Anda di halaman 1dari 28

Bagian Orthopedi dan Traumatologi Laporan Kasus dan Referat

Fakultas Kedokteran Oktober 2017


Universitas Hasanuddin

CLOSED FRACTURE RIGHT NECK FEMUR

Disusun Oleh :

Thathmainnul Qulub C111 10 817


Alif Zulfikar Supardi C111 12 895
Ditha P. Buntuan C111 11 381
Vivi Utami Mulia C111 12 332
Dian Nurani C111 10 338

Residen :

dr. Anak Agung Gede Putra


dr. Marcell Wijaya

Supervisor :

dr. Michael John, M.Kes, SpOT

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ORTHOPEDI DAN TRAUMATOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini, menerangkan bahwa laporan kasus dan


referat dengan judul Closed Fracture Right Neck Femur, yang disusun oleh :

Nama : Thathmainnul Qulub C111 10 817


Alif Zulfikar Supardi C111 12 895
Ditha P. Buntuan C111 11 381
Vivi Utami Mulia C111 12 332
Dian Nurani C111 10 338

Telah diperiksa dan dikoreksi, untuk selanjutnya dibawakan sebagai tugas


pada bagian Orthopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin pada waktu yang telah ditentukan.

Makassar, Oktober 2017

Residen Pembimbing, Residen Pembimbing,

dr. Anak Agung Gede Putra dr. Marcell Wijaya

Supervisor Pembimbing,

dr. Michael John, M.Kes, SpOT


BAB I
LAPORAN KASUS

I.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. DM
No. Rekam Medik : 816165
Tanggal Lahir : 11 Juni 1935
Umur : 82 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Anggrek No.23 Makassar
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Tanggal MRS : 21 September 2017
DPJP : dr. Henry Yurianto, M.Phil, Ph.D, SpOT(K)

I.2 ANAMNESIS
Keluhan Utama : Nyeri pada pangkal paha kanan
- Riwayat Penyakit Sekarang :
Nyeri pada pangkal paha kanan dialami sejak 5 hari sebelum masuk
rumah sakit. Awalnya pasien sedang berada di kamar mandi untuk
mengambil air wudhu kemudian terpeleset karena lantai licin. Pasien
terjatuh dengan posisi pinggang kanan membentur lantai terlebih dahulu.
Sejak saat itu pasien tidak dapat berjalan, hanya berbaring di tempat tidur.
Sebelumnhya pasien dapat berjalan dengan normal.

- Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat hipertensi tidak ada. Riwayat diabetes mellitus tidak ada.
Riwayat penyakit jantung tidak ada. Riwayat alergi tidak ada. Riwayat
operasi sebelumnya tidak ada.
I.3 PEMERIKSAAN FISIK
- Primary Survey :
Airway : Clear.
Breathing : RR 20 kali/menit, bunyi pernapasan vesikuler, bunyi
tambahan ronkhi -/-, wheezing -/-.
Circulation : HR 72 kali/menit, CRT < 2 detik.
Disability : GCS 15 (E4M6V5), pupil bulat isokor, diameter 2,5
mm/2,5 mm.
Exposure : Suhu axilla 36,7o C.

- Secondary Survey :
Status Lokalis :
Right Hip Region :
Look : Deformitas ada, hematoma tidak ada,
edema tidak ada, luka tidak ada.
Feel : Nyeri tekan ada.
Move : Gerak aktif dan pasif hip joint sulit
dievaluasi dikarenakan nyeri, gerak aktif dan
pasif knee joint sulit dievaluasi dikarenakan
nyeri.
Neurovascular distal : Sensibilitas baik, pulsasi arteri dorsalis
pedis dan arteri tibialis posterior teraba,
CRT < 2 detik.
Right Left
ALL 85 cm 87 cm
TLL 82 cm 84 cm
LLD 2 cm
I.4 GAMBARAN KLINIS
I.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Pemeriksaan Laboratorium :
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
HB 9,8 g/dL 11,5 - 16,0
RBC 3,11 x 106 / mm3 3,80 - 5,80
WBC 12,1 x 103 / mm3 4,0 - 10,0
PLT 360 x 103 / mm3 150 - 500
HCT 29,3 % 37,0 - 47,0
MCV 94 µm3 80 - 100
MCH 31,5 pg 27,0 - 32,0
MCHC 33,4 g/dL 32,0 - 36,0
PT 9,1 detik 10 - 14
APTT 24,2 detik 22,0 - 30,0
INR 0,81 -

Kesan : Anemia + Leukositosis

- Pemeriksaan Radiologi
 Foto Pelvis AP

Kesan : Tampak fraktur pada bone cervical right femur.


 Foto Femur Dextra AP/Lateral

Kesan : Fraktur basicervical collum femur dextra.

I.6 RESUME
Seorang perempuan usia 82 tahun datang ke IGD Rumah Sakit
Wahidin Sudirohusodo dengan keluhan nyeri pada pangkal paha sebelah
kanan yang dialami sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Awalnya
pasien sedang berada di kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian
terpeleset karena lantai licin. Pasien terjatuh dengan posisi pinggang kanan
membentur lantai terlebih dahulu. Sejak saat itu pasien tidak dapat berjalan,
hanya berbaring di tempat tidur. Sebelumnya pasien dapat berjalan dengan
normal. Riwayat hipertensi tidak ada. Riwayat diabetes mellitus tidak ada.
Riwayat penyakit jantung tidak ada. Riwayat alergi tidak ada. Riwayat
operasi sebelumnya tidak ada.
Dari pemeriksaan fisik primary survey dalam batas normal. Dari
pemeriksaan secondary survey pada right femur region didapatkan pada
inspeksi tampak deformitas, ada nyeri tekan, Range of Motion pergerakan
aktif dan pasif pada hip joint dan knee joint terbatas dan sulit dinilai karena
pasien merasa nyeri. Pada pemeriksaan neurovaskuler distal dalam batas
normal. Pada pemeriksaan leg length discrepancy terdapat perbedaan
panjang 2 cm baik pada TLL dan ALL.
Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia dan
leukositosis. Dari pemeriksaan x-ray pelvis AP didapatkan kesan fraktur
pada bone cervical right femur. Dari pemeriksaan right femur AP/Lateral
didapatkan kesan fraktur basocervical collum femur dextra.

I.7 DIAGNOSIS
Closed Fracture Right Neck Femur

I.8 PENATALAKSANAAN
- IVFD Ringer Laktat 20 tetes/menit
- Analgetik
- Pasang skin traksi dengan berat 3 kg
- Rencana Operasi Bipolar Hemiarthroplasty oleh bagian Orthopedi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
NECK FEMUR FRACTURE

II.1 PENDAHULUAN
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang. Fraktur dibagi
atas dua, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur tertutup
(simple) yaitu bila kulit yang tersisa diatasnya masih intak (tidak terdapat
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar), sedangkan fraktur
terbuka (compound) yaitu bila kulit yang melapisinya tidak intak dimana
sebagian besar fraktur jenis ini sangat rentan terhadap kontaminasi dan
infeksi.(1,2)

Fraktur collum (leher) femur adalah tempat yang paling sering


terkena fraktur pada wanita usia lanjut. Ada beberapa variasi insiden
terhadap ras. Fraktur collum femur lebih banyak pada populasi kulit putih
di Eropa dan Amerika Utara. Insiden meningkat seiring dengan
bertambahnya usia. Sebagian besar pasien adalah wanita berusia tujuh
puluh dan delapan puluhan.(1,2)

Namun fraktur collum femur bukan semata-mata akibat penuaan.


Fraktur collum femur cenderung terjadi pada penderita osteopenia diatas
rata-rata, banyak diantaranya mengalami kelainan yang menyebabkan
kehilangan jaringan tulang dan kelemahan tulang, misalnya pada penderita
osteomalasia, diabetes, stroke, dan alkoholisme. Beberapa keadaan tadi
juga menyebabkan meningkatnya kecenderungan jatuh. Selain itu, orang
lanjut usia juga memiliki otot yang lemah serta keseimbangan yang buruk
sehingga meningkatkan resiko jatuh.(1,2)
II.2 ANATOMI
Femur merupakan tulang terpanjang dan terberat dalam tubuh,
meneruskan berat tubuh dari os coxae ke tibia sewaktu kita berdiri. Caput
femoris ke arah craniomedial dan agak ke ventral sewaktu bersendi dengan
acetabulum. Ujung proksimal femur terdiri dari sebuah caput femoris dan
dua trochanter (trochanter mayor dan trochanter minor).(1)

Gambar 1. Anatomi femur.(5)

Area intertrochanter dari femur adalah bagian distal dari collum


femur dan proksimal dari batang femur. Area ini terletak di antara
trochanter mayor dan trochanter minor. Caput femoris dan collum femoris
membentuk sudut (1150-1400) terhadap poros panjang corpus femoris,
sudut ini bervariasi dengan umur dan jenis kelamin. Corpus femoris
berbentuk lengkung, yakni cembung ke arah anterior. Ujung distal femur,
berakhir menjadi dua condylus, epicondylus medialis dan epicondylus
lateralis yang melengkung bagaikan ulir.(1)

Caput femoris mendapatkan aliran darah dari tiga sumber, yaitu


pembuluh darah intramedular di leher femur, cabang pembuluh darah
servikal asendens dari anastomosis arteri sirkumfleks media dan lateral
yang melewati retinakulum sebelum memasuki caput femoris, serta
pembuluh darah dari ligamentum teres.(1)

Gambar 2. Vaskularisasi femur.(5)

Pada saat terjadi fraktur, pembuluh darah intramedular dan


pembuluh darah retinakulum mengalami robekan bila terjadi pergeseran
fragmen. Fraktur transervikal adalah fraktur yang bersifat intrakapsuler
yang mempunyai kapasitas yang sangat rendah dalam penyembuhan
karena adanya kerusakan pembuluh darah, periosteum yang rapuh, serta
hambatan dari cairan sinovial.(1,2)

Sendi panggul dan leher femur ini dibungkus oleh capsula yang di
medial melekat pada labrum acetabuli di lateral, ke depan melekat pada
linea trochanterika femoris dan ke belakang pada setengah permukaan
posterior collum femur. Capsula ini terdiri dari ligamentum iliofemoral,
pubofemoral, dan ischiofemoral. Ligamentum iliofemoral adalah sebuah
ligamentum yang kuat dan berbentuk seperti huruf Y terbalik. Dasarnya
disebelah atas melekat ada spina iliaca anterior inferior, dibawah kedua
lengan Y melekat pada bagian atas dan bawah linea intertrochanterica.
Ligamen ini berfungsi untuk mencegah ekstensi berlebihan selama berdiri.
Ligamentum pubofemoral berbentuk segitiga. Dasar ligamentum melekat
pada ramus superior ossis pubis, dan apex melekat di bawah pada bagian
bawah linea intertrochanterica. Ligamen ini berfungsi untuk membatasi
gerak ekstensi dan abduksi. Ligamentum ischiofemoral berbentuk spiral
dan melekat pada corpus ossis ischia dekat margo acetabuli dan di bagian
bawah melekat pada trochanter mayor. Ligamen ini membatasi gerak
ekstensi.(1,2)

Gambar 3. Anatomi ligamen pada femur.(5)

II.3 MEKANISME TERJADINYA FAKTUR

a. Low-energy trauma
Paling sering terjadi pada pasien dengan usia tua usia tujuh
puluhan dan delapan puluhan, dibagi menjadi :(1)
 Direct
Jatuh ke trochanter mayor (valgus impaksi) atau rotasi
eksternal yang dipaksa pada ekstremitas bawah menjepit leher
osteroporotik ke bibir posterior acetabulum (yang mengakibatkan
posterior kominusi).
 Indirect
Tulang yang osteoporotik tidak mampu menahan perlekatan
dari otot sehingga tulang mengalami fraktur akibat tarikan dari
otot.
b. High-energy trauma
Terjadi patah tulang leher femur pada pasien yang lebih muda
dan lebih tua akibat trauma yang keras, seperti kecelakaan kendaraan
bermotor atau jatuh dari ketinggian yang signifikan.(1)
c. Cyclic loading-stress fractures
Terjadi pada atlet, militer, penari balet, pasien dengan
osteroporosis dan osteopenia berada pada risiko tinggi.(1)
d. Insufficiency fractures
Pasien dengan osteoporosis dan osteopenia yang sangat
berisiko.(1)
Fraktur biasanya disebabkan oleh jatuh biasa, walaupun demikian
pada orang-orang yang mengalami osteoporosis, energi lemah dapat
menyebabkan fraktur. Pada orang-orang yang lebih muda, penyebab
fraktur umumnya karena jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas.
Terkadang fraktur collum femur pada dewasa muda juga diakibatkan oleh
aktivitas berat seperti pada atlit dan anggota militer.(2)

II.4 KLASIFIKASI MULLER

Klasifikasi Muller pada tulang panjang diklasifikasikan menjadi


tipe (jenis), grup (kelompok), dan subgrup (subkelompok) yang nantinya
akan menentukan berat derajat fraktur yang terjadi sesuai dengan
kompleksitas morfologi, sulitnya pengobatan dan prognosisnya. Tipe
mana? Grup mana? Subgrup mana? Ketiga pertanyaan merupakan
jawaban masing-masing untuk menentukan klasifikasi. A1 menunjukkan
fraktur paling sederhana dengan prognosis terbaik dan C3 paling sulit
dengan prognosis terburuk. Saat klasifikasi fraktur dilakukan, kita telah
menentukan tingkat keparahannya dan dengan demikian mendapatkan
panduan untuk pengobatan. Subkelompok mewakili tiga variasi
karakteristik dalam kelompok.(3,4)

Gambar 4. Klasifikasi fraktur menurut morfologi karakteristik.(1)

Penetapan diagnosis fraktur selanjutnya menggunakan alpha-


numeric code yang menentukan diagnosis dengan pertanyaan where dan
what, dimana pembacaan diagnosis akan mengikuti urutan.(3)

Gambar 5. Penentuan diagnosis fraktur alpha-numerik code.(3)

Untuk pengkodean, format alfanumerik akan digunakan. Setiap


tulang atau daerah tulang diberi nomor dan tulangnya panjang masing-
masing dibagi menjadi tiga segmen. 3 jenis diberi label A, B dan C.
Masing-masing tipe dibagi menjadi 3 kelompok : A1, A2, A3 / B1, B2, B3
/ C1, C2, C3. Dengan demikian, ada 9 kelompok. Setiap kelompok dibagi
lagi menjadi 3 subkelompok, dilambangkan dengan angka .1, .2, .3. Jadi,
ada untuk setiap segmen 27 subkelompok.(3)

Pada pertanyaan where, dibagi menjadi tulang dan segmennya


dengan kode untuk tulang sebagai berikut : 1 humerus, 2 radius/ulna, 3
femur, 4 tibia/fibula. Dan kode untuk segmen sebagai berikut : 1 proximal,
2 diafisis, 3 distal, 4 malleolus.(3)

Gambar 6. Segmen pada tulang panjang.(1)

Segmen proksimal dan distal tulang panjang digambarkan sebagai


kotak, dimana sisinya memiliki panjang yang sama dengan bagian terluas
dari epifisis. Pengecualian : proksimal humerus (11), proksimal femur
(31), dan fraktur malleolus (44). Sebelum fraktur ditentukan pada segmen,
harus ditentukan terlebih dahulu pusat dari fraktur. Pada simple fraktur,
pusat fraktur sudah jelas. Dalam wedge fraktur, bagian tengahnya adalah
bagian paling luas dari irisan. Pada fraktur kompleks, pusat hanya bisa
ditentukan setelah reduksi. Fraktur apapun yang terkait dengan komponen
displaced artikular adalah fraktur artikular. Jika fraktur hanya terkait
dengan undisplaced fissure yang mencapai sendi, diklasifikasikan sebagai
metafisis atau diafisis tergantung pada letak pusat fraktur.(3)

Sedangkan pada pertanyaan what, Fraktur pada daerah neck femur


atau proksimal dibagi menjadi 31-A, 31-B dan 31-C, dimana masing-
masing terbagi lagi menjadi 3 jenis fraktur. Fraktur pada daerah proksimal
didefinisikan sebagai garis fraktur yang melintang melalui ujung bawah
trochanter mayor.(4)
Gambar 7. Pembagian fraktur.(4)
31-A Fraktur ekstraartikular, daerah trochanter
31-A1 Pertrochanter sederhana
31-A2 Pertrochanter multifragmen
31-A3 Intertrochanter

Gambar 8. Pembagian fraktur.(2)


31-B Fraktur ekstraartikular, neck
31-B1 Subcapital, dengan sedikit displacement
31-B2 Transcervical
31-B3 Subcapital, displaced, tidak diobati

Gambar 9. Pembagian fraktur.(2)


31-C Fraktur articular, head
31-C1 Split (Pipkun)
31-C2 Dengan depression
31-C3 Dengan neck femur

Contoh penentuan diagnosis, 32-B2.1 :(3)


3 2- B 2 .1
Femur Diafisis Fraktur wedge Bending wedge Subtrochanter
II.5 KLASIFIKASI FRAKTUR NECK FEMUR
1. Klasifikasi Anatomi
Klasifikasi ini didasarkan pada lokasi anatomi dari fraktur neck
femur :(3)
 Subcapital (paling sering terjadi)
 Transcervical
 Basicervical

Gambar 10. Klasifikasi fraktur neck femur berdasarkan lokasi


anatomi. (a) Subcapital, (b) Transcervical, (c) Basicervical

2. Klasifikasi Pauwel
Pada kalsifikasi Pauwel, pengelompokkan didasarkan pada
sudut fraktur dari garis horizontal :(1)
 Tipe I : < 30 derajat
 Tipe II : 31-70 derajat
 Tipe III : > 70 derajat

Gambar 11. Klasifikasi Pauwel


Besarnya gaya dengan sudut lebih besar akan mengarah kepada
fraktur yang lebih tidak stabil.(2)
3. Klasifikasi Garden
Klasifikasi yang paling banyak digunakan adalah klasifikasi
Garden, dimana klasifikasi ini dibuat berdasarkan pergeseran yang
terlihat pada hasil gambaran X-Ray sebelum dilakukan reduksi.(2)

Gambar 12. Klasifikasi Garden.(1)


 Stage I : Fraktur inkomplit, termasuk fraktur abduksi
dimana caput femoris miring kea rah valgus yang berhubungan
dengan collum femoris.
 Stage II : Fraktur komplit, namun tidak terdapat pergeseran.
 Stage III : Fraktur komplit disertai pergeseran parsial.
 Stage IV : Fraktur komplit dengan pergeseran keseluruhan.

Gambar 13. Gambaran radiologi pada klasifikasi Garden : (a) Stage I,


(b) Stage II, (c) Stage III, (d) Stage IV.(2)
Fraktur Garden I dan II dimana hanya terjadi sedikit
pergeseran, memiliki prognosis yang lebih baik untuk penyatuan
dibandingkan dengan fraktur Garden III dan IV. Hal ini tentunya
memiliki pengaruh yang penting terhadap pilihan terapi.(1,2)

II.6 MANIFESTASI KLINIS FRAKTUR NECK FEMUR


Biasanya terdapat riwayat jatuh, yang diikuti nyeri pinggul. Pada
fraktur dengan pergeseran, tungkai pasien terletak pada rotasi eksternal
dan terlihat pemendekan bila dibandingkan dengan tungkai yang lain.
Namun tidak semua fraktur tampak demikian jelas. Pada fraktur impaksi,
pasien mungkin masih dapat berjalan dan pada pasien-pasien dengan
kondisi yang sangat lemah atau memiliki cacat mental mungkin tidak akan
mengeluh, sekalipun mengalami fraktur bilateral.(1,2,5)
Fraktur neck femur pada dewasa muda biasanya disebabkan oleh
kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian, serta sering dikaitkan
dengan cedera multipel. Pada dewasa muda yang mengalami cedera berat,
dengan atau tanpa keluhan nyeri pinggul, harus selalu dilakukan
pemeriksaan yang berhubungan dengan fraktur neck femur.(1,2)
Pasien yang fraktur akibat impaksi atau tekanan mungkin tidak
memiliki kelainan bentuk dan mampu menahan berat badan. Namun,
mereka bisa menunjukkan tanda deformitas minimal, seperti nyeri pada
pangkal paha dan nyeri pada kompresi aksial. Tanda lain yang bisa terjadi
pada fraktur collum femoris, yaitu terbatasnya range of motion serta
terdapat nyeri tekan saat palpasi pangkal paha.(1,2)
Pada kasus dengan high-energy trauma harus dilakukan
pemeriksaan sesuai prosedur ATLS. Fraktur dengan low-energy trauma
biasanya dapat terjadi pada pasien usia tua. Mendapatkan keterangan yang
akurat mengenai ada atau tidaknya penurunan kesadaran, riwayat penyakit,
mekanisme trauma dan aktivitas keseharian sangat penting untuk
menentukan pilihan terapi.(1,2)
II.7 DIAGNOSIS FRAKTUR NECK FEMUR
Diagnosis fraktur femur dapat ditegakkan dengan anamnesis yang
lengkap mengenai kejadian trauma meliputi waktu, tempat, dan
mekanisme trauma, pemeriksaan fisik yang lengkap dan menyeluruh, serta
pencitraan menggunakan foto polos sinar-x.
1. Look (Inspeksi)
 Deformitas
Deformitas dapat timbul dari tulang itu sendiri atau
penarikan dan kekakuan jaringan lunak.
 Sikap Anggota Gerak
Kebanyakan fraktur terlihat jelas, namun fraktur satu tulang
di lengan atau tungkai atau fraktur tanpa pergeseran mungkin tidak
nampak. Pada gambar bawah ini merupakan contoh pengamatan
sikap anggota gerak bawah yang terlihat memendek disertai rotasi
eksterna.

Gambar 14. Gambaran klinis fraktur collum femur.(6)


2. Feel (Palpasi)
 Nyeri Tekan
Tanyakan pada pasien daerah mana yang terasa paling
sakit. Perhatikan ekspresi pasien sambil melakukan palpasi.
 Krepitasi
Krepitasi tulang dari gerakan pada daerah fraktur dapat
diraba.
 Pemeriksaan kulit dan jaringan lunak di atasnya
Pada fraktur akut, terapi tergantung pada keadaan jaringan
lunak yang menutupinya. Adanya blister atau pembengkakan
merupakan kontraindikasi untuk operasi implan. Abrasi pada
daerah terbuka yang lebih dari 8 jam sejak cedera harus dianggap
terinfeksi dan operasi harus ditunda sampai luka sembuh
sepenuhnya. Bebat dan elevasi menurunkan pembengkakan dan
ahli bedah harus menunggu untuk keadaan kulit yang optimal.
 Neurovaskuler Distal
Kondisi neurovaskuler distal harus diperiksa karena fraktur
apapun dapat menyebabkan gangguan neurovaskular.
3. Move (Gerakan)
Sebagai skrining cepat, gerakan aktif dari seluruh anggota
gerak diuji pada penilaian awal. Pasien dengan fraktur, mungkin
merasa sulit untuk bergerak dan fraktur harus dicurigai jika ada yang
nyeri yang menimbulkan keterbatasan. Manuver yang memprovokasi
nyeri sebaiknya tidak dilakukan. Gerakan sendi yang berdekatan harus
diperiksa pada malunion untuk kasus kekakuan pascatrauma.
4. Pengukuran
Pada fraktur dengan pergeseran atau dislokasi, hal ini nampak
jelas. Pada kasus malunion atau nonunion, penilaian pemendekan atau
pemanjangan sangat penting.
Apparent leg length discrepancy dapat diukur dari
xiphisternum ke maleolus medial dengan menjaga tubuh dan kaki
sejajar dengan alas dan tidak membuat setiap upaya untuk
menyamakan sisi panggul. Hal ini akan memberikan perbedaan
fungsional pada panjang kaki.
Gambar 15. Pengukuran Apparent leg length discrepancy.(6)

Gambar 16. True leg length dicrepency.(6)

Raba spina iliaka anterior superior (SIAS) dan atur panggul


agar sejajar (garis yang menghubungkan kedua SIAS tegak lurus
dengan alas). Lalu ukur panjang kaki dari SIAS ke maleolus medial,
maka akan didapatkan true length measurement. Pastikan kaki berada
dalam sikap dan posisi yang sama.
5. Pemeriksaan Radiologi
 Pemeriksaan sinar-x pelvis posisi anteroposterior (AP) dan sinar-x
proksimal femur posisi AP dan lateral diindikasikan untuk kasus
curiga fraktur collum femur. Dua hal yang harus diketahui adalah
apakah ada fraktur dan apakah terjadi pergeseran. Pergeseran
dinilai dari bentuk yang abnormal dari outline tulang dan derajat
ketidaksesuaian antara garis trabecula di caput femur, collum
femur, dan supra-asetabulum dari pelvis. Penilaian ini penting
karena fraktur terimpaksi atau fraktur yang tidak bergeser akan
mengalami perbaikan setelah fiksasi internal, sementara fraktur
dengan pergeseran memiliki angka nekrosis avaskular dan
malunion yang tinggi.(1,2)
 Magnetic resonance imaging (MRI). Saat ini merupakan pilihan
pencitraan untuk fraktur tanpa pergeseran atau fraktur yang tidak
nampak di radiografi biasa. Bone scan atau CT scan dilakukan
pada pasien yang memiliki kontraindikasi MRI.(1,2)

Gambar 17. MRI menunjukkan fraktur collum femur tanpa


pergeseran.(1)

II.8 PENATALAKSANAAN
Dari semua penanganan kecelakaan, atasi syok merupakan langkah
awal dan fraktur dibidai sebelum dipindahkan. Bidai fraktur dengan
metode Thomas-type splint untuk mengurangi perdarahan dan rasa nyeri.
Berikan antibiotik dan analgetik intravena. Pasien trauma harus menjalani
evaluasi trauma secara lengkap dengan memperhatikan primary survey.(6)
Tujuan penanganan fraktur :(2)
 Recognize : Mengidentifikasi lokasi fraktur dan tipe fraktur.
 Reduction : Untuk aposisi adekuat dan mengembalikan alignment
tulang ke posisi normal.
 Retrain : Mempertahankan reduksi.
 Rehabilitasi : Mengembalikan fungsi.
Optimasi pra operasi medis yang cepat : mortalitas dikurangkan
dengan operasi dalam waktu 48 jam fiksasi yang stabil dan mobilisasi
dini.(7)
Pengobatan fraktur leher femur dapat berupa :(8)
a. Konservatif dengan indikasi yang sangat terbatas
b. Non-operatif :
Indikasi :
Fraktur nondisplaced pada pasien mampu memenuhi pembatasan
weight bearing.
c. Terapi operatif :
Indikasi : Displaced fraktur dan nondisplaced
Fiksasi internal diindikasikan untuk Garden Tipe I, II, III pada
pasien muda, patah tulang yang tidak jelas, dan fraktur displaced pada
pasien muda.(9)
Bentuk pengobatan bedah yang dipilih ditentukan terutama
oleh lokasi fraktur (femoralis leher vs intertrochanteric), displacement
dan tingkat aktivitas pasien. Kemungkinan untuk tidak reduksi adalah
pada pasien dengan stress fracture dengan kompresi pada leher femur
dan fraktur leher femur pada pasien yang tidak bisa berjalan atau
komplikasi yang tinggi. Terapi operatif hampir sering dilakukan pada
orang tua karena :(9)
 Perlu reduksi yang akurat dan stabil.
 Diperlukan mobilisasi yang cepat pada orang tua untuk mencegah
komplikasi.
Jenis-jenis operasi :(2,9)
a) Pemasangan Pin
Pemasangan pin haruslah dengan akurasi yang baik
karena pemasangan pin yang tidak akurat (percobaan
pemasangan pin secara multiple atau di bawah trochanter) telah
diasosiasi dengan fraktur femoral sukbtrochanter.
b) Pemasangan Plate dan Screw
Fraktur leher femur sering dipasang dengan konfigurasi
apex distal screw atau apex proximal screw. Pemasangan screw
secara distal sering gagal berbanding dengan distal. Fiksasi
dengan cannulated screw hanya bisa dilakukan jika reduksi
yang baik telah dilakukan. Setelah fraktur direduksi, fraktur
ditahan dengan menggunakan screw atau sliding screw dan side
plate yang menempel pada shaft femoralis. Sliding hip screw
(fixed-angle device) ditambah derotation screw diindikasikan
untuk fraktur cervical basal dan patah tulang berorientasi
vertikal.
c) Arthroplasty
Dilakukan pada penderita usia tua di atas umur 55
tahun, berupa :(2,8)
- Eksisi arthroplasty
- Hemiarthroplasty
Diindikasikan untuk pasien usia lanjut dengan
fraktur displaced risiko yang lebih rendah untuk dislokasi
berbanding arthroplasty pinggul total, terutama pada pasien
tidak dapat memenuhi tindakan pencegahan dislokasi
(demensia, penyakit Parkinson). Prostesis disemen
memiliki mobilitas yang lebih baik dan kurang nyeri paha,
prostesis tidak disemen harus disediakan untuk pasien yang
sangat lemah dimana status pra cedera menunjukkan bahwa
mobilitas tidak mungkin dicapai setelah operasi.
- Arthroplasty total
Indikasi :
o Untuk pasien usia lanjut yang aktif dengaan fraktur
displaced.
o Pilihan untuk pasien dengan pra hip arthropathy (OA
dan RA).
o Jika pengobatan telah terlambat untuk beberapa minggu
dan curiga kerusakan acetabulum.
o Pasien dengan metastatic bone disease, seperti Paget’s
disease.
o Hasil fungsional lebih baik daripada hemiarthroplasty.
o Tingkat dislokasi lebih tinggi dari hemiarthroplasty.

Gambar 18. Algoritma untuk pengobatan fraktur intracapsular leher femur.


II.9 KOMPLIKASI

a. Komplikasi Umum
Pasien yang berusia tua sangat rentan untuk menderita
komplikasi umum seperti thrombosis vena dalam, emboli paru,
pneumonia dan ulkus dekubitus.
b. Nekrosis Avaskular
Nekrosis iskemik dari caput femoris terjadi pada sekitar 10
kasus dengan fraktur pergeseran dan 10% pada fraktur tanpa
pergeseran. Hampir tidak mungkin untuk mendiagnosisnya pada saat
fraktur baru terjadi. Perubahan pada sinar-x mungkin tidak nampak
hingga beberapa bulan bahkan tahun. Baik terjadi penyatuan tulang
maupun tidak, kolaps dari caput femoris akan menyebabkan nyeri dan
kehilangan fungsi yang progresif.
c. Non-union
Lebih dari 10% kasus fraktur collum femur gagal menyatu,
terutama pada fraktur dengan pergeseran. Penyebabnya ada banyak,
seperti asupan darah yang buruk, reduksi yang tidak sempurna, fiksasi
tidak sempurna, dan penyembuhan yang lama.
d. Osteoarthritis
Nekrosis avaskular atau kolaps caput femur akan berujung pada
osteoartritis panggung. Jika terdapat kehilangan pergerakan sendi serta
kerusakan yang meluas, maka diperlukan total joint replacement.
DAFTAR PUSTAKA

1. Egol, K dkk. Femoral Neck Fractures; Handbook of Fractures, 5th Ed.


Lippincott Williams & Wilkins, 2015. Hal: 349.
2. Solomon, L dkk. Fractures of the Femoral Neck; Apley’s System of
Orthopaedic and Fractures, 9th Ed. Arnold, 2010. Hal: 847.
3. Muller, Maurice E. 2006. Muller AO Classification of fractures Long Bones.
AO Publishing
4. Muller AO Classification of Fractures – Long Bones. AOTRAUMA.
5. Thompson, J. Netter’s Concise Orthopaedic Anatomy, 2nd Ed. Elsevier
Saunders, 2010. Hal: 251-7.
6. Rex, C. Examination of Patient withBone and Joint Injuries; Clinical
Assessment and Examination in Orthopedics, 2nd Ed. Jaypee Brothers
Medical, 2012. Hal: 17-21.
7. Frassica, F dkk. Femoral Neck Fractures. 5-Minute Orthopaedic Consult, 2nd
Ed.Lippincott Williams & Wilkins, 2007.Hal: 127.
8. Miller MD, Thompson SR, Hart JA. Review of Orthopaedics 6th Edition.
Philadelphia; Saunder Elsevier. 2012. p. 315-6.
9. Skinner, H. Femoral Neck Fractures. Current Essentials
Orthopedics.McGraw-Hill, 2008. Hal: 37.