Anda di halaman 1dari 11

STRUKTUR ORGANISASI BANK SYARIAH

(http://mynewblogpontianak.blogspot.co.id/2016/11/makalah-struktur-organisasi-bank-
syariah.html)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebuah perancangan, pengorganisasian merupakan pembagian kerja yang dinilai logis,


karena penetapan garis tanggung jawab dan wewenang yang jelas dalam sebuah organisasi,
pengukuran pelaksanaan dan prestasi yang dicapai yang menunjukkan dengan jelas tanggung
jawab dan wewenang atas suatu tindakan, misalnya seseorang yang memberikan pelayanan
berupa pembiayaan harus bertanggung jawab untuk menagih dan menyelesaikannya, karena
pemberian pembiayaan itu bukanlah tujuan, hal demikianlah yang melatar belakangi dalam
penyusunan makalah ini.
Di dalam syariat islam pengorganisasian adalah suatu sistem yang lengkap dalam kehidupan
untuk mengelola manusia dan seluruh alam semesta yang sesuai dengan kehendak Allah dan
tersistematis. Kalimat “menegakkan” berarti mengatur kehidupan ini agar rapi, dan “janganlah
berpecah belah” berarti kita diperintahkan untuk mengorganisasikan kehidupan kita dengan
sebaik-baiknya. Dan pada dasarnya sebuah struktur organisasi tergantung pada besar kecilnya
perusahaan atau bank (bank size), keragaman layanan yang ditawarkan, keahlinya personilnya
dan peraturan-peraturan perundang-undangan yang berlaku didalamnya.
Dalam perbankan syariah sendiri Tidak ada acuan baku bagi penyusunan struktur organisasi
bagi bank dalam segala situasi kebutuhan operasinya. Struktur organisasi setiap bank berikut
tanggung jawab dan wewenang para pejabatnya bervariasi satu sama lain. Oleh karena itu
struktur organisasi mencerminkan pandangan menejemen tentang cara yang paling efektif untuk
mengoperasikan bank.
Dalam system organisasi perbankan syariah diperlunya pegawasan untuk system kinerjanya
bank yaitu dengan adanya BI dan DSN untuk mengatur suatu praktik yang dilaksanakan oleh
bank syariah.Untuk itu sebagai mahasiswa yang nantinya akan menjadi bagian dari pada bidang
perbankan sudah seharusnya kita memahami pembagian struktur organisasi tersebut.
Oleh sebab itu dalam praktik organisasi dan system kinerja perbankan syariah diperlunya
sumber daya manusia yang berbasis syariah dan mengerti bagaimana praktik perbankan yang
sesuai dengan prinsip dasarnya perbankan syariah, dan Karena ketertarikan akan perlunya hal itu
yang memaparkan beberapa hal yang harus ketahui, selain itu sebagai tugas untuk memenuhi
tugas mata kuliah Manajemen Perbankan Syariah.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan struktur organisasi dan tujuan organisasi dalam perbankan syariah?
2. Bagaimana organisasi pada kantor pusat dan kantor cabang bank syariah?
3. Apa fungsi dan tugas DPS dan DSN?
4. Bagaimana fungsi pelaksanaan manajemen sumber daya manusia dalam organisasi perbankan
syariah?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Tujuan Struktur Organisasi Bank Syariah

1. Pengertian Organisasi Bank Syariah.


Secara etimologi organisasi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu“Organum”, yang artinya
adalah alat, bagian, dan desain. Sedangkan secara epistemology organisasi didefenisikan oleh
beberapa pendapat para ahli, sebagai berikut :
- Organisasi Menurut Stoner: “Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui
mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama”.
- Organisasi Menurut James D. Mooney: “Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia
untuk mencapai tujuan bersama”.
- Organisasi Menurut Chester I. Bernard :“Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja
sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih”.[1]
Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah
suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang
bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu dalam perbankan.
Sedangkan pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan, dan
pengaturan bermacam- macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan dalam
Perbankan Syariah, dan untuk menetapkan kewenangan yang secara relatif didelegasikan kepada
setiap individu yang akan melakukan aktivitas- aktivitas kinerjanya.
Dengan demikian organisasi merupakan alat dan wadah dari sekelompok orang bekerja
sama dalam melakukan aktivitas- aktivitas untuk mencapai tujuan. Jika organisasi bank baik dan
benar, tujuan yang optimal relative akan lebih mudah dicapai. Organisasi yang baik, efektif dan
sesuai dengan kebutuhan bank adalah pengorganisasian yang dilakukan dengan baik oleh
organisator.
Menurut Drs. H.Malayu S.P Hasibuan system organisasi yang baik dalam perankan ialah
yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Organisasi lini dan staf merupakan organisasi yang paling memadai karena sumber perintah
dan tanggung jawab jelas, serta garis perintah dan tanggung jawabnya melalui jalur vertical
terpendek. Dalam pengambilan keputusan manajer lini mendapat bantuan informasi dan saran-
saran dari para stafnya sehingga keputusan yang diambil relatif lebih baik.
b. Pendepartemenan hendaknya didasarkan atas proses produksi agar hunbungan pekerjaan
vertikal dan horizontal serasi terintegrasi, serta kontrol internal antar bagian berlangsung baik.
Jumlah departemen antar bagian disesuaikan dengan kebutuhan.
c. Struktur organisasi hendaknya berbentuk segitiga vertikal supaya pembagian pekerjaan,
hubungan pekerjaan, jabatan atau posisi karyawan jelas. Manual organisasi ini harus
disosialisasikan dengan baik kepada seluruh karyawan.
d. Job description setiap karyawan harus ditetapkan secara jelas untuk menghindari tumpang
tindih pekerjaan.
e. Adanya pelimpahan wewenang kepada para karyawan agar pelaksanaan pekerjaan dan
pelayanan nasabah dapat ditingkatkan karena birokratisme berkurang.
f. Penempatan karyawan harus didasarkan pada prinsip the right man on the right place sehingga
ada keefektifan organisasi.
g. Rentang kendali untuk setiap bagian harus berdasarkan kemampuan pimpinan dan volume
pekerjaan yang dikerjakan, biasanya berkisar 3 sampai 9 orang.
h. Organisasi bank harus dibagi atas: Front office dan Back officesehingga pelayanan nasabah
lebih baik dan lebih cepat.[2]
2. Contoh umum struktur organisasi Perbankan Syariah

Secara umum contoh dari struktur organisasi bank syariah sebagai berikut :

Keterangan:
- Rups ( Rapat Umum Pemegang Saham ) / Rapat Anggota
- Dewan Komisaris
Pengawas intern bank syariah, pengarahkan pelaksaan yang dikerjakan oleh direksi supaya tetap
melaksanakan kebijkasaan perseroan dan ketentuan yang ditetapkan. Tugas dan tanggung jawab
dewan komisaris ialah :
· Mempertimbangkan, menyempurnakan, dan mewakili para pemegang saham dalam
memutuskan perumusan kebijaksaan umum yang baru yang diusulkan oleh direksi
untuk dilaksanakan pada masa yang akan datang.
· Menyelenggarakan rapat umum bagi para pemegang saham untuk pembebasan tugas dan
kewajiban direksi.
· Mempertimbangkan dan menyetujui rancangan kerja untuk tahun buku baru yang diusulkan
direksi.
· Mempertimbangkan dan memutuskan permohonan pembiayaan yang diajukan kepada
perusahaan yang jumlahnya melebihi maksimum yang dapat diputuskan direksi.

- Dewan Pengawas Syariah.


Hal inilah yang pada akhirnya memberikan warna berbeda antara struktur organisasi
perbankan syariah dan perbankan konvensional. Jaminan pemenuhan atas ketentuan dan ketaatan
pada prinsip syariah itulah yang pada akhirnya melahirkan suatu konsep yang dikenal dengan
istilah Shariah Compliance. Dewan Pengawas Syariah terdapat ; tiga orang atau lebih, mulai dari
profesi yang ahli dalam hukum islam, yang dipimpin oleh ketua DPS, berfungsi memberikan
fatwa Agama terutama dalam produk- produk bank syariah. kemudian, bersama dewan komisaris
mengawasi pelaksanaannya.

- Dewan Audit
Fungsi utama dari Komite Audit adalah membantu Dewan Komisaris dalam menjalankan
fungsi pengawasan terhadap Perseroan. Komite Audit secara berkala mengadakan rapat dengan
Direksi dan jajarannya untuk mengevaluasi kinerja Perseroan serta menyampaikan laporan hasil
evaluasi dalam setiap rapat Dewan Komisaris yang diadakan secara berkala.

- Direksi
Direksi yang terdiri dari seorang direktur utama, yang bertugas dalam memimpin dan
mengawasi kegiatan Bank syariah sehari-hari, sesuai dengan kebijaksanaan umum yang telah
disetujui oleh dewan komisaris dalam RUPS. Tugas dan tanggung jawab direksi adalah:
· Merumuskan dan mengusulkan kebijaksanaan umum Bank syariah untuk masa yang akan
datang yang disetujui oleh dewan komisaris serta disyahkan dalam RUPS agar tercapai tujuan
serta kontinuitas operasional perusahaan.
· Menyusun dan mengusulkan Rencana Anggaran Perusahaandan Rencana Kerja untuk tahun
buku yang baru disetujui oleh dewan komisaris.
· Mengajukan reraca dan laporan laba rugi tahunan serta laporan-laporan berkala lainya kepada
dewan komisaris untuk mendapatkan penilaian.

- Devisi / Urusan
Tugas dari devisi dalam bank syariah adalah menyusun rencana kerja, menopang
kebutuhan organisasi, menciptakan event yang dapat memberikan kontribusi untuk kemajuan
perbankan.

- Kantor Cabang
Menjalankan kegiatan yang diarahkan oleh managernya sesuai dengan peraturan dan
kebijaksanaan kantor pusat.[3]

3. Contoh Salah Satu Struktur Organisasi Bank syariah

[4]

4. Tujuan Organisasi Dalam Perankan Syariah


Membuat organisasi adalah perkara muamalah, dan muamalah itu hukum asalnya mubah.
Dan tentu saja membuat organisasi untuk terlaksananya urusan muamalah dalam Islam yang
tersistematis adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:
‫ووتووعاَووعنوُاَ وعولىَ اَدلبنرر وواَلتتدقووُىَ ووول تووعاَووعنوُاَ وعولىَ اَ د نلدثنم وواَدلععددوواَنن‬
“tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa
dan permusuhan” (QS. Al Maidah: 2)[5]
Para ulama mengatakan bahwa membuat organisasi atau perkumpulan dalam rangka
kebaikan adalah hal yang dibolehkan, selama tidak dijadikan sarana tahazzub (fanatik
kelompok), dan tidak dijadikan patokan al wala wal bara’ sehingga sesama anggota organisasi
dianggap teman ( Fathner ).[6]
Sebagai kegiatan muamalah dalam hal keuangan, dari ayat tersebut bank syariah
menanamkan nilai kerja sama dengan membentuk organisasi untuk tersistemnya kinerja dalam
perbankan syariah.
Adapun tujuan bank syariah membentuk organisasi adalah untuk memenuhi berbagai
tuntutan kinerja bank syariah yang efektif, efisien dan berintegras tinggi, dan melakukan
kegiatan usahanya berdasarkan prinsip kehati- hatian diharapkan manajemen bank syariah
memiliki kewenangan dan diberi fungsi yang tegas dan pasti, agar dapat menjamin
terselenggaranya kinerja perbankan islam yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, transparan dan
memberi pendidikan kepada masyarakat, menjaga kehati- hatian dan kejujuran, serta profesional.
Bank syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya
dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang amat membedakan antar bank syariah dan
bank konvensional adalah keharusan adanya dewan pengawas syariah (DPS) yang bertugas
mengawasi operasional bank dan produk- produknya agar sesuai dengan garis- garis
syariah.Dewan pengawas syariah biasanya diletakkan pada posisi setingkat dengan dewan
komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas dari setiap opini yang diberikan
oleh dewan pengawas syariah. Karena itu, biasanya penetapan anggota dewan pengawas syariah
dilakukan oleh rapat umum pemegang saham ( RUPS ), setelah para anggota dewan pengawas
syariah itu mendapat rekomendasi dari dewan syariah nasional ( DSN ).[7]

B. Organisasi Kantor Pusat dan Kantor Cabang

1. Kantor Pusat.

Organisasi kantor pusat adalah kantor dimana semua kegiatan perencanaan sampai
pengawasan terdapat di kantor ini. Setiap bank memiliki satu kantor pusat dan kantor pusat tidak
melakukan kegiatan operasional sebagaimana kantor bank lainnya, akan tetapi mengendalikan
jalannya kebijaksanaan kantor pusat terhadap cabang- cabangnya. Dapat diartikan pula bahwa
kegiatan kantor pusat tidak melayani jasa bank kepada masyarakat umum.
Kemudian bank yang akan melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah wajib
membentuk unit usaha syariah dikantor pusat bank yang berfungsi sebagai kantor induk dari
kantor cabang syariah atau unit syariah, tugas dari usaha unit syariah adalah :
a. Mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan kantor cabang syariah atau unit syariah.
b. Menempatkan dan mengelola dana yang bersumber dari kantor cabang syariah atau
unit syariah.
c. Menerima dan menata usahakan laporan keuangan dari kantor cabang syariah atau unit
syariah.
d. Melakukan kegiatan lain sebagai kantor induk dari kantor cabang syariah atau unit
syariah.[8]

2. Kantor Cabang.
Perbankan cabang muncul ketika perusahaan bank ingin melakukan kegiatan pada dua
atau lebih tempat. Cabang- cabang tersebut dikendalikan dari satu lokasi, yang dinamakan kantor
pusat. Kantor cabang mungkin terletak pada kota yang sama, kabupaten yang sama, Negara
bagian yang sama, dan jika diizinkan, diluar Negara bagian bahkan di luar batas nasional. Kantor
pusat dan cabang semua dikendalikan oleh dewan direktur yang sama dan dimiliki oleh
pemegang saham yang sama.
Kegiatan cabang diarahkan oleh managernya sesuai dengan peraturan dan kebijaksanaan
kantor pusat. Walaupun sebagian jasa perbankan merupakan dasar, luas dan jenis yang dilakukan
kantor cabang tidak sama. Kegiatan seperti posisi cadangan wajib dan rekening investasi
dilakukan dikantor pusat.
Organisasi kantor cabang pada dasarnya adalah bawahan dari kantor pusat. Menurut
undang- undang Republik Indonesia nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan pada pasal 1 bagian
kelima, kantor cabang adalah setiap kantor bank yang secara langsung bertanggung-jawab
kepada kantor pusat bank yang bersangkutan, dengan tempat usaha yang permanen dimana
kantor cabang tersebut melakukan kegiatannya.
Faktor yang paling penting yang menentukan pertumbuhan perbankan cabang mungkin
sekali perubahan sikap terhadap perbankan cabang, faktor lainnya antara lain pertumbuhan
daerah pinggiran kota, peningkatan kemacetan lalu- lintas di pusat kota, dan perpindahan industri
ke luar dari pusat kota. Bank mengikuti penduduk dan permintaan atas jasa perbankan. Dari
informasi yang ada tentang pendirian izin pembangunan bank baru dan pembentukan cabang.
Kelihatannya badan pengatur memandang cabang baru dengan lebih baik daripada bank unit
yang baru.
Kemudian bank yang sudah membuka unit usaha syariah atau sudah mempunyai kantor
pusat syariah, dapat membuka kantor cabang syariah dengan izin dari gubernur BI, dengan cara:
a. Membuka kantor cabang syariah baru.
b. Mengubah kegiatan usaha kantor cabang yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional
menjadi kantor cabang syariah.
c. Meningkatkan status kantor dibawah kantor cabang menjadi kantor cabang syariah.
d. Mengubah kegiatan usaha kantor cabang yang sebelumnya telah membuka unit syariah
menjadi kantor cabang syariah.
e. Meningkatkan status kantor cabang pembantu yang sebelumnya telah membuka unit syariah
menjadi kantor cabang syariah.
f. Membuka kantor cabang syariah baru yang berasal dari unit syariah dari kantor cabang atau
kantor cabang pembantu, dilokasi yang sama atau diluar lokasi kantor cabang atau kantor cabang
pembantu dimana unit syariah berada sebelumnya.
Bank yang membuka kantor cabang syariah wajib menyisihkan modal kerja untuk
kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Minimum untuk menutupi biaya operasional awal
dan memenuhi rasio kewajiban penyediaan modal minimum bagi unit usaha syariah. Bank yang
memiliki kantor cabang syariah wajib memiliki pencatatan dan pembukuan keuangan tersendiri
untuk kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dan menyusun laporan keuangan berdasarkan
prinsip syariah dan memasukkan laporan tersebut ke dalam laporan keuangan gabungan.Kantor
bank yang telah mendapat izin pembukaan kantor cabang syariah wajib mencantumkan kata
“kantor cabang syariah” pada setiap penulisan nama kantornya dan dilarang untuk mengubah
kegiatan berprinsip syariah ke konvensional dikantor cabang syariah tersebut. Apabila terjadi
pelanggaran, maka BI akan mencabut izin pembukaan kantor cabang syariah tersebut. Kantor
cabang memiliki beberapa jenis kantor sesuai fungsi dan tugasnya seperti :
a. Kantor cabang penuh.
Kantor cabang penuh merupakan salah satu kantor cabang yang memberikan jasa bank paling
lengkap. Dengan kata lain, semua kegiatan perbankan ada di kantor cabang penuh dan biasanya
kantor cabang penuh membawahi kantor cabang pembantu.

b. Kantor cabang pembantu.


Kantor cabang pembantu adalah kantor cabang yang berada dibawah kantor cabang penuh
dimana kegiatan jasa bank yang dilayani hanya sebagian saja. Perubahan status dari cabang
pembantu ke cabang penuh dimungkinkan apabila memang cabang tersebut sudah memenuhi
kriteria sebagai cabang penuh dari kantor pusat

c. Kantor cabang kas.


Merupakan kantor bank yang paling kecil dimana kegiatannya hanya meliputi teller/ kasir saja.
Dengan kata lain, kantor kas hanya melakukan sebagian kecil dari kegiatan perbankan dan
berada dibawah cabang pembantu atau cabang penuh. Bahkan sekarang ini banyak kantor kas
yang dilayani dengan mobil dan sering disebut kas keliling.[9]

C. Fungsi dan Tugas DPS dan DSN

1. Dewan Pengawas Syariah ( DSN ).


Dewan Syariah Nasional dibentuk pada tahun 1997 dan merupakan hasil rekomendasi
Loka Karya Reksadana Syariah ( LKRS ) pada bulan juli tahun 1997. Lembaga ini merupakan
lembaga otonom di bawah Majelis Ulama Indonesia dipimpin oleh Ketua Umum Majelis Ulama
Indonesia dan Sekretaris (ex-officio). Kegiatan sehari-hari Dewan Syariah Nasional dijalankan
oleh Badan Pelaksana Harian ( BPH ) dengan seorang ketua dan sekretaris serta beberapa
anggota. DSN sebagai sebuah lembaga yang dibentuk oleh MUI secara struktural berada di
bawah MUI. Sementara kelembagaan DSN sendiri belum secara tegas diatur dalam peraturan
perundang-undangan.
Menurut Pasal 1 angka 9 PBI No. 6/24/PBI/2004, disebutkan bahwa: “DSN adalah dewan
yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia yang bertugas dan memiliki kewenangan untuk
memastikan kesesuaian antara produk, jasa, dan kegiatan usaha bank dengan Prinsip Syariah”.
DSN diharapkan dapat berfungsi untuk mendorong penerapan ajaran Islam dalam kehidupan
ekonomi. Oleh karena itu, Dewan Syariah Nasional akan berperan secara pro-aktif dalam
menanggapi perkembangan masyarakat Indonesia yang dinamis dalam bidang ekonomi dan
keuangan syariah.
Berdasarkan SK Dewan pimpinan MUI No. Kep-98/MUI/III/2001 tentang Susunan
Pengurus Dewan Syariah Nasional MUI Masa Bakti tahun 2010-2015, susunan pengurus baru
Dewan Syariah Nasional MUI terdiri atas 26 orang (termasuk lima anggota dari unsur Badan
Pelaksana Harian). Ketua dan Sekretaris dijabat secara ex-officio oleh Ketua Umum dan
Sekretaris Umum MUI. Didampingi dengan dua wakil ketua dan seorang wakil sekretaris.
Adapun pelaksanaan tugas dan fungsinya sehari-hari dijalankan oleh Badan Pelaksana Harian
(BPH) DSN yang beranggotakan 13 orang.

Berdasarkan SK MUI No.Kep 754/II/1999, DSN diberi empat tugas pokok, yaitu:
a. Menumbuh kembangkan penerapan nilai- nilai syariah dalam kegiatan ekonomi pada
umumnya dan keuangan pada khususnya.
b. Mengeluarkan fatwa atas jenis- jenis kegiatan keuangan.
c. Mengeluarkan fatwa atau produk-produk atau jasa keuangan syariah.
d. Mengawasai penerapan fatwa yang telah dikeluarkan.
DSN berwenang, sebagai berikut :
· Mengeluarkan fatwa yang mengikat DPS dimasing- masing lembaga keuangan syariah dan
menjadi dasar tindakan hukum terkait.
· Mengeuarkan fatwa yang menjadi landasan bagi ketentuan/peraturan yang dikeluarkan oleh
instansi yang berwenang seperti departemen keuangan dan Bank Indonesia.
· Memberika rekomendasi dan mencabut rekomendasi nama- nama yang akan duduk sebagai
DPS pada suatu LKS.
· Mengundang para ahli untuk menjelaskan suatu masalah yang diperlukan dalam pembahasan
ekonomi syariah, termasuk otoritas moneter/ lembaga keuangan dalam maupun luar negeri.
· Memberikan peringatan kepada LKS untuk menghentikan penyimpangan dari fatwa yang
dikeluarkan oleh DSN.
· Mengusulkan kepada instansi yang berwenang untuk mengambil tindakan apabila pelanggaran
tidak diindahkan.

Adapun fungsi dari dewan syariah nasional adalah untuk Mengawasi produk- produk
lembaga keuangan dalam perbankan syariah agar sesuai dengan syariah, Meneliti dan memberi
fatwa bagi produk- produk yang dikembangkan lembaga keuangan syariah, Memberikan
rekomendasi ulama- ulama yang akan ditugaskan sebagai DPS pada suatu lembaga keuangan
syariah, Memberi teguran kepada lembaga keuangan syariah, jika terjadi penyimpangan dari
garis panduan yang ditetapkan.[10]

2. Dewan Pengawas Syariah ( DPS ).


Dari struktur organisasi perbankan syariah di atas, maka dapat diketahui bahwa
kedudukan DPS dalam suatu organisai Bank Syariah diletakkan pada posisi sejajar Dewan
Komisaris dan Direksi (dalam hal ini diwakili oleh Direktur Utama). Hal ini dilakukan agar DPS
dalam hal menjalankan fungsi pengawas dan sekaligus penasehat direksi dalam hal penerapan
prinsip-prinsip syariah pada industri perbankan syariah lebih dirasa mandiri dan berwibawa.
Adapun Fungsi utama DPS adalah :
· Sebagai penasihat dan pemberi saran kepada direksi, pimpinan unit usaha syariah, dan
pimpinan kantor cabang syariah mengenai hal- hal yang terkait dengan aspek syariah.
· Sebagai mediator antara lembaga keuangan syariah dengan DSN dalam mengomunikasikan
usul dan saran pengembangan produk dan jasa dari lembaga keuangan syariah yang memerlukan
kajian fatwa dari DSN.
· Mengikuti fatwa- fatwa DSN.
· Mengawasi kegiatan usaha lembaga keuangan syariah agar tidak menyimpang dari ketentuan
dan prinsip syariah yang telah difatwakan oleh DSN.
· Melaporkan kegiatan usaha dan perkembangan lembaga keuangan yang diawasinya secara
rutin kepada DSN, sekurang- kurangnya dua kali dalam setahun.
Pasal 27 PBI No.6/24/PBI/2004 menguraikan tugas, wewenang, dan tanggung jawab
DPS, yaitu antara lain meliputi :
a. Memastikan dan mengawasi kesesuaian kegiatan operasional bank terhadap fatwa yang
dikeluarkan oleh DSN.
b. Menilai aspek syariah terhadap pedoman operasional, dan produk uang dikeluarkan bank.
c. Memberikan opini dari aspek syariah terhadapa pelaksanaan operasional bank secara
keseluruhan dalam laporan publikasi bank.
d. Mengkaji produk dan jasa baru yang belum ada fatwa untuk dimintakan fatwa kepada DSN.
e. Menyampaikan laporan hasil pengawasan syariah sekurang- kurangnya setiap 6 bulan kepada
direksi, komisaris, DSN, dan Bank Indonesia.[11]

D. Fungsi Pelaksanaan Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi Perbankan


Syariah.

1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia (MSDM) adalah suatu ilmu atau cara bagaimana
mengatur hubungan dan peranan sumber daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara
efisien dan efektif serta dapat digunakan secara maksimal sehingga tercapai tujuan bersama
perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal. MSDM didasari pada suatu konsep
bahwa setiap karyawan adalah ilmu seperti manusia (bukan mesin) dan bukan semata-mata
menjadi sumber daya bisnis.
2.Peran MSDM Dalam Organisasi Bank Syariah.
Manajemen Sumber Daya Manusia dalam pengorganisasian bank syariah tentu saling
keterkaitan, Menyadari pentingnya pengembangan sumber daya manusia ini, Bank Indonesia
melalui Surat Keputusan Direksi No. 23/80/KEP/DIR tanggal 28 Febuari 1991, mewajibkan
bank untuk menyediakan dana pendidikan pegawai sekurang-kurangnya 5% dari anggaran
pengeluaran sumber daya manusia setiap tahun untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan pegawai bank dalam bidang operasional dan pengelolaan bank.
Adapun dasar pertimbangan SK tersebut antara lain adalah karena sumber daya manusia
merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan dan kesehatan suatu bank sehingga
perlu dipersiapkan yang professional yang perlu diciptakan dalam waktu panjang dan dengan
biaya yang besar. Setiap bank wajib mengupayakan peningkatan kemampuan dan keterampilan
pegawainya guna memenuhi kebutuhan tenaga professional.[12]
MSDM merupakan proses kegiatan pencapaian tujuan melalui kerjasama antar manusia.
Rumusan tersebut mengandung pengertian adanya hubungan timbal balik antara kegiatan dan
kerjasama disatu pihak dengan tujuan di pihak lain.Untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka
perlu dibentuk suatu organisasi yang pada pokoknya secara fungsional dapat diartikan sebagai
sekelompok manusia yang dipersatukan dalam suatu kerjasama yang efisien untuk mencapai
tujuan. Sehingga dapat dikatakan bahwa fungsi organisasi adalah sebagai alat dari manajemen
untuk mencapai tujuan. Jadi, dalam rangka manajemen maka harus ada organisasi, demikian
eratnya dan kekalnya (consistency) hubungan antara manajemen dan organisasi.
Ketika organisasi sudah dibentuk, kinerja dari organisasi tersebut tergantung kepada
MSDM yang ada, artinya kesuksesan dalam berjalannya organisasi tergantung kepada SDM dari
masing-masing pengemban tugas dari dibentuknya organisasi dalam perbankan tersebut. Kualitas
karyawan atau SDM yang baik itu harus memiliki pengetahuan akademik yang luas serta
keterampilan yang handal, karena pengetahuan dan keterampilan merupakan kunci utama
seorang SDM yang berkualitas.
Kemudian salah Satu faktor yang menentukan peningkatan kinerja lembaga bank syariah
adalah tersedianya SDM dan infrastruktur pendukung yang berkualitas. artinya SDM yang
berkualitas yang dibutuhkan oleh bank syariah adalah SDM yang secara keilmuan paham tentang
konsep bank syariah dan ekonomi syariah, dan secara psikologis dia memiliki semangat
keislaman yang tinggi. SDM yang hanya mengerti tentang ilmu bank syariah dan ekonomi
syariah saja, tetapi tidak memiliki semangat keislaman yang tinggi, maka ilmunya bagai tidak
ada ruh. Sehingga dalam beraktivitas sehari-hari dia tidak ada rasa memiliki (sense of
belonging) dan rasa tanggung jawab (sense of responsibility) terhadap kemajuan bank syariah.
Sebaliknya, SDM yang hanya memiliki semangat keislaman yang tinggi tetapi tidak
memiliki ilmu tentang bank syariah atau ekonomi syariah, dia bagaikan orang yang berjalan
tanpa arah. Sampai saat ini masih jarang praktisi perbankan syariah yang memiliki kedua hal
tersebut. Sehingga bank syariah harus mulai berpikir untuk mengembangkan SDM yang dimiliki
agar seimbang kemampuannya dalam ilmu bank syariah dan secara psikologis juga mampu
membangun semangat keislaman dalam dirinya.
Adapun kunci kompetensi untuk sukses dan terjalannya organisasi dalam perbankan
syriah adalah dengan memiliki MSDM sebagai berikut :
· Ilmu Perbankan ( Banking Knowledge )
· Produktivitas ( Immediate result )
· Pengetahuan Syariah ( Syari’ah Knowledge )
· Sikap dan Kebiasaan ( Attitude and Behavior )
· Kemampuan Memimpin ( Managerial Skill )
Dalam konteks ini yang lebih ditekankan adalah kemampuan dalam bersikap dan
kebiasaan yang seharusnya dilakukan oleh banker antara lain :
a. Beragama Islam (MUSLIM )
Syarat yang paling utama adalah muslim, karna kita disini mempelajari tentang peraturan
yang berhubungan dengan islam dan hukumnya bersumber pada Al-Qur’an dan as-sunnah. Dan
secara otomatis semua yang akan menjadi Pegawai Bank Syari’ah pasti beragama islam.
b. Memiliki Akhlak Yang Baik.
Kita sebagai muslim harus mempunyai akhlak yang baik, seperti yang dicerminkan oleh
Rasulullah SAW yang mempunyai 4 sifat yaituSiddiq, Fathonah, Amanah, dan Tabliq..
c. Memiliki Soft Skill.
Kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain maupun dengan dirinya
sendiri, khususnya antara nasabah dan praktisi bank syari’ah nantinya yang harus dilatih dari
sekarang.
d. Disiplin
Disiplin merupakan faktor yang sangat penting, karena dengan memiliki sifat disiplin
hidup kita bisa lebih teratur.
e. Berpenampilan Rapi dan Bersih
Penampilan merupakan cerminan dari karakter seseorang, baik akhlaknya maupun
aqidahnya. Jadi penampilan haruslah enak dipandang orang, apalagi kita sebagai calon praktisi
bank syariah yang selalu bertemu dengan nasabah harus selalu terlihat rapi dan bersih.
f. Ramah dan Responsibility
Ramah tidaknya seseorang bisa dilihat salah satunya dari kebiasaanya menyapa orang
lain dan juga selain ramah kita harus menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
g. Memiliki Keahlian di Bidang Perbankan Syari’ah
Kita sebagai praktisi bank syari’ah haruslah memiliki keahlian dalam bidang yang sedang
kita tekuni. Karna apabila kita tidak berkompeten dalam bidang ini maka kita tidak dapat
dikatakan bankir dalam bankir dalam bank syari’ah.[13]

BAB II
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengorganisasian dalam ekonomi umumnya dan dalam perbankan syariah khususnya


adalah meletakkan tujuan dan sasaran yang telah dirancangkan kedalam tindakan melalui
penetapan kebijakan dan proses, termasuk pengadaan fungsi pendukung dan penyebaran layanan
melalui struktur organisasi. Kesuksesan perusahaan itu bergantung pada kemampuan pengelola
atau pemimpinnya yang bertanggung jawab dalam menata dan menjalankan organisasinya
dengan sistem pelayanan yang baik dan efisien.
Suatu organisasi sangat membutuhkan kerjasama, komunikasi yang transparan dan lain
sebagainya dalam mendukung suatu tujuan yang ingin dicapai bersama. Banyaknya macam
organisasi yang memiliki kriteria berbeda namun pada intinya mereka sama-sama menginginkan
tujuannya dapat tercapai secara optimal. Manusia yang sangat produktif dan kritis yang mampu
menjalankan suatu organisasi secara sehat. Dalam arti produktif dan kritis adalah mereka mampu
me-manage baik waktu, tenaga dan yang lainnya dari urusan private dengan urusan kelompok.
Perkembangan perbankan syariah ini tentunya juga harus didukung oleh sumber daya
manusia (insani) yang memadai, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitasnya
kesyaria’han ( MSDM .

B. Saran

Dalam organisasi perbankan syariah harusnya memiliki sumber daya manusia ( insani )
yang memahami dasar-dasar syariah dalam keuangan islam, agar terciptanya system keunganan
yang benar-benar valid dengan berasas kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Daftar Pustaka

Sutarto. 1998.Dasar Dasar Organisasi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Kasmir, 2004 Pemasaran Bank.Jakarta;Kencana Prenada Media Group.
Rachmat Syafe’i, 1999. Ilmu Ushul Fiqh, Bandung: Pustaka Setia.
Muhammad Syafi’i, 2003. Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik, Jakarta :Gema
Insani.
Muhammad Syakir Sula,2004. Bank Islam dan Asuransi Syariah Konsep Serta Sistem
Operasional, Jakarta: Gema Insani.
Al-qur’an dan Terjemahan
http://lista.staff.gunadarma.ac.id/Downloads.P+4+macam-organisasi-Bank-islam.pdf
http;//Muamalat.ac.id
Http//;www.mui.com

[1] Sutarto. Dasar Dasar Organisasi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1998.hlm.
313.

[2] Kasmir, Pemasaran Bank.Jakarta;Kencana Prenada Media Group.2004. hlm.191

[3] http://lista.staff.gunadarma.ac.id/Downloads.P+4+macam-organisasi-Bank-islam.pdf

[4] http;//Muamalat.ac.id
[5] Al-qur’an dan Terjemahan
[6] Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Bandung: Pustaka Setia, 1999,
hlm.49
[7] Muhammad Syafi’i, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik, Jakarta :Gema
Insani, 2003, hlm. 32
[8] Muhammad syafi’I,Op-cit
[9] Muhammad Syafi’i. Op-cit, hlm. 36
[10] Http//;www.mui.com
[11] Muhammad Syakir Sula, Bank Islam dan Asuransi Syariah Konsep Serta Sistem
Operasional, Jakarta: Gema Insani, 2004, hlm. 54
[12] Sutarto, Op-cit. hlm.201
[13] Sutarto. Op-cit. hlm. 55

Anda mungkin juga menyukai