Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang berkaitan erat
dengan produk dan pelayanan produk untuk kesehatan. Dalam sejarahnya, pendidikan
tinggi farmasi di Indonesia dibentuk untuk menghasilkan apoteker sebagai
penanggung jawab apotek, dengan pesatnya perkembangan ilmu kefarmasian maka
apoteker atau dikenal pula dengan sebutan farmasis, telah dapat menempati bidang
pekerjaan yang makin luas. Apotek, rumah sakit, lembaga pemerintahan, perguruan
tinggi, lembaga penelitian, laboratorium pengujian mutu, laboratorium klinis,
laboratorium forensik, berbagai jenis industri meliputi industri obat, kosmetik-
kosmeseutikal, jamu, obat herbal, fitofarmaka, nutraseutikal, health food, obat
veteriner dan industri vaksin, lembaga informasi obat serta badan asuransi kesehatan
adalah tempat-tempat untuk farmasis melaksanakan pengabdian profesi kefarmasian.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka dirumuskan masalah yaitu apa
peranan farmasi di pemerintahan khususnya di bidang kepolisian

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah ingin mengetahui tentang
peranan farmasi di pemerintahan khususnya di bidang kepolisian

1
BAB II
PEKERJAAN KEFARMASI KEPOLISIAN

2.1. Sejarah Farmasi Kepolisian

Bagian Farmasi Kepolisian merupakan bagian dari organisasi Satuan Kerja


(Satker) Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri yang bertugas
melaksanakan kegiatan kefarmasian Kepolisian dalam rangka mendukung
pelaksanaan tugas pelayanan kesehatan dan dukungan operasional Polri.
Awal terbentuknya Bagian Farmasi Kepolisian adalah dengan
diresmikannya Apotek Pusat Polri yang bertempat di Rumah Sakit (RS) Polri
Kramat Jati pada tanggal 19 Mei 1966. Selanjutnya, tanggal 19 Mei dijadikan Hari
Lahir Bagian Farmasi Kepolisian. Keberadaan apotek tersebut merupakan cikal
bakal berdirinya pabrik obat dan laboratorium kefarmasian di lingkungan Polri.
Selanjutnya pada akhir tahun 1970, dibuka cabang Apotek Pusat Polri di RS Polri
Kramat Jati Jakarta Timur.
Pada bulan Maret 1976 dibangun gedung di komplek Rumah Sakit tersebut
suatu Unit Produksi Obat melalui Surat Keputusan (Skep) Kapolri No. Pol :
Skep/50/VII/1977. Pada tanggal 1 Juli 1977 Apotek Pusat dan Unit Produksi Obat
secara struktural digabungkan menjadi Lembaga Farmasi Polri (Lafipol).
Pada tahun 1980 Lafipol berkembang dengan menambah produksi sediaan
obat jenis tablet, kapsul, cairan/sirup, salep/krim. Mengingat Lafipol terus
berkembang dan memerlukan tempat yang lebih proporsional maka tanggal 14
September 1993 Lafipol menempati gedung baru di Jl. Cipinang Baru Raya 3B.
Bersama dengan itu Lafipol mulai mengajukan permohonan sertifikat Cara
Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) kepada Direktorat Jenderal Pengawasan Obat
dan Makanan (Ditjen POM) Depkes RI.

2
Pada tahun 1993 sampai tahun 2000 secara bertahap Lafipol merenovasi
gedung/bangunan produksi, melengkapi peralatan mesin-mesin produksi, membuat
protap-protap pelaksanaan produksi dan pendukungnya dengan maksud untuk
memenuhi persyaratan CPOB yang diwajibkan oleh Ditjen POM Depkes RI sebagai
Industri Farmasi. Pada tanggal 17 Nopember 2000 Lafipol secara resmi menerima
10 sertifikat dari Ditjen POM Depkes RI.
DITJEN POM DEPKES RI, diantaranya :
1. Sediaan Tablet Biasa Non Antibiotika
2. Sediaan Tablet Salut Non Antibiotika
3. Sediaan Kapsul Keras Non Antibiotika
4. Sediaan Cairan Oral Non Antibiotika
5. Sediaan Salep / Krim / Gel Non Antibiotika
6. Sediaan Tablet Biasa Antibiotika
7. Sediaan Tablet Salut Antibiotika
8. Sediaan Kapsul Keras Antibiotika
9. Sediaan Cairan Oral Antibiotika
10. Sediaan Salep / Krim / Gel Antibiotika
Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Kapolri No. 53 Tahun 2002 tanggal 17
Oktober 2002 lampiran “K” tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusdokkes Polri,
nama Lafipol berubah menjadi Bidang Farmasi Kepolisian (Bidfipol). Dan pada
akhirnya, berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 21 tahun 2010 tanggal 14
September 2010 Bidfipol secara resmi berubah nama menjadi Bagian Farmasi
Kepolisian (Bagfarmapol).

2.1.1. Visi Bagian Farmasi Kepolisian

Produk berkualitas terbaik adalah tujuan kami.

3
2.1.2. Misi Bagian Farmasi Kepolisian

1. Penyelenggaraan Fungsi Farmasi Kepolisian di seluruh jajaran


Kedokteran dan Kesehatan Polri dari tingkat Pusat sampai tingkat Polres
yang mampu mendukung tugas operasional kepolisian yang berkaitan
dengan bidang kefarmasian.
2. Memberikan dukungan terhadap tugas pokok Polri dalam memelihara
keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum serta
melindungi dan mengayomi masyarakat dari peredaran yang produk-
produk farmasi illegal/palsu/substandar
3. Memberikan asistensi terhadap permasalahan yang berkaitan dengan
produk farmasi yang meliputi obat, makanan, minuman dan kosmetika
kepada jajaran operasional Polri yang membutuhkan.
4. Menjadi Pusat Rujukan Farmasi Kepolisian.
5. Pembuatan database Produk Farmasi ilegal/palsu/substandard.
6. Melaksanakan pembinaan terhadap fungsi Farmasi Kepolisian di jajaran
Kedokteran dan Kesehatan Polri seluruh Indonesia.
7. Memproduksi Peralatan Kesehatan dan Bahan Kimia tertentu untuk
mendukung tugas operasional kepolisian.
8. Memproduksi obat-obatan berkualitas terbaik untuk mendukung
pelayanan kesehatan bagi masyarakat Polri beserta keluarganya.

2.1.3. Motto Bagian Farmasi Kepolisian

Bersama kita tingkatkan kinerja dan kualitas produk yang lebih baik.

4
2.2. Tugas Pokok dan Fungsi Farmasi Kepolisian

Dasar :

1. PERPRES No. 52 Tahun 2010 Tgl. 4 Agustus 2010 tentang OTK Polri
2. PERKAP No. 21 Tahun 2010 Tgl. 14 Sept 2010 OTK Tkt Mabes Polri
3. KEP KAPUSDOKKES POLRI No. KEP/ 242 / XII / 2010, Tgl. 10-12
2010 tentang Arah Bijak (Grandstra) Dokkes Polri Tahun 2010 - 2025

Bagian Farmasi Kepolisian bertugas membina dan menyelenggarakan


kegiatan Farmasi Kepolisian di tingkat Pusat dan Kewilayahan untuk mendukung
tugas pokok kepolisian yang berkaitan dengan kefarmasian, penelitian,
pengembangan dan memproduksi perangkat kesehatan, obat obatan dan bahan kimia
tertentu yang diperlukan dalam tugas kepolisian, pendidikan dan pelatihan serta
penelitian dan pengembangan fungsi Farmasi Kepolisian.
Dalam melaksanakan tugas, Bagian Farmasi Kepolisian menyelenggarakan
fungsi :
1. Menyelenggarakan fungsi Farmasi Kepolisian di seluruh jajaran Dokkes Polri
dari Pusat sampai tingkat Polres, yang mampu melaksanakan tugas operasional
Kepolisian yang berkaitan dengan Kefarmasian.
2. Memberikan dukungan teknis pada penyelidikan dan penyidikan pada tindak
pidana yang berkaitan dengan produk farmasi (meliputi obat-obatan, makanan,
minuman, kosmetika dan obat tradisional) maupun yang berkaitan dengan limbah
farmasi.
3. Memberikan saran informasi termasuk sebagai Saksi Ahli berkaitan dengan
tindak pidana yang berkaitan dengan produk kefarmasian.
4. Melaksanakan dukungan terhadap tugas-tugas operasional Kepolisian baik
langsung maupun tidak langsung, yang berkaitan dengan produk-produk

5
kefarmasian (meliputi obat-obatan, makanan, minuman, kosmetika dan obat
trasidional) maupun yang berkaitan dengan limbah farmasi.
5. Melaksanakan pemeriksaan terhadap produk farmasi hasil pelaksanaan
operasional Kepolisian atas permintaan pihak yang berkepentingan.
6. Penyelenggaraan pembinaan fungsi teknis Farmasi Kepolisian terhadap seluruh
jajaran Kedokteran dan Kesehatan Polri maupun fungsi terkait, baik di tingkat
Pusat maupun di Kewilayahan.
7. Memproduksi perangkat kesehatan (seperti Kit Narkotika, Kit Prekursor,
Kit Food Security dan lainnya) untuk mendukung pelaksanaan tugas operasional
Kepolisian.
8. Mengembangkan sarana dan prasarana Farmasi Kepolisian yang modern untuk
memproduksi obat-obatan, perangkat kesehatan dan bahan kimia tertentu yang
berkualitas tinggi untuk mendukung pelaksanaan tugas operasional Kepolisian.
9. Melakukan penelitian dan pengembangan terhadap obat-obatan,perangkat
kesehatan, dan bahan kimia tertentu yang akan dipergunakan dalam tugas
operasional Kepolisian
10. Melaksanakan kerjasama dengan instansi terkait, baik di dalam maupun di luar
lingkungan Polri serta hubungan internasional dalam rangka pengembangan
fungsi Farmasi Kepolisian maupun pengembangan produk-produk farmasi yang
dipergunakan dalam tugas operasional Kepolisian

Dalam melaksanakan tugas, Bagian Farmasi Kepolisian dibantu oleh :


1. Sub Bagian Produksi, disingkat Subbagprod yang bertugas menyelenggarakan
kegiatan produksi obat, bekal kesehatan, perangkat kesehatan dan bahan kimia
tertentu yang diperlukan dalam rangka kegiatan dukungan tugas Kepolisian.
2. Sub Bagian Pengawasan Mutu, disingkat Subbagwastu, yang bertugas
menyelenggarakan kegiatan pengawasan mutu atas obat-obatan dan bahan baku
pengadaan maupun produksi dan limbah Bagian Farmasi Kepolisian,

6
pemeriksaan produk farmasi hasil pelaksanaan tugas operasional Kepolisian di
bidang kefarmasian.
3. Sub Bagian Teknis Farmasi Kepolisian, disingkat Subbag Tekfarmapol, yang
bertugas menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan serta penelitian
dan pengembangan fungsi Farmasi Kepolisian serta pembinaan kemampuan
kefarmasian di Pusat dan Kewilayahan.

2.3. Kedudukan & Tugas Bagian Farmasi Kepolisian

Kedudukan dan tugas dari Bagian Farmasi Kepolisian adalah sebagai berikut :

1. Pembinaan dan penyelenggaraan kegiatan farmasi kepolisian diseluruh


jajaran Kedokteran Kesehatan (DOKKES) POLRI sampai dengan tingkat
Polres
2. Penyelenggaraan kegiatan produksi obat untuk dukungan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat POLRI dan keluarga
3. Penyelengaraan kegiatan prodoksi peralatan untuk dukungan operasional
tugas kepolisian
4. Pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan fungsi kefarmasian
5. Dukungan operasional kepolisian

2.4. Kebijakan Bagian Farmasi Kepolisian

Kebijakan dari Bagian Farmasi Kepolisian adalah :

1. Penggelaran fungsi kepolisian diseluruh wilayah atau jajaran DOKKES


POLRI
2. Dukung pelayanan kesehatan melalui produksi obat-obatan yang
berkualitas tinggi untuk kebutuhan masyarakat POLRI dan keluarga
3. Dukung pelaksanaan dan tugas operasional kepolisian melalui :

7
a. Dukungan langsung = Turut serta dalam operasional kepolisian dibidang
farmasi
b. Dukungan tidak langsung melalui produksi peralatan kesehatan khusus
untuk dukung tugas operasional kepolisian, seperti KIT NARKOTIKA,
KIT FOOD SECURITY, dan lain-lain

4. Sebagai pusat rujukan fungsi farmasi kepolisian


5. Sebagai pembina fungsi farmasi kepolisian diseluruh jajaran DOKES
POLRI
6. Senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi Bagian Farmasi
Kepolisian

2.5. Peran Tugas Pokok Fungsi

Berdasarkan UU No. 2 /2002/ tugas pokok fungsi polisi meliputi :

1. Pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat


2. Penegakan hukum
3. Pelindung dan pengayoman masyarakat

2.6. Bentuk Pelaksanaan Tugas Fungsi Bagian Farmasi Kepolisian Di


Kewilayahan

1. Melakukan penyuluhan tentang produk kefarmasian (obat, obatan,


makanan, minuman & kosmetika) yang memenuhi persyaratan DEPKES
RI dan BPOM RI.
2. Melakukan koordinasi dan memberikan masukan kepada satuan intel
polda/polres dalam rangka penyelidikan adanya peredaran dan infiltrasi
produk farmasi ilegal dan atau yang tidak penuhi persyaratan DEPKES RI
dan BPOM RI.

8
3. Melakukan koordinasi dan memberikan masukan kepada reskrim
polda/polres dalam rangka penyelidikan dan sidik kasus yang berkaitan
dengan produk farmasi ilegal dan atau tidak penuhi persyaratan DEPKES
RI dan BPOM RI.

2.7. Struktur Organisasi Bagian Farmasi Kepolisian

Bagian Farmasi Kepolisian secara struktural berkedudukan di bawah dan


bertanggungjawab langsung kepada Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri
dan dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari di bawah kendali Sespusdokkes Polri.
Dalam melaksanakan tugasnya Kabagfarmapol dibantu oleh :
1. Kepala Subbagian Teknis Farmasi Kepolisian (Kasubbag Tekfarmapol)
2. Kepala Subbagian Produksi (Kasubbag Produksi)
3. Kepala Subbagian Pengawasan Mutu (Kasubbag Wastu)

9
4. Kepala Urusan Administrasi (Ka Urmin)
5. Pamin
6. Paur

 Subbagprod, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan produksi obat, bekal


kesehatan, perangkat kesehatan dan bahan kimia tertentu yang diperlukan dalam
rangka kegiatan dukungan tugas kepolisian dan pelayanan kesehatan.
 Subbagwastu, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan pemeriksaan,
penelitian dan pengawasan mutu atas obat-obatan dan bahan baku pengadaan
maupun produksi dan limbah Bagfarmapol.
 Subbagtekfarmapol, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan
pelatihan serta penelitian dan pengembangan fungsi farmasi Kepolisian serta
pembinaan kemampuan kefarmasian di pusat dan kewilayahan.

2.8. Langkah – langkah yang telah dilaksanakan dalam rangka peningkatan


kualitas produksi

1. Meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia Bagian Farmasi


Kepolisian melalui :
 Inhousing training
 Outhousing training
 Mendatangkan konsultan
2. Melakukan reformasi formulasi
3. Melaksanakan “ISO-Like” terhadap Laboratorium pengawasan mutu
Bagian Farmasi Kepolisian pada 2010, dalam rangka persiapan pengajuan
ISO-17025 pada 2011.
4. Penyempurnaan Laboratorium Mikrobiologi untuk analisis setiap obat
yang diproduksi, termasuk cemaran mikroba pada setiap sarana dan
prasarana produksi.

10
5. Senantiasa melakukan uji terhadap obat-obat retensi atas stabilitas
kualitasnya.
6. Melakukan berbagai modifikasi peralatan produksi,dalam rangka :
 Mendekati standar Cara Pembuatan Obat yang Baik terkini
(pelapisan peralatan dengan stainless steel)
 Meningkatkan kualitas produksi
7. Melakukan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi farmasi dan
beberapa instansi dalam rangka kesatuan ilmu kefarmasian untuk
melaksanakan kegiatan obat & peralatan dukungan operasi kepolisian.

2.9. Produksi Bagian Farmasi Kepolisian

Selain fungsi yang telah disebutkan, Bagian Farmasi Kepolisian juga dapat
memproduksi obat-obatan yang hanya dapat dikonsumsi oleh ruang lingkup
Bagfarmapol dan keluarganya. Obat-obatan yang diproduksi tidak diedarkan ke
masyarakat yang lebih luas.

Pada proses pembuatannya, Bagian Farmasi Kepolisian telah mendapatkan 10


sertifikat CPOB dalam pembutan sediaan farmasi. Dimana CPOB ini menyangkut
seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu, yang bertujuan untuk menjamin
bahwa produk obat yang dibuat senantiasa memenuhi persyaratan yang telah
disesuaikan sesuai dengan penggunaan. Hal ini dapat dilihat dari tata ruang,
kelengkapan alat produksi, tata cara produksi sampai ke personalia yang bekerja di
dalamnya.

Untuk mendukung produksi, Bagian Farmasi Kepolisian dilengkapi oleh sarana yaitu:

1. Gudang bahan baku, tempat disimpannya bahan baku yang akan digunakan,
dimana keadaannya disesuaikan dengan sifat fisik dari bahan baku tersebut.

11
2. Quality control, dilakukan pengujian sampling. Hal ini dilakukan untuk
menentukan apakah bahan baku tersebut layak untuk digunakan atau tidak dalam
sediaan farmasi. Jika bahan baku tersebut layak untuk digunakan maka akan
diberi stiker berwarna hijau.
3. Alat mixing, Digunakan untuk pencampuran bahan pada pembuatan sirup OBH.
4. filling machine (mesin pengisi), mesin pengisi adalah alat yang digunakan untuk
memasukkan sediaan yang telah jadi ke dalam botol dimana setiap botolnya
memiliki takaran yang sama dilakukan bahan baku yang kemudian sediaan yang
telah jadi dimasukan kedalam botol yang telah disediakan. Setelah di tempatkan
ke dalam wadah, sediaan tersebut diuji dengan beberapa pengujian misalnya pada
uji mikrobiologi.
5. Penyaringan air, dimana untuk air yang digunakan dalam sistem produksi
tersebut merupakan air yang telah disaring melalui 3 tabung. Tabung pertama
diisi dengan karbon aktif, yang kedua diisi dengan kation dan yang ketiga diisi
dengan anion. Sehingga air yang digunakan memang benar-benar air yang tidak
mengandung mineral lagi.
6. Mesin cetak tablet, dalam pembuatan tablet dilakukan sesuai dengan prosedur
yang ditetapkan. Setelah pemilihan bahan baku yang baik dan sesuai standar,
kemudian dilakukan pencampuran bahan baku dengan menggunakan mesin
pencampur dan dilanjutkan sampai sediaan tersebut berbentuk tablet yang dapat
dicetak dengan mesin cetak yang telah tersedia Setelah dicetak, sediaan tersebut
kemudian dikemas dengan strip atau dengan blister.
7. Alat proses pengolahan limbah, Inceneration adalah alat untuk
menghancurkan limbah berupa pembakaran dengan kondisi
terkendali. Limbah dapat terurai dari senyawa organik menjadi senyawa
sederhana seperti CO2 dan H2O. Incenerator efektif terutama untuk buangan
organik dalam bentuk padat, cair, gas, lumpur cair dan lumpur padat. Proses ini
tidak biasa digunakanlimbah organik seperti lumpur logam berat (heavy metal
sludge) dan asam anorganik.

12
2.10. Sistem Pengolahan Limbah
Sistem pengolahan limbah pada Bagian Farmasi Kepolisian, terdiri atas 5 bak
dimana pada bak pertama terdapat baling –baling sebagai pengelolah limbah dalam
bentuk air sedangkan limbah dalam bentuk serbuk akan disedot oleh penyedot udara
dan ditangkap oleh partikel-partikel air (aerosol) dan akan mengendap. Limbah baru
akan dikeluarkan ke lingkungan sekitar bila limbah tersebut sudah dinyatakan ramah
lingkungan.

 Limbah Padat
Sumber pencemaran limbah padat berasal dari debu atau serbuk obat dari
sistem pengendali debu (dust collector), kertas, karton, plastik bekas, botol,dan
aluminium foil. Adapun yang menjadi tolak ukur dampak limbahpadat SK Men LH
No.50/MENLH/1995 tentang baku mutu tingkat kebauan lingkungan pabrik yang
bersih, tidak berbau, sampah tertata rapih.
Upaya pengelolaan limbah padat :

1. Sampah domestik dibuatkan tempat sampah


2. Sisa-sisa kertas, karton, plastik dan aluminium foil dikumpulkan kemudian dijual
ke pengumpul sampah (perusahaan daur ulang sampah)
3. Debu/sisa serbuk obat, obat rusak / kadaluarsa

 Limbah Cair

Sumber pencemaran limbah cair berasal dari bekas cucian peralatan produksi,
laboratorium, kamar mandi/WC, bekas reagensia dilaboratorium dan lain-lain.
Dengan selalu dilakukan pemantauan kualitas badan air permukaan inlet dan outlet
saluran limbah, yang meliputi COD,BOD, pH, TSS, N total serta parameter lain
termasuk indikator biologis mikrobiologi dan kualitas badan sungai sebelum dan
sesudah outlet IPAL.
Upaya pengelolaan limbah cair :

13
1. Pembuatan saluran drainase sesuai dengan sumber limbah :
a. Saluran air hujan langsung dialirkan ke selokan umum
b. Saluran dari kamar mandi/WC langsung dialirkan ke septic tank
c. Saluran dari tempat pencucian alat-alat/sisa produksi danlaboratorium
dialirkan ke IPAL2.
2. Membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
3. Khusus untuk limbah cair yang berasal dari golongan β laktam sebelum
dicampur dengan limbah non β laktam, sebaiknyaditambahkan NaOH untuk
memecah cincin β laktam.

 Limbah Gas
Sumber pencemaran limbah gas/udara berasal dari debu selama proses
produksi, uap lemari asam di laboratorium, generator listrik dan incenerator. Adapun
yang menjadi tolak ukur dampak limbah gas adalah SK MenLHNo.13/MENLH/1995
tentang baku mutu emisi sumber tidak bergerak. Pemantauan kualitas udara didalam
dan diluar lingkungan industri,meliputi H2S, NH3, SO2, CO, NO2, O2, TPS (debu) dan Pb.
Upaya pengelolaan limbah gas :
1. Lemari asam dilengkapi dengan exhaust fan dan cerobong asap ± 6 myang dilengkapi
dengan absorbent.
2. Solvent di ruang coating digunakan dust collector (wet system)
3. Debu disekitar mesin produksi dipasang penyedot debu dan dust collector unit
4. Asap dari genset dan incenerator dibuat cerobong asap ± 6 m

 Limbah Suara
Sumber pencemaran limbah suara berasal dari suara dan getarandari mesin-
mesin pabrik, genset dan steam boiler dengan pemantauan angka kebisingan dan
getaran di dalam/diluar area pabrik. Nilai kebisingan max 65 dB dan getaran max 7,5
Hz.Upaya pengelolaan limbah suara atau getaran :

14
1. Untuk menanggulangi kebisingan yang ditimbulkan oleh genset,dibuat ruangan
berdinding dua (double cover) dan dilakukanperawatan mesin secara berkala.
2. Untuk menaggulangi getaran yang ditimbulkan oleh mesin genset danmesin-
mesin lain, mesin-mesin ditempatkan pada lantai yang telahdicor beton dan
diberi penguat (pengunci antara mesin dan lantai).

15
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

3.2. Saran

16
DAFTAR PUSTAKA

http://orientasi-bidang-studi-ke-bagfarmapol.html
http://laporanobs.blogspot.co.id/2012/01/laporan-obs-bagfarmapol-bpom.htmls

17