Anda di halaman 1dari 15

RESUME KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. M DENGAN CHRONIC


KIDNEY DISEASE (CKD) DI RUANG HEMODIALISA
RSUD SUMEDANG
Disusun untuk memenuhi tugas Program Profesi Ners Stase KMB

Disusun Oleh :
Vilya Rizkianti Alita 220112170028

PROFESI NERS ANGKATAN XXXIV


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Gagal ginjal kronik atau Chronic Kidney Disease merupakan kondisi dimana
ginjal mengalami penurunan fungsi yang progresi, irrevesibel dan lambat, biasanya
berlangsung beberapa tahun akibat dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap
(Price, ). Penyakit ini terjadi setelah berbagai penyakit sebelumnya yang merusak
massa nefron ginjal. CKD menyebabkan kemampuan tubuh gagal dalam
mempertahankan metabolisme, cairan dan keseimbangan elektrolit sehingga terjadi
uremia atau azotemia (Smeltzer, 2009). Perjalanan umum CKD dapat dilihat dari
hubungan antara bersihan kreatinin dengan laju filtrasi glomerulus (GFR) sebagai
persentase dari keadaan normal terhadap kreatinin serum dan kadar nitrogen urea darah
(BUN) karena massa nefron mengalami kerusakan yang progresif (Price, ).

B. Klasifikasi
KDOQI (Kidney Disease Outcome Quality Initiative) mengklasifikasi CKD
berdasarkan derajat atau penurunan LFG (laju filtrasi glomerulus) yaitu :
- Derajat 1: Kerusakan ginjal dengan GFR normal atau meningkat (> 90
mL/min/1.73 m2)
- Derajat 2: penurunan ringan pada GFR (60-89 mL/min/1.73 m2)
- Derajat 3: penurunan moderat pada GFR (30-59 mL/min/1.73 m2)
- Derajat 4: penurunan berat pada GFR (15-29 mL/min/1.73 m2)
- Derajat 5: Gagal ginjal (GFR <15 mL/min/1.73 m2 atau dialisis)
Pada derajat 1 dan 2 penyakit ginjal kronis, selain GFR tanda lain dari kerusakan
ginjal adalah kelainan dalam komposisi darah atau urin. Pasien dengan penyakit ginjal
kronis derajat 1-3 umumnya asimtomatik, manifestasi klinis biasanya muncul dalam
tahap 4-5. Diagnosis dini, pengobatan dan penyebab atau institusi tindakan pencegahan
sekunder sangat penting pada pasien dengan penyakit ginjal kronis. Hal ini dapat
menunda, atau menghentikan kemungkinan atau kemajuan gagal ginjal. Untuk menilai
GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan
dengan rumus Cockcroft-Gault:
Nilai normal :
- Laki-laki : 97 – 137 mL/menit/1,73 m3 atau 0,93 – 1,32 mL/detik/m2
- Wanita : 88-128 mL/menit/1,73 m3 atau 0,85 – 1,23 mL/detik/m2

C. Etiologi
Etilogi CKD menurut Price and Wilson (2006) :
- Penyakit peradangan seperti glomerulonefritis
- Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis
maligna, stenosis arteria renalis
- Infeksi tubulointerstinal misalnya pielonefritis kronik dan refluks nefropati
- Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis
nodosa,sklerosis sistemik progresif
- Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,asidosis
tubulus ginjal
- Gangguan sistem imun seperti lupus eritematosus
- Penyakit metabolik misalnya DM, gout, hiperparatiroidisme, amiloidosis
- Batu pada saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis
- Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik, nefropati timbal
- Nefropati obstruktif, seperti :
1. Saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal.
2. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, anomali
kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.
D. Manifestasi Klinik
Sistem Tubuh Manifestasi
Biokimia - Asidosis Metabolik (HCO3 serum 18-
20 mEq/L)
- Azotemia (penurunan GFR,
peningkatan BUN, kreatinin)
- Hiperkalemia
- Retensi atau pembuangan Natrium
- Hipermagnesia
- Hiperurisemia
Perkemihan& Kelamin - Poliuria, menuju oliguri lalu anuria
- Nokturia, pembalikan irama diurnal
- Berat jenis kemih tetap sebesar 1,010
- Protein silinder
- Hilangnya libido, amenore, impotensi
dan sterilitas
Kardiovaskular - Hipertensi
- Retinopati dan enselopati hipertensif
- Beban sirkulasi berlebihan
- Edema
- Gagal jantung kongestif
- Perikarditis (friction rub)
- Disritmia
Pernafasan - Pernafasan Kusmaul, dispnea
- Edema paru
- Pneumonitis
Hematologik - Anemia menyebabkan kelelahan
- Hemolisis
- Kecenderungan perdarahan
- Menurunnya resistensi terhadap
infeksi (ISK, pneumonia,septikemia)
Saluran cerna - Anoreksia, mual muntah
menyebabkan penurunan BB
- Nafas berbau amoniak
- Rasa kecap logam, mulut kering
- Stomatitis, parotitid
- Gastritis, enteritis
- Perdarahan saluran cerna
- Diare
E. Patofisiologi

F. Komplikasi
- Hiperkalemia akibat penurunana ekskresi, asidosis metabolic, katabolisme dan
masukan diet berlebih.
- Perikarditis, efusi pericardial, dan tamponade jantung akibat retensi produk sampah
uremik dan dialysis yang tidak adekuat.
- Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi system rennin-
angiotensin-aldosteron.
- Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah merah,
perdarahan gastrointestinal akibat iritasi toksin dna kehilangan drah selama
hemodialisa.
- Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatik akibat retensi fosfat, kadar kalsium
serum yang rendah dan metabolisme vitamin D abnormal.
- Dislipidemia karena Kolesterol dapat mengganggu kerja ginjal. Biasanya, pasien
dengan gagal ginjal kronik bisa mengalami kolesterol tinggi.
- Difungsi seksual karena agi seorang pria, terutama kaum muda, dapat merasakan
kelelahan ketika berhubungan intim

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan lab.darah
- Hematologi : Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit
- RFT ( renal fungsi test )
- ureum dan kreatinin
- LFT (liver fungsi test )
- Elektrolit
2. Urine
- Urine rutin
- Urin khusus : benda keton, analisa kristal batu
3. Pemeriksaan kardiovaskuler
- ECG
- ECO
4. Radiologi
- USG abdominal
- CT scan abdominal
- Renogram
- RPG ( retio pielografi )

H. Penatalaksanaan
Pentalaksanaan konservatif :
- Berfungsi untuk memelihara fungsi renal dengan cara mengontrol tekanan darah
(diet dan kontrol BB), mengurangi intake protein.
- Mengurangi maniestasi ektra renal seperti pruritus, neurologi, perubahan
hematologi.
Terapi konservatif dihentikan jika pasien sudah memerlukan dialisis
tetap atau transplantasi pada tahap ini biasanya GFR 5-10ml/menit, dialisi juga
diperlukan jika terjadi asidosis metabolik yang tidak dapat diatasi dengan obat,
hiperkalemi yang tidak dapat diatasi dengan obat, edema paru, penurunan
kesadaran dan efusi perikardial.
- Terapi obat-obatan (diuretik) : untuk meningkatkan urinasi; alumunium
hidroksida untuk terapi hiperfosfatemia; anti hipertensi untuk terapi hipertensi
serta diberi obat yang dapat menstimulasi produksi RBC seperti epoetin alfa bila
terjadi anemia.

I. Pengkajian
1. Identitas Klien
- Nama : Tn. M
- Usia : 71 tahun
- Alamat : Cimalaka, kelurahan Cililin RT/RW 03/01 Sumedang
- Pendidikan terakhir : SMA
- Pekerjaan : Pensiunan
- Gol. Darah :O
- Jadwal HD : Seminggu 2x hari Selasa dan Jumat
- No. RM : 330711
2. Identitas Penanggung Jawab
- Nama : Ny. M
- Usia : 65 tahun
- Pekerjaan : Ibu rumah tangga
- Hubungan : Istri
3. Diagnosa Medis : CKD
4. Keluhan Utama
Klien merasa gatal pada kulitnya
5. Riwayat Penyakit
- Riwayat kesehatan sekarang : Pasien sudah menjalani HD yang ke 536 kali
karena sudah 6 tahun melakukan cuci darah rutin, yang dirasakan saat HD kadang
merasa gatal,pegal dan pusing. Tidak ada sesak, TD normal namun kadang-
kadang tinggi.
- Riwayat kesehatan dahulu : Klien menderita penyakit hipertensi
- Riwayat kesehatan keluarga : Keluarga klien ada yang menderita penyakit
yang diturunkan yaitu hipertensi dan ada pula yang mengalami DM dan menjalani
hemodialisa.
6. Riwayat psikososial dan spiritual
- Data psikososial : Klien mengatakan sudah ikhlas untuk rutin menjalani cuci
darah karena penyakit CKD yang dideritanya
- Data sosial : Klien sudah 6 tahun melakukan cuci darah dan selalu ditemani
oleh istrinya. Keluarga klien mendukung terhadap terapi yang dijalani. Pada awal-
awal harus menjalani HD pasien merasa tidak nyaman dan aktfitas sosialnya
terganggu, namun saat ini sudah terbiasa dan dapat beraktifitas seperti biasanya
- Data spiritual : Klien mengatakan beribadah salat 5 waktu dan melakukan
ibadah-ibadah sunat.
7. Riwayat ADL
Aktifitas Fisik Sebelum Sakit Setelah Sakit
Nutrisi 2-3x/ hari, menu nasi 3x/ hari, 1 porsi habis,
dengan lauk pauk namun awal sakit hanya
makan ½ porsi menu nasi
Makan
dengan lauk pauk.
Pantanga : makanan yang
terlalu asin
7 gelas/hari, air putih Hampir 2 botol 1,5 liter air
Minum
putih
Eliminasi 4-6x/hari, kuning 2-3x/hari, kuning pekat
BAK
jernih
1x/hari, lembek kuning 4x seminggu BAB, tidak
BAB terlalu lembek berwarna
kuning kecoklatan
Tidur siang jarang, Pola tidur sama, tidak ada
Istirahat dan Tidur malam tidur ±8 jam masalah
setiap hari
Klien mandi dan gosok Pola kebersihan diri sama,
Kebersihan Diri gigi 2x/hr tidak ada masalah
Keramas 1x/2-3 hr

8. Pemeriksaan fisik
- Kesadaran : Compos mentis
- TTV :
TD pre HD: 140/92 HR : 84x/menit RR : 20x/menit T: 370 C
TD intra HD: 150/90 HR : 80x/menit RR : 18x/menit T: 37,30C
TD post HD : 140/90 HR : 80x/menit RR : 20x/menit T: 37,50C
- Antropometri :
BB sekarang : 71 kg
BB kering : 68 kg
- Konjungtiva : Tidak anemis
- Ekstremitas : Edema
- Akses vaskular : av-fisula
- Acites (+)
9. Terapi
- Amiodipine :
Amlodipine adalah obat anti hipertensi. Amlodipine bisa dikonsumsi secara
tersendiri atau dikombinasikan dengan obat lain. Amlodipine bekerja dengan cara
melemaskan dinding dan melebarkan diameter pembuluh darah. Efeknya akan
memperlancar aliran darah menuju jantung dan mengurangi tekanan darah dalam
pembuluh. Sebagai obat penghambat saluran kalsium (calcium channel
blocker) yang masuk ke sel otot halus di dinding pembuluh darah jantung dan
melebarkan pembuluh darah dan melancarkan peredaran darah. Kalsium akan
membuat otot dinding pembuluh darah berkontraksi. Dengan adanya
penghambatan kalsium yang masuk, dinding pembuluh darah akan menjadi lebih
lemas. Dengan menurunkan tekanan darah, obat ini membantu mencegah serangan
penyakit ginjal.
- Furosemid :
Obat golongan diuretik yang digunakan untuk membuang cairan atau garam
berlebih di dalam tubuh melalui urine dan meredakan pembengkakan yang
disebabkan oleh penyakit ginjal dan penderita tekanan darah tinggi
(hipertensi) saat obat diuretik lainnya tidak bisa mengatasi kondisi tersebut.
Furosemid bekerja pada glomerulus dengan menghambat penyerapan kembali
natrium oleh tubulus ginjal, furosemid akan mengingkatkan pengeluaran air,
natrium, klorida dan kalsium tanpa mempengaruhi TD.

J. Analisa Data
Data Etiologi Masalah
DO : acites (+) Penurunan fungsi ginjal Kelebihan volume cairan
BB sekarang : 71 kg
Disfungsi glomerulus
BB kering : 68 kg
GFR menurun
Edema pada ekstremitas
bawah Sekresi renin
Mengkonsumi furosemid
Angiotensin I menjadi
angiotensin II
DS : Klien mengatakan
Korteks adrenal
kakinya bengkak
Sekresi aldosteron

Retensi air dan natrium

Peningkatan tek.
hidrostatik

Edema, Acites

Kelebihan volume cairan


DO : Peningkatan BB Aktivasi renin Ketidakpatuhan terhadap
angiotensin
sebanyak 3kg dari BB diet
kering Angiotensinogen

Angiotensin I
DS : Klien mengatakan
Angiotensi II
tidak ada pantangan
makanan, masih sering Aldosteron
makan gorengan dan
Meningkatkan reabsorpsi
kadang mengkonsumsi H2O
minuman bersoda dan
Merngsang hipofisis u/
tidak membatasi minum, menimbulkan rasa haus
klien minum 2 botol 1,5
Klien tidak membatasi
liter per/hari
minum

Kurangnya pengetahuan

Ketidakpatuhan

K. Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal
2. Ketidakpatuhan terhadap diet berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
pasien dan keluarga

L. Intervensi Keperawatan
Dx. Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
1. Kelebihan Tujuan: 1. Monitor tanda- 1. Tanda vital merupakan
volume Mempertahankan tanda vital acuan untuk mengetahui
cairan berat tubuh ideal 2. Monitor cairan kondisi pasien
berhubungan tanpa kelebihan dengan menimbang 2. Pembatasan cairan akan
dengan cairan BB perhari, menentukan BB ideal,
penurunan keseimbangan keluaran urin, dan respon
fungsi ginjal Kriteria hasil: masukan dan terhadap
- Tidak ada edema haluaran, turgor 3. Asupan yang bebas dapat
- Keseimbangan kulit menyebabkan beban
antara intake dan 3. Pantau tanda sirkulasi menjadi
output kelebihan cairan berlebihan, dan edema.
- Turgor kulit baik seperti edema 4. Pengaturan cairan,
- Mukosa lembab dependen dan seperti cairan yang
- Berat badan dan kenaikan berat diminum penderita gagal
tanda vital stabil badan ginjal tahap lanjut harus
- Elektrolit dalam 4. Manajemen cairan diawasi dengan seksama.
batas normal dan elektrolit Parameter yang tepat
5. Jelaskan pada untuk diikuti selain data
pasien dan keluarga asupan
tentang pembatasan danpengeluaran cairan
cairan yang dicatat dengan tepat
6. Anjurkan pasien adalah pengukuran berat
/ajari pasien untuk badan harian.
mencatat 5. Pemahaman
penggunaan cairan meningkatkan kerjasama
terutama pasien
pemasukan dan 6. Untuk mengetahui
keluaran keseimbangan input dan
7. Kolaborasi terapi output. Asupan yang
hemodialisa bebas dapat
menyebabkan beban
sirkulasi menjadi
berlebihan, dan edema.
Sedangkan asupan yang
terlalu rendah,
mengakibatkan
dehidrasi, hipotensi dan
gangguan fungsi ginjal.
7. Dialisis dapat digunakan
untuk mempertahankan
penderita dalam keadaan
klinis yang optimal.
Kadar kreatinin serum
biasanya diatas 6 mg/ 100
ml pada laki-laki atau 4
ml/ 100 ml pada wanita,
dan GFR kurang dari 4
ml/ menit.
2. Tujuan: 1. Memberikan 1. Informasi mengenai
Ketidakpatuhan - Setelah dilakukan pendidikan Pembatasan protein
terhadap diet tindakan kesehatan berungi untuk membatasi
berhubungan keperawatan klien mengenai produk akhir
dengan menunjukan makanan dan metabolisme protein
kurangnya kepatuhan dengan minuman yang yang tidak dapat di
pengetahuan pengendalian harus dibatasi ekskresi oleh ginjal.
pasien dan gejala dan perilaku 2. Memberikan Menurunkan kadar
keluarga penanganan sakit motivasi untuk ureum dan kreatinin
- Melaporkan mentaati diet dalam
strategi untuk 3. Menjelaskan darah,mencegah/mengur
menghilangkan dampak buruk dari angi penimbunan
perilaku tidak pola makan pasien garam/air dalam tubuh.
sehat Diet rendah natrium. Diet
- Menjelaskan Na yang dianjurkan
alasan adalah 40-90 mEq/hari
penyimpangan dan (1-2 g Na). Asupan
rutinitas yang natrium yang terlalu
direkomendasikan longgar dapat
- Patuh pada mengakibatkan retensi
pengobatan dan cairan, edema perifer,
program edema paru, hipertensi
penanganan dan gagal jantung
kongestif.
2. Dukungan orang sekitar
sangat berperan penting
dalam kepatuhan pasien
untuk menerapkan diet
3. Dengan mengetahui
dampak yang
ditimbulkan, diharapkan
klien mematuhi diet
sesuai dengan aturan
M. Implementasi
Tanggal Diagnosa Implementasi
11/11/2017 Kelebihan volume cairan 1. Kolaborasi terapi
berhubungan dengan hemodialisa
penurunan fungsi ginjal 2. Observasi TTV pre HD, intra
HD (setiap 1 jam) dan post
HD
11/11/2017 Ketidakpatuhan terhadap diet 1. Memberikan pendidikan
berhubungan dengan kesehatan mengenai diet atau
kurangnya pengetahuan pasien pembatasan protein dan
dan keluarga natrium
2. Memberikan motivasi kepada
klien untuk mematuhi diet
3. Menjelaskan dampak buruk
dari pola makan pasien

N. Evaluasi
No Dx Kep. Tanggal/ Jam SOAP Paraf
1 11/11/2017 S : Klien mengatakan kakinya bengkak dan merasa
gatal karena proses HD
O: Klien tampak tenang saat dilakukan HD dan
pemeriksaan ttv pre, intra dan post HD
A: Masalah teratasi sebagian
P: Klien pulang jam 16.00. Lanjutkan intervensi
2 11/11/2017 S : Klien mengatakan tidak ada pantangan makan
karena sudah hampir 6 tahun menjalani cuci
darah
O: Klien kooperati, berusaha memahami
pentingnya diet
A: Masalah teratasi sebagian
P: Klien pulang jam 16.00. Intervensi dilanjutkan
DAFTAR PUSTAKA

Jee, K.G, Yoshitsugu, O. 2017. Dietary protein intake and chronic kidney disease. Journal
Critical Nutrition and Metabolic Care. Volume 20-Issue 1.
Kowalak, Welsh, Mayer. 2012. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC.

Ningsih, S.E, Rachmadi, A, Hammad. 2017. The Compliance Chronis Renal Failure Patient on
Restrictions Liquids in Hemodialysis Therapy. Jurnal Ners Vol 7 No.1.

Price, S. A dan Wilson, L. M (2006). Patofisiologi : Konsep klinis proses – proses penyakit.
Ed. 6 Volume 1. Jakarta : EGC.

Smeltzer, C.S. dan Bare, G.B (2009). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Sudarth. Jakarta : EGC.

Sumardilan, Sri. 2012. Faktor kepatuhan diet pasien gagal ginjal kronik yang mengakami
hemodialisa. Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang.

Nanda. (2015). Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10 editor T
Heeather Herdman, Shigemi Kamitsuru, Jakarta : EGC