Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama islam adalah agama yang diridhoi oleh Allah SWT, sebagai agama yang berada
di sisi Allah SWT Islam memiliki asas-asas atau fondasi dimana segala aspek kehidupan
manusia harus terarah dan sejalan dengan asas tersebut. Sumber atau asas yang pertama
yaitu al Quran, dimana al Quran merupakan kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada
Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat jibril. Pada dasarnya hukum-hukum
syariat yang ada pada al Quran bersifat global. Oleh karena itu al Quran sebagai pedoman
dan dasar agama Islam yang pertama, membutuhkan sumber hukum lainnya sebagai penguat
dan penjelas segala hukum yang sudah ada pada al Quran. Setelah al Quran ada sumber
hukum islam yang kedua, yaitu As Sunnah. Jika al Quran datang langsung dari Allah atau
merupakan kalam Allah , maka As Sunnah disandarkan pada Nabi Muhammad SAW baik
berupa perkataan, perbuatan, maupun persetujuan Nabi Muhammad SAW. Kedudukan
hadits sebagai hukum islam adalah penjelas al Quran dan penegas terhadap ayat- ayat al
Quran.

A. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian sunnah dan bentuk-bentuknya?
2. Apa sajakah unsur pokok sunnah atau hadits?
3. Bagaimana klasifikasi hadits berdasarkan kuantitas perawi dan kualitasnya matan
hadits?
4. Bagaimanakah keshahihan sebuah hadits?

1
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Sunnah
Menurut bahasa sunnah berarti “Jalan yang terpuji dan atau yang tercela”. Khalid bin
Utbah Al-Hadzi mengatakan, “Janganlah kau halangi perbuatan yang telah kau lakukan, karena
orang yang pertama menyenangi suatu perbuatan adalah orang yang melakukannya.”
Sementara dalam hadist Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala (dari
perbuatannya itu dan pahala orang yang menirunya setelah dia, dengan tidak dikurangi
pahalanya sedikit pun. Dan barang siapa melakukan perbuatan jelek, ia akan menanggung
dosanya dan dosa orang-orang yang menirukannya, dengan tidak dikurangi dosanya
sedikitpun.” (HR Muslim)

Bila kata sunnah disebutkan dalam masalah yang berhubungan dengan hukum syara’,
maka yang dimaksud ialah segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, atau dianjurkan oleh
Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan. Sedangkan sunnah
menurut istilah di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat disebabkan karena perbedaan
latar belakang, presepsi, dan sudut pandang para ulama terhadap Rasulullah SAW. Secara garis
besar mereka terkelompok menjadi tiga golongan : ahli hadis, ahli usul, dan ahli fiqh.

Pengertian sunnah menurut ahli hadis adalah, “Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW
baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, perangai, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelum
diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya”. Jadi dari definisi tersebut para ahli hadis
menyamakan antara sunnah dengan hadis. Para ahli hadis memaknai sunnah ini pada seluruh
kebiasaan Nabi SAW, baik yang melahirkan syara’ ataupun tidak.

Bagi ulama ushuliyyin jika antara sunah dan hadis dibedakan dan bagi mereka, hadis
adalah sebatas sunnah qauliyah-nya Nabi Muhammad SAW. Berarti sunnah mencakup lebih
luas dibandingkan hadist, sebab sunnah mencakup perkataan, perbuatan, dan penetapan Rasul,
yang bisa dijadikan dalil hukum syar’i. Dikarenakan mereka memandang Rasul sebagai suri
tauladan yang baik. Oleh karenanya, mereka menerima secara utuh segala yang diberikan
tentang diri Rasul SAW. Tanpa membedakan apakah yang diberitakan tersebut berhubungan
dengan hukum syara’ atau tidak.

2
Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah SWT dalam QS Al-Ahzab (33):21”

“sesungguhnya telah ada pada diri Rasul SAW itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi
orang yang berharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut
nama Allah.”

Dengan demikian berpegang teguh kepada Al-Quran dan sunnah nabi akan menjamin sesorang
terhindar dari kesesatan.

Berbeda dengan ahli hadis, ahli usul mengatakan, sunah adalah segala sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi SAW yang berhubungan dengan hokum syara’, baik berupa
perkataan, perbuatan, maupun tqrir beliau. Mereka mendefinikasikan sunnah sebagai berikut :
”segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW selain Al-Quran Al-Karim, baik berupa
perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang pantas untuk dijadikan dalil bagi hukum syara.”

Definisi ahli ushul membatasi pengertian sunnah hanya pada segala sesuatu yang
bersumber dari nabi, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan taqrirnya yang berkaitan
dengan hokum syara’. Dengan demikian, sifat perilaku sejarah, hidup dan segala sesuatu yang
bersumber dari Nabi SAW yang tidak berkaitan dengan hukum syara’ dan terjadi sebelum
diangkatnya menjadi Rasul tidak dikatakan sunnah. Pemahaman ahli ushul terhadap sunnah
didasarkan pada argumentasi rasional bahwa Rasulullah SAW sebagai pembawa dan pengatur
undang-undang yang menerangkan kepada manusia tentang undang-undang hidup dan
menciptakan kerangka dasar bagi para mujtahid yang hidup sesudahnya.

Ulama ahli Fiqh mendefinikasikan sunnah seperti ini karena mereka memusatkan
pembahasan tentang pribadi dan perilaku Rasul SAW pada perbuatan-perbuatan yang
melandasi hukum syara’, untuk diterapkan pada perbuatan manusia pada umumnya, baik yang
wajib, haram, makruh, mubah, maupun sunnah ini memang tidak dapat dilepaskan dari sumber
hukum menurut mereka, yaitu hukum syara’ yang lima. Oleh karena itu, apabila mereka
berkata, perkara ini sunnah, maksudnya mereka memandang bahwa pekerjaan itu mempunyai
nilai syariat yang dibebankan oleh Allah SWT kepada setiap orang yang baligh dan berakal
dengan tuntutan yang tidak mesti.1

1
Munzeir Suparta, Ilmu Hadis, (PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta, Mei 2011), h.4.

3
B. Bentuk-bentuk hadits
1. Qauliyah
Yang dimaksud hadis qauli atau sunnah qauliyah adalah segala yang disandarkan
kepada Nabi SAW yang berupa perkataan atau ucapan yang memuat berbagai maksud
syara’, peristiwa, dan keadaan, baik yang berkaitan dengan aqidah, syari’ah, ahklak,
maupun yang lainnya. Contoh hadis qauli ialah hadis tentang doa Rasul SAW yang
ditunjukan kepada yang mendengar, menghafal, dan menyampaikan ilmu. Hadis tersebut
berbunyi :

“Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataan


dariku kemudian menghafal dan menyampaikan kepada orang lain, karena banyak orang
berbicara mengenai fiqh padahal ia bukan ahlinya. Ada tiga sifat yang karenanya tidak
timbul rasa dengki di hati seorang muslim, yaitu ikhlas beramal semata-mata kepada Allah
SWT, menasehati, taat dan patuh kepada pihal penguasa dan setia terhadap jama’ah. Karena
sesungguhnya doa mereka akan memberikan motivasi dan menjaganya dari belakang”. (HR.
Ahmad)

2. Fi’liyah
Yang dimaksud dengan hadis fi’li atau sunnah fi’liyah adalah segala yang
disandarkan kepada Nabi SAW berupa perbuatannya yang sampai kepada kita. Seperti hadis
tentang shalat dan haji. Contoh hadis fi’li tentang shalat adalah sabda Nabi SAW yang
berbunyi :

”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sahalat”. (HR. Bukhari)

3. Taqririyah
Yang dimaksud dengan hadis ini adalah segala hadis yang berupa ketetapan Nabi
SAW terhadap apa yang datang dari sahabatnya. Nabi SAW membiarkan suatu perbuatan
yang dilakukan oleh para sahabat, setelah mememuhi beberapa syarat, baik mengenai
pelakunya maupun perbuatannya. Contoh hadis taqriri adalah sikap Rasul SAW
membiarkan para sahabat melaksanakan perintahnya, sesuai dengan penfsirannya masing-
masing sahaat terhadap sabdanya, yang berbunyi :
“Janganlah seorang pun shalat asar kecuali di Bani Quraizah”.2

2
Munzeir Suparta, Ilmu Hadis, (PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta, Mei 2011), h.18-20.

4
Sebagian sahabat memahami larangan tersebut bedasarkan pada hakikat Perintah
tersebut, sehingga mereka tidak melaksanakan shalat asar pada waktunya sedangkan
segolongan sahabat lain memahami perintah tersebut dengan segera menuju Bani Quraizah
dan jangan santai dalam peperangan, sehingga bisa shalat tepat pada waktunya. Sikap para
sahabat ini dibiarkan oleh Nabi SAW tanpa ada yang di salahkan atau diingkarinya.

C. Unsur-Unsur Pokok Hadits


Hadits atau Sunnah sendiri memiliki komponen yang harus dimiliknya, dan baru
bisa dikatakan sebuah hadits, yaitu

1. Sanad

Kata sanad berasal dari bahasa Arab, yaitu ‫سن – يسن – سن ا و س سن و‬ yang

berarti sandaran atau pegangan. Adapun bentuk jamaknya adalah asnad. Menurut
terminologi, sanad dimaknai sebagai jalan yang menyampaikan kepada matan atau teks
hadits. Jadi bisa disimpulkan bahwa sanad adalah rangkaian perawi yang menukilkan
teks hadits dari sumber pertama.

Kata sanad dipergunakan dalam istilah ilmu hadits karena makna sanad secara
bahasa dipandang sama dengan perbuatan para perawi hadits. Seorang perawi yang
hendak menukilkan sebuah hadits, biasanya akan menyandarkan sanad tersebut kepada
perawi yang berada di atasnya, demikian seterusnya sampai kepada akhir atau puncak
sanad. Juga dikarenakan para ulama’ hadits yang menjadikan sanad atau rangkaian
perawi hadits sebagai salah satu syarat ntuk menilai keshahihan hadits.

Demikian tinggi nilai dan urgensi sanad, maka para ulama menganggap
pemakaian sanad merupakan simbol dari umat islam. Seperti yang telah disampaikan
oleh Muhammad Ibn Sirin, bahwa “ Sesungguhnya pengetahuan hadits adalah agama,
maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu itu “. Tanpa adanya sanad,
setiap orang dapat mengatakan apapun yang dikehendakinya, inilah keistimewaan sanad
dalam Islam. Keistimewaan Islam dalam penggunaan sistem sanad ini juga diakui oleh
Sprenger. Seorang orientalis dari Jerman.

Urgensi sanad akan lebih tampak apabila perhatian diarahkan kepada para perawi
yang membentuk sanad itu sendiri. Karena dengan meneliti sanad akan dapat diketahui
apakah silsilah periwayatnya bersambung, sampai kepada Nabi atau tidak. Bahkan, akan
diketahui apakah pemberitaan dari para perawi dapat dipertanggungjawabkan. Dimana

5
pada akhirnya dapat diketahui nilai dari hadits, apakah shahih, hasan, dhaif, atau bahkan
maudhu’.3

2. Matan
Kata “matan” atau “al matan” secara bahasa berarti ma irtafa’a min al-ardhi (
tanah yang meninggi ). Sedangkan menurut istilah :

‫س َ ُ ِمنَ ْول َكالَ ِم‬


َّ ‫ي وِلَ ْي ِه ول‬
َ ‫ما َ َي ْتَ ِه‬
“ Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad ”.

Atau dengan redaksi lain, ialah :

ِ ‫ظ ْول َح ِ ْي‬
‫ث وَلَّتِ ْي تَتَقَ َّا ُم ِب َها َم َعانِ ْي ِه‬ ُ َ‫و َ ْلف‬

“ Lafadz-lafadz hadits yang didalamnya mengandung makna-makna tertentu “

Ada juga redaksi yang lebih simple lagi,yang menyebutkan bahwa matan adalah
ujung sanad (gayah as sanad). Dari semua pengertian di atas, menunjukkan bahwa
yang dimaksud dengan matan adalah materi atau lafadz hadits itu sendiri.4

3. Rawi
Kata “ rawi “ atau “ ar rawi “ berarti orang yang meriwayatkan atau
memberitakan hadits. Sebenarnya istilah sanad dan rawi adalah dua istilah yang tidak
dapat dipisahkan, dimana sanad hadits pada tiap tabaqahnya, itulah rawi. Jadi yang
dimaksud dengan rawi, adalah orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadits.
Akan tetapi, yang membedakan antara rawi dan sanad, adalah terletak pada pembukuan
dan pentadwinan hadits. Orang yang menerima dan kemudian menghimpunnya dalam
suatu itab tadwin, inilah yang disebut dengan perawi.

3
M. Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu
Sejarah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988).
4
Dr. H. Munzier Suparta, M.A., Ilmu Hadis, PT Raja Grafindo Persada : Jakarta, 2011, h. 46

6
D. Klasifikasi Hadits
1. Dari Segi Kuantitas Perawi
Adapun pembagian hadis ditinjau dari segi Kuantitas perawi, dibedakan menjadi dua
yaitu hadis mutawatir dan hadis ahad.5

a. Hadis Mutawwatir

Menurut Etimologi makna Mutawwatir adalah berturut-turutnya sesuatu tanpa


terputus, satu demi satu, diantara keduanya terdapat selang waktu. Hadis Mutawatir
menurut Terminologi yaitu hadis yang diriwayatkan orang banyak berdasarkan logika
yang dapat dipastikan kebenaran (ucapan) mereka, yang mustahil untuk berbohong.
Dapat disimpulkan bahwa hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah
rawi yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta dari sejumlah rawi yang semisal
mereka dan seterusnya sampai akhir sanad, dan semuanya bersandar pada panca indera.
Syarat hadis mutawatir ,yaitu :

1) Hadits Mutawatir harus diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi, dan dapat diyakini
bahwa mereka tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Ulama berbeda pendapat
tentang jumlah minimal perawi. Al-Qadhi Al-Baqilani menetapkan bahwa jumlah
perawi hadits mutawatir sekurang-kurangnya 5 orang, alasannya karena jumlah Nabi
yang mendapat gelar Ulul Azmi sejumlah 5 orang. Al-Istikhari menetapkan minimal
10 orang, karena 10 itu merupakan awal bilangan banyak. Demikian seterusnya
sampai ada yang menetapkan jumlah perawi hadits mutawatir sebanyak 70 orang.
Ada pula yang mengatakan 313 orang maupun lebih dari itu. Tapi yang benar hadis
mutawatir tidak disyaratkan jumlah tertentu.
2) Bahwa adanya keseimbangan antara perawi pada thabaqat pertama dan thabaqat
berikutnya.
3) Bahwa pengetahuan mereka bersifat pasti karena bersandarkan kepada panca indera.
Artinya, mereka menyampaikan Khabar dengan pengetahuan, bukan Zhann atau
prediksi.

Macam-macam hadis Mutawatir

1) Mutawātir lafdzi ,yaitu Hadis yang apabila lafaz dan maknanya sama.

5
Al Imam al Allamah al Hafidz Ibnu Nashiruddin ad Dimasyqi, Mutiara Ilmu Atsar (Kitab Klasifikasi Hadits),
(Akbar Media Eka Sarana: Jakarta) terj. Khorul Amru Harahap dan Faisal Saleh, h.37.

7
ِ َّ ‫ي فـ َ ْليَت َ َب َّاأْ َم ْق َع َهُ ِمنَ ول‬
‫ار‬ َّ َ‫عل‬ َ َ‫َم ْن َكذ‬
َ ‫ب‬

"Barang siapa yang dengan sengaja berdusta atas diriku, maka hendaklah ia
menyiapkan tempatnya di neraka."

2) Mutawatir ma'nawi, yaitu hadis yang lafaz dan maknanya berlainan. Mereka
meriwayatkan berbagai peristiwa dengan berbagai ragam ungkapan, namun intinya
sama. Seperti mengangkat tangan dalam berdoa. Tindakan Nabi saw. ini
diriwayatkan dalam seratus hadis, namun dalam berbagai kejadian yang berbeda-
beda.
b. Hadis Ahad

Ahad adalah bahasa arab yang berasal dari kata dasar ahad ) ‫ )وح‬, artinya satu
,atau wahid, Jadi khabar wahid adalah suatu habar yang diriwayatkan oleh orang satu.
sedang menurut istilah hadits ahad ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat
hadits mutawatir. Adapun pembagian hadits ahad sebagai berikut :

a) Hadis Masyhūr

Hadis masyhur adalah hadis yang diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi
dan belum mencapai batasan mutawatir. Apabila dalam salah satu thabaqahnya
(jenjang) dari thabaqat sanad terdapat tiga perawi maka hadist tersebut
dikategorikan hadist masyhur, sekalipun pada thabaqah sebelum atau sesudahnya
terdapat banyak perawi.

b) Hadis 'Aziz

Hadis 'aziz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi.

c) Hadis Gharib

Hadis gharib adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang rawi saja. Hadis
gharib ini terbagi menjadi dua, berdasarkan segi ke-gharib-annya

a) Gharib mutlak yaitu, jika dalam salah satu tingkatan sanadnya terdapat hanya
seorang perawi yang meriwayatkan. Misalnya hadist shahih yang berbunyi:

‫گلمتان حبيبتان إليالرحمن خفيفتا ن عليا للسا ن شقيلتان فيا لميزون سبحا ناللهابحم ه‬

8
Artinya: Ada dua kalimat yang ringan untuk diucapkan oleh lidah namun berat
bobot timbangannya dan sangat dicintai oleh Allah, kalimat itu adalah
subhanallah wa bihamdih.

Hadist ini pada tingkatan sahabat diriwayatkan hanya oleh Abu Hurairah,
demikian pula pada tingkatan berikutnya yang hanya diriwayatkan oleh seorang
perawi.

d) Gharib Nisbi, yaitu hadist yang dalam sanadnya terdapat perbedaan yang
membedakan dengan kondisi mayoritas sanad. Gharib nisbi tidak berkaitan
dengan jumlah perawi, namun lebih pada kondisi yang asing atau beda bila
dibanding dengan kondisi sanad lain. Perbedaan tersebut bisa berkaitan dengan
tempat atau sifat perawi. Misalnya dalam sebuah sanad hadist seluruh perawinya
berasal dari kota yang sama, Bashrah misalnya. Atau mereka memiliki predikat
sifat yang sama, yaitu tsiqah.

2. Dari Segi Kualitas


Dari aspek kualitas, hadits dapat diklasifikasikan menjadi hadits maqbul dan hadits
mardud. Hadits maqbul adalah hadits yang dapat diterima sebagai hujjah atau dalil serta
dapat dijadikan sebagai landasan hukum. Adapun hadits merdud (tertolak) adalah hadits
yang tidak dapat dijadikan sebagai hujjah ataupun dalil.6

a. Hadits maqbul
Para ulama membagi hadts maqbul menjadi dua, yaitu hadits sahih dan hadits
hasan. Kedua hadits ini memiliki definisi dan kriteria sebagai berikut:
1) Hadits shahih
Yang dimaksud hadits shahih ialah hadits yang memiliki kriteria hadits maqbul.
Hadits ini sering didefinisikan dengan hadits yang bersambung sanadnya,
diriwayatkan oleh orang yang besifat ‘adil, memiliki hafalan yang kuat, tidak terdapat
kejanggalan dalam matannya dan tidak pula terdapat cacat. Beberapa kriteria hadits
sahih ataupun syarat hadits maqbul (syurut al-qabul), yaitu:
a) Bersambung sanadnya,
b) Perawinya memiliki sifat ‘adalah,
c) Memiliki hafalan yang sempurna,

6
Zeid B. Smeer, Buku Ulumul Hadis (UIN-Malang Press: Malang, 2008), h. 31-38.

9
d) Tidak janggal, dan
e) Tidak cacat.

Apabila sebuah hadits memiliki lima sifat di atas, maka hadits tersebut dikatakan
hadits yang shahih. Perlu kita perhatikan, akan kita ketahui bahwa tiga syarat pertama
di atas berkaitan dengan sanad, dan dua syarat terakhir berkaitan dengan matan.

Adapun contoh hadits sahih misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari
sahabat ‘Amr bin ‘Ash dimana Rasulullah bersabda:

‫ولمسلم من سلم ولمسلمان من لسانه س ي ه‬

”Hakikat seorang muslim adalah jika orang muslim lain dapat selamat dari
gangguan lisan dan tangannya.”

2) Hadits Hasan
Hadits Hasan pengertiannya tidak jauh berbeda dengan hadits shahih. Dalam
banyak sisinya terdapat kesamaan, berbeda hanya pada syarat yang ketiga (dhabt).
Jika pada hadits shahih perowinya diisyaratkan memiliki hafalan yang sempurna,
maka pada hadits hasan hafalan perowinya tidak sebaik perowi hadits shahih. Dengan
kata lain, kualitas hafalan perowi hasan tidaklah sesempurna hafalan perowi hadits
shahih atau sedikit berada di bawahnya.
Hadits hasan dibagi menjadi dua, li dzatihi dan li ghairihi. Hadits hasan li dzatihi
adalah hadits yang menjadi shahih atau hasan karena syarat dan kriterianya terpenuhi
secara tersendiri (internatif) bukan karena factor lain (eksternal). Adapun hasan li
ghairihi (menjadi shahih karena faktor lain) adalah hadits hasan yang menjadi shahih
karena di riwayatkan di jalan lain dengan kualitas sanad yang sederajat atau lebih tinggi.
Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu jalan (sanad) maka akan mengangkat kualitas
hadits tersebut, semakin banyak sanad semakin berkualitas.
Sedangkan hasan li ghairihi, adalah hadits dha’if yang tidak parah kedhaifannya
dan diriwayatkan di jalan lain dengan kualitas sanad yang sederajat atau lebih tinggi.
Jika terjadi demikian maka hadits dha’if tersebut akan mengingat kualitasnya menjadi
hasan li ghairi, yaitu hadits dha’if yang menjadi hasan karena faktor lain (adanya
riwayat lain). Hadits ini masih menjadi hujjah, sebagaimana kehujjahan hadits hasan.
Adapun contoh hadits hasan seperti yang diriwayatkan oleh ibn Majah dari
sahabat Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:

10
‫طلب ولعلم فريضة على كل مسلم‬
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang muslim”

b. Hadits Mardud (Dha’if)


Hadits dha’if adalah hadits yang tidak memenuhi kriteria hadits maqbul (hasan
ataupun shahih). Sebagaimana dikatakan sebelumnya, sekalipun dha’if namun kualitas
kedha’ifan sebuah hadits terkadang berfariasi, ada yang ringan, sedang, dan ada pula
yang tergolong parah.
Hadits yang dikatakan dha’if oleh para ulama, sebenarnya tidak selalu bermakna
tertolak. Ada hadits dha’if yang masih bisa diamalkan. Hadits saat dihukumi dha’if yang
disebabkan oleh kualitas hafalan perowi, ada yang disebabkan oleh terputusnya sanad,
adapula yang disebabkan karena kecurangan perowi atau karena sifat kepribadian
perowi, dan lain sebagainya.
Hadits yang dha’if karena sebab sanad yang terputus dinilai tidak terlalu parah jika
disbanding dengan kedha’ifan karena perowi yang dinilai cacat kepribadiannya. Semua
sebab itulah yang kemudian menyebabkan berbedanya kualitas kedha’ifan hadits. Dalam
masalah ini ada tiga pendapat yang popular yaitu:
1. Hadits dha’if tidak boleh diamalkan sama sekali. Baik untuk ibadah maupun fadhoil
amal. Pendapat ini dianut oleh al-qadhi Abu Bakar ibn Ar-Arabi.
2. Hadits dha’if boleh diamalkan secara mutlak, selama tidak terdapat nash shahih
yang menjelaskan permasalahan tersebut. Ini pendapat yang dianut oleh Imam
Ahmad bin Hanbal, Abu Daud, dan lainnya.
3. Hadits dha’if boleh diamalkan, namun dengan syarat dan ketentuan:
a. Untuk fadhoil a’mal (motivasi dalam beramal). Dengan ketentuan ini, hadits
dha’if hanya dapat digunakan dalam masalah targhib wa tarhib (motifator dan
kontrol dalam berprilaku), dan tidak dapat dijadikan sebagai dasar atau landasan
hukum halal ha
b. ram atau masalah-masalah yang berkaitan dengan aqidah.
c. Kualitas dha’ifnya tidak parah.
d. Hadits tersebut berada dibawah payung nash shahih yang diakui kebenarannya,
baik dari ayat maupun hadits shahih.
e. Saat mengamalkan hadits tersebut tidak meyakini keabsahan sumbernya dari
Nabi SAW.

11
Contoh hadits dha’if:

‫كن عالما وس متعلما وس مستمعا وس محبا س ال تكن ولخامس فتهلك‬


“jadilah orang yang pandai, atau pelajar, atau pendengar ilmu, atau pecinta ilmu,dan
jangan menjadi yang kelima karena niscaya anda akan binasa.”

Seseorang boleh saja berpegang pada hadits ini untuk menumbuhkan semangat
dan motivasi belajar, namun di sisi lain, tidak dibenarkan meyakini dengan pasti
bahwa hadits tersebut adalah ucapan Nabi SAW.

Macam-Macam Hadits Dha’if

1) Hadits dha’if karena gugurnya rawi

Ada beberapa nama bagi hadits yang disebabkan oleh gugurnya rawi, antara lain :

a) Hadits Mursal

Hadits mursal menurut bahasa, berarti hadits yang terlepas. Para ulama memberikan
batasan bahwa hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. Yang
dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang
merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.
(penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat
dengan imam yang membukukan hadits, seperti Bukhari, sampai kepada rawi yang
terdekat dengan Rasulullah). Jadi, hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya
tidak menyebutkan sahabat Nabi, sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung
dari Rasulullah.

b) Hadits Munqathi’

Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. Para ulama memberi
batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi
tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat
Nabi, maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabi’in. Jadi, pada hadits munqathi’
bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabi’in.
Bila dua rawi gugur tidak beriringan dan salah satunya adalah tabi’in bukan sahabat.

c) Hadits Mu’dhal

12
Menurut bahasa, hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. Batasan yang
diberikan para ulama bahwa hadits mu’dhal adalah hadits yang gugur dua orang
rawinya, atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya.

d) Hadits Mu’allaq

Menurut bahasa, hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Batasan para ulama
tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa
juga bila semua rawinya digugurkan ( tidak disebutkan ).

2) Hadits Dha’if karena cacat pada matan atau rawi

Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi :

a) Hadits Maudhu’
Menurut bahasa, hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-buat. Para
ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang bukan berasal
dari Rasulullah SAW. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Golongan-golongan
pembuat hadits palsu yakni musuh-musuh Islam dan tersebar pada abad-abad
permulaan sejarah umat Islam, yakni kaum yahudi dan nashrani, orang-orang
munafik, zindiq, atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya, mazhabnya, atau
kebangsaannya . Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. Peringatan
Rasulullah SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan
Rasul SAW sebagai sandarannya.
b) Hadits Matruk
Hadits ini, menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. Para ulama
memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh
orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun
mengenai urusan lain ), atau pernah melakukan maksiat, lalai, atau banyak
wahamnya.
c) Hadits Munkar
Hadist munkar, secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak dikenal.
Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits yang
diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat.
d) Hadits Muallal

13
Menurut bahasa, hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . Para ulama
memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-sebab
tersembunyi , dan illat yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad, matan,
ataupun keduanya.

E. Kriteria Keshahihan Hadits


1. Dari segi sanad
Ketika hadits telah menyebar dan pemalsuan yang dinisbahkan kepada Rasulullah
SAW semakin banyak, para ulama’ menganggap telah menjadi kewajiban mereka untuk
melakukan penelitian dan penilaian terhadap hadits. Untuk lebih memudahkan pekerjaan
ini, mereka menyusun berbagai kaedah dan metode keilmuan hadits. Berdasarakan kaedah
dan metode inilah mereka menyeleksi setiap periwayatan dan menentukan kualitas
keshahihannya. Para ulama’ juga sepakat bahwa ada lima syarat yang harus dipenuhi agar
hadits dapat dikatakan sebagai hadits shahih.

Kelima syarat itu adalah sanad bersambung, perawi ‘adil dan dhabith, terhindar dari
unsur syadz dan ‘illat. Kelima syarat ini juga termasuk dalam kriteria keshahihan sanad
yang menjadi kriteria keshahihan sebuah hadits. Dua yang terakhir juga dipakai untuk
menetapkan keshahihan matan. Dari penetapan persyaratan ini, pada umumnya para ulama’
menyatakan bahwa hadits yang sanadnya shahih belum tentu matannya juga shahih.
Demikian pula sebaliknya, matan yang shahih tidak menjamin sanadnya juga shahih. Jadi
keshahihan hadits mencakup kedua unsur pembentuk hadits tersebut, matan dan sanad.7

Berikut adalah uraian dari kelima unsur keshahihan sanad yang dimaksud oleh para
ulama’ hadits :

Ittishal as sanad, maksdu dari kaedah ini adalah bahwasannya para perawi yang
terdapat dalam suatu sanad menerima langsung hadits tersebut dari perawi sebelumnya ,
begitu seterusnya hingga akhir sanad. Untuk mengetahui bersambung atau tidaknya sebuah
sanad, biasanya para ulama’ hadits melakukan hal-hal berikut ini:

a) Mencatat semua nama Perawi dalam sanad secara teliti


b) Mempelajari sejarah hidup masing-masig perawi untuk mengetahui ke-tsiqah-an
perawi dan hubungan guru dan murid antar perawi

7
M. Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu
Sejarah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), hal. 111.

14
c) Meneliti kata-kata periwayatan yang digunakan perawi untuk menegaskan proses
periwayatan hadits.

Perawi ‘adil, kata adil dalam ilmu hadits bisa dipahami sebagai suatu sifat yang timbul
dalam jiwa seseorang yang mampu mengarahkan orang tersebut kepada perbuatan taqwa
dan memelihara muru’ah hingga ia dipercaya karena kejujurannya, terpelihara dari dosa-
dosa besar dan dosa-dosa kecil, dan menjauhi hal-hal yang dapat menghilangkan muru’ah.
Namun, dalam menerangkan persyaratan dan kriteria perawi adil pun banyak sekali
perbedaan pendapat. Adapun untuk meneliti hal ini, yang bisa dilakukan :

a) Melihat popularitas keutamaan dan kemuliaan perawi di kalangan ulama hadits


b) Penilaian dari kritikus perawi yang mengungkap aspek kelebihan dan kekurangan
yang ada pada perawi yang bersangkutan
c) Penerapan kaedah jarh wa ta’dil yang dipakai ketika kritikus perawi tidak sepakat
dalam menilai kualitas seorang perawi.

Perawi dhabit, dhabit disini menurut Nuruddin yaitu sikap penuh ingat dan tidak lalai,
berupa kekuatan hafalan bila hadits yang diriwayatkan berdasarkan hafalan. Juga benar
tulisannya bila hadits yang diriwayatkan berdasarkan tulisan. Syuhudi Ismail juga
menjelaskan bahwa dhabit disini berarti, kuat hafalan terhadap apa yang didengar dan
mampu menyampaikannya kapan saja dikehendaki. Dari dua definisi di atas, kita mampu
memahami bahwa hakikat sifat dhabit bukan hanya sekedar kekuatan hafalan seorang
perawi, tetapi juga mensyaratkan kemampuan pemahaman hadits juga pengetahuan lainnya
terutama yang terikat periwayatan dengan makna. Hal ini dapat dilihat dengan :

a) Berdasarkan kesaksian ulama’


b) Berdasarkan kesesuaian riwayatnya dengan riwayat yang disampaikan oleh perawi lain
yang dikenal kedhabitannya menyangkut makna dan harfiahnya.

Terhindar dari syadz, para ulama’ juga berbeda-beda pendapat dalam memaknai kata
syadz dalam hadits. Dari banyak pendapat tersebut, yang banyak diikuti adalah pendapat
dari Imam Syafi’i. Menurutnya, suatu hadits dinyatakan mengandung syadz bila hadits yang
diriwayatkan oleh seorang perawi tsiqah bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh
banyak perawi yang juga bersifat tsiqoh. Faktor syadz sendiri dapat diketahui setelah
dilakukan metode muqaranah ( perbandingan ).

15
Terhindar dari ‘illat, yang dimaksud illat disini adalah cacat yang merusak kualitas
hadits sehingga hadits yang lahirnya tampak berkualitas shahih menjadi tidak shahih. “illat
disini bukan cacat yang dapat diketahui secara kasat mata atau yang umum disebut tha’n
dan jarh, seperti perawi yang pendusta. Melainkan cacat yang tersembunyi yang
membutuhkan kecermatan ulama’ kritikus hadits. Ada yang mungkin terkait dengan
kebersambungan sanad, sementara ada juga yang berkenaan dengan faktor kedhabitan
perawi. Adapun untuk cara untuk mengetahui ‘illat pada sanad, sama seperti upaya untuk
mengetahui kesyadz-an, yaitu dengan mengumpulkan semua hadits yang semakna dan
dilanjutkan dengan menempuh jalan yang sama.

2. Dari segi matan


Untuk menentukan keshahihan matan suatu hadits, para ulama’ telah melakukan
penelitian dan kritik secara seksama terhadap matan-matan hadits, sehingga dapat disusun
beberapa kriteria atau kaedah yang dapat dijadikan tolak ukur bagi sebuah matan yang
shahih. Tolak ukur yang merupakan pegangan ini pun beragam antara satu ulama’ dan
ulama’ yang lainnya. Menurut Al Khatib al- Baghdadi bahwa matan hadits yang maqbul
adalah matan yang memiliki indikator sebagai berikut :

a) Tidak bertentangan dengan akal yang sehat


b) Tidak bertentangan dengan hukum al Quran yang telah muhkam
c) Tidak bertentangan dengan hadits mutawwatir
d) Tidak bertentangan dengan amalan yang menjadi kesepakatan ulama’ masa lalu
e) Tidak bertentangan dengan dalil yang sudah pasti
f) Tidak bertentangan dengan hadits yang kualitas keshahihannya lebih kuat8

8
Umi Sumbullah, Kajian Kritis Hadits (UIN-MALIKI Press: Malang, 2010), h.189.

16
DAFTAR PUSTAKA
Munzeir Suparta. 2011. Ilmu Hadis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Syuhudi Ismail. M. 1988. Kaedah Keshahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan
dengan Pendekatan Ilmu Sejarah. Jakarta: Bulan Bintang.

Al Imam al Allamah al Hafidz Ibnu Nashiruddin ad Dimasyqi. Mutiara Ilmu Atsar (Kitab
Klasifikasi Hadits) terj. Khorul Amru dan Faisal Saleh. Jakarta: Akbar Media.

Zeid B. Smeer. 2008. Buku Ulumul Hadis. Malang: UIN-Malang Press.

Umi Sumbullah. 2010. Kajian Kritis Hadits. Malang: UIN-MALIKI Press.

17