Anda di halaman 1dari 16

A.

Anatomi & Fisiologi


a. Anatomi Tulang
Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada ba intra-seluler. Tulang berasal
dari embrionic hyaline cartilage yang mana melalui proses “Osteogenesis”
menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut
“Osteoblast”. Proses mengerasnya tulang akibat penimbunan garam
kalsium.Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, Tulang dapat
diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya :
1) Tulang panjang (Femur, Humerus) terdiri dari batang tebal panjang
yang disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Di sebelah
proksimal dari epifisis terdapat metafisis. Di antara epifisis dan
metafisis terdapat daerah tulang rawan yang tumbuh, yang disebut
lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. Tulang panjang tumbuh
karena akumulasi tulang rawan di lempeng epifisis. Tulang rawan
digantikan oleh sel-sel tulang yang dihasilkan oleh osteoblas, dan
tulang memanjang. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat.
Epifisis dibentuk dari spongi bone (cancellous atautrabecular).
Pada akhir tahun-tahun remaja tulang rawan habis, lempeng epifisis
berfusi, dan tulang berhenti tumbuh. Hormon pertumbuhan, estrogen,
dan testosteronmerangsang pertumbuhan tulang panjang.
Estrogen,bersama dengan testosteron,merangsang fusi lempeng
epifisis. Batang suatu tulang panjang memiliki rongga yang disebut
kanalis medularis. Kanalis medularis berisi sumsum tulang.
2) Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak teratur dan inti dari
cancellous (spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.
3) Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang padat
dengan lapisan luar adalah tulang concellous.
4) Tulang yang tidak beraturan (vertebrata) sama seperti dengan tulang
pendek.
5) Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar
tulang yang berdekatan dengan persediaan dan didukung oleh tendon
dan jaringan fasial, misalnya patella (kap lutut).

Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Sel-
selnya terdiri atas tiga jenis dasar-osteoblas, osteosit dan osteoklas.
Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulangdengan mensekresikan
matriks tulang Matriks tersusun atas 98% kolagen dan 2% subtansi dasar
(glukosaminoglikan, asam polisakarida) dan (proteoglikan).
Matriks merupakan kerangka dimana garam-garam mineranorganik
ditimbun. Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan
fungsi tulang dan terletak dalam osteon (unit matriks tulang ). Osteoklas
adalah selmultinuclear ( berinti banyak) yang berperan dalam
penghancuran, resorpsi dan remosdeling tulang. Osteon merupakan unik
fungsional mikroskopis tulangdewasa. Ditengah osteon terdapat kapiler.
Dikelilingi kapiler tersebut merupakan matriks tulang yang dinamakan
lamella. Didalam lamella terdapat osteosit, yang memperoleh nutrisi
melalui prosesus yang berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang
menghubungkan dengan pembuluh darah yang terletak sejauh kurang dari
0,1 mm). Tulang diselimuti dibagian oleh membran fibrous padat
dinamakan periosteum. Periosteum memberi nutrisi ke tulang dan
memungkinkannya tumbuh, selain sebagai tempat perlekatan tendon dan
ligamen. Periosteummengandung saraf, pembuluh darah, dan limfatik.
Lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung osteoblast, yang
merupakan sel pembentuk tulang. Endosteum adalah membran vaskuler
tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga-rongga
dalam tulang kanselus. Osteoklast, yang melarutkan tulang untuk
memelihara rongga sumsum, terletak dekat endosteum dan dalam lacuna
Howship (cekungan pada permukaan tulang).

Struktur tulang dewasa terdiri dari 30 % bahan organik (hidup) dan 70


% endapan garam. Bahan organik disebut matriks, dan terdiri dari lebih
dari 90 % serat kolagen dan kurang dari 10 % proteoglikan (protein plus
sakarida). Deposit garam terutama adalah kalsium dan fosfat, dengan
sedikit natrium, kalium karbonat, dan ion magnesium. Garam-garam
menutupi matriks dan berikatan dengan serat kolagen melalui
proteoglikan. Adanya bahan organik menyebabkan tulang memiliki
kekuatan tensif (resistensi terhadap tarikan yang meregangkan).
Sedangkan garam-garam menyebabkan tulang memiliki kekuatan
kompresi (kemampuan menahan tekanan).

Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerusdan dapat


berupa pemanjangan dan penebalan tulang. Kecepatan pembentukan
tulang berubah selama hidup. Pembentukan Tulang ditentukan oleh
rangsangn hormon, faktor makanan, dan jumlah stres yang dibebankan
pada suatu tulang, danterjadi akibat aktivitas sel-sel pembentuk tulang
yaitu osteoblas. Osteoblas dijumpai dipermukaan luar dan dalam tulang.
Osteoblas berespon terhadap berbagai sinyal kimiawiuntuk menghasilkan
matriks tulang. Sewaktu pertama kali dibentuk, matriks tulang disebut
osteoid. Dalam beberapa hari garam-garam kalsium mulai mengendap
pada osteoid dan mengeras selama beberapa minggu atau bulan
berikutnya. Sebagian osteoblast tetap menjadi bagian dari osteoid, dan
disebut osteosit atau sel tulang sejati. Seiring dengan terbentuknyatulang,
osteosit dimatriks membentuk tonjolan-tonjolan yang menghubungkan
osteosit satu dengan osteosit lainnya membentuk suatu sistem saluran
mikroskopik di tulang.
Kalsium adalah salah satu komponen yang berperan terhadap tulang,
sebagian ion kalsium di tulang tidak mengalarni kristalisasi. Garam
nonkristal ini dianggap sebagai kalsium yang dapat dipertukarkan, yaitu
dapat dipindahkan dengan cepat antara tulang, cairan interstisium, dan
darah. Sedangkan penguraian tulang disebut absorpsi, terjadi secara
bersamaan dengan pembentukan tulang. Penyerapan tulang terjadi karena
aktivitas sel-sel yang disebut osteoklas. Osteoklas adalahsel fagositik
multinukleus besar yang berasal dari sel-sel mirip-monosit yang terdapat
di tulang.
Osteoklas tampaknya mengeluarkan berbagai asam dan enzim yang
mencerna tulang dan memudahkan fagositosis. Osteoklas biasanya
terdapat pada hanya sebagian kecil dari potongan tulang, dan memfagosit
tulang sedikit demi sedikit.Setelah selesai di suatu daerah, osteoklas
menghilang dan muncul osteoblas. 0steoblas mulai mengisi daerah yang
kosong tersebut dengan tulang baru. Proses ini memungkinkan tulang tua
yang telah melemah diganti dengan tulang baru yang lebih kuat.
Keseimbangan antara aktivitas osteoblas dan osteoklas menyebabkan
tulang terus menerus diperbarui atau mengalami remodeling. Pada anak
dan remaja, aktivitas osteoblas melebihi aktivitas osteoklas, sehingga
kerangka menjadi lebih panjang dan menebal.
Aktivitas osteoblas juga melebihi aktivitas osteoklas pada tulang yang
pulih dari fraktur. Pada orang dewasa muda, aktivitas osteoblas dan
osteoklas biasanya setara, sehingga jumlah total massa tulang konstan.
Pada usia pertengahan, aktivitas osteoklas melebihi aktivitas osteoblas dan
kepadatan tulang mulai berkurang. Aktivitas osteoklas juga meningkat
pada tulang-tulang yang mengalami imobilisasi. Pada usiadekade ketujuh
atau kedelapan, dominansi aktivitas osteoklas dapat menyebabkan tulang
menjadi rapuh sehingga mudah patah.
Aktivitas osteoblas dan osteoklas dikontrol oleh beberapa faktor fisik
dan hormon. Faktor-faktor yang mengontrol Aktivitas osteoblas
dirangsang oleh olah raga dan stres beban akibat arus listrik yang
terbentuk sewaktu stres mengenai tulang. Fraktur tulang secara drastis
merangsang aktivitas osteoblas, tetapi mekanisme pastinya belum jelas.
Estrogen, testosteron, dan hormon perturnbuhanadalah promotor kuat bagi
aktivitas osteoblas dan pertumbuhan tulang. Pertumbuhan tulang
dipercepat semasa pubertas akibat melonjaknya kadar hormon-hormon
tersebut. Estrogen dan testosteronakhirnya menyebabkan tulang-tulang
panjang berhenti tumbuh dengan merangsang penutupanlempeng epifisis
(ujung pertumbuhan tulang).
Sewaktu kadar estrogen turun pada masa menopaus, aktivitas
osteoblas berkurang. Defisiensi hormon pertumbuhan juga mengganggu
pertumbuhan tulang. Vitamin Ddalam jumlah kecil merangsang kalsifikasi
tulang secara langsung dengan bekerja pada osteoblas dan secara tidak
langsung dengan merangsang penyerapan kalsium di usus. Hal ini
meningkatkan konsentrasi kalsium darah, yang mendorong kalsifikasi
tulang.
Namun, vitamin D dalam jumlah besar meningkatkan kadar kalsium
serum dengan meningkatkan penguraian tulang. Dengan demikian, vitamin
D dalamjumlah besar tanpa diimbangi kalsium yang adekuat dalam
makanan akan menyebabkan absorpsi tulang. Adapun faktor-faktor yang
mengontrol aktivitas osteoklas terutama dikontrol oleh hormon paratiroid.
Hormon paratiroid dilepaskan oleh kelenjar paratiroid yang terletak tepat
di belakang kelenjar tiroid. Pelepasan hormon paratiroid meningkat
sebagai respons terhadap penurunan kadar kalsium serum. Hormon
paratiroid meningkatkan aktivitas osteoklas dan merangsang pemecahan
tulang untuk membebaskan kalsium ke dalam darah. Peningkatan kalsium
serum bekerja secara umpan balik negatif untuk menurunkan pengeluaran
hormon paratiroid lebih lanjut. Estrogen tampaknya mengurangi efek
hormon paratiroid pada osteoklas. Efek lain Hormon paratiroid adalah
meningkatkankalsium serum dengan menurunkan sekresi kalsium oleh
ginjal. Hormon paratiroid meningkatkan ekskresi ion fosfat oleh ginjal
sehingga menurunkan kadar fosfat darah. Pengaktifanvitamin D di ginjal
bergantung pada hormon paratiroid. Sedangkan kalsitonin adalah suatu
hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid sebagai respons terhadap
peningkatan kadar kalsium serum.
Kalsitonin memiliki sedikit efek menghambat aktivitas dan
pernbentukan osteoklas. Efek-efek ini meningkatkan kalsifikasi tulang
sehingga menurunkan kadar kalsium serum.

b. Fisiologi Tulang
Fungsi tulang adalah sebagai berikut :
1) Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.
2) Melindungi organ tubuh (misalnya jantung, otak, dan paru-paru) dan
jaringan lunak.
3) Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengankontraksi dan
pergerakan).
4) Membentuk sel-sel darah merah didalam sum-sum tulang belakang
(hema topoiesis).
5) Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium, fosfor.

B. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang biasanya
disertai dengan luka sekitar jaringan lunak, kerusakan otot, rupture tendon,
kerusakan pembuluh darah, dan luka organ-organ tubuh dan ditentukan
sesuai jenis dan luasnya, terjadinya jika tulang dikenai stress yang lebih
besar dari yang besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer, 2001).
Cruris berasal dari bahasa latin crus atau cruca yang berarti tungkai bawah
yang terdiri dari tulang tibia dan fibula (Ahmad Ramali).
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika
tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya.
(Brunner & Suddart, 2000).
C. Etiologi
1) Trauma
Fraktur karena trauma dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Trauma langsung. Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat
tersebut.
b. Trauma tidak langsung. Titik tumpu benturan dengan terjadinya
fraktur berjauhan.
2) Fraktur Patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses
pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang
bermetastase atau osteoporosis.
3) Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan
Tulang juga bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang
tersebut tidak mampu mengabsorpsi energi atau kekuatan yang
menimpanya.
4) Spontan . Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.
5) Fraktur tibia dan fibula yang terjadi akibat pukulan langsung, jatuh
dengan kaki dalam posisi fleksi atau gerakan memuntir yang keras.
Fraktur tibia dan fibula secara umum akibat dari pemutaran pergelangan
kaki yang kuat dan sering dikait dengan gangguan kesejajaran.
D. Klasifikasi
Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi menjadi :
a) Fraktur complete : tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau
lebih.
b) Fraktur incomplete (parsial). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi :
1. Fissure/Crack/Hairline, tulang terputus seluruhnya tetapi masih di
tempat, biasa terjadi di tulang pipih.
2. Greenstick Fracture, biasa terjadi pada anak-anak dan pada os.
radius, ulna, clavikula dan costae.
3. Buckle Fracture, fraktur dimana korteksnya melipat ke dalam.
c) Berdasarkan garis patah atau konfigurasi tulang:
1. Transversal, garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-1000 dari
sumbu tulang)
2. Oblik, garis patah tulang melintang sumbu tulang (<800 atau
>1000 dari sumbu tulang)
3. Longitudinal, garis patah mengikuti sumbu tulang
4. Spiral, garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih
5. Comminuted, terdapat dua atau lebih garis fraktur.
d) Berdasarkan hubungan antar fragman fraktur :
1) Undisplace, fragment tulang fraktur masih terdapat pada tempat
anatomisnya
2) Displace, fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi
atas:
a) Shifted Sideways, menggeser ke samping tapi dekat
b) Angulated, membentuk sudut tertentu
c) Rotated, memutar
d) Distracted, saling menjauh karena ada interposisi
e) Overriding, garis fraktur tumpang tindih
f) Impacted, satu fragmen masuk ke fragmen yang lain.
Secara umum berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur
dengan dunia luar, fraktur juga dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Fraktur tertutup, apabila kulit diatas tulang yang fraktur masih utuh
b. Fraktur terbuka, apabila kulit diatasnya tertembus dan terdapat luka yang
menghubungkan tulang yang fraktur dengan dunia luar yang memungkinkan
kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang, terbai atas :
1) Derajat I
a. Luka kurang dari 1 cm
b. Kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk.
c. Fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan.
d. Kontaminasi ringan.
2) Derajat II
a. Laserasi lebih dari 1 cm
b. Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse
c. Fraktur komuniti sedang.
3) Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot dan
neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.
E. Manifestasi klinis
a. Deformitas
b. Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari
tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : rotasi
pemendekan tulang, Penekanan tulang
c. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi
darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur.
d. Echumosis dan perdarahan subculaneus
e. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur.
f. Tendernes
g. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari
tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
h. Kehilangan sensasi (Mati rasa, munkin terjadi dari rusaknya
saraf atau perdarahan).
i. Pergerakan abnormal
j. Syock hipovolemik dari hilangnya hasil darah.
k. Krepitasi
F. EPIDEMIOLOGI
Menurut sejarah fraktur pada klavikula merupakan cedera yang sering
terjadi akibat jatuh dengan posisi lengan terputar/tertarik keluar
(outstreched hand) dimana trauma dilanjutkan dari pergelangan tangan
sampai klavikula, namun baru-baru ini telah diungkapkan bahwa
sebenarnya mekanisme secara umum patah tulang klavikula adalah
hantaman langsung ke bahu atau adanya tekanan yang keras ke bahu
akibat jatuh atau terkena pukulan benda keras. Data ini dikemukankan
oleh Nowak et a,l Nordqvist dan Peterson. Patah tulang klavikula karena
jatuh dengan posisi lengan tertarik keluar (outstreched hand) hanya 6%
terjadi pada kasus, sedangkan yang lainnya karena trauma bahu. Kasus
patah tulang ini ditemukan sekitar 70% adalah hasil dari trauma dari
kecelakaan lalu lintas.Kasus patah tulang klavikula termasuk kasus yang
paling sering dijumpai. Pada anak-anak sekitar 10–16 % dari semua
kejadian patah tulang, sedangkan pada orang dewasa sekitar 2,6–5 %

G. PATOFISIOLOGI
Klavikula adalah tulang pertama yang mengalami proses pengerasan
selama perkembangan embrio minggu ke-5 dan 6. Tulang klavikula,
tulang humerus bagian proksimal dan tulang skapula bersama-sama
membentuk bahu. Tulang klavikula juga membentuk hubungan antara
anggota badan atas dan Thorax. Tulang ini membantu mengangkat bahu
ke atas, ke luar, dan ke belakang thorax. Pada bagian proksimal tulang
clavikula bergabung dengan sternum disebut sebagai sambungan
sternoclavicular (SC). Pada bagian distal klavikula bergabung dengan
acromion dari skapula membentuk sambungan acromioclavicular (AC).
Patah tulang klavikula pada umumnya mudah untuk dikenali
dikarenakan tulang klavikula adalah tulang yang terletak dibawak kulit
(subcutaneus) dan tempatnya relatif di depan. Karena posisinya yang
teletak dibawah kulit maka tulang ini sangat rawan sekali untuk patah.
Patah tulang klavikula terjadi akibat dari tekanan yang kuat atau
hantaman yang keras ke bahu. Energi tinggi yang menekan bahu
ataupun pukulan langsung pada tulang akan menyebabkan fraktur.
H. Pemeriksaan diagnostik
a. Foto Rontgen : Untuk mengetahui lokasi, tipe fraktur dan garis
fraktur secara langsung. Biasanya diambil sebelum dan sesudah
dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodik.
b. Skor tulang tomography, skor C1, MRI : dapat digunakan
mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler.
d. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi )
atau menrurun. Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal
setelah trauma.
e. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah
transfusi multiple atau cedera hati.
I. Penatalaksanaan
a. Rekognasi
Pergerakan relatif sesudah cidera dapat mengganggu
suplai neurovascular ekstremitas. Karena itu begitu diketahui
kemungkinan fraktur tulang panjang, maka ekstremitas yang cedera
harus dipasang bidai untuk melindunginya dari kerusakan.
b. Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang
fraktur untuk meluruskan bentuk tulang. Ada 2 macam yaitu:
c. Skin Traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan
menempelkan plester langsung pada kulit dan biasanya digunakan
untuk jangka pendek (48-72 jam).
d. Skeletal traksi adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang
yang cedera pada sendi panjang untuk mempertahankan bentuk
dengan memasukkan pins atau kawat ke dalam tulang.
e. Reduksi
 Reduksi Tertutup/ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

 Reduksi Terbuka/OREF (Open Reduction Eksternal Fixation)


f. Imobilisasi Fraktur
Setelah fraktur di reduksi, fragment tulang harus diimobilisasi, atau
dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi
penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau
interna.
J. Perawatan Perioperatif
a) Perawatan Pre Operasi:
b) Persiapan Pre Operasi:
 Pasien sebaiknya tiba di ruang operasi dengan daerah yang akan di
operasi sudah dibersihkan (di cukur dan personal hygiene
 Kateterisasi
 Puasa mulai tengah malam sebelum operasi esok paginya (pada
spinal anestesi dianjurkan untuk makan terlebih dahulu)
 Informed Consent.
 Pendidikan Kesehatan mengenai tindakan yang dilakukan di meja
operasi
c) Perawatan intra Operasi:
 Menerima Pasien dan memeriksa kembali persiapan pasien
 Identitas pasien
 Surat persetujuan operasi
 Pemeriksaan laboratorium darah, rontgen, EKG
 Mengganti baju pasien
 Menilai KU dan TTV
 Memberikan Pre Medikasi : Mengecek nama pasien sebelum
memberikan obat dan memberikan obat pre medikasi.
 Mendorong pasien kekamar tindakan sesuai jenis kasus
pembedahan.
 Perawatan dilakukan sejak memindahkan pasien ke meja operasi
samapai selesai
K. Komplikasi
a. Compartement syndrome : Merupakan komlikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam
jaringan parut. Tekanan intracompartement dapat dibuka langsung
dengan cara whitesides. Penanganan: dalam waktu kurang 12 jam
harus dilakukan fascioterapi.
b. Infeksi : Pada trauma orthopedic infeksi di mulai pada kulit
(superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus
fraktur terbuka, tapi juga bisa karena penggunaan bahan lain dalam
pembedahan seperti pin dan plat
c. Avaskuler nekrosis : Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran
darah ketulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis
tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
d. Shock : karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi.
e. Kekakuan sendi: Hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang
terlalu lama. Pada persendian kaki dan jari-jari biasanya terjadi
hambatan gerak, hal ini dapat diatasi dengan fisiotherapi .

b. KONSEP ASUHAN KEPARAWATAN


1. Pengkajian
 Identitas Pasien
 Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri pada daerah Fraktur, Kondisi fisik yang lemah, tidak bisa
melakukan banyak aktivitas, mual, muntah, dan nafsu makan
menurun, (Brunner & suddarth, 2002)
 Riwayat Penyakit dahulu
Ada tidaknya riwayat DM pada masa lalu yang akan
mempengaruhi proses perawatan post operasi, (Sjamsuhidayat &
Wim Dejong)
 Riwayat Penyakit Keluarga
Fraktur bukan merupakan penyakit keturunan akan tetapi adanya
riwayat keluarga dengan DM perlu di perhatikan karena dapat
mempengaruhi perawatan post operasi
2. Pola Kebiasan
 Pola Nutrisi : Tidak mengalami perubahan, namun beberapa
kondisi dapat menyebabkan pola nutrisi berubah, seperti nyeri yang
hebat, dampak hospitalisasi.
 Pola Eliminasi : Pasien dapat mengalami gangguan eliminasi BAB
seperti konstipasi dan gangguan eliminasi urine akibat adanya
program eliminasi.
 Pola Istirahat : Kebutuhan istirahat atau tidur pasien tidak
mengalami perubahan yang berarti, namun ada beberapa kondisi
dapat menyebabkan pola istirahat terganggu atau berubah seperti
timbulnya rasa nyeri yang hebat dan dampak hospitali.
 Pola Aktivitas : Hampir seluruh aktivitas dilakukan ditempat tidur
sehingga aktivitas pasien harus dibantu oleh orang lain, namun
untuk aktivitas yang sifatnya ringan pasien masih dapat
melakukannya sendiri, (Doenges, 2000).
 Personal Hygiene : Pasien masih mampu melakukan personal
hygienenya, namun harus ada bantuan dari orang lain, aktivitas ini
sering dilakukan pasien ditempat tidur.
 Riwayat Psikologis : Biasanya dapat timbul rasa takut dan cemas,
selain itu dapat juga terjadi ganggguan konsep diri body image,
psikologis ini dapat muncul pada pasien yang masih dalam
perawatan dirumah sakit.
 Riwayat Spiritual : Pada pasien post operasi fraktur tibia riwayat
spiritualnya tidak mengalami gangguan yang berarti
 Riwayat Sosial : Adanya ketergantungan pada orang lain dan
sebaliknya pasien dapat juga menarik diri dari lingkungannya
karena merasa dirinya tidak berguna
 Pemeriksaan Fisik : Pemeriksaan fisik biasanya dilakukan setelah
riwayat kesehatan dikumpulkan, pemeriksaan fisik yang lengkap
biasanya dimulai secara berurutan dari kepala sampai kejari kaki.
a. Look : Pengamatan lokasi pembengkakan, kulit pucat, laserasi,
kemerahan mungkin timbul pada area terjadinya faktur adanya
spasme otot dan keadaan kulit.
b. Feel : Pemeriksaan dengan perabaan, penolakan otot oleh
sentuhan kita adalah nyeri tekan, lepas dan sampai batas mana
daerah yang sakit biasanya terdapat nyeri tekan pada area fraktur
dan di daerah luka insisi.
c. More : Pemeriksaan dengan cara mendengarkan gerakan udara
melalui struktur berongga atau cairan yang mengakibatkan
struktur solit bergerak. Pada pasien fraktur pemeriksaan ini pada
areal yang sakit jarang dilakukan, (Brunner & Suddarth, 2002).
c. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang dapat ditemukan pada klien pasca operasi
ortopedi adalah sebagai berikut.
1) Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan, dan
imobilisasi.
2) Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
pembengkakan, alat yang mengikat, gangguan peredaran darah.
3) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, pembengkakan,
prosedur pembedahan, adanya alat imobilisasi (misal bidai, traksi,
gips).
4) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya prosedur invasive.
d. Rencana Keperawatan
Rencana asuhan keperawatan pada klien postoperatif ortopedi disusun
seperti berikut :
1) Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan, dan
imobilisasi.
Tujuan nyeri berkurang atau hilang dengan
Kriteria Hasil :
 Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang
 Meninggikan ekstremitas untuk mengontrol pembengkakan dan
ketidaknyamanan.
 Bergerak dengan lebih nyaman
Intervensi :
1. Lakukan pengkajian nyeri meliputi skala, intensitas, dan jenis nyeri.
R/ Untuk mengetahui karakteristik nyeri agar dapat menentukan diagnosa
selanjutnya.
2. Kaji adanya edema, hematom, dan spasme otot.
R/ Adanya edema, hematom dan spasme otot menunjukkan adanya
penyebab nyeri

3. Tinggikan ekstremitas yang sakit.


R/ Meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi edema dan
mengurangi nyeri.
4. Berikan kompres dingin (es).
R/ Menurunkan edema dan pembentukan hematom
5. Ajarkan klien teknik relaksasi, seperti distraksi, dan imajinasi
terpimpin.
R/ Menghilangkan atau mengurangi nyeri secara non farmakologis
2) Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
pembengkakan, alat yang mengikat, gangguan peredaran darah.
Tujuan tidak terjadi kerusakan / pembengkakan
Kriteria hasil :
 Klien memperlihatkan perfusi jaringan yang adekuat:
 Warna kulit normal dan hangat.
 Respons pengisian kapiler normal (crt 3 detik).
Intervensi :
1. Kaji status neurovaskular (misal warna kulit, suhu, pengisian kapiler,
denyut nadi, nyeri, edema, parestesi, gerakan).
R/ Untuk menentukan intervensi selanjutnya
2. Tinggikan ekstremitas yang sakit.
R/ Meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi edema dan
mengurangi nyeri
3. Balutan yang ketat harus dilonggarkan.
R/ Untuk memperlancar peredaran darah.
4. Anjurkan klien untuk melakukan pengeseran otot, latihan pergelangan
kaki, dan "pemompaan" betis setiap jam untuk memperbaiki peredaran
darah.
R/ Latihan ringan sesuai indikasi untuk mencegah kelemahan otot dan
memperlancar peredaran darah
3) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, pembengkakan,
prosedur pembedahan, adanya alat imobilisasi (misal bidai, traksi, gips)
Tujuan pasien mampu melakukan mobilisasi sesuai terapi yang diberikan
Kriteria hasil :
 Klien memaksimalkan mobilitas dalam batas terapeutik.
 Menggunakan alat imobilisasi sesuai petunjuk.
 Mematuhi pembatasan pembebanan sesuai anjuran
Intervensi :
1. Bantu klien menggerakkan bagian cedera dengan tetap memberikan
sokongan yang adekuat.
R/ Agar dapat membantu mobilitas secara bertahap
2. Ekstremitas ditinggikan dan disokong dengan bantal.
R/Meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi edema dan mengurangi
nyeri
3. Nyeri dikontrol dengan bidai dan memberikan obat anti-nyeri sebelum
digerakkan.
R/ Mengurangi nyeri sebelum latihan mobilitas
4. Ajarkan klien menggunakan alat bantu gerak (tongkat, walker, kursi
roda), dan anjurkan klien untuk latihan.
R/ Alat bantu gerak membantu keseimbangan diri untuk latihan mobilisasi
4) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
Tujuan tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil : Tidak terjadi Infeksi
Intervensi :
1. Kaji respon pasien terhadap pemberian antibiotik
R/ Untuk menentukan antibiotic yang tepat untuk pasien
2. Pantau tanda-tanda vital
R/ Peningkatan suhu tubuh di atas normal menunjukkan adanya tanda-
tanda infeksi
3. Pantau luka operasi dan cairan yang keluar dari luka
R/ Adanya cairan yang keluar dari luka menunjukkan adanya tanda infeksi
dari luka.
4. Pantau adanya infeksi pada saluran kemih
R/ Retensi urine sering terjadi setelah pembedahan

F. Evaluasi
1. Nyeri berkurang sampai dengan hilang.
2. Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan perifer.
3. Pemeliharaan kesehatan terjaga dengan baik.
4. Dapat melakukan mobilitas fisik secara mandiri.
5. Tidak terjadi perubahan konsep diri; citra diri, harga diri dan peran diri

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Sylvia Price. 2001. Pathofisiologi Konsep Klinisk Proses-Proses
Penyakit. Jakarta: EGC.
Arifianato, S,K . http://stikeswh.ac.id/psik/files/Askep_Fraktur.pdf
Doengoes, Marylinn. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta:
EGC.
Mansjoer, Arif. dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius. FKUI.
Muttaqin, Arif. 2005. Ringkasan Buku Ajar: Asuhan Keperawatan Klien
Gangguan Sistem Muskuloskletal. Edisi 1.