Anda di halaman 1dari 11

TETANUS

I. PENDAHULUAN

Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang
dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat..
Infeksi tetanus disebabkan oleh kontaminasi suatu luka dengan bakteri Clostridium tetani.
Bakteri ini adalah basil gram positif, terdapat dimana-mna, dengan habitat alamiahnya di
tanah. Organisme ini dapat hidup bertahun-tahun di tanah dalam bentuk spora, tahan
terhadap sinar matahari, dan bersifat resisten terhadap berbagai disinfektan dan pendidihan
20 menit. Infeksi terjadi jika spora menjadi aktif dan berkembang menjadi bakteri gram
positif yang bermultiplikasi dan memproduksi toksin yang mempengaruhi otot.1,2,3
Pada anak, penyakit tetanus kebanyakan terdapat pada anak-anak yang belum pernah
mendapatkan imunasi tetanus (DPT). Dan pada umumnya terdapat pada anak dari keluarga
yang belum mengerti pentingnya imunasi dan pemeliharaan kesehatan, seperti kebersihan
lingkungan dan perorangan. Sedangkan pada neonatus, tetanus neonatorum sangat
berhubungan dengan aspek pelayanan kesehatan neonatal, terutama pelayanan persalinan
(persalinan yang bersih dan aman), khususnya perawatan tali pusat. 4

II. DEFINISI

Tetanus adalah penyakit sistem saraf yang perlangsungannya akut dengan


karakteristik spasme tonik persisten dan eksaserbasi singkat.5 kelainan neurologis
disebabkan oleh tetatospasmin, suatu toksin protein kuat yang dihasilkan oleh Clostridium
tetani. Tetanus terdapat dalam beberapa bentuk klinis, termasuk penyakit yang
generalisata, neonatal, dan terlokalisasi. 3

1
III. EPIDEMOLOGI

Tetanus terjadi secara sporadis dan hampir selalu menimpa individu non imun,
individu dengan imunitas parsial dan individu dengan imunitas penuh yang kemudian
gagal mempertahankan imunitas secara adekuat dengan vaksinasi ulangan. Pada negara-
negara tanpa program imunisasi yang komprehensif, tetanus terjadi terutama pada neonatus
dan anak-anak. 3
Pada negara belum berkembang, tetanus sering dijumpai pada neonatus, bakteri
masuk melalui tali pusat sewaktu persalinan yang tidak baik, tetanus ini dikenal dengan
nama tetanus neonatorum. Di Indonesia tetanus neonatorum menyebabkan kematian
neonatal dini 4,2% dan kematian neonatal lambat 9,5% (SKRT 2001). 1,4
Mortalitas di Amerika Serikat dilaporkan 62% (masih tinggi). Di Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta didapatkan angka 80% untuk tetanus neonatorum
dan 30% untuk tetanus.6

IV. ETIOLOGI
Clostridium tetani adalah bakteri penyebab tetanus. Bakteri ini dapat ditemukan
dalam dua bentuk: Spora (dorman) atau Vegetatif sel (aktif) yang dapat bermultiplikasi.
Spora dapat hidup di tanah dan kotoran hewan, dan dapat bertahan di lingkungan tertentu
selama bertahun-tahun. Spora dapat resisten pada suhu yang ekstrim. Kontaminasi luka dan
dengan bakteri akan menjadikan spora menjadi aktif. Bakteri yang telah aktif akan
mengeluarkan dua toksin, tetanolisin dan tetanospasmin. Fungsi dari tetanolisin belum
jelas, tetapi tetanospasmin menjadi penyebab dari penyakit ini. Penyakit ini secara khas
terjadi jika terdapat luka pada kulit. Kebanyakan kasus pada luka tusuk, laserasi, atau
garukan. Tetanus juga dapat disebabkan oleh gigitan hewan, operasi, abses, melahirkan,
dan penggunaan jarum suntik. Tetanus dapat berkembang pada seseorang yang tidak
memiliki imunitas atau seseorang yang memiliki imunitas yang tidak adekuat.2

2
V. PATOGENESIS

Tetanospasmin adalah toksin yang menyebabkan spasme, bekerja pada beberapa


level dari susunan saraf pusat, dengan cara : 2
a. Toksin menghalangi neuromuscular transmission dengan cara menghambat pelepasan
acethyl-choline dari terminal nerve di otot.
b. Karakteristik spasme dari tetanus ( seperti strichmine ) terjadi karena toksin
mengganggu fungsi dari refleks synaptik di spinal cord.
c. Kejang pada tetanus, mungkin disebabkan pengikatan dari toksin oleh cerebral
ganglioside.
d. Beberapa penderita mengalami gangguan dari Autonomik Nervous System (ANS )
dengan gejala : berkeringat, hipertensi yang fluktuasi, periodisiti takikardia, aritmia
jantung, peninggian katekolamine dalam urine.
Kerja dari tetanospamin analog dengan strychninee, dimana ia mengintervensi fungsi
dari arcus refleks yaitu dengan cara menekan neuron spinal dan menginhibisi terhadap
batang otak. Timbulnya kegagalan mekanisme inhibisi yang normal, yang menyebabkan
meningkatnya aktifitas dari neuron yang mensarafi otot masetter sehingga terjadi trismus.2
Oleh karena otot masetter adalah otot yang paling sensitif terhadap toksin tetanus
tersebut. Stimuli terhadap afferen tidak hanya menimbulkan kontraksi yang kuat, tetapi
juga dihilangkannya kontraksi agonis dan antagonis sehingga timbul spasme otot yang
khas.2
Ada dua hipotesis tentang cara bekerjanya toksin, yaitu:2,6
1. Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dari melalui sumbu silindrik dibawa
ke kornu anterior susunan syaraf pusat
2. Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk kedalam sirkulasi darah arteri
kemudian masuk kedalam susunan syaraf pusat.
Toksin tersebut bersifat seperti antigen, sangat mudah diikat oleh jaringan saraf dan
bila dalam keadaan terikat tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Namun
toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh antitoksin. Hal ini
penting artinya untuk pencegahan dan pengobatan penyakit ini.6

3
VI. DIAGNOSIS
a. Gejala Klinik
Masa tunas biasanya 5-14 hari, tetapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada
infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh antiserum.5
Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin
bertambah terutama pada rahang dan leher.5
Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan :5
 Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris
 Kuduk kaku sampai opistotonus (karena ketegangan otot-otot erektor trunki
 Ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dari abdomen akut)
 Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin yang terdapat di kornu anterior
 Risus Sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik ke atas), sudut mulut tertarik
ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi
 Kesukaran menelan, gelisah, mudah tersinggung, nyeri kepala, nyeri anggota badan
sering merupakan gejala dini.
 Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan opistotonus, ekstremitas inferior dalam
keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Anak tetap sadar. Spasme
mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi.kemudian tidak jelas lagi dan
serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan
intramuskulus karena kontraksi yang kuat
 Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan laring. Retensi urin
dapat terjadi karena spasme otot uretral. Fraktura kolumna vertebralis dapat pula
terjadi karena kontraksi yang kuat
 Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir
 Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan
otak.

4
Perbedaan gejala tetanus anak dan tetanus neonatorum7 :
Tetanus Neonatorum Tetanus Anak
Hipertoni & spasme otot Hipertoni & spasme otot
a. Trismus : sukar makan dan minum,
a. Trismus : bayi tidak dapat minum,
bicara tidak jelas.
menangis dan mulut mencucu (fish
b. Spasme otot leher : leher skit dan
mouth).
kaku, Kernig sign positif
b. Mata tertutup.
c. Risus sardonikus
c. Spasme otot lain : kaku kuduk,
d. Spasme otot lain : opistotonus,
opistotonus, dinding perut tegang,
dinding perut tegang, anggota gerak
anggota gerak spastik
spastik, sukar duduk/jalan.
Kejang otot tonik dengan kesadaran tak Kejang otot tonik dengan kesadaran tak
terganggu terganggu
Gangguan refleks positif Gangguan refleks positif
Puntung pusat mungkin ada sekret kotor Mungkin ada luka/riwayat luka, otitis media
perforata

Beratnya penyakit dapat ditentukan berdasarkan :7


Kriteria Trismus dan kejang
Stadium 1 = trismus > 3cm tanpa kejang tonik umum meskipun dirangsang.
Stadium 2 = trismus ≤ 3 cm dengan kejang tonik umum bila dirangsang.
Stadium 3 = trismus ≤ 1 cm dengan kejang umumspontan
Kriteria Patel & Jong
1. trismus
2. kejang
3. Masa tunas )antara terjadinya luka dan timbul gejala pertama) ≤ 7 hari.
4. Onset periode (antara trismus dan kejang pertama) ≤ 48 jam.
5. Suhu rektal 38°C dalam 24 jam pertama di RS.
Derajat 1 = bila hanya 1 kriteria ditemukan.
Derajat 2 = bila hanya 2 kriteria ditemukan.
Derajat 3 = bila semua kriteria ditemukan.

5
b. Laboratorium
Diagnosis tetanus ditegakkan semata-mata berdasarkan temuan klinis. Jumlah lekosit
dapat meninggi. Pemeriksaan cairan otak biasanya normal. Kadar enzim otot dapat
meningkat. Gambaran EKG dan EEG abnormal dapat terjadi. Kultur anaerobic dan
pemeriksaan mikroskopik pus dari luka dapat membantu, tetapi C.tetani sangat sulit untuk
tumbuh dan bentuk drumstick gram positif basil seringg tidak ditemukan.8
Untuk membuat diagnosis banding dapat dilakukan pemeriksaan untuk membedakan
antara tetanus neonatorum dengan sepsis neonatorum atau meningitis, dapat dilakukan
pemeriksaan: Pungsi Lumbal dan pemeriksaan darah rutin, preparat darat hapus atau kultur
dan sensitivitas.5

VII. DIAGNOSIS BANDING 1


Penyakit Gambaran Differential
Infeksi
Meningoencefalitis Demam, trismus tidak ada, sensorium depresi, abnormal
LCS
Rabies Gigitan binatang, trismus tidak ada, hanya orofaringeal
spasme
Lesi Orofaringeal Hanya lokal, rigiditas seluruh tubuh atau spasme tidak ada
Kelainan Metabolik
Keracunan Striknin Relaksasi komplit diantara spasme
Reaksi Fenotiasin Distonia, respon dengan dipenhidramin
Penyakit SSP
Epilepsi Depresi sensorium
Kelainan Psikiatrik
Histeria Trismus inkonstan, relaksasi komplit diantara spasme
Trauma Muskuloskeletal
Trauma Hanya lokal

6
VIII. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Umum5
 IVFD dekstrose 5%:RL = 1:1 berikan 28 tetes/menit
 Kausal:
o Antitoksin Tetanus
a. Serum antitetanus (SAT) diberikan dengan dosis 20.000/IU/hari/i.m selama
3-5 hari. (skin test sebelumnya)
b. Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG). Dosis 500-3.000 IU/i.m
tergantung beratnya penyakit diberikan single dose
o Antibiotik
a. Metronidazole 500mg/8jam drips i.v
b. Ampisilin dengan dosis 1gram/8jam i.v (skin test sebelumnya)
c. Bila alergi terhadap Penisilin dapat diberikan :
- Eritromisin 500 mg/6 jam/oral atau
- Tetrasiklin 500mg/6jam/oral
 Penanganan Luka : dilakukan cross insisi dan irigasi menggunakan H2O2
 Simptomatis dan Supportif
o Diazepam :
a. Setelah masuk rumah sakit, segera diberikan diazepam dengan dosis 10 mg
i.v perlahan 2-3 menit. Dapat diulangi bila diperlukan
b. Dosis maintenance : 10 ampul = 100 mg/500 ml cairan infus (10-12
mg/kgBB/hari) diberikan secara drips (syringe pump). Untuk mencegah
kristalisasi, cairan dikocok tiap 30 menit
c. Setiap kejang diberikan bolus diazepam 1 ampul/i.v perlahan selama 3-5
menit, dapat diulangi setiap 15 menit sampai maksimal 3 kali. Bila tidak
teratasi segera rawat ICU
d. Bila penderita telah bebas kejag selama ±48 jam maka dosis diazepam
diturunkan secara bertahap ±10% setiap 1-3 hari (tergantung keadaan).
Segera setelah intake peroral memungkinkan maka diazepam diberikan
peroral dengan frekuensi pemberian tiap 2 jam.

7
o Oksigen : diberikan bila terdapat tanda-tanda hipoksia, disstres pernapasan,
sianosis
o Nutrisi: diet TKTP dalam bentuk lunak, saring, atau, cair. Bila perlu, diberikan
melalui pipa nasogatrik
o Menghindari tindakan/perbuatan yang bersifat merangsang, termasuk ransangan
suara dan cahaya yang intensitasnya bersifat intermitten
o Mempertahankan/ membebaskan jalan napas: pengisapan lendir oro/nasofaring
secara berkala.
o Posisi/letak penderita diubah-ubah secara periodik
o Pemasangan kateter bila terjadi retensi urin
 Sebelum keluar Rumah Sakit : Tetanus Toksoid (TT) 0,5 ml i.m. dan diberikan dosis
kedua dan ketiga dengan inteval waktu 4-6 minggu dari sebelumnya.
Penatalaksanaan Tetanus Neonatorum4
 Medikamentosa
o Pasang jalur IV dan beri cairan dengan dosis rumatan
o Berikan diazepam 10mg/kgBB/hari secara IV dalam 24 jam (dengan dosis
0,5ml/kgBB/ kali pemberian), maksimum 40mg/kgBB/hari.
o Bila frekuensi napas kurang 30 kali/menit, obat dihentikan meskipun bayi
masih mengalami apneu
o Bila bayi mengalami henti napas selama spasme atau sianosis sentral setelah
spasme, berikan oksigen dengan kecepatan aliran sedang, bila belum bernapas
lakukan resusitasi
o Berikan bayi
- Human Tetanus Immunoglobulin 500U/i.m atau Tetanus Antitoksin
5000U/i.m
- Tetanus Toxoid 0,5 ml/i.m pada tempat berbeda dengan pemberian
antitoksin
- Bensilpenisilin G 100.000/U/kgBB/i.v. dosis tunggal selama 10 hari. (ganti
ampisilin) dosis 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis

8
o Bila terjadi kemerahan dan/atau pembengkakan pada kulit sekitar pangkal tali
pusat atau keluar nanah dari permukaaan tali pusat atau bau busuk dari area tali
pusat, berikan pengobatan untuk infeksi lokal tali pusat
o Berikan ibunya imunisasi Tetanus Toksoid 0,5 ml (untuk melindungi ibu dan
bayi yang dikandung berikutnya) dan minta datang satu bulan kemudian untuk
pemberian dosis kedua.
 Bedah
 Supportif
o Bila terjadi kekakuan atau spastisitas yang menetap terapi supportif berupa
fisioterapi
 Perawatan lanjut bayi Tetanus Neonatorum :
o Rawat bayi di ruang yang tenang dan dengan penerangan rendah untuk
mengurangi ransangan yang tidak perlu
o Lanjutkan pemberian cairan i.v dengan dosis rumatan
o Pasang pipa lambung bila belum terpasang dan beri ASI peras diantara periode
spasme. Mulai dengan jumlah setengah kebutuhan perhari dan dinaikkan secara
perlahan, jumlah ASI yang diberikan sehingga tercapai jumlah yang diperlukan
dalam dua hari.
o Nilai kemampuan minum dua kali sehari, bayi minum baik, dan tidak ada lagi
masalah yang memerlukan perawatan di rumah sakit, maka bayi dapat
dipulangkan
 Tumbuh Kembang
o Meskipun angka kematian tetanus neonatorum masih sangat tinggi (50% atau
lebih), tetapi kalau bayi bisa bertahan hidup, tidak akan mempunyai dampak
penyakit masa datang
o Pemantauan tumbuh kembang diperlukan terutama untuk asupan gizi yang
seimbang dan stimulasi mental.

9
IX. KOMPLIKASI
Komplikasi tetanus dapat terjadi akibat penyakitnya, seperti laringospasme, atau
sebagai konsekuensi dari terapi sederhana, seperti sedasi yang mengarah pada koma,
aspirasi, atau apneu, atau konsekuensi dari perawatan intensif, seperti pneumonia berkaitan
ventilator.3

X. PROGNOSIS
Dipengaruhi oleh beberapa faktor dan akan buruk pada masa tunas yang pendek
(kurang dari 7 hari), usia yang sangat muda (neonatus) dan usia lanjut, bila disertai
frekuensi kejang yang tinggi, kenaikan suhu tubuh yang tinggi, pengobatan yang terlambat,
period onset yang pendek (jarak antara trismus dan kejang) dan adanya komplikasi
terutama spasme otot pernapasan dan obstruksi saluran napas.5

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Ritarwan, Kiking. Tetanus. Medan: Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran USU/RSU H.


Adam Malik; 2004.
2. Davis, Charles. Tetanus. Available from-URL: http://www.emedicinehealth.com. Online
Update on 14 August 2008
3. Ismanoe, Gatot. Tetanus dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Sudoyo AW, Jilid III,
Ed 4. Jakarta:FKUI. 2006.h. 1777-85
4. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-UNHAS. Tetanus Neonatorum dalam Standar
Pelayanan Medis Kesehatan Anak.. Makassar : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-
UNHAS SMF Anak RS Dr. Wahidin Sudirohusodo; 2009. h. 27-33, 165
5. Bagian/SMF.Ilmu Penyakit Saraf FK Unhas. Tetanus dalam Standar Pelayanan Medik
Ilmu Penyakit Saraf FK UNHAS.Makassar.2010.Hal 65-66
6. Hasan R. Tetanus(“Lockjaw”) dalam Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FK-UI; 1985.h. 568-572
7. Halfian. Tetanus pada Anak. Available from-URL:
http://medicinestuffs.blogspot.com/2008/11/tetanus-pada-anak.html. Online Update on 1
November 2008
8. W.Hay, William. Tetanus dalam a lange Medical Book Current Diagnosis & Treatment
Pediatrics Nineteenth edition. New York: Mc Graw Hill Medical.2007. p1144-1147

11