Anda di halaman 1dari 15

TUGAS FILSAFAT ILMU LANJUTAN

PERBEDAAN SAINS DAN PSEUDOSAINS

Oleh:
Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti, M.Pd.
NIM. 1739011004

PROGRAM STUDI S3 ILMU PENDIDIKAN


PASCA SARJANA UNDIKSHA
2017
A. PENDAHULUAN
Banyak pelajar di dunia setelah bertahun-tahun belajar di sekolah masih
belum memahami hakikat ilmu pengetahuan. Polling yang dilakukan oleh National
Science Foundation adalah buktinya. Lembaga ini telah berulang kali menemukan
fakta mencengankan di Amerika Serikat, ribuan orang masih tetap percaya bahwa
matahari berputar mengelilingi bumi, bahwa dibutuhkan satu hari bagi bumi untuk
berputar pada porosnya sambil lalu mengitari matahari, bahwa elektron lebih besar
dari atom, dan suara yang ada di dunia ternyata bergerak lebih cepat dari cahaya.
Dari polling tersebut pula diketahui bahwa kebanyakan orang Amerika tidak tahu
apa yang disebut sebagai molekul. Rangkaiaan polling tersebut juga menemukan
bahwa sekitar 19 persen guru biologi SMA percaya bahwa Dinosaurus dan manusia
hidup pada waktu yang sama. Polling ini juga menjumpai fakta yang sangat
mengejutkan bahwa 95 persen dari guru yang disurvei tampaknya salah paham
tentanag apa itu ilmu pengetahuan. Guru-guru tersebut diberikan pernyataan untuk
mereka tanggapi yaitu, “Para ilmuwan tugasnya adalah mencari fakta, tapi kadang-
kadang yang terbaik yang mereka bisa lakukan adalah berteori.” Hanya 5 persen
dari guru-guru yang dipolling tersebut yang menjawab dengan benar bahwa
pernyataan tersebut adalah “jelas salah.” (Gardner, 1983)

Di Indonesia, persentase siswa yang diajar kimia oleh guru yang tidak
memiliki gelar dalam bidang kimia sangatlah tinggi. Guru-guru kimia tak bergelar
sarjana Kimia tersebut sebenarnya bergelar, tapi sayangnya, gelar mereka adalah
gelar pada bidang Fisika maupun Matematika. Guru mengajar lintas bidang studi
jamak ditemukan. Alasan utama munculnya masalah ini adalah tentu saja
terbatasnya guru kimia, dan adanya anggapan bahwa kimia bisa diajar oleh guru
yang mengajar bidang lain asalkan berada dalam bidang yang serumpun. Intinya
adalah, apapun ilmunya, asalkan ada penugasan, guru siap mengajar meskipun
hasilnya pasti mengecewakan.

Kondisi lebih parah ada pada mata pelajaran bahasa Indonesia dan olahraga.
Adanya anggapan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia dan olehraga dapat diajar
oleh semua orang asal bergelar guru, menyebabkan banyak alumni sekolah dasar
kurang mampu bersastra dan tentu saja fisik merekapun tidak bagus. Mereka salah
berolahraga.

Suramnya dunia pendidikan semakin diperkeruh dengan berkeliarannya


ilmu-ilmu pengetahuan yang melibatkan metafisika. Tarot, hipnotis, sulap dan
banyak ilmu-ilmu lainnya di beritakan, baik itu di majalah cetak maupun televisi.
Ilmu-ilmu metafisika ini dilegalkan dalam berbagai macam acara seperti the master,
showimah, dan lainnya. Pada akhirnya masyarakatpun menjadi bingung untuk
membedakan mana pengetahuan yang sebenarnya dan harusnya mereka pelajari
dan mana pengetahuan tambahan

Beberapa tokoh menyalahkan sistem pendidikan kita yang terkesan apa


adanya. Lainnya menyalahkan media. Beberapa politisi relijius bahkan
menyalahkan ilmu pengetahuan yang mereka anggap tidak sesuai dengan
pandangan agama mereka. Apapun alasannya, banyak ilmuwan dan pembela ilmu
pengetahuan yakin bahwa masyarakat Indonesia, tiap tahunnya menjadi kurang
dan kurang rasional. Kita mungkin hidup di zaman ilmu pengetahuan dan teknologi,
tetapi sayangnya, banyak kepercayaan-kepercayaan liar yang notabene bukan
berasan dari ilmu pengetahuan kita adopsi menjadi pengetahuan yang dipercayai
banyak orang.

Paparan di atas pada akhirnya menarik perhatian kita pada dua definisi kritis
akan ilmu pengetahuan yaitu “sains” (ilmu pengetahuan yang sesungguhnya) dan
“pseudo sains” (ilmu pengetahuan tiruan). Untuk mendapatkan gambaran
bagaimanakah hakikat ilmu pengetauan itu sesungguhnya serta perbedaan sains dan
psudo sains, maka makalah berjudul sains dan Pseudo Sains dalam Persepektif
Filsafat Ilmu inipun ditulis.

B. PEMBAHASAN
B.1 Hakikat Sains
Kata sains berasal dari bahasa Latin “scientia,” yang bermakna
pengetahuan. Menurut New Collegiate Dictionary Webster, sains adalah
“pengetahuan yang diperoleh melalui studi atau praktek,” atau “pengetahuan yang
meliputi kebenaran umum pengoperasian hukum umum, diperoleh dan diuji
melalui metode ilmiah [dan] perduli pada bentuk fisik dunia. Dalam bahasa Arab,
kata science diterjemahkan sebagai “ilmu.” Kata ilmu berasal dari bahasa Arab:
‘alima, ya’lamu,’ ilman dengan wazan fai’ila, yaf’alu, fa’lan, yang berarti mengerti,
memahami benar-benar.
Sains adalah suatu alat, suatu cara khusus untuk menginvestigasi suatu
pertanyaan. Ketika menginvestigasi suatu pertanyaan ilmiah, dibuat suatu hipotesis,
dikumpulkan data-data, dan ahirnya hipotesis didukung atau ditolak. Ilmuwan tidak
pernah takut salah. Pembuktian bahwa suatu hipotesis tidak benar adalah bagian
dari pekerjaan ilmuwan. Adalah penting untuk menjawab pertanyaan tentang
kehidupan dan alam disekitar kita secara ilmiah, sehingga akan banyak
menghilangkan banyak keraguan.
Pembuktian ilmiah selalu diawali dengan pertanyaan, kemudian diikuti
dengan pengumpulan informasi sebanyak mungkin untuk membangun sebuah
hipotesis, atau setidaknya dugaan atau prediksi yang memiliki dasar informasi
ilmiah. Langkah berikutnya adalah melakukan ekperimen untuk menguji hipotesis
tersebut. Semua yang dilakukan dan diperoleh, menyenangkan atau tidak
menyenangkan, tentu harus terdokumentasi dengan baik, kemudian dilaporkan
sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh orang lain. Pada ahirnya, sang
ilmuwan harus membuat kesimpulan berdasarkan fakta yang diperoleh, apakah
hipotesisnya diterima atau ditolak. Ilmuwan juga harus terbuka untuk berbagi
dengan ilmuwan lain tentang eksperimen dan temuannya. Para ilmuwan dapat
saling belajar dan sering memanfaatkan temuan ilmuwan lain untuk memandu
pertanyaan penelitian selanjutnya.
Para ilmuwan juga sering mengulang eksperimen orang lain untuk
memastikan apakah dengan kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang konsisten.
Verifikasi seperti ini merupakan mekanisme kendali mutu untuk meniadakan bias.
Sebelum dipublikasi, hasil-hasil penelitian harus diverifikasi secara objektif oleh
mitra-bestari yang terdiri dari pakar berbagai bidang terkait dari institusi yang
berbeda.
Untuk mempetajam definisi sains, di bawah ini akan dipaparkan beberapa
definisi sains oleh beberapa ilmuwan. Gie (dalam Surajiyo, 2007) memberikan
pengertian bahwa ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari
penjelasan sesuatu metode untukmemperoleh pemahaman secara rasional
empirismengenai dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan
sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia. Dari
aktivitas ilmiah dengan metode ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan dapat
dihimpun sekumpulan pengetahuan yang baru atau disempurnakan pengetahuan
yang telah ada, sehingga di kalangan ilmuwan maupun para filsuf pada umumnya
terdapat kesepakatan bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan pengetahuan yang
sistematis.
Joesoef (dalam Surajiyo, 2007), menjelaskan bahwa definisi sains mengacu
pada tiga hal yaitu (1) produk, (2) proses, dan (3) masyarakat. Ilmu pengetahuan
sebagai produk yaitu pengetahuan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya
oleh masyarakat ilmuwan. Pengetahuan ilmiah dalam hal ini terbatas pada
kenyataan-kenyataan yang mengandung kemungkinan untuk disepakati dan
terbuka untuk diteliti, diuji, dan dibantah oleh seseorang. Adapun menurut Bahm
(dalam Surajiyo, 2007) definisi ilmu pengetahuan melibatkan paling tidak enam
macam komponen, yaitu masalah (problem), sikap (attitude), metode(method),
aktivitas (activity), kesimpulan(conclution), dan pengaruh(effects).

Ilmu harus diadakan melalui perantara aktivitas manusia. Aktivitas ini


harus dilakukan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu
mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Atas dasar ini Gie (dalam Surajiyo,
2007) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah itu
mempunyai 5 ciri pokok antara lain:

1. empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasar pengamatan dan percobaan

2. sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan


pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur

3. objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan


dan kekuasaan pribadi
4. analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke
dalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan ,
dan peranan dari bagian-bagian itu.
5. verifikatif, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun juga.

Sifat ilmiah dalam ilmu dapat diwujudkan, apabila dipenuhi syarat-syarat yang
intinya adalah :

1. Ilmu harus mempunyai objek, berarti kebenaran yang hendak diungkapkan


dan dicapai adalah persesuaian antara pengetahuan dan objeknya
2. Ilmu harus mempunyai metode, berarti untuk mencapai kebenaran yang
objektif, ilmu tidak dapat bekerja tanpa metode yang rapi
3. Ilmu harus sistematik, berarti dalam memberikan pengalaman, objeknya
dipadukan secara harmonis sebagai suatu kesatuan yang teratur
4. Ilmu bersifat universal, berarti kebenaran yang diungkapkan oleh ilmu tidak
bersifat khusus melainkan berlaku umum.

B.2 Perbedaan Sains dan Knowledge (Pengetahuan)


Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa kata ilmu
dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab ‘ilm (pengetahuan) kata benda
(mashdar) dari kata ‘alima yang berarti tahu, sedangkan istilah science dalam
bahasa Inggris berasal dari perkataan latin scientia yang diturunkan dari kata scio,
scire yang artinya to know (mengetahui) dan juga berarti to learn (belajar). Dari
pengertian etimologis itu science, maupun ‘ilm memiliki makna yang sama yaitu
pengetahuan.

Meskipun secara etimologis science berarti pengetahuan yang berarti sama


dengan dalam bahasa Inggris knowledge (pengetahuan), namun science dibedakan
dengan knowledge pada tingkat terminologis. Secara terminologis science bukan
hanya sekedar pengetahuan (knowledge), tapi pengetahuan yang mempunyai cirri-
ciri tertentu. Mengingat perbedaan tersebut maka dalam bahasa Indonesia ada usaha
untuk membedakannya dimana science diterjemahkan menjadi ilmu atau ilmu
pengetahuan, untuk membedakannya dari kata knowledge yang diterjemahkan
dengan pengetahuan.
Peradaban Barat membedakan pengetahuan ke dalam dua istilah teknis,
yaitu science dan knowledge. Istilah yang pertama diperuntukkan bagi bidang-
bidang ilmu nonfisik atau empiris, sedangkan istilah yang kedua diperuntukkan
bagi bidang-bidang ilmu nonfisik seperti konsep mental dan metafisika. Istilah yang
pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ilmu pengetahuan,
sementara istilah yang kedua diterjemahkan dengan pengetahuan saja. Dengan kata
lain, hanya ilmu yang sifatnya fisik atau empiris saja yang bias dikategorikan ilmu,
sementara sisanya seperti ilmu agama, tidak bias dikategorikan ilmu (ilmiah).

Fenomena seperti ini baru terjadi pada abad modern karena sampai abad
pertengahan, pengetahuan belum dibeda-bedakan ke dalam dua istilah teknis diatas,
istilah pengetahuan (knowledge) masih mencakup semua jenis ilmu pengetahuan.
Baru ketia memasuki abad modern yang ditandakan dengan positivisme, maka
pengetahuan yang terukur secara empiris dikhususkan dengan penyebutan scientific
knowledge atau science saja.

B.3 Hakikat Pseudosains

Ilmu semu atau pseudosains (Inggris: pseudoscience) adalah sebuah


pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah
tetapi tidak mengikuti metode ilmiah. Ilmu semu mungkin kelihatan ilmiah, tetapi
tidak memenuhi persyaratan metode ilmiah yang dapat diuji dan seringkali
berbenturan dengan kesepakatan/konsensus ilmiah yang umum.
Istilah pseudoscience muncul pertama kali pada tahun 1843 yang
merupakan kombinasi dari akar Bahasa Yunani pseudo, yang berarti palsu atau
semu, serta Bahasa Latin scientia, yang berarti pengetahuan atau bidang
pengetahuan. Istilah tersebut memiliki konotasi negatif, karena dipakai untuk
menunjukkan bahwa subjek yang mendapat label semacam itu digambarkan
sebagai suatu yang tidak akurat atau tidak bisa dipercaya sebagai ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, para pembela serta yang mempraktikkan pseudosains biasanya
menolak klasifikasi ini.
Meskipun istilah telah digunakan setidaknya sejak akhir abad ke-18
(misalnya digunakan pada tahun 1796 mengacu pada alkimia konsep pseudosains
yang berbeda dari ilmu nyata atau tepat tampaknya telah muncul pada pertengahan-
19 abad. Di antara penggunaan pertama yang tercatat dari kata “pseudo-science”
adalah pada tahun 1844 di Journal Utara Medicine , saya 387: “Itu semacam
kebalikan dari inovasi yang mengucapkan apa yang telah diakui sebagai cabang
ilmu, telah semu a ilmu, terdiri hanya dari apa yang disebut fakta, dihubungkan
bersama oleh kesalahpahaman di bawah penyamaran prinsip “. Penggunaan
rekaman sebelumnya istilah itu pada tahun 1843 oleh ahli fisiologi
Perancis François Magendie. Selama abad ke-20, kata ini digunakan sebagai
merendahkan untuk menggambarkan penjelasan dari fenomena yang diklaim
ilmiah, tetapi yang tidak sebenarnya didukung oleh bukti eksperimental yang
handal. Dari waktu ke waktu, meskipun, penggunaan kata terjadi dalam cara teknis
yang lebih formal sekitar ancaman terhadap keamanan individu dan institusi dalam
lingkungan sosial dan budaya.
Secara terminologi Karl Popper Mendefinisikan pseudoscience sebagai
istilah atas teori ilmiah yang bersifat palsu (falsifiable). Teori ini bukan berarti tidak
benar, tapi teori ini membutuhkan pengujian melalui pengalaman. Jika dalam
pengujian teori tersebut ternyata salah maka teori ini bersifat falsifiable dan menjadi
bukti terbalik atas ketidakbenaran teori ilmiah tersebut. Menurut Karl Popper
bahwa teori ilmiah yang dikira benar tapi tidak membawa pada kondisi yang
meyakinkan tidak bisa disebut ilmu secara mutlak tetapi ia istilahkan
dengan pseudoscience. Jika melihat defenisi ini, boleh jadi yang dimaksud adalah
teori yang berupa hipotesa.
Non-sains adalah kumpulan pandangan yang berada di luar lingkup ilmiah.
Wilayah non-sains seperti seni, nilai, kreatifitas, spiritualitas, adalah sangat sahih,
dan bagi banyak orang, merupakan aspek yang sangat penting dari eksistensi
manusia. Subyek non-sains biasanya mudah dipisahkan dari sains.
Pseudo-sains terjadi ketika hal-hal non-sains dicoba untuk dinyatakan
sebagai sains ketika terjadi masalah atau keraguan. Pseudo-sains muncul ketika ada
yang mengklaim bahwa telah dibuktikan secara ilmiah, Padahal sebenarnya tidak.
Keyakinan dan kepercayaan kadang-kadang menjadi pseudo-sains ketika ada orang
yang berusaha mempopulerkan suatu keyakinan atau kepercayaan sebagai sesuatu
fakta yang sudah terbukti secar ailmiah. Argumentasi seperti ini seringkali muncul
ketika sains belum dapat menemukan jawabannya, kemudian diambil kesimpulan
bahwa satu-satunya jawabannya adalah Tuhan. Terlepas dari masalah keyakinan
dan kepercayaan tersebut, masih banyak hal-hal termasuk dalam pseudo-sains,
seperti adanya UFO dan hantu, yang sampai saat ini belum terdapat bukti kuat
secara ilmiah.
Pseudosains (Pseudoscience) adalah suatu istilah yang digunakan untuk
merujuk pada suatu bidang yang menyerupai ilmu pengetahuan namun sebenarnya
bukan merupakan ilmu pengetahuan. Sesuatu yang menyerupai ilmu pengetahuan
ini tidak valid dan memiliki banyak kekurangan, tidak rasional dan cenderung
dogmatis. Dengan kata lain sains ini adalah sains palsu (Ridwan, 2011).Munculnya
kata psudo pada pseudosains dimaksudkan untuk menghina. Kesan menghina ini
muncul karena kata psudo pada hakikatnya memiliki kesamaan dengan beberapa
frasa menghina lainnya seperti “ilmu alternatif” “ilmu palsu” atau “ilmu sampah.”
Karakteristik kunci dari pseudosains adalah bahwa hal itu tidak sesuai dengan
metode ilmiah. Ini berarti bahwa klaim ilmu ini terhadap suatu hal tidak dapat diuji,
dan tidak mengikuti urutan logis. Banyak konsep-konsep ilmiah tidak dapat diuji
dengan peralatan yang ada. Pseudosains tidak memiliki dukungan ilmiah, dan tidak
dapat diuji.

Karakter yang kedua adalah kurangnya testability dan konfirmasi


independen. Ilmuwan sejati selalu senang untuk berbagi data yang telah mereka
dapatkan dalam penelitian. Data ini digunakan untuk sampai pada kesimpulan
mereka. Pengujian independen dan kritik dari keolega sesama ilmuwan akan selalu
mereka nanti. Kritik dan sanggahan tersebut dapat dijadikan sebagai alat utama
untuk membuktikan teori-teori mereka. Masyarakat pseudosains dilaion pihak
biasanya menolak sanggahan. Mereka lebih memilih untuk mencari bukti-bukti
untuk menguatkan klaim-klaim tertentu. Jeleknya, masyarakat ini tidak terbuka
terhadap pengawasan dari koleganya atau terhadap diskusi. Yang sangat
merepotkan adalah jika ada pihak-pihak yang menggunakan pendekatan pseudo-
sains untuk kepentingan tertentu, termasuk komersial, politik, dan keamanan.
Belakangan ini kita banyak dihadapkan pada klaim-klaim pihak tertentu yang
mampu menghasilkan produk-produk unggul yang dapat memecahkan
permasalahan yang sedang dihadapi, seperti bahan bakar, produk pertanian, produk
obat, sampai produk elektronik yang dikenal sebagai sms-santet. Diperlukan
scientific wisdom yang memadai untuk dapat memberikan pertimbangan obyektif
terhadap hal-hal tersebut.

B.4 Contoh-contoh Pseudosains


Untuk tuntutan memenuhi syarat sebagai “ilmu” harus memenuhi standar
tertentu. Misalnya, tuntutan harus dapat direproduksi oleh orang lain yang tidak
memiliki kepentingan apakah hal itu benar atau salah. Data dan penafsiran yang
berikutnya terbuka untuk pengamatan dalam lingkungan sosial di mana tidak salah
telah membuat kekeliruan, tetapi tidak dibolehkan tidak jujur atau menipu. Klaim
yang disajikan sebagai ilmiah tapi tidak memenuhi standar ini adalah yang kita
sebut pseudosains. Dalam dunia pseudosains, keraguan dan tes terhadap salahnya
yang mungkin dikurangi atau dengan tegas diabaikan. Contoh pseudosains
berlimpah. Astrologi adalah sebuah sistem kepercayaan kuno yang beranggapan
masa depan seseorang ditentukan oleh posisi dan pergerakan planet-planet dan
benda langit lainnya. Astrologi meniru ilmu pengetahuan dalam memprediksi
dimana astrologi didasarkan pada pengamatan astronomi yang hati-hati. Namun
perbintangan bukan ilmu pengetahuan karena tidak ada validitas untuk mengklaim
bahwa posisi benda-benda langit mempengaruhi peristiwa-peristiwa kehidupan
seseorang. Seperti kita ketahui, gaya gravitasi yang diberikan oleh benda angkasa
pada seseorang lebih kecil daripada gaya gravitasi yang diberikan oleh benda-benda
yang membentuk lingkungan duniawi: pohon, kursi, orang lain, batang sabun, dan
sebagainya. Selanjutnya, prediksi astrologi tidak terbukti karena tidak ada bukti
bahwa astrologi bekerja.

Manusia sangat baik dalam penyangkalan, yang mungkin menjelaskan


mengapa pseudosains adalah suatu bisnis yang berkembang. Banyak
pseudosaintiawan sendiri tidak mengenali upaya mereka sebagai pseudosains.
Seorang praktisi dari “penyembuhan” misalnya, benar-benar dapat percaya pada
kemampuan dirinya untuk menyembuhkan orang-orang yang tidak akan pernah
bertemu kecuali melalui email dan pertukaran kartu kredit. Dia bahkan dapat
menemukan bukti anekdot untuk mendukung perselisihan yang terjadi dirinya. Efek
plasebo dapat menutupi ketidakefektifan berbagai model penyembuhan. Dalam hal
tubuh manusia, apa yang orang percaya akan sering terjadi bisa terjadi, karena
adanya koneksi fisik antara pikiran dan tubuh.

Teori aktivasi otak tengah mengklaim bahwa aktifasi otak tengah dapat
meningkatkan kecerdasan berfikir, emosi dan motivasi seseorang. Kenyataannya
adalah: otak tengah tidak memiliki fungsi berpikir, emosi, dan motivasi. Otak
tengah yg merupakan bagian dari batang otak memiliki fungsi otak primitive yaitu
mekanisme pertahanan diri dan refleks-refleks pada fungsi vegetative. Sedangkan
kemampuan berpikir, proses belajar, dan memori terutama terletak pada korteks dan
subkorteks. “Teori otak tengah sudah jelas penipuan. Dengan berpikir atau bertanya
sedikit,setiap orang bisa tahu bahwa ini adalah penipuan. Namun orang Indonesia
itu malas bertanya dan ingin yang serbainstan. Termasuk kaum terpelajar dan orang
berduitnya. Jadi kita gampang sekali jadi sasaran penipuan. Bahkan, saya pernah
memergoki, di sebuah gedung pertemuan (kebetulan saya ke sana untuk keperluan
lain), sebuah pelatihan diselenggarakan oleh sebuah instansi pemerintah yang
judulnya “Meningkatkan Kecerdasan Salat”. Semuanya dijual sebagai pelatihan
dengan biaya (istilah mereka “biaya investasi”) yang mahal. Ini sudah masuk ke
masalah membohongi publik, sebab mana mungkin dengan satu pelatihan selama
dua hari seorang anak bisa disulap menjadi jenius yang serbabisa, bahkan bisa
melihat di balik dinding seperti Superman”.

Terapi urin menjadi tren 10 tahun yang lalu, sampai buku terapi urin banyak
diterbitkan dan didisplay di Gramedia. Namun sekarang tampaknya trennya sudah
berakhir, tidak ada lagi orang yang mau minum urin paginya. Pada kenyataannya
urine (air kencing) adalah hasil eksresi (buangan) dari tubuh manusia yang tidak
lagi dibutuhkan oleh tubuh manusia. Food combining dan diet berdasar golongan
darah: teori food combining mengungkapkan bahwa makan karbohidra harus
terpisah dari protein dan lemak. Pagi makan karbohidrat, siang lemak, malam
protein. Makan buah dan sayuran harus dalam keadaan perut kosong. Pada
kenyataannya, teori food combining dan diet berdasar golongan darah tidak
memiliki dasar ilmiah yang benar dan tidak diakui oleh para ahli gizi di perguruan
tinggi. Saluran cerna manusia mengeluarkan enzim untuk pencernaan KH, protein,
dan lemak secara bersama-sama sehingga tidak perlu adanya pemisahan zat
makanan. Pemberian buah dan serat dalam keadaan perut kosong dapat
menyebabkan iritasi pada saluran cerna dan hal ini menyebabkan tidak
terbentuknya feses yang bagus konsistensinya.

B.5 Sains dan Psudosains: Dua Hal yang Berbeda


Secara umum, sains dan psudosaaians berbeda. Perbedaan ini secara jelas dapat
dilihat pada tujuh poin berikut:

1) Dalam sains, literatur-literatur ilmiah yang ada ditulis bagi para ilmuwan.
Untuk menciptakan literatur harus ada peer review. Terdapat standar yang
ketat untuk kejujuran dan akurasi. Dalam pseudosains, literatur-literatur
yang ada ditujukan untuk masyarakat umum. Tidak ada review, dalam
membuat literatur tersebut, tidak ada standar serta tidak ada verifikasi pra-
publikasi. Meskipun demikian masih terdapat tuntutan terhadap akurasi dan
presisi literatur.

2) Dalam sains, produk-produk ilmiah dapat direproduksi. Masyarakat


menuntut hasil yang dapat diandalka. Segala eksperimen yang dilakukan
harus dapat dijelaskan dengan tepat sehingga eksperimen tersebut dapat
diulangi secara presisi. Pengulangan ini dilakukan dalam rangka perbaikan
hasil atau penerapan dalam kasus atau peristiwa lainnya. Sedangkan dalam
pseudosains, produk-produk psudo tidak dapat direproduksi atau
diverifikasi. Meskipun ada studi atau eksperimen, tetapi begitu samar-samar
digambarkan. Studi atau eksperimen tersebutpun prosedurnya kurang jelas
sehingga masyarakat umum tidak mengetahui apa yang sebenarnya
dilakukan dalam studi atau eksperimen atau bagaimana hal itu dilakukan
dalam studi atau eksperimen.

3) Dalam sains, kegagalan dalam satu studi memang selalu dicari, karena teori-
teori yang salah seringkali dapat membuat prediksi yang tepat meskipun itu
karena faktor kebetulan. Dengan kegagalan ini akan tercipta teori yang
benar. Ketika teori yang benar telah ditemukan prediksi yang dibuatkun
tidak akan salah. Dalam pseudosains kegagalan akan selalu diabaikan,
dimaafkan, disembunyikan, tidak dihitung, dirasionalisasikan agar selalu
benar, dilupakan, dan dihindari.
4) Dalam sains, seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak orang yang
belajar tentang proses fisik dalam berbagai penelitian. Dalam pseudosains
tidak ada fenomena ataupun proses fisik yang ditemukan, dicatat atau
dipelajari. Tidak ada kemajuan yang dibuat, Tidak ada hal konkrit yang
dipelajari.

5) Dalam sains, kelebihan, kekurangan, kesalahan dan blunder peneliti rata-


rata tidak mempengaruhi “sinyal” keilmiahan studi. Dalam pseudosains,
kelebihan, kekurangan, kesalahan dan blunder peneliti memberi pengarauh
nol pada keilmiahan studi karena memang studi yang dilakukan tidak ilmiah
sama sekali

6) Dalam sains, masyarakat diyakinkan dengan bukti-bukti ilmiah, argumen-


argumen berdasarkan penalaran logis dan/atau matematika, dengan
membuat kasus-kasus berdasarkan bukti-bukti empirik. Ketika bukti-bukti
baru bertentangan dengan ide-ide/teori-teori lama, ide-ide/teori-teori lama
tersebut ditinggalkan. Dalam pseudosains keyakinan masyarakat dibuat
oleh iman dan keyakinan. Dalam hampir setiap kasus pseudosains memiliki
unsur kuasi-religius yang sangat kuat. Pseudosains memiliki sifat mencoba
untuk mengubah, bukan untuk meyakinkan. Masyarakat diminta untuk
percaya lepas dari fakta, bukan karena mereka. Ide lama tidak pernah
ditinggalkan meskipun bukti bukti baru ditawarkan.

7) Dalam sains, tidak ada konflik kepentingan, ilmuwan tidak memiliki


orientasi materi tertentu dari studi yang dikerjakannya. Ini sangata berbeda
dengan “Sains Sampah,”, yang mana ilmuwan memproklamirkan diri
mereka sebagai ilmuwan, tetapi sebenarnya mereka dibayar dan bayaran
mereka akan mereka dapatkan ketika hasail studi mereka sesuai dengan
keinginan pihak-pihak tertentu. Dalam pseudosains terdapat konflik
kepentingan ekstrim. Ilmuwan pseudo umumnya mendapatkan nafkah
dengan menjual layanan pseudosains misalnya horoskop, prediksi, instruksi
dalam mengembangkan kekuatan paranormal, dll.
C. SIMPULAN DAN PENUTUP
Pengetahuan banyak bentuknya, ada yang sistematis, logis dan ilmiah.
Dengan paparan Sains dan Pseudosains di atas, terdapat beberapa pengetahuan yang
tidak termasuk dalam keduanya, yaitu pengetahuan agama, seni, dan lainnya. Untuk
mendapatkan kejelasan perbedaan diantara hal tersebut, berikut perbandingan
pengertian sains, non sains, dan pseudosains.
Sains adalah suatu alat, suatu cara khusus untuk menginvestigasi suatu
pertanyaan. Ketika menginvestigasi suatu pertanyaan ilmiah, dibuat suatu hipotesis,
dikumpulkan data-data, dan ahirnya hipotesis didukung atau ditolak. Ilmuwan tidak
pernah takut salah. Pembuktian bahwa suatu hipotesis tidak benar adalah bagian
dari pekerjaan ilmuwan. Adalah penting untuk menjawab pertanyaan tentang
kehidupan dan alam disekitar kita secara ilmiah, sehingga akan banyak
menghilangkan banyak keraguan. Pembuktian ilmiah selalu diawali dengan
pertanyaan, kemudian diikuti dengan pengumpulan informasi sebanyak mungkin
untuk membangun sebuah hipotesis, atau setidaknya dugaan atau prediksi yang
memiliki dasar informasi ilmiah. Langkah berikutnya adalah melakukan ekperimen
untuk menguji hipotesis tersebut. Semua yang dilakukan dan diperoleh,
menyenangkan atau tidak menyenangkan, tentu harus terdokumentasi dengan baik,
kemudian dilaporkan sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh orang lain.
Pada ahirnya, sang ilmuwan harus membuat kesimpulan berdasarkan fakta yang
diperoleh, apakah hipotesisnya diterima atau ditolak. Ilmuwan juga harus terbuka
untuk berbagi dengan ilmuwan lain tentang eksperimen dan temuannya. Para
ilmuwan dapat saling belajar dan sering memanfaatkan temuan ilmuwan lain untuk
memandu pertanyaan penelitian selanjutnya. Para ilmuwan juga sering mengulang
eksperimen orang lain untuk memastikan apakah dengan kondisi yang sama akan
diperoleh hasil yang konsisten. Verifikasi seperti ini merupakan mekanisme kendali
mutu untuk meniadakan bias. Sebelum dipublikasi, hasil-hasil penelitian harus
diverifikasi secara objektif oleh mitra-bestari yang terdiri dari pakar berbagai
bidang terkait dari institusi yang berbeda.
Non-sains adalah kumpulan pandangan yang berada diluar lingkup ilmiah.
Wilayah non-sains seperti seni, nilai, kreatifitas, spiritualitas, adalah sangat sahih,
dan bagi banyak orang, merupakan aspek yang sangat penting dari eksistensi
manusia. Subyek non-sains biasanya mudah dipisahkan dari sains.
Pseudo-sains pengetahuan non-sains dicoba untuk dinyatakan sebagai sains
ketika terjadi masalah atau keraguan. Pseudo-sains muncul ketika ada yang
mengklaim bahwa telah dibuktikan secara ilmiah, Padahal sebenarnya tidak.
Keyakinan dan kepercayaan kadang-kadang menjadi pseudo-sains ketika ada orang
yang berusaha mempopulerkan suatu keyakinan atau kepercayaan sebagai sesuatu
fakta yang sudah terbukti secar ailmiah. Argumentasi seperti ini seringkali muncul
ketika sains belum dapat menemukan jawabannya, kemudian diambil kesimpulan
bahwa satu-satunya jawabannya adalah Tuhan.

REFERENSI

Cover JA, Curd M.1998. Philosophy of Science: The Central Issues, 1–82.

Delfgauw, Bernard. 1992. Sejarah Ringkas Fislafat Barat, terj. Soejono


Soemargono, Yogyakarta : Tiara Wacana.

Gardner, Martin.1983. The WHYS of a Philosophical Scrivener. Quill.

Ihsan Fuad. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

Popper Karl R.. 2008. The Logic of Scientific Discovery (Logika Penemuan
Ilmiah), terj. Saut Pasaribu & Aji Sastrowardoyo, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Ridwan, Fendy. 2011. Pseudosains. artikel dalam http://www.filsafatilmu.com .


Diakses tanggal 11 Desember 2017. Jam 13.00

Surajiyo. 2007. Filsafat ilmu dan perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi


Aksara., p. 59

Titus, Harold H., et.all.1984. Living Issues in Philosophy (Persoalan-Persoalan


Filsafat), terj. Prof.Dr. HM. Rasjidi, Jakarta : Bulan Bintang,