Anda di halaman 1dari 21

I.

Tujuan
a. Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa dapat mengetahui cara menghitung jenis-jenis leukosit.
b. Tujuan Instruksional Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan hitung jenis leukosit dengan baik dan
benar.
2. Mahasiswa dapat membedakan jenis-jenis leukosit
II. Metode
Diff count
III. Prinsip
Apusan darah diamati dengan mikroskop binokuler pada pembesaran objektif
100x dengan penambahan oil imersi. Diff count dilakukan pada counting area
dimana eritrosit menyebar merata. Bentuk-bentuk leukosit dihitung hingga 100
sel.
IV. Dasar Teori
4.1 Darah

Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan
sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. Volume
darah secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter.
Sekitar 55% adalah plasma darah, sedang 45% sisanya terdiri dari sel darah. Fungsi
utama darah dalam sirkulasi adalah sebagai media transportasi, pengaturan suhu,
pemeliharaan keseimbangan cairan, serta keseimbangan basa eritrosit selama hidupnya
tetap berada dalam tubuh. Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang
membentuk 45% bagian dari darah. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan
yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah. (Widayati, dkk,
2010).

Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian
dari darah. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium
cairan darah yang disebut plasma darah.
a. Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99% dari jumlah korpuskula).
Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap
sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan
mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan
golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita penyakit
anemia. Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%), bertanggung
jawab dalam proses pembekuan darah.
b. Sel darah putih atau leukosit (0,2%)
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas
untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh
tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak
memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita
penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit menderita
penyakit leukopenia.
c. Plasma darah
Pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung : albumin, bahan
pembeku darah, immunoglobin (antibodi), hormon, berbagai jenis protein,
berbagai jenis garam.

4.2 Leukosit

Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih.
Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih mempunyai granula spesifik
(granulosit), yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam
sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi, Yang tidak mempunyai
granula, sitoplasmanya homogen dengan inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Granula
dianggap spesifik bila secara tetap terdapat dalam jenis leukosit tertentu dan pada
sebagian besar precursor (pra zatnya) (Caroline, Astrid. 2013).

Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme


terhadap zat-zat asing. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses
diapedesis. Leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel
endotel dan menembus kedalam jaringan penyambung. Bila memeriksa variasi
Fisiologi dan Patologi sel-sel darah tidak hanya persentase tetapi juga jumlah absolut
masing-masing jenis per unit volume darah harus diambil (Caroline, Astrid. 2013).

Leukosit memiliki bentuk khas, nukleus, sitoplasma dan organel, semuanya


bersifat mampu bergerak pada keadaan tertentu. Leukosit merupakan unit yang aktif
dari sistem pertahanan tubuh. Leukosit ini sebagian dibentuk di sumsum tulang
(granulosit, monosit dan sedikit limfosit) dan sebagian lagi di jaringan limfe (limfosit
dan sel-sel plasma). Setelah dibentuk sel-sel ini diangkut dalam darah menuju berbagai
bagian tubuh untuk digunakan Kebanyakan sel darah putih ditranspor secara khusus ke
daerah yang terinfeksi dan mengalami peradangan serius

Adapun jenis-jenis dari leukosit antara lain:

a. Monosit
Monosit adalah sel darah putih yang berjumlah 1-3% dalam tubuh kita
yang merupakan baris kedua pertahanan tubuh kita terhadap infeksi bakteri
dan benda asing. Monosit adalah bagian dari kelompok sistem kekebalan
tubuh kita yang tidak mempunyai butiran halus dalam sel (granula). Dalam
melawan infeksi bakteri dan benda asing, monosit dapat melawan
walaupun ukuran bakteri dan benda asing lebih besar dengan
memakannya.
Monosit beredar dalam darah sekitar 300-500 mikroliter darah yang
diproduksi didalam sumsum tulang manusia dan menyerbar keseluruh
tubuh dalam 3 hari dengan masuk ke jaringan tubuh tertentu yang
mengalami pematangan menjadi makrofag yang berfungsi sebagai
kekebalan tubuh. Peningkatan jumlah monosit disebut dengan monositosis,
yang dapat dijumpai pada penyakit seperti parotitis, herpes zoster,
mononucleosis, infeksiosa, toksoplasmosis, hemolitik, arthrithis, dan
masih banyak lagi. Fungsi dari monosit ini yaitu:
 Menghancurkan sel-sel asing.
 Mengangkat jaringan yang telah mati.
 Membunuh sel-sel kanker.
 Pembersih dari fagositosis yang dilakukan neutrofil.
 Meransang jenis sel darah putih yang lain dalam melindungi
tubuh.
 Menunjukkan perubahan dalam kesehatan pasien dengan banyak
sedikitnya monosit dalam tubuh.
b. Basofil
Basofil adalah sel darah putih yang berjumlah 0,01-0,03% dari tubuh
kita. Basofil memiliki banyak granula sitoplasmik dengan jumlah dua
lobus. Basofil merupakan kelompok dari granulosit yang dapat bergerak
keluar menuju ke jaringan tubuh tertentu. Basofil akan bekerja disaat
adanya reaksi alergi pada tubuh dengan mengeluarkan histamin, sehingga
pembuluh darah menjadi besar. Jumlah basofil akan bertambah banyak
atau meningkat jika meningkatnya jumlah alergi. Bertambah banyak
jumlah basofil disebut dengan basofilia. Fungsi dari basofil ini yaitu:
 Basofil berfungsi memberi reaksi antigen dan alergi dengan
mengaktifkan atau mengeluarkan histamin sehingga terjadi
peradangan.
 Mencegah adanya penggumpalan dalam pembuluh darah.
 Membantu dalam memperbaiki luka.
 Memperbesar pembuluh darah.
c. Neutrofil
Neutrofil adalah Sel darah putih yang berjumlah 50-60% dalam darah
yang merupakan kelompok granulosit karna memiliki butiran halus
(granula). Neutrofil juga diakatakan sebagai polymorphonuclear
dikarenakan selnya memiliki bentuk yang aneh. dan memiliki 3 inti sel.
Neutrofil adalah sel yang paling pertama menghadang dan melawan
bakteri, virus dan benda asing lainnya yang berperan dalam proses
peradangan. Dari sifat fagosit yang dimilikinya, neutrofil menyerang
dengan menggunakan serangan respiratori yang memakai berbagai macam
substansi yang mengandung hidrogen peroksida, oksigen radikal bebas,
hipoklorit.
Neutrofil diproduksi dalam sumsum tulang dengan hasil produksi
neutrofil sekitar 100 milliar neutrofil dalam sehari, dan akan meningkat
menjadi sepuluh kali lipat jika terjadi inflamasi kuat. Setelah keluar dari
sumsum tulang, akan mengalami 6 tahap morgolis, yakni mielocit,
metameolocit, neutrofil non segmen (band), neutrofil segmen. Fungsi dari
neutrofil ini yaitu:
 Menanggapi mikroba.
 Antibiotik dalam tubuh.
 Berfungsi dalam proses peradangan.
 Menghancurkan mikro organisme dan benda asing dengan
memakannya atau fagositosis.
 Sebagai sel pertahanan tubuh dalam melawan infeksi.
 Membantu menghapuskan stimulus yang berbahaya penyebab
matinya sel (nekrosis).
 Membuat daerah yang kekurangan racun
d. Limfosit
Limfosit adalah sel darah putih berjumlah 20-25% dalam tubuh yang
merupakan jumlah terbanyak kedua setelah neutrofil. Limfosit dibentuk di
dalam sumsum tulang dan di limfa. Limfosit juga dibagi menjadi dua
macam yakni limfosit kecil dan limfosit besar. Hasil dari produksi limfosit
1 kubik kurang lebih 8000 sel darah putih. jika sel tersebut mengalami
peningkatan atau bertambah banyak maka akan menyebabkan penyakit
leukimia atau kanker darah. Limfosit terbagi atas 6 jenis yakni Limfosit B,
Sel T Helper, Sel T sitotoksit, Sel T memori, dan Sel T Supresor. Limfosit
B memproduksi antibodi, Sel T Helper mengaktifkan dan mengarahkan
sistem kekebalan tubuh mikroorganisme, Sel T Sitotoksit mengeluarkan
bahan kimia dalam menghancurkan patogen, Sel T memori sistem
kekebalan tubuh dalam mengetahui patogen tertentu. Sel T Supresor untuk
melindungi sel normal tubuh. Fungsi dari limfosit ini yaitu:
 Menghasilkan antibody.
 Mengaktifkan sistem kekebalan tubuh.
 Mengeluarkan bahan kimia dan menghancurkan pathogen.
 Melindungi sel normal tubuh.
 Mengetahui patogen tertentu.
 Berubah menjadi antibodi (sel Plasma).
 Melawan kanker
e. Eosinofil
Eosinofil adalah sel darah putih berjumlah 7% dari dalam sel darah
putih dan mengalami peningkatan terkait dengan adanya asma, alergi dan
demam. Eosinofil memiliki diameter 10 hingga 12 mikrometer. Eosinofil
merupakan kelompok dari granulosit yang bertugas dalam melawan parasit
yang memiliki jangka waktu 8 hingga 12 hari. Eosinofil memiliki sejumlah
zat kimiawi seperti ribonuklease, histamin, lipase, eosinofil peroksidase
dan deoksribonuklease serta beberapa macam asam amino. Fungsi dari
eosinofil ini yaitu:
 Mencegah alergi.
 Menghancurkan antigen antibody.
 Berfungsi dalam menghancurkan parasit-parasit besar.
 Berperan dalam respon alergi
4.3 Diferensiasi Leukosit (Jenis-Jenis Leukosit)
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis
leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang
khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit,
eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih
spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya
menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah
absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit
total (sel/μl). Pemeriksaan preparat ulas/apusan darah memberikan informasi lebih
lanjut mengenai morfologi sel eritrosit, leukosit, dan trombosit (Mills 1998).
Tabel 1. Perbandingan jumlah eritrosit, leukosit dan trombosit dalam darah

Sel Sel/µL (rata-rata) Kisaran normal

Sel darah putih total 9000 4000-11000

Netrofil 5400 3000-6000

Eosinofil 275 150-300

Basofil 35 00-100

Limfosit 2750 1500-4000

Monosit 540 300-600

Eritrosit pada pria 5,4 x 106

Eritrosit pada wanita 4,8 x 106

Trombosit 300.000 200.000-500.000

Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak
dari neutrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit
juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu lapangan ke lapangan
lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%. Bila pada hitung jenis
leukosit, diperoleh eritrosit berinti lebih dari 10 per 100 leukosit, maka jumlah
leukosit/µl perlu dikoreksi. Berikut ini merupakan beberapa hasil yang mungkin
diperoleh pada hitung jenis leukosit:
a. Netrofilia
Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil melebihi nilai
normal. Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia
dan logam berat, gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan,
kehilangan darah dan kelainan mieloproliferatif.
Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi,
seperti penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas
peradangan dan pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus
hemolyticus dan Diplococcus pneumoniae menyebabkan netrofilia yang
berat, sedangkan infeksi oleh Salmonella typhosa dan Mycobacterium
tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia. Pada anak-anak netrofilia
biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada penderita yang lemah,
respons terhadap infeksi kurang sehingga sering tidak disertai netrofilia.
Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang meradang
karena jaringan nekrotik akan melepaskan leukocyte promoting substance
sehingga abses yang luas akan menimbulkan netrofilia lebih berat daripada
bakteremia yang ringan. Pemberian adrenocorticotrophic hormone
(ACTH) pada orang normal akan menimbulkan netrofilia tetapi pada
penderita infeksi berat tidak dijumpai netrofilia.
Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan
dilepasnya granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut
pergeseran ke kiri atau shift to the left.
Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai
netrofilia ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada
infeksi berat dijumpai netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda.
Infeksi tanpa netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai banyak sel
muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi atau respons penderita yang
kurang.
Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda degenerasi,
yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan
gelap yang disebut granulasi toksik. Disamping itu dapat dijumpai inti
piknotik dan vakuolisasi baik pada inti maupun sitoplasma
b. Eosinofilia
Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi
nilai normal. Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin
yang dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi
khemotaksis yang menarik eosinofil. Penyebab lain dari eosinofilia adalah
penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi parasit, kelainan hemopoiesis
seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.
c. Basofilia
Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil melebihi nilai
normal. Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia
granulositik kronik. Pada penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria
pigmentosa dan kolitis ulserativa juga dapat dijumpai basofilia. Pada reaksi
antigen-antibodi basofil akan melepaskan histamin dari granulanya.
d. Limfositosis
Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah
limfosit melebihi nilai normal. Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi
virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti
tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti
leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia primer.
e. Monositosis
Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit melebihi
nilai normal. Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti
leukemia monositik akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit
kollagen seperti lupus eritematosus sistemik dan reumatoid artritis; serta
pada beberapa penyakit infeksi baik oleh bakteri, virus, protozoa maupun
jamur.
Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik
pada tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif,
perbandingan antara jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama
dengan 1/3, tetapi pada tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan
tersebut lebih besar dari 1/3.
f. Netropenia
Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari
nilai normal. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan
yaitu meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan
pembentukan netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.
Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang
memendek karena drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja
sebagai hapten dan merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit.
Gangguan pembentukan dapat terjadi akibat radiasi atau obat-obatan
seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan fenotiasin; desakan dalam sum-
sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak diketahui sebabnya misal
pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan rickettisa; cyclic
neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.
g. Limfopenia
Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari
nilai normal. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun
seperti pada penyakit Hodgkin, sarkoidosis; penghancuran yang meningkat
yang dapat disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis;
dan kehilangan yang meningkat seperti pada thoracic duct drainage dan
protein losing enteropathy.

h. Eosinopenia dan lain-lain


Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari nilai normal. Hal
ini dapat dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan
dan infeksi berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi korteks adrenal dan
pengobatan dengan kortikosteroid.
Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil
dan basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut.
Walaupun demikian, jumlah basofil, eosinofil dan monosit yang kurang
dari normal kurang bermakna dalam klinik. Pada hitung jenis leukosit pada
pada orang normal, sering tidak dijumlah basofil maupun eosinofil.
4.4 Sediaan Apus Darah Tepi
Preparat darah apus tepi merupakan pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan
penyaring. Pemeriksaan darah rutin terdiri dari hemoglobin, jumlah lekosit, hitung
jenis lekosit, dan laju endapan darah. Pemeriksaan penyaring terdiri dari gambaran
darah tepi, jumlah eritrosit, hematokrit, indeks eritrosit, jumlah retikolosit, dan
trombosit. Pereparat darah apus tepi ini meliputi 2 bagian pemeriksaan yaitu
pemeriksaan hitung jenis sel darah putih (termasuk pemeriksaan rutin) dan gambaran
sel darah serta unsur-unsur lain antara lain parasit, sel ganas dan lain-lain. Sediaan apus
yang dibuat dan dipulas dengan baik merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan
hasil yang baik (Budiwiyono I, 1995)
Menurut jenisnya dibagi menjadi dua yaitu sediaan hapus darah tipis dan
sediaan hapus darah tebal. Sediaan hapus darah mempunyai kegunaan dalam bidang
parasitologi dan hematologi. (Ismid IS, 2000)
Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari kapiler
atau vena. Dihapuskan pada kaca obyek pada keadaan tertentu dapat pula digunakan
darah EDTA. ( Tjokronegoro A ,1996 )
Ciri-ciri sediaan apus yang baik :
a. Sediaan tidak melebar sampai tepi kaca objek, panjangnya1/2 sampai
2/3 panjang kaca.
b. Mempunyai bagian yang cukup tipis untuk diperiksa, pada bagian itu
eritrosit tersebar rata berdekatan dan tidak saling bertumpukan.
c. Pinggir sediaan rata, tidak berlubang-lubang atau bergaris-garis.
d. Penyebaran leukosit yang baik tidak berkumpul pada pinggir atau ujung
sedimen.
Teknik pemeriksaan apus darah tepi yaitu, sediaan apus darah terdiri atas
bagian kepala dan bagian ekor. Pada bagian kepala sel-sel bertumpuk-tumpuk terutama
eritrosit, sehingga bagian ini tidak dapat dipakai untuk pemeriksaan morfologi sel.
Eritrosit sebaiknya diperiksa di bagian belakang ekor, karena disini eritrosit terpisah
satu sama lain. ( Pendidikan Ahli Madya Analis Kesehatan, 1996 )

V. Alat dan Bahan

a. Alat

1. Mikroskop Binokuler

b. Bahan

1. Sediaan Hapusan Darah (Preparat Indirect)

2. Oil Imersi
3. Tissue Lensa
VI. Cara Kerja
1. Semua alat dan bahan yang diperlukan dipersiapkan.
2. Mikroskop dihidupkan dengan menekan tombol on.
3. Sediaan apusan darah yang telah diwarna atau dicat diletakkan di atas
meja mikroskop.
4. Sediaan diamati pada pembesaran lensa objektif 10x untuk emnemukan
lapang pandang.
5. Pembesaran lensa objektif diubah ke pembesaran 100x dengan
penambahan oil imersi.
6. Diamati sediaan apus darah, dicari daerah counting area (daerah
pembacaan dimana pada daerah ini eritrosit tampak tersebar merata.
7. Penghitungan jenis leukosit dilakukan pada counting area dengan
penghitungan sebanyak 100 sel leuosit, meliputi basosil, eosinofil,
neutrofil stab, neutrofil segmen, limfosit, dan monosit.
8. Hasil diff count dinyatakan dalam %.
VII. Nilai Rujukan
No Jenis Leukosit Persentase (%)
1 Eosinofil 1-4 %
2 Basofil 0-1 %
3 Stab 2-5 %
4 Segment 36-66 %
5 Limfosit 22-40 %
6 Monosit 4-8 %

VIII. Hasil Pengamatan


Kode Sampel: Preparat 614
Lp
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 %
Sel
Basofil 0%
Eosinofil I 1%
Stab/Batang II III IIII II II I I II 18%
Segmen IIII IIII IIII IIII I IIII IIII IIII II III IIII IIII 47%
Limfosit II I III II IIII I II I II 18%
Monosit I III II I III II III I 16%
Jumlah 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 100
 Foto jenis-jenis Leukosit yang diperoleh

Eosinofil Neutrofil Segmen

Neutrofil Batang Limfosit

Monosit
IX. Pembahasan

Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih. Leukosit
mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asing.
Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis. Leukosit dapat
meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan
penyambung. Leukosit memiliki bentuk khas, nukleus, sitoplasma dan organel, semuanya bersifat
mampu bergerak pada keadaan tertentu. Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan
tubuh.

Hitung jenis leukosit atau disebut juga dengan hitung diferensial leukosit adalah nilai
komponen-komponen sel yang menyusun sel darah putih. Hitung jenis leukosit menentukan
jumlah relatif atau persentase dari berbagai populasi leukosit yang ada dalam darah yang dapat
memberikan informasi mengenai barbagai keadaan penyakit. Hitung diferensial leukosit ini
seringkali diabaikan bila jumlah leukosit dalam darah adalah normal dan tidak ada kelainan
hematologik, baik klinis maupun laboratoris. Namun demikian, banyak kelainan seperti
keganasan, inflamasi, dan kelainan imunologik dapat menyebabkan perubahan persentase ini,
walaupun jumlah leukosit masih dalam batas normal.
Leukosit memiliki sebuah inti yang bentuk dan ukurannya bervariasi sehingga mudah
dibedakan dengan eritrosit. Karakteristik morfologis nukleus dan sitoplasma sel-sel ini
menentukan kategori spesifik dan tingkat pematangannya. Leukosit berada dalam sirkulasi darah
untuk melintas saja menuju ke lokasi lain, mereka tidak mempunyai fungsi di dalam pembuluh
darah. Terdapat 5 jenis leukosit yang utama, yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan
monosit. Neutrofil, eosinofil, dan basofil dinamakan granulosit (sel-sel yang memiliki granula
dalam sitoplasmanya) atau sel-sel polimorfonuklear (PMN), yaitu sel-sel yang intinya terdiri dari
beberapa lobus. Limfosit, dan monosit tidak memiliki granula dalam sitoplasmanya, sehingga
mereka dinamakan agranulosit.
Apabila granulosit imatur meningkat dalam hitung jenis lekosit, keberadaan ini disebut
‘pergeseran ke kiri’ (shift to the left). Istilah ini berasal dari penelitian-penelitian awal yang
menggunakan tabulasi untuk melaporkan jumlah masing-masing jenis sel. Jenis sel diurutkan dari
sel blast sebelah kiri menuju ke netrofil di sebelah kanan. Sel imatur dalam jumlah besar
menyebabkan peningkatan di kolom sebelah kiri yang dalam keadaan normal kosong kecuali
beberapa sel batang. Dengan demikian, apabila sel imatur banyak, jumlah bergeser di kolom
sebelah kiri.
Terjadinya peningkatan jumlah leukosit (leukositosis) menunjukkan adanya proses infeksi
atau radang akut, misalnya pneumonia, meningitis, tuberculosis, tonsillitis, apendiktis, dll.
Sedangkan penurunan jumlah leukosit (leucopenia) dapat terjadi pada infeksi virus, malaria, dan
alkoholik. Selain itu penurunan dan peningkatan jumlah leukosit dapat disebabkan oleh
mengkonsumsi jenis obat-obatan tertentu.
Hitung jenis leukosit dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu manual (visual) dan
elektronik/otomatik. Pada praktikum dilakukan dengan metode manual yaitu pengamatan apusan
darah di bawah mikroskop, yang berarti penentuan hitung jenis leukosit dilakukan secara
mikroskopik. Untuk menghitung jenis leukosit ini, pengamatan dilakukan pada bagian apusan
sebelum ujung yang tipis (ekor). Pada bagian tersebut sel-sel darah tersebar merata, berdekatan
atau bersentuhan tetapi tidak tumpang tindih dan area ini sering disebut counting area (zona
morfologi).
Untuk melakukan hitung leukosit, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat
preparat hapusan darah yang diwarnai dengan pewarna Giemsa dan Wright. Namun pada kali ini
preparat yang digunakan adalah preparat indirect atau prepat yang sudah jadi yang diperoleh dari
RSUP Sanglah Denpasar, dimana preparat tersebut telah dihitung jenis leukositnya dengan
menggunakan alat hematolohi analyzer.
Adapun cara dari praktikum ini adalah disiapkan preparat indirect yang akan diamati
kemudian diletakkan preparat pada meja objek, digunakan lensa objektif perbesaran 10x untuk
mencari lapang pandang pada daerah counting area. Daerah counting area ini biasanya terdapat
mendekati ujung lidah dari sediaan apus darah. Setelah lapang pandang pada counting area
ditemukan preparat ditetesi dengan menggunakan oil imersi kemudian lendsa objektif dipindahkan
ke perbesaran 100x untuk mengamati lebih jelas adanya kelainan warna eritrosit yang akan
dilakukan pada pembesaran ini. Penambahan oil imersi ini bertujuan untuk menaikkan indeks bias
cahaya sehingga objek dapat terlihat dengan jelas. Setelah itu dilakukan pengamatan terhadap
kelainan bentuk dan ukuran eritrosit. Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area dengan
tujuan agar jenis-jenis leukosit dapat diamati secara jelas karena penyebarannya merata. Seratus
leukosit dihitung dan diklasifikasikan melalui penggunaan push-down differential counter. Hasil
hitung jenis berdasarkan 100 sel hanya bermakna untuk keadaan normal, yaitu normal jumlah
leukosit dan normal morfologinya.
Pada praktikum hitung jenis leukosit ini, dari 5 jenis leukosit hanya ditemukan 4 jenis saja
yaitu neutrofil, eosinofil, limfosit dan monosit sedangkan basofil tidak ditemukan dalam 100
leukosit yang telah dihitung.
1. Neutrofil: sel ini berukuran 12-15 μl, berbentuk bulat dan berbatas tegas. Inti sel berlobus
2 sampai 5, dihubungkan satu sama lain oleh benang kromatin. Neutrofil dengan inti
berlobus dinamakan neutrofil segmen. Kadang-kadang di daerah tepi juga dijumpai
neutrofil dengan inti berbentuk huruf C, U atau S yang dinamakan neutrofil batang atau
stab. Sitoplasma sel ini luas, terwarnai pink pucat, dan bergranula halus yang terwarnai
ungu muda. Neutrofil yang beredar di darah tepi terbanyak adalah segmen, yaitu neutrofil
yang matur, sedangkan batang atau stab yang merupakan neutrofil imatur dapat
bermultiplikasi dengan cepat selama infeksi akut. Pada praktikum didapat jumlah
neutrofil batang 18% dan neutrofil segmen 47%, total jumlah neutrofil 65%.
Dibandingkan dengan nilai rujukan jumlah neutrofil batang melebihi nilai normal dan
neutrofil segmen diperoleh dalam jumlah yang normal.
2. Eosinofil: sel berukuran 12-15 μm dengan inti sel umumnya terdiri dari 2 lobus.
Sitoplasmanya luas, memiliki banyak granula yang besar, bulat, homogen, terwarnai
merah-jingga dan tersusun padat berkelompok. Kadang-kadang sel tampak rusak dengan
granula-granula berserakan. Pada praktikum diperoleh jumlah eosinofil sebanyak 1%
yang berarti normal.
3. Limfosit: sel ini dikenal ada dua macam berdasarkan ukurannya, yaitu limfosit kecil dan
limfosit besar. Limfosit kecil berukuran 7-10 μm (hampir sama dengan eritrosit),
bentuknya bulat. Inti sel bulat atau berlekuk, menempati sebagian besar ruang sel,
kromatin padat, terwarnai ungu donker. Sitoplasma sedikit/sempit, terwarnai biru pucat
(pada sebagian besar kasus tampak sebagai cincin tipis di sekitar inti), dan tidak
mengandung granula. Pada praktikum diperoleh jumlah limfosit sebanyak 18 % yang
berarti berada dibawah nilai rujukan.
4. Monosit: sel berukuran 15-25 μm (paling besar di antara jenis lekosit yang lain),
bentuknya ireguler. Inti sel bentuknya bervariasi (memanjang, berindentasi, atau melipat
seperti ginjal), tidak beraturan dan terwarnai ungu. Sitoplasma luas, terwarnai biru pucat,
mengandung granula-granula halus seperti debu dan biasanya terwarnai kemerahan.
Kadang-kadang tampak vakuola di dalamnya. Monosit adalah baris pertahanan kedua
terhadap infeksi bakteri dan benda asing. Monosit berespons lambat selama fase infeksi
akut dan proses inflamasi, dan terus berfungsi selama fase kronis dari fagosit. Pada
praktikum diperoleh jumlah monosit sebanyak 16% yang menunjukkan hasil ini
melebihi nilai rujukan yang ada.
Pada praktikum yang telah dilakukan terdapat beberapa perbedaan hasil antara yang
dilakukan secara manual dengan yang dilakukan menggunakan alat elektronik/automatik di
laboratorium RSUP Sanglah. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor baik dilakukan oleh
praktikan karena kesalahan pengamatan dan beberapa faktor lain seperti berikut ini:
 Pembuatan sediaan apus kurang baik, misalnya tetesan darah terlalu banyak atau
sedikit, cara mendorong kaca pengapus tersendat-sendat, kaca pengapus tidak
menempel tepat pada kaca objek, sudut kaca pengapus terlalu besar atau sebaliknya.
 Kaca objek kotor atau berlemak
 Pengecatan kurang baik, misalnya larutan cat terlalu atau terlalu basa yang
menyebabkan hasil pewarnaan terlalu merah atau biru, pembilasan kurang bersih.
(Riswanto, 2013)

X. Simpulan
1. Hitung jenis leukosit secara manual dilakukan dengan cara diamati dibawah
mikroskop pada pembesaran objektif 100x (dengan oil imersi). Diff count
dilakukan pada counting area dan jenis-jenis leukosit dihitung hingga 100 sel.
2. Jenis-jenis leukosit dapat dibedakan menjadi lima leukosit yang utama, yaitu
neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit.
3. Pada praktikum hitung jenis leukosit diperoleh neutrofil 65% (Normal), eosinofil
1% (Normal), limfosit 18% (< Normal), dan monosit 16% (Monositosis).

Daftar Pustaka
Widayati, dkk. 2010. Laporan Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia Sediaan Apus Darah.
Jakarta: Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Diakses tanggal 28 Mei 2016).
Caroline, Astrid. 2013. Hitung Kenis Leukosit. [online]. Tersedia: https://www.scribd.
com/doc/304833313/Laporan-Praktikum-Patologi-Klinik-Hitung-Jumlah-Leukosit.
(Diakses tanggal 28 Mei 2016).

Ismid, Is Suharti. 2000. Parasitologi Kedokteran. FKUI: Jakarta.


Tjokronegoro, Arjatmo dan Hendra Utama. 1996. Pemeriksaan Hematologi. Sederhana. FKUI:
Jakarta.

Budiwiyono, Imam. 1995. Prinsip Pemeriksaan Preparat Hapusan Darah Tepi. FK UNDIP:
Semarang
Effendi Z. 2003.Peranan leukosit sebagai anti inflamasi alergik dalam tubuh. [pdf].
Tersedia: http://library.usu.ac.id/download/fk/histologi-zukesti2.pdf

Riswanto, 2013. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Yogyakarta: Alfamedia & Kanal


Medika.

Denpasar, 30 Mei 2016


Praktikan
Isma Dewi Nur Ayati
(P07134014036)

Lembar Pengesahan

Mengetahui,

Pembimbing I Pembimbing II

( Dr. dr. Sianny Herawati, Sp.PK ) ( Rini Riowati, B.Sc )

Pembimbing III Pembimbing IV

( I Ketut Adi Santika, A.Md. AK ) ( Luh Putu Rinawati, A.Md. AK)

Pembimbing V

( Kadek Aryadi , Amd.Ak )

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI


“HITUNG JENIS LEUKOSIT”
Oleh:
Isma Dewi Nur Ayati
(P07134014036)

JURUSAN ANALIS KESEHATAN


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN AKADEMIK 2015