Anda di halaman 1dari 127

ANALISIS KEBIJAKAN DAN STRATEGI

PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL


DI KOTA BOGOR

DYAH ARUM ISTININGTYAS


A14303046

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN


SUMBERDAYA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
RINGKASAN
DYAH ARUM ISTININGTYAS. Analisis Kebijakan dan Strategi
Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor. Di bawah bimbingan ACENG
HIDAYAT.

Adanya kebijakan otonomi telah mengarahkan kebijakan pembangunan


Kota Bogor pada upaya peningkatan taraf hidup masyarakat dengan potensinya
pada sektor perdagangan dan jasa. Kebijakan yang dilakukan Pemda Kota Bogor
untuk meningkatkan kontribusi sektor perdagangan adalah meningkatkan aktivitas
pasar-pasar tradisional. Program khusus bagi pengembangan pasar tradisional,
yaitu pemindahan Pasar Ramayana ke Pasar Jambu Dua, Pasar Induk Kemang dan
Pasar Cimanggu dan pembangunan empat unit pasar tradisional yaitu Pasar Tanah
Baru, Pasar Pamoyanan, Pasar Katulampa dan Pasar Bubulak. Namun hasil
program tersebut ternyata hanya Pasar Kemang yang berfungsi sebagai pasar
induk dan ketiga pasar yang telah dibangun (Pasar Tanah Baru, Pasar Bubulak dan
Pasar Pamoyanan) tidak berfungsi sama sekali.
Penelitian ini menggunakan tiga analisis. Analisis stakeholders dilakukan
untuk mengetahui tingkat keterlibatan, kepentingan dan pengaruh dari seluruh
stakeholders yang terkait dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional.
Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui penyebab kegagalan kebijakan,
apakah proses penyusunannya yang tidak tepat atau penerapannya yang tidak
berjalan dengan baik. Analisis PHA digunakan untuk merumuskan strategi
pengembangan pasar tradisional yang tepat di Kota Bogor sehingga dapat menjadi
masukan bagi pemerintah.
Berdasarkan hasil analisis stakeholders, stakeholders yang terkait dalam
kebijakan pengembangan pasar tradisional, yaitu Bapeda, Disperindagkop,
masyarakat pedagang, UPTD, pengelola swasta, Dispenda, DLHK dan DTKP.
Stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi adalah Bapeda
dan Disperindagkop sedangkan masyarakat pedagang dan UPTD memiliki
kepentingan tinggi namun pengaruhnya rendah. Dispenda, DLHK dan DTKP
memiliki kepentingan yang rendah dan pengaruh yang tinggi. Pengelola pasar
swasta memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang rendah.
Hasil dari analisis deskriptif menunjukkan bahwa kegagalan kebijakan
disebabkan karena proses penyusunan dan perencanaan kebijakan yang kurang
tepat sehingga menyebabkan penerapannya yang kurang tepat pula. Kriteria utama
yang menyebabkan proses pembuatan kebijakan pengembangan pasar tradisional
kurang tepat yaitu keterlibatan stakeholders dan proses penyusunan kebijakan
pengembangan pasar tradisional yang benar. Kriteria utama yang menyebabkan
penerapan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu
penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien.
Berdasarkan hasil kajian, maka dapat ditarik kesimpulan secara khusus
bahwa dari hasil analisis stakeholders menunjukkan bahwa tidak semua
stakeholders yang berkepentingan dalam kebijakan pengembangan pasar
tradisional dilibatkan dalam proses perencanaan dan penerapan kebijakan.
Sehingga adanya kegagalan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional
disebabkan karena tidak dilibatkannya seluruh stakeholders yang berkepentingan
terhadap kebijakan ini.
Hasil analisis PHA menunjukkan bahwa aspek yang paling penting dalam
kebijakan pengembangan pasar tradisional secara berurutan yaitu aspek ekonomi,
aspek manajemen, aspek sosial dan aspek teknis. Kriteria-kriteria yang penting
dalam aspek ekonomi yaitu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan
kesejahteraan pedagang dan masyarakat dan meningkatkan PAD. Kriteria-kriteria
yang penting dalam aspek manajemen yaitu penataan dan pembinaan PKL,
meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional,
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan membentuk pasar tradisional
menjadi usaha yang efisien. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek sosial
yaitu terciptanya kondisi pasar yang aman, nyaman dan bersih bagi konsumen,
menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif dan mengurangi
potensi konflik dengan masyarakat. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek
teknis yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar yang
lebih bersih dan rapi. Prioritas alternatif strategi dalam pengembangan pasar
tradisional di Kota Bogor yaitu pembentukan PD. Pasar, pemberdayaan pedagang
dan pengelola pasar, pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun,
pembangunan pasar lingkungan, menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi,
pemberian bantuan kredit dan pembentukan forum komunikasi.
ANALISIS KEBIJAKAN DAN STRATEGI
PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL
DI KOTA BOGOR

Oleh :
DYAH ARUM ISTININGYAS
A14303046

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar


SARJANA PERTANIAN

pada
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN


SUMBERDAYA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
Judul Skripsi : Analisis Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pasar Tradisional
di Kota Bogor
Nama : Dyah Arum Istiningtyas
NIM : A14303046

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT.


NIP. 132 007 149

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr.


NIP. 131 124 019

Tanggal Kelulusan: ________________________


PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL


“ANALISIS KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR
TRADISIONAL DI KOTA BOGOR” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA
PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK
TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA
MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA
SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG
PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI
SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Januari 2008

Dyah Arum Istiningtyas


A14303046
RIWAYAT PENULIS

Penulis dilahirkan di Kota Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 3


November 1985 sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara, keluarga Bapak Totok
Djoko Winarto dan Ibu Kisnani, SmPh. Penulis mengikuti pendidikan Sekolah
Dasar di SD Negeri X Semarang pada tahun 1997 kemudian penulis melanjutkan
pendidikan lanjutan di SLTP Negeri 21 Semarang pada tahun 1997-2000.
Pendidikan Tingkat Atas diselesaikan penulis di SMU Negeri 3 Semarang pada
tahun 2003. Penulis diterima di IPB melalui jalur USMI pada tahun 2003 pada
Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Departemen Ilmu-ilmu
Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian. Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif
menjadi asisten mata kuliah Pengantar Ilmu Kependudukan (2005/2006). Penulis
juga aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa
Fakultas Pertanian (BEM A) periode 2004 – 2005 dan berbagai kepanitiaan di
IPB. Penulis juga menjadi Finalis dalam Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa
(KPKM) Tahun 2007 dengan judul tulisan “Ketidakmampuan Kinerja Subsidi
Pupuk Urea dalam Mewujudkan Kesejahteraan Petani di Provinsi Jawa Barat”.
KATA PENGANTAR

Puji Syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan rizkiNya
sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Kebijakan dan Strategi
Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor” dengan menggunakan analisis
kualitatif deskriptif dapat diselesaikan. Skripsi ini merupakan salah satu syarat
kelulusan Sarjana Pertanian pada Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi
Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pihak yang terlibat dalam
kebijakan dan penyebab dari belum berhasilnya kebijakan serta merumuskan
strategi pengembangan yang tepat untuk pasar tradisional di Kota Bogor. Harapan
penulis adalah agar karya ini dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak
khususnya yang terkait dengan penulisan ini.

Bogor, Januari 2008

Dyah Arum Istiningtyas


UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya kehadirat Allah


SWT atas segala limpahan rahmat, berkah, hidayah, dan rizki yang telah membuat
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tidak lupa penulis ingin mengucapkan
terima kasih atas segala dukungan moril maupun materiil, doa, serta kerjasama
yang telah diberikan selama ini kepada:
1. Kedua orangtua yaitu Bapak dan Mami tersayang atas cinta, motivasi,
dorongan dan kesabaran yang telah diberikan selama membesarkan saya.
2. Kakak saya Mbak Wening atas ketegarannya menghadapi hidup dan mimpi-
mimpinya yang telah membuka jalan untukku. We can do it sis...
3. Mas Daya dan Mbak Eni atas segala kasih sayang dan curahan doa yang terus
mendukung saya selama ini.
4. Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan
bimbingan dengan sabar, serta telah memberikan arahan, saran dan kritik yang
membangun dalam penyelesaian skripsi.
5. Ir. Nindyantoro, Msp atas kesediaannya menjadi dosen penguji utama pada
sidang ujian skripsi dengan arahan pada substansi penelitian.
6. A. Faroby Falatehan, SP. ME atas kesediaannya menjadi dosen penguji
akademik pada sidang skripsi dengan kritik sarannya.
7. Mbak Pini atas kesabarannya membantu saya menyelesaikan semuanya.
8. Naufal Isnaeni, S.Si. dari Bapeda Kota Bogor, Irwan Riyanto dan Anwar
Yuswadi dari Disperindagkop Kota Bogor.
9. Alan Tandiyar dari DTKP Kota Bogor, Rike Ratina dari Dispenda Kota
Bogor.
10. Yayat Sukrina beserta staf dari UPTD Jambu Dua atas data-data dan informasi
yang diberikan.
11. Mas Erwien atas kesabaran dan kebaikannya telah menemani hari-hari turun
lapang. Terimakasih. It’s time for you to take the way. I Believe in you always.
12. Sahabat sejatiku ’Genk Gonjrenk’ : Adis, Ok, Dyah, Tuti, Dessy dan Fahma.
Pada akhirnya kita akan menapaki jalan masing-masing, tapi kalian selalu
menjadi teman terbaikku.
13. Teman-teman di ’Tri Regina’ : Ochie, Dattu, Iin, Wiwik, Ira, Faiq, Dewi,
Silvi, Prista, INMTers, Mbak Dhona, Mbak Uwie, Mbak Aida, Mbak Lury.
14. Rekan-rekan EPS 40 atas pengalaman dan kekompakannya (Fitrina, Hanum,
Ari, Puri, Angke, Andi, Dara, Hamna, Reni, Yudha dan Ainun).
15. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu
dalam penyelesaian skripsi ini.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ............................................................................................. x
DAFTAR TABEL .................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xiii

I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ................................................................... 4
1.3. Tujuan Penelitian ....................................................................... 6
1.4. Kegunaan Penelitian .................................................................. 6

II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 8


2.1. Analisis Kebijakan ..................................................................... 8
2.2. Otonomi Daerah ......................................................................... 9
2.3. Pasar Tradisional ........................................................................ 10
2.4. Studi Terdahulu .......................................................................... 12

III. METODOLOGI PENELITIAN ..................................................... 15


3.1. Kerangka Pemikiran Operasional .............................................. 15
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................... 17
3.3. Jenis dan Sumber Data ............................................................... 18
3.4. Metode Pemilihan Responden .................................................... 19
3.5. Metode Analisis Data ................................................................. 20
3.5.1. Analisis Stakeholders ....................................................... 20
3.5.2. Analisis Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional...... 26
3.5.3. Proses Hierarki Analisis ................................................... 26
3.5.4. Struktur Hierarki Kebijakan Pengembangan Pasar
Tradisional ....................................................................... 33

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ........................... 38


4.1 Keadaan Perekomian Wilayah Kota Bogor ................................ 38
4.2 Visi dan Misi Kota Bogor ........................................................... 40
4.3 Kebijaksanaan Pengelolaan Pasar di Wilayah Kota Bogor ........ 42
4.2.1 Pasar Besar ....................................................................... 43
4.2.2 Pasar Sedang .................................................................... 44
4.2.3 Pasar Kecil ....................................................................... 45

V. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL .... 48


5.1 Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional 48
5.2 Penerapan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional ........... 50
5.2.1. Pemindahan Pasar Induk Ramayana ................................ 50
5.2.2. Pembangunan Pasar Tradisional ...................................... 54
5.2.3. Program Pendukung Lainnya ........................................... 58

VI. ANALISIS STAKEHOLDERS .......................................................... 60


VII. ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN
PASAR TRADISIONAL ................................................................. 71
7.1 Analisis Proses ........................................................................... 71
7.2 Analisis Penerapan Kebijakan ................................................... 81
7.3 Hubungan antara Analisis Proses dan Analisis Penerapan ........ 86

VIII.STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL ....... 87


8.1. Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional ..................... 87
8.2. Prioritas Kriteria Pengembangan Pasar Tradisional .................. 88
8.2.1. Aspek Ekonomi ................................................................ 88
8.2.2. Aspek Manajemen ............................................................ 89
8.2.3. Aspek Sosial ..................................................................... 90
8.2.4. Aspek Teknis .................................................................... 91
8.3. Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar
Tradisional ................................................................................. 92
8.4. Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional ...... 95

IX. KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 99


9.1 Kesimpulan ................................................................................ 99
9.2 Saran ........................................................................................... 101

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 102


LAMPIRAN .............................................................................................. 105
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Tabel PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar
Harga Konstan (Tahun 2000) Tahun 2001 – 2005 ......................... 2
2. Tabel Jumlah Pedagang di Pasar Tradisional Kota Bogor ............. 5
3. Tabel Pengumpulan Data ............................................................... 19
4. Tabel Analisis Stakeholders ........................................................... 23
5. Tabel Nilai Skala Banding Berpasangan ........................................ 29
6. Tabel Matriks Pendapat Individu ................................................... 30
7. Tabel Matriks Pendapat Gabungan ................................................ 30
8. Tabel Daftar Nilai Random Indeks ................................................ 32
9. Tabel Laju Pertumbuhan PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga
Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2005 .. 38
10. Tabel Besarnya Tarif Retribusi Pasar di Wilayah Kota Bogor ...... 47
11. Tabel Hasil Analisis Stakeholders dalam Kebijakan Pengembangan
Pasar Tradisional di Kota Bogor .................................................... 61
12. Tabel Analisis Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan
Pasar Tradisional ............................................................................ 74
13. Tabel Pertumbuhan Penduduk dan Persebaran Penduduk
Menurut Kecamatan di Kota Bogor Tahun 2005 ........................... 76
14. Tabel Analisis Hasil Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan
Pasar Tradisional ............................................................................ 82
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Gambar Diagram Alir Kerangka Pemikiran .................................. 17
2. Gambar Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders ........... 23
3. Gambar Pasar Induk Jambu Dua..................................................... 52
4. Gambar Pasar Grosir Cimanggu .................................................... 53
5. Gambar Pasar Induk Kemang ......................................................... 54
6. Gambar Pasar Tanah Baru .............................................................. 56
7. Gambar Pasar Pamoyanan .............................................................. 57
8. Gambar Pasar Bubulak.................................................................... 58
9a. Gambar Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders dalam
Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota
Bogor .............................................................................................. 62
9b. Gambar Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders pada
Kondisi Ideal dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar
Tradisional di Kota Bogor .............................................................. 68
10. Gambar Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan
Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari Segi Proses
Pembuatan Kebijakan .................................................................... 72
11. Gambar Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan
Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari SegiPenerapan
Kebijakan ....................................................................................... 81
12. Gambar Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional di Kota
Bogor .............................................................................................. 87
13. Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Ekonomi dalam
Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor .......................... 88
14. Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Manajemen dalam
Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor .......................... 89
15. Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Sosial dalam Pengembangan
Pasar Tradisional di Kota Bogor .................................................... 91
16. Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Teknis dalam Pengembangan
Pasar Tradisional di Kota Bogor .................................................... 92
17. Gambar Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan
Pasar Tradisional di Kota Bogor .................................................... 93
18a. Gambar Kondisi Pasar Tradisional yang Kotor, Becek dan Tidak
Rapi ................................................................................................ 95
18b. Gambar Kondisi Pasar Modern yang Bersih, Nyaman dan Rapi.... 95
19a. Gambar Pasar Modern BSD dari Depan Tampak Bersih dan
Menarik ........................................................................................... 96
19b. Gambar Kondisi Pasar BSD yang Bersih, Tidak Becek dan Rapi.. 96
19c. Gambar Label Jenis Komoditi yang Dijual pada Tiap Lorong
di Pasar BSD ................................................................................... 96
19d. Gambar Interaksi Sosial antara Penjual dan Pembeli di Pasar BSD 96
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebijakan otonomi daerah yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 2004 telah memberikan arah baru dalam pembangunan nasional

yang bersifat top down menjadi bottom up. Masing-masing daerah diberi

kesempatan untuk melaksanakan proses pembangunan yang didasarkan pada ide-

ide, nilai-nilai sosial, teknologi serta potensi sumberdaya lokal. Hal ini menuntut

adanya peran aktif pemerintah daerah dalam berbagai kebijakan untuk menggali,

mengembangkan dan mengelola potensi sosial ekonominya dalam rangka

memperkuat pembangunan yang berkelanjutan.

Perkembangan otonomi daerah telah membawa sejumlah implikasi

terhadap perubahan fungsi-fungsi pemerintah daerah dalam berbagai kebijakan,

baik dalam kelembagaan, pemanfaatan dan penggalian sumber daya alam, sumber

daya manusia serta sumber-sumber kegiatan ekonomi di berbagai bidang.

Pemerintah daerah harus dapat menggali seluruh potensi yang ada di dalam

pengelolaan keuangan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan

sumber-sumber keuangan lainnya untuk menunjang pelaksanaan pembangunan

sehingga diharapkan daerah dapat berkembang secara mandiri.

Kebijakan pembangunan Kota Bogor berdasarkan otonomi daerah

diarahkan pada upaya peningkatan taraf hidup masyarakat dengan titik berat pada

pembangunan ekonomi. Salah satu potensi yang dominan dalam menunjang

pembangunan Kota Bogor adalah sektor perdagangan. Sektor ini mampu

mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Kota Bogor dan memberikan

kontribusi sebesar 31,20 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto


(PDRB) Kota Bogor (Badan Pusat Statistik Kota Bogor, 2003), seperti yang

ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga
Konstan (Tahun 2000) Tahun 2001 – 2005
(Jutaan Rupiah)
No Sektor 2001 2002 2003 2004* 2005**
1 Pertanian 10.755,40 11.094,84 11.642,98 12.193,68 12.716,02
2 Pertambangan dan Penggalian 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
3 Industri Pengolahan* 779.846,18 827.318,66 881.718,49 940.062,95 1.002.371,58
4 Listrik, Gas dan
Air Bersih 85.758,27 91.743,05 98.132,83 105.087,61 112.491,06
5 Bangunan 227.279,58 234.466,55 244.414,67 255.205,11 266.037,24
6 Perdagangan, Hotel
dan Restoran 908.410,21 949.697,09 988.571,26 1.029.072,26 1.071.266,44
7 Pengangkutan dan Komunikasi 264.303,07 281.187,90 301.110,33 322.575,82 344.684,12
8 Keuangan, Persewaan,
dan Jasa Perusahaan 325.512,18 358.608,64 398.668,99 441.570,29 489.525,24
9 Jasa-jasa 221.565,32 232.720,65 243.925,99 255.671,20 268.139,21
Produk Domestik
Regional Bruto 2.823.430,21 2.986.837,37 3.168.185,54 3.361.438,93 3.567.230,91
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Bogor 2005
*) Angka Perbaikan
**) Angka Sementara

Tabel 1 menunjukkan bahwa kegiatan perekonomian di Kota Bogor

didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran khususnya sektor

perdagangan besar dan eceran yang terus mengalami peningkatan dari tahun 2001

sampai tahun 2005. Pembenahan aspek ekonomi diarahkan pada upaya

mewujudkan Kota Bogor sebagai bursa perdagangan komoditi penting di tingkat

regional, nasional dan internasional (Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor,

2000). Kebijakan yang dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Bogor untuk

meningkatkan kontribusi sektor perdagangan dan jasa adalah melalui peningkatan

dan perbaikan sarana dan prasarana perekonomian yang ada di Kota Bogor. Salah

satu strategi yang dilaksanakan oleh Pemda Kota Bogor yaitu dengan

meningkatkan aktivitas pasar-pasar tradisional sebagai basis kekuatan ekonomi

rakyat. Pengembangan pasar-pasar tradisional diarahkan pada penyediaan lahan,


pembangunan dan pemanfaatan pasar tradisional di setiap kecamatan sebagai

sentra ekonomi.

Pemerintah Daerah Kota Bogor telah melaksanakan program khusus bagi

pengembangan pasar tradisional selama periode tahun 1999 sampai tahun 2004,

yaitu pemindahan pusat perdagangan regional dari pusat kota ke daerah pinggiran

dan pengembangan pasar-pasar tradisional di setiap kecamatan. Implementasi dari

program tersebut adalah pemindahan Pasar Induk Ramayana yang berada di pusat

kota ke Pasar Induk Jambu Dua, Pasar Induk Kemang dan Pasar Grosir Cimanggu

serta pembangunan pasar tradisional minimal terdapat satu unit pasar di tiap

kecamatan (Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor, 2005). Program ini dibuat

supaya kegiatan perdagangan regional di Kota Bogor tidak hanya terkonsentrasi di

pusat kota namun juga di daerah pinggiran yang memiliki tingkat aksesibilitas

tinggi, dan dengan pengembangan kegiatan perdagangan lokal di tiap kecamatan

akan membantu tercapainya pemerataan kegiatan ekonomi di seluruh kota.

Pada kenyataannya pelaksanaan program yang ditetapkan Pemda Kota

Bogor tidak berjalan secara optimal. Kegagalan program tersebut di antaranya

adalah tidak berfungsinya Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu sebagai

pengganti Pasar Induk Ramayana. Pasar Induk Ramayana yang berada di tengah

kota telah menimbulkan kemacetan lalu lintas sehingga pemerintah kemudian

menutup Pasar Induk Ramayana dan memindahkan para pedagang di pasar

tersebut ke Pasar Jambu Dua, Cimanggu dan Kemang. Tetapi setelah kepindahan

lokasi Pasar Induk Ramayana ke ketiga lokasi pasar induk alternatif, hanya Pasar

Kemang yang berfungsi sebagai pasar induk. Pasar Jambu Dua dan Pasar

Cimanggu berfungsi sebagai pasar pengecer. Dampak dari perpindahan lokasi


Pasar Induk Ramayana secara umum menyebabkan penurunan volume penjualan

di pasar-pasar pengecer Kota Bogor sehingga penerimaan pedagang pun menurun.

Pasar Cimanggu dan Pasar Jambu Dua mengalami penurunan volume penjualan

yang paling besar yaitu sebesar 86.63 persen dan 82.53 persen. Hal ini disebabkan

karena sepinya pembeli di kedua pasar tersebut (Kartini, 2002).

Kebijakan lain yang ditempuh sebagai upaya untuk memeratakan

pembangunan ekonomi yaitu pembangunan empat unit pasar tradisional di empat

kecamatan yaitu di Bogor Timur, Bogor Barat, Bogor Selatan dan Bogor Utara.

Sampai tahun 2001 dari empat pasar tradisional yang akan dibangun yaitu Pasar

Tanah Baru, Pasar Pamoyanan, Pasar Katulampa dan Pasar Bubulak, baru dua

pasar saja yang telah terealisasi yaitu Pasar Tanah Baru dan Pasar Pamoyanan dan

hanya satu pasar saja yang sudah berfungsi yaitu Pasar Tanah Baru. Meskipun

pada kenyataannya perkembangan tersebut belum optimal, karena kios yang terisi

di Pasar Tanah Baru hanya sepuluh kios dari 120 kios yang ada. Sampai saat ini

belum ada pemungutan tarif retribusi yang dilakukan oleh pihak pengelola pasar.

Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi dari rencana dan implementasi kebijakan

Pemda Kota Bogor untuk mengetahui penyebab kegagalan kebijakan tersebut.

1.2. Perumusan Masalah

Letak Kota Bogor yang dekat dengan Jakarta menyebabkan Bogor

mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang pesat yaitu sebesar 20,41 persen pada

tahun 2003 dengan kegiatan utamanya adalah sektor perdagangan (Badan

Perencanaan Daerah Kota Bogor, 2005). Perda No 1 Tahun 2001 tentang Rencana

Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor Tahun 1999-2009 menyatakan bahwa salah

satu fungsi utama Kota Bogor adalah sebagai kota perdagangan. Untuk mengimbangi
laju pertumbuhan Kota Bogor yang sedemikian pesat khususnya pada sektor

perdagangan dan jasa maka prioritas pembangunan yang perlu diutamakan yaitu

meningkatkan aktivitas perdagangan melalui pembangunan dan perbaikan sarana

publik.

Salah satu kebijakan yang ditempuh Pemda Kota Bogor dalam

mengembangkan sektor perdagangan yaitu dengan kebijakan pengembangan pasar

tradisional. Kebijakan pengembangan pasar tradisional yang dilaksanakan tersebut

ternyata tidak berjalan secara optimal. Hal ini dapat ditunjukkan dari jumlah

pedagang yang mengisi kios-kios yang tersedia di pasar-pasar tradisional Kota

Bogor. Tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat beberapa pasar tradisional di Kota

Bogor yang jumlah pedagangnya kurang dari 50 persen dari total kios dan los

yang disediakan di pasar tersebut. Pasar-pasar tersebut di antaranya yaitu Pasar

Jambu Dua, Pasar Merdeka dan Pasar Tanah Baru. Kios yang terisi paling sedikit

terjadi pada Pasar Tanah Baru, sehingga dapat disimpulkan bahwa program

pengembangan pasar tradisional yaitu pembangunan pasar tradisional baru belum

mencapai hasil yang diharapkan.

Tabel 2. Jumlah Pedagang di Pasar Tradisional Kota Bogor


NO PASAR JUMLAH KIOS JUMLAH KIOS TERISI (%)
1 Pasar Kebon Kembang 2.343 2.168 92.53
2 Pasar Bogor 2.250 1.179 52.4
3 Pasar Jambu Dua 756 335 44.31
4 Pasar Merdeka 601 208 34.61
5 Pasar Sukasari 275 140 51
6 Pasar Padasuka 220 214 97.27
7 Pasar Gunung Batu 203 198 97.54
8 Pasar Tanah Baru 120 10 8.33
9 Pasar Kemang 104 63 60.58
TOTAL 6.872 4452 64.79
Sumber: UPTD Pasar Tradisional Kota Bogor, 2003 (diolah)
Berdasarkan fakta yang diuraikan di atas, maka untuk itu perlu diketahui:

1. Bagaimana kepentingan dan pengaruh dari stakeholders yang terlibat dalam

kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor?

2. Apa penyebab dari belum berhasilnya kebijakan pengembangan pasar

tradisional di Kota Bogor? Apakah hal ini disebabkan oleh proses penyusunan

program pengembangan pasar tradisional yang kurang tepat? Atau

penerapannya yang tidak berjalan dengan baik?

3. Bagaimana rencana dan strategi pengembangan pasar tradisional yang tepat

untuk Kota Bogor?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi kepentingan dan pengaruh dari stakeholders yang terlibat

dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor.

2. Menganalisis penyebab dari belum berhasilnya kebijakan pengembangan

pasar tradisional di Kota Bogor.

3. Menganalisis rencana dan strategi pengembangan pasar tradisional yang tepat

untuk Kota Bogor.

1.4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk :

1. Bagi Pemerintah Daerah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan dalam

rangka pengembangan pasar tradisional serta sebagai bahan pertimbangan


dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan pasar

tradisional di Kota Bogor.

2. Bagi Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah kekayaan pengetahuan terkait

dengan kebijakan pengembangan dan pengelolaan pasar tradisional.

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai sarana untuk meningkatkan

kemampuan berpikir, daya nalar dan daya analitis dalam mengidentifikasi,

merumuskan dan menganalisis masalah yang berkaitan dengan kebijakan

pengembangan pasar tradisional.


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Analisis Kebijakan

Analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan

menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberi landasan dari

para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan (E.S. Quade dalam Dunn,

1994). Analisis kebijakan meneliti sebab, akibat dan kinerja kebijakan publik.

Kebijakan didasarkan pada masalah yang ada di daerah, selanjutnya kebijakan

harus secara terus menerus dipantau, direvisi dan ditambah agar tetap memenuhi

kebutuhan yang terus berubah.

Analisis kebijakan tidak diciptakan untuk membangun dan menguji teori-

teori deskriptif yang umum namun mengkombinasikan dan mentransformasikan

substansi dan metode beberapa disiplin ilmu sehingga menghasilkan informasi

yang relevan dengan kebijakan yang digunakan untuk mengatasi masalah-masalah

publik. Analisis kebijakan juga meliputi evaluasi dan rekomendasi kebijakan.

Analisis kebijakan diharapkan untuk menghasilkan informasi mengenai : (1) nilai

yang pencapaiannya merupakan tolok ukur utama untuk melihat apakah masalah

telah teratasi, (2) fakta yang keberadaannya dapat membatasi atau meningkatkan

pencapaian nilai-nilai, dan (3) tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan

pencapaian nilai-nilai.

Terdapat 3 (tiga) pendekatan dalam analisis kebijakan, yaitu :

1. Pendekatan empiris adalah pendekatan yang menjelaskan sebab dan akibat

dari suatu kebijakan publik.

2. Pendekatan evaluatif adalah pendekatan yang berkenaan dengan penentuan

bobot atau nilai dari beberapa kebijakan.


3. Pendekatan normatif adalah pendekatan yang ditekankan pada rekomendasi

serangkaian tindakan yang dapat menyelesaikan masalah-masalah publik.

Sebagai proses penelitian analisis kebijakan menggunakan prosedur

analisis umum yang biasa dipakai untuk memecahkan masalah-masalah

kemanusiaan, yaitu: deskriptif, prediksi, evaluasi, dan rekomendasi. Dari segi

waktu dalam hubungannya dengan tindakan maka prediksi dan rekomendasi,

digunakan sebelum tindakan diambil, sedangkan evaluasi digunakan setelah

tindakan terjadi.

2.2. Otonomi Daerah

Otonomi daerah merupakan pemberian kewenangan seluas-luasnya kepada

daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi

daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan (UU No. 32 Tahun 2004).

Tujuan pemberian otonomi daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang

bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri untuk meningkatkan

daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan

terhadap masyarakat.

Pada hakekatnya penerapan prinsip ini ditujukan untuk mengurangi

ketergantungan pada pusat bagi pelaksanaan pembangunan di daerah. Otonomi

daerah tidak hanya dipahami sebagai pemindahan sentralisasi kekuasaan dari

pusat kemudian diberikan ke daerah (dekonsentrasi kekuasaan). Gagasan otonomi

tidak lepas dari gagasan demokratisasi, yaitu memfasilitasi kebebasan dan

otonomi rakyat sehingga bisa berkembang semaksimal mungkin sesuai dengan

potensi dan konteksnya. Otonomi daerah membuat pemerintah semakin dekat,


mengenali, dan memahami masyarakat sehingga fungsi sebagai fasilitator dapat

berjalan dengan baik (Ismawan, 2003).

2.3. Pasar Tradisional

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang

ditandai dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung, bangunan

biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka

oleh penjual maupun suatu pengelola pasar, sebagian besar pasar menjual

kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-

sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain.1

Hierarki pasar dibagi menjadi tiga, yaitu :

1. Pasar Kawasan 30.000 Penduduk (Pasar Kelurahan/Desa)

Fungsi utama sebagai pusat perbelanjaan di lingkungan yang menjual

keperluan sehari-hari termasuk sayur, daging, ikan, buah-buahan, beras, tepung-

tepungan, bahan-bahan pakaian, pakaian, barang-barang kelontong, alat-alat

pendidikan, alat-alat rumah tangga dan lain-lain. Lokasinya berada pada jalan

utama lingkungan dan mengelompok dengan pusat lingkungan dan mempunyai

terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. Penduduk minimum yang dapat

mendukung sarana ini adalah 30.000 penduduk. Luas tanah yang dibutuhkan

adalah 13.500 m2.

2. Pasar Kawasan 120.000 Penduduk (Pasar Kecamatan)

Fungsi utama sama dengan pasar lingkungan lain hanya dilengkapi sarana-

sarana niaga lainnya seperti kantor-kantor, bank, industri-industri kecil seperti

konveksi dan lain-lain. Lokasinya mengelompok dengan pusat kecamatan dan


1
Dikutip dari situs Wikipedia Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar pada tanggal 20
Januari 2008
mempunyai pangkalan transportasi untuk kendaraan-kendaraan jenis angkutan

penumpang kecil. Jumlah minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini

adalah 120.000 penduduk. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 36.000 m2.

3. Pasar Kawasan 480.000 Penduduk (Pasar Kabupaten/Kota)

Fungsi utama sama dengan pasar yang lebih kecil dengan skala usaha yang

lebih besar dan lengkap. Lokasinya dikelompokkan dengan pusat wilayah dan

mempunyai terminal bis, oplet dan kendaraan-kendaraan jenis angkutan

penumpang kecil lainnya. Penduduk minimum yang dapat mendukung sarana ini

adalah 480.000 penduduk. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 96.000 m2

(Rahayu, 2005).

Hierarki pasar menurut Perda Kota Bogor Nomor 7 Tahun 2005 tentang

Penyelenggaraan Pasar dibedakan berdasarkan pengertian menurut pengelola,

tingkat pelayanan dan kelas mutu pelayanan, yaitu :

1. Pasar menurut Pengelolanya :

a. Pasar Pemerintah, yaitu pasar yang diselenggarakan oleh Pemerintah

Daerah.

b. Pasar Swasta, yaitu pasar yang diselenggarakan atau dikelola oleh orang

pribadi atau badan.

2. Pasar menurut Tingkat Pelayanannya :

a. Pasar Regional, yaitu pasar dengan komponen bangunan-bangunan yang

lengkap, sistem arus barang dan orang baik di dalam maupun di luar

bangunan, dan melayani perdagangan tingkat regional.


b. Pasar Kota, yaitu pasar dengan komponen bangun-bangunan, sistem arus

barang dan orang baik di dalam maupun di luar bangunan, dan melayani

perdagangan tingkat kota.

c. Pasar Wilayah, yaitu pasar dengan komponen bangun-bangunan, sistem

arus barang dan orang baik di dalam maupun di luar bangunan, dan

melayani perdagangan tingkat kota.

d. Pasar Lingkungan, yaitu pasar dengan komponen bangun-bangunan,

sistem arus barang dan orang terutama di dalam bangunan, dan melayani

perdagangan tingkat lingkungan.

3. Pasar menurut Kelas Mutu Pelayanan :

a. Pasar Tradisional, yaitu pasar yang dibangun dengan fasilitas sederhana,

dikelola dengan manajemen sederhana dengan tempat usaha berupa toko,

kios, los, ataupun tenda yang diisi oleh pedagang kecil, menengah dan

koperasi dengan proses jual beli melalui tawar menawar.

b. Pasar Modern, yaitu pasar yang dibangun dan dikelola dengan

menggunakan metode manajemen modern, didukung dengan teknologi

modern serta mengutamakan pelayanan dan kenyamanan berbelanja.

2.4. Studi Terdahulu

Penelitian mengenai pengembangan pasar tradisional pernah dilakukan

oleh Rangkuti (2005) di Kota Medan. Tesis tersebut menganalisis pengaruh

pengembangan pasar tradisional terhadap pembangunan wilayah. Hasil analisis

menunjukkan bahwa menurut persepsi responden pengembangan pasar tradisional

dalam aspek kebersihan, keamanan dan penataan gerai akan dapat meningkatkan

jumlah pengunjung/pembeli di pasar-pasar tradisional Kota Medan.


Pengembangan pasar-pasar tradisional di Kota Medan dapat menyebabkan

terjadinya pengembangan wilayah dengan bertambahnya aktivitas sosial ekonomi

masyarakat dan peningkatan pendapatan pedagang sehingga retribusi yang

diperoleh PD. Pasar dapat digunakan untuk pembangunan dan pengembangan

sarana-sarana fisik pasar-pasar tradisional di Kota Medan.

Penelitian mengenai pemindahan lokasi pasar induk pernah dilakukan oleh

Kartini (2002) di Kota Bogor. Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis

dampak perpindahan lokasi terhadap sistem pemasaran sayur-mayur di Kota

Bogor. Hasil penelitian mengemukakan bahwa dari ketiga alternatif pasar induk

yang ditawarkan oleh Pemda Kota Bogor, ternyata hanya Pasar Induk Kemang

yang betul-betul berfungsi sebagai pengganti Pasar Ramayana. Perpindahan

tersebut berdampak pada peningkatan biaya transfer dan penurunan volume

penjualan. Kegiatan pemasaran sayur-mayur menjadi lebih efisien dengan Pasar

Induk Kemang sebagai pasar acuan dan barometer harga dalam pemasaran sayur-

mayur di Kota Bogor.

Penelitian mengenai pembangunan pasar tradisional di Kota Bogor pernah

dilakukan oleh Tandiyar (2002). Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan

kajian terhadap faktor penentu pendukung perkembangan Pasar Tanah Baru,

sebagai acuan bagi pembangunan pasar tradisional baru di Kota Bogor. Hasil

analisis menunjukkan bahwa perkembangan Pasar Tanah Baru dipengaruhi oleh

variabel market area, aglomerasi dan threshold population dari segi keruangan,

ketersediaan sarana angkutan umum dan besarnya nilai rupiah yang dibelanjakan

dari segi konsumen serta jenis jualan dan besarnya nilai transaksi yang terjadi dari

segi pedagang, meskipun pada kenyataannya perkembangan tersebut belum


mencapai perkembangan yang menggembirakan. Berdasarkan hasil acuan tersebut

ternyata dari ketiga lokasi pasar yang dibangun, hanya Pasar Katulampa yang

memenuhi semua kriteria, sedangkan Pasar Pamoyanan dan Bubulak masih

dianggap belum memenuhi, terutama dalam aglomerasi dan ketersediaan sarana

angkutan umum. Peningkatan perkembangan Pasar Tanah Baru direkomendasikan

dengan pembangunan jalan tembus ke lokasi perumahan yang ada di Kelurahan

Tegal Gundil dan penataan rute angkutan kotanya. Pasar Katulampa

direkomendasikan untuk ditindaklanjuti dengan pembangunan, sedangkan yang

lainnya harus ditunda atau dipindahkan lokasinya ke tempat lain yang lebih

memenuhi persyaratan.
III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Operasional

Otonomi daerah memberikan kewenangan bagi pemerintah daerah untuk

merumuskan kebijakan sebagai upaya untuk menggali seluruh potensi yang ada

dalam pengelolaan keuangan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

dan sumber-sumber keuangan lainnya untuk menunjang pelaksanaan

pembangunan. Kota Bogor memiliki potensi dalam sektor perdagangan dan jasa

yang besar untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan. Eksistensi sektor

perdagangan terutama subsektor perdagangan besar dan eceran telah memberikan

kontribusi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan PDRB Kota Bogor.

Sektor ini merupakan penyumbang kontribusi terbesar terhadap PDRB.

Pemerintah Daerah Kota Bogor menetapkan kebijakan pengembangan

pasar tradisional untuk meningkatkan kontribusi sektor perdagangan. Kebijakan

ini dilaksanakan dalam dua program yaitu pemindahan pusat perdagangan

regional dari pusat kota ke daerah pinggiran dan pengembangan pasar-pasar

tradisional di tiap kecamatan. Implementasi dari program ini yaitu pemindahan

Pasar Ramayana ke Pasar Induk Kemang, Pasar Induk Jambu Dua dan Pasar

Grosir Cimanggu serta pembangunan pasar tradisional di empat kecamatan yaitu

Pasar Tanah Baru, Pasar Pamoyanan, Pasar Katulampa dan Pasar Bubulak.

Program tersebut belum memperlihatkan hasil seperti yang diharapkan.

Hal ini dapat ditunjukkan dari kegagalan program tersebut dalam mencapai target.

Pasar Kemang merupakan satu-satunya pasar yang berfungsi sebagai pasar induk

sedangkan Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu berfungsi sebagai pasar
pengecer. Selain itu dari empat pasar tradisional yang dibangun, hanya satu pasar

yang berfungsi yaitu Pasar Tanah Baru meskipun hasilnya belum optimal.

Dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional ini banyak

melibatkan stakeholders. Masing-masing stakeholders yang terlibat memiliki

kepentingan dan pengaruh yang berbeda-beda terhadap kebijakan pengembangan

pasar tradisional. Hal ini dapat ditunjukkan dengan peranan serta keterlibatan

masing-masing stakeholders dalam program pengembangan pasar tradisional.

Kondisi ini dapat mempengaruhi keberhasilan proses perencanaan dan penerapan

kebijakan pengembangan pasar tradisional dalam mencapai tujuannya. Oleh

karena itu dalam penelitian ini menggunakan analisis stakeholders untuk

mengidentifikasi stakeholders yang terlibat, terkait dengan kepentingan dan

pengaruhnya terhadap kebijakan.

Untuk mengidentifikasi penyebab dari belum optimalnya hasil dari

program pengembangan pasar tradisional dilakukan menggunakan analisis

deskriptif, apakah hal ini disebabkan oleh proses penyusunan program

pengembangan pasar tradisional yang kurang tepat (Lampiran 1), atau

penerapannya yang tidak berjalan dengan baik (Lampiran 2). Untuk menganalisis

strategi pengembangan pasar tradisional digunakan metode Proses Hierarki

Analisis/PHA (Lampiran 3). Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan

sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah untuk mengambil keputusan

dalam merumuskan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.


Otonomi Daerah

Potensi Perdagangan Kota Bogor

Program Pengembangan Pasar Tradisional

Pemindahan Pusat Perdagangan Pengembangan Pasar-Pasar


Regional dari Pusat Kota ke Daerah Tradisional di Setiap
Pinggiran Kecamatan

Berhasil (Pasar Induk Kemang) Belum Berhasil (Pasar Jambu Dua, Pasar
Cimanggu, Pasar Tanah Baru, Pasar Pamoyanan)

Analisis Identifikasi/Analisis Penyebab


Stakeholders Kegagalan Kebijakan

Proses Penerapan

Deskriptif

Strategi Pengembangan Pasar


PHA Tradisional

Rekomendasi Pemda

Gambar 1. Diagram Alir Kerangka Pemikiran

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat. Pemilihan

lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kota

Bogor merupakan kota satelit bagi Jakarta sehingga mengalami pertumbuhan

ekonomi yang tinggi terutama di sektor perdagangan. Hal ini membutuhkan

kebijakan pengembangan sektor perdagangan khususnya dalam hal

pengembangan pasar tradisional untuk mengimbangi pertumbuhan sektor


perdagangan yang pesat. Waktu penelitian berlangsung dari bulan Juli sampai

dengan Oktober 2007.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan

data sekunder, baik kualitatif maupun kuantitatif (Tabel 3). Data primer diperoleh

dari hasil kuesioner melalui wawancara langsung dengan para pengambil

kebijakan yang berasal dari Lembaga/Instansi Pemerintah, Tokoh Masyarakat,

Swasta dan para pedagang. Data primer mencakup: (1) proses perencanaan

kebijakan pengembangan pasar tradisional, (2) penerapan program, dan (3)

strategi pengembangan pasar tradisional. Data sekunder diperoleh dari studi

pustaka dan data penunjang yang relevan dengan penelitian. Data sekunder

diperoleh dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop)

Kota Bogor, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) Kota Bogor,

Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bogor, Dinas Tata Kota dan

Pertamanan (DTKP) Kota Bogor, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan

(DLHK) Kota Bogor, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor, Unit Pelaksana

Teknis Dinas Pasar Tradisional (UPTD) Kota Bogor. Data penunjang diperoleh

dari laporan hasil penelitian terkait, jurnal, buletin, internet serta sumber-sumber

lainnya.
Tabel 3. Pengumpulan Data
No Tujuan Penelitian Data yang dikumpulkan Sumber Data Analisis
1 Mengidentifikasi Tingkat kepentingan dan Data Primer: Stakeholders
stakeholders yang pengaruh stakeholders Wawancara
terlibat dalam terhadap keberhasilan dengan instansi
kebijakan program terkait
pengembangan
pasar tradisional Data Sekunder:
Visi dan Misi,
Tupoksi
2 Mengidentifikasi • Rencana Strategi Data Sekunder: Deskriptif
penyebab kurang (Renstra) Renstra Kota
berhasilnya • Rencana Pembangunan Bogor, RTRW,
program Jangka Menengah Daerah RDTR
pengembangan (RPJMD) Kota Bogor
pasar tradisional: • Rencana Tata Ruang Data Primer:
• Proses Wilayah (RTRW) Wawancara
• Penerapan • Rencana Detail Tata dengan instansi
Ruang Kota (RDTRK) terkait
• Perda Tata Ruang
• Perda lainnya.
3 Mengidentifikasi Persepsi responden tentang Data Primer: PHA
strategi pengembangan pasar Wawancara
pengembangan tradisional terdiri dari dengan pihak
pasar tradisional tujuan, aspek, kriteria dan pengambil
alternatif strategi kebijakan kebijakan (Pemda),
Disperindag,
DTKP, DLHK,
UPTD

3.4. Metode Pemilihan Responden

Identifikasi stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan

pasar tradisional dilakukan dengan teknik bola salju (snow ball) yaitu dengan

melacak keterangan dari setiap stakeholders untuk mengetahui keberadaan

stakeholders lainnya. Jika keterangan dari setiap stakeholders tidak menyebutkan

stakeholders yang baru lagi, berarti semua stakeholders sudah diidentifikasi.

Pengkajian dilakukan secara mendalam untuk setiap stakeholders terkait dengan

peran dan keterlibatannya dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional serta

untuk analisis kebijakan pengembangan pasar tradisional terkait dengan

pemahaman stakeholders terhadap setiap tahapan proses dan penerapan kebijakan.


Pemilihan responden untuk analisis PHA dilakukan dengan metode

Purposive Sampling, yaitu metode pengambilan contoh responden tidak secara

acak tetapi pemilihan secara sengaja dengan pertimbangan baik individu atau

lembaga sebagai responden yang mengerti permasalahan yang terjadi dan

memiliki pengaruh dalam pengambilan kebijakan baik langsung maupun tidak

langsung pada pelaksanaan kebijakan atau memberi masukan kepada para

pengambil kebijakan yaitu Pemerintah, Non Pemerintah, dan Masyarakat.

Responden antara lain: Staf atau Pejabat Pemda, Bapeda, Disperindagkop,

Dispenda, DTKP, dan DLHK.

3.5. Analisis Data

3.5.1. Analisis Stakeholders

Untuk menilai kebijakan pengembangan pasar tradisional, diperlukan

suatu analisis stakeholders yang terkait dengan kebijakan tersebut. Analisis

stakeholders adalah sebuah proses sistematis untuk mengumpulkan dan

menganalisis informasi secara kualitatif untuk menentukan kepentingan siapa

yang harus diperhitungkan ketika mengembangkan atau menerapkan suatu

kebijakan atau program (Schmeer, 2007). Stakeholders dapat diartikan sebagai

individu, kelompok atau lembaga yang kepentingannya dipengaruhi oleh isu atau

pihak yang tindakannya secara kuat mempengaruhi isu. Stakeholders dibagi

menjadi tiga kelompok berdasarkan besar kecilnya pengaruh atau kepentingan

terhadap suatu kebijakan yaitu:

a. Stakeholders utama, mempunyai pengaruh yang lemah terhadap lahirnya suatu

kebijakan/keputusan tetapi kesejahteraan mereka sangat penting

dipertimbangkan bagi pengambil kebijakan/keputusan. Dalam hal ini adalah


masyarakat yang berada di sekitar areal yang akan dikembangkan serta pihak

lain yang memanfaatkan wilayah tersebut.

b. Stakeholders sekunder (tingkat kedua), yaitu mereka yang mempengaruhi

keputusan/kebijakan pada saat kebijakan dibuat (pembuat kebijakan) dan

pihak yang terkait dengan implementasi kebijakan tersebut. Pada program

pengembangan pasar tradisional ini, yang menjadi stakeholders sekunder

adalah pihak pemerintah daerah atau pihak swasta.

c. Stakeholders eksternal, adalah individu atau grup yang dapat menggunakan

pengaruhnya misalnya dengan melakukan lobi kepada pembuat keputusan.

Yang digolongkan pada stakeholders eksternal adalah Lembaga Swadaya

Masyarakat (LSM) dan pemerhati lingkungan (Brown et al., 2001 dalam

Dharmayanti, 2006).

Langkah-langkah dalam melakukan analisis stakeholders yaitu :

1. Membuat tabel stakeholders (Tabel 4)

• Membuat daftar semua stakeholders yang dapat mempengaruhi atau

dipengaruhi oleh program.

• Menuliskan kepentingan stakeholders (yang tertutup maupun terbuka) dalam

kaitannya dengan program dan tujuannya. Kepentingan stakeholders mengacu

pada motif dan perhatian mereka pada kebijakan atau program.

• Menuliskan kepentingan utama stakeholders minimal dua.

• Menuliskan sikap stakeholders terhadap kebijakan atau program. Sikap

mengacu pada reaksi utama dari berbagai stakeholders dalam memutuskan

pandangan terhadap kebijakan.

• Menilai sikap dari stakeholders terhadap kebijakan sebagai berikut :


3 = sangat mendukung/menyetujui

2 = cukup mendukung/menyetujui

1 = netral

-2 = cukup menentang/menolak

-3 = sangat menentang/menolak

• Membuat penilaian awal tentang tingkat kekuatan dan pengaruh dari masing-

masing stakeholders. Kekuatan stakeholders mengacu pada kuantitas

sumberdaya yang dimiliki stakeholders yaitu sumberdaya manusia (SDM),

finansial dan politik.

• Menentukan nilai tingkat kekuatan stakeholders dengan kriteria SDM,

finansial dan politik di mana :

5 = sangat kuat; 4 = kuat; 3 = rata-rata; 2 = lemah; 1 = sangat lemah

• Menentukan tingkat pengaruh yaitu jumlah dari tingkat kekuatan (SDM +

finansial + politik) dari masing-masing stakeholders.

• Menentukan nilai total yaitu perkalian antara sikap dengan pengaruh untuk

setiap stakeholders.

• Memutuskan kebutuhan keterlibatan stakeholders dalam kebijakan atau

program, di mana jika total < 10 maka stakeholders dapat diabaikan, dan jika

total > 10 maka stakeholders harus dilibatkan dalam kebijakan atau program.

• Menentukan tingkat keterlibatan stakeholders. Untuk analisis ini, stakeholders

dibagi dalam tiga grup yaitu :

Grup 1 dengan total = 10 – 20 maka stakeholders akan menjadi pihak

penerima informasi.
Grup 2 dengan total = 20 – 30 maka stakeholders akan menjadi pihak pemberi

pertimbangan.

Grup 3 dengan total > 30 maka stakeholders merupakan pihak pengambil

keputusan kebijakan.

Tabel 4. Analisis Stakeholders


Kriteria Evaluasi Keputusan
Stakeholders Kekuatan Tingkat
Kepentingan Sikap Pengaruh Total Keterlibatan
SDM Finansial Politik Keterlibatan

Sumber: Abdrabo dan Hassaan (2007)

2. Identifikasi partisipasi stakeholders yang tepat (lihat Gambar 2).

• Membuat ringkasan matriks partisipasi untuk mengklarifikasi peranan yang

harus dilaksanakan oleh semua stakeholders pada berbagai tahapan siklus

program.

• Membahas bersama stakeholders mengenai peranan yang harus mereka

lakukan, sehingga diketahui posisinya bila ditempatkan dalam matriks.


Tinggi

C (KEEP B (MANAGE
SATISFIED) CLOSELY)
*1
*4
*6
*2 * Stakeholders
Tingkat
Pengaruh
D (MONITOR) A (KEEP
INFORMED)
*7
*8
*3

Rendah Tinggi
Tingkat Kepentingan

Sumber: DFID (2006)

Gambar 2. Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders


Berdasarkan Gambar 2 menunjukkan keterangan sebagai berikut :

Kotak A :

Pihak yang sangat penting bagi kebijakan, tapi pengaruhnya rendah. Mereka

membutuhkan inisiatif khusus jika ingin melindungi kepentingan mereka. Pihak

ini harus terus diberikan informasi yang cukup mengenai kebijakan serta

meyakinkan mereka bahwa tidak ada masalah besar yang timbul. Pihak ini

seringkali sangat berguna bagi proses penyusunan kebijakan secara terperinci.

Kotak B :

Pihak yang sangat penting bagi kebijakan, tapi juga sangat penting bagi

pencapaian keberhasilan. Penyusun kebijakan dan donor perlu membina hubungan

kerja yang baik dengan para pihak ini untuk memastikan adanya dukungan

terhadap program. Stakeholders yang termasuk pihak ini harus dilibatkan secara

penuh dalam setiap proses maupun penerapan kebijakan.

Kotak C :

Pihak yang berpengaruh besar, karena dapat mempengaruhi hasil kebijakan, tapi

tidak memiliki minat terhadap kebijakan. Usaha nyata diperlukan untuk membuat

mereka tetap puas dengan hasil kebijakan.

Kotak D :

Pihak yang berada pada prioritas rendah, tapi membutuhkan monitoring dan

evaluasi yang terbatas. Mereka tidak mungkin menjadi subyek kebijakan.

Tingkat kepentingan dan pengaruh yang berbeda dari masing-masing

stakeholders memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan kebijakan

pengembangan pasar tradisional. Dalam kondisi yang ideal seharusnya

stakeholders yang memilki tingkat kepentingan yang tinggi, maka akan memiliki
pengaruh yang tinggi pula terhadap pelaksanaan kebijakan, begitu juga

sebaliknya. Sehingga penyebaran stakeholders dalam matriks akan membentuk

garis diagonal (DFID, 2006).

Analisis stakeholders dilakukan dengan cara mengolah data dan informasi

yang berhubungan dengan stakeholders yang terlibat dalam pelaksanaan

kebijakan pengembangan pasar tradisional. Pihak-pihak yang terlibat dalam

kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu pedagang, Badan

Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Bogor, Dinas Perindustrian Perdagangan dan

Koperasi (Disperindagkop) Kota Bogor, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan

(DLHK) Kota Bogor, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bogor, Dinas

Tata Kota dan Pemukiman (DTKP) Kota Bogor dan pihak pengelola pasar baik

swasta maupun UPTD.

Pada penelitian ini dibatasi untuk mengkaji tingkat kepentingan dan

pengaruh stakeholders di atas, karena stakeholders tersebut memiliki kepentingan

yang nyata terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional dan memiliki

pemahaman yang tinggi terhadap kebijakan. Selain itu terdapat beberapa

stakeholders yang terkait seperti masyarakat konsumen, Dinas Pemadam

Kebakaran, Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Dinas Tenaga Kerja dan

Sosial. Stakeholders ini tidak dimasukkan dalam kajian penelitian karena

kepentingannya terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional tergolong

rendah sekali serta stakeholders ini bukan merupakan pihak yang benar-benar

memahami kebijakan pengembangan pasar tradisional.


3.5.2. Analisis Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional

Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menggabungkan semua

informasi yang diperoleh dari stakeholders. Analisis meliputi tahapan pelaksanaan

kebijakan pengembangan pasar tradisional mulai dari tahap perencanaan, proses

penyusunan program, penerapan kebijakan hingga hasil yang diperoleh dari

kebijakan yang telah dilaksanakan. Analisis dilakukan dengan membandingkan

kesesuaian antara proses perencanaan kebijakan dengan pelaksanaan kebijakan

serta tujuan yang ingin dicapai dari kebijakan dengan hasil yang dicapai dan

manfaat kebijakan bagi stakeholders yang terlibat.

3.5.3. Proses Hierarki Analisis

Proses analisis yang dikembangkan tahun 1970-an ini dimaksud untuk

dapat mengorganisasikan informasi dan berbagai keputusan secara rasional

(judgement) agar dapat memilih alternatif yang paling disukai. Metode ini

dimaksudkan untuk membantu memecahkan masalah kualitatif yang komplek

dengan memakai perhitungan kuantitatif, melalui proses pengekspresian masalah

dimaksud dalam kerangka berpikir yang terorganisir, sehingga memungkinkan

dilakukannya proses pengambilan keputusan secara efektif. Metode ini memiliki

keunggulan tertentu karena membantu menyederhanakan persoalan yang komplek

menjadi persoalan yang berstruktur, sehingga mendorong dipercepatnya proses

pengambilan keputusan terkait. Menurut Saaty (1993) kerangka kerja PHA terdiri

dari delapan langkah utama sebagai berikut :

(b) Mendefinisikan persoalan dan merinci pemecahan persoalan yang diinginkan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam langkah ini adalah penguasaan masalah

secara mendalam, karena yang menjadi perhatian adalah pemilihan tujuan,


kriteria dan elemen-elemen yang menyusun struktur hierarki. Tidak terdapat

prosedur yang pasti untuk mengidentifikasikan komponen-komponen sistem,

seperti tujuan, kriteria dan aktivitas-aktivitas yang akan dilibatkan dalam suatu

sistem hierarki. Komponen-komponen sistem dapat diidentifikasikan

berdasarkan kemampuan pada analisa untuk menemukan unsur-unsur yang

dapat dilibatkan dalam suatu sistem.

(c) Membuat struktur hierarki dari sudut pandang manajemen secara menyeluruh.

Struktur hierarki ini mempunyai bentuk yang saling berkaitan, tersusun dari

sasaran utama, sub-sub tujuan, faktor-faktor pendorong yang mempengaruhi

sub-sub sistem tujuan tersebut, pelaku-pelaku yang memberi dorongan,

tujuan-tujuan pelaku dan akhirnya ke alternatif strategis, pilihan atau skenario.

Penyusunan hierarki ini berdasarkan jenis keputusan yang akan diambil. Pada

tingkat puncak hierarki hanya terdiri dari satu elemen yang disebut dengan

fokus, yaitu sasaran keseluruhan yang bersifat luas. Tingkat di bawahnya

dapat terdiri dari beberapa elemen yang dibagi dalam kelompok homogen,

agar dapat dibandingkan dengan elemen-elemen yang berada pada tingkat

sebelumnya.

(d) Menyusun matriks banding berpasangan. Matriks banding berpasangan

dimulai dari puncak hierarki yang merupakan dasar untuk melakukan

pembandingan berpasangan antar elemen yang terkait yang ada di bawahnya.

Pembandingan berpasangan pertama dilakukan pada elemen tingkat kedua

terhadap fokus yang ada di puncak hierarki. Menurut perjanjian, suatu elemen

yang ada di sebelah kiri diperiksa perihal dominasi atas yang ada di sebelah

kiri suatu elemen di puncak matriks.


(e) Mengumpulkan semua pertimbangan yang diperlukan dari hasil melakukan

perbandingan berpasangan antar elemen pada langkah tiga. Setelah itu

dilakukan perbandingan berpasangan antar setiap elemen pada kolom ke-i

dengan setiap elemen pada baris ke-j. Pembandingan berpasangan antar

elemen tersebut dilakukan dengan pertanyaan : ”Seberapa kuat elemen baris

ke-i didominasi atau dipengaruhi, dipenuhi, diuntungkan oleh fokus di puncak

hierarki, dibandingkan dengan kolom ke-i?”. Apabila elemen-elemen yang

diperbandingkan merupakan suatu peluang atau waktu, maka pertanyaannya

adalah : ”Seberapa lebih mungkin suatu elemen baris ke-i dibandingkan

dengan elemen kolom ke-j sehubungan dengan elemen di puncak hierarki?”.

Untuk mengisi matriks banding berpasangan, digunakan skala banding yang

tertera pada Tabel 5. Angka-angka yang tertera menggambarkan relatif

pentingnya suatu elemen dibanding dengan elemen lainnya sehubungan

dengan sifat atau kriteria tertentu. Pengisian matriks hanya dilakukan untuk

bagian di atas garis diagonal dari kiri ke kanan bawah.

(f) Memasukkan nilai-nilai kebalikannya beserta bilangan sepanjang diagonal

utama. Angka satu sampai sembilan digunakan bila F, lebih mendominasi atau

mempengaruhi sifat fokus puncak hierarki (X) dibandingkan dengan Fj.

Sedangkan bila F, kurang mendominasi atau kurang mempengaruhi sifat X

dibandingkan Fj maka digunakan angka kebalikannya. Matriks di bawah garis

diagonal utama diisi dengan nilai-nilai kebalikannya. Contoh: bila elemen F24

memiliki nilai tujuh, maka nilai elemen F42 adalah 1/7.


Tabel 5. Nilai Skala Banding Berpasangan
Intensitas Definisi Penjelasan
Pentingnya
1 Kedua elemen sama pentingnya. Dua elemen menyumbang sama besar pada
sifat tersebut.

3 Elemen yang satu sedikit lebih Pengalaman dan pertimbangan sedikit


penting daripada elemen yang menyokong satu elemen atas yang lainnya.
lainnya.

5 Elemen yang satu sangat Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat


penting daripada elemen yang menyokong satu elemen atas yang lainnya.
lainnya.

7 Satu elemen jelas lebih penting Satu elemen dengan kuat disokong dan
daripada elemen yang lainnya. dominasinya telah terlihat dalam praktek.

9 Satu elemen mutlak lebih Bukti yang menyokong elemen yang satu
penting daripada elemen yang atas yang lainnya memiliki tingkat
lainnya. penegasan yang tertinggi yang mungkin
menguatkan.

2,4,6,8 Nilai-nilai antara di antara dua Kompromi diperlukan di antara dua


pertimbangan yang berdekatan. pertimbangan.

Kebalikan Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka (x) jika dibandingkan dengan
aktivitas j, maka memiliki nilai kebalikannya (1/x).
Sumber: Saaty, 1993

(g) Melaksanakan langkah tiga, empat dan lima, untuk semua tingkat dan gugusan

dalam hierarki tersebut. Pembandingan dilanjutkan untuk semua elemen pada

setiap tingkat keputusan yang terdapat pada hierarki, berkenaan dengan

kriteria elemen di atasnya. Matriks pembandingan dalam metode PHA

dibedakan menjadi : (1) Matriks Pendapat Individu (MPI) dan (2) Matriks

Pendapat Gabungan (MPG). MPI adalah matriks hasil pembandingan yang

dilakukan individu. MPI memiliki elemen yang disimbolkan dengan a, yaitu

elemen matriks pada baris ke-i dan kolom ke-j. Matriks pendapat individu

dapat dilihat pada Tabel 6.


Tabel 6. Matriks Pendapat Individu
X A1 A2 Aj ........... An
A1 a11 a12 a1j ........... a1n
A2 a21 a22 a2j ........... a2n
Ai a31 ai2 aij ........... ain
.......... ........... ........... ........... ........... ...........
An an1 an2 anj ........... Ann
Keterangan:
X : kriteria sebagai dasar pembanding.
Ai, Aj : elemen-elemen pembanding.
ai, aj : angka pembanding elemen baris ke-i terhadap elemen kolom ke-j yang diperoleh dengan
menggunakan skala berbanding berpasangan.
Sumber: Saaty, 1993

MPG adalah susunan matriks baru yang elemen (gij) berasal dari rata-rata

geometrik pendapat-pendapat individu yang rasio inkonsistensinya lebih kecil

atau sama dengan sepuluh persen dan setiap elemen pada baris dan kolom yang

sama dari MPI yang satu dengan MPI yang lain tidak terjadi konflik. Persyaratan

MPG yang bebas dari konflik adalah :

(1) Pendapat masing-masing individu pada baris dan kolom yang sama memiliki

selisih kurang dari empat satuan antara nilai pendapat individu yang tertinggi

dengan nilai yang terendah.

(2) Tidak terdapat angka kebalikan (resiprokal) pada baris dan kolom yang sama.

MPG dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Matriks Pendapat Gabungan


X A1 A2 Aj ........... An
G1 g11 g12 g1j ........... g1n
G2 g21 g22 g2j ........... g2n
Gi g31 gi2 gij ........... gin
.......... ........... ........... ........... ........... ...........
Gn gn1 gn2 gnj ........... gnn
Sumber: Saaty, 1993

Rumus matematika yang digunakan untuk memperoleh rata-rata geometrik

m
adalah: g ij = m π(aij )k
k =1

di mana : g ij = elemen MPG baris ke-i kolom ke-j


(aij )k = elemen baris ke-i kolom ke-j dari MPI ke-k
m = jumlah MPI yang memenuhi persyaratan
m
π = perkalian dari elemen k = 1 sampai k = m
k =1
m = akar pangkat m

(h) Mensintesis prioritas untuk melakukan pembobotan vektor-vektor prioritas.

Menggunakan komposisi secara hierarki untuk membobotkan vektor-vektor

prioritas itu dengan bobot kriteria-kriteria dan menjumlahkan semua nilai

prioritas terbobot yang bersangkutan dengan nilai prioritas dari tingkat bawah

berikut dan seterusnya .

Pengolahan matriks pendapat terdiri dari dua tahap, yaitu (1) pengolahan

horisontal dan (2) pengolahan vertikal. Kedua jenis pengolahan tersebut dapat

dilakukan untuk MPI dan MPG. Pengolahan vertikal dilakukan setelah MPI dan

MPG diolah secara horisontal, dimana MPI dan MPG harus memenuhi

persyaratan inkonsistensi.

a. Pengolahan Horisontal, terdiri dari tiga bagian, yaitu penentuan Vektor

Prioritas (Vektor Eigen), uji konsistensi dan revisi MPI dan MPG yang

memiliki Rasio Inkonsistensi tinggi. Tahapan perhitungan yang dilakukan

pada pengolahan horisontal ini adalah :

(1) Perkalian baris (Z) dengan rumus :


n
Z i = π aij (i,j = 1, 2,3, ... n)
k =1

(2) Perhitungan Vektor Prioritas (VP) atau Eigenvektor adalah :

n
n π aij
k =1
VPi = n
VP = (Vpi), untuk i = 1, 2, 3, ... n)
n

i =1
n π aij
k =1
(3) Perhitungan Nilai Eigen Maks (Maks) dengan rumus :

VA = (aij ) × Vp dengan VA = (vai)

VB = VA VP dengan VB = (vbi)
n
1
λ maks = ∑ vbi
n i =k
untuk i = 1, 2, 3, ... n

(4) Perhitungan Indeks Konsistensi (CPI) dengan rumus :

λ maks − n
CI =
n −1
(5) Perhitungan Rasio Inkonsistensi (CI) adalah :

CR = CI RI
Tabel 8. Daftar Nilai Random Indeks
Ordo Matriks (n) Indeks Random (RI)
1 0
2 0
3 0,5
4 0,90
5 1,12
6 1,24
7 1,32
8 1,41
9 1,45
10 1,19
11 1,51
12 1,48
13 1,56
14 1,57
15 1,59
Sumber: Oak Ridge National

Nilai rasio inkonsistensi (CR) yang lebih kecil atau sama dengan 0,1

merupakan nilai yang mempunyai tingkat konsistensi yang baik dan dapat

dipertanggungjawabkan. Hal ini dikarenakan CR merupakan tolok ukur bagi

konsistensi atau tidaknya suatu hasil perbandingan berpasangan dalam suatu

matriks pendapat (Saaty, 1993).

b. Pengolahan Vertikal, yaitu menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada

tingkat hierarki keputusan tertentu terhadap sasaran utama atau fokus. Apabila
Cvij didefinisikan sebagai nilai prioritas pengaruh elemen ke-j pada tingkat ke-

i terhadap sasaran utama, maka :

CVij = ∑ CH ij (t ; i − 1) × VWt ( a − 1)

Untuk ; i = 1, 2, 3, ... n; j = 1, 2, 3, ... n; t = 1, 2, 3, ... n


di mana :
CH ij (t; i − 1) = nilai prioritas elemen ke-i terhadap elemen ke-t pada tingkat di
atasnya (i-1), yang diperoleh dari hasil pengolahan horisontal
VWt (i − 1) = nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat ke (i-t) terhadap
sasaran utama, yang diperoleh dari hasil perhitungan horisontal
P = jumlah tingkat hierarki keputusan
r = jumlah elemen yang ada pada tingkat ke-i
s = jumlah elemen yang ada pada tingkat ke (i-t)

c. Mengevaluasi inkonsistensi untuk seluruh hierarki. Pada pengisian judgement

pada tahap MPB (Matriks Banding Berpasangan) terdapat kemungkinan

terjadinya penyimpangan dalam membandingkan elemen satu dengan elemen

yang lainnya, sehingga diperlukan suatu uji konsistensi. Dalam PHA

penyimpangan diperbolehkan dengan toleransi Rasio Inkonsistensi di bawah

sepuluh persen. Langkah ini dilakukan dengan mengalikan setiap indeks

konsistensi dengan prioritas-prioritas kriteria yang bersangkutan dan

menjumlahkan hasil kalinya. Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis yang

menggunakan indeks konsistensi acak, yang sesuai dengan dimensi masing-

masing matriks. Untuk memperoleh hasil yang baik, rasio inkonsistensi

hierarki harus bernilai kurang dari atau sama dengan sepuluh persen.

3.5.4. Struktur Hierarki Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional

Penentuan struktur hierarki dalam Proses Hierarki Analisis (Lampiran 3)

didasarkan pada literatur-literatur dan didiskusikan bersama dengan narasumber.

Struktur hierarki ini terdiri dari empat level sebagai berikut :


1. Level pertama merupakan tujuan dari dilakukannya proses hierarki analisis

yaitu pengembangan pasar tradisional. Tujuan ini ditetapkan terkait dengan hasil

analisis kebijakan sehingga dapat digunakan sebagai masukan untuk pemerintah

daerah bagi kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor.

2. Level kedua yaitu penentuan aspek yang paling diutamakan dalam tujuan

pengembangan pasar tradisional, terdiri dari :

• Aspek ekonomi, penentuan aspek ini didasarkan pada kebijakan pembangunan

di Kota Bogor yang dititikberatkan pada pembangunan ekonomi, sehingga

tujuan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat diarahkan untuk

pertumbuhan ekonomi.

• Aspek manajemen, penentuan aspek ini didasarkan pada kebutuhan akan

pengelolaan manajemen pasar secara lebih profeional.

• Aspek teknis, penentuan aspek ini didasarkan pada kondisi riil di mana pasar

tradisional mulai tersaingi oleh keberadaan pasar modern yang lebih bersih,

menarik dan rapi sehingga aspek ini penting untuk diperhitungkan.

• Aspek sosial, penentuan aspek ini didasarkan pada keberadaan pasar

tradisional yang tidak lepas dari kehidupan sosial masyarakat karena adanya

proses pertemuan langsung antara pembeli dan penjual.

3. Level ketiga merupakan kriteria dari aspek-aspek pada level kedua, yaitu :

• Aspek ekonomi, kriterianya yaitu meningkatkan PAD, menciptakan lapangan

kerja dan meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat.

• Aspek manajemen, kriterianya yaitu meningkatkan manajemen pengelolaan

pasar tradisional secara profesional; membentuk pasar tradisional menjadi


usaha yang efisien; meningkatkan pelayanan kepada masyarakat; penataan dan

pembinaan PKL.

• Aspek teknis, kriterianya yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan

kondisi fisik pasar lebih bersih dan rapi.

• Aspek sosial, kriterianya yaitu mengurangi potensi konflik dengan

masyarakat; terciptanya kondisi pasar yang aman, nyaman dan bersih bagi

konsumen dan menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih

kompetitif.

4. Level keempat merupakan alternaif strategi bagi pengembangan pasar

tradisional yang terdiri dari :

• Pembentukan PD. Pasar, pemilihan strategi ini didasarkan pada rekomendasi

dari penelitian yang dilakukan oleh Balitbangdiklat dan PT. Oxalis Subur.

Penelitian ini menyatakan bahwa upaya untuk mengembangkan pasar

tradisional di Kota Bogor dapat dilakukan dengan pembentukan PD. Pasar

bagi seluruh pasar tradisional yang ada di Kota Bogor. Hasil dari penelitian ini

menunjukkan bahwa pasar tradisional di Kota Bogor layak untuk dijadikan

sebagai PD. Pasar dilihat dari potensi dan peluangnya.

• Pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar, pemilihan strategi ini

didasarkan untuk mendorong pedagang supaya lebih berkembang dan mandiri

dalam usahanya. Pemberdayaan pedagang dilaksanakan dengan memberikan

penyuluhan kepada para pedagang mengenai kewirausahaan, pengelolaan

usaha sehingga lebih efisien dan sistem pemasaran. Pemberdayaan pengelola

pasar dilakukan dengan pemberian pelatihan atau diklat tentang manajemen

usaha yang profesional.


• Pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun. Salah satu kendala

dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu banyaknya

pedagang yang tidak mau menempati kios-kios yang ada di pasar-pasar yang

baru dibangun. Akibatnya mereka lebih memilih menjadi PKL yang tersebar

di sekitar Pasar Kebon Kembang, Pasar Baru Bogor, di Jalan Surya Kencana

dan di Jalan Otista. Hal tersebut berdampak pada pasar-pasar yang baru

dibangun oleh Pemerintah. Akibat sepinya pedagang maka konsumen pun

enggan berbelanja di pasar tersebut. Maka strategi ini dapat menjadi alternatif

dengan mendistribusikan seluruh PKL ke pasar-pasar yang belum terisi seperti

Pasar Jambu Dua, Pasar Cimanggu, Pasar Tanah Baru dan Pasar Pamoyanan.

• Pembangunan pasar lingkungan, penentuan strategi ini didasarkan pada

kondisi geografis dan budaya masyarakatnya yang lebih suka berbelanja di

tempat yang dekat dengan rumahnya. Pasar lingkungan merupakan pasar yang

berskala pemukiman dan lebih bersifat tidak permanen. Meskipun

bangunannya tidak permanen bukan berarti kondisinya tidak baik, hal ini pula

dapat menjadi insentif bagi pedagang karena harga kios yang jauh lebih

murah.

• Menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi, pemilihan strategi ini

didasarkan pada upya untuk meningkatkan pertumbuhan pasar tradisional

melalui kemitraan yang dijalin dengan UKM dan koperasi, karena basis

kegiatan dari pasar tradisional merupakan usaha yang bersifat kerakyatan.

Adanya UKM maka pasar tradisional dapat menjadi tempat pemasaran bagi

produk-produk UKM sehingga akan lebih berkembang. Koperasi dapat

membantu para pedagang di pasar tradisional terutama dalam hal permodalan.


• Pemberian bantuan kredit, pemilihan strategi ini karena salah satu

permasalahan utama yang dimiliki pedagang yaitu kepemilikan modal.

Seringkali terjadi banyak pedagang yang mengalami kebangkrutan akibat

tidak memiliki modal dan terpaksa menjadi pengangguran. Untuk

pengembangan pasar tradisional, maka pemberian bantuan kredit kepada para

pedagang sangat diperlukan. Pemerintah dapat memfasilitasi pedagang dengan

kredit bunga kecil melalui koperasi.

• Pembentukan forum komunikasi. Alternatif ini dipilih karena untuk

merencanakan suatu kebijakan dalam pengembangan pasar tradisional perlu

dibuat forum komunikasi di mana semua pihak yang berkepentingan terlibat.

Sehingga tujuan yang ingin dicapai melalui kebijakan dapat mengakomodir

semua kepentingan dari stakeholders. Forum komunikasi yang dilaksanakan

harus melibatkan instansi Pemerintah Daerah, Pemerintah Kelurahan,

Pemerintah Kecamatan, pihak pengelola pasar baik UPTD maupun swasta dan

pedagang serta masyarakat sekitar pasar.


IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Keadaan Perekonomian Wilayah Kota Bogor

Kota Bogor memiliki luas wilayah 11.850 km2. Jarak dari Jakarta kira-kira

sejauh 60 km2. Hal ini mengakibatkan Kota Bogor memiliki potensi yang strategis

untuk menjadi pusat perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Pada

Tabel 9 terlihat bahwa laju pertumbuhan ekonomi Kota Bogor mencapai 30,33

persen pada tahun 2005. Angka relatif ini mengalami peningkatan dibandingkan

dengan tahun 2004. Sektor yang memiliki kontribusi paling besar pada

pertumbuhan perekonomian Kota Bogor adalah sektor perdagangan, hotel dan

restoran, yaitu sebesar 41,86 persen, dengan sub sektor perdagangan besar dan

eceran sebagai kontributor terbesar.

Tabel 9. Laju Pertumbuhan PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga Berlaku
dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2005
PDRB Atas Dasar PDRB Atas Dasar
Kode
Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan
Sektor
2004*) 2005**) 2004*) 2005**)
1 Pertanian 11,62 10,82 4,73 4,28
2 Pertambangan & Penggalian - - - -
3 Industri Pengolahan 18,41 26,02 6,62 6,63
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 13,27 13,95 7,09 7,05
5 Bangunan 12,67 12,72 4,41 4,24
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 41,15 41,86 4,10 4,10
7 Angkutan dan Komunikasi 22,32 27,02 7,13 6,85
8 Keuangan, Persewaan & Jasa 14,32 20,21 10,76 10,86
Perusahaan
9 Jasa-jasa 7,93 9,86 4,82 4,88
PRODUK DOMESTIK REGIONAL
25,93 30,33 6,10 6,12
BRUTO
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Bogor 2005
*) Angka Perbaikan
**) Angka Sementara

Sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor yang

memberikan kontribusi paling besar dalam menunjang pembangunan di Kota

Bogor. Oleh karena itu berdasarkan Perda No. 1 Tahun 2000 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor 1999-2009, Kota Bogor memiliki

fungsi sebagai kota perdagangan, industri, pemukiman dan wisata ilmiah. Strategi

pembangunan dalam mewujudkan fungsi kota tersebut antara lain melalui

pembenahan aspek fisik dan lingkungan, ekonomi dan politik. Pembenahan aspek

fisik dan lingkungan untuk mendukung fungsi kota sebagai kota perdagangan,

berupa penataan fasilitas perdagangan dan jasa meliputi penyelesaian

pembangunan tiga unit pasar induk, yaitu Pasar Jambu Dua, Pasar Cimanggu dan

Pasar Induk Kemang. Pada tahun 1999 – 2004, Pemda Kota Bogor membangun

dua pasar tradisional di Kecamatan Bogor Utara yaitu Pasar Tanah Baru dan di

Kecamatan Bogor Selatan yaitu Pasar Pamoyanan.

Pembenahan aspek ekonomi diarahkan pada upaya mewujudkan Kota

Bogor sebagai bursa perdagangan komoditi penting di tingkat regional, nasional

dan internasional melalui peningkatan aktivitas pasar-pasar tradisional, pasar-

pasar modern, maupun pasar maya di internet dalam rangka memasyarakatkan

pertumbuhan ekonomi, memberdayakan ekonomi rakyat dan mewujudkan

pemerataan kesejahteraan masyarakat. Langkah-langkah yang dilakukan antara

lain menjadikan Kota Bogor sebagai big station yang menjadi tempat transit

semua arus barang dan jasa di bidang pertanian, peternakan, industri kecil,

makanan-makanan khas dan hasil kesenian dengan membuat pasar-pasar induk,

kompleks pergudangan, dan pusat-pusat pameran untuk memaksimumkan

kapasitas perdagangan pada tingkat regional dan nasional. Penyediaan pasar-pasar

induk harus didukung oleh mekanisme pengaturan penggunaan sebagai pasar

massif yang hidup 24 jam dengan pembagian siang hari sebagai pasar eceran dan

malam hari sebagai pasar grosir (Pemerintah Kota Bogor, 2002).


4.2. Visi dan Misi Kota Bogor

Berdasarkan Perda No 1 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang

Wilayah Kota Bogor (Tahun 1999-2009), visi Kota Bogor sebagai berikut :

“KOTA JASA YANG NYAMAN


DENGAN MASYARAKAT MADANI DAN PEMERINTAHAN AMANAH”

Visi tersebut mengandung makna bahwa Kota Bogor akan diarahkan

untuk menjadi suatu kota yang aktivitas masyarakatnya terutama bergerak di

sektor jasa. Aktivitas-aktivitas lainnya yang ada di masyarakat, baik aktivitas

budaya, ekonomi, penataan fisik kota, maupun penanganan masalah kota, harus

merupakan pendukung bagi berkembangnya sektor jasa. Sektor jasa yang perlu

diprioritaskan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian Kota Bogor ke

depan terutama sektor tersier pada jasa perdagangan, hotel dan restoran; jasa

angkutan dan komunikasi; jasa keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta

jasa-jasa lainnya. Hal ini sesuai dengan peranan sektor tersebut kepada PDRB Kota

Bogor yang sangat dominan pada tahun 2003 yaitu atas dasar harga berlaku sebesar 61,75

persen, dibandingkan sektor primer sebesar 0,40 persen, sektor sekunder 37,85 persen.

Sedangkan kontribusi sektor tersier atas dasar harga konstan sebesar 60,85 persen,

dibandingkan sektor primer sebesar 0,39 persen, sektor sekunder 38,76 persen.

Terwujudnya kota jasa ditandai dengan tingginya PDRB Kota Bogor pada sektor jasa

serta tingginya jumlah penduduk yang bekerja pada sektor ini.

Kota Bogor sebagai kota jasa harus menjadi suatu kota yang nyaman yang

berarti bersih, indah, tertib, dan aman, serta berwawasan lingkungan sehingga di

setiap sudut manapun di Kota Bogor setiap orang dapat merasakan kenyamanan

sesuai yang diharapkan. Kondisi ini ditandai oleh tingkat kebersihan kota yang tinggi

yang diukur dengan tingkat cakupan pelayanan kebersihan dan tingkat pencemaran
lingkungan yang rendah terutama pencemaran air dan udara/kebisingan, serta tingkat

pelanggaran terhadap peraturan daerah yang rendah. Masyarakat madani berarti

bahwa masyarakat Kota Bogor harus memiliki derajat kualitas kehidupan yang

tinggi baik dari segi keimanan, pendidikan dan keterampilan, kesehatan, dan daya

beli masyarakat. Pemerintahan yang amanah yaitu pemerintahan yang baik yang

senantiasa mengacu kepada kepentingan masyarakat. Untuk dapat mewujudkan

kondisi ini harus ada dukungan dari pemerintahan, selaku regulator, yang amanah

dan memegang teguh komitmen yang ditandai dengan terwujudnya pelayanan

publik yang prima di segala bidang dengan indikator menurunnya pengaduan atas

pelayanan.

Sebagai penjabaran dari visi tersebut di atas, dirumuskan misi-misi Kota Bogor

sebagai berikut :

Misi Pertama : Mengembangkan perekonomian masyarakat dengan titik berat


pada jasa yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang
ada.

Misi ini mengandung makna bahwa pembangunan diarahkan kepada

peningkatan kemampuan ekonomi rakyat yang memprioritaskan pembangunan

ekonomi dalam rangka penanggulangan kemiskinan. Selain itu juga, diarahkan

untuk pengembangan sektor jasa agar lebih efisien, produktif dan berdaya saing.

Sektor jasa yang perlu diprioritaskan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian Kota

Bogor kedepan terutama sektor tersier pada jasa perdagangan, hotel dan restoran; jasa

angkutan dan komunikasi; jasa keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta jasa-jasa

lainnya.

Misi Kedua : Mewujudkan kota yang bersih, indah, tertib, dan aman dengan
sarana dan prasarana perkotaan yang memadai dan berwawasan
lingkungan.
Misi ini mengandung makna bahwa Kota Bogor akan diarahkan kepada

penampilan kota yang bersih, indah, tertib, dan aman, dengan memprioritaskan kepada

penanganan masalah transportasi, sampah, dan Pedagang Kaki Lima (PKL). Kualitas dan

kuantitas sarana dan prasarana perkotaan juga akan terus ditingkatkan untuk dapat

mengarah kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat dengan tetap memperhatikan

konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan sehingga masyarakat kota dapat

merasa kenyamanan kotanya.

Misi Ketiga : Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan
berketerampilan.

Misi ini mengandung makna bahwa pembangunan akan diarahkan kepada

peningkatan kualitas sumber daya manusia sehingga masyarakat Kota Bogor memiliki

tingkat pendidikan dan derajat kesehatan yang tinggi dengan tetap memiliki kadar

keimanan disertai keterampilan yang memadai agar mampu menjadi masyarakat yang

mandiri.

Misi Keempat : Mewujudkan pemerintahan kota yang efektif dan efisien serta
menjunjung tinggi supremasi hukum.

Misi ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan diarahkan

kepada pelaksanaan otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab dengan

menerapkan prinsip-prinsip good governance dan clean government, sehingga mampu

memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat dengan disertai penegakkan

supremasi hukum.

4.3. Kebijaksanaan Pengelolaan Pasar di Wilayah Kota Bogor

Menurut Perda Kota Bogor Nomor 7 Tahun 2005 tentang penyelenggaraan

pasar, menyatakan bahwa pasar adalah tempat yang ditetapkan oleh Pemerintah

Daerah sebagai tempat bertemunya pihak penjual dan pihak pembeli untuk
melaksanakan transaksi di mana proses jual beli barang atau jasa terbentuk,

sedangkan pelayanan pasar adalah fasilitas pasar berupa kios atau los yang

dikelola Pemerintah Daerah dan khusus disediakan untuk pedagang.

Pada tahun 1991 berdasarkan Perda Nomor 13 Tahun 1991 tentang

Peraturan Pasar di Wilayah Kota Bogor, Pemerintah Daerah Kota Bogor

mendirikan Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) yang bertanggung jawab langsung

kepada Walikota. Pada tahun 2001, DPP diubah menjadi Unit Pelaksana Teknis

Dinas Pengelolaan Pasar (UPTD Pengelolaan Pasar) yang berada di bawah

wewenang Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop).

Pembentukan UPTD Pengelolaan Pasar berdasarkan Surat Keputusan Walikota

Nomor 2 Tahun 2001 dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2001 tentang

perubahan pertama organisasi dan tata kerja UPTD. Pengelolaan pasar di Kota

Bogor saat ini dilaksanakan oleh UPTD yang berada di bawah Kepala

Disperindagkop. Bagan struktur organisasi Disperindagkop dan UPTD dapat

dilihat pada Lampiran 4 dan 5.

Sampai saat ini telah ada 7 unit pasar yang berada di bawah pembinaan

dan pengawasan UPTD dengan kondisi sebagai berikut :

4.3.1. Pasar Besar

Pasar besar terdiri atas Pasar Kebon Kembang dan Pasar Baru Bogor.

Kedua pasar ini terletak di Kecamatan Bogor Tengah, dan menjadi tempat

masyarakat sekitar memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pasar Kebon Kembang merupakan pasar yang terluas yaitu 26.757 m2

sehingga jumlah pedagangnya pun paling banyak yaitu 2.326 orang yang terdiri

atas 744 pedagang kios, 1.424 pedagang los dan 158 pedagang kaki lima (PKL).
Pasar ini mempunyai dua lantai yaitu basement dan lantai satu dan dibagi atas

blok-blok A, B, C, D, E, F, dan G. Blok C dan D tidak dikelola oleh Pemerintah

tetapi dikelola oleh pihak swasta yaitu PT. Propindo Mulia Utama. Kegiatan pasar

ini dimulai pagi hari hingga sore hari.

Jumlah pedagang di Pasar Baru Bogor sebanyak 1.529 orang yang terdiri

dari pedagang kios sebanyak 1.091 orang, pedagang los 88 orang dan PKL

sebanyak 350 orang. Para pedagang ini tersebar di dua lantai yaitu lantai dasar dan

lantai satu. Lantai dasar banyak digunakan untuk berjualan sayuran, buah-buahan,

daging, ikan, sembako dan lainnya. Lantai satu umumnya digunakan untuk

berjualan pakaian, sembako, beras, obat dan barang-barang yang kering. Di lantai

satu tidak disediakan tempat berdagang berupa los. Pasar Baru Bogor beroperasi

pagi hari hingga sore hari. Malam hari di sekitar pasar bermunculan para

pedagang sayur mayur yang berjualan mulai jam 19.00 hingga jam 07.00 WIB,

sehingga pada malam hari pasar ini selalu ramai.

4.3.2. Pasar Sedang

Pasar sedang terdiri dari Pasar Jambu Dua, Merdeka dan Sukasari. Pasar

Jambu Dua baru berdiri selama kurang lebih tujuh tahun. Pedagang di pasar ini

umumnya pedagang yang berasal dari Pasar Ramayana yang telah ditutup.

Jumlah pedagang di Pasar Jambu Dua sebanyak 425 orang terdiri dari

pedagang di kios 304 orang, 31 orang pedagang los dan 90 orang PKL. Jumlah

kios dan los yang ada sebanyak 756 buah dan hampir separuhnya masih kosong

karena menurut para pedagang pasar ini belum terlalu ramai sehingga keuntungan

yang diperoleh belum memadai. Pasar Jambu Dua terdiri dari dua lantai. Lantai

dasar diisi oleh kios dan los. Lantai satu sebagian besar merupakan los PKL yang
tersebar di pelataran pasar dan baru terlihat aktifitasnya pada sore hingga malam

hari.

Unit Pasar Merdeka mengelola kios atau los yang tersebar di daerah yang

berbeda yaitu Pasar Merdeka sendiri, Pasar Devries yang terletak di daerah

Panaragan, kios di jalan Pejagalan dan kios yang ada di sekitar Taman Kencana.

Kios dan los yang ada seluruhnya berjumlah 601 buah dengan pedagang 436

orang. Pasar ini beroperasi mulai pagi hingga sore hari.

Pasar Sukasari terdiri dari dua lantai dan beroperasi pada pagi hingga sore

hari tetapi pada tengah hari biasanya sudah banyak kios dan los yang tutup karena

pengunjung mulai berkurang. Kios dan los yang ada berjumlah 275 buah dengan

jumlah pedagang 173 orang terdiri dari 108 pedagang kios, 32 orang pedagang los

dan 33 orang PKL.

4.3.3. Pasar Kecil

Pasar kecil terdiri atas Pasar Gunung Batu dan Pasar Padasuka. Pasar

Gunung Batu terletak di Kecamatan Bogor Barat, terdiri atas dua lantai yaitu

lantai dasar dan lantai atas. Pasar ini beroperasi pada pagi hari hingga sore hari.

Jumlah kios dan los sekitar 203 buah dengan jumlah pedagang 248 orang terdiri

dari 122 pedagang kios, 76 pedagang los dan 50 PKL.

Pasar Padasuka terletak di Kecamatan Bogor Barat. Pasar ini beroperasi

pada pagi hingga sore hari. Jumlah kios dan los sekitar 220 buah dengan jumlah

pedagang 374 orang terdiri dari 64 pedagang kios, 150 orang pedagang los dan

160 orang PKL.

Adapun Pasar Cimanggu dan Pasar Induk Kemang masih dikelola oleh

pihak swasta, antara lain oleh PT. Mayo Waya dan PT. Galvindo Ampuh sehingga
kedua pasar tersebut tidak bertangung jawab kepada UPTD. Kontribusi dari kedua

pihak swasta tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupa pajak yang

dibayarkan kepada Dinas Pendapatan Daerah selama masa kontrak. Pasar Tanah

Baru dan Pasar Pamoyanan belum memberikan kontribusi terhadap PAD Kota

Bogor karena tidak adanya pemungutan retribusi oleh UPTD. Hal ini dikarenakan

kedua pasar tersebut masih berstatus tidak aktif karena sepinya pedagang dan

pembeli.

UPTD Pengelolaan Pasar memiliki tugas pokok, yaitu melaksanakan

pengelolaan pasar. Sedangkan fungsi UPTD antara lain :

a. Penyusunan rencana program dan rencana kerja UPTD pasar.

b. Pengelolaan administrasi keuangan dan administrasi umum di lingkungan

UPTD pasar.

c. Pelaksanaan koordinasi, pengendalian dan pengawasan kegiatan dalam

penggunaan sarana dan prasarana pasar.

d. Perumusan kebijaksanaan teknis di bidang pengelolaan pasar.

Secara khusus, tugas UPTD di bidang pendapatan adalah melaksanakan

pengelolaan pemungutan retribusi pasar serta melaksanakan pelayanan terhadap

pedagang maupun pengunjung pasar terutama dalam menciptakan situasi aman

dan nyaman. Besarnya tarif retribusi mengacu pada Perda Kota Bogor Nomor 3

Tahun 2006 tentang retribusi pelayanan pasar, seperti yang tercantum pada Tabel

10.
Tabel 10. Besarnya Tarif Retribusi Pasar di Wilayah Kota Bogor
(Tarif Rp/M2/hari)
KIOS LOS
KELAS PASAR
0 – 5 m2 > 5 m2 0 – 5 m2 > 5 m2
Pasar Regional 600 650 550 600
Pasar Kota 550 600 500 550
Pasar Wilayah 500 550 450 500
Pasar Lingkungan 450 500 400 450
Sumber : Perda Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2006

Para pedagang yang melakukan kegiatan jual beli terdiri dari pedagang

tetap dan pedagang musiman. Pedagang tetap adalah mereka yang memiliki kios

dan los di dalam pasar. Ada juga pedagang yang berjualan di depan kios orang

lain. Sedangkan pedagang tidak tetap atau yang bersifat musiman umumnya

berjualan di pelataran jalan atau tempat parkir. Pedagang-pedagang tersebut

dikenakan tarif retribusi sesuai ketentuan yang berlaku. Sedangkan pedagang kaki

lima tidak dikenakan tarif retribusi.


V. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL

5.1. Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional

Keberadaan pasar tradisional yang berada di tengah kota telah

menyebabkan ketimpangan pertumbuhan pembangunan ekonomi yaitu masih

terpusatnya kegiatan perekonomian di pusat kota. Kondisi ini selain menimbulkan

ketidakmerataan hasil pembangunan, juga mengakibatkan menumpuknya arus

orang dan barang ke pusat kota yang pada akhirnya menimbulkan dampak seperti

kemacetan lalu lintas dan pencemaran lingkungan. Hal ini kemudian menjadi

salah satu dasar dari perumusan kebijakan perdagangan. Atas dasar itu, dalam

RTRW Kota Bogor 1999-2009 telah direncanakan untuk merelokasi pasar dari

pusat kota ke daerah pinggiran dan membangun pasar-pasar di setiap kecamatan.

Kebijakan ini dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di daerah-

daerah pinggiran. Pasar tradisional yang akan dibangun sebagai berikut :

a. Pasar Katulampa di Kecamatan Bogor Timur

b. Pasar Cimanggu di Kecamatan Tanah Sareal

c. Pasar Tanah Baru di Kecamatan Bogor Utara

d. Pasar Bubulak di Kecamatan Bogor Barat

e. Pasar Pamoyanan di Kecamatan Bogor Selatan

Salah satu program yang berkaitan dengan RTRW Kota Bogor 1999-2009

yaitu memindahkan pasar tradisional yang lokasinya terletak di tengah kota ke

daerah pinggiran. Pasar yang dipindahkan adalah Pasar Ramayana. Pasar ini

merupakan pasar induk untuk sayur mayur yang melayani wilayah Kota Bogor

dan sekitarnya. Pasar Ramayana terletak di Kecamatan Bogor Tengah dan bekas

lokasinya sekarang dibangun Bogor Trade Mall. Keberadaan Pasar Ramayana


yang berada di tengah kota menimbulkan banyak keluhan dari warga Bogor yang

tinggal di sekitar pasar tersebut2. Adanya pasar ini telah menimbulkan kemacetan

lalu lintas dan menebarkan bau yang tidak sedap bagi lingkungan sekitar akibat

sampah yang menumpuk.

Pemda Kota Bogor menetapkan kebijakan untuk memindahkan lokasi

Pasar Ramayana. Pada mulanya lokasi yang menjadi tempat pemindahan Pasar

Ramayana hanya Pasar Jambu Dua, kemudian terdapat tawaran dari pihak swasta

untuk membangun dan mengelola Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu. Pada

akhirnya ditetapkan bahwa Pasar Ramayana akan direlokasi ke tiga tempat yaitu

Pasar Induk Jambu Dua, Pasar Induk Kemang dan Pasar Grosir Cimanggu.

Kesepakatan antara Pemerintah dan pihak swasta berupa sistem sewa

kontrak, yaitu pihak swasta menyerahkan biaya sewa dan pajak selama masa

kontrak dan apabila masa kontrak telah habis maka pengelolaan pasar diserahkan

kembali kepada Pemerintah. Pemerintah melakukan suatu uji kelayakan yang

dilaksanakan oleh Bapeda Kota Bogor untuk menentukan apakah lokasi yang

akan menjadi tujuan pemindahan merupakan lokasi strategis.

Sebelum pemindahan Pasar Ramayana dilaksanakan, Pemerintah melalui

pihak pengelola pasar melaksanakan sosialisasi terhadap pedagang di Pasar

Ramayana dan warga sekitar pasar. Pihak pengelola pasar mendata pedagang yang

mau direlokasi ke pasar lain. Pedagang yang mau direlokasi harus membayar uang

muka terlebih dahulu untuk pembayaran kios. Pasar Jambu Dua disiapkan dengan

dibangun kios dan los sejumlah 750 buah sesuai dengan data pedagang yang mau

pindah.

2
Berdasarkan pernyataan dari narasumber di Bapeda Kota Bogor dan Disperindagkop Kota Bogor
Sosialisasi mengenai pembangunan pasar tradisional di empat kecamatan

dilakukan oleh Dinas Informasi, Pariwisata dan Kebudayaan melalui media

massa, sedangkan pada desa-desa sekitar pasar yang akan dibangun sosialisasi

dilakukan oleh aparat kelurahan dan kecamatan untuk menyampaikan maksud dan

tujuan pembangunan pasar tradisional.

5.2. Penerapan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional

5.2.1. Pemindahan Pasar Induk Ramayana

Relokasi Pasar Ramayana dilaksanakan setelah pembangunan dan

persiapan Pasar Jambu Dua, Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu selesai.

Pemindahan pedagang Pasar Ramayana ke ketiga pasar tersebut dilakukan dengan

undian. Pedagang akan mendapatkan kios baru di pasar yang sesuai dengan

undian yang diperolehnya. Pedagang yang tidak mau pindah ke ketiga pasar

tersebut lebih memilih menjadi pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Bogor pada

malam hari dan Pasar Kebon Kembang.

Tidak semua pedagang eks Ramayana menempati kios di Pasar Jambu

Dua, karena sebagian ada yang menempati Pasar Kemang dan Cimanggu.

Pemindahan pedagang Pasar Ramayana ke Pasar Jambu Dua dilakukan pada

tanggal 28 Juli – 9 Agustus 2000. Pasar Ramayana ditutup secara resmi pada

tanggal 10 Agustus 2000. Kondisi Pasar Induk Jambu Dua, Pasar Induk Kemang

dan Pasar Grosir Cimanggu pasca relokasi Pasar Ramayana sebagai berikut:

a) Pasar Induk Jambu Dua

Pasar Induk Jambu Dua (Gambar 3) dibangun oleh PT. Graha Agung Wibawa

tahun 1995 dan mulai beroperasi pada Agustus 2002. Pasar Jambu Dua terletak di

Jl. Ahmad Yani, Kecamatan Bogor Utara, yang memiliki luas lahan dan bangunan
sebesar 9.780 m2 terbagi menjadi dua blok, yaitu blok A dan B dengan luas

masing-masing 2.472 m2 dan 3.108 m2, sedangkan sisanya adalah luas jalan

sebesar 4.200 m2. Pembangunan Pasar induk Jambu Dua telah sesuai dengan

rencana yaitu los dengan ukuran 1,5 m x 2 m yang jumlahnya mencapai 756 los.

Pedagang yang memiliki tempat berdagang berupa los membuat sekat sendiri

sehingga bentuknya mirip dengan kios. Semua pedagang yang menempati los

telah membeli los tersebut. Pembelian tempat untuk los tersebut ditangani oleh

PT. Graha Agung Wibawa. Pengelolaan pasar ditangani oleh pihak Pemda, yang

meliputi pemungutan tarif retribusi dan penanganan sampah.

Sebagian pedagang Pasar Jambu Dua merupakan pedagang grosir tetapi masih

banyak juga yang merupakan pedagang eceran. Di pasar ini hanya blok A yang

aktif dalam kegiatan jual beli sayuran, sembako, daging dan beberapa keperluan

rumah tangga lainnya, sedangkan di blok B hanya terdapat beberapa orang

pedagang yang berjualan. Los yang tersedia tidak terisi semuanya. Pembelinya

pun masih berasal dari satu sisi yaitu dari Cibinong dan Depok serta penduduk

sekitar pasar.

Keramaian Pasar Jambu Dua masih relatif sepi dan komoditi yang

diperjualbelikan masih kurang lengkap. Hal ini mengakibatkan banyak los yang

tidak aktif atau tidak dipergunakan pemiliknya. Total los yang disediakan

pemerintah sebanyak 756 los, tapi hanya sebanyak 335 los yang terisi dan sekitar

45 los yang aktif.

Pedagang-pedagang di Pasar Jambu Dua sebagian besar berasal dari Pasar

Ramayana. Aktivitas pasar dimulai pada pukul 15.00 WIB – 23.00 WIB dengan

keramaian pasar hanya sekitar 3 – 4 jam saja. Akibatnya banyak pedagang Jambu
Dua yang menjadi PKL di sekitar Pasar Kebon Kembang dan Pasar Baru Bogor

pada pagi hari dan baru berjualan di Pasar Jambu Dua sore harinya. Tetapi ada

juga yang berjualan pagi hari di Pasar Jambu Dua namun malamnya mereka

menjadi PKL di Pasar Baru Bogor dan di sekitar jalan Surya Kencana.

Gambar 3. Pasar Induk Jambu Dua

b) Pasar Grosir Cimanggu

Pasar Cimanggu (Gambar 4) terletak di Jl. Raya Kemang, Kecamatan Tanah

Sareal dengan luas sekitar 3,3 ha. Pasar ini dibangun oleh PT. Mayo Waya.

Pembangunan Pasar Cimanggu telah sesuai dengan rencana berupa los, kios dan

ruko. Los terdiri dari dua ukuran yaitu 2 m x 3 m dan 2 m x 6 m, sedangkan kios

berukuran 3 m x 5 m. Adapun ukuran ruko adalah sebesar 4,5 m x 10 m. Pasar

Cimanggu dibangun untuk menampung pedagang Pasar Ramayana yang tidak

dapat ditampung oleh Pasar Jambu Dua. Kegiatan operasional pasar dimulai

setelah para pedagang di Pasar Ramayana dipindahkan.

Keramaian Pasar Cimanggu hanya bertahan hingga tiga bulan. Awal mula

kegiatan pasar dioperasionalkan masih banyak pedagang yang berdagang di Pasar

Cimanggu, akan tetapi pembeli yang berkunjung sedikit karena hanya berasal dari

penduduk sekitar kompleks Taman Yasmin. Hal ini mengakibatkan banyak

pedagang yang gulung tikar, sehingga mereka pindah ke Pasar induk Kemang.
Pasar Cimanggu beroperasi selama 24 jam dengan kondisi yang stabil sepanjang

waktu, artinya tidak ada puncak-puncak keramaian. Sampai saat ini belum ada

pemungutan tarif retribusi yang dilakukan oleh pihak pengelola pasar. Pedagang

hanya dipungut tarif listrik dan kebersihan masing-masing sebesar Rp 1000 dan

Rp 500 setiap harinya.

Gambar 4. Pasar Grosir Cimanggu

c) Pasar Induk Kemang

Pasar Induk Kemang (Gambar 5) terletak di Jl. Kyai H. Soleh Iskandar, Desa

Cibadak, Kelurahan Kayu Manis, Kecamatan Tanah Sareal dengan luas 3,7 ha.

Pasar ini dibangun oleh PT. Teknik Umum bekerja sama dengan PT. Fradanita

Sakti pada tahun 1996. Pada tahun 1999, Pasar Induk Kemang berada di bawah

pengelolaan PT. Galvindo Ampuh. Kegiatan operasionalnya mulai berjalan

tanggal 11 Agustus 2000 dengan jumlah kios sebanyak 104 buah, dibagi menjadi

4 blok dengan ukuran 3 m x 4 m per kios, 27 blok untuk los yang terdiri dari

1.516 buah dengan ukuran 2 m x 3 m serta los mini sebanyak 895 buah dengan

ukuran 1,5 m x 2 m. Pedagang yang aktif sebanyak 600 orang terdiri dari sebagian

besar pedagang Pasar Ramayana, Pasar Induk Kramat Jati, pasar lainnya dan

pedagang baru. Pedagang yang memiliki kios sekitar 60 orang dan pedagang yang
memiliki los sekitar 500 orang. Dengan demikian terdapat kios dan los yang tidak

aktif.

Pasar ini merupakan pasar yang benar-benar berfungsi sebagai pasar induk di

antara kedua pasar induk baru lainnya. Hal ini terlihat dari pedagang yang terdapat

di Pasar Induk Kemang merupakan pedagang grosiran. Pasar Induk Kemang

relatif ramai dibandingkan pasar induk baru lainnya, terlihat dari konsentrasi

pembeli berasal dari berbagai daerah seperti Kabupaten Bogor, Ciputat,

Tangerang, Serang dan Jakarta. Pasar Induk Kemang beroperasi dari pukul 13.00

WIB sampai pagi hari dengan keramaian pada pukul 16.00 WIB – 23.00 WIB.

Sampai saat ini belum ada pemungutan tarif retribusi terhadap para pedagang.

Pedagang hanya dipungut untuk membayar keamanan dan kebersihan masing-

masing sebesar Rp 500 dan Rp 1000 setiap harinya.

Gambar 5. Pasar Induk Kemang

5.2.2. Pembangunan Pasar Tradisional

Untuk mendukung pemerataan pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Kota

Bogor menetapkan untuk membangun pasar tradisional di empat kecamatan.

Kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi

masyarakat. Hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah tersedianya

sarana perekonomian sebagai salah satu wadah untuk menggerakkan dan


menumbuhkan ekonomi wilayah sehingga kegiatan ekonomi masyarakat dapat

berkembang dengan baik serta terbukanya kesempatan. Hingga saat ini baru tiga

pasar yang telah direalisasikan pembangunannya yaitu sebagai berikut :

a) Pasar Tanah Baru

Pasar Tanah Baru (Gambar 6) dibangun atas keinginan warga sekitar Desa

Tanah Baru yang disampaikan oleh aparat kelurahan melalui kegiatan

musyawarah pembangunan desa (musbangdes). Lokasi pasar ditetapkan pertama

kali di Desa Cibuluh, berdekatan dengan lokasi rencana pembangunan terminal

type B. Namun setelah APBD disetujui, ternyata harga lahan di tempat tersebut

sudah melebihi anggaran yang disiapkan sehingga pemerintah mengalihkan ke

lokasi baru yaitu di pinggir Jalan Tanah Baru sesuai usulan Pemerintah Desa

Tanah Baru.

Pasar ini dibangun pada tahun 1999-2000 pada lahan seluas ± 2.400 m2

dengan anggaran Rp 385.267.000,00. Jumlah kios dan los yang telah dibangun

adalah sebanyak 120 los dengan ukuran 2 x 2 meter yang dikelompokkan atas

pedagang sembako, pakaian, kelontong, buah-buahan dan sayuran, masing-masing

sebanyak 24 los yang dibuat berderet per baris. Pemerintah pada awalnya hanya

membangun emplacement dengan penutup asbes, antar los satu dengan lainnya

hanya dibatasi oleh garis saja. Namun setelah los tersebut dimiliki oleh para

pedagang, maka mulailah dilakukan penataan-penataan dengan melakukan

penyekatan dengan kayu, bahkan ada pula yang sudah memakai pintu rolling

door. Sampai saat ini los yang telah dimiliki pedagang sebanyak 94 los dan yang

terisi sebanyak 46 los. Namun yang benar-benar aktif berjualan hanya sebanyak

10 los saja. Kepemilikan kios dilakukan tanpa adanya uang muka, harga jual akan
ditentukan setelah pasar benar-benar berkembang. Penentuan kios dilakukan

secara undian dengan mendahulukan warga sekitar pasar dengan perbandingan 60

persen warga Kelurahan Tanah Baru dan 40 persen penduduk luar.

Untuk meningkatkan aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Baru, Pemda Kota

Bogor telah berupaya untuk memperbaiki kondisi fisik pasar yaitu dengan

program Penataan Pasar Tradisional Tanah Baru dengan anggaran dana sebesar

Rp 12.355.000,00. Program ini bertujuan untuk menyempurnakan sarana

penunjang di Pasar Tanah Baru seperti fasilitas mushola, toilet serta perbaikan

atap dan sekat los.

Gambar 6. Pasar Tanah Baru

b) Pasar Pamoyanan

Selain di Kelurahan Tanah Baru, pemerintah juga telah membangun pasar

tradisional di Kelurahan Pamoyanan. Lokasi Pasar Pamoyanan (Gambar 7) berada

di jalan alternatif Bogor – Sukabumi melalui Caringin. Daerah ini merupakan

daerah dengan penduduk yang masih jarang namun didukung dengan kondisi

jalan yang cukup baik dan adanya angkutan perkotaan. Pasar Pamoyanan

dibangun dengan tujuan untuk menampung pedagang yang belum memiliki

kios/los. Pengembangan Pasar Pamoyanan menghabiskan dana sebesar Rp

404.282.500,00. Pada tahun 2001 dilakukan pengadaan tanah dan pembangunan


pasar tradisional di Kelurahan Pamoyanan yang menghabiskan dana sebesar Rp

199.720.000,00. Pasar Pamoyanan dibangun dengan luas sekitar ±1.200 m2

dengan jumlah kios sebanyak 72 buah.

Status pasar saat ini masih tidak aktif dalam kegiatan jual beli karena sepinya

pedagang, hanya sekitar 2 buah kios yang berjualan. Kios tersebut dimiliki oleh

penduduk sekitar pasar, dan barang yang diperdagangkan berupa alat-alat listrik

dan barang-barang kebutuhan pokok. Pembeli yang datang ke pasar ini pun hanya

sebatas penduduk sekitar pasar saja. Sampai saat ini tidak ada kegiatan jual beli

sayuran, sembako dan kebutuhan pokok lainnya di pasar ini. Penduduk sekitar

pasar lebih memilih membeli kebutuhan pokok langsung ke Pasar Sukasari karena

harga yang lebih murah dan barang yang lebih lengkap.

Gambar 7. Pasar Pamoyanan

c) Pasar Bubulak

Rencana lokasi Pasar Bubulak (Gambar 8) berada di lintasan Jalan Baru

Kemang – Sindang Barang, yang merupakan jalan baru hasil pembangunan.

Kondisi wilayahnya pada waktu itu merupakan daerah jarang penduduk, namun

dengan adanya jalan tersebut dan pembangunan Terminal Bubulak menjadikan

wilayah ini berpotensi untuk berkembang lebih cepat. Pembangunan Pasar

Bubulak mendapat alokasi dana Rp 500.000.000,00, dan sampai dengan akhir


Desember 2003 telah terealisasi satu unit pasar dengan kapasitas 72 unit los

dengan ukuran 2 m x 2 m.

Pembangunan Pasar Bubulak didukung dengan adanya pembangunan jalan

masuk ke areal pasar sepanjang 1.460 m, pembuatan pagar pembatas dengan

panjang 220 m, pembangunan talud sepanjang 256 m dan pembangunan saluran

air sepanjang 196 m. Sejak dibangun hingga saat ini, kegiatan operasional pasar

tidak berjalan. Hal ini karena tidak ada pedagang yang mau menempati los di

pasar ini, sehingga bangunan pasar tidak dimanfaatkan sama sekali. Saat ini

bangunan pasar telah dialihfungsikan sebagai terminal bis Trans Pakuan.

Gambar 8. Pasar Bubulak

Sampai saat ini, ketiga pasar tradisional tersebut belum dikelola oleh Unit

Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) karena sepinya pedagang sehingga belum bisa

memberikan kontribusi PAD berupa retribusi. Dengan demikian, pengelolaan

pasar masih ditangani oleh aparat kelurahan dan kecamatan.

5.2.3. Program Pendukung Lainnya

Berbagai upaya lain yang telah dilaksanakan oleh pemerintah untuk

meningkatkan peran dan fungsi pasar sebagai salah satu media bagi

berlangsungnya kegiatan perdagangan di tingkat masyarakat antara lain:


a) Memantau lalulintas barang dan jasa, untuk mengetahui tingkat perkembangan

harga bahan kebutuhan pokok masyarakat sebagai bahan penghitungan inflasi,

serta sebagai upaya pengendalian stock barang.

b) Penataan dan penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL), bertujuan untuk

meminimalisasi jumlah PKL yang terkonsentrasi di pusat kota sehingga dapat

disebar ke berbagai wilayah Kota Bogor.

c) Pengembangan sistem informasi dan pemasaran dengan tujuan untuk

menciptakan informasi pasar, harga dan hasil produk serta mempromosikan

produk dalam rangka perluasan pasar.

d) Optimalisasi pemanfaatan kios dan los berupa anjuran kepada pemilik kios

untuk segera menempati kios dan losnya, penertiban pemanfaatan kios serta

peningkatan kemampuan SDM pengelola pasar melalui diklat atau pelatihan.


VI. ANALISIS STAKEHOLDERS

Hasil analisis stakeholders yang dilakukan menunjukkan terdapat beberapa

stakeholders yang terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan

pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Penggolongan stakeholders

dibuat berdasarkan tingkat kepentingannya terhadap kebijakan pengembangan

pasar tradisional. Stakeholders primer merupakan mereka yang dipengaruhi secara

langsung, baik secara positif (penerima manfaat) atau negatif (terkena dampak

negatif) akibat pengembangan pasar tradisional, yaitu kelompok pedagang, Badan

Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Bogor, Dinas Perindustrian Perdagangan dan

Koperasi (Disperindagkop) Kota Bogor dan pihak pengelola pasar pemerintah

(UPTD).

Stakeholders sekunder merupakan mereka yang terkait dengan kebijakan

secara tidak langsung dalam proses pengembangan pasar tradisional. Pihak yang

tergolong stakeholders sekunder adalah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan

(DLHK) Kota Bogor, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bogor, Dinas

Tata Kota dan Pemukiman (DTKP) Kota Bogor dan pengelola pasar swasta.

Perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional

di Kota Bogor dipengaruhi oleh tingkat kepentingan dan tingkat pengaruh

stakeholders. Masing-masing stakeholders memiliki tingkat kepentingan dan

pengaruh yang berbeda-beda. Intensitas pengaruh dan kepentingan stakeholders

didasarkan pada bentuk interaksi, keuntungan dan dampak yang dihasilkan

terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional serta posisi yang kuat dalam

setiap pengambilan keputusan yang akan dilakukan. Hasil analisis stakeholders

ditunjukkan pada Tabel 11.


Tabel 11. Hasil Analisis Stakeholders dalam Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor
Kriteria Evaluasi Keputusan
Stakeholders Kekuatan
Kepentingan Sikap Pengaruh Total Keterlibatan Tingkat Keterlibatan
SDM Finansial Politik
Masyarakat Meningkatkan aktivitas ekonomi (berdagang)
2 2 2 1 5 10 Terlibat Penerima informasi
Pedagang Meningkatkan kesejahteraan hidup
Pelaksanaan penyusunan perumusan kebijakan
perencanaan daerah, penyusunan program serta
Pengambilan keputusan
Bapeda kebijakan keuangan 3 5 5 5 15 45 Terlibat
kebijakan
Mengatur koordinasi antar instansi Pemda dalam
perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis
Pelaksanaan kebijakan teknis operasional di
Pengambilan keputusan
Disperindagkop bidang perdagangan (pasar tradisional) 3 5 5 4 14 42 Terlibat
kebijakan
Pembinaan terhadap pedagang
Pelaksana teknis dalam pengelolaan pasar
UPTD 2 3 3 2 8 16 Terlibat Pemberi pertimbangan
Pembinaan terhadap pedagang
Pelaksana teknis dalam pembangunan fasilitas
DTKP umum (termasuk pasar tradisional) 2 5 5 4 14 28 Terlibat Pemberi pertimbangan
Pengendalian tata kota
Menjaga kualitas lingkungan dan kebersihan kota
DLHK 2 5 5 4 14 28 Terlibat Pemberi pertimbangan
termasuk lingkungan pasar tradisional
Dispenda Pembukuan dan pelaporan PAD termasuk
Terlibat Pemberi pertimbangan
retribusi pasar tradisional 2 5 5 4 14 28
Pengelola Pasar Meningkatkan pengelolaan pasar secara Tidak
Tidak terlibat
Swasta profesional 1 3 3 1 7 7 terlibat
Sumber: Data primer (diolah)
Tabel 11 memperlihatkan tingkat pengaruh dan kepentingan masing-

masing stakeholders dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional.

Stakeholders yang memiliki kepentingan tinggi merupakan stakeholders primer

yaitu yang kepentingannya dipengaruhi secara langsung oleh kebijakan.

Stakeholders yang memiliki kepentingan rendah merupakan stakeholders

sekunder yang kepentingannya dipengaruhi secara tidak langsung terhadap

kebijakan.

Kepentingan stakeholders dalam kebijakan pengembangan pasar

tradisional dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi dan budaya. Pengaruh

stakeholders yang berbeda-beda dalam kebijakan ini dipengaruhi oleh politik,

birokrasi dan struktural. Hasil dari kajian pada Tabel 11 digunakan sebagai dasar

dalam penyusunan matriks kepentingan dan pengaruh stakeholders dalam

kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor seperti yang

ditunjukkan pada Gambar 9a.


Tinggi

C B Keterangan:
*1 1. Bapeda Kota Bogor
*8 *6 *7 *2 2. Disperindagkop Kota
Bogor
3. Masyarakat pedagang
4. UPTD
Tingkat 5. Pengelola pasar swasta
Pengaruh 6. DLHK Kota Bogor
D A 7. DTKP Kota Bogor
8. Dispenda Kota Bogor
*4

*5
*3

Rendah Tinggi
Tingkat Kepentingan

Sumber: Data primer (diolah)

Gambar 9a. Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders dalam


Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor
Gambar 9a menunjukkan bahwa stakeholders yang memiliki pengaruh dan

kepentingan tertinggi adalah Bapeda Kota Bogor dan Disperindagkop Kota Bogor

terkait dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Bapeda merupakan

lembaga pemerintah yang bertugas mengumpulkan semua data dan program yang

direncanakan oleh semua instansi-instansi pemerintah di wilayah Kota Bogor.

Seluruh data dan program tersebut bersumber mulai dari tingkat masyarakat desa,

kelurahan, kecamatan dan disampaikan dalam Musyawarah Rencana

Pembangunan (Musrenbang).

Penentuan hasil dan keputusan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan

harus berdasarkan program prioritas pembangunan nasional yang tertuang pada

rancangan awal rencana kerja pembangunan. Hasil yang didapat oleh Bapeda

dituangkan dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana

Detail Tata Ruang Kota (RDTRK). Melalui RTRW dan RDTRK, Bapeda

menuangkan apa yang menjadi keinginan dari masing-masing instansi pemerintah

dengan tujuan untuk menciptakan kesinergisan dan tidak terjadi tumpang tindih

kepentingan masing-masing instansi.

Bapeda memiliki peran dan pengaruh yang kuat dalam kebijakan

pengembangan pasar tradisional. Peran Bapeda yaitu merencanakan pembangunan

wilayah Kota Bogor dalam skala makro di semua bidang kerja Kota Bogor

termasuk di bidang perdagangan. Pada kebijakan pengembangan pasar tradisional

ini, Bapeda yang merencanakan kebijakan pemindahan Pasar Ramayana dan

pembangunan pasar tradisional di setiap kecamatan dengan tujuan untuk

meningkatkan pertumbuhan ekonomi di setiap wilayah. Bapeda juga menentukan


lokasi pasar yang akan jadi pasar pengganti dan lokasi yang akan dibangun pasar

tradisional.

Tingkat kepentingan Bapeda Kota Bogor terhadap kebijakan

pengembangan pasar tradisional tinggi karena berdasarkan pada tugas pokoknya

dalam upaya perencanaan dan pembangunan daerah serta mengkoordinasikan

progam kegiatan seluruh instansi pemerintah kedinasan Kota Bogor agar berjalan

sesuai dengan prioritas pembangunan daerah. Bapeda merupakan pihak yang

memiliki pengaruh tertinggi dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional

berdasarkan tingkat kewenangannya dalam merencanakan suatu kebijakan.

Bapeda memiliki wewenang dalam mempengaruhi dan mengarahkan kebijakan

mulai dari perencanaan lokasi hingga tahap implementasi.

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bogor memiliki

tugas pokok yaitu melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang

perdagangan, perindustrian dan koperasi serta melaksanakan program yang telah

ditetapkan oleh Bapeda. Fungsi Disperindagkop di antaranya yaitu di bidang

perdagangan dengan melakukan pengawasan terhadap barang-barang yang

dijualbelikan di pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern.

Disperindagkop juga berfungsi dalam melakukan pembinaan dan pemberdayaan

terhadap pedagang, usaha kecil menengah (UKM) dan koperasi dalam hal

permodalan, kebutuhan fasilitas kredit serta melaksanakan program untuk

peningkatan sarana dan prasarana pasar. Oleh karena itu, Disperindagkop

memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang tinggi.

Pada kebijakan pengembangan pasar tradisional, Disperindagkop

merupakan instansi pemegang tanggungjawab dalam pelaksanaan program


pemindahan Pasar Ramayana dan pembangunan pasar tradisional. Disperindagkop

memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan yang diambil terkait dengan

pengambilan keputusan kebijakan karena Disperindagkop memiliki wewenang

dalam mengelola dana proyek serta menentukan bentuk kegiatan yang dapat

dilakukan atau tidak dapat dilakukan dalam kebijakan ini.

Masyarakat sebagai sasaran program dalam hal ini khususnya pedagang

memiliki kepentingan tertinggi, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk

mempengaruhi kebijakan pengembangan pasar tradisional. Mereka memiliki

kepentingan tertinggi karena pasar tradisional merupakan tempat mereka bekerja

sehingga kebijakan pengembangan pasar tradisional akan mempengaruhi tingkat

pendapatan mereka. Namun tingkat kekuatan pedagang dalam kebijakan ini

rendah sehingga mereka tidak memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan

kebijakan. Mereka hanya dilibatkan dalam proses perencanaan yaitu ketika Pasar

Ramayana akan dipindah melalui musyawarah antara kelompok pedagang dan

pejabat pemerintah. Keluhan-keluhan pedagang selama ini disampaikan kepada

pihak pengelola pasar, yang kemudian akan disampaikan oleh pihak pengelola

pasar kepada Disperindagkop.

Pihak pengelola pasar pemerintah (UPTD) memiliki kepentingan tinggi

terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. Hal ini didasarkan pada tugas

pokok UPTD sebagai pengelola pasar pemerintah yang berkaitan langsung dengan

pedagang yaitu melakukan pengelolaan pasar terutama dalam hal pendataan

pedagang dan penarikan retribusi. UPTD tidak memiliki kekuatan untuk ikut

mengambil keputusan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional karena

secara struktural dan birokrasi UPTD berada di bawah Kepala Disperindagkop,


sehingga kekuatan pengaruh UPTD dalam kebijakan pengembangan pasar

tradisional tergolong rendah yaitu terbatas pada usulan-usulan yang tercantum

dalam laporan pertanggungjawaban UPTD. Padahal pihak UPTD yang menerima

keluhan langsung dari para pedagang.

Instansi lain yang ikut terlibat dalam kebijakan ini yaitu Dispenda, DLHK

dan DTKP Kota Bogor. Ketiga instansi ini memiliki tingkat pengaruh yang tinggi

namun tingkat kepentingannya terhadap kebijakan rendah. Kepentingan rendah

pada tiga stakeholders tersebut karena ketiga instansi ini tidak terlibat secara

langsung dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Kepentingan mereka

terhadap kebijakan ini hanya terbatas pada tugas pokok dan fungsi masing-masing

instansi.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan memiliki tugas untuk menjaga

kebersihan lingkungan Kota Bogor, sehingga masalah sampah pasar menjadi

tanggung jawab dari DLHK, sedangkan DTKP berfungsi sebagai pelaksana teknis

yaitu pemegang proyek untuk pembangunan pasar tradisional, sehingga tugasnya

terbatas pada pembangunan fisik pasar sesuai rencana yang telah ditentukan oleh

Bapeda. Dispenda memiliki kepentingan rendah karena hanya berkaitan dengan

pembukuan dan laporan penerimaan retribusi pasar tradisional. Ketiga

stakeholders tersebut memiliki tingkat pengaruh yang tinggi dalam kebijakan

pengembangan pasar tradisional karena secara birokrasi dan struktural ketiga

instansi tersebut memiliki posisi yang sama dengan Bapeda dan Disperindagkop.

Pada pembahasan rencana kebijakan, mereka dapat memberikan pertimbangan

sesuai dengan fungsi masing-masing instansi yang dapat mempengaruhi hasil

perencanaan kebijakan.
Pihak swasta sebagai pengelola pasar memiliki kepentingan dan pengaruh

yang rendah karena kepentingan mereka hanya terbatas pada pasar yang mereka

kelola saja, sehingga mereka tidak dilibatkan dalam proses kebijakan

pengembangan pasar tradisional.

Tindakan yang perlu dilakukan bagi stakeholders yang memiliki pengaruh

dan kepentingan tinggi adalah pelibatan stakeholders dalam setiap pengambilan

keputusan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Tindakan bagi

stakeholders yang memiliki kepentingan tinggi dengan pengaruh rendah adalah

dilibatkan dalam hal penyaluran data dan informasi mengenai potensi pasar

tradisional dan upaya pengembangannya. Stakeholders yang memiliki

kepentingan rendah dengan pengaruh tinggi dapat dilibatkan untuk memberi

pertimbangan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Sedangkan bagi

stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan rendah maka tindakan

yang perlu dilakukan cukup dengan melakukan pengawasan (monitor) tanpa perlu

terlibat secara langsung dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional.

Pada kondisi ideal (Gambar 9b), tingkat kepentingan dan pengaruh

stakeholders memiliki hubungan yang erat. Stakeholders yang memiliki

kepentingan yang tinggi, akan memiliki kekuatan yang tinggi pula dalam

kebijakan pengembangan pasar tradisional. Pada kenyataannya stakeholders yang

memiliki kepentingan tinggi justru tidak memiliki kekuatan dalam mempengaruhi

kebijakan pengembangan pasar tradisional.

Pedagang dan pihak pengelola pasar yang memiliki kepentingan tinggi

terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak memiliki tingkat

pengaruh yang tinggi dalam pengambilan keputusan. Akibatnya dalam


perencanaan dan penyusunan kebijakan, pemerintah kurang mendapat informasi

mengenai kondisi riil di lapangan karena tidak dilibatkannya pedagang, UPTD

dan pengelola swasta. Oleh karena itu, kebijakan yang dihasilkan pun akhirnya

menjadi tidak tepat karena lebih mementingkan kepentingan dari pemerintah saja

tanpa mengakomodir kepentingan pedagang dan masyarakat.


Tinggi

C B Keterangan:
*1 1. Bapeda Kota Bogor
*8*6 *7 *2 2. Disperindagkop Kota
Bogor
*3 3. Masyarakat pedagang
*4 4. UPTD
Tingkat 5. Pengelola pasar swasta
Pengaruh 6. DLHK Kota Bogor
D A 7. DTKP Kota Bogor
8. Dispenda Kota Bogor
*5

Rendah Tinggi
Tingkat Kepentingan

Sumber: Data primer (diolah)

Gambar 9b. Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders pada Kondisi


Ideal dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional
di Kota Bogor

Gambar 9b menunjukkan kondisi yang seharusnya terjadi dari tingkat

pengaruh dan kepentingan stakeholders yang terlibat dalam kebijakan

pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Masyarakat pedagang yang

memiliki kepentingan tertinggi seharusnya memiliki tingkat pengaruh yang tinggi

pula dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Hal ini dikarenakan

kebijakan pengembangan pasar tradisional disusun untuk mengakomodir

kepentingan pedagang sehingga dengan adanya kebijakan ini pedagang tidak akan
merasa dirugikan. Selain itu, dengan dilibatkannya para pedagang dalam

perencanaan kebijakan, maka dukungan terhadap kebijakan akan bertambah

dalam artian tidak ada pedagang yang akan menolak kebijakan. Dengan demikian

kemungkinan kebijakan ini untuk berhasil dilaksanakan akan semakin besar.

Pihak UPTD sebagai pengelola pasar pemerintah juga seharusnya

memiliki tingkat pengaruh yang tinggi dalam kebijakan pengembangan pasar

tradisional, karena pihak UPTD-lah yang benar-benar berhubungan dengan para

pedagang dan konsumen di pasar sehingga mereka mengerti kondisi riil di

lapangan. Keterlibatan UPTD dalam penyusunan kebijakan akan sangat berguna

dalam perumusan kebijakan yang tepat sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Pihak swasta sebagai pengelola pasar juga seharusnya dilibatkan dalam

kebijakan pengembangan pasar tradisional. Meskipun peran mereka hanya

terbatas pada pasar yang mereka kelola saja, namun mereka memiliki potensi

untuk berpengaruh terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. Pihak

swasta dapat mengelola pasar milik pemerintah secara profesional sehingga pasar

tradisional dapat berkembang secara mandiri dan tidak tergantung pada anggaran

pemerintah.

Keterlibatan masyarakat pedagang dalam kebijakan pengembangan pasar

tradisional ini yaitu dengan keterlibatan komunitas pedagang pasar melalui

asosiasi pedagang untuk menjadi mitra pemerintah dalam mengelola pasar,

sehingga dengan dilibatkannya pedagang dalam mengelola pasar maka mereka

juga akan ikut menjaga kebersihan dan kenyamanan pasar sehingga lebih bersih

dan rapi. Selain itu, dengan dilibatkannya pedagang akan lebih menarik konsumen

karena pedaganglah yang mengerti kondisi riil konsumennya.


Sebelum pemerintah melakukan suatu kebijakan pengembangan pasar

tradisional maka seharusnya dilakukan studi kelayakan yang komprehensif

terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi riil di lapangan. Studi kelayakan yang

dilakukan dapat berupa diskusi atau musyawarah dengan warga dan pedagang

untuk mengetahui kondisi riil di lapangan melalui suatu forum komunikasi.

Diskusi ini dilakukan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan kepentingan

antara pemerintah, pengelola pasar dan pedagang sehingga pada akhirnya seluruh

pihak dapat dipuaskan dengan adanya kebijakan. Adanya diskusi bukan hanya

mengenai sosialisasi kebijakan kepada pedagang saja namun pemerintah juga

harus mendengarkan keberatan-keberatan dari pihak pedagang dan mencari solusi

bersama. Studi kelayakan ini merupakan salah satu bentuk partisipasi dari

keterlibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan.

Apabila kesepakatan telah tercapai maka seluruh pihak harus mau menaati

kebijakan dan ditetapkan sanksi bagi yang melanggar kebijakan yang telah

disepakati. Pedagang juga memiliki hak atas informasi apapun yang berkaitan

dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Perlu dibentuk dinas atau

lembaga yang menangani keluhan pedagang/masyarakat selama proses

perencanaan sampai dengan pelaksanaan kebijakan. Dinas ini memiliki kewajiban

untuk menindaklanjuti keluhan pedagang. Pengelola pasar (UPTD) perlu

diberikan pelatihan khusus agar dapat mengelola manajemen pasar secara lebih

profesional.
VII. ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN
PASAR TRADISIONAL

Analisis kebijakan pengembangan pasar tradisional dilakukan untuk

mengetahui penyebab ketidakberhasilan kebijakan di Kota Bogor. Penyebab

kegagalan kebijakan dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat

dilihat dari dua aspek, yaitu proses dan penerapan. Proses dalam perencanaan

kebijakan pengembangan pasar tradisional dapat mempengaruhi penerapan

kebijakan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi hasil kebijakan.

7.1. Analisis Proses

Analisis proses dimaksudkan untuk mengetahui tahapan-tahapan

perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional serta keterlibatan

stakeholders. Adanya penyimpangan dalam tahapan proses perencanaan dan

perumusan kebijakan dapat memberikan petunjuk dalam menganalisis penyebab

ketidakberhasilan kebijakan. Proses perencanaan kebijakan pengembangan pasar

tradisional yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor dianalisis sesuai dengan

kriteria dan indikator yang telah ditentukan (Lampiran 1), kemudian baru dikaji

mengenai penyebab ketidakberhasilan kebijakan. Apabila dalam penyusunan

kebijakan itu sendiri kurang tepat maka akan berdampak pada implementasi

kebijakan.

Faktor yang menyebabkan proses pembuatan kebijakan pengembangan

pasar tradisional kurang tepat berdasarkan persepsi responden secara berurutan

yaitu keterlibatan stakeholders sebesar 16,24 persen, proses penyusunan kebijakan

pengembangan pasar tradisional yang benar sebesar 14,72 persen, partisipasi

publik sebesar 13,20 persen, akuntabilitas sebesar 12,18 persen, responsivitas


sebesar 10,15 persen, transparansi sebesar 9,64 persen, ego sektoral sebesar 9,14

persen, sosialisasi kebijakan sebesar 7,61 persen, kebijakan lain yang tidak

tumpang tindih dari pengembangan pasar tradisional sebesar 7,11 persen dan

terakhir yaitu tersedianya dana yang memadai dan berkelanjutan sebesar 4,06

persen. Hasil selengkapnya mengenai peringkat faktor penyebab

ketidakberhasilan kebijakan pengembangan pasar tradisional dari segi proses

pembuatan kebijakan dapat dilihat pada Gambar 10.

7.11
14.72
A
9.14
B
4.06 C
12.18 D
E
10.15
F
G
H
9.64 16.24
I
J
13.20 7.61

Keterangan :
A. Proses Penyusunan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional yang Benar
B. Akuntabilitas
C. Keterlibatan Stakeholders
D. Sosialisasi Kebijakan
E. Partisipasi Publik
F. Transparansi
G. Responsivitas
H. Tersedianya Dana yang Memadai dan Berkelanjutan
I. Ego Sektoral
J. Kebijakan Lain yang Tidak Tumpang Tindih dari Pengembangan Pasar Tradisional

Gambar 10. Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan


Pengembangan Pasar Tradisional dari Segi Proses Pembuatan Kebijakan

Gambar 10 memperlihatkan urutan kriteria penyebab kurang berhasilnya

kebijakan pengembangan pasar tradisional dari segi proses pembuatan kebijakan

yaitu :
7.1.1. Keterlibatan stakeholders. Indikatornya yaitu melibatkan seluruh

stakeholders yang berkepentingan dalam proses perencanaan; pemahaman fungsi,

wewenang dan tanggungjawab dari stakeholders yang terlibat; teridentifikasinya

kepentingan setiap stakeholders; dan stakeholders yang terlibat memahami

program dengan baik. Kriteria ini merupakan faktor utama yang menyebabkan

kebijakan kurang berhasil mencapai tujuannya berdasarkan persepsi responden.

Hal tersebut dapat dilihat dari indikator keterlibatan seluruh pihak dalam proses

perencanaan kebijakan ini, ternyata tidak semua stakeholders yang terkait dengan

kebijakan pengembangan pasar tradisional terlibat dalam proses pengambilan

keputusan dalam perencanaan kebijakan.

Proses perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional ini

seharusnya melibatkan tiga stakeholders utama yaitu pemerintah daerah diwakili

oleh Bapeda dan UPTD, pihak swasta dan pedagang. Hasil analisis stakeholders

terlihat bahwa pedagang yang memiliki kepentingan tinggi tidak dilibatkan dalam

proses perencanaan kebijakan. Pada proses perencanaan kebijakan ini, Bapeda

memiliki peran utama. Hal ini dikarenakan Bapeda yang merumuskan

perencanaan dan menentukan lokasi tempat yang akan menjadi pengganti Pasar

Ramayana serta menetapkan lokasi di setiap kecamatan di mana pasar tradisional

akan dibangun, juga menilai apakah lokasi tersebut layak untuk dibangun pasar

tradisional.

Pihak pengelola pasar pada waktu itu masih berupa Dinas Pengelolaan

Pasar (DPP) yang bertugas untuk menyampaikan sosialisasi kepada pedagang

Pasar Ramayana mengenai rencana pemindahan dan mendata jumlah pedagang

yang akan dipindah. Pihak swasta berperan sebagai developer, yaitu PT. Mayo
Waya yang menangani relokasi Pasar Ramayana ke Pasar Jambu Dua dan Pasar

Kemang serta PT. Teknik Umum yang membangun Pasar Cimanggu.

Tabel 12. Analisis Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar


Tradisional
No Kegiatan Stakeholders yang Stakeholders yang Keterangan
seharusnya terlibat terlibat
1 Penyusunan Bapeda, UPTD, Bapeda, UPTD, Kebijakan
kebijakan Disperindagkop, Disperindagkop, diusulkan dari
DLHK, DTKP, DLHK, DTKP, tingkat desa
Dispenda, Pemkec, Dispenda, Pemkec, untuk dibahas
Pemdes, pedagang, Pemdes, pedagang, instansi
pengelola pasar pengelola pasar pemerintah
bersama
Walikota
2 Perencanaan UPTD, Bapeda, Bapeda, Terdapat
kebijakan Disperindagkop, Disperindagkop, dominasi peran
DLHK, DTKP, DLHK, DTKP, Bapeda
Dispenda, Dispenda
developer, pedagang
3 Pelaksanaan UPTD, Bapeda, Disperindagkop, Pada
kebijakan Disperindagkop, Bapeda, DTKP, pelaksanaan
DLHK, DTKP, pedagang, UPTD, program hanya
Dispenda, developer melibatkan
pedagang, developer sebagian
pedagang
Sumber : Data primer (diolah)

Tabel 12 menunjukkan bahwa pada proses perencanaan kebijakan,

dominasi paling tinggi terdapat pada pihak Bapeda. Pedagang hanya

disosialisasikan mengenai rencana pemindahan pasar tetapi tidak ikut dilibatkan

dalam proses penentuan tempat sebagai pasar pengganti. Adanya dominasi yang

tinggi oleh Bapeda mengakibatkan proses perencanaan hanya didasarkan pada

pandangan pihak Pemerintah dan kurang memahami kepentingan pedagang. Pada

mulanya para pedagang setuju untuk dipindahkan ke Pasar Jambu Dua, akan

tetapi setelah Pemerintah menetapkan bahwa Pasar Ramayana akan dipindah ke

tiga lokasi yaitu Pasar Jambu Dua, Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu, banyak

pedagang yang menolak untuk pindah.


Selain itu, penentuan tempat pemindahan dilakukan secara undian

sehingga pedagang harus mau menempati kios baru di pasar yang sesuai dengan

undian yang diambilnya. Alasan lain, pedagang yang menolak untuk pindah lebih

memilih menjadi PKL di pasar-pasar lain seperti di Pasar Baru Bogor, Pasar

Kebon Kembang dan di sekitar Jalan Surya Kencana. Para pedagang berpendapat

dengan dipindahkannya Pasar Ramayana ke tiga lokasi akan mengurangi

keramaian ketiga pasar tersebut karena seluruh pedagang yang ada di Pasar

Ramayana terpisah-pisah ke tiga lokasi. Akibatnya Pasar Jambu Dua dan Pasar

Cimanggu, kurang berhasil menjadi pasar induk karena sepinya pedagang di

ketiga pasar tersebut. Banyak pedagang yang semula menempati kios di Pasar

Cimanggu lebih memilih pindah ke Pasar Induk Kemang karena tempat yang

lebih ramai.

7.1.2. Proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional.

Indikatornya yaitu penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional dibuat

secara tertulis dan tersedia bagi setiap warga yang membutuhkan; terdapat

kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil dan sesuai dengan visi yang

dirumuskan dan misi yang diemban; penyusunan kebijakan berdasarkan informasi

yang akurat, terbaru dan lengkap.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden, ternyata dalam proses

penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak didasarkan pada

informasi yang akurat dan lengkap. Ketika Bapeda merencanakan suatu kebijakan

pengembangan pasar tradisional yaitu pembangunan pasar tradisional, tidak

dilakukan suatu uji kelayakan secara tepat terlebih dahulu. Uji kelayakan yang

dilakukan hanya sebatas menilai apakah lokasi tersebut strategis atau tidak tanpa
mempertimbangkan jumlah penduduk di sekitar areal, sarana pendukung lainnya

seperti sarana transportasi di sekitar pasar dan kondisi sosial ekonomi lainnya. Hal

ini dapat ditunjukkan dari ketiga pasar yang dibangun oleh Pemerintah, ternyata

dua pasar tidak layak untuk dibangun yaitu Pasar Bubulak dan Pasar Pamoyanan.

Hal ini dikarenakan kepadatan penduduk sekitar pasar yang masih rendah serta

kedua lokasi tersebut bukan merupakan lokasi pusat pemukiman penduduk.

Tabel 13. Pertumbuhan Penduduk dan Persebaran Penduduk Menurut


Kecamatan di Kota Bogor Tahun 2005
Luas Jumlah Penduduk Kep
Jml RT
No Kecamatan Wil Pddk
(KK)
(km2) L P Tot (/km2)
1 Tanah Sareal 21,07 35,517 79,958 78,233 158,187 7.507
2 Bogor Tengah 8,33 24,256 52,034 51,142 103,176 12.386
3 Bogor Utara 17,72 35,187 74,999 74,579 149,578 8.441
4 Bogor Selatan 28,61 39,050 85,058 81,627 166.745 5.828
5 Bogor Timur 10,15 18,594 43,486 43,492 86.978 8.569
6 Bogor Barat 32,62 41,753 96,333 94,088 190,421 5.199
KOTA BOGOR 18,5 194,357 431,864 423,221 855,085 7.215
Sumber : BPS, 2005

Pasar Pamoyanan terletak di wilayah Kecamatan Bogor Selatan dan Pasar

Bubulak berada di Kecamatan Bogor Barat. Tabel 13 menunjukkan bahwa dua

kecamatan tersebut merupakan kecamatan di wilayah Kota Bogor yang memilki

kepadatan penduduk paling rendah di antara kecamatan lainnya. Dengan jumlah

penduduk yang sedikit maka daya beli masyarakat di Kecamatan Bogor Barat dan

Bogor Selatan pun rendah, akibatnya pasar tradisional yang dibangun di dua

kecamatan ini tidak berkembang.

Pada waktu pembangunan Pasar Bubulak, belum ada angkutan umum

yang dapat mencapai ke pasar ini sehingga tidak ada pedagang yang mau

menempati Pasar Bubulak, sedangkan di Pasar Tanah Baru meskipun saat ini

termasuk lokasi pusat pemukiman penduduk, akan tetapi angkutan umum yang

tersedia masih merupakan kendaraan plat hitam (odong-odong) dengan waktu


operasional terbatas yaitu dari pukul 06.00 sampai dengan 18.00. Kendaraan

umum lainnya tidak ada yang melewati Pasar Tanah Baru sehingga jangkauan

pasar menjadi terbatas karena konsumennya hanya penduduk di sekitar pasar saja.

7.1.3. Partisipasi publik. Indikatornya yaitu adanya forum untuk menampung

partisipasi masyarakat yang representatif, jelas arahnya, dapat dikontrol dan

bersifat terbuka; sasaran dan tujuan pengembangan ditetapkan berdasarkan

konsesus antara pemerintah dan masyarakat; terdapat akses terbuka dan bebas

bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dalam proses penyusunan

kebijakan. Selama ini keluhan pedagang disampaikan kepada pemerintah melalui

forum komunikasi yang difasilitasi oleh pengelola UPTD. Kemudian oleh

pengelola UPTD akan disampaikan kepada Kepala Disperindagkop. Akibatnya

keluhan pedagang selama ini kurang mendapat respon dari dinas terkait karena

pihak UPTD sendiri tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mempengaruhi

pengambilan keputusan kebijakan sehingga kepentingan pedagang dan

masyarakat tidak terakomodir secara optimal.

7.1.4. Akuntabilitas. Dalam kriteria akuntabilitas, terdapat beberapa indikator

yaitu penyusunan kebijakan memenuhi standar etika, prinsip-prinsip administrasi

yang benar dan nilai-nilai yang berlaku di stakeholders; terdapat mekanisme yang

menjamin bahwa prinsip dan nilai yang berlaku telah terpenuhi, dengan

konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika tidak terpenuhi; penyusunan

kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial; pemahaman

tanggungjawab dari pembuat kebijakan terhadap publik dan lembaga stakeholders

lain. Ketika penyusunan dan perencanaan kebijakan pengembangan pasar

tradisional dilakukan, prinsip akuntabilitas tidak diterapkan pada waktu itu. Hal
ini dikarenakan prinsip akuntabilitas belum terlalu dipahami oleh para

stakeholders sehingga penyusunan dan perencanaan kebijakan menggunakan

prosedur yang biasa dilakukan. Dengan demikian tidak ada mekanisme yang

menjamin bahwa proses penyusunan kebijakan dapat dipertanggungjawabkan

secara hukum dan sosial.

7.1.5. Responsivitas. Indikator-indikator dalam kriteria responsivitas yaitu

perumusan kebijakan sesuai dengan kebutuhan publik dan perubahan lingkungan;

kepekaan stakeholders dalam menanggapi kepentingan masyarakat; terdapat

upaya dari stakeholders untuk merespon pendapat masyarakat. Pemerintah telah

melakukan upaya yang cukup baik dalam menanggapi kepentingan masyarakat

seperti keluhan masyarakat terhadap keberadaan Pasar Ramayana di tengah kota

yang menimbulkan kemacetan dan pencemaran lingkungan. Upaya yang

dilakukan oleh Pemerintah yaitu dengan memindahkan Pasar Ramayana ke tempat

lain. Namun ternyata pasca pemindahan Pasar Ramayana, banyak pedagang eks

Ramayana yang menjadi PKL di sekitar Pasar Baru Bogor, Pasar Kebon Kembang

dan Jalan Surya Kencana. Hal ini sudah menjadi keluhan bagi pedagang di Pasar

Jambu Dua karena keberadaan PKL tersebut telah mengurangi keramaian Pasar

Jambu Dua. Selama ini upaya yang dilakukan Pemerintah untuk merelokasi para

PKL tersebut belum berhasil, sehingga para PKL masih berjualan dengan bebas di

sekitar tempat-tempat tersebut.

7.1.6. Transparansi. Indikator-indikator yang terdapat pada kriteria transparansi

yaitu tersedianya informasi yang jelas tentang prosedur, proses dan biaya

perencanaan kebijakan; terdapat aturan hukum yang menjamin kemudahan

stakeholders lain dan masyarakat untuk mengakses informasi kebijakan secara


bebas. Tidak tersedianya informasi yang jelas mengenai prosedur, proses dan

biaya perencanaan kebijakan menjadi salah satu faktor penyebab

ketidakberhasilan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Tidak semua

masyarakat dapat mengakses informasi tersebut secara bebas.

7.1.7. Ego sektoral. Indikatornya yaitu pembangunan pasar tradisional

memperhatikan kepentingan sektor dan kawasan lain; dan kebijakan

pengembangan pasar tradisional tidak menimbulkan konflik antar sektor atau

antar kawasan maupun antara masyarakat dengan pemerintah. Pada awalnya

kebijakan pemindahan Pasar Ramayana tidak menimbulkan konflik yang besar

antara pedagang dengan pemerintah karena kebijakan ini merupakan upaya

Pemerintah dalam merespon keluhan masyarakat.

Meskipun terdapat beberapa konflik dengan pedagang yang awalnya tidak

mau dipindah namun pada akhirnya dapat terselesaikan setelah disosialisasikan

mengenai maksud dan tujuan pemindahan. Pasca relokasi Pasar Ramayana justru

terjadi konflik antara pedagang yang mau pindah dengan pedagang yang tidak

mau pindah. Sebagian pedagang yang menolak pindah lebih memilih menjadi

PKL, karena mereka beranggapan di pasar baru yang akan menjadi pengganti

Pasar Ramayana, pembeli tidak akan sebanyak seperti di Pasar Ramayana

sehingga mereka khawatir bahwa pendapatan mereka akan berkurang. Akibatnya

pembeli di Pasar Jambu Dua menjadi sepi karena mereka lebih memilih lokasi

pasar yang ramai penjualnya maupun PKL-nya seperti di Pasar Anyar dan Pasar

Baru Bogor. Hal ini masih belum dapat diselesaikan oleh pemerintah hingga saat

ini, karena para PKL tersebut menolak untuk dipindahkan ke pasar-pasar yang

belum penuh seperti Pasar Tanah Baru, Pasar Pamoyanan dan Pasar Cimanggu.
7.1.8. Sosialisasi kebijakan. Indikatornya antara lain penyebarluasan informasi

mengenai program pengembangan pasar tradisional melalui media massa maupun

elektronik pada publik; adanya seminar/workshop oleh dinas terkait; terdapat

upaya untuk meningkatkan arus informasi melalui kerjasama dengan media massa

dan lembaga non pemerintahan. Sosialisasi kebijakan pengembangan pasar

tradisional dilakukan oleh pihak pengelola pasar dan aparat kelurahan dan

kecamatan. Sosialisasi dilaksanakan melalui musyawarah dengan pedagang atau

tokoh masyarakat. Pemerintah tidak melakukan sosialisasi melalui media massa

maupun elektronik terhadap publik. Namun sosialisasi yang dilakukan langsung

oleh aparat pemerintah cukup diterima oleh pedagang dan masyarakat.

7.1.9. Kebijakan lain yang tidak tumpang tindih dari pengembangan pasar

tradisional. Indikatornya adalah tujuan kebijakan pengembangan pasar

tradisional tidak menimbulkan konflik dengan alternatif program perekonomian

wilayah. Alternatif program perekonomian wilayah di antaranya yaitu program

pengembangan ekspor dan sistem distribusi. Program perekonomian wilayah ini

tidak menimbulkan konflik dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional.

7.1.10. Tersedianya dana yang memadai dan berkelanjutan. Indikator dalam

kriteria ini yaitu teridentifikasinya biaya atau dana untuk pengembangan pasar.

Kriteria ini merupakan peringkat terendah dari kriteria yang menjadi penyebab

ketidakberhasilan kebijakan pengembangan pasar tradisional, karena biaya dan

sumber dana yang digunakan untuk kebijakan ini telah teridentifikasi dengan baik

dan dana yang digunakan telah sesuai dengan besarnya dana yang dianggarkan

serta pembangunan pasar tradisional telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
7.2. Analisis Penerapan Kebijakan

Analisis penerapan dimaksudkan untuk mengetahui apakah pelaksanaan

kebijakan telah sesuai dengan rencana, sesuai dengan kriteria dan indikator yang

telah ditentukan (Lampiran 2). Faktor yang menyebabkan penerapan kebijakan

pengembangan pasar tradisional kurang tepat berdasarkan persepsi responden

secara berurutan yaitu penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional

secara efektif dan efisien sebesar 11,18 persen; akuntabilitas sebesar 9,94 persen;

transparansi sebesar 9,32 persen; responsivitas sebesar 8,07 persen; legalitas

kebijakan sebesar 7,45 persen; keadilan sebesar 6,21 persen; ketepatan sebesar

5,59 persen; monitoring dan evaluasi program sebesar 4,35 persen; dan terakhir

yaitu keterlibatan swasta sebesar 3,73 persen.

6.21
11.18
A
5.59
B
C
3.73 4.35
D
E
F
7.45 8.07
G
H
I
9.32 9.94

Keterangan :
A. Penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien
B. Monitoring dan evaluasi program
C. Responsivitas
D. Akuntabilitas
E. Transparansi
F. Legalitas kebijakan
G. Keterlibatan swasta
H. Ketepatan
I. Keadilan

Gambar 11. Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan


Pengembangan Pasar Tradisional dari Segi Penerapan Kebijakan
Gambar 11 menunjukkan urutan kriteria penyebab kurang berhasilnya

kebijakan pengembangan pasar tradisional dari segi penerapan kebijakan yaitu :

7.2.1. Penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara

efektif dan efisien. Indikatornya, yaitu program atau aktivitas telah dilaksanakan;

program atau aktivitas dilaksanakan secara efektif dan efisien; sasaran atau hasil

yang diinginkan telah tercapai; ketepatan alokasi sumberdana; konsistensi

pelaksanaan program sesuai target operasional yang telah ditetapkan. Meskipun

sebagian program atau kegiatan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional

telah dilaksanakan namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Hasil pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional dapat dilihat pada

Tabel 14.

Tabel 14. Analisis Hasil Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar


Tradisional
No Program Kondisi ideal Kenyataan di lapangan
1 Pemindahan Pasar Seluruh pedagang eks Sebagian pedagang
Ramayana Ramayana pindah ke menolak pindah dan
Pasar Jambu Dua, memilih menjadi PKL
Kemang dan Cimanggu
2 Pembangunan Pasar Ketiga pasar dapat Hanya Pasar Kemang
Induk Jambu Dua, Pasar berfungsi sebagai pasar yang berfungsi sebagai
Kemang dan Pasar grosir pasar grosir
Cimanggu
3 Pembangunan Pasar Wilayah Tanah Baru Pasar Tanah Baru masih
Tanah Baru menjadi berkembang berstatus non aktif
akibat adanya pasar
4 Pembangunan Pasar PKL di pusat kota Pasar Pamoyanan tidak
Pamoyanan berkurang dan dimanfaatkan karena
tersedianya fasilitas pasar pedagang tidak mau
tradisional di wilayah pindah dan masyarakat
Bogor Selatan lebih suka berbelanja di
Pasar Sukasari
5 Pembangunan Pasar Meningkatkan potensi Pasar Bubulak tidak
Bubulak wilayah supaya lebih berjalan sama sekali
berkembang
6 Pembangunan Pasar Peningkatan pertumbuhan Pembangunan Pasar
Katulampa ekonomi di wilayah Katulampa dibatalkan
Katulampa
Sumber : Data primer (diolah)
Berdasarkan Tabel 14, kebijakan pengembangan pasar tradisional yang

dilaksanakan oleh pemerintah belum berhasil mencapai sasarannya. Tidak semua

program kebijakan dilaksanakan yaitu dibatalkannya pembangunan Pasar

Katulampa. Hal ini dikarenakan ketidakberhasilan tiga pasar sebelumnya yang

telah dibangun oleh Pemerintah, selain itu banyaknya pedagang yang menolak

pindah dan lebih memilih menjadi PKL telah menimbulkan masalah baru bagi

upaya pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Keberadaan PKL di tengah

kota telah mengambil jalan-jalan utama di Kota Bogor sehingga menyebabkan

kemacetan seperti di Jalan Surya Kencana dan Otista dan secara tidak langsung

telah mempengaruhi tingkat keramaian Pasar Jambu Dua dan Cimanggu. Warga

Bogor lebih suka berbelanja di Pasar Kebon Kembang dan Pasar Bogor karena

banyaknya PKL yang memberikan konsumen pilihan yang lebih banyak. Hal ini

mengakibatkan Pasar Jambu Dua dan Cimanggu kekurangan konsumen dan

banyak pedagang yang memutuskan untuk pindah ke Pasar Kemang atau menjadi

PKL juga.

7.2.2. Akuntabilitas merupakan kriteria yang menempati urutan kedua. Hal ini

karena belum adanya sanksi yang tegas bagi para pelaku pelanggar kebijakan

sehingga pelaksanaan dan hasil kebijakan belum dapat dipertanggungjawabkan

secara hukum. Hal ini dapat ditunjukkan dari keberadaan PKL yang telah

menganggu ketertiban umum. Selama ini belum ada tindakan tegas dari aparat

pemerintah untuk melarang mereka berjualan di pinggir jalan. Upaya yang

dilakukan hanya sebatas mengusir keberadaan PKL pada waktu-waktu tertentu

saja. Setelah proses penggusuran selesai, keesokan harinya para pedagang kaki

lima tersebut kembali berjualan di pinggir jalan.


7.2.3. Transparansi. Indikatornya yaitu keterbukaan informasi dalam

pelaksanaan kebijakan terkait sumberdaya, alokasi dana, proses tender, jadwal

pelaksanaan proyek dan hasil yang dicapai. Seluruh informasi terkait dengan

kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak disampaikan kepada masyarakat

dan pedagang. Pedagang dan masyarakat hanya disosialisasikan mengenai

program-program yang akan dilaksanakan dan jadwal pelaksanaan program saja,

sedangkan alokasi dana dan sumberdaya serta proses tender yang digunakan

dalam pelaksanaan kebijakan tidak dapat diakses secara bebas oleh masyakat.

7.2.4. Responsivitas. Indikatornya yaitu hasil kebijakan memuaskan kebutuhan

publik. Pada Tabel 14, sasaran yang diharapkan dalam kebijakan pengembangan

pasar tradisional belum tercapai sehingga kebijakan ini belum memuaskan

kebutuhan publik. Para pedagang di Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu masih

mengeluhkan mengenai kondisi pasar yang relatif lebih sepi dibandingkan dengan

pasar-pasar lain.

7.2.5. Legalitas kebijakan. Indikatornya antara lain terdapat dasar hukum yang

jelas dalam pelaksanaan program kebijakan pengembangan pasar; tersedianya

mekanisme pengaduan masyarakat; adanya sanksi yang tegas bagi pelaku

pelanggar kebijakan, adanya peraturan mampu menjawab permasalahan

pengembangan pasar tradisional. Tidak tersedianya mekanisme pengaduan dan

sanksi yang tegas terhadap pelanggar kebijakan menjadi faktor utama dalam

kriteria ini. Selama ini pengaduan dari masyarakat hanya disampaikan kepada

aparat kelurahan dan kecamatan, dan dari pedagang disampaikan kepada

pengelola pasar. Dengan demikian sangat besar kemungkinan bahwa pengaduan

dari masyarakat dan pedagang tidak tersampaikan ke instansi yang lebih tinggi
wewenangnya. Sanksi yang tidak tegas juga terlihat dari rendahnya hukuman pada

para aparat pemerintah yang tidak melakukan kegiatan operasi terhadap para PKL.

Keberadaan aparat tersebut hanya pada waktu-waktu tertentu saja, sehingga PKL

masih bebas berjualan di pinggir jalan dan sekitar pasar.

7.2.6. Keadilan. Indikatornya yaitu manfaat kebijakan dapat dirasakan secara

merata oleh seluruh pihak dan keikutsertaan pedagang dalam pelaksanaan dan

pengawasan program. Pedagang hanya dilibatkan dalam pelaksanaan program tapi

tidak dilibatkan dalam pengawasan program.

7.2.7. Ketepatan. Indikatornya yaitu hasil kebijakan yang dicapai dapat

memberikan manfaat kepada kebutuhan publik dan hasil kebijakan yang dicapai

dapat memecahkan masalah. Berdasarkan Tabel 14 menunjukkan bahwa hasil

kebijakan yang dicapai belum memberikan manfaat kepada masyarakat dan justru

terdapat beberapa masalah yang timbul setelah kebijakan dilaksanakan, yaitu

keberadaan PKL di sekitar pasar yang telah mengganggu ketertiban umum.

7.2.8. Monitoring dan evaluasi program. Kegiatan monitoring dan evaluasi

program dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dilaksanakan

Disperindagkop yang dibantu oleh UPTD. Namun masyarakat kurang dilibatkan

dalam pemantauan dan pengawasan program kebijakan pengembangan pasar

tradisional.

7.2.9. Keterlibatan swasta. Dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional

ini pihak swasta dilibatkan sebagai developer dan sebagai pengelola pasar swasta.

Pihak swasta sebagai developer hanya melaksanakan pembangunan pasar sesuai

dengan yang telah direncanakan oleh Bapeda, sedangkan sebagai pengelola pasar
pihak swasta lebih berprinsip pada profit oriented sehingga pasar yang mereka

kelola relatif lebih berkembang dibandingkan dengan pasar yang dikelola

pemerintah.

7.3. Hubungan antara Analisis Proses dan Analisis Penerapan

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan

pengembangan pasar tradisional tidak mencapai keberhasilan. Hal ini disebabkan

karena dalam proses penyusunan dan perencanaan kebijakan yang kurang tepat

sehingga menyebabkan implementasinya yang kurang tepat pula. Perencanaan

kebijakan pengembangan pasar tradisional lebih mempertimbangkan pada aspek

teknis saja yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah pinggiran

dengan membangun sebuah pusat perdagangan

Pada proses perencanaan tidak diperhitungkan pula bahwa faktor

demografi dan ekonomi sangat berpengaruh terhadap perkembangan suatu

wilayah. Selain itu dalam proses perencanaan tidak melibatkan seluruh

stakeholders yang betkepentingan. Stakeholders yang dilibatkan seluruhnya hanya

berasal dari Pemerintah Daerah, sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih banyak

mengakomodir kepentingan Pemerintah tanpa memperhatikan kepentingan

masyarakat dan pedagang. Akibatnya dalam proses penerapan mengalami banyak

ketidakberhasilan dalam mencapai tujuannya. Meskipun penerapan yang

dilakukan telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan.


VIII. STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL

Pasar tradisional merupakan basis ekonomi rakyat yang memberikan

kontribusi nyata dalam perekonomian nasional. Pasar tradisional merupakan

sarana dalam rangka pemberdayaan masyarakat sehingga penyusunan strategi

maupun pengembangan pasar tradisional merupakan hal yang sangat penting.

Pemilihan prioritas strategi pengembangan pasar tradisional dilakukan dengan

menggunakan teknik AHP. Penentuan prioritas strategi merupakan pendapat

gabungan dari 6 responden yang mewakili stakeholders yaitu dari Bapeda,

Disperindagkop, DLHK, DTKP, Dispenda dan pihak UPTD.

8.1. Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional

Hasil analisis pendapat gabungan responden mengenai prioritas aspek

yang paling penting dalam pengembangan pasar tradisional dapat dilihat pada

Gambar 12.

Ekonomi 0.421

Sosial 0.195

Teknis 0.131

Manajemen 0.253

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,01

Gambar 12. Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor

Berdasarkan penilaian pendapat gabungan dari responden, keempat aspek

dominan ini teridentifikasi bahwa secara keseluruhan aspek ekonomi (0,421)


merupakan aspek yang paling penting, kemudian aspek manajemen (0,253), sosial

(0,195) dan terakhir aspek teknis (0,131). Hasil ini menunjukkan bahwa pendapat

para responden sesuai urutan prioritas di atas sejalan dengan tujuan yang ingin

dicapai pada penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional.

Kebijakan pengembangan pasar tradisional disusun dalam rangka

meningkatkan pertumbuhan ekonomi di masing-masing wilayah sehingga terjadi

pemerataan perekonomian di seluruh wilayah Kota Bogor. Kebijakan ini disusun

dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pasar

tradisional sehingga aspek manajemen dalam hal pengelolaan pasar penting, dan

untuk mengakomodir kepentingan seluruh pihak yang terkait maka aspek sosial

juga penting. Terakhir, aspek teknis terkait dengan kondisi fisik pasar yang dapat

mendukung pertumbuhan dan perkembangan pasar.

8.2. Prioritas Kriteria Pengembangan Pasar Tradisional

8.2.1.Aspek Ekonomi

Hasil analisis mengenai prioritas kriteria pada aspek ekonomi dapat dilihat

pada Gambar 13.

PAD 0.250

Kerja 0.482

Kesejahteraan 0.269

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,02

Gambar 13. Prioritas Kriteria pada Aspek Ekonomi dalam Pengembangan


Pasar Tradisional di Kota Bogor
Pada Gambar 13 terlihat bahwa kriteria yang memiliki bobot relatif atau

memiliki faktor paling dominan adalah menciptakan lapangan kerja (0,482)

kemudian diikuti oleh meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat

(0,269) dan terakhir yaitu meningkatkan PAD (0,250). Hal ini menunjukkan

bahwa hal yang paling utama dalam pengembangan pasar tradisional adalah untuk

menciptakan lapangan kerja. Untuk meningkatkan tingkat perekonomian yaitu

dengan memberikan kesempatan kerja pada penduduk Kota Bogor. Apabila

kesempatan kerja telah ada maka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat dan pedagang semakin tinggi, dengan semakin banyaknya jumlah

pedagang maka PAD pun akan meningkat.

8.2.2.Aspek Manajemen

Hasil analisis mengenai prioritas kriteria pada aspek manajemen dapat

dilihat pada Gambar 14.

Profesional 0.288

Usaha Efisien 0.090

Pelayanan 0.253

Penataan PKL 0.370

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,01

Gambar 14. Prioritas Kriteria pada Aspek Manajemen dalam


Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor
Gambar 14 menunjukkan dari keempat kriteria ini teridentifikasi bahwa

secara keseluruhan kriteria penataan dan pembinaan PKL merupakan faktor yang

paling penting dalam aspek manajemen (0,370), diikuti oleh kriteria

meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional

(0,288), meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (0,253) dan terakhir

membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien (0,090).

Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk mendukung pertumbuhan dan

perkembangan pasar tradisional di Kota Bogor maka penataan dan pembinaan

PKL merupakan kriteria yang paling penting pada aspek manajemen. PKL yang

tersebar di sekitar pasar dan di pinggir jalan menjadi kendala utama bagi

pertumbuhan pasar tradisional, sehingga pengembangan pasar tradisional

diarahkan untuk menata PKL dan merelokasi ke pasar-pasar yang ada.

Manajemen pengelolaan pasar harus ditingkatkan supaya pasar tradisional

dapat menjadi usaha yang profitable sehingga dapat mengatur sendiri

keuangannya tanpa tergantung dari anggaran Pemerintah. Untuk memuaskan

kebutuhan masyarakat maka kriteria berikutnya yang penting yaitu meningkatkan

pelayanan kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak beralih ke pasar modern,

dan terakhir yaitu membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien.

8.2.3.Aspek Sosial

Hasil analisis mengenai prioritas kriteria pada aspek sosial dapat dilihat

pada Gambar 15.


Mengurangi Konflik 0.227

Aman dan Nyaman 0.498

Kompetitif 0.274

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,01

Gambar 15. Prioritas Kriteria pada Aspek Sosial dalam Pengembangan


Pasar Tradisional di Kota Bogor

Gambar 15 menunjukkan bahwa urutan kriteria yang paling penting dalam

aspek sosial yaitu terciptanya kondisi pasar yang aman, nyaman dan bersih bagi

konsumen (0,498), menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih

kompetitif (0,274), mengurangi potensi konflik dengan masyarakat (0,227). Pada

pengembangan pasar tradisional yang dapat mendukung pertumbuhan pasar

tradisional yaitu dengan menciptakan kondisi pasar yang aman, bersih dan

nyaman sehingga konsumen lebih suka berbelanja di pasar tradisional

dibandingkan di tempat lain. Untuk menghadapi usaha-usaha lain seperti toko

serba ada, mini market dan pasar swalayan maka pasar tradisional harus menjadi

usaha yang kompetitif supaya tidak kalah dari usaha lainnya. Keberadaan pasar

tradisional di tengah masyarakat juga harus dapat meminimalisasi konflik dengan

masyarakat agar tidak terjadi benturan kepentingan antar stakeholders.

8.2.4.Aspek Teknis

Hasil analisis prioritas kriteria pada aspek teknis dapat dilihat pada

Gambar 16.
Bersih dan Rapi 0.433

Peningkatan Fasilitas 0.567

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,00

Gambar 16. Prioritas Kriteria pada Aspek Teknis dalam Pengembangan


Pasar Tradisional di Kota Bogor

Gambar 16 menunjukkan bahwa kriteria yang paling penting pada aspek

teknis yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar (0,567) diikuti oleh kondisi

fisik pasar yang lebih bersih dan rapi (0,433). Supaya pedagang mau menempati

kiosnya di pasar maka fasilitas pasar harus ditingkatkan sehingga pedagang betah

berjualan di pasar tersebut. Bangunan fisik pasar juga harus diperbaiki supaya

lebih bersih dan rapi sehingga dapat menarik orang untuk berbelanja di pasar.

8.3. Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar Tradisional

Berdasarkan hasil analisis dari pendapat responden ahli maka untuk

mencapai tujuan pengembangan pasar tradisional maka prioritas alternatif strategi

dapat dilihat pada Gambar 17.


Pembentukan PD. Pasar 0.243

Pembangunan Pasar Lingkungan 0.133

Menjalin Kemitraan 0.125

Pemberdayaan 0.155

Pemberian Bantuan Kredit 0.115

Pembentukan Forum Komunikasi 0.093

Pendistribusian PKL 0.136

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,1

Gambar 17. Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar


Tradisional di Kota Bogor

Gambar 17 memperlihatkan prioritas alternatif strategi utama dalam

pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu Pembentukan PD. Pasar.

Alternatif ini menduduki peringkat tertinggi sebagai strategi dalam pengembangan

pasar tradisional. Menurut pendapat responden, pembentukan PD. Pasar dapat

menjadi jalan untuk pertumbuhan dan perkembangan pasar tradisional, dengan

adanya PD. Pasar diharapkan pengelolaan pasar dilakukan dengan sistem profit

oriented. Usaha pasar tradisional dapat lebih berkembang serta efisien tanpa

tergantung pada sumber dana dari pemerintah serta dengan manajemen yang lebih

profesional diharapkan pasar tradisional dapat menjadi usaha yang bersaing.

Seluruh pasar yang ada di Kota Bogor akan berada di bawah satu

pengelolaan yaitu dalam bentuk PD. Pasar sehingga kebijakan yang akan

ditetapkan pun akan memperhatikan kepentingan seluruh pasar sehingga tidak

tumpang tindih antar masing-masing program kegiatan. Selama ini pasar

tradisional yang ada di Kota Bogor masing-masing dikelola oleh Kepala UPTD

dan bawahannya yang bertanggungjawab langsung kepada Kepala


Disperindagkop. Dengan demikian di Kota Bogor sendiri terdapat tujuh UPTD.

Hal ini menyebabkan ketujuh UPTD tersebut berdiri secara sendiri-sendiri dan

tidak saling berkaitan. Sehingga terdapat beberapa konflik antar UPTD itu sendiri.

Selama ini, UPTD merupakan instansi pemerintah yang mengelola pasar

pemerintah.Tugas harian yang dilakukan oleh UPTD yaitu penarikan retribusi dari

pedagang. Selain uang retribusi, UPTD juga meminta uang keamanan kepada

pedagang yang tidak memiliki kios/los dan berjualan di pelataran parkir atau di

depan pasar (PKL). Uang yang ditarik dari PKL ini telah memberikan penerimaan

sendiri untuk UPTD sehingga pengelola UPTD kurang tegas dalam mengatur

PKL. PKL sendiri juga merasa memiliki hak untuk berjualan di pasar tersebut

karena merasa telah membayar uang kepada pihak UPTD. Masalah ini telah

menimbulkan konflik antar UPTD di Kota Bogor, terutama di pasar yang

memiliki banyak PKL dan yang sepi pedagang sepeti Pasar Anyar dan Pasar

Jambu Dua.

Pembentukan PD. Pasar akan membawahi seluruh UPTD pasar tradisional

yang ada di Kota Bogor sehingga diharapkan konflik antar UPTD dapat

diselesaikan karena pengelolaan manajemen pasar berada di bawah satu

organisasi. Selain itu, salah satu penyebab pasar tidak berkembang adalah

kurangnya aspek promosi dan pemasaran pasar kepada masyarakat. Pemerintah

dalam hal ini UPTD kurang memasarkan pasar ke masyarakat sehingga hanya

sedikit masyarakat yang membeli kios/los. Adanya PD. Pasar diharapkan dapat

mengelola pasar secara komersial. Upaya pemasaran dapat dilaksanakan melalui

iklan sehingga keberadaan pasar tradisional dikenal secara luas oleh masyarakat.
8.4. Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional

Selama ini pasar tradisional identik dengan pasar yang kumuh, becek, bau,

tidak tertata, dan banyak PKL, akibatnya banyak konsumen yang enggan

berbelanja di pasar tradisional karena kondisinya yang tidak nyaman bagi

pembeli. Hal ini sangat berbeda dengan pasar modern seperti minimarket,

swalayan dan supermarket. Tempat yang bersih dan nyaman, produk yang

beragam serta keamanan yang terjamin menjadi keunggulan dari pasar modern

dibandingkan pasar tradisional.

Gambar 18a Gambar 18b

Gambar 18 menunjukkan dua kondisi yang berbeda antara pasar

tradisional dan pasar modern. Pada Gambar 18a menunjukkan pasar tradisional

yang terkesan becek, kotor, dan tidak rapi, sedangkan pada pasar modern (Gambar

18b) terkesan rapi, nyaman dan bersih. Hal utama yang membedakan antara pasar

modern dan pasar tradisional yaitu adanya pengelolaan manajemen pasar secara

profesional pada pasar modern. Pasar modern lebih bersifat profit oriented

sehingga manajemennya lebih efektif dan efisien. Berkaitan dengan kondisi

tersebut, maka upaya pengembangan pasar tradisional dapat dilakukan melalui

pembenahan pasar tradisional dengan mengadopsi konsep pasar modern tetapi

tetap mempertahankan ciri khas transaksi antara penjual dan pembeli.


Salah satu contoh pasar tradisional yang telah menerapkan konsep

manajemen modern adalah Pasar Modern di Bumi Serpong Damai (BSD),

Tangerang (Gambar 19). Pasar ini layak menjadi acuan bagi pengembangan dan

pembenahan pasar tradisional di Indonesia karena pengelolaannya sangat

profesional meski dilakukan pihak swasta. Kebersihan, keamanan serta

keteraturan dan kedisiplinan pedagang menjadi fokus utama dari pengelola pasar

dengan tetap mempertahankan karakteristik pasar tradisional (tawar menawar).

Gambar 19a. Gambar 19b.

Gambar 19c. Gambar 19d.

Konsep pasar tradisional dengan manajemen modern ini telah berhasil

menampilkan pasar tradisional yang menyerupai mal, supermarket atau swalayan

dari aspek kebersihan dan kerapiannya. Pasar tradisional ini berada di dalam

bangunan beratap dan berlantai keramik serta tempatnya di dalam gedung


pertokoan (Gambar 19a). Pada bagian depan bangunan merupakan toko-toko

modern seperti restoran, kantor dan butik/toko pakaian, sehingga bangunan pasar

terlihat bersih dan menarik dari luar (Gambar 19b).

Setiap pedagang dikelompokkan sesuai dengan jenis komoditi yang dijual

di masing-masing lorong. Pada setiap lorong diberi label komoditi yang dijual

sehingga memudahkan pembeli untuk berbelanja (Gambar 19c). Meskipun

menggunakan konsep pasar modern, tetapi di pasar ini masih menggunakan

sistem pasar tradisional yaitu adanya interaksi sosial antara pembeli dan penjual

melalui proses tawar menawar (Gambar 19d).

Untuk menjaga ketertiban dan kerapian, pengelola pasar menetapkan

peraturan yang harus dipatuhi pedagang. Para pedagang dilarang meletakkan

barang dagangan di jalan atau lorong. Apabila melanggar, barang dagangan akan

diambil atau dibawa ke kantor pengelola. Jika terbukti telah dua kali melakukan

pelanggaran, maka pedagang akan mendapat sanksi pemutusan perjanjian sewa

kios/lapak secara sepihak. Pedagang tidak diperbolehkan membiarkan sampah

berceceran. Sampah harus dimasukkan ke dalam kantong plastik dan meletakkan

di areal yang ditentukan, sampai petugas kebersihan mengambilnya pada jam

tertentu. Para pedagang juga harus menata dan mengatur dagangannya hingga

terlihat menarik. Apabila kegiatan operasional pasar sudah selesai, lantai pasar

akan dibersihkan oleh petugas kebersihan sehingga pasar akan selalu terlihat

bersih.

Selain itu perlu adanya upaya pemberdayaan pengelola pasar dan

pedagang tradisional dengan perbaikan prasarana umum pasar tradisional oleh

pemerintah, mendorong asosiasi pedagang untuk ikut mengelola pasar, dan


adanya insentif bagi swasta untuk mendanai renovasi pasar atau kredit kepada

pedagang tradisional. Pasar tradisional dengan konsep modern ini adalah salah

satu solusi untuk pengembangan pasar tradisional sehingga diharapkan pasar

tradisional dapat tumbuh dan berkembang.


IX. KESIMPULAN DAN SARAN

9.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari pembahasan sebelumnya, dapat ditarik beberapa

kesimpulan sebagai berikut :

1. Terdapat beberapa stakeholders yang terkait dalam perencanaan dan

pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor, yaitu

Bapeda, Disperindagkop, masyarakat pedagang, UPTD, pengelola swasta,

Dispenda, DLHK dan DTKP, dengan kondisi sebagai berikut :

• Stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi adalah

Bapeda dan Disperindagkop.

• Masyarakat pedagang dan UPTD memiliki kepentingan tinggi namun

pengaruhnya rendah.

• Dispenda, DLHK dan DTKP memiliki kepentingan yang rendah dan pengaruh

yang tinggi.

• Pengelola pasar swasta memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh rendah.

2. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan

pengembangan pasar tradisional tidak mencapai keberhasilan yang disebabkan

karena :

• Proses penyusunan dan perencanaan kebijakan yang kurang tepat sehingga

menyebabkan implementasinya yang kurang tepat pula.

• Kriteria utama yang menyebabkan proses pembuatan kebijakan

pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu keterlibatan stakeholders

dan proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang benar.


• Kriteria utama yang menyebabkan penerapan kebijakan pengembangan pasar

tradisional kurang tepat yaitu penerapan perencanaan pengembangan pasar

tradisional secara efektif dan efisien.

• Hasil analisis stakeholders menunjukkan bahwa tidak semua stakeholders

yang berkepentingan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional

dilibatkan dalam proses perencanaan dan penerapan kebijakan. Sehingga

adanya kegagalan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional

disebabkan karena tidak dilibatkannya seluruh stakeholders yang

berkepentingan terhadap kebijakan ini.

3. Strategi pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yang diolah dengan

analisis PHA menunjukkan bahwa :

• Aspek yang paling penting dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional

secara berurutan yaitu aspek ekonomi, aspek manajemen, aspek sosial dan

aspek teknis.

• Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek ekonomi secara berurutan yaitu

menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan pedagang dan

masyarakat dan meningkatkan PAD.

• Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek manajemen secara berurutan yaitu

penataan dan pembinaan PKL, meningkatkan manajemen pengelolaan pasar

tradisional secara profesional, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat

dan membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien.

• Kriteria-kriteria yang penting secara berurutan dalam aspek sosial yaitu

terciptanya kondisi pasar yang aman, nyaman dan bersih bagi konsumen,
menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif dan

mengurangi potensi konflik dengan masyarakat.

• Kriteria-kriteria yang penting secara berurutan dalam aspek teknis yaitu

peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar yang lebih

bersih dan rapi.

• Prioritas alternatif strategi dalam pengembangan pasar tradisional di Kota

Bogor yaitu pembentukan PD. Pasar, pemberdayaan pedagang dan pengelola

pasar, pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun, pembangunan

pasar lingkungan, menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi, pemberian

bantuan kredit dan pembentukan forum komunikasi.

9.2. Saran

1. Pemerintah sebaiknya baik dalam proses penyusunan maupun pelaksanaan

kebijakan melibatkan seluruh stakeholders yang benar-benar memiliki

kepentingan terhadap kebijakan.

2. Untuk meningkatkan kekuatan pengaruh dari masyarakat pedagang maka

perlu dibentuk suatu asosiasi atau paguyuban pedagang untuk memperkuat

posisi tawar mereka dalam proses pengambilan keputusan kebijakan.

3. Pemerintah seharusnya melaksanakan suatu studi kelayakan sesuai dengan

kondisi riil di lapangan sebelum menyusun suatu perencanaan kebijakan,

sebagai salah atu bentuk partisipasi masyarakat..

4. Upaya pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilakukan dengan

pembentukan PD. Pasar yang dapat menaungi seluruh pengelolaan pasar

tradisional yang berada di Kota Bogor.


DAFTAR PUSTAKA

Abdrabo, Mohamed A. dan Mahmoud A. Hassaan. Stakeholder Analysis.


www.wadi-unifi.com. [30 Agustus 2007].

Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor. 2005. Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kota Bogor. Bogor.

-----------------------------------------------------. 2006. Revisi Rencana Tata Ruang


Wilayah Kota Bogor. Bogor.

Badan Pusat Statistik Kota Bogor. 2006. Kota Bogor Dalam Angka 2005. BPS.
Bogor.

Balitbangdiklat Kota Bogor dan PT. Oxalis Subur. 2007. Studi Kelayakan PD.
Pasar di Kota Bogor. Laporan Penelitian. Tidak Dipublikasikan. Bogor.

DFID. 2006. Manajemen Daur Proyek dan Penggunaan Kerangka Kerja Logis.
http://www.deliveri.org [30 Agustus 2007].

Dharmayanti, Indrani. 2006. Kajian Reklamasi Pantai Dadap Kabupaten


Tangerang (Sebuah Analisa Persepsi Stakeholder). Tesis. Sekolah
PascaSarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi. 2006. Peraturan Daerah Kota


Bogor Nomor 7 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Pasar. Bogor.

---------------------------------------------------------------------. Peraturan Daerah Kota


Bogor Nomor 3 Tahun 2006 tentang Retribusi Pelayanan Pasar. Bogor.

Dunn, William N. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Penerjemah:


Samodra Wibawa. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Dwijowijot, Riant Nugroho. 2003. Kebijakan Publik; Formulasi, Implementasi


dan Evaluasi. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Hakim, Dzulfikar Ali. 2007. Analisis Prospek Permintaan Jasa Pasar dan Studi
Kelayakan Pembangunan Pasar Tradisional Kecamatan Cicantayan
Kabupaten Sukabumi. Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen
Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ismawan, B. 2003. Peran Lembaga Keuangan Mikro dalam Otonomi Daerah.


Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Fakultas Ekonomi. Universitas Gajah Mada.
Yogyakarta.
Kartini, Rini. 2002. Dampak Perpindahan Lokasi Pasar Induk terhadap Sistem
Pemasaran Sayur Mayur di Kota Bogor. Skripsi. Program Sarjana. Jurusan
Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Lamadlauw, Meidina Trijadi. 2006. Strategi Pengembangan Usaha Kecil dan
Menengah Agroindustri di Kabupaten Bogor. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Mishra, Satish C. 2005. Pembuatan Kebijakan Demokratis dalam Konteks yang


Berubah. United Nations Support Facility for Indonesian Recovery. Jakarta.

Nindyantoro. 2004. Kebijakan Pembangunan Wilayah: Dari Penataan Ruang


Sampai Otonomi Daerah. Bogor: Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi
Pertanian.

Pemerintah Kota Bogor. 2002. Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran


Walikota Bogor Tahun 2001. Bogor.

----------------------------. 2003. Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran


Walikota Bogor Tahun 2002. Bogor.

----------------------------. 2004. Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran


Walikota Bogor Tahun 2003. Bogor.

Rahayu, Sri. 2005. Analisis Penentuan Lokasi Optimal Pasar Tradisional sebagai
Pusat Perdagangan di Kota Bekasi dalam Pengembangan Wilayah. Skripsi.
Program Sarjana. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rangkuti, Khairunnisa. 2005. Analisis Pengembangan Pasar Tradisional dan


Dampaknya Terhadap Pembangunan Wilayah (Studi Kasus Pasar
Tradisional di Kota Medan). Tesis. Program Pasca Sarjana. Program Studi
Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan. Universitas Sumatera
Utara.

Saaty, Thomas L. 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin.


Penerjemah: Liana Setiono. PT. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

Safitri, Benny. Analisis Respon Stakeholders terhadap Kebijakan Perluasan


Kawasan di Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (Studi Kasus
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten). Skripsi. Program Sarjana. Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Schmeer, Kammi. 2007. Stakeholder Analysis at a Glance. www.lachsr.org [7


Januari 2008].
Tandiyar, Alan. 2002. Kajian Perkembangan Pasar Tanah Baru Sebagai Acuan
Bagi Pembangunan Pasar Tradisional Baru di Kota Bogor. Tesis. Magister
Teknik Pembangunan Kota. Universitas Diponegoro. Semarang.

Untoro, Fathoni. 2006. Evaluasi Pelaksanaan Kesepakatan Konservasi Desa


(KKD) dalam Kerinci Seblat-Integrated Conservation and Development
Project (KS-ICDP) melalui Analisis Stakeholders (Studi Kasus Kabupaten
Meranging, Provinsi Jambi). Skripsi. Program Sarjana. Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Matriks Kriteria, Indikator dan Nilai Proses Pembuatan
Kebijakan

NO KRITERIA INDIKATOR NILAI


1. Penyusunan kebijakan Tidak tertulis dan
pengembangan pasar tradisional tidak tersedia (1),
dibuat secara tertulis dan tersedia tertulis dan tidak
bagi setiap warga yang tersedia (3), tertulis
Proses penyusunan membutuhkan dan tersedia (5)
kebijakan 2. Terdapat kejelasan dari sasaran Tidak jelas (1),
A
pengembangan pasar kebijakan yang diambil, dan sesuai cukup jelas (3),
tradisional yang benar dengan visi yang dirumuskan dan sangat jelas (5)
misi yang diemban
3. Penyusunan kebijakan berdasarkan Tidak (1),
informasi yang akurat, terbaru dan perpaduan lama dan
lengkap baru (3), ya (5)
4. Penyusunan kebijakan memenuhi Tidak memenuhi
standar etika, prinsip-prinsip (1), cukup
administrasi yang benar dan nilai- memenuhi (3),
nilai yang berlaku di stakeholders sangat memenuhi
(5)
5. Terdapat mekanisme yang menjamin Tidak ada (1), ada,
bahwa prinsip dan nilai yang berlaku konsekuensi tidak
telah terpenuhi, dengan konsekuensi terlaksana (3), ada,
B Akuntabilitas mekanisme pertanggungjawaban konsekuensi
jika tidak terpenuhi terlaksana (5)
6. Penyusunan kebijakan dapat Tidak dapat (1),
dipertanggungjawabkan secara cukup (3), dapat (5)
hukum dan sosial
7. Pemahaman tanggungjawab dari Tidak paham (1),
pembuat kebijakan terhadap publik cukup paham (3),
dan lembaga-lembaga stakeholders sangat paham (5)
lain atau sektor lain
8. Melibatkan seluruh stakeholders Tidak (1), sebagian
yang berkepentingan dalam proses (3), seluruhnya (5)
perencanaan
9. Pemahaman fungsi, wewenang dan Tidak paham (1),
tanggungjawab dari stakeholders cukup paham (3),
yang terlibat sangat paham (5)
10. Teridentifikasinya kepentingan Tidak diidentifikasi
Keterlibatan setiap stakeholders terhadap (1), cukup
C
stakeholders kebijakan sesuai dengan tupoksi-nya diidentifikasi (3),
diidentifikasi (5)
11. Stakeholders yang terlibat Tidak paham (1),
memahami program dengan baik cukup paham (3),
sangat paham (5)
12. Terdapat kejelasan koordinasi antar Tidak jelas (1),
stakeholders yang terlibat cukup jelas (3),
sangat jelas (5)
Lanjutan Lampiran 1...

NO KRITERIA INDIKATOR NILAI


13. Penyebarluasan informasi Tidak ada (1), ada tapi
mengenai program pengembangan jarang (3), ada sering
pasar tradisional melalui media dilakukan (5)
massa maupun elektronik pada
publik
14. Adanya seminar/workshop oleh Tidak ada (1), ada tapi
D Sosialisasi kebijakan dinas terkait jarang (3), ada sering
dilakukan (5)
15. Terdapat upaya untuk Tidak ada (1), ada tapi
meningkatkan arus informasi tidak berhasil (3), ada
melalui kerjasama dengan media berhasil (5)
massa dan lembaga non
pemerintahan
16. Adanya forum untuk menampung Tidak ada (1), ada tapi
partisipasi masyarakat yang kurang efektif (3), ada
representatif, jelas arahnya, dapat dan sangat efektif (5)
dikontrol dan bersifat terbuka
17. Sasaran dan tujuan pengembangan Tidak (1), sebagian
E Partisipasi publik ditetapkan berdasarkan konsensus (3), ya (5)
antara pemerintah dan masyarakat
18. Terdapat akses terbuka dan bebas Tidak ada (1), ada tapi
bagi masyarakat untuk tidak bebas (3), ada
menyampaikan pendapat dalam dan bebas (5)
proses penyusunan kebijakan
19. Tersedianya informasi yang jelas Tidak tersedia (1),
tentang prosedur, proses dan biaya tersedia sebagian (3),
perencanaan kebijakan tersedia seluruhnya (5)
20. Terdapat aturan hukum yang Tidak ada (1), ada tapi
F menjamin kemudahan stakeholders belum menjamin
Transparansi lain dan masyarakat (pedagang sepenuhnya (3), ada
pasar) untuk mengakses informasi dan menjamin
kebijakan secara bebas seluruhnya (5)
21. Tersedianya informasi yang Tidak tersedia (1),
memadai sehingga mudah tersedia sebagian (3),
dimengerti tersedia seluruhnya (5)
22. Perumusan kebijakan sesuai Tidak sesuai (1), cukup
dengan kebutuhan publik dan sesuai (3), sangat
perubahan lingkungan sesuai (5)
23. Kepekaan stakeholders dalam Tidak peka (1), cukup
menanggapi kepentingan peka (3), sangat peka
G Responsivitas
masyarakat dan lembaga (5)
stakeholders lain
24. Terdapat upaya dari stakeholders Tidak ada (1), ada tapi
untuk merespon pendapat tidak semuanya (3),
masyarakat ada dan semuanya (5)
25. Teridentifikasinya biaya atau dana Tidak diidentifikasi
Tersedianya dana
untuk pengembangan pasar (1), cukup
H yang memadai dan
diidentifikasi (3),
berkelanjutan
diidentifikasi (5)
Lanjutan Lampiran 1...

NO KRITERIA INDIKATOR NILAI


26. Pembangunan pasar tradisional Tidak memperhatikan,
memperhatikan kepentingan sektor dampak berat (1), tidak
dan kawasan lain memperhatikan,
dampak ringan (3),
memperhatikan, tidak
I Ego sektoral timbul dampak (5)
27. Kebijakan pengembangan pasar Terdapat konflik, tidak
tradisional tidak menimbulkan terselesaikan (1),
konflik antar sektor atau antar terdapat konflik,
kawasan maupun antara terselesaikan (3), tidak
masyarakat dengan pemerintah terdapat konflik (5)
28. Tujuan kebijakan pengembangan Tidak ada alternatif
pasar tradisional tidak program (1), ada
Kebijakan lain yang menimbulkan konflik dengan alternatif program
tidak tumpang tindih alternatif program perekonomian yang tumpang tindih
J
dari pengembangan wilayah tapi cukup diatasi (3),
pasar tradisional ada alternatif program
tapi tidak tumpang
tindih (5)
Lampiran 2. Matriks Kriteria, Indikator dan Nilai Penerapan Kebijakan

NO KRITERIA INDIKATOR NILAI


1. Program atau aktivitas telah Tidak dilaksanakan (1)
dilaksanakan dilaksanakan (3),
dilaksanakan sesuai
sasaran dan tujuan (5)
2. Program atau aktivitas Tidak (1), cukup efektif
dilaksanakan secara efektif dan dan efisien (3), sangat
Penerapan
efisien efektif dan efisien (5)
perencanaan
3. Sasaran/hasil yang diinginkan Tidak tercapai (1),
pengembangan
A telah tercapai sebagian sasaran tercapai
pasar tradisional
(3), tercapai seluruhnya
secara efektif dan
(5)
efisien
4. Ketepatan alokasi sumberdana Tidak tepat (1), cukup
tepat (3), sangat tepat (5)
5. Konsistensi pelaksanaan program Tidak konsisten (1),
sesuai target operasional yang cukup konsisten (3),
telah ditetapkan maupun prioritas sangat konsisten (5)
dalam mencapai target tersebut
6. Terdapat kegiatan monitoring dan Tidak ada (1), ada tapi
evaluasi atas pelaksanaan jarang dilakukan (3), ada
program pengembangan pasar sering dilakukan (5)
tradisional
7. Tersedianya lembaga/dinas/badan Tidak tersedia (1),
yang malaksanakan kegiatan tersedia tapi jarang
monitoring dan evaluasi dilakukan (3), tersedia
Monitoring dan
B sering dilakukan
evaluasi program
8. Arsip dan dokumen dari laporan Tidak tersedia (1), cukup
kegiatan monitoring dan evaluasi tersedia (3), tersedia
tersedia lengkap (5)

9. Keterlibatan masyarakat dalam Tidak terlibat (1), cukup


kegiatan pemantauan dan terlibat (3), sangat terlibat
pengawasan (5)
10.Hasil kebijakan memuaskan Tidak memuaskan (1),
C Responsivitas kebutuhan publik cukup memuaskan (3),
sangat memuaskan (5)
11.Pelaksanaan dan hasil kebijakan Tidak dapat (1), cukup
D Akuntabilitas dapat dipertanggungjawabkan (3), dapat (5)
secara hukum dan sosial
12.Keterbukaan informasi dalam Tidak (1), cukup (3), ya
pelaksanaan kebijakan terkait (5)
sumberdaya, alokasi dana, proses
E Transparansi tender, jadwal pelaksanaan
proyek dan hasil yang dicapai
terhadap segenap stakeholders
dan masyarakat
Lanjutan Lampiran 2...

NO KRITERIA INDIKATOR NILAI


13.Terdapat dasar hukum Tidak ada (1), ada cukup
(UU/Perda) yang jelas dalam jelas (3), ada sangat jelas (5)
pelaksanaan program kebijakan
pengembangan pasar
14.Tersedianya mekanisme Tidak tersedia (1), tersedia
pengaduan masyarakat jika ada tapi pengaduan tidak
peraturan yang dilanggar ditanggapi (3), tersedia
maupun penyimpangan tindakan ditanggapi (5)
F Legalitas kebijakan aparat publik (misalnya
menerima uang suap) di dalam
pelaksanaan program
15.Adanya sanksi yang tegas bagi Tidak ada sanksi (1), sanksi
pelaku yang menyimpang dari cukup tegas (3), sanksi
kebijakan tegas (5)
16.Adanya peraturan mampu Tidak mampu (1), cukup
menjawab permasalahan mampu (3), mampu (5)
pengembangan pasar tradisional
17.Pelaksanaan program Tidak terlibat (1), terlibat
pengembangan pasar tradisional sebagian (3), terlibat
melibatkan pihak swasta seluruhnya (5)
G Keterlibatan swasta 18.Keterlibatan pihak swasta Tidak berpengaruh (1),
memberi pengaruh terhadap berpengaruh kecil (3),
keberhasilan pengembangan berpengaruh besar (5)
pasar tradisional
19.Hasil kebijakan yang dicapai Tidak bermanfaat (1),
dapat memberikan manfaat cukup bermanfaat (3),
H Ketepatan kepada kebutuhan publik sangat bermanfaat (5)
20.Hasil kebijakan yang dicapai Tidak dapat (1), cukup (3),
dapat memecahkan masalah dapat (5)
21.Manfaat kebijakan dapat Tidak dapat (1),
dirasakan secara merata oleh didistribusikan tidak merata
seluruh pihak yang (3), didistribusikan merata
berkepentingan sehingga tidak (5)
I Keadilan
ada pihak yang dimarginalkan
22.Keikutsertaan pedagang dalam Tidak terlibat (1), terlibat
pengelolaan dan pelaksanaan sebagian (3), terlibat
program sepenuhnya (5)
Lampiran 3. Struktur Hirarki AHP

Pengembangan Pasar
Tujuan Tradisional (1,000)

Aspek Ekonomi (0,421) Manajemen (0,253) Teknis (0,131) Sosial (0,195)

• Meningkatkan PAD • Meningkatkan manajemen • Peningkatan sarana dan • Mengurangi potensi


(0,250) pengelolaan pasar prasarana pasar (0,567) konflik dengan
Kriteria • Menciptakan lapangan tradisional secara • Kondisi fisik pasar lebih masyarakat (0,227)
kerja (0,482) profesional (0,288) bersih dan rapi (0,433) • Terciptanya kondisi
• Meningkatkan • Membentuk pasar pasar yang aman,
kesejahteraan pedagang tradisional menjadi usaha nyaman dan bersih bagi
dan masyarakat (0,269) yang efisien (0,090) konsumen (0,498)
• Meningkatkan pelayanan • Menciptakan pasar yang
kepada masyarakat (0,253) berdaya saing sehingga
• Penataan dan pembinaan lebih kompetitif (0,274)
PKL (0,370)

Alternatif Pembentukan Pembangunan Menjalin Pemberdayaan Pemberian Pembentukan Pendistribusian


PD. Pasar pasar tradisional kemitraan pedagang dan bantuan kredit forum komunikasi PKL ke pasar-
(0,243) skala lingkungan dengan UKM pengelola pasar (0,115) (0,053) pasar yang telah
di lokasi strategis dan Koperasi (0,155) dibangun
dekat pemukiman (0,125) (0,136)
(0,133)
Lampiran 4. Bagan Struktur Organisasi Diperindakop

KEPALA

BAGIAN TU

SUBBAG UMUM SUBBAG KEU

BIDANG BIDANG BIDANG BIDANG


PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN PM & PROMOSI KOPERASI & UKM

SEKSI SEKSI SEKSI SEKSI


BINA PEMBINAAN PENANAMAN BINA LEMB &
IKKR USAHA MODAL USAHA
PERDAGANGAN KOPERASI

SEKSI SEKSI SEKSI


SEKSI
BINA LKA PEMASARAN & PROMOSI BINA UKM
EKSPOR IMPOR & PKL

7 UPTD PASAR

Sumber : Disperindagkop Kota Bogor, 2005


Lampiran 5. Gambaran Umum Struktur Organsisasi UPTD

KEPALA

KOORDINATOR

STAF/PELAKSANA

KOORDINATOR
KOORDINATOR KOORDINATOR PENGOLAHAN &
HARTIB RETRIBUSI PEMELIHARAAN

STAF/PELAKSANA
STAF/PELAKSANA STAF/PELAKSANA
PENGOLAHAN &
HARTIB RETRIBUSI
PEMELIHARAAN

PETUGAS

Sumber : Laporan Tahunan 7 UPTD Pasar Kota Bogor, Tahun 2005