Anda di halaman 1dari 8

KAJIAN PROMOSI GIZI DALAM RANGKA

PENANGGULANGAN MASALAH GIZI


KEP (KURANG ENERGI PROTEIN)
BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Syarat Dalam Penyelesaian Praktikum Mata
Kuliah Pemberdayaan Masyarakat dalam Promosi Gizi

Disusun oleh :

Anida Lathifah (P07131115003)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA

JURUSAN GIZI

2017
A. Pengertian
Kekurangan energi protein adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan
oleh rendahnya konsumsi energy dan protein dalam makanan sehari-hari
sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) (Depkes, 1999).
Malnutrisi energi protein adalah seseorang yang kekurangan gizi yang
disebabkan oleh konsumsi energi protein dalam makanan sehari-hari atau
gangguan penyakit tertentu. (Suparno, 2000).
Kekurangan energi protein adalah suatu sindroma penyakit gizi yang
disebabkan oleh defisiensi zat-zat makanan atau nutrient terutama protein
dan kalori. (Naziruddin, 1998).
Klasifikasi kurang energi protein menurut Departement Kesehatan RI,
1999:
a. KEP ringan bila hasil penimbangan berat badan pada KMS pada pita
warna kuning.
b. KEP sedang bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak di
bawah garis merah (BBM).
c. KEP berat / gizi buruk bila hasil penimbangan BB / 4 < 60% baku
median WHO – NCNS.
Pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat / gizi buruk dan KEP
sedang, sehingga untuk menentukan KEP berat / gizi buruk digunakan
table BB / 4 baku median WHO - NCNS.

B. Bentuk kegiatan
1. Revitalisasi Posyandu
Revitalisasi Posyandu bertujuan untuk meningkatkan fungsi dan
kinerja Posyandu terutama dalam pemantauan pertumbuhan balita.
Pokok kegiatan revitalisasi Posyandu meliputi;
a. Pelatihan/orientasi petugas Puskesmas, petugas sektor lain dan
kader yang berasal dari masyarakat
b. Pelatihan ulang petugas dan kader
c. Pembinaan dan pendampingan kader
d. Penyediaan sarana terutama dacin, KMS/Buku KIA, panduan
e. Posyandu, media KIE, sarana pencatatan
f. Penyediaan biaya operasional
g. Penyediaan modal usaha kader melalui Usaha Kecil Menengah
(UKM) dan mendorong partisipasi swasta.
2. Revitalisasi Puskesmas
Revitalisasi Puskesmas bertujuan meningkatkan fungsi dan kinerja
Puskesmas terutama dalam pengelolaan kegiatan gizi di Puskesmas,
baik penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan maupun upaya
kesehatan masyarakat. Pokok kegiatan revitalisasi Puskesmas meliputi;
a. Pelatihan manajemen program gizi di puskesmas bagi pimpinan
dan petugas puskesmas dan jaringannya
b. Penyediaan biaya operasional Puskesmas untuk pembinaan
posyandu, pelacakan kasus, kerjasama LS tingkat kecamatan, dll
c. Pemenuhan sarana antropometri dan KIE bagi puskesmas dan
jaringannya
d. Pelatihan tatalaksana gizi buruk bagi petugas rumah sakit dan
puskesmas perawatan
3. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa MP-ASI bagi anak 6-23
bulan dan PMT pemulihan pada anak 24-59 bulan kepada balita gizi
kurang dari keluarga miskin
4. Promosi keluarga sadar gizi melalui penyuluhan gizi untuk keluarga.
5. Pemberdayaan keluarga
Pokok kegiatan pemberdayaan keluarga meliputi;
a. Pemberdayaan dibidang ekonomi; Modal usaha, industri kecil,
Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga (UPPK), Peningkatan
Pendapatan Petani Kecil.
b. Pemberdayaan di bidang pendidikan; Bea siswa, Kelompok
belajar, Pendidikan anak dini usia.
c. Pemberdayaan di bidang kesehatan; Penyelenggaraan pos gizi (Pos
Pemulihan Gizi berbasis masyarakat), Kader keluarga, Penyediaan
percontohan sarana air minum dan jamban keluarga.
d. Pemberdayaan di bidang ketahanan pangan; Pemanfaatan
pekarangan dan lahan tidur, Lumbung pangan, Padat karya untuk
pangan, Beras untuk keluarga miskin.
6. Advokasi dan pendampingan dari pemerintah yaitu diskusi dan rapat
kerja dengan DPR, DPD, dan DPRD secara berkala serta melakukan
pendampingan di kabupaten.
7. Revitalisasi Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
Memfungsikan sistem isyarat dini dan intervensi, serta pencegahan
KLB dengan:
a. Memfungsikan sistem pelaporan, diseminasi informasi dan
pemanfaatannya
b. Penyediaan data gizi secara reguler (pemantauan status gizi, untuk
semua kelompok umur, pemantauan konsumsi gizi, analisis data
Susenas)

C. Peran pemerintah
1. Membina
Dengan melakukan pembinaan kader-kader Posyandu, tokoh
masyarakat melalui pelatihan kader yang dibantu oleh tenaga
kesehatan dari Puskesmas. Selain itu juga dilakukan penyuluhan gizi
yang diberikan kepada kader gizi yang ada dikelurahan setempat dan
masyarakat setempat. Penyuluhan gizi dilakukan minimal tiga kali
dalam satu bulan, penyuluhan gizi dilakukakan dikelurahan dan
dipuskesmas tiap kecamatan.
2. Memfasilitasi
Peran sebagai fasilitator yaitu pemerintah bertanggung jawab dalam
pembuatan system pelayanan kesehatan masyarakat yang berkualitas
yang dapat diakses dengan mudah terutama oleh masyarakat miskin.
D. Peran masyarakat
1. Keluarga
a. Membawa anak untuk ditimbang di posyandu secara teratur
b. Ibu memberikan ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan
c. Ibu tetap memberikan ASI pada anak sampai usia 2 tahun
d. Ibu memberikan MP-ASI sesuai usia dan kondisi kesehatan anak
dan sesuai anjuran pemberian makanan
e. Ibu memberikan makanan beraneka ragam bagi anggota keluarga
lainnya
f. Ibu segera memberitahukan pada petugas kesehatan/kader bila
balita mengalami sakit atau gangguan pertumbuhan
2. Kader
a. Kader melakukan penimbangan balita setiap bulan di posyandu
serta mencatat hasil penimbangan pada KMS
b. Kader memberikan nasehat pada orang tua balita untuk
memberikan hanya ASI kepada bayi usia 0-6 bulan dan tetap
memberikan ASI sampai usia 2 tahun
c. Kader memberikan penyuluhan pemberian MP-ASI sesuai dengan
usia anak dan kondisi anak sesuai kartu nasehat ibu
d. Bagi balita dengan berat badan tidak naik diberikan penyuluhan
gizi seimbang dan PMT Penyuluhan
e. Kader memberikan PMT-Pemulihan bagi balita dengan berat badan
tidak naik 3 kali dan berat badan di bawah garis merah (BGM)
f. Kader merujuk balita ke puskesmas bila ditemukan gizi buruk dan
penyakit penyerta lain
g. Kader melakukan kunjungan rumah untuk memantau
perkembangan kesehatan balita
3. Tokoh masyarakat
Memberikan bantuan berupa sarana atau tempat untuk melaksanakan
posyandu maupun penyuluhan gizi keluarga serta dapat memberikan
bantuan berupa makanan atau bahan makanan yang dapat digunakan
sebagai PMT pada pelaksanaan Posyandu.

E. Partisipasi masyarakat
1. Tahap partisipasi
a. Pengenalan masalah
Kader posyandu dan petugas puskesmas/kesehatan melakukan
deteksi dini gizi buruk melalui posyandu. Masalah gizi buruk dapat
diketahui melalui hasil KMS penimbangan. Pada penimbangan
bulanan di posyandu dapat diketahui apakah anak balita berada
pada daerah pita warna hijau, kuning, atau dibawah garis merah
(BGM).
b. Perencanaan kegiatan
1) Bila anak berat badan nya tidak naik atau tetap maka berikan
penyuluhan gizi seimbang untuk dilaksanakan di rumah
2) Bila anak sakit dianjurkan untuk memeriksakan anaknya ke
puskesmas
3) Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning atau di
bawah garis merah (BGM) pada KMS, kader memberikan
PMT Pemulihan dan merujuk ke Puskesmas.
c. Pelaksanakan
Pemberian PMT penyuluhan dengan ketentuan seperti;
1) Makanan tambahan diberikan dalam bentuk makanan jadi dan
diberikan setiap hari.
2) Bila makanan tidak memungkinkan untuk dimakan bersama,
makanan tersebut diberikan satu hari dalam bentuk matang
selebihnya diberikan dalam bentuk bahan makanan mentah
d. Pemantauan
Kader menimbang berat badan anak setiap 2 minggu sekali untuk
memantau perubahan berat badan dan mencatat keadaan
kesehatannya
e. Evaluasi
1) Apabila berat badan anak berada di pita warna kuning pada
KMS teruskan pemberian PMT pemulihan sampai 90 hari.
2) Apabila setelah 90 hari, berat badan anak belum berada di pita
warna hijau pada KMS kader merujuk anak ke puskesmas
untuk mencari kemungkinan penyebab lain.
2. Bentuk partisipasi
a. Dana
Dana didapatkan dari iuran rutin masyarakat setiap datang
penimbangan di Posyandu dengan ketentuan jumlah iuran sesuai
dengan kesepakatan kader Posyandu yang telah ditetapkan
sebelumnya.
b. Tenaga
Merupakan bentuk partisipasi masyarakat yaitu melalui kader -
kader Posyandu. Setiap posyandu minimal terdapat lima kader.
Kader memberikan tenaga dalam pelaksanaan posyandu meliputi;
menyiapkan PMT, alat timbang, melakukan penimbangan dengan
sistim 5 meja, deteksi dini KEP dan penangannya.
c. Bahan
Berupa bahan makanan, makanan jadi, buah-buahan dll yang
diperoleh baik dari sumbangan masyarakat setempat maupun
pembelian kader dari dana iuran yang telah dikumpulkan.
d. Fasilitas
Berupa sarana dan prasarana seperti; tempat posyandu, alat-alat
penimbangan, meja kursi, PMT dll yang didapatkan dari
masyarakat itu sendiri.
F. Kesimpulan
Upaya penanggulangan KEP sudah mencerminkan pemberdayaan
masyarakat, karena masyarakat telah berpartisipasi atau berperan aktif
dalam seluruh kegiatan penanggulangan KEP baik dari segi partisipasi
secara tahap maupun partispasi secara bentuk. Jadi, masyarakat telah
mandiri dalam penanggulangan masalah gizi KEP dapat dilihat dari
partisipasi masyarakat yang mendominasi (lebih besar) sedangkan
pemerintah hanya membina dan mengawasi (tidak mendominasi).