Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FISIKA UMUM
PESAWAT ATWOOD

Tanggal Pengumpulan : 11 Oktober 2017


Tanggal Praktikum : 06 Oktober 2017
Waktu Praktikum : 16.30 – 17.00 WIB

Nama : Mery Anjani


NIM : 11170161000045
Nama Anggota :
1. Vena Utianes (11170161000058)

Kelompok/Kloter : 6 (Enam)/II(Dua)
Kelas : Pendidikan Biologi 1B

LABORATORIUM FISIKA DASAR


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017
A. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui Pesawat Atwood
2. Menentukan Percepatan gerak sebuah sistem
3. Menentukan Kecepatan gerak sebuah sistem
4. Mengetahui Hukum Newton I dan II

B. Dasar Teori
Dunia dan segala sesuatu yang ada didalamnya bergerak. Bahkan,
benda-benda yang terlihat diam seperti jalan raya ternyata bergerak bersama
rotasi bumi. Gerak hanya berlangsung di sepanjang garis lurus. Garis tersebut
dapat vertikal, horizontal, atau miring, namun garis tersebut haruslah lurus.
Klasifikasi dan perbandingan berbagai gerak dinamakan Dinamika (Halliday,
2010: 47).
Sebuah benda yang bergerak dapat diamati dari berbagai kerangka
acuan. Hukum Newton I tentang gerak atau yang biasa disebut hukum inersia,
mendefinisikan suatu kerangka acuan khusus yang disebut kerangka inersia.
Hukum I Newton tersebut berbunyi : "Jika sebuah benda tidak berinteraksi
dengan benda lainnya, maka kita dapat mengidentifikasi suatu kerangka acuan
di mana benda itu memiliki percepatan nol" (Serway, 2009: 172).
Hukum pertama Newton tersebut menyatakan bahwa jika tidak ada
percepatan yang bekerja pada sebuah benda yang tidak berinteraksi dengan
benda lainnya (diam), maka tidak ada gaya neto pada benda tersebut. Namun
bagaimana jika gaya neto memang dikerahkan pada sebuah benda? Newton
mempersepsikan bahwa kecepatan benda akan berubah. Hal tersebut terdapat
dalam Hukum Newton II yang berbunyi : "Percepatan sebuah benda
berbanding lurus dengan gaya neto yang bekerja padanya, dan berbanding
terbalik dengan massanya. Arah percepatan adalah searah gaya neto yang
bekerja pada benda". Hukum kedua Newton tersebut dapat dituliskan dalam
bentuk persamaan :

∑ 𝐹 = 𝑚. 𝑎

Dari hukum kedua Newton, dapat disimpulkan bahwa gaya sebagai suatu
tindakan yang mampu mempercepat sebuah benda (Giancoli, 2014: 96-97).
Berdasarkan Hukum Newton I dan II, dapat diketahui bahwa gerak
suatu benda erat hubungannya dengan kecepatan dan percepatan. Kecepatan
menyatakan perpindahan sebuah benda yang bergerak dalam selang waktu
tertentu. Kecepatan termasuk besaran vektor, sehingga tergantung dengan
arahnya. Simbol untuk kecepatan biasanya v dengan satuan m/s. Sedangkan
Percepatan adalah gerak benda yang kecepatannya berubah tiap satuan waktu.
Percepatan juga termasuk besaran vektor, sehingga tergantung dengan arahnya.
Simbol untuk percepatan adalah a dengan satuan m/s2.
Kita dapat menerapkan kecepatan dan percepatan sebuah sistem dengan
menggunakan percobaan Pesawat Atwood. Pesawat Atwood adalah alat yang
digunakan untuk menjelaskan hubungan antara tegangan, energi pontensial dan
energi kinetik dengan menggunakan 2 pemberat (massa berbeda) dihubungkan
dengan tali pada sebuah katrol. Benda yang yang lebih berat diletakkan lebih
tinggi posisinya dibanding yang lebih ringan. Jadi benda yang berat akan turun
karena gravitasi dan menarik benda yang lebih ringan karena ada tali dan
katrol.
Pesawat Atwood ditemukan pada tahun 1784 oleh Rev. George Atwood
sebagai percobaan laboratorium untuk mempertegas hukum mekanika gerak
dengan pecepatan atau akselerasi tetap (konstan). Pesawat Atwood biasanya
digunakan untuk mendemonstrasikan atau mengilustrasikan prinsip-prinsip
fisika, khususnya mekanika (Sumber : http://eprints.walisongo.ac.id).

C. Alat dan Bahan


No. Alat dan Bahan Jumlah Gambar

1. Pilar berskala 1
2. Katrol presisi 1

Tali untuk
3. menghubungkan 1
kedua silinder

Beban pipih
4. 1
bercelah

Pemegang beban
5. 1
berlubang

Pemegang beban
6. 1
tanpa lubang

7. Pelepas beban 1

8. Stopwatch 1
9. Silinder m1 1

10. Silinder m2 1

D. Langkah Percobaan
No. Langkah Percobaan Gambar

Silinder m1 dijepit pada pelepas


beban yang terdapat di Pesawat
1. Atwood, sedangkan silinder m2
dibiarkan tergan
tung bebas tepat pada titik A.

Pasang beban pipih bercelah


2.
diatas silinder m2.

Pasang pemegang beban


3.
berlubang pada titik B.

Pasang pemegang beban tanpa


4.
lubang pada titik C.
Untuk pengukuran Percepatan,
hidupkan stopwatch bersaman
5.
pada saat pelepas bebas silinder
m1 dibuka.

Matikan Stopwatch tepat pada


saat beban pipih bercelah
tersangkut di pemegang beban
6. berlubang (titik B). Lakukan
percobaan untuk jarak AB
sebagai berikut : 40 cm, 45 cm,
50 cm, 55 cm, dan 60 cm.

Untuk pengukuran Kecepatan,


hidupkan stopwatch pada saat
7. beban pipih bercelah tepat
tersangkut di pemegang beban
berlubang (titik B).
Matikan Stopwatch tepat pada
saat silinder m2 mencapai
pemegang beban tanpa lubang
8. (titik C). Lakukan percobaan
untuk jarak BC sebagai berikut :
30 cm, 25 cm, 30 cm, 35 cm, dan
40 cm.

E. Data Percobaan
1) Percobaan I : Pengukuran Percepatan Sistem
Pengulangan y(m) t(s) a(m/s2)
1 40×10-2 2,86 9,781×10-2
2 45×10-2 4,55 4,347×10-2
3 50×10-2 4,09 5, 978×10-2
4 55×10-2 3,37 9,686×10-2
5 60×10-2 4,35 6,341×10-2
Rerata 50 ×10-2 3,842 7,226×10-2

2) Percobaan II : Pengukuran Kecepatan Sistem


Pengulangan y(m) t(s) v(m/s)
1 20×10-2 0,64 312× 10−1
2 25×10-2 0,88 284× 10−1
3 30×10-2 0,99 303× 10−1
4 35×10-2 1,63 214× 10−1
5 40×10-2 2,21 180× 10−1
Rerata 30×10-2 1,27 259 × 10−1

F. Pengolahan Data
1) Percobaan I : Pengukuran Percepatan Sistem
2𝑠 2(40×10−2 ) 8×10−1
a. a = 𝑡 2 = = = 9,781 × 10−2 m/s2
(2,86)2 8,179

2𝑠 2(45×10−2 ) 9×10−1
b. a = 𝑡 2 = = = 4,347 × 10−2 m/s2
(4,55)2 20,70

2𝑠 2(50×10−2 ) 10×10−1
c. a = 𝑡 2 = = = 5,978 × 10−2 m/s2
(4,09)2 16,728

2𝑠 2(55×10−2 ) 11×10−1
d. a = 𝑡 2 = = = 9,686 × 10−2 m/s2
(3,37)2 11,356

2𝑠 2(60×10−2 ) 12×10−1
e. a = 𝑡 2 = = = 6,341 × 10−2 m/s2
(4,35)2 18,922

2) Percobaan II : Pengukuran Kecepatan Sistem


𝑠 20 ×10−2
a. v = = = 0,312 m/s
𝑡 64×10−2
𝑠 25 ×10−2
b. v = 𝑡 = = 0,284 m/s
88×10−2
𝑠 30 ×10−2
c. v = 𝑡 = = 0,303 m/s
99×10−2
𝑠 35 ×10−2
d. v = 𝑡 = = 0,214 m/s
163×10−2
𝑠 40 ×10−2
e. v = 𝑡 = = 0,180 m/s
221×10−2

G. Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum Pesawat Atwood yang telah kami
lakukan, dapat diketahui bahwa waktu yang diperlukan dan jarak yang
ditempuh mempengaruhi kecepatan dan percepatan suatu sistem. Melalui
praktikum ini juga kita telah menerapkan prinsip-prinsip hukum Newton I
dan II, gerak lurus beraturan, gerak lurus berubah beraturan, dan momen
inersia.
Ketika sebuah benda melakukan gerak lurus beraturan, kecepatan
benda sama dengan kecepatan rata-rata. Dalam Gerak Lurus Beraturan
(GLB) kecepatan benda selalu konstan. Kecepatan konstan berarti besar
kecepatan (besar kecepatan = kelajuan) dan arah kecepatan selalu konstan.
Besar kecepatan atau kelajuan benda konstan atau selalu sama setiap saat
karenanya besar kecepatan atau kelajuan pasti sama dengan besar kecepatan
rata-rata. Pada praktikum Peasawat Atwood, gerak lurus beraturan
diterpakan pada percobaan kedua.
Pada percobaan pertama praktikum Pesawat Atwood ini, diterapkan
sistem Gerak Lurus Berubah Beraturan. Gerak Lurus Berubah Beraturan
(GLBB) yaitu gerak lurus pada arah mendatar dengan kecepatan yang
berubah setiap saat karena adanya percepatan yang tetap. Dengan kata lain
benda yang melakukan gerak dari keadaan diam atau mulai dengan
kecepatan awal akan berubah kecepatannya karena ada percepatan (a = +)
atau perlambatan (a = −).
Berdasarkan tabel percobaan I pada pengulangan pertama yaitu
jarak 40×10-2 meter dengan waktu 2,86 sekon dihasilkan percepatan
sebesar 9,781×10-2 m/s2. Pada tabel percobaan pengulangan petama dengan
jarak 20×10-2 meter dengan waktu 0,64 sekon dihasilkan kecepatan sebesar
312× 10−1 m/s. Pada grafik percobaan I dan II, grafik yang dihasilkan
tidaklah konstan. Hal ini dikarenakan adanya kesalahan pada pengukuran
waktu yang tidak tepat, dimana seharusnya grafik yang dihasilkan adalah
konstan.
Kesalahan hasil perhitungan percobaan dapat dipengaruhi oleh
banyak faktor. Misalnya pada waktu percobaan tersebut adanya kurang
ketelitian dalam menempatkan letak dari masing-masing benda, ada pula
kesalahan yang disebabkan oleh kurang telitinya dalam menghitung waktu
tempuh dari masing-masing benda dalam melakukan pergerakan.

H. Tugas Pasca Praktikum


1. Dari percobaan I, buatlah grafik hubungan antara jarak AB terhadap
waktu menggunakan Ms.Excel, kemudian hitung harga percepatan katrol
dari grafik tersebut dan beri penjelasan!

Percobaan I
5
4,5 4,55
4,35
4 4,09

3,5
3,37
3
2,86
2,5 t(s)

2 y(m)
1,5
1
0,5 0,5 0,55 0,6
0,4 0,45
0
1 2 3 4 5
Harga Percepatan :
∑ 2𝑠 50 × 10−2
∑𝑎 = = = 7,226 × 10−2
∑𝑡 2 3,842
Dimana,
∑ 2𝑠: rerata dua kali jarak
∑𝑡 2 : rerata kuadrat waktu

2. Dari percoban II, buatlah grafik hubungan antara jarak B terhadap waktu,
kemudian hitung harga kecepatan katrol dari grafik tersebut dan beri
penjelasan!

Percobaan II
2,5

2,21
2

1,63
1,5
t(s)
1 0,99 y(m)
0,88
0,64
0,5
0,35 0,4
0,25 0,3
0,2
0
1 2 3 4 5

∑ 𝑠 30 × 10−2
∑𝑣 = = = 259 × 10−1
∑𝑡 1,27

Dimana,
∑ 2𝑠: rerata jarak
∑𝑡 2 : rerata waktu

3. Jelaskan sistem kerja lift yang sudah kita ketahui bahwa lift merupakan
aplikasi dari mesin atwood!
Jawab : Lift pada dasarnya adalah sebuah rakitan sistem katrol sederhana
yang menerapkan prinsip kerja hukum mekanika newton secara
sederhana. Sistem katrol dalam lift diatur sedemikan rupa sehingga dapat
digerakkan untuk mengangkut beban berat dengan tenaga yang cukup
kecil. Lift merupakan aplikasi dari mesin Atwood. Pada sistem geared
atau gearless (yang masing-masing digunakan pada instalasi gedung
dengan ketinggian menengah dan tinggi), kereta lift/elevator tergantung
di ruang luncur oleh beberapa steel hoist ropes, biasanya dua puli katrol,
dan sebuah bobot pengimbang (counterweight). Bobot kereta dan
counterweight menghasilkan traksi yang memadai antara puli katrol dan
hoist ropes sehingga puli katrol dapat menggegam hoist ropes dan
bergerak serta menahan kereta tanpa selip berlebihan. Kereta dan
counterweight bergerak sepanjang rel yang vertikal agar mereka tidak
berayun-ayun (Sumber : budi.blog.undip.ac.id).

4. Mengapa percobaan pertama untuk mengukur percepatan sistem dan


percobaan kedua untuk mengukur kecepatan sistem? Jelaskan!
Jawab : Karena pada percobaan pertama menggunakan prinsip Gerak
Lurus Berubah Beraturan dengan menghitung waktu pada jarak yang
telah ditentukan dan variasi beban. Percobaan pertama ini dimanfaatkan
untuk menentukan nilai gravitasi dengan mengabaikan berat tali dan
gesekan dari katrol. Sedangkan percobaan kedua menggunakan prinsip
Gerak Lurus Beraturan dengan menghitung waktu pada massa yang telah
ditentukan dan variasi jarak. Percobaan kedua ini dimanfaatkan untuk
menentukan nilai gaya gesek pada pesawat atwood.

I. Kesimpulan
1. Pesawat Atwood adalah alat yang digunakan dalam laboratorium untuk
mengukur percepatan dan kecepatan jatuh bebas. Dirangkai dengan dua
beban yang massanya tidak sama digantungkan secara vertikal pada
sebuah katrol tanpa gesekan yang massanya dapat diabaikan.
2. Percepatan adalah gerak benda yang kecepatannya berubah tiap satuan
waktu. Percepatan termasuk besaran vektor, sehingga tergantung dengan
arahnya. Simbol untuk percepatan adalah a dengan satuan m/s2. Cara
menentukan percepatan gerak sebuah sistem dapat menggunakan rumus
∆𝑣 2𝑠
𝑎= atau dapat juga 𝑎 = , dimana v merupakan kecepatan dan t
∆𝑡 𝑡2

adalah selang waktu yang dibutuhkan.


3. Kecepatan menyatakan perpindahan sebuah benda yang bergerak dalam
selang waktu tertentu. Kecepatan termasuk besaran vektor, sehingga
tergantung dengan arahnya. Simbol untuk kecepatan biasanya v dengan
satuan m/s. Cara menentukan kecepatan gerak sebuah sistem dapat
∆𝑠
menggunakan rumus 𝑣 = ∆𝑠, dimana s merupakan jarak yang ditempuh

dan t merupakan selang waktu yang dibutuhkan.


4. Bunyi hukum Newton I yaitu : "Jika sebuah benda tidak berinteraksi
dengan benda lainnya, maka kita dapat mengidentifikasi suatu kerangka
acuan di mana benda itu memiliki percepatan nol" sedangkan, bunyi
hukum Newton II yaitu : "Percepatan sebuah benda berbanding lurus
dengan gaya neto yang bekerja padanya, dan berbanding terbalik dengan
massanya. Arah percepatan adalah searah gaya neto yang bekerja pada
benda".

J. Kritik dan Saran


1. Pada saat melakukan praktikum ini, praktikan diupayakan untuk lebih
teliti dalam memposisikan titik B dan C pada pilar berskala agar tidak
terjadi kesalahan paralaks.
2. Praktikan diharapkan cermat dalam pengukuran waktu menggunakan
stopwatch sehingga pengukuran yang didapat lebih tepat.
DAFTAR PUSTAKA

Serway, A. Raymond dan John W. Jewett, Jr. 2014. Fisika untuk Sains dan
Teknik. Jakarta : Salemba Teknika
Halliday, Resnick, Walker. 1984. Dasar-dasar Fisika (terjemahan). Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga
Tipler, Paul A. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga
Anonim. http://eprints.walisongo.ac.id/4165/3/093611003_bab2.pdf
diakses pada tanggal 11 Oktober 2017 Pukul 03.19
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai