Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN TETAP TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH

“SEEDING DAN AKLIMATISASI AEROB”

DISUSUN OLEH :
KELAS/KELOMPOK : 2 KA / II
ANGGOTA:
FADEL FIKRI ALAYDRUS (NIM:061530400300)
FERNIA AYU OKTAVIA (NIM:061530400302)
INDRI KUSPARWATI (NIM:061530400305)
JULIA DWI LESTARI (NIM:061530400306)
MAULIDIA PUTRI (NIM:061530400307)
MELLISA FITRI REZKIA (NIM:061530400308)
M. JULIAN SAPUTRA JAYA (NIM:061530401002)
MUHAMMAD ALVINE ALDIO (NIM:061530400309)

Dosen Pembimbing: Ida Silviyati, S.T., M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2015/2016
SEEDING DAN AKLIMATISASI AEROB

I. TUJUAN
Melakukan pembenihan dan pengembangbiakan mikroorganisme untuk mengolah limbah
cair secara aerobik.

II. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


Alat yang digunakan:
 Gelas kimia
 Aerator
 Pipet ukur 25 ml, 10 ml
 Bola karet
 Pipet tetes
 Labu ukur
 Cawan penguapan
 Spatula
 Batang pengaduk
 Oven
 Desikator
 Erlenmeyer
 Corong
 Kertas saring

Bahan yang digunakan :


 KH2PO4 0,0547 gram
 KNO3 0,2724 gram
 C6H12O6 0,7581 gram
 Aquadest
 Tanah subur
III. DASAR TEORI

Aklimatisasi, bertujuan untuk mendapatkan kultur biomassa yang telah teradaptasi terhadap air
limbah yang akan diteliti. Setelah melalui proses pembenihan ,maka dilakukan aklimatisasi. Aklimatisasi
adalah pengadaptasian mikroorganisme terhadap air limbah yang akan diolah. Pada proses ini dilakukan
dengan sistem bacth karena diharapkan mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang biak serta beradaptasi
dengan kondisi baru. Pengapdaptasian dilakukan dengan cara mengganti pemberian glukosa dengan air
limbah pabrik.. Akhir dari proses ini adalah konsentrasi COD menjadi stabil Pembenihan (seeding)
merupakan tahapan awal sebelum penelitian. Tujuan dari proses ini adalah untuk mendapatkan suatu populasi
mikroorganisme yang mencukupi untuk memulai penelitian proses lumpur aktif dan mampu mengoksidai
zat –zat organik yang terkandung didalam air limbah. Dalam penelitian ini mikroorganisme yang digunakan
berasal dari tanah. Pada tahap ini diharapkan mikroorganisme tersebut dapat tumbuh dan berkembang biak
dengan baik dengan pemberian nutrien dan oksigen secara teratur.
Salah satu langkah yang penting dalam pengolahan limbah cair adalah penyiapan atau
penyesuaian bakteri agar berkembang sesuai dengan kondisi yang diinginkan. Bakteri yang
berasal dari biakan murni atau lingkungan sekitar sumber limbah yang akan diolah
dikondisikan pada suatu temat dengan diberi umpan yang konsentrasinya sedikit demi sedikit
menyerupai konsentrasi limbah yang akan diolah. Biasanya ada tahap awal sebagai umpan
digunakan bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dengan komposisi yang jelas.
Untuk bakteri aerob maka perlu ditamabahkan aliran udara yang berasal dari
kompresor, blower atau pompa yang disemburkan (spray aerator).
Sebagai sumber karbon biasa digunkan glukosa, sedang nitrogen dan posfor dapat
digunakan Kalium Nitrat dan Kalium Dihidrofosfat. Pengaturan pH dapat digunakan kapur
atau asam sulfat. Untuk bakteri aerob ditambahkan udara yang cukup agar proses oksidasinya
dapat berjalan dengan sempurna. Jika konsentrasi BOD atau COD dalam tempat
pengembangan telah relative konstan, dengan fluktuasi sekitar 5%, maka konsentrasi umpan
dan volume pembibitan ditambah. Proses ini terus dilakukan hingga volume pembibitan
mencapai sekitar 10% kolam yang pengolahan yang dibuat dan VSS sekitar 3000 - 4000
mg/l.

Pembibitan (Seeding)
Proses seeding dilakukan untuk mengembangbiakkan mikroorganisme sehingga
didapatkan jumlah biomassa yang mencukupi untuk mengolah air buangan pabrik minyak
kelapa sawit. Bibit mikroorganisme diambil dari lumpur kolam pengolahan air buangan
pabrik minyak kelapa sawit yang ditumbuhkan secara aerob. Pada tahap seeding ini yang
perlu diperhatikan adalah konsentrasi zat organik (substrat), dan VSS.
Selama periode waktu detensi tertentu dilakukan pemeriksaan parameter organik,
VSS, TSS, pH, dan temperatur. Terjadinya penambahan biomassa ditandai dengan warna
lumpur yang semakin gelap (coklat kehitaman). Konsentrasi oksigen terlarut (DO) selalu
dijaga di atas 4 mg/l untuk memastikan proses aerob dapat berlangsung dengan baik.
Temperatur juga dijaga pada temperatur kamar, selain itu pH juga dijaga agar tetap dalam
kisaran normal yaitu berkisar antara 7,0-8,5 dengan cara penambahan larutan asam atau basa.

Aklimatisasi

Aklimatisasi merupakan suatu upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi dari


suatu organisme terhadap suatu lingkunganbaru yang akan dimasukinya.[1] Hal ini didasarkan
pada kemampuan organisme untuk dapat mengatur morfologi, perilaku, dan
jalur metabolisme biokimia di dalam tubuhnya untuk menyesuaikannya dengan
lingkungan.[2] Beberapa kondisi yang pada umumnya disesuaikan
adalah suhu lingkungan, derajat keasaman (pH), dan kadar oksigen.[1] Proses penyesuaian ini
berlangsung dalam waktu yang cukup bervariasi tergantung dari jauhnya perbedaan kondisi
antara lingkungan baru yang akan dihadapi, dapat berlangsung selama beberapa hari hingga
beberapa minggu.[1]

Proses aklimatisasi dapat diterapkan pada banyak hal, seperti pada


pendakian gunung.[3] Hal ini biasanya dilakukan apabila seseorang ingin melakukan
pendakian pada gunung yang memiliki puncak yang cukup tinggi, hingga ribuan meter di atas
permukaan laut, seperti Gunung Everest.[3] Beberapa hal utama yang harus disesuaikan antara
lain adalah suhu dan kadar oksigen di udara karena pada dataran tinggi suhu lingkungan bisa
jauh lebih rendah, demikian pula dengan kadar oksigennya yang menyebabkan tubuh harus
memproduksi lebih banyak sel darah merah atau eritrosit.[1] Contoh lain dari aklimatisasi
ditemukan pada tanaman budi daya dan pada teknik kultur jaringan.[4][5] Dalam teknik kultur
jaringan, tanamanyang masih berada di dalam botol steril akan disiapkan untuk dipindahkan
ke lingkungan aslinya, yaitu di tanah terbuka dengan kondisi lingkungan yang lebih tidak
terkontrol.[5]

Proses aklimatisasi dilakukan untuk mendapatkan suatu kultur mikroorganisme yang


stabil dan dapat beradaptasi dengan air buangan pabrik kelapa sawit yang telah disiapkan.
Selama masa aklimatisasi kondisi dalam reaktor dibuat tetap aerob dengan menjaga
konsentrasi, temperatur, dan pH. Proses ini dilakukan secara batch. Proses aklimatisasi dapat
dianggap selesai jika pH, VSS, temperatur, dan efisiensi penyisihan senyawa organik telah
konstan dengan fluktuasi yang tidak lebih dari 10%.

Tahap Pembibitan (Seeding) dan Aklimatisasi


Kebutuhan nitrogen dan fosfor secara umum didasarkan pada rasio air buangan
dengan rasio COD:N:P sebesar 100:5:1 (Benefild dan Randall,1980). Pada proses seeding
dan aklimatisasi diperlukan suatu kondisi lingkungan yang mendukung untuk tumbuh dan
berkembangnya mikroorganisme secara optimal. Jika pH cenderung asam, dilakukan
penambahan basa (NaOH), sebaliknya jika pH cenderung basa dilakukan penambahan asam
(H2SO4). Jika terjadi kekurangan biomassa pada reaktor (ditentukan dengan pengukuran
VSS), maka ditambahkan biomassa dari reaktor cadangan. Pada masa aklimatisasi parameter
yang diukur adalah persentase penyisihan zat organik (COD), VSS, pH, DO dan temperatur.
Pemeriksaan kandungan organik air buangan dilakukan pada influen dan efluen hasil
pengolahan, sehingga diperoleh persentase penyisihan.
Proses aklimatisasi dilakukan dengan rasio waktu yang sama dengan waktu running.
Proses ini dilakukan sampai didapatkan kandungan organik, pH, dan temperatur di dalam
reaktor cenderung konstan dengan fluktuasi yang tidak lebih dari 10%. Selama masa
aklimatisasi, penyisihan zat organik terus meningkat dan akhirnya relatif stabil. pH berada
dalam rentang yang masih dapat ditolerir oleh bakteri yaitu 7,5-8,5.
IV. PROSEDUR KERJA
1. Membuat substrat makanan dari glukosa 0,75 gram, KH2PO4 0,0547 gram dan KNO3
0,2705 gram membuat dalam 2 liter.
2. Membuat suspensi bibit mikroorganisme dengan memasukan segenggam tanah pada
air 2 liter.
3. Meletakkan suspensi dalam bak aerasi dan member aerasi sebagai sumber oksigen.
4. Memberi nutrisi mikroorganisme dengan substrat 400 ml, sebelum member nutrisi
diperiksa parameter TSS sebelum dan sesudah diberi substrat, mengukur pH dan suhu.
5. Memberi nutrisi selama setiap hari selama kurang lebih 5 hari.
V. DATA PENGAMATAN
Tabel 1 dengan jumlah sampel 40 ml

HARI pH SUHU BERAT BERAT TSS


(°C ) SEBELUM SESUDAH (mg/l)
(gram) (gram)
Senin (1) 6 28°C 56,0401 gr 56,5128 gr 11817,5 mg/l
(2) 6,5 28°C 47,7660 gr 48,2430 gr 11925 mg/l
Selasa 6 31°C 50,9774 gr 51,0335 gr 1402,5 mg/l
Rabu 6 30°C 56,8289 gr 56,8792 gr 1257,5 mg/l
Kamis 7 30°C - - -
Senin 7 30°C 40,2720 gr 40,3736 gr 2540 mg/l
VI. DATA PERHITUNGAN

Pembuatan Substrat
 Membuat 2 liter limbah dengan 400 mg/l BOD keperluan glukosa

2𝑥400𝑥180
𝐺𝑙𝑢𝑘𝑜𝑠𝑎 = 𝑚𝑔 = 750 𝑚𝑔 = 0,75 𝑔𝑟
192

 KNO3 yang dibutuhkan

3𝑥750𝑥101
𝐾𝑁𝑂3 = 𝑚𝑔 = 270,535 𝑚𝑔 = 0,2705 𝑔𝑟
60𝑥40

 KH2PO4 yang dibutuhkan

1𝑥750𝑥136
𝐾𝐻2 𝑃𝑂4 = 𝑚𝑔 = 54,838 𝑚𝑔 = 0,0548 𝑔𝑟
60𝑥31

Menghitung nilai TSS

Dengan :
C = Berat crussible + kertas saring + endapan (sesudah)
A = Berat crussible + kertas saring + (sebelum)

(𝐶 − 𝐴)
𝑇𝑆𝑆 = 𝑥106 𝑚𝑔/𝑙
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

 Senin, 14 Maret 2016


Sebelum diberi substrat

(56,5128 − 56,0401)𝑔𝑟
𝑇𝑆𝑆 = 𝑥106 𝑚𝑔⁄𝑙 = 11817,5 𝑚𝑔⁄𝑙
40 𝑚𝑙
Setelah diberi substrat

(48,2430 − 47,7660)𝑔𝑟
𝑇𝑆𝑆 = 𝑥106 𝑚𝑔⁄𝑙 = 1125 𝑚𝑔⁄𝑙
40 𝑚𝑙

 Selasa, 15 Maret 2016


Sebelum diberi substrat

(51,0335 − 50,9774)𝑔𝑟
𝑇𝑆𝑆 = 𝑥106 𝑚𝑔⁄𝑙 = 1402,5 𝑚𝑔⁄𝑙
40 𝑚𝑙

 Rabu, 16 Maret 2016


Sebelum diberi substrat

(56,8792 − 56,8289)𝑔𝑟
𝑇𝑆𝑆 = 𝑥106 𝑚𝑔⁄𝑙 = 1257,5 𝑚𝑔⁄𝑙
40 𝑚𝑙

 Senin, 21 Maret 2016


Sebelum diberi substrat

(40,3736 − 40,2720)𝑔𝑟
𝑇𝑆𝑆 = 𝑥106 𝑚𝑔⁄𝑙 = 2540 𝑚𝑔⁄𝑙
40 𝑚𝑙
VIII. ANALISA PERCOBAAN

Pada percobaan kali ini yaitu seeding dan aklimatisasi aerob yang bertujuan untuk
menghasilkan lumpur aktif untuk pengolahan limbah cair. Hal pertama yang dilakukan yaitu
seeding (pembenihan). Proses ini dilakukan untuk mengembangbiakkan mikroorganisme
sehingga didapatkan jumlah biomassa yang cukup untuk mengolah air limbah secara aerob.
Bahan yang digunakan adalah tanah hitam gembur karena diharapkan pada tanah tersebut
terdapat banyak mikroorganisme yang akan diisolasi dan dibiakkan. Tanah yang digunakan
hanya segenggam lalu diberi air kemudian diaduk hingga terbentuk suspensi itulah yang
digunakan untuk proses seeding.
Proses selanjutnya yaitu dengan melakukan aklimatisasi. Aklimatisasi aerob
merupakan pengadaptasian mikroorganisme terhadap air limbah yang akan diolah. Salah satu
hal yang terpenting dalam pengembangbiakkan mikroorganisme yaitu pengkondisian yang
akan diinginkan agar bakteri tetap bisa hidup. Adapun pendukung dalam pengkondisian ini
yaitu suhu, pH dan aerasi.
Sumber makanan yang didapatkan mikroorganisme agar dapat hidup dengan diberi
substrat setiap hari sebanyak 400 ml, dimana substrat tersebut mengandung senyawa karbon,
nitrogen dan fosfor. Pada percobaan yang kami lakukan suhu berkisar antara 28-31°𝐶. Selain
suhu pH perlu diperhatikan, pada percobaan yang kami lakukan dengan pH sekitar 6-7.
Pengaruh TSS dalam limbah cair termasuk dalam pengaruh dalam faktor fisika. Dari
hasil perhitungan dapat dilihat bahwa nilai TSS selalu berbanding lurus dengan jumlah
mikroba yang dibiakkan. Dengan demikian semakin tinggi nilai TSS maka semakin banyak
mikroba yang dibiakkan.
IX. KESIMPULAN

Setelah melakukan percobaan dapat disimpulkan bahwa:


1. Proses seeding dilakukan untuk mengembangbiakkan mikroorganisme sehingga
didapatkan biomassa yang cukup untuk mengolah air limbah.
2. Pada pembenihan secara aerob, oksigen yang didapatkan dari proses aerasi dengan
alat aerator.
3. aklimatisasi aerob digunakan untuk mengadaptasi atau mengisolasi mikroorganisme
terhadap air limbah dengan pemberian nutrisi yang sesuai dengan konsentrasi yang
mendekati air limbah.
4. Suhu, pH dan TSS mempengaruhi proses pembibitan.
5. pH didapatkan antara 6-7.
6. Suhu optimal 30°𝐶
7. Senin (14 Maret 2016) sebelum ditambah substrat = 11817,5 mg/l
Senin (14 Maret 2016) setelah ditambah substrat = 11925 mg/l
Selasa (15 Maret 2016) sebelum ditambah substrat = 1402 mg/l
Rabu (16 Maret 2016) sebelum ditambah substrat = 1257,5 mg/l
Senin (21 Maret 2016) sebelum ditambah substrat = 2540 mg/l
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2016. Penuntun Praktikum Teknik Pengolahan Limbah.Palembang:


Politeknik Negeri Sriwijaya.

https://id.wikipedia.org/wiki/Aklimatisasi
GAMBAR ALAT

Gelas kimia Desikator

Erlenmeyer neraca analitik

Kaca arloji Corong


Spatula pengaduk

Bola karet cawan penguapan

Aerator Oven

Penjepit