Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KUNJUNGAN RUMAH

FAMILY FOLDER
PUSKESMAS RENGASDENGKLOK
KABUPATEN KARAWANG

Disusun oleh:
Samantha
11.2014.337

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, Oktober 2016
Bab I
Pendahuluan

Latar Belakang
Imunisasi adalah pemberian suatu vaksin ke dalam tubuh untuk memberikan kekebalan
terhadap penyakit tertentu dengan maksud menurunkan Angka Kematian dan Angka Kesakitan
serta mencegah akibat buruk lebih lanjut dari PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi).
Imunisasi merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif, mudah, serta murah untuk
menghindari terjangkitnya penyakit infeksi yang berbahaya terhadap seorang bayi atau anak.
Melalui imunisasi, secara individu akan menjadi kebal terhadap penyait infeksi tertentu. Saat
ini seluruh Puskesmas di Indonesia telah melayani imunisasi melalui pelayanan di Puskesmas
, dan mengisi kegiatan Posyandu yang ada di masyarakat 1,2,3
Data dari WHO Immunization Summary 2010 menunjukkan cakupan beberapa
imunisasi dasar di Indonesia berkurang. Pada tahun 2008, cakupan DPT3 dan polio3 adalah
77%. Cakupan Hepatitis B meningkat ke 78% namun masih belum mencapai target 80%.
Cakupan BCG pula adalah 89%.1,3

Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai penyakit yang bisa
timbul akibat dari kinerja program imunisasi dasar yang belum optimal. Terutama anak-anak
balita yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap saat bayi.

Tujuan
Dengan melakukan kegiatan kunjungan langsung kepada pasien puskesmas, diharapkan
dapat menambah wawasan mengenai pentingnya pemberian imunisasi yang masih belum
mencapai target di wilayah kerja Puskesmas Rengasdengklok Kabupaten Karawang.
Bab II
Laporan Kasus

Data Riwayat Keluarga


Identitas Pasien
NamaLengkap : An. A
Tempat, TanggalLahir : Karawang, 12 Mei 2014
Usia : 2 Tahun
JenisKelamin : Laki-laki
Alamat : Kampung Balong Jambe
SukuBangsa : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : Belum Sekolah

Riwayat Biologis Keluarga


 Keadaan Kesehatan Sekarang : Cukup
 Kebersihan Perorangan : Cukup
 Penyakit yang Sering Diderita : Batuk dan Diare
 Penyakit Keturunan : Tidak Ada
 Penyakit Kronis / Menular : Tidak Ada
 Kecacatan Anggota Keluarga : Tidak Ada
 Pola Makan : Cukup
 Pola Istirahat : Cukup
 Jumlah Anggota Keluarga : 4 orang

Psikologis Keluarga
 Kebiasaan Buruk : Ayah merokok
 Pengambilan Keputusan : Sendiri
 Ketergantungan Obat : Tidak Ada
 TempatMencariPelayananKesehatan : Puskesmas
 Pola Rekreasi : Cukup
Keadaan Rumah / Lingkungan
 Jenis Bangunan :Permanen
 Lantai Rumah : Keramik
 Luas Rumah : 10 meter x 8 meter
 Penerangan : Cukup
 Kebersihan : Cukup
 Ventilasi : Cukup
 Dapur : Ada
 Jamban Keluarga : Ada
 Sumber Air Minum : Air Galon Isi Ulang
 Sumber Pencemaran Air : Tidak Ada
 Pemanfaatan Pekarangan : Tidak Ada
 Sistem Pembuangan Air Limbah : Ada
 Tempat Pembuangan Sampah : Ada
 Sanitasi Lingkungan : Cukup

Spiritual Keluarga
 Ketaatan Beribadah : Cukup
 Keyakinan Tentang Kesehatan : Kurang (ibu os takut anak nya diimunisasi)

Keadaan Sosial Keluarga


 Tingkat Pendidikan Terakhir : SMP
 Hubungan Antar Keluarga : Baik
 Hubungan Dengan Orang Lain : Baik
 Kegiatan Organisasi Sosial : Cukup
 Keadaan Ekonomi : Sedang

Kultural Keluarga
 Adat yang Berpengaruh : Sunda
Daftar Anggota Keluarga
Hubungan
Keadaan
No Nama dengan Umur Pekerjaan Agama
Kesehatan
keluarga
31 Ibu Rumah
1 Ny. I Ibu Islam Baik
Tahun Tangga
36
2 Tn. R Ayah Wiraswasta Islam Baik
Tahun
3 An. A Pasien 2 Tahun - Islam Diare
12
4 An. E Kakak Siswa Islam Baik
Tahun

Keluhan Utama :
Pasien mengeluh diare sejak 1 hari yang lalu.

Keluhan Tambahan :
Pasien mengeluh demam ringan

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien mengeluh diare sejak 1 hari yang lalu. BAB cair, frekuensi 4 x sejak 1 hari lalu,
warna kekuningan, tidak ada lendir maupun darah. Nyeri tekan perut (+). Tidak ada
mual maupun muntah. Keluhan disertai demam ringan sepanjang hari sejak 1 hari lalu

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien pernah terjangkit TB saat berusia 6 bulan dan meminum obat selama 9 bulan.
Saat ini pasien telah dinyatakan sembuh. Riwayat imunisasi pasien juga tidak lengkap.
Hal ini disebabkan Karena waktu dulu pasien diimunisasi terdapat bengkak pada bekas
suntikan sehingga ibu os takut dan merasa kapok untuk membawa anaknya diimunisasi
lagi.

Pemeriksaan Fisik
 Keadaan Umum : Sakit Ringan
 Kesadaran : Compos Mentis
 Tanda Vital:
- Frekuensi Nadi : 86 kali/menit
- FrekuensiNapas : 21 kali/menit
- Suhu : 37,20C
 Data Antropometi
₋ Berat Badan : 10 kg
₋ Tinggi Badan : 87 cm
₋ Lingkar Kepala : -
₋ Lingkar Dada :-
₋ Lingkar Lengan Atas : -

Pemeriksaan Sistematis
 Kepala
 Bentuk dan Ukuran : Normocephali, tidak ada deformitas
 Rambut dan Kulit Kepala : Rambut berwarna hitam, distribusi merata, kulit
kepala tidak ada kelainan.
 Wajah : Normal
 Mata : Conjunctiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/-
 Telinga : Bentuk normal, liangtelingalapang, sekret -/-
 Hidung : Bentuk normal, sekret -/-, Pernapasan cuping hidung (-)
 Bibir : Merah, tidak kering, sianosis (-)
 Gigi-geligi : Tidak tampak kelainan
 Mulut : Bentuk normal, tidak ada stomatitis, sianosis (-)
 Lidah : Bentuk normal, lidah tidak kotor
 Tonsil : Tonsil T1-T1 tenang,tidak hiperemis
 Faring : Tidak hiperemis

 Leher : Tidak ada kelainan bentuk, tiroid dan kelenjar getah bening tidak
teraba membesar.

 Toraks
₋ Dinding Toraks: Simetris, pergerakan dinding torak simetris, tidak ada retraksi.
₋ Paru:
 Inspeksi : Gerak dinding dada simetris
 Palpasi : Vocal fremitus kiri dan kanan sama
 Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
 Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhi kasar -/-, wheezing -/-
₋ Jantung
 Inspeksi : Tidak terlihat pulsasi iktus kordis
 Palpasi : Teraba pulsasi iktus kordis di sela iga IV garis midclavicularis
sinistra
 Perkusi : Tidak dilakukan
 Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, tidak ada murmur, tidak ada gallop
 Abdomen
₋ Inspeksi : Tampak datar, tidak tampak pelebaran vena
₋ Palpasi : Nyeri tekan (+)
₋ Auskultasi : Bising usus (+) normal
₋ Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba membesar
 Anus dan Rectum : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Genitalia :Tidak dilakukan pemeriksaan
 Anggota gerak : Akralhangat + + oedema - -
+ + - -
 Tulang Belakang : Tidak ada kelainan
 Kulit : Tidak ada kelainan
 Rambut : Berwarna hitam, distribusi merata
 Kelenjar Getah Bening : Tidak teraba membesar
 Pemeriksaan Neurologis: Meningeal sign (-)

Diagnosa Penyakit : GEA tanpa dehidrasi

Diagnosa Keluarga : Keluarga dalam keadaan sehat

Anjuran Penatalaksaan Penyakit:


 Promotif : Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit
diare, membiasakan
 Preventif : Menjalankan pola atau gaya hidup yang sehat.
 Kuratif : Terapi Medikamentosa :
 Paracetamol syrup 3 x 1/2 cth
 Amoxicilin syrup 3 x 1/2 cth
 Zinc 20 mg 1 x 1/2 tab
 Oralit 6 sachet setiap kali diare
 Multivitamin anak syrup (univit) 1 x 1 cth

Terapi Non-Medikamentosa:
 Menjalankan pola hidup sehat (olah raga, tidak merokok)
 Konsumsi makanan dan minuman yang bersih
 Rehabilitatif: Minum obat yang teratur

Prognosis
 Penyakit : bonam
 Keluarga : bonam
 Masyarakat : bonam
Bab III
Materi

Imunisasi adalah program pencegahan penyakit menular yang diterapkan dengan


memberikan vaksin sehingga orang tersbut imun atau resisten terhadap penyakit tersebut.
Program imunisasi dimulai sejak usia bayi hinggan masuk usia sekolah. Melalui program ini,
anak akan diberikan vaksin yang berisi jenis bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan
atau dinonaktifkan guna merangsang sistem imun dan membentuk antibodi di dalam tubuh
mereka. Antibodi yang terbentuk setelah imunisasi bermanfaat untuk melindungi tubuh dari
serangan bakteri dan virus tersebut di masa yang akan datang.
Metode pemberian vaksin dalam imunisasi beragam, ada yang dengan cara disuntikkan,
dimasukkan (ditetesi) ke dalam mulut, atau bahkan disemprotkan ke dalam mulut atau hidung.
Sejumlah vaksin ada yang hanya diberikan sekali seumur hidup dan ada juga yang perlu
diberikan secara berkala agar kekebalan tubuh terbentuk dengan sempurna.
Bayi baru lahir memang telah memiliki antibodi dari ibunya yang diterima saat masih
di dalam kandungan, namun kekebalan ini hanya dapat bertahan hingga beberapa minggu atau
bulan saja. Setelah itu, bayi akan menjadi rentan terhadap berbagai jenis penyakit dan perlu
mulai memproduksi antibodi sendiri. Dengan imunisasi, sistem kekebalan tubuh anak akan siap
untuk menghadapi serangan penyakit tertentu di masa depan, seperti cacar, campak, polio,
tetanus, dan gondongan, sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Imunisasi juga bisa
membantu mencegah epidemi penyakit menular serta menekan pengeluaran karena biaya
pencegahan lebih murah daripada biaya pengobatan.

Efek Samping Imunisasi


Umumnya efek samping imunisasi tergolong ringan, misalnya:
 Nyeri atau bekas berwarna kemerahan di bagian yang disuntik
 Demam
 Mual
 Pusing
 Hilang nafsu makan
Untuk efek samping yang tergolong parah (misalnya kejang dan reaksi alergi), jarang sekali
terjadi.
Pertimbangkanlah kembali jika Anda berencana untuk tidak menyertakan anak ke dalam
program imunisasi karena risiko efek samping vaksinasi itu sendiri lebih kecil dibandingkan
manfaatnya sepanjang hidup.

Jenis-jenis Vaksin Imunisasi di Indonesia


Berikut ini adalah jenis-jenis vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI) dalam program imunisasi, di antaranya:
 Hepatitis B
 Polio
 BCG
 DTP
 Campak
 Hib
 PCV
 Rotavirus
 Influenza
 MMR
 Tifoid
 Hepatitis A
 Varisela
 HPV
Di Indonesia, vaksin hepatitis B, polio, BCG, DTP dan campak merupakan imunisasi wajib.
Sedangkan sisanya merupakan vaksinasi yang direkomendasikan.
Hepatitis B
Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi hati berbahaya yang disebabkan oleh
virus melalui cairan tubuh dan darah. Pemberian vaksin hepatitis B bisa dilakukan pertama kali
pada anak setelah kelahirannya. Selanjutnya vaksin ini bisa kembali diberikan pada saat anak
berusia satu bulan dan pemberian ketiga di kisaran usia 3-6 bulan.
Efek samping vaksin hepatitis B yang tergolong umum adalah demam dan rasa lelah
pada anak. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah gatal-gatal, kulit menjadi
kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.
Polio
Polio merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan, sesak napas,
dan terkadang kematian. Pemberian vaksin polio harus dilakukan dalam satu rangkaian, yaitu
pada saat anak baru dilahirkan dan pada saat anak berusia dua, empat, serta enam bulan. Vaksin
ini selanjutnya bisa diberikan kembali di usia satu setengah tahun, dan yang terakhir di usia
lima tahun.
Efek samping vaksin polio yang paling umum adalah demam dan kehilangan nafsu
makan, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi berupa gatal,
kulit kemerahan, wajah membengkak hingga susah bernapas atau menelan.
BCG
Vaksin BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau yang lebih dikenal
sebagai TBC. Penyakit ini merupakan penyakit serius yang dapat ditularkan melalui hubungan
dekat dengan orang yang terinfeksi TB, seperti hidup di rumah yang sama.
Pemberian vaksin BCG hanya dilakukan satu kali, yaitu pada saat anak baru dilahirkan hingga
berusia dua bulan. Efek samping vaksin BCG yang paling umum adalah munculnya benjolan
bekas suntik pada kulit, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi.
DTP
Vaksin DTP merupakan jenis vaksin gabungan. Vaksin ini diberikan untuk mencegah
penyakit difteri, tetanus, dan pertusis. Pertusis lebih dikenal dengan sebutan batuk rejan.
Difteri merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan sesak napas, radang paru-
paru, hingga masalah pada jantung dan kematian. Sedangkan tetanus merupakan penyakit
kejang dan kaku otot yang sama mematikannya. Dan yang terakhir adalah batuk rejan atau
pertusis, yaitu penyakit batuk parah yang dapat mengganggu pernapasan. Sama seperti difteri,
batuk rejan juga dapat menyebabkan radang paru-paru, kerusakan otak, bahkan kematian.
Pemberian vaksin DTP harus dilakukan lima kali, yaitu pada saat anak berusia:
 Dua bulan
 Empat bulan
 Enam bulan
 Satu setengah tahun
 Lima tahun
Vaksin DTP tidak dilisensikan untuk anak-anak usia di atas tujuh tahun, remaja, atau dewasa.
Namun vaksin sejenis yang disebut Tdap bisa diberikan pada usia 12 tahun. Efek samping
vaksin DTP yang tergolong umum adalah rasa nyeri, demam, dan mual. Efek samping yang
jarang terjadi adalah kejang-kejang.
Campak
Campak adalah penyakit virus yang menyebabkan demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan,
radang mata, dan ruam. Vaksin campak diberikan tiga kali yaitu pada saat anak berusia
sembilan bulan, dua tahun, dan enam tahun.

Seluruh imunisasi ini dianjurkan untuk dilengkapi agar anak dapat terlindungi lebih
baik dari penyakit serta mendukung tumbuh kembang anak yang lebih baik.

Bab IV
Penutup

Kesimpulan
Dari hasil kunjungan ke rumah pasien di Kampung Kaung Gading, Desa Cintawargi,
Kabupaten Karawang; pasien menderita Gastroenteritis Akut tanpa dehidrasi. Dengan
pendekatan kedokteran keluarga diketahui bahwa tidak ada anggota keluarga yang mengalami
keluhan sama seperti pasien. Dalam menegakkan diagnosis, anamnesa dari pasien dan keluarga
pasien menjelaskan kemungkinan penyebab penyakit berasal dari daya tahan tubuh yang
kurang baik serta makanan yang kurang higienis.

Saran
Saran untuk pasien adalah untuk melanjutkan program imunisasi, menjaga kebersihan
diri serta makanan yang dimakan. Konsumsi makanan dengan gizi seimbang sehingga daya
tahan tubuh pasien juga akan meningkat.
Saran bagi puskesmas, perlunya dilaksanakan promosi kesehatan perorangan tentang
imunisasi terutama pada orang-orang yang tidak mengijinkan anaknya diimunisasi ataupun
takut dengan imunisasi.
Daftar Pustaka
1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan menteri kesehatan Republik
Indonesia nomor 42 tahun 2013 tentang penyelenggaraan imunisasi. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2013.
2. Departemen Kesehatan RI. Pedoman teknis imunisasi tingkat puskesmas. Jakarta :
Direktorat Jenderal PP & PL Departemen Kesehatan RI, 2010.
3. World Health Organization. Global health observatory data on immunization. Diunduh
dari http://www.who.int/gho/child_health/mortality/neonatal_infant_text/en/, pada 29
Oktober 2016.

Dokumentasi