Anda di halaman 1dari 4

Manifestasi Klinis dan Tatalaksana Tuberculosis Paru

Eirene Megahwati Paembonan1, Suzanna Ndraha2


1
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
2
Divisi Gastroenterohepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Rumah
Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta, Indonesia

ABSTRAK
Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi kuman
Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia
yang disebabkan oleh M.tuberculosis. Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2
golongan, yaitu gejala lokal dan sistemik. Seorang perempuan berusia 25 tahun dengan
keluhan batuk lebih dari dua bulan sebelum masuk rumah sakit. Batuk disertai dengan dahak
berwarna kuning kehijauan tanpa disertai darah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien
tampak sakit sedang dengan kesadaran compos mentis. Didapatkan tekanan darah pasien
102/80, nadi 84 kali/menit, pernapasan 20 kali/menit, suhu 36,1oC. Pada pemeriksaan mata
didapatkan konjungtiva anemis (+/+), dengan faring hiperemis. Pada pemeriksaan
laboratorium didapatkan Hemoglobin 7,0 g/dL, Leukosit 16.000/mm3, Hematokrit 24,20%,
dan Trombosit 636.000/uL. Dan pada pemeriksaan radiologi didapatkan kesan gambaran
proses KP paru aktif disertai efusi pleura kiri. Kepatuhan pada pengobatan yang optimal
untuk mengobati penyakit merupakan salah satu kunci keberhasilan pengobatan sehingga
mempengaruhi prognosis.
Kata Kunci: Tuberculosis paru, batuk, radang parenkim paru

ABSTRACT
Pulmonary tuberculosis is an inflamed lung parenchyma of infections germ
mycobacterium tuberculosis. Including a pneumonia pulmonary tuberculosis, the pneumonia
caused by m.tuberculosis. Clinical symptoms of tuberculosis can be split into 2, the local
symptoms and systemic. A woman aged 25 years with complaints of coughing up more than
two months before entering the hospital. Cough accompanied by phlegm greenish yellow
color without accompanied by blood. To the examination of a patient for physical looked ill
and with awareness is compos mentis. Get blood pressure 102/80 mmHg, Pulse 84
times/minutes, breathing 20 times/minutes, temperature 16,1 oC. In eye examinations
obtained the conjunctiva anemis (+/+), with the pharynx hiperemis. To the examination of
laboratory obtained hemoglobin 7,0g/dL, leukocytes 16.000/mm3, hematokrit 24,20%, and
platelets 636.000 those. And to the examination of a radiology obtained the impression of a
process of the active Koch Pulmonum accompanied effusion of the left pleura. Compliance on
treatment optimal to treat disease is of the success key treatment so as to affect prognosis.
Key Words: tuberculosis pulmonary, cough, inflamation of the lung parenchyma

PENDAHULUAN
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium
tuberculosis complex.1 Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena
infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia,
yaitu pneumonia yang disebabkan oleh M.tuberculosis.2
TB Paru diakibatkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis complex. Bakteri ini
merupakan basil tahan asam yang ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882.3
Mycobacterium tuberculosis adalah kuman penyebab TB yang berbentuk batang ramping
lurus atau sedikit bengkok dengan kedua ujungnya membulat. Koloninya yang kering dengan

1
permukaan berbentuk bunga kol dan berwarna kuning tumbuh secara lambat walaupun dalam
kondisi optimal. Diketahui bahwa pH optimal untuk pertumbuhannya adalah antara 6,8-8,0.
Untuk memelihara virulensinya harus dipertahankan kondisi pertumbuhannya pada pH 6,8.4
M. tuberculosis tipe humanus dan bovines adalah mikobakterium yang paling banyak
menimbulkan penyakit TB pada manusia. Basil tersebut berbentuk batang, bersifat aerob,
mudah mati pada air mendidih (5 menit pada suhu 80 C dan 20 menit pada suhu 60C), dan
mudah mati apabila terkena sinar ultraviolet (sinar matahari). Basil tuberkulosis tahan hidup
berbulan-bulan pada suhu kamar dan dalam ruangan yang lembab.5

ILUSTRASI KASUS
Seorang perempuan datang dengan keluhan batuk lebih dari 2 bulan SMRS. Batuk
disertai dengan dahak berwarna kuning kehijauan tanpa disertai darah. Batuk tidak disertai
dengan keluhan sesak nafas dan nyeri dada. Sebelumnya pasien sudah membeli obat di
warung untuk keluhan batuknya, tetapi tidak dirasakan ada perbaikan. Pasien tidak pernah
mengeluarkan keringat yang banyak pada malam hari, dan Pasien juga mengatakan tetangga
dilingkungan tempat tinggalnya ada yang mengalami gejala yang sama, yaitu batuk lama
yang tidak sembuh. Pasien mengatakan tempat ia tinggal, rumah satu dengan yang lainnya
sangat berdekatan. Pasien juga mengeluhkan sering lemas, mual, nyeri menelan dan nafsu
makan menurun. Pasien makan 2 kali sehari dengan porsi sedikit. Pasien mengatakan bahwa
berat badan sudah turun kurang lebih 5 kg dalam 2 bulan terakhir. Pasien tidak mengeluhkan
adanya demam.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang dengan kesadaran
compos mentis. Didapatkan tekanan darah pasien 102/80, nadi 84 kali/menit, pernapasan 20
kali/menit, suhu 36,1oC. Pada pemeriksaan mata didapatkan konjungtiva anemis (+/+),
dengan faring hiperemis. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hemoglobin 7,0 g/dL,
Leukosit 16.000/mm3, Hematokrit 24,20%, dan Trombosit 636.000/uL. Dan pada
pemeriksaan radiologi didapatkan kesan gambaran proses KP paru aktif disertai efusi pleura
kiri.
Hari perawatan pertama os mengatakan masih batuk, dahak masih berwarna kuning
kental, nyeri menelan, sudah tidak BAB cair, badan masih lemas. Tanda-tanda vital dalam
batas normal sedangkan pemeriksaan fisik Conjungtiva anemis +/+, auskultasi didapatkan
ronki pada apeks dekstra.
Hari perawatan kedua os mengatakan masih batuk, dahak masih berwarna kuning,
nyeri menelan, badan sudah tidak lemas, BAB dan BAK sudah normal. Hasil pemeriksaan
fisik tanda-tanda vital dalam batas normal, conjungtiva anemis +/+, pada auskultasi
didapatkan ronki pada apeks dekstra. Hasil pemeriksaan Hb : 9,8 gr/dL, hasil pemeriksaan
sputum dengan pewarnaan ziehl nielson positif 1, leukosit >10/LPB, epitel 3-5/LPB,
ditemukan kuman bentuk batang.
Hari perawatan ketiga os mengatakan batuk berkurang, dahak masih berwarna kuning,
nyeri menelan, sudah tidak BAB cair. Tanda-tanda vital dalam batas normal sedangkan
pemeriksaan fisik auskultasi didapatkan ronki pada apeks dekstra.

DISKUSI
Gejala klinis tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan
sistemik. Pada pasien ini didapatkan gejala sistemik dan gejala lokal seperti batuk lebih dari 2
minggu. Pada pemeriksaan fisik pasien ini ditemukan tanda-tanda suara napas bronchial,

2
amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-anda penarikan paru, diafragma dan
mediastinum.1 Pada pasien ini di dapatkan ronkhi pada auskultasi. Pada pemeriksaan foto
toraks, TB dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk (multiform).1 Pada pasien ini
didapakan gambaran proses KP paru aktif disertai efusi pleura kiri.
Kuman TB yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru
sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumoni, yang disebut sarang primer atau afek primer
disebut sebagai fokus Ghon. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian di mana saja dalam
paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan terlihat peradangan
pembuluh limfe menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh
pembesaran limfonodi di hilus (limfadenitis regional).6 TB sekunder terjadi karena imunitas
menurun seperti malnutrisi, alkohol, peyakit maligna, diabetes, AIDS, gagal ginjal. TB
sekunder ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di region atas paru (bagian apical-
posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan
tidak ke nodus hiler paru. TB pasca primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia
muda menjadi TB usia tua.7
Diagnosis pada TB dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis baik dan pemeriksaan
fisik yang teliti, diagnosis pasti ditegakkan melalui pemeriksaan kultur bakteriologi,
pemeriksaan sputum BTA, radiologi dan pemeriksaan penunjang lainnya.1
Pengobatan TB Paru diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pada
tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk
mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT terutama rifampisin. Bila pengobatan
tahap intensif tersebut diberikan secara tepat biasanya penderita menular menjadi tidak
menular dalam kurun waktu 2 minggu sebagian besar penderita TBC BTA positif menjadi
BTA negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif.2

KESIMPULAN
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia,
maupun di Indonesia. Penyakit TB Paru disebabkan karena adanya bakteri Mikobakterium
Tuberkulosa. Oleh karena itu untuk mencegah penularan penyakit ini sebaiknya harus
menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kepatuhan terhadap pengobatan merupakan salah
satu kunci dari keberhasilan pengobatan.

3
DAFTAR PUSTAKA
1. Isbaniyah, F. dkk. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di
Indonesia. Jakarta: PDPI; 2011.
2. Djojodibroto, D. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC; 2009. 3. 8m
3. Crofton, J., Horne, N., Miller, F. Tuberkulosis Klinis 2nd ed. Jakarta: Widya Medika;
2002.
4. Misnadiarly.Pemeriksaan Laboratorium Tuberkulosis dan Mikobakterium Atipik.
Jakarta: Dian Rakyat; 2006.
5. Alsagaff, H. Abdul M. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga
University Press; 2009.
6. Hasan, H.Tuberkulosis Paru, dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya:
Airlangga University Press; 2010.
7. Amin, Z. Asril B. Tuberkulosis Paru, dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: FKUI; 2009.