Anda di halaman 1dari 3

Nama: Rio Pratama

NIM: 155120500111029

Kelas:

Mata Kuliah:

Tugas: Jelaskan Posisi Masyarakat Sipil dalam Governance

Dalam penentuan aktor yang merepresentasikan masyarakat sipil kali ini, penulis
mengangkat kasus dari Reklamasi Teluk Benoa. Pemerintah Bali mengakomodir semangat
investasi di pulau Bali dengan mengeluarkan Surat Keputusan bernomor: 2138/02-
C/HK/2012 tentang izin dan hak pemanfaatan dan pengembangan Teluk Benoa kepada PT.
Tirta Wahana Bali Internasional (PT. TWBI) seluas 838 ha. Lokasi reklamasi direncanakan di
wilayah pasang surut yang berbatasan langsung dengan Pelabuhan Laut Benoa di Utara, Desa
Tanjung Benoa dan Desa Tengkulung di sisi Timur, Desa Bualu di sebelah Selatan, dan Desa
Jimbaran di sisi Barat. Secara lebih spesifik, wilayah yang disediakan untuk investasi ini
menyasar kawasan Pulau Pudut yang terletak di sisi Timur Tanjung Benoa yang berjarak
sekitar 35 kilometer (km) dari Denpasar, ibukota provinsi Bali, dan 5 km dari kawasan Nusa
Dua (Asdhiana: 2013).

Untuk pengerjaan proyek reklamasi Teluk Benoa, Artha Graha Network, sebagai
induk perusahaan PT. Tirta Wahana Bali Internasional mengganggarkan biaya sebesar 30
triliun rupiah (Qatiat: 2013). PT. Tirta Wahana Bali Internasional, mengajukan proposal
kepada pemerintah daerah Bali bahwa hasil reklamasi akan digunakan sebagai kawasan
pariwisata terpadu. Kawasan tersebut mencakup penghijauan, tempat ibadah, taman budaya,
taman rekreasi (sekelas Disneyland), fasilitas sosial dan umum, rumah sakit, perguruan
tinggi, perumahan marina yang memungkinkan kapal atau yacht pribadi bersandar,
apartemen, hotel, gedung multifungsi, pusat perbelanjaan, dan fasilitas olahraga seperti
lapangan golf. Selain itu, ada juga rencana pembangunan sirkuit F1 internasional di daerah
Pulau Pudut (bisnis.com: 2013). Gubernur Bali mengeluarkan keputusan berdasarkan
pertimbangan bahwa Bali merupakan daerah tujuan wisata dunia yang memiliki daya dukung
alam terbatas. Selain itu bahwa Bali merupakan daerah yang rawan bencana, khususnya
tsunami, gubernur kemudian beranggapan bahwa pengelolaan dan pemanfaatan perairan
Teluk Benoa merupakan salah satu solusi alternatif pemecahan masalah.
Namun sejak SK Gubernur diketahui oleh masyarakat luas. Muncul penolakan dari
berbagai komponen masyarakat. Penolakan datang terutama dari kalangan adat, agama,
akademisi, aktivis lingkungan, dan penggiat seni. Alasan penolakan yang berkembang di
masyarakat berkaitan dengan agama, sosial-budaya, politik, dan ekonomi.

Selain karena proses penerbitan izinnya secara diam-diam, dan manipulatif,


penerbitan izin tersebut juga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di atasnya,
yaitu Perpres No 45 Thn 2011 tentang tata ruang kawasan perkotaan Sarbagita, di mana
kawasan teluk benoa termasuk kawasan konservasi; serta Perpres No 122 Thn 2012 tentang
Reklamasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang melarang reklamasi dilakukan di
kawasan konservasi. Di akhir masa jabatannya sebagai Presiden, SBY mengeluarkan Perpres
No.51 Thn 2014 Tentang Perubahan Atas Perpres No 45 Thn 2011 Tentang Rencana Tata
Ruang Kawasan Perkotaan SARBAGITA yang intinya mengubah status konservasi Teluk
Benoa menjadi zona penyangga atau kawasan pemanfaatan umum. Penerbitan Perpres No 51
Thn 2014 menghapuskan pasal-pasal yang menyatakan Teluk Benoa adalah kawasan
konservasi sebagaimana yang disebutkan di dalam pasal 55 ayat 5 Perpres No 45 Thn 2011
serta mengurangi luasan kawasan konservasi perairan dengan menambahkan frasa “sebagian”
pada kawasan konservasi Pulau Serangan dan Pulau Pudut. Hal tersebut menyebabkan
kawasan konservasi di wilayah SARBAGITA menjadi berkurang luasannya. Perpres No 51
Thn 2014 lahir hanya untuk mengakomodir rencana reklamasi Teluk Benoa seluas 700 ha.
Pasca penerbitan Perpres 51 tahun 2014 kemudian PT. Tirta Wahana Bali International (PT.
TWBI) juga mengantongi izin lokasi reklamasi nomor 445/MENKP/VIII/2014 dari Menteri
Kelautan dan Perikanan di kawasan perairan Teluk Benoa yang meliputi Kabupaten Badung
dan Kota Denpasar Provinsi Bali seluas 700 hektar

Di saat transisi pemerintahan dari SBY ke Jokowi, kaum investor rakus yang tak
mengenal kata kenyang dalam hidupnya terus menggelontorkan kekuatan uang dan
pengaruhnya demi memenuhi ambisi mereka mengambil alih danmengubah kawasan
konservasi lingkungan Teluk Benoa menjadi arena wisata massal. Taktik “Greenwashing”
atau praktik penghisapan alam berkedok penyelamatan lingkungan terus digembar-
gemborkan oleh pemodal serakah yang menganggap uang adalah segalanya.

Mereka membeli semua akses sosial media untuk menggencarkan usahanya


mencaplok kawasan konservasi Teluk Benoa yang bernilai sempurna ini. Semua upaya
mengelabui publik dengan mengubah kata “reklamasi” dengan “revitalisasi” disebarkan
secara bertubi-tubi. Rakyat Bali yang mayoritas menolak mega proyek pemaksaan kehendak
penguasa dan pemodal ini tentu saja tidak tinggal diam.

Kini, kekuatan uang dan kekuasaan berhadap-hadapan langsung dengan people’s


power atau kekuatan rakyat. Solidaritas perlawanan terhadap megaproyek yang disetir oleh
pusat Jakarta ini terus bergema dan meluas. Bukan saja di Bali tapi di-seantero nusantara
bahkan bergaung hingga ke manca-negara. Ratusan Baliho, spanduk, bendera atau apapun
bentuk konkrit aspirasi penolakan terus berkibar di seluruh distrik (8 kabupaten dan 1
kotamadya) di Bali.

Pihak pro dan kontra terhadap reklamasi Teluk Benoa menjadi fenomenasosial di
masyarakat. Salah satu pihak yang menolak membentuk sebuah forumyaitu ForBALI adalah
aliansi masyarakat sipil Bali lintas sektoral yang terdiri dari lembaga dan individu baik
mahasiswa, LSM, seniman, pemuda, musisi, akademisi,dan individu-individu yang peduli
lingkungan hidup dan mempunyai keyakinanbahwa reklamasi Teluk Benoa adalah sebuah
kebijakan penghancuran Bali. Aliansiini menolak keras tentang reklamasi karena dampak
negatif yang dihasilkan serta minimnya partisipasi publik dalam terbitnya Perpres 51 tahun
2014.