Anda di halaman 1dari 20

A.

HEMATOPOIESIS

Hematopoiesis adalah proses pembentukan sel darah meliputi sel darah merah,

sel darah putih dan patelet dibentuk di hati dan di limpa pada janin, dan di dalalm sumsum

tulang setelah lahir.

Hematopoiesis mulai terjadi di sumsum tulang dengan sel induk pluripotensial

(bermakna banyak kemungkinan/potensi). Sel iduk adalah sumber semua sel darah. Sel-

sel ini secara kontinu memperbarui dirinya dan berdiferensiasi sepanjang hidup;

merupakan cadangan yang tidak ada habisnya dan disebut abadi. Setelah beberapa tahap

diferensiasi, sel induk mulai bekerja membentuk hanya satu jenis sel darah. Sel ini yang

disebut progenitor, tetap berada di sumsum tulang dan kemudian dipengaruhi factor

pertumbuhan spesifik, berdiferensiasi menjadi sel darah merah, sel darah putih, atau

platelet. Perkembangan sel darah yang berasal darin sel induk pluripotensial menjadi sel-

sel diferensiasi dapat dilihat pada gambar.

Hematopoiesis pada manusia terdiri atas beberapa periode :

1. Mesoblastik

Dari embrio umur 2 – 10 minggu. Terjadi di dalam yolk sac. Yang dihasilkan adalah

HbG1, HbG2, dan Hb Portland.

2. Hepatik

Dimulai sejak embrio umur 6 minggu terjadi di hati Sedangkan pada limpa terjadi pada

umur 12 minggu dengan produksi yang lebih sedikit dari hati. Disini menghasilkan Hb.
3. Mieloid

Dimulai pada usia kehamilan 20 minggu terjadi di dalam sumsum tulang, kelenjar

limfonodi, dan timus. Di sumsum tulang, hematopoiesis berlangsung seumur hidup

terutama menghasilkan HbA, granulosit, dan trombosit. Pada kelenjar limfonodi

terutama sel-sel limfosit, sedangkan pada timus yaitu limfosit, terutama limfosit T.

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah di antaranya

adalah asam amino, vitamin, mineral, hormone, ketersediaan oksigen, transfusi darah, dan

faktor- faktor perangsang hematopoietik.


Tempat hemopoesis pada manusia berpindah-pindah sesuai dengan umur :

a. Janin : umur 0-2 bulan (kantung kuning telur)

umur 2-7 bulan (hati, limpa)

umur 5-9 bulan (sumsum tulang)

b. Bayi : Sumsum tulang

c. Dewasa. : vertebra, tulang iga, sternum, tulang tengkorak, sacrum dan

pelvis, ujung proksimal femur.

Pada orang dewasa dalam keadaan fisiologik semua hemopoesis terjadi pada

sumsum tulang. Untuk kelangsungan hemopoesis diperlukan :

Sel induk hemopoetik (hematopoietic stem cell)

Sel induk hemopoetik ialah sel-sel yang akan berkembang menjadi sel-sel

darah, termasuk eritrosit, lekosit, trombosit, dan juga beberapa sel dalam sumsum

tulang seperti fibroblast. Sel induk yang paling primitif sebagai pluripotent (totipotent)

stem cell.

Sel induk pluripotent mempunyai sifat :

a. Self renewal : kemampuan memperbarui diri sendiri sehingga tidak akan pernah

habis meskipun terus membelah;

b. Proliferative : kemampuan membelah atau memperbanyak diri;

c. Diferensiatif : kemampuan untuk mematangkan diri menjadi sel-sel dengan fungsi-

fungsi tertentu.

d. Menurut sifat kemampuan diferensiasinya maka sel induk hemopoetik dapat dibagi

menjadi :
1. Pluripotent (totipotent)stem cell : sel induk yang mempunyai yang mempunyai

kemampuan untuk menurunkan seluruh jenis sel-sel darah.

2. Committeed stem cell : sel induk yang mempunyai komitmet untuk

berdiferensiasi melalui salah satu garis turunan sel (cell line). Sel induk yang

termasuk golongan ini ialah sel induk myeloid dan sel induk limfoid.

3. Oligopotent stem cell : sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi hanya

beberapa jenis sel. Misalnya CFU-GM (colony forming unit-

granulocytelmonocyte) yang dapat berkembang hanya menjadi sel-sel

granulosit dan sel-sel monosit.

4. Unipotent stem cell : sel induk yang hanya mampu berkembang menjadi satu

jenis sel saja. Contoh CFU-E (colony forming unit-erythrocyte) hanya dapat

menjadi eritrosit, CFU-G (colony forming unit-granulocyte) hanya mampu

berkembang menjadi granulosit.

Lingkungan mikro (microenvirontment) sumsum tulang

Lingkungan mikro sumsum tulang adalah substansi yang memungkinkan sel

induk tumbuh secara kondusif. Komponen lingkungan mikro ini meliputi :

a. Mikrosirkulasi dalam sumsum tulang

b. Sel-sel stroma :

1. Sel endotel

2. Sel lemak

3. Fibroblast

4. Makrofag

5. Sel reticulum
c. Matriks ekstraseluler : fibronektin, haemonektin, laminin, kolagen, dan

proteoglikan.

Pengendalian Perkembangan Sel Progenitor

Sel progenitor distimulasi untuk berploriferasi dan berdiferensiasi oleh berbagai

hormone dan agen produk local yang secara kolektif disebut factor pertumbuhan

hematopietik. Masing-masing sel progenitor berespon hanya pada beberapa factor

pertumbuhan ini, tetapi banyak factor pertumbuhan mungkin bekerja secara tidak spesifik

pada beberapa sel progenitor. Berbagai factor pertumbuhan hematopietik adalah sitokin.

Sitokin dilepaskan dari sel-sel imun dan inflamasi, mengirimkan pesan kepada sel

progenitor perlunya sel-sel tambahan untuk melawan infeksi atau membantu

penyembuhan tubuh. Factor pertumbuhan Hematopoietik yang spesifik untuk sel-sel yang

mereka stimulasi disebut factor penstimulasi koloni (colony stimulating factor). Sebagai

contoh, factor penstimulasi koloni granulosit menstimulasi produksi darah putih yang

dikenal dengan granulosit, sebaliknya factor penstimulasi koloni makrofag-monosit

meningkatkan ploriferasi monosit dan makrofag. Salah satu contoh penting factor

penstimulasi koloni untuk sel darah merah adalah hormone eritropietin, yang diroduksi

ginjal dalam meresponkonsentrasi oksigen yang rendah dalam darah. Sitokin nonspesifik

lainnya dapat bekerja pada sel-sel yang kurang berdiferensiasi dibandingkan sel

progenitor, penstimulasi produksi berbagai sel darah.


B. ERITOPOIESIS

Eritropoiesis adalah proses pembentukan eritrosit yang dimulai dari eritroblas,

proeritroblas, basofilik eritroblas, polikromatik eritroblas, ortokromatik eritroblas, retikulosit

hingga sampai eritrosit yang beredar pada darah perifere. Proses ini dirangsang oleh

hormon eritropoeitin yang secara normal merangsang sumsum tulang untuk meningkatkan

produksi dan pelepasan eritrosit.

Eritropoietin adalah suatu hormone yang merangsang sumsum tulang untuk

meningkatkan pembentukan eritrosit (sel darah merah). Sel-sel di ginjal membentuk dan

melepaskan eritropoietin berespon terhadap hipoksia ginjal. Orang yang menderita ginjal

sering memprelihatkan anemia kronis dan berat.

Eritropoiesis panjang (erythro = RBC, dan poiesis = untuk membuat) digunakan

untuk menggambarkan proses pembentukan sel darah merah atau produksi. Pada

manusia, eritropoiesis terjadi hampir secara eksklusif di sumsum tulang merah. (Sumsum

tulang kuning terutama terdiri dari lemak, tetapi, sebagai tanggapan terhadap kebutuhan

yang lebih besar untuk produksi sel darah merah, sumsum tulang kuning bisa berubah

menjadi sumsum merah.) Sumsum tulang merah dasarnya semua tulang memproduksi sel

darah merah dari lahir sampai sekitar lima tahun usia. Antara usia 5 sampai 20, tulang

panjang perlahan-lahan kehilangan kemampuan mereka untuk menghasilkan sel darah

merah. Di atas usia 20 tahun, sel darah merah sebagian besar diproduksi terutama di

sumsum dari tulang belakang, tulang dada, tulang rusuk, dan panggul.

Ketika ginjal mendeteksi rendahnya kadar oksigen dalam darah, ginjal merespon

dengan melepaskan hormon eritropoietin, yang kemudian ke sumsum tulang merah untuk

merangsang sumsum untuk memulai produksi sel darah merah. Setelah eritropoietin
merangsang sumsum tulang merah sel darah merah untuk mulai manufaktur, serangkaian

peristiwa terjadi. Pada sumsum tulang terdapat banyak sel induk khusus dari sel darah

merah yang dapat dibentuk.

Dalam sampel darah, retikulosit dapat dibedakan dari sel darah merah karena

masih mengandung beberapa Speckles atau potongan inti. Membran sel darah merah tua

yang menjadi sangat rapuh dapat pecah sewaktu melewati beberapa tempat yang ketat

dalam sirkulasi. Ssel darah merah tua dan rusak akan "dimakan" terutama oleh limpa, dan

sebagian besar komponen sisa (terutama besi dari hemoglobin) didaur ulang untuk

membentuk sel darah merah baru.

Setiap orang memproduksi sekitar eritrosit baru tiap hari melalui proses

eritropoiesis yang kompleks dan teratur dengan baik. Eritropoiesis berjalan dari sel induk

menjadi prekursor eritrosit yang dapat dikenali pertama kali di sumsum tulang, yaitu

pronormoblas. Pronormoblas adalah sel besar dengan sitoplasma biru tua, dengan inti

ditengah dan nucleoli, serta kromatin yang sedikit menggumpal. Pronormoblas

menyebabkan terbentuknya suatu rangkaian normoblas yang makin kecil melalui sejumlah

pembelahan sel. Normoblas ini juga mengandung sejunlah hemoglobin yang makin

banyak (yang berwarna merah muda) dalam sitoplasma, warna sitoplasma makin biru
pucat sejalan dengan hilangnya RNA dan apparatus yang mensintesis protein, sedangkan

kromatin inti menjadi makin padat. Inti akhirnya dikeluarkan dari normoblas lanjut didalam

sumsum tulang dan menghasilkan stadium retikulosit yang masih mengandung sedikit

RNA ribosom dan masih mampu mensintesis hemoglobin

Sel ini sedikit lebih besar daripada eritrosit matur, berada selama 1-2 hari dalam

sumsum tulang dan juga beredar di darah tepi selama 1-2 hari sebelum menjadi matur,

terutama berada di limpa, saat RNA hilang seluruhnya. Eritrosit matur berwarna merah

muda seluruhnya, adlah cakram bikonkaf tak berinti. Satu pronormoblas biasanya

menghasilkan 16 eritrosit matur. Sel darah merah berinti (normoblas) tampak dalam darah

apabila eritropoiesis terjadi diluar sumsum tulang (eritropoiesis ekstramedular) dan juga
terdapat pada beberapa penyakit sumsum tulang. Normoblas tidak ditemukan dalam darah

tepi manusia yang normal.

Secara singkat, pembentukan sel darah merah dapat dibagi sebagai berikut :

Ginjal menanggapi konsentrasi oksigen rendah dari normal dalam darah dengan

melepaskan hormon eritropoietin.

Erythropoietin perjalanan ke sumsum tulang merah dan merangsang peningkatan

produksi sel darah merah (sel darah merah).

Sumsum tulang memproduksi sel darah merah merah dari sel induk yang hidup di

dalam sumsum.

Sel darah merah masuk melalui membran pembuluh darah memasuki sirkulasi.

Jantung dan paru-paru bekerja untuk memasok gerakan berkesinambungan dan

oksigenasi sel darah merah.

Sel darah merah yang rusak atau tua dihancurkan terutama oleh limpa.

Gambar eritropeiosis
C. GRANULOPOIESIS

Granulopoiesis (atau granulocytopoiesis) adalah hematopoiesis dari granulosit.

Ini terjadi terutama di dalam sumsum tulang dan melibatkan tahap-tahap berikut :

Pluripotential sel induk hemopoietic

Myeloblast

Promyelocyte

Eosino / neutro / basofilik mielosit

Metamyelocyte

Band sel (sel Stab)

Granulosit (Eosino / neutro / basofil)

Hal ini dapat dirangsang oleh Candida albicans

Granulopoiesis merupakan proses pembentukan granula, disebut juga proses

pembentukan leukosit.. Apabila pembentukan ini kurang, akan menyebabkan leukopeni.

Jika pembentukan berlebih, akan menyebabkan leukositosis. Leukositosis dapat

disebabkan oleh infeksi, reaksi leukomoid, dan keganasan. Leukositosis akibat keganasan

sering disebut leukemia. Leukimia ini dibedakan lagi jadi akut dan kronik. Leukimia akut

dibedakan jadi ALL dan AML. Leukemia kronik juga dibedakan jadi CLL dan CML.

Granulopoiesis dimulai ketika myeloblast yang membedakan menjadi

promyelocyte neutrophilic yang ireversibel berkomitmen untuk garis sel neutrophilic. Fitur

yang paling karakteristik promyelocyte adalah besar selnya ukuran keseluruhan, besar

intinya bulat dengan nukleolus menonjol, dan adanya ungu-butiran azurophilic pewarnaan

spesifik. Promyelocyte kemudian berkembang menjadi mielosit ditandai oleh produksi


butiran tertentu atau sekunder lebih kecil. Fitur yang paling karakteristik dari tahap mielosit

adalah berbagai ukuran sel, bentuk dan ukuran inti, dan kehadiran kedua pewarnaan

keunguan-azurophilic dan lila-butiran pewarnaan tertentu. Mielosit awal adalah sebagai

besar sebagai promyelocytes, sedangkan mielosit terlambat lebih dekat adalah ukuran

untuk metamyelocytes. Inti mielosit adalah lebih kental daripada promyelocyte dan sering

indentasi. Selama tahap ini jumlah butiran spesifik per sel dan meningkatkan jumlah

butiran per azurophilic penurunan sel dan terjadi penurunan bertahap dalam jumlah

organel hadir. Hal ini tercermin sebagai hilangnya basophilia sitoplasma. Produksi granul

berhenti pada akhir tahap mielosit dan tahapan yang tersisa ditandai terutama oleh

penurunan ukuran sel dan perubahan bentuk nuklir. Ketika inti menjadi rata dan kromatin

lebih kental, sel disebut metamyelocyte a. Ketika inti menjadi berbentuk tapal kuda, hal itu

disebut sel band. Sel ini dianggap sebagai neutrofil matang ketika inti menjadi

tersegmentasi menjadi lobus.


Terhadap respons infeksi atau radang akut, neutrofil meninggalkan kelompok

marginal dan memasuki daerah infeksi; sumsum tulang melepaskan sumber cadangannya

dan menimbulkan peningkatan granulopoiesis.

Neutrofilia juga terjadi sesudah keadaan stres, seperti kerja fisik berat atau

penyuntikan epinefrin. Ini adalah “pseudoleukositosis” karena granulopoiesis dalam

sumsum tulang tidak ditambah dan jumlah granulosit dalam tubuh sebenarnya tidak

meningkat. Granulosit dilepaskan dan kelompok marginal sehingga jumlah granulosit yang

dapat ditarik ke dalam alat penentuan sampel bertambah.


D. LIMFOPOIESIS

Satu kegiatan timus yang diketahui adalah limfopoiesis (pertumbuhan

dan pematangan limfosit) yang terutama terjadi selama masa fetal dan awalmasa pasca

lahir, sel-sel plasma dan mielosit juga dibentuk dalam jumlah kecil.

Sintesis leukosit di sumsum tulang merupakan salah satu bagian dari proses

hematopoiesis pada manusia. Sintesis leukosit dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu

fagosit dan imunosit. Fagosit meliputi sintesis sel-selgranulosit (leukosit dengan sitoplasma

bergranula), yaitu basofil, eosinofil, dannetrofil serta sel agranulosit (leukosit dengan

sitoplasma tidak bergranula) yaitumonosit. Sementara itu, imunosit akan mensintesis

limfosit yang merupakan jenisleukosit agranular.


Beberapa sel induk limfoid ada yang bermigrasi ke dalam jaringan limfoid, semisal

kelenjar limfa, kelenjar timus dan nodus limfatikus, sehingga di dalam pelbagai jaringan

tersebut terbentuk limfosit. Proses ini dinamakan limfopoiesis.

limfosit, memiliki jumlah sekitar 20 hingga 30 dari jumlah sel darah putih, atau tiap

mm3 darah mengandung 1.500 sampai 3.000 butir. Limfosit dapat bergerak bebas dan

juga bisa membentuk zat antibodi. Pada smear darah, tampak bahwa limfosit memiliki satu

inti besar, berbentuk bundar, dan hampir menempati seluruh isi sel. Limfosit berdiameter 8

hingga 12 μm. Limfosit biasanya aktif keluar dari pembuluh darah menuju jaringan,

terutama jaringan ikat dan sistem limfatikus. Di dalam peredaran darah, limfosit terbagi

atas tiga jenis, yakni sel T, sel B, dan sel pembunuh (natural killer cell). Berbagai jenis

limfosit ini memiliki peran yang berbeda. Sel limfosit T berperan dalam mekanisme

pertahanan terhadap masuknya sel-sel asing ke dalam jaringan tubuh. Sel limfosit T akan

masuk ke dalam jaringan dan menyerang sel asing secara langsung. Namun, ada

kemungkinan juga sel limfosit T ini dapat menghambat aktivitas limfosit lainnya.

Sedangkan sel limfosit B berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh yang

melibatkan produksi dan distribusi antibodi. Sel B dapat berdiferensi menjadi sel plasma

yang berperan dalam sintesis dan sekresi antibodi. Sel pembunuh (natural killer cells)

berfungsi untuk mendeteksi dan menghancurkan sel-sel jaringan yang abnormal. Sel ini

berperan penting dalam pencegahan kanker.


E. MEGAKARIOPOIESIS

Trombosit dihasilkan dalam sumsum tulang dengan fragmentasi sitoplasma

megakariosit. Prekusor megakriosit – megakarioblas timbul dengan proses diferensiasi

dari sel asal haemopoietik. Megakariosit matang dengan proses replikasi endomitotik inti

secara sinkron, yang memperbesar volume sitoplasma saat jumlah inti bertambah dua kali

lipat. Pada tingkat bervariasi pada perkembangan, terbanyak pada stadium 8 inti, replikasi

inti lebih lanjut dan pertumbuhan sel berhenti, sitoplasma menjadi granular dan selanjutnya

trombosit dibebaskan. Produksi trombosit mengikuti pembentukan mikrovesikulus dalam

sitoplasma sel yang bersatu (Koalesensi) membentuk membran batas pemisah

(demarkasi) trombosit. Tiap megakariosit menghasilkan sekitar 4000 trombosit. Produk

trombosit berada di bawah kontrol zat humoral yang dikenal sebagai trombopoietin yang

dihasilkan oleh hati dan ginjal.

Trombopoietin memiliki homologi yang substansial dengan eitropoitein dan

meningkatkan produksi trombosit dan proliferasi megakarosit. Trombosit yang baru

dibentuk berukuran lebih besar dan memiliki kapasitas hemostatik yang lebih kuat

daripada trombosit matang. jumlah trombosit normal adalah sekitar 150-400 x 109/l dan

lama hidup yang normal ialah antara 7 sampai 10 hari.

a. Morfologi dan Struktur Trombosit

Ukuran trombosit bervariasi dari sekitar 1 sampai 4 mikron sebagian sel

berbentuk piringan dan tidak berinti. Garis tengah trombosit 0,75-2,25 mm. meskipun

trombosit ini tidak berinti tetapi masih dapat melakukan sintesis protein, walaupun sangat

terbatas, karena di dalam sitoplasma masih terdapat sejumlah RNA.


Struktur trombosit terdiri dari membran trombosit yang kaya akan fosfolipid,

diantaranya adalah faktor trombosit 3 yang meningkatkan pembekuan selama

hemostasis. Fosfolipid membran ini berfungsi sebagai suatu permukaan untuk

berinteraksi dengan protein-protein plasma yang berperan dalam proses koagulasi

darah. Sitoplasma trombosit mengandung mikrofilamen, terdiri dari trombostenin , suatu

protein kontraktif mirip dengan aktinomiosin yang berperan dalam kontraksi jaringan otot.

Mikrotubulus yang membentuk suatu kerangka internal juga ditemukan di sitoplasma.

Struktur ini terletak di bawah membran plasma membentuk struktur tubular berupa pita

melingkar seperti mikrotubulus pada sel lain. Mirkotubulus dan mikrofilamen yang

membentuk sitoskeleton trombosit bertanggung jawab mempertahankan bentuk, serta

mempermudah reaksi pelepasan trombosit.

Dibagian dalam trombosit terdapat kalsium, nukleotida terutama Adenosin

Difosfat (ADP), Adenosine Trifosfat (ATP), dan Seretonim yang terkandung dalam

granula pada electon. Granula a spesifik (lebih sering dijumpai) mengandung antagonis

heparin, faktor pertumbuhan yang berasal dari trombosit (Platelet Derived Growth

Factor, PDGF), b-tromboglobulin fibrinogen, von willebrand (vWF), dan faktor

pembekuan lain. Granula padat lebih sedikit jumlahnya dan mengandung ADP, ATP, 5-

hidroksitriptamin (5-HT) dan kalsium. Organel spesifik lain meliputi lisosom yang

mengandung katalase. Selama reaksi pelepasan isi granula dikeluarkan kedalam system

kanalikular.

Granula padat merupakan kompartemen simpanan nukleotida adenin, sintesis

prostaglandin merupakan bagan integral dai fungsi normal trombosit, yang diperkirakan
terjadi di sistem tubulus internal yang disebut sistem tubulus padat. Faktor trombosit 4

dan b-tromboglobulin adalah zat-zat dalam keadaan normal hanya terdapat pada

trombosit utuh. Selain itu trombosit masih mempunyai mitokondria, butir glikogen yang

berfungsi sebagai cadangan energi. Protein dalam plasma mengisyaratkan pertukaran

trombosit yang berlebihan atau percepatan destruksi trombosit.

b. Fungsi Trombosit

Trombosit berperan penting dalam pembentukan bekuan darah. Trombosit

dalam keadaan normal bersirkulasi ke seluruh tubuh melalui aliran darah, namun dalam

beberapa detik setelah kerusakan suatu pembuluh, trombosit akan menyumbat lubang-

lubang kecil pada pembuluh darah, mula-mula sejumlah trombosit melekat ke kolagen

yang terpapar dalam dinding pembuluh darah yang rusak. Trombosit melepaskan ADP

yang menyebabkan sejumlah besar trombosit bersatu (pembentukan sumbat

hemostatik) dan selanjutnya melepaskan lipid yang diperlukan untuk pembentukan

bekuan. (Waterbury L, 1998). Fungsi lain dari trombosit adalah untuk mengubah bentuk

dan kualitas setelah berikatan dengan pembuluh yang cedera. Trombosit tersebut

menjadi lengket dan menggumpal bersama membentuk sumbat trombosit. Sumbat

trombosit tersebut secara efektif menambal daerah yang luka.

Pembentukan sumbat trombosit terjadi melalui beberapa tahap yaitu adesi

trombosit, agregasi trombosit, reaksi pelepasan, dan fusi trombosit.

1) Adhesi trombosit, setelah luka pembuluh darah trombosit melekatkan diri pada

jaringan ikat subendotel dan bagian jaringan yang cedera. Adhesi trombosit

melibatkan suatu interaksi antara glikoprotein trombosit dan jaringan yang


cedera. Adhesi trombosit bergantung pada faktor protein plasma yang disebut

faktor Von Willebrand, yang memiliki hubungan integral dan kompleks dengan

faktor koagulasi antihemifilia VIII plasma dan reseptor trombosit yang disebut

glikoprotein Ib membran trombosit. Adhesi trombosit berhubungan dengan

peningkatan daya lekat trombosit sehingga trombosit berlekatan satu sama

lain serta dengan endotei atau jaringan yang cedera. Dengan demikian

terbentuk sumbat hemostasis primer. Pengaktipan permukaan trombosit dan

rekrutmen trombosit lain menghasilkan suatu massa trombosit lengket dan

dipemudah oleh proses agregasi trombosit.

2) Agregasi, adalah kemampuan trombosit melekat satu sama lain untuk

membentuk suatu sumbat. Agregasi awal terjadi akibat kontak permukaan dan

pembebasan ADP dari trombosit yang melekat kepermukaan endotel. Hal ini

disebut gelombang agregasi primer, banyaknya trombosit yang terlibat

membebaskan lebih banyak ADP sehingga terjadi gelombang agregasi

sekunder. Agregasi berkaitan dengan perubahan bentuk trombosit dari discoid

menjadi bulat. Gelombang agregasi skunder merupakan suatu fenomena

ireversibel, sedangkan perubahan bentuk awal dan agregasi primer masih

reversible (Sacher RA, McPherson RA, 2004). Disamping ADP untuk agregasi

trombosit diperlukan ion kalsium dan fibrinogen yang melekat pada dinding

trombosit. Mula-mula ADP terikat pada reseptornya di permukaan trombosit,

interaksi ini menyebabkan reseptor untuk fibrinogen terbuka dengan reseptor

tersebut. Kemudian ion kalsium menghubungkan fibrinogen tersebut.


3) Pembebasan, selama proses ini faktor trombosit 3 meningkatkan jenjang

koagulasi dan pembentukan sumbat hemostasis sekunder yang stabil. In

Vitro, agregasi dapat dipicu reagen ADP, trombin, epinefrin, serotonin,

kolagen, atau antibiotic ristosetin. Agregasi In Vitro terjadi dalam dua fase.

Agregasi primer atau Reversible dan agregasi sekunder atau irreversible.

Agregasi primer melibatkan perubahan bentuk trombosit yang disebabkan

oleh kontraksi mikrotubulus. Gelombang agregasi trombosit skunder

melibatkan pelepasan mediator-mediator kimiawi yang terdapat dalam granula

padat. Pelepasan ini melengkapi fungsi utama ketiga trombosit yaitu reaksi

pembebasan. Reaksi pembebasan diperkuat oleh peningkatan kalsium

intrasel yang mengaktifkan dan meningkatkan pembebasan tromboksan A2.

4) Fusi Trombosit, Konsentrasi tinggi ADP, enzim-enzim yang dibebaskan

selama reaksi pelepasan dan trombastin bersama-sama menyebabkan fusi

irreversible trombosit yang beragregasi pada tempat luka vascular. Trombin

yang juga mendorong fusi trombosit, dan pembentukan fibrin memperbesar

stabilitas sumbatan platelet yang sedang berkembang


DAFTAR PUSTAKA

Santoso, Heru.2010.” Laboratorium Klinik 1 Pemeriksaan Hematologi”.

Corwin,J., Elizabeth. 2009.”Buku Saku Patofisiologi”. Penerbit Buku Kedokteran EGC :


Jakarta

Aprice, Silvia. 1995. “Patofisiologi edisi IV”. EGC :Jakarta.

Ganiswara G. Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. UI Press. Jakarta.

http://www.biomedika.co.id/svkimiaklinik.php

http://www.scribd.com/doc/55186999/tugas-jadi

http://www.wikipedia.org