Anda di halaman 1dari 3

Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan

penderita yang banyak dalam waktu yang singkat. Sampai saat ini penyakit diare
atau juga sering disebut gastroenteritis, masih merupakan masalah kesehatan
utama setiap orang di negara-negara berkembang termasuk masyarakat di
Indonesia, karena kurangnya pemahaman dan penyuluhan tentang penyebab diare.
Melihat kondisi negara Indonesia yang sebagian besar penduduknya masih hidup
di bawah garis kemiskinan, penyakit diare masih menjadi penyakit yang sering
menyerang masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan masyarakat kita yang
masih belum menyadari akan pentingnya sarana air bersih (Nursalam, 2005).
Berdasarkann Center of Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2013,
setiap tahunnya terjadi kematian pada anak sejumlah 801.000 sedangkan
perharinya mencapai 2.195 orang kematian pada anak yang disebabkan oleh diare.
Data lain menunjukkan berdasarkan WHO (2015) diare merupakan penyakit yang
menjadi perhatian khusus dari target Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (2012) setiap tahunnya lebih
dari satu milyar kasus gastroenteritis. Angka kesakitan diare pada tahun 2011
yaitu 411 penderita per 1000 penduduk. Diperkirakan 82% kematian akibat
gastroenteritis rotavirus terjadi pada negara berkembang, terutama di Asia dan
Afrika, dimana akses kesehatan dan status gizi masih menjadi masalah.
Sedangkan data profil kesehatan Indonesia menyebutkan tahun 2012 jumlah kasus
diare yang ditemukan sekitar 213.435 penderita dengan jumlah kematian 1.289,
dan sebagian besar (70-80%) terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun. Seringkali
1-2% penderita diare akan jatuh dehidrasi dan kalau tidak segera tertolong 50-
60% meninggal dunia.Dengan demikian di Indonesia diperkirakan ditemukan
penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya (Depkes RI, 2012).
Diare memiliki faktor risiko diantaranya adalah tidak diberikan ASI
ekskusif selama 6 bulan, tidak melakukan cuci tangan dengan sabun, tidak
tersedia air minum yang aman,sanitasi yang buruk, dan imunisasi yang tidak
lengkap. Selain itu faktor ekonomi juga sangat berpengaruh seperti faktor
kemiskinan, kekurangan gizi dan kurangnya akses fasilitas kesehatan merupakan
faktor ynag mendukung timbulnya diare (UNICEF, 2012; Widoyono, 2008;
Sukoco, 2011). Berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan terhadap faktor-
faktor penyebab diare pada anak balita adalah faktor ekonomi, pengetahuan dan
pemahaman orang tua terhadap diare, perilaku mencuci tangan sebelum atau
sesudah memberikan makanan maupun buang air besar, lingkungan yang tidak
sehat dan ketersediaan air bersih (Adisasmito, 2007).
Pencegahan dan penanganan diare pada anak memerlukan keterlibatan
keluarga teutama ibu. Ibu merupakan sosok yang terdekat dengan anak dan
pemberi perawatan utama pada anak. Keterlibatan ibu dalam penatalaksanaan
diare sangat penting. Oleh karena itu pengetahuan yang baik pada ibu sangat
diperlukan untuk membentuk perilaku yang baik dalam hal tatalaksana dan
pencegahan diare. Selain itu keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan oleh
masyarakat,tingkat kegawatan penyakit, dan pengalaman pengobatan sebelumnya
baik atas pengalaman sendiri maupun orang lain turut mempengaruhi individu
dalam pengambilan keputusan untuk mengobati penyakit (Hidayat, 2012:
Kemenkes, 2010).
Memberikan upaya dalam penatalaksanaan diare pada anak adalah hal
yang harus ibu ketahui dari awal. Tindakan yang dilakukan ibu selama anak
mengalami diare sangat menentukan tingkat kesembuhan dan lamanya (durasi)
penyakit tersebut. Dengan demikian bila ibu berperilaku baik diharapkan dapat
memberikan pencegahan dan pertolongan pertama diare pada anaknya. Orang tua
atau ibu akan dapat memberikan penatalaksanaan yang tepat jika dibekali dengan
pengetahauan dan mempunyai perilaku yang baik. Beberapa penelitian yang
pernah dilakukan bahwa pendidikan kesehatan atau pemberian informasi
pengetahuan seputar diare pada ibu memberikan pengaruh yang signifikan terhdap
peningkatan pengetahuan, keterampilan dan perilaku ibu dalam memberikan
pencegahan dan penanganan anak diare (Purnamasari, 2011).
Berdasarkan penjelasan diatas, kelompok akan menjelaskan tentang
pencegahan diare pada pasien dan keluarga pasien di ruang dahlia RSD Balung
Jember.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Pasien dan keluarga pasien mengetahui pencegahan diare.

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Mengetahui penegertian diare
b. Mengetahui pencegahan diare
c. Mengetahui manfaat pencegahan diare
d. Mengetahui langkah-langkah pencegahan diare

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Penulis
Mendapatkan pengetahuan, informasi, dan wawasan baru terkait dengan
pencegahan diare

1.4.2 Bagi Praktik Keperawatan


Memberi informasi bagi praktik keperawatan khususnya keperawatan
anak untuk menggunakan pencegahan diare

1.4.3 Bagi Pendidikan Keperawatan


Memberi pengetahuan dan wawasan tentang pencegahan diare
pada anak sehingga dapat menambah studi kepustakaan dan
menjadi masukan yang berarti dan bermanfaat bagi mahasiswa
keperawatan dan bidang kesehatan lainnya.