Anda di halaman 1dari 16

BAB IX BEBAN, BELANJA, PERSEDIAAN DAN ASET

LAINNYA
9.1 Definisi Beban dan Belanja

Beban adalah aliran keluar atau pemakaian aset atau timbulnya utang atau
kombinasi keduanya dalam satu periode yang berasal dari pembuatan atau
penyerahan barang/jasa atau kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama sebuah
perusahaan. Beban adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam
periode pelaporan yang menurunkan ekuitas yang dapat berupa pengeluaran atau
konsumsi aset atau timbulnya kewajiban. Kata-kata kunci konsep beban adalah :

a. Kewajiban pemerintah
b. Pengurang ekuitas
c. Tahun anggaran yang berrsangkutan
d. Tidak diperoleh kembali pembayarannya
e. Dicatat dengan basis akrual
f. Disajikan dalam laporann operasional

Istilah belanja sudah lazim dikenal dalam akuntansi pemerintah. Definisi


belanja dalam PSAP 01, paragraf 8 adalah semua pengeluaran yang dilakukan
oleh bendaharawan umum pemerintah yang mengurangi saldo anggaran lebih
dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh pemerintah. Istilah semua pengeluaran mengacu
kepada semua kas yang dikeluarkan tanpa membedakan apakah pengeluaran
tersebut bertujuan untuk memperoleh pendapatan, pengeluaran modal ataukah
untuk pembayaran utang (Siregar, 162 : 2015), belanja adalah istilah untuk
pengeluaran yang digunakan untuk penyusunan laporan realisasi anggaran. Kata-
kata kunci konsep belanja adalah :

a. Pengeluaran kas
b. Mengurangi saldo angggaran lebih
c. Tahun anggaran yang bersangkutan
d. Tidak diterima kembali pembayarannya
e. Dicatat dengan basis kas
f. Disajikan dalam laporan realisasi anggaran
Secara umum, perbedaan bebann dan belanja adalah :

Tabel 9.1 Perbedaan Beban dan Belanja

No. Beban Belanja


a. Diukur dan diakui menggunakan Diukur dan diakui menggunakan
basis akrual baiss kas
b. Merupakan umur pembentuk Merupakan unsur pembentuk
laporann operasional laporan realisasi annggaran
c. Menggunakan kode akun 9 Menggunakan kode akun 5

9.2 Klasifikasi Beban dan Belanja

Beban Belanja
Beban Operasi Belanja operasi
Beban pegawai Belanja pegawai
Beban barang dan jasa Belanja bunga
Beban bunga Belanja subsidi
Beban subsidi Belanja hibah
Beban hibah Belanja bantuan sosial
Beban bantuan sosial Belanja modal
Beban penyusutan dan amortisasi Belanja modal tanah
Beban penyisihan piutang Belanja modal peralatan dan mesin
Beban lain-lain Belanja modal gedung dan bangunan
Beban transfer Belanda modal jalan, irigasi dan
jaringan
Beban transfer bagi haisl pajak daerah Belanja modal aset tetap lainnya
Beban transfer bagi haisl pendapatn Belanja tak terduga
lainnya
Beban transfer bantuan keuangan ke Belanja tak terduga
pemerintah daerah lainnya
Beban transfer bantuan keuangan ke
desa
Beban bantuan keuangan lainnya
Beban transfer dana otonomi khusus
Defisit non operasional
Deisit penjualan aset lancar
Defisit penyelesaian kewajiban jangka
panjang
Defisit dari kegiatan non operasional
lannya
Beban luar biasa
Beban luar biasa
9.3 Pengakuan Beban dan Belanja

Pengakuan merupakan penentuan terpenuhinya kriteria pencatatan suatu


transaksi. Atau dengan kata lain adalah kapan sebuah transaksi dijurnal. Ketika
suatu unsur diakui maka berarti unsur tersebut menjadi bagian yang melengkapi
unsur aset, kewajiban, ekuitas,pendapatan LRA, belanja, pembiayaan, pendapatan
LO dan beban.

Berikut ini dijelaskan saat pengakuan belanja :

1. Pengeluaran kas dari rekening umum, belanja diakui pada saat terjadi
pengeluaran kas untuk transaksi SKPD maupun PPKD dengan pengesahan
definitif oleh BUD.
2. Pengeluaran kas dari bendaharawan pengeluaran, belanja diakui pada saat
terjadipertanggungjawaban atas pengeluaran yang sudah diiverifikasi oleh
PPK SKPD dan disahkan oleh pengguna anggaran.

Sedangkan beban diakui pabila salah satu dari syarat-syarat berikut terpenuhi,
yaitu :

1. Timbul kewajiban. Saat timbulnya kewajiban adalah saat terjadinya


peralihan hak dari pihak lain ke pemerintah tanpa diikuti keluarnya kas
dari kas umum daerah.
2. Terjadi konsumsi aset. Terjadinya konsumsi aset adalah saat pengeluaran
kas kepada pihak lain yang tidak diidahului timbulnya kewajiban dan atau
konsumsi aset non kas dalam kegiatan operasional pemerintah.
3. Terjadi penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa. Penurunan
mannfaat ekonomi atau potensi jasa terjadi pada saat penurunan nilai aset
sehubungan dengan penggunaan aset bersangkutan atau dengan berlalunya
waktu.

Terdapat duapendekatan pengakuan beban dalam pengadaan barang dan jasa yaitu
:

1. Pendekatan beban
Pembelian atau pengadaan barang dan jasa dicatat sebagai beban jika
pembelian barang dan jasa tersebutdimaksudkan untuk digunakan
(dikonsumsi) sesegera mungkin atau diserahkan kepada masyarakat.
2. Pendekatan aset
Pembelian barang dan jasa dicatat sebagai persediaan jika pembelian
barang dan jasa tersebut dimaksudkan untuk digunakan dalam satu periode
anggaran atau untuk berjaga.
Contoh untuk kedua pendekatan diatas adalah persediaan ATK. Apabila
ATK dibeli dan ditujuan untuk digunakan dalam kegiatan/program SKPD
(misalnya pelatihan) maka diakui sebagai beban namun apabila ATK
dibeli dngan maksud untuk memenuhi kebutuhan kantor maka diakui
sebagai “persediaan”.

9.4 Pengukuran Beban dan Belanja


Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui
dan memasukkan setiap posdalam laporan keuangan. Pengukuran adalah
penentuan berapa besar nilai nominal yang akan dicatat dalam jurnal
umum. Beban diukur sebesar beban yang terjadi selama periode pelaporan.
Sedangkan belanja diukur berdasarkan jumlah pengluaran kas dari
rekening kas umum daerah atau rekening bendahara azas bruto.

9.5 Ilustrasi Jurnal Beban dan Belanja


9.5.1 Ilustrasi Jurnal Beban dan Belanja di SKPD
Belanja yang menjadi kewenangan SKPD dijurnal di SKPD
tersebut maupun PPKD. Sedangkan beban dijurnal di SKPD saja. Sesuai
dengan prinsip HOBO, transaksi setoran masuk dan keluar kas dari dan ke
PPKD dijurnal di SKPD dan PPKD. Apabila kas diterima dari PPKD,
maka transaksi tersebut dicatat di SKPD maupun PPKD. Begitu pula
ketika SKPD tertentu melakukan penyetoran kaske PPKD.
Jenis beban dan belanja yang berada dalam kewenangan SKPD
adalah :
a. Beban dan belanja pegawai
b. Beban dan belanja barang dan jasa
c. Beban belanja dan hibah
d. Beban belanja dan bantuan sosial
e. Beban dan belanja modal
f. Beban penyusutan dan amortisasi
g. Beban penyisihan piutang

SKPD memiliki fungsi akuntansi yang dilaksanakan oleh PPK-


SKPD . PPK-SKPD bertugas untuk membuat jurnal transaksi, melakukan
posting jurnal transaksi dan menyusun lapporan keuangan SKPD. Terdapat
dua kategori jurnal yang dibuat oleh SKPD yaitu :

a. Jurnal finansial, yaitu jurnal untuk mencatat beban dengan


menggunakan basis akrual.
b. Jurnal pelaksanaan anggaran, yaitu jurnal untuk mencatat belanja
dengan menggunakan basis kas.
A. Transaksi dan Jurnal Penerimaan, Penggunaan dan Pertanggungjawaban
Uang Persediaan
Pada awal periode bendahara pengeluaran SPKD menerima kas
sebagai uang persediaan dari BUD. Uang persediaan digunakan oleh
bendahara pengeluaran untuk pengeluran sehari-hari SKPD.
Contoh Transaksi :
2 Januari 2015, bendahara pengeluaran SKPD X menerima SP2D-UP pada
awal periode senilai Rp 5.000.000 , uang tersebut merupakan uang
persediaan yang ditujukan untuk membiayai kegiatan-kegiatan SKPD yang
bernilai nominal kecil.
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
2-1- Kas di Bendahara 5.000.000
2015 Pengeluaran
RK-PPKD 5.000.00

18 Januari 2015, tercatat uang persediaan Rp 1.300.000 digunakan untuk


perjalanan dinas, Rp 1.200.000 untuk pembayaran listrik, Rp 1.100.000
untuk pembelin alat tulis kantor dan Rp 1.000.000 untuk pembayaran
konsumsi rapat.
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
18-1- Beban perjalan dinas 1.300.000
2018 Beban jasa kantor 1.200.000
Beban bahan habis pakai 1.100.000
Beban makanan dan 1.000.000
minuman
Kas di bendahara 4.600.000
pengeluaran

Jurnal Pelaksanaan Anggaran


Tanggal Uraian Debit Kredit
18-1- Belanja perjalan dinas 1.300.000
2018 Belanja jasa kantor 1.200.000
Belanja bahan habis 1.100.000
pakai
Belanja makanan dan 1.000.000
minuman
Perubahan SAL 4.600.000

30 Januari 2015. Bendahara pengeluaran menerima SP2D-GU senilai Rp


4.600.000 atas SPP-GU yang telah diajukan untuk pengisian kembali uang
persediaan.
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
30-1- Kas di Bendahara 4.600.000
2015 Pengeluaran
RK-PPKD 4.600.000

Apabila pertanggungjawaban penggunaan dilakukan mendekati akhir


periode pelaporan dan tidak membutuhkan lagi penggantian uang
persediaan , maka bendahara penerimaan akan mengajukan SPP-GU Nihil
dan BUD mengeluarkan SP2D-GU Nihil kepada bendahara pengeluaran.
Tidak ada pencatatan atas penerimaan SP2D-GU Nihil tersebut karena
bendahara pengeluaran tidak menerima kas lagi dari BUD.
B. Transaksi dan Jurnal Belanja dan Beban yang didahului dengan Tagihan
Ketika bendahara menerima tagihan terebih dahulu sebelum
dilakukan pembayaran, maka pencatatan dilakukan untuk merekam beban
yang telah terjadi.
Contoh :
16 Maret 2015, bendahara pengeluaran SKPD X menerima tagihan listrik
dan sewa proyektor masing-masing Rp 650.000 dan Rp 250.000.
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
16-3- Beban jasa kantor 650.000
2015 Beban sewa 250.000
perlengkapan dan
peralatan kanto
Utang beban 900.000
barang dan jasa

Jurnal yang dibuat ketika bendahara pengeluaran melakukan pembayaran


untuk melunasi hutang tersebut :
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
Belanja jasa kantor 650.000
Belanja sewa 250.000
perlengkapan dan
peralatan kanto
Perubahan SAL 900.000

C. Transaksi dan Jurnal Beban dan Belanja Lainnya


Beban dan belanja operasi lainnya seperti gaji dan hibah yang
berbentuk tunai dibayarkan melalui mekanisme SP2D-LS. Melaui
mekanisme SP2D-LS, kas disetor oleh BUD ke rekening pihak yang
berhak , seperti rekening pegawai dan rekening pihak yang menerima
bantuan sosial tunai.
Contoh :
30 Maret 2015, Bendahara pengeluaran SKPD X menerima SP2D-LS untk
belanja gaji pegawai dengan rincian gaji pokok Rp 8.000.000, tunjangan
keluarga Rp 500.000 dan tunjangan jabatan Rp 400.000. BUD memotong
PPh Pasal 21 sebesar 5%.
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
30-3- Beban gaji dan tunjang 8.900.000
2015 RK-PPKD 8.900.000

Jurnal Pelaksanaan Anggaran


Tanggal Uraian Debit Kredit
30-3- Belanja gaji dan 8.900.000
2015 tunjangan
Perubahan SAL 8.900.000

D. Transaksi dan Jurnal Beban Penyusutan


Jurnal untuk mencatat beban penyusutan dilakukan pda akhir
periode. Beban penyusutan adalah beban yang bersifat akrual tanpa
pengeluaran kas , sehingga tidak ada istilah belanja penyusutan.
Contoh :
31 Desember 2015, SKPD X mencatat penyusutan pada akhir periode
masing-masing untuk komputer Rp 400.000, meja dan kursi kerja Rp
500.000, mobil dinas Rp 600.000 dan bangunan kantor Rp 1.000.000.
Tanggal Uraian Debit Kredit
31-12- Beban penyusutan 1.500.000
2015 peralatan dan mesin
Beban penyusutan 1.000.000
gedung dan bangunan
Akumulais 1.500.000
penyusutan
Peralatan dan
mesin
Akumulais 1.000.000
penyusutan
gedung dan
bangunan

E. Transaksi dan Jurnal Beban Penyisihan Piutang


Pemerintah perlu melakukan penilaian atas kolektibilitas piutabg
pada akhir periode. Sejumlah tertentu dari nilai piutang yang diragukan
kolektibilitasnya dicatat sebagai penyisihan piutang.
Contoh :
Pada tanggal 4 Januari 2015, SKPD X memiliki akun penyisihan piutang
pendapatan senilai Rp500.000. Pada akhir periode dinyatakan bahwa
penyisihan piutang sebesar Rp 600.000
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
4-1- Beban penyisihan piutang Rp 100.000
2015 pendapatan
Rp 100.000

9.5.2 Ilustrasi Jurnal Beban dan Belanja di PPKD


PPKD selaku satuan kerja memiliki fungsi akuntansi. Fungsi
akuntansi tersebut bertugas untuk menjurnal transaksi, memposting jurnal,
dan mnyusun laporan keuangan PPKD selaku entitas akuntansi dan
konsolidator . jenis beban dan belanja yang menjadi kewenangan PPKD
adalah beban dan belanja bunga , beban dan belanja subsidi, beban dan
belanja hibah, beban dan belanja bantuan sosial, beban transfer bagi hasil,
beban transfer bantuan keuangan dan beban tak terduga.
Contoh :
1 Maret 2015, PPKD menerbitkan SP2D-UP sebesar Rp 5.000.000 untuk
uang persediaan SKPD X. Kemudian tanggal 31 Maret 2015, diterbitkan
SP2D-GU Rp 4.600.000 untuk mengganti uang persediaan SKPD X
berdasarkan SPP-GU yag diterima tentang pertanggungjawaban uang
persediaan.
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-3- RK-SKPD X 5.000.000
2015 Kas di Kasda 5.000.000

Jurnal pada saat penerbitan SP2D-GU


Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
31-3- RK-SKPD X 4.600.000
2015 Kas di Kasda 4.600.000

Pencatatan transaksi SP2D-UP, TU, GU dan LS memiliki prinsip yang


sama yaitu mengurangkan jumlah kas di BUD dan mencatat lawannya
pada RK SKPD yang bersangkutan sebesar nilai nominal SP2D. Apabila
terdapat potongan yang dipungut oleh PPKD atas SP2D LS maka
potongan tersebut dicatat pada akun yang sesuai.
Contoh :
Tanggal 1 Februari 2015 PPKD menerbitkan SP2D-LS sebesar Rp
8.900.000 berdasarkan SPP-LS SkPD X untuk membayar gaji pegawai
SKpD X. PPKD memotong gaji tersebut menurut PPh Pasal 21 sebesar 5
%.
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-2- RK-SKPD X 8.900.000
2015 Kas di Kasda 8.455.000
Utang PFK 445.000

Transaksi beban dan be;anja yang menjadi kewenangan PPKD


dicatat baik pada jurnal finansial maupun jurnal pelaksanaan anggaran.
Apabila dilakukan secara tunai beban dicatat pada akaun beban yang
sesuai dan mengurangi akun kas di BUD bila dilakukan secara tunai.
Apabila tidak dilakukan secara tunai maka dicatat pada akun hutang yang
sesuai. Sedangkan untuk jurnal anggaran dicatat pada akun hutang yang
sesuai dan membebankan pada akunn prubahan SAL.
Contoh :
Tanggal 31 Desember 2015, diketahui bahwa PPKD memiliki tagihan
bunga obligasi sebesar Rp 2.500.000. pada tanggal 2 Januari 2016,
dilakukan pembayaran atas utang obligasi tersebut.
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
31-12- Beban bunga obligasi 2.500.000
2015 Utang jangka 2.500.000
pendek lainnya

Jurnal pada saat pembayaran utang obligasi


Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
2-1- Utang jangka pendek 2.500.000
2015 lainnya
Kas di Kasda 2.500.000

Jurnal Pelaksanaan Anggaran


Tanggal Uraian Debit Kredit
2-1- Belanja bunga obligasi 2.500.000
2015 Perubahan SAL 2.500.000

9.6 Definisi da Klasifikasi Persediaan


PSAP 05 tentang akuntansi persediaan merupakan standar yang
mengatur batasan definisi persediaan, pengakuan dan pengukurannya.
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau jasa yang
dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah daerah,
dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan
dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.
PsAP 05 menetapkan bahwa persediaan dapat berupa :
a. Perlengkapan yang digunkan dalam rangka kegatan operasional
pemerintah . termasuk dalam jenis ini adalah bahan habis pakai seperti
alat tulis kantor dan bahan tidak habis pakai seperti komponen
peralatan listrik.
b. Beban yang akan digunakan dalam proses produksi seperti bahan baku,
c. Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau
diserahkan kepada masyarkat. Contoh : benih yang belum cukup umur.
d. Barang yang disimpan untuk dijual dan diserahkan kepada masyarakat
dalam rangka kegiatan pemerintah. Contoh barang yang disimpan
adalah hewan dan bibit tanaman.
Persediaan diklasifikasinmenjadi tiga bagian yaitu :
a. Persedia bahan habis pakai, seperti alat tulis kantor, dokumen atau
administrasi teller, alat-alat listrik, alat-alat elektronik, benda-benda
pos, bahan dan alat kebersihan, serta bahan bahan bakar minyak dan
gas.
b. Persediaan bahan/mineral, seperti bahan baku bangunan, bibit
tanaman, bibit ternak, bahan obat-obatan, bahan kimia, dan bahan
makanan pokok.
c. Persediaan barang lainnya, seperti persediaanbarang yang akan
diberikan kepada pihak ketiga.

9.7 pengakuan dan Pengukuran Persediaan

Persediaan diakui apabila salah satu kondisi berikut ditemukan yaitu :

a. Pada saat potensi manfata ekonomi masa depan diperoleh pemerintah, atau
memiliki nilai yang dapat diukur dengan andal.
b. Pada saat diterima hak kepemilikannya dan atau kepenguasaannya
berpindah.

Pengakuan persediaan dapat menggunakan salah satu pendekatan berikut :

a. Pendekatan beban.
Persediaan dicatat sebagai beban persediaan dan pada akhir periode
dilakukan perhitungan untuk mengetahui jumlah persediaan yang tersisa.
Pendekatan perhitungan untuk mengetahui jumlah persediaan yang tersisa.
Pendekatan beban digunkaan untuk persediaan yang dimaksudkan untuk
digunakan segera dan tidak dimaksudkan untuk sepanjang periode.
b. Pendekatan aset
Pendekatan aset digunakan persediaan yang maksud penggunaannya untuk
maksud berjaga-jaga atau untuk digunakan dalam periode terkait.
Persediaan yang diperoleh dicatat sebagai aset dan pada akhir periode
dilakukan perhitungan untuk mengetahui berapa besar beban persediaan
yang telah dikonsumsi.

Pengukuran persediaan dinilai berdasarkan tiga hal yaitu :


a. Persediaan yang dibeli diakui sebesar harga perolehan
b. Persediaan yang diproduksi diakui sebesar harga pokok produksi
c. Persediaan yang diperoleh dengan cara lain diakui sebesar nilai wajar.

9.8 Ilustrasi Jurnal Persediaan

Pembelian persediaan dapat dilakukan melalui uang persediaan di


bendahara pengeluaran ataupun SPP-LD.

Contoh :

1 Maret 2015 SKPD C membeli bibit tanaman untuk diserahkan ke masyarakat


senilai Rp 8.000.000 dan bahan kimia untuk persediaan di kantor Rp 5.000.000 .
pembelian tersebut menggunkan SP2D-LS.

Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-3- Beban persediaan 8.000.000
2015 Persediaan 5.000.000
RK-PPKD 13.000.000
Jurnal Pelaksanaan Anggaran
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-3- Belanja bahan/material 13.000.000
2015 Perubahan SAL 13.000.000

Pada akhir periode dilakukan perhitungan fisik persediaan bahan kimia dan
ditemukan sisanya Rp 500.000.

Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
31-12- Beban Persediaan 4.500.000
2015 Persediaan 4.500.000

9.9 Definisi dan Klasifikasi Aset Lainnya

Aset lainnya adalah aset pemerintah daerah yang tidak dapat


diklasifikasikan ke dalam aset lancar, investasi jangka panjang, aset tetap dan
dana cadangan.
Aset lainnya diklasifikasikan ke dalam beberapa bagian yaitu :

a. Tagihan Jangka Panjang


Terdiri dari tagihan penjualan angsuran, tuntutan perbendaharaan (TP)
dantuntuntan ganti kerugian daerah (TGR).
b. Kemitraan dengan Pihak Ketiga
Terdiri dari sewa, kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah (BGS), dan
bangun serah guna (BSG).
c. Aset Tidak Berwujud
Terdiri dari goodwill, lisensi, frenchise, hak cipta, paten.
d. Aset lain-lain
Meliputi tagihan jangka panjang, kemitraan dengan pihak ketiga dan aset
lain-lain. Sedangkan aset lainnya yang menjadi kewenangan SKPD
meliputi aset tidak berwujud dan aset lain-lain.

9.10 Pengakuan dan Pengukuran Aset Lainnya


Pengakuan dan pengukuran aset lainnya berbeda-beda berdasarkan
karakteristik masing-masing aset.
a. Tagihan penjualan angsuran diakui pada saat terjadinya penjualan
angsuran dan diukur sebesar nilai nominal dikurangi ddngan angsuran
yang telah dibayarkan.
b. TP dan TGR diakui ketika salah satu kejadian berikut timbul yaitu (1)
telah ditandatanganinya Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak
(SKTJM), (2) telah diterbitkan Surat Keputusan Pembebanan Penggantian
Kerugian Sementara (SKP2KS), atau (3) telah ada putusan lembaga
peradilan peradilan yang berkekuatan hukum tetap. Pengukuran TP diukur
sebesar nilai nominal dalam SKP setelah dikurangi setoran yang telah
dilakukan oleh bendahara yang bersangkutan ke kas daerah. Sedangkan
TGR diukur sebebsar nilai nominal dan SKTM setelah dikurangi dngan
setoran yang telah dilakukan oleh pegawai yang bersangkutan ke kas
negara.
c. Kemitraan dengan pihak ketiga diakui pada saat terjadinya perjanjian
kerjasama/kemitraan.
d. BGS diakui pada saat terjadinya kerjasama .
e. BSG diakui pada saat terjadinya perjanjian kerjasama.
f. Aset tidak berwujud diakui hanya jika kemungkinan besar manfata
ekonomi di masa datang yang diharapkan atau jasa potensian yang
diakibatkan dari set tidak berwujud tersebut akan mengalir kepada entitas
dan biaya perolehan (nilai wajar) dapat diukur dengan handal.
g. Aset lain-lain diakui ketika sebuah aset tetap dinilai tidak dapat
dimanfaatkan lagi dan ditujukan untuk dijual. Aset lain-lain diukur sebasar
harga perolehan aset tetap dikurangi akumulasi penyusutan aset tetap
terkait.

9.11 Ilustrasi Jurnal Aset Lainnya

a. Tagihan penjualan angsuran dan aset lain-lain


Berdasarkan surat ketetapan Bupati, PPKD X melakukan reklasifikasi
kendaraan yang sudah tidak dapat difungsikan lagi menjadi aset lain-lain.
Harga perolehan kendaraan Rp 120.000.000 dan akumulasi penyusutan
Rp 110.000.000. Aset lain-lain kemudian dijual secara kredit kepada
pegawai pemda dan diangsur selama 15 kali dibayar setiap bulan. Harga
jual aset lain-lain Rp 15.000.000.
Jurnal yang dibuat ketika reklasifikasi aset tetap menjadi aset lain-lain
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
Akumulasi penyusutan 110.000.000
kendaraan
Aset Lain-lain 10.000.000
Peralatan dan 120.000.000
mesin

Jurnal yang dibuat ketika berita acara penjualan aset lain-lain


ditandatangani
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
Tagihan penjualan 15.000.000
angsuran
Aset lain-lain 10.000.000
Surplus penjualan 5.000.000
aset

Jurnal yang dibuat ketika BUD menerima angsuran dari pegawai yang
membeli aset lain-lain
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
Kas 1.000.000
Tagihan penjualan 1.000.000
angsuran
Pada akhir periode dibuat jurnal penyesuaian untuk mengakui bagian
lancar TPA dengan mendebit akun “Bagian Lancar TPA” dan mengkredit
“Tagihan Penjualan Angsuran”.
b. TP/GR
Berdasarkan SKJTM tanggal 1 Oktober 2015 diketahui bahwa seorang
pegawai harus membayar ganti rugi sebesar Rp 25.000.000. pada tanggal
20 November 2015, pegawai tersebut melakukan pembayaran ganti rugi
sebesar Rp 5.000.000. tanggal 31 Desember dilakukan reklasifikasi dan
diperkirakan 10% piutang tersebut tidak dapat ditagih.
Jurnal pada saat SKJTM dibuat
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-10- Tuntutan Ganti Kerugian 25.000.000
2015 Negara
Pendapatan TGR- 25.000.000
LO

Jurnal saat pegawai membayar tuntutan ganti rugi

Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
20-11- Kas 5.000.000
2015 Tuntutan ganti 5.000.000
kerugian negara

Jurnal Pelaksanaan Anggaran


Tanggal Uraian Debit Kredit
20-11- Perubahan SAL 5.000.000
2015 Pendapatan TGR- 5.000.000
LRA

Jurnal pada saat reklasifikasi piutang dan penyisihan piutang

Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
31-12- Bagian lancar TGR 20.000.000
2015 Tuntutan ganti 20.000.000
kerugian negara
Beban penyisihan bagian 2.000.000
lancar TGR
Penyisihan bagian 2.000.000
lancar TGR

c. Kemitraan dengan pihak ketiga


Berikut disajikan beberapa bentuk kemitraan dengan pihak ketiga
 1 Februari 2015, pemda menandatangani kontrak kerjasama BSG
dengan PT AJ untuk membangun gedung olahraga. Pada saat itu
pemerintah menyerahkan tanah senilai Rp 100.000.000 sebagai bentuk
penyertaan pemda.
 Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-2- Kemitraan dengan pihak 100.000.000
2015 ketiga
Tanah 100.000.000
 1 Oktober 2015, pemda menandatangi kontrak kerjasama BSG dengan
PT RKS untuk membangun rumah sakit. Untuk menyelesaikan
pembangunan tersebut investor harus mengeluarkan dana Rp
500.000.000 sedangkan tanah yang digunakan tempat membangun
rumah sakit milik pemda senilai Rp 100.000.000. tanggal 1 Oktober
2016, aset BSG tersebut telah selesai dibangun dan diserahterimakan
kepada pemda. Pada tanggal yang sama pemda juga membayar Rp
50.000.000 kepada investor yang mengurangi nilai utang kemitraan
dengan investor.
Jurnal pada saat penandatanganan kontrak
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-10- Kemitraan dengan pihak 100.000.000
2015 ketiga-BSG
Tanah 100.000.000
Utang jangka 500.000.000
panjang lainnya-
utang kepada
pihak ketiga

Jurnal pada saat serah terima aset


Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-10- Utang jangka panjang 50.000.000
2015 lainnya
Kas di Kasda 50.000.000

Jurnal Pelaksanaan Anggaran


Tanggal Uraian Debit Kredit
1-10-- Belanja modal 50.000.000
2015 Perubahan SAL 50.000.000

 Tanggal 1 September 2015, pemda menandatangani kontrak kemitraan


dalam bentuk sewa tanah pemda sebesar Rp 120.000.000/tahun . nilai
buku perolehan tanah tercatat Rp 500.000.000. pada tanggal yang sama
pihak ketiga membaayar Rp 120.000.000 untuk sewa satu tahun ke
depan.
 Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-9- Kemitraan dengan pihak 500.000.000
2015 ketiga-sewa
Tanah 500.000.000
Kas di Kasda 120.000.000
Pendapatan sewa 120.000.000
dibayar dimuka-
LO

Jurnal Pelaksanaan Anggaran


Tanggal Uraian Debit Kredit
1-10- Perubahan SAL 120.000.000
2016 PAD lain-lain 120.000.000
yang sah-sewa-
LRA

d. Aset tidak berwujud


Tanggal 1 Agustus 2015, pemda membeli hak paten atas temuan yang
berhubungan dengan penggunaan dan pemanfaatan mesin pengelola
sampah menjadi pupuk dari suatu perusahaan . pemda membayar Rp 1
Miliar kepada perusahaan terkait.
Jurnal Finansial
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-8- Aset lainnya- aset tidak 1.000.000.000
2015 berwujud
Kas di Kasda 1.000.000.000
Jurnal Pelaksanaan Anggaran
Tanggal Uraian Debit Kredit
1-8- Belanja Modal 1.000.000.000
2015 Perubahan SAL 1.000.000.000

Anda mungkin juga menyukai