Anda di halaman 1dari 12

TUGAS INDIVIDU KEPERAWATAN JIWA

PENYULUHAN KESEHATAN JIWA

A. Definisi Kesehatan jiwa


1. Menurut WHO
Pengertian kesehatan jiwa adalah orang yang sehat jiwanya, merasa sehat dan bahagia,
mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain, mempunyai sikap
postif terhadap diri sendiri dan orang lain .
2. UU Republik Indonesia No 14 Tahun 2014 Bab 1 Pasal 1
Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik,
mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri,
dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan
kontribusi untuk komunitasnya .

B. Kebijakan Kesehatan Jiwa di Indonesia


Renstra Kemenkes 2010-2014 menjelaskan bahwa visi pembangunan kesehatan
Indonesia antara lain menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat,
meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas, meningkatkan surveyor,
monitoring dan informasi kesehatan serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat (Depkes,
2010). Beberapa provinsi di Indonesia telah dibangun rumah sakit jiwa, namun kecenderungan
penderita dengan gangguan jiwa ternyata terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa tuntasnya
penanganan kesehatan jiwa tidak hanya ditandai dengan banyaknya rumah sakit tetapi masih ada
faktor lainnya seperti ekonomi, kependudukan, dan pendidikan yang ikut mempengaruhi.
Indonesia khususnya sejak diterapkannya ilmu kedokteran jiwa modern dan sejak
diberlakukannya Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, akhirnya
melahirkanTP-KJM (Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan JiwaMasyarakat)
(Depkes, 2010).

C. Promosi Kesehatan Jiwa


Promosi kesehatan jiwa merupakan konsep sebagai memberi kuasa, memberikan
partisipasi dan berkerja sama dengan orang-orang lain untuk meningkatkan pengendalian penuh
terhadap kesehatan jiwa mereka (Barry MM, 2007). Prinsip-prinsip kerangka kerja promosi
kesehatan mental:
1. Melibatkan populasi sebagai sebuah kelompok besar di dalam konteks kehidupan sehari-
hari, dibandingkan memfokuskan kepada seseorang yang lebih beresiko terkena
gangguan kesehatan mental.
2. Terfokus pada kator-faktor perlindungan untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih
baik.
3. Pengalamatan sosial, fisik, dan lingkungan sosial ekonomi yang menentukan kesehatan
mental dari sebuah populasi dan individu.
4. Mengadopsi pendekatan penglengkapan dan strategi terintegritas, penyelenggaraan dari
individu ke tingkat lingkungan sosial.
5. Melibatkan aksi perpanjangan dari berbagai bidang ke bidang kesehatan. Didasari pada
partispasi umum, mengikutsertakan dan pemberi kuasaan

D. Tujuan Upaya Promosi Kesehatan Jiwa (UU RI No 18, 2014)


1. Mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat secara optimal
menghilangkan stigma, diskriminasi, pelanggaran hak asasi orang dengan gangguan jiwa
sebagai bagian dari masyarakat
2. Meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat terhadap Kesehatan Jiwa
3. Meningkatkan penerimaan dan peran serta masyarakat terhadap Kesehatan Jiwa.

Upaya promosi kesehatan dapat dilaksanakan, meliputi :


1. Upaya promotif di lingkungan keluarga yang dilaksanakan dalam bentuk pola asuh
dan pola komunikasi dalam keluarga yang mendukung pertumbuhan dan
perkembangan jiwa yang sehat.
2. Upaya promotif di lingkungan lembaga pendidikan yang dilaksanakan dalam
bentuk:
a. Menciptakan suasana belajar-mengajar yang kondusif bagi pertumbuhan dan
perkembangan jiwa
b. Keterampilan hidup terkait Kesehatan Jiwa bagi peserta didik sesuai dengan
tahap perkembangannya.
3. Upaya promotif di lingkungan tempat kerja yang dilaksanakan dalam bentuk
komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai kesehatan jiwa, serta menciptakan
tempat kerja yang kondusif untuk perkembangan jiwa yang sehat agar tercapai
kinerja yang optimal.
4. Upaya promotif di lingkungan masyarakat dilaksanakan dalam bentuk komunikasi,
informasi, dan edukasi mengenai kesehatan jiwa, serta menciptakan lingkungan
masyarakat yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan jiwa yang sehat.
5. Upaya promotif di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan yang dilaksanakan
dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai kesehatan
jiwa dengan sasaran kelompok pasien, kelompok keluarga, atau masyarakat di
sekitar fasilitas pelayanan kesehatan.
6. Upaya promotif di media massa yang dilaksanakan dalam bentuk:
a. Penyebarluasan informasi bagi masyarakat mengenai kesehatan jiwa,
pencegahan, dan penanganan gangguan jiwa di masyarakat dan fasilitas
pelayanan di bidang kesehatan jiwa
b. Pemahaman yang positif mengenai gangguan jiwa dan ODGJ dengan tidak
membuat program pemberitaan, penyiaran, artikel, dan/atau materi yang
mengarah pada stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODGJ
c. Pemberitaan, penyiaran, program, artikel, dan/atau materi yang kondusif
bagi pertumbuhan dan perkembangan kesehatan jiwa.
7. Upaya promotif di lingkungan lembaga keagamaan dan tempat ibadah yang
dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi
mengenai kesehatan jiwa yang diintegrasikan dalam kegiatan keagamaan.
8. Upaya promotif di lingkungan lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan yang
dilaksanakan dalam bentuk:
a. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman warga binaan pemasyarakatan tentang
kesehatan jiwa
b. Pelatihan kemampuan adaptasi dalam masyarakat
c. Menciptakan suasana kehidupan yang kondusif untuk Kesehatan Jiwa warga binaan
pemasyarakatan.
E. Metode Promosi Kesehatan (Prince M, et al)
Promosi atau pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha
menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan
bahwa dengan adanya pesan tersebut, maka masyarakat, kelompok atau individu dapat
memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada
akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain dengan adanya
promosi kesehatan tersebut diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku
kesehatan dari sasaran.
Di bawah ini akan diuraikan beberapa metode promosi atau pendidikan individual,
kelompok dan massa (publik).
1. Metode Promosi Individual (Perorangan)
Dalam promosi kesehatan, metode yang bersifat individual ini digunakan untuk
membina perilaku baru, atau membina seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu
perubahan perilaku atau inovasi. Dasar digunakannya pendekatan individual ini karena
setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan
penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan mengetahui dengan
tepat serta membantunya maka perlu menggunakan metode (cara) ini. Bentuk
pendekatan ini, antara lain :

a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counceling)


Dengan cara ini, kontak antara klien dan petugas lebih intensif. Setiap masalah
yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya klien
akan dengan sukarela, berdasarkan kesadaran, dan penuh pengertian akan menerima
perilaku tersebut (mengubah perilaku).
b. Wawancara (interview)
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan penyuluhan. Wawancara
antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau
belum menerima perubahan, ia tertarik atau belum menerima perubahan, untuk
mempengaruhi apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai
dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang
lebih mendalam lagi.
2. Metode Promosi Kelompok
Dalam memilih metode promosi kelompok, harus mengingat besarnya kelompok sasaran
serta tingkat pendidikan formal daro sasaran. Untuk kelompok yang besar, metodenya
akan lain dengan kelompok kecil. Efektivitasnya suatu metode akan tergantung pula
besarnya sasaran pendidikan.
a. Kelompok Besar
Yang dimaksud kelompok besar di sini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih dari
15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini, antara lain ceramah dan seminar.

 Ceramah
Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah antara lain:
Persiapan:
- Ceramah yang berhasil apabila penceramah itu sendiri menguasaai materi apa yang
akan diceramahkan. Untuk itu penceramah harus mempersiapkan diri.
- Mempelajari materi dengan sistematika yang baik. Lebih baik lagi kalau disusun
dengan diagram atau skema.
- Mempersiapkan alat-alat bantu pengajaran, misalnya makalah singkat, slide,
transparan, sound sistem, dan sebagainya.
Pelaksanaan:
Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah adalah apabila penceramah dapat
menguasai sasaran ceramah. Untuk dapat menguasai sasaran (dalam arti psikologis),
penceramah dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:
- Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu dan gelisah
- Suara hendaknya cukup keras dan jelas.
- Pandangan harus tertuju ke seluruh peserta ceramah.
- Berdiri di depan (di pertengahan), seyogyanya tidak duduk.
- Menggunakan alat-alat bantu lihat (AVA) semaksimal mungkin.
 Seminar
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke
atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari seorang ahli atau beberapa orang
ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan dianggap hangat di masyarakat.

a. Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut kelompok kecil.
Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil ini antara lain:
 Diskusi Kelompok
Dalam suatu kelompok agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi
dalam diskusi, maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga
mereka dapat berhadap-hadapan atau saling memandang satu sama lain, misalnya dalam
bentuk lingkaran atau segi empat. Pimpinan diskusi juga duduk diantara peserta
sehingga tidak menimbulkan kesan ada yang lebih tinggi. Dengan kata lain mereka
harus merasa dalam taraf yang sama sehingga tiap anggota kelompok mempunyai
kebebasan/keterbukaan untuk mengeluarkan pendapat.
Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan pancingan-
pancingan yang dapat berupa pertanyaan-pertanyaan atau kasus sehubungan dengan
topik yang dibahas. Agar terjadi diskusi yang hidup maka pemimpin kelompok harus
mengarahkan dan mengatur sedemikian rupa sehingga semua orang dapat kesempatan
berbicara, sehingga tidak menimbulkan dominasi dari salah seorang peserta.

 Curah Pendapat (Brain Storming)


Metode ini merupakan modifikasi dari metode diskusi kelompok. Prinsipnya sama
dengan metode diskusi kelompk. Bedanya, pada permulaan pemimpin kelompok
memancing dengan satu masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban atau
tanggapan (curah pendapat). Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan
ditulis dalam flipchart atau papan tulis. Sebelum semua peserta mencurahkan
pendapatnya, tidak boleh dikomentari siapapun. Baru setelah semua anggota
mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari, dan akhirnya terjadi
diskusi.
 Memainkan Peranan (Role Play)
Dalam metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peran
tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter Puskesmas, sebagai
perawat atau bidan, dan sebagainya, sedangkan anggota yang lain sebagai pasien atau
anggota masyarakat.
Mereka memperagakan, misalnya bagaimana interaksi atau berkomunikasi sehari-
hari dalam melaksanakan tugas.
3. Metode Promosi Massa
Metode pendidikan atau promosi kesehatan secara massa dipakai untuk
mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang
sifatnya massa atau publik. Dengan demikian cara yang paling tepat ialah pendekatan
massa. Oleh karena sasaran promosi ini bersifat umum, dalam arti tidak membedakan
golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan
sebagainya, maka pesan-pesan kesehatan yang akan disampaikan harus dirancang
sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa tersebut. Beberapa contoh metode
promosi kesehatan secara massa ini, antara lain:
1. Ceramah umum (public speaking)
Pada acara-acara tertentu, misalnya pada Hari Kesehatan Nasional, Menteri Kesehatan
atau pejabat kesehatan lainnya berpidato di hadapan massa rakyat untuk menyampaikan
pesan-pesan kesehatan. Safari KB juga merupakan salah satu bentuk pendekatan massa.
2. Pidato-pidato/diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik, baik TV maupun
radio, pada hakikatnya merupakan bentuk promosi kesehatan massa.
3. Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang
suatu penyakit atau masalah kesehatan adalah juga merupakan pendekatan pendidikan
kesehatan massa.
4. Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab
atau konsultasi tentang kesehatan dan penyakit adalah merupakan bentuk pendekatan
promosi kesehatan massa.
5. Bill Board, yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster, dan sebagainya juga
merupakan bentuk promosi kesehatan massa. Contoh: billboard Ayo ke Posyandu.
F. Media Promosi Kesehatan Jiwa
Media Promosi Kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau
informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronika,
dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya
diharapkan dapat berubah perilakunya ke arah positif terhadap kesehatan.

1. Tujuan Media Promosi Kesehatan


Adapun beberapa tujuan atau alasan mengapa media sangat diperlukan di dalam
pelaksanaan promosi kesehatan antara lain adalah:
a. Media dapat mempermudah penyampaian informasi.
b. Media dapat menghindari kesalahan persepsi dan dapat memperjelas informasi.
c. Media dapat mempermudah pengertian
d. Mengurangi komunikasi verbalistik.
e. Dapat menampilkan objek yang tidak bisa ditangkap dengan mata
f. Memperlancar komunikasi, dan lain-lain.
2. Penggolongan Media Promosi Kesehatan
Penggolongan media promosi kesehatan ini dapat ditinjau dari berbagai aspek, antara lain:
a. Berdasarkan bentuk umum penggunaannya:
Berdasarkan penggunaan media promosi dalam rangka promosi kesehatan, dibedakan
menjadi:
 Bahan bacaan: modul, buku rujukan/bacaan, folder, leaflet, majalah, buletin, dan
sebagainya.
 Bahan peragaan: poster tunggal, poster seri, flipchart, transparan, slide, film, dan
seterusnya.
b. Berdasarkan cara produksi:
Berdasarkan cara produksinya, media promosi kesehatan dikelompokkan menjadi:
 Media cetak, yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Media
cetak pada umumnya terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata
warna. Adapun macam-macamnya adalah:
- Poster
- Leaflet
- Brosur
- majalah
- pamphlet
- surat kabar, dll
 Media elektronika, yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat dilihat dan didengar
dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika. Adapun macam-
macam media tersebut adalah:
- TV
- Radio
- Film
- CD dan sebagainya
Kelebihan dan kekurangan media elektronik :
Kelebihan Kekurangan
1. Sudah dikenal masyarakat.
2. Mengikut sertakan semua pancaindera.
3. Lebih mudah dipahami.
4. Lebih menarik karena ada suara dan gambar bergerak.
5. Bertatap muka.
6. Jangkauan relatif lebih besar.
7. Sebagai alat diskusi dan dapat diulang-ulang.
8. Biaya lebih tinggidan sedikit rumit.
9. Perlu alat canggih untuk produksinya.
10. Perlu persiapan matang
11. Media luar ruang, yaitu media yang menyampaikan pesannya di luar ruang secara umum
melalui media cetak dan elektronika secara statis, misalnya:
 Papan reklame yaitu poster dalam ukuran besar yang dapat dilihat secara umum
di perjalanan.
 Spanduk yaitu suatu pesan dalam bentuk tulisan dan disertai gambar yang dibuat
di atas secarik kain dengan ukuran tergantung kebutuhan dan dipasang di suatu
tempat strategis agar dapat dilihat oleh semua orang.
 Pameran
 Banner
 Tv layar lebar

Kelebihan dan kelemahan media luar ruang :


Kelebihan Kekurangan
1. Sebagai informasi umum dan hiburan.
2. Mengikutsertakan semua pancaindera.
3. Lebih mudah dipahami.
4. Lebih menarik karena ada suara dan gambar bergerak.
5. Bertatap muka.
6. Penyajian dapat dikendalikan.
7. Jangkauan relatif lebih besar.
8. Biaya lebih tinggi dan sedikit rumit.
9. Ada yang memerlukan listrik.
10. Ada yang memerlukan alat canggih untuk produksinya.
11. Perlu persiapan matang.
12. Peralatan selalu berkembang dan berubah.
13. Perlu keterampilan penyimpanan.
14. Perlu keterampilan dalam pengoperasian

3. Merancang Media Promosi Kesehatan Jiwa Yang Digunakan


a. Menetapkan Tujuan
Tujuannya adalah suatu pernyataan tentang suatu keadaan di masa datang yang akan
dicapai melalui pelaksanaan kegiatan tertentu. Secara umum dapat dikatakan bahwa
tujuan harus:
 Realistis, artinya bisa dicapai bukan hanya angan-angan.
 Jelas dan dapat diukur.
 Apa yang akan diukur.
 Siapa sasaran yang akan diukur.
 Seberapa banyak perubahan yang akan diukur.
 Berapa lama dan di mana pengukuran dilakukan.
Penetapan tujuan adalah sebagai dasar untuk merancang media promosi kesehatan dan
dalam merancang evaluasi. Jika tujuan yang ditetapkan tidak jelas dan tidak operasional
maka program menjadi tidak fokus dan tidak efektif.
b. Menetapkan segmentasi sasaran:
Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih kelompok sasaran yang tepat dan
dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi kesehatan. Tujuannya adalah
memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan memberikan kepuasan pada masing-
masing segmen.
c. Mengembangkan Positioning Pesan
Positioning adalah suatu proses atau upaya untuk menempatkan suatu produk
perusahaan, individu atau apa saja dalam alam pikiran mereka yang dianggap sebagai
sasaran atau konsumennya.
d. Memilih Media Promosi Kesehatan
Pemilihan media adalah jabaran saluran yang akan digunakan untuk menyampaikan
pesan pada khalayak sasaran. Yang perlu diperhatikan di sini adalah:
 Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak sasaran, bukan pada selera pengelola
program.
 Media yang dipilih harus memberikan dampak yang luas.
 Setiap media akan mempunyai peranan yang berbeda.
 Penggunaan beberapa media secara serempak dan terpadu akan meningkatkan cakupan,
frekuensi, dan efektivitas pesan.

G. Sasaran Promosi Kesehatan Jiwa (Notosoedirjo, 2005)


1. Masyarakat umum
2. Masyarakat dalam kelompok risiko sakit
3. Kelompok masyarakat yang mengalami gangguan
4. Kelompok masyarakat yang mengalami kecacatan atau hendaya
DAFTAR PUSTAKA

Barry M M. Generic Principles of Effectice Mental Health Prootion. 2007. International


ournal of Mental Health Promotion Vol: 9. Clifford Beers Foundation.

Prince, M., V. Patel, S. Saxena, M. Maj, J. Maselko, M. Phillips and A. Rahman,2007. "No
health without mental health."The Lancet 370: 859-877

Notosoedirjo, Moeljono & Latipun (2005). Kesehatan Mental. Surabaya: Universitas


Muhammadiah Malang Press. Utama, H. 2013. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Bada Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

UU Republik Indonesia No 14 Tahun 2014 Bab 1 Pasal 1 UU Republik Indonesia No 18


Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa Yusuf, Syamsu. 2009. Mental Hygiene: terapi
psikospiritual untuk hidup sehat berkualitas. Bandung: Maestro.

Walker L, Moodie R, Herrman H (2004). Promoting mental health and wellbeing.


In:Moodie R, Hulme A (eds). Hands on health promotion. Melbourne, IPCommunications.

WHO. 2002. Prevention and promotion in mental health. Mental health: evidence
andresearch. Geneva, Department of Mental Health and Substance Dependence.

WHO. 2003. Investing in Mental Health. Nove Impression, Switzerland.


WHO. 2004. Promoting Mental Health : concepts, emerging evidence, practice:summary
report.Geneva, World Health Organization.