak nafas, klien mengatakan tidak ada nyeri dada
yang dirasakan, dan klien mengatakan merasa gelisah serta sering terbangun pada
malam hari. Sedangkan data fokus objektif yang didapatkan keadaan umum
lemah, klien tampak sesak (dispnea), aktifitas klien tampak dibantu keluarga, klien
tampak gelisah, klien tampak tidak rileks dan vital sign TD = 170/100 mmHg, T
= 360 C, N = 95 x/m, RR = 28 x/m. Klien mempunyai riwayat sakit jantung
sebelumnya dan kebiasaan merokok berat.
Menurut Udjanti (2010) Gagal jantung, sering disebut juga gagal jantung
kongestif, adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang
adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi di tandai
dengan keadaan pasien yang sesak dan lemah (Udjianti, 2010). Menurut Price

105
106

(2002) bahwa penyebab penyakit CHF salah satunya adanya riwayat penyakit
jantung koroner.
Hasil pengkajian tersebut sejalan menurut teori Arif Masjoer (2001) bahwa
beberapa gejala yang muncul seperti dispnea, batuk, mudah lelah, kegelisahan dan
kecemasan, kongestif jaringan perifer dan viseral, edema ektremitas bawah,
hepatomegali, anoreksia dan mual, nokturia dan kelemahan.
Dari hasil pengkajian diatas penulis tidak menemukan kesenjangan antara
konsep teori tentang CHF dengan hasilpengkajian dilapangan.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti
tentang masalah klien serta pengembangan yang dapat dipecahkan atau diubah
melalui tindakan keperawatan menggambarkan respon aktual dan potensial
klien terhadap masalah kesehatan. Respon aktual dan potensial klien
didapatkan dari data pengkajian dan catatan medis klien. Diagnosa
keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi untuk mencapai hasil
yang diharapkan (Potter dan Perry, 2012).
Hasil pengkajian diperoleh diagnosa keperawatan utama yaitu penulis
mengangkat diagnosa keperawatan utama penurunan curah jantung
berhubungan dengan perubahan afterload (dispnea) yang ditandai dengan data
subjektif : klien mengatakan tidak nyaman karena sesak dan batuk, klien
mengatakan sesak dimalam hari. Data objektif yang muncul klien tampak tidak
tidur, klien tampak gelisah, tampak sesak, tampak batuk, takikardi, dan tanda
vital TD = 170/100 mmHg, T = 360 C, N = 95 x/m, RR = 28 x/m.
Dari data diagnosa tersebut bahwa penurunan curah jantung adalah
ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi
kebutuhan metabolik tubuh (NANDA, 2015-2017). Data fokus yang
menunjang diagnosa penurunan curah jantung tersebut dipertegas berdasarkan
karakteristik adanya dispnea, batuk, bunyi napas tambahan, gelisah dan
takikardia (NANDA, 2015-2017).
Diagnosa keperawatan yang kedua adalah ketidakefektifan pola nafas
juga karena didasari pada teori Hierarki Abraham Maslow, menurut Maslow
107

pernafasan adalah kebutuhan fisiologis atau kebutuhan dasar pada manusia


yang harus terpenuhi segera agar tidak menggangu kebutuhan lainya.
Diagnosa yang ketiga adalah intoleransi aktifitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen yang ditandai dengan data
subjektif : klien mengatakan mudah lelah dan sesak nafas, klien mengatakan
juga bahwa aktifitasnya dibantu oleh keluarga. Data objektif yang muncul
keadaan umum lemah, aktivitas tampak dibantu keluarga, klien tampak lelah,
dan tanda vital TD = 170/100 mmHg, T = 360 C, N = 95 x/m, RR = 28 x/m.
Dari data diagnosa tersebut bahwa intoleransi aktifitas adalah
ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk mempertahankan atau
menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus atau yang ingin
dilakukan. Data fokus yang menunjang diagnosa intoleransi aktivitas tersebut
dipertegas berdasarkan karakteristik adanya dispnea, kelelahan, ketidaknyaman
beraktifitas (NANDA, 2015-2017).

3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah semua rencana keperawatan untuk
membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini ke status yang diuraikan
dalam hasil yang diharapkan (Potter, 2012).
Penulis menegakkan diagnosa penurunan curah jantung berhubungan
dengan perubahan afterload (dispnea) ditandai dengan data subjektif : klien
mengatakan tidak nyaman karena sesak dan batuk, klien mengatakan sesak
dimalam hari. Data objektif yang muncul klien tampak tidak tidur, klien
tampak gelisah, tampak sesak, tampak batuk, takikardi, dan tanda vital TD =
170/100 mmHg, T = 360 C, N = 95 x/m, RR = 28 x/m. Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan dapat memenuhi krteria
hasil : vital sign dalam batas normal dan status pernafasan klien kembali
normal dengan intervensi: monitor tekanan darah, suhu, nadi, dan status
pernapasan dengan tepat, monitor tekanan darah, denyut nadi, dan status
pernapasan sebelum dan sesudah beraktivitas dengan tepat, monitor suara paru-
paru, berikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan, monitor aliran
oksigen, berikan posisi semi fowler pada klien.
108

Diagnosa kedua ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan


keletihan otot pernafasan yang ditandai dengan data subjektif: klien megatakan
sesak nafas dengan ata objektif: keadaan umum lemah, klien tampak sesak,
dispnea, tanda vital TD = 170/100 mmHg, T = 360 C, N = 95 x/m, RR = 28 x/m.
Intervensi yang direncanakan penulis berdasarkan Nursing Intervention Outcomes
dengan kriteria hasil. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,
diharapkan dapat memenuhi krteria hasil : vital sign dalam batas normal dan
status pernafasan klien kembali normal dengan intervensi: monitor tekanan
darah, suhu, nadi, dan status pernapasan dengan tepat, monitor tekanan darah,
denyut nadi, dan status pernapasan sebelum dan sesudah beraktivitas dengan
tepat, monitor suara paru-paru, berikan oksigen tambahan seperti yang
diperintahkan, monitor aliran oksigen, berikan posisi semi fowler pada klien.
Diagnosa keperawatan intoleransi aktifitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen yang ditandai dengan data
subjektif: klien mengatakan mudah lelah dan sesak nafas, klien mengatakan
juga bahwa aktifitasnya dibantu pleh keluarga. Daat objektif yang muncul
keadaan umum lemah, aktivitas tampak dibantu keluarga, klien tampak lelah,
dan tanda vital TD = 170/100 mmHg, T = 360 C, N = 95 x/m, RR = 28 x/m.
Setalah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan dapat
memenuhi kriteria hasil : Vital sign dalam batas normal dan toleransi terhadap
aktifitas dengan intervensi : monitor tekanan darah, suhu, nadi, dan status
pernapasan dengan tepat, monitor tekanan darah, denyut nadi, dan status
pernapasan sebelum dan sesudah beraktivitas dengan tepat, berikan bantuan
sampai pasien mampu melakukan aktivitas sendiri, ajarkan keluarga untuk
mendukung kemandirian dengan membantu hanya ketika pasien tak mampu
melakukan aktivitas secara mandiri, monitor kebutuhan pasien seperti
perawatan diri, makan, minum, eliminasi, dan berganti pakaian, monitor
kemampuan pasien dalam melakukan perawatan diri secara mandiri.
109

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi atau pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan untuk


mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga
meliputi pengumpulam dan berkelanjutan, mengobservasi respons klien selama
dan sesudah pelaksanaan tindakan dan menilai data yang baru (Rohman, 2009).

Dalam tahap ini penulis melakukan tindakan keperawatan berdasarkan


rencana tindakan yang telah dibuat. Pada tahap pelaksanaan tindakan
keperawatan yang merupakan yang nyata terhadap klien dalam rangka
mencapai tujuan yang diinginkan. Dari keseluruhan rencana tindakan dapat
diaplikasikan kedalam tindakan keperawatan yang nyata. Semua tindakan dari
setiap diagnosa dilakukan sesuai dengan rencana disusun berdasarkan
perencanaan.

Diagnosa utama penurunan curah jantung berhubungan dengan


perubahan afterload (dispnea) yang ditandai dengan data subjektif : klien
mengatakan tidak nyaman karena sesak dan batuk, klien mengatakan sesak
dimalam hari. Data objektif yang muncul klien tampak tidak tidur, klien
tampak gelisah, tampak sesak, tampak batuk, takikardi, dan tanda vital TD =
170/100 mmHg, T = 360 C, N = 95 x/m, RR = 28 x/m. Implementasi yang
dilakukan seperti monitoring tekanan darah, suhu, nadi, dan status pernapasan
dengan tepat, mengukur tekanan darah, denyut nadi, dan status pernapasan
sebelum dan sesudah beraktivitas dengan tepat, auskultasisuara paru,
memberikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan, monitoring aliran
oksigen, mengatur posisi klien dengan posisi semi fowler.

Diagnosa ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot


pernafasan yang ditandai dengan data subjektif: klien megatakan sesak nafas
dengan data objektif: keadaan umum lemah, klien tampak sesak, dispnea, tanda
vital TD = 170/100 mmHg, T = 360 C, N = 95 x/m, RR = 28 x/m. Implementasi
yang dilakukan seperti monitoring tekanan darah, suhu, nadi, dan status
pernapasan dengan tepat, mengukur tekanan darah, denyut nadi, dan status
pernapasan sebelum dan sesudah beraktivitas dengan tepat, auskultasisuara
110

paru, memberikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan, monitoring


aliran oksigen, mengatur posisi klien dengan posisi semi fowler.

Diagnosa terakhir Intoleransi aktifitas berhubungan dengan


ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen yang ditandai dengan data
subjektif: klien mengatakan mudah lelah dan sesak nafas, klien mengatakan
juga bahwa aktifitasnya dibantu pleh keluarga. Data objektif yang muncul
keadaan umum lemah, aktivitas tampak dibantu keluarga, klien tampak lelah,
dan tanda vital TD = 170/100 mmHg, T = 360 C, N = 95 x/m, RR = 28
x/m. Implementasi keperawatan yang telah dilakukan adalah monitoring tekanan
darah, suhu, nadi, dan status pernapasan dengan tepat, mengukur tekanan
darah, denyut nadi, dan status pernapasan sebelum dan sesudah beraktivitas
dengan tepat, memberikan bantuan sampai pasien mampu melakukan aktivitas
sendiri, mengajarkan keluarga untuk mendukung kemandirian dengan
membantu hanya ketika pasien tak mampu melakukan aktivitas secara mandiri,
monitoring kebutuhan pasien seperti perawatan diri, makan, minum, eliminasi,
dan berganti pakaian, dan monitoring kemampuan pasien dalam melakukan
perawatan diri secara mandiri.

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian
ulang rencana keperawatan untuk membantu klien mengatasi masalah
kesehatan aktual, mencegah kekambuhan dari masalah potensial dan
mempertahankan status kesehatan. Evaluasi terhadap tujuan asuhan
keperawatan menentukan tujuan ini telah terlaksana (Potter, 2012).
Pada kasus ini penulis telah melakukan implementasi selama 3 hari
sehingga diperoleh evaluasi akhir sebagai berikut : Diagnosa penurunan curah
jantung berhubungan dengan perubahan afterload (dispnea) dengan evaluasi
akhir dengan data subjektif : klien mengatakan sesak hilang. Data objektif :
Ku/ sedang, klien tampak tenang, klien tampak rileks, masalah penurunan
curah jantung teratasi dan intervensi dihentikan.
111

Diagnosa ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot


pernafasan diperoleh evaluasi subjektif : klien mengatakan tidak ada keluhan,
klien mengatakan tidak sesak, klien mengatakan posisi yang diberikan nyaman.
Data objektif : Ku/ sedang, tidak ada suara napas tambahan, klien tidak
menggunakan terapi oksigen, vital Sign TD = 120/80 mmHg, T = 36,50 C, N
= 86 x/m, RR = 21 x/m, masalah teratasi dan intervensi dihentikan.
Diagnosa intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
suplai dan kebutuhan oksigen dengan evaluasi akhir dengan data subjektif :
klien mengatakan sudah bisa melakukan aktivitas sendiri. Data objektif : Ku/
sedang, aktifitas klien tampak dilakukan sendiri, klien tampak duduk sendiri,
Vital Sign : TD = 120/80 mmHg, T = 36,50 C, N = 86 x/m, RR = 21 x/m,
masalah intoleransi aktivitas teratasi dan intervensi dihentikan.