Anda di halaman 1dari 20

Aqidah,syariah,akhlak

DISUSUN
OLEH :
KELOPOK 9
Kata Pengantar

Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan
makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Allah SWT mungkin penyusun tidak
akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Aqidah, Syari’ah,
dan Akhlak” yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di
susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun
yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah
SWT akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun
makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya.
Terima kasih.

Mataram,17 Oktober 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB I Aqidah

A. Pengertian Aqidah
B. Nama-nama Aqidah
C. Sumber Aqidah Islam
D. Fungsi Aqidah

BAB II Syariat

A. Pengertian Syari’at
B. Sumber Hukum Islam
C. Pembagian syariat Islam
D. Tujuan Syariat Islam

BAB III Ahlak

A. Pengertian Ahlak
B. Pembagian Ahlak
C. Ahlak baik terhadap Allah SWT , Orang tua , Sesama manusia Dan
Lingkungan

BAB IV Penutup

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
AQIDAH

A. Pengertian Aqidah

Pengertian Aqidah Secara Bahasa (bahasa Arab) aqidah berasal dari kata al-'aqdu (‫)ال َع ْقد‬ ْ
yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (‫ )التَّ ْو ِثيْق‬yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-
ihkaamu (‫ )اْ ِإلحْ كَام‬yang artinya mengokohkan (menetapkan)

Sedang secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan dan keyakinan. Dan tumbuhnya
kepercayaan tentunya di dalam hati, sehingga yang dimaksud aqidah adalah kepercayaan yang
menghujam atau tersimpul di dalam hati.
Sedangkan menurut istilah aqidah adalah hal-hal yang wajib dibenarkan oleh hati dan
jiwa merasa tentram kepadanya, sehingga menjadi keyakinan kukuh yang tidak tercampur oleh
keraguan.

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Aqidah dalam agama islam adalah
keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban,
bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-
kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih
tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa
yang menjadi ijma'(konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath'i (pasti), baik
secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah
yang shahih serta ijma' Salaf as-Shalih.

B. Nama-nama Aqidah
1. Al – Iman
Aqidah disebut juga dengan al Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits -
hadits Nabi saw, karena 'aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal - hal yang
berkaitandengannya. Sebagaimana penyebutan al?Iman dalam sebuah hadits yang masyhur
disebutdengan hadits jibril as. Dan para ularna sering menyebut istilah 'Aqidah dengan al Iman
dalarnkitab - kitab mereka.

2. 'Aqidah (Itiqaad dan 'Aqaa'id)

Para ularna juga sering menyebut ilmu 'Aqaa'id dan al'I'tiqaad.

3. Tauhid
'Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid
ataupengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma' wa Shifat. jadi,
Tauhidmerupakan kajian ilmu 'Aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh
karenaitulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid.

4. As Sunnah

Disebut As Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang diternpuh oleh Rasulullah
danpara Sahabat ra, di dalam masalah 'aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur
(populer)pada tiga generasi pertama

5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah

Ushul artinya rukun - rukun Iman, rukun - rukun Islam dan masalah - masalah yang qath'i
sertahal - hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.

6. Al Fiqhul Akbar

Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al Fiqhul Ashghar, yaltu kumpulan hukum -
hukum ijtihadi.

7. Asy Syari'ah

Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah saw, dan RasulNya
berupa jalan - jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (dasar - dasar
agama)

2.3 Sumber Aqidah Islam

Jika kita menelaah tulisan para ulama dalam menjelaskan akidah, maka akan didapati 2 sumber
pengambilan dalil penting. Dua sumber tersebut meliputi :
1. Dalil asas dan inti yang mencakup Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ para ulama
2. Dalil penyempurnaan yang mencakup akal sehat manusia dan fitrah kehidupan yang telah diberikan
oleh Alloh azza wa jalla
Al-Quran Sebagai Sumber ‘Aqidah
Al Qur’an adalah firman Alloh yang diwahyukan kepada Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam melalui
perantara Jibril. Di dalamnya, Alloh telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh hamba-Nya
sebagai bekal kehidupan di dunia maupun di akhirat. Ia merupakan petunjuk bagi orang-orang yang
diberi petunjuk, pedoman hidup bagi orang yang beriman, dan obat bagi jiwa-jiwa yang terluka.
Keagungan lainnya adalah tidak akan pernah ditemui kekurangan dan celaan di dalam Al Qur’an,
sebagaimana dalam firman-Nya :
َ َ َ ‫ا‬ َّ ِّ َ َّ ‫ْال َعليم‬
‫الس ِميع َوه َو ِلك ِل َما ِت ِه م َبد ِل ل َو َعدل ِصدقا َ ِّربك ك ِل َمت َوت َّمت‬ ِ

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang
dapat merubah-rubah kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al
An’am:115)

Al Imam Asy Syatibi mengatakan bahwa sesungguhnya Alloh telah menurunkan syariat ini kepada Rasul-
Nya yang di dalamnya terdapat penjelasan atas segala sesuatu yang dibutuhkan manusia tentang
kewajiban dan peribadatan yang dipikulkan di atas pundaknya, termasuk di dalamnya perkara akidah.
Alloh menurunkan Al Qur’an sebagai sumber hukum akidah karena Dia tahu kebutuhan manusia sebagai
seorang hamba yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Bahkan jika dicermati, akan ditemui
banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang akidah, baik secara tersurat maupun secara
tersirat. Oleh karena itu, menjadi hal yang wajib jika kita mengetahui dan memahami akidah yang
bersumber dari Al Qur’an karena kitab mulia ini merupakan penjelasan langsung dari Rabb manusia,
yang haq dan tidak pernah sirna ditelan masa.

As Sunnah: Sumber Kedua


Seperti halnya Al Qur’an, As Sunnah adalah satu jenis wahyu yang datang dari Alloh subhanahu wata’ala
walaupun lafadznya bukan dari Alloh tetapi maknanya datang dari-Nya. Hal ini dapat diketahui dari
firman Allah :
َّ ‫َ َ ي‬ َ َ َ َ َ َْ
(٤)‫ح ِإل ه َو ِإن‬ْ ‫( يوح و‬٣)‫نطق وما‬
ِ ‫الهوى عن ي‬

“Dan dia (Muhammad) tidak berkata berdasarkan hawa nafsu, ia tidak lain kecuali wahyu yang
diwahyukan” (Q.S An Najm : 3-4)

Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:

“Tulislah, Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak keluar darinya kecuali kebenaran sambil
menunjuk ke lidahnya”. (Riwayat Abu Dawud)

Dan firman-Nya :
َ َ َّ ْ َ ْ َ َّ ْ َ َ َّ ‫األمر َو ُأول‬
َ ُ َ َ ََ ُّ َ َ َ ّ َّ ‫ون ُكنتم إن َو‬
َ ّ
‫ين أ ُّي َها َيا‬‫الل أ ِطيعوا آمنوا ال ِذ‬ ‫ول َوأ ِطيعوا‬ ‫الرس‬ ْ ِ ‫ش ٍءفردوه ِ ْف تنازعتم ف ِإن ِمنكم‬
ْ ‫الل ِإل‬
ِ ‫ول‬
ِ ‫الرس‬ ِ ‫الل تؤ ِمن‬
ِ ‫ِب‬
َْ َ َ َ َ َ ََ ‫ا‬ ْ َ
‫اآلخر واليو ِم‬ ِ ‫تأويل وأحسن خ يي ذ ِلك‬
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S An Nisaa:59)

Firman Allah tersebut menunjukkan bahwa tidak ada pilihan lain bagi seorang muslim untuk juga
mengambil sumber-sumber hukum akidah dari As Sunnah dengan pemahaman ulama. Ibnul Qoyyim
juga pernah berkata “Allah memerintahkan untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya sholallohu
‘alaihi wassalam dengan mengulangi kata kerja (taatilah) yang menandakan bahwa menaati Rasul wajib
secara independent tanpa harus mencocokkan terlebih dahulu dengan Al Qur’an, jika beliau
memerintahkan sesuatu. Hal ini dikarenakan tidak akan pernah ada pertentangan antara Qur’an dan
Sunnah.

Ijma’ Para Ulama


Ijma’ adalah sumber akidah yang berasal dari kesepakatan para mujtahid umat Muhammad sholallohu
‘alaihi wassalam setelah beliau wafat, tentang urusan pada suatu masa. Mereka bukanlah orang yang
sekedar tahu tentang masalah ilmu tetapi juga memahami dan mengamalkan ilmu.
Di dalam pengambilan ijma’ terdapat juga beberapa kaidah-kaidah penting yang tidak boleh
ditinggalkan. Ijma’ dalam masalah akidah harus bersandarkan kepada dalil dari Al Qur’an dan Sunnah
yang shahih karena perkara akidah adalah perkara tauqifiyah yang tidak diketahui kecuali dengan jalan
wahyu. Sedangkan fungsi ijma’ adalah menguatkan Al Quran dan Sunnah serta menolak kemungkinan
terjadinya kesalahan dalam dalil yang dzoni sehingga menjadi qotha’i.

Akal Sehat Manusia


Selain ketiga sumber akidah di atas, akal juga menjadi sumber hukum akidah dalam Islam. Hal ini
merupakan bukti bahwa Islam sangat memuliakan akal serta memberikan haknya sesuai dengan
kedudukannya. Termasuk pemuliaan terhadap akal juga bahwa Islam memberikan batasan dan petunjuk
kepada akal agar tidak terjebak ke dalam pemahaman-pemahaman yang tidak benar. Hal ini sesuai
dengan sifat akal yang memiliki keterbatasan dalam memahami suatu ilmu atau peristiwa.
Fitrah Kehidupan
Dalam sebuah hadits Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassalam bersabda

“Setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat ia menjadi
Yahudi, Nasrani atau Majusi” (H.R Muslim)

Dari hadits ini dapat diketahui bahwa sebenarnya manusia memiliki kecenderungan untuk menghamba
kepada Alloh. Akan tetapi, bukan berarti bahwa setiap bayi yang lahir telah mengetahui rincian agama
Islam. Setiap bayi yang lahir tidak mengetahui apa-apa, tetapi setiap manusia memiliki fitrah untuk
sejalan dengan Islam sebelum dinodai oleh penyimpangan-penyimpangan. Bukti mengenai hal ini adalah
fitrah manusia untuk mengakui bahwa mustahil ada dua pencipta alam yang memiliki sifat dan
kemampuan yang sama
2.4 Fungsi Aqidah

Sebagai hal yang sangat fundamental bagi seseorang, aqidah oleh karenanya disebut sebagai titik tolak
dan sekaligus merupakan tujuan hidup. Atas dasar itu maka aqidah memiliki peran yang sangat penting
di dalam memunculkan semangat peningkatan kualitas hidup seseorang. Fungsi tersebut antara lain:

A. Akidah Dapat Menimbulkan Optimisme Dalam Kehidupan.Sebab manusia yang di dalam dirinya
tertanam akidah atau keyakinan yang kuat, akan selalu merasa optimis dan merasa akan berhasil dalam
segala usahanya. Keyakinan ini didorong oleh keyakinan yang lain bahwa allah sangat dekat padanya,
bahkan selalu menyertainya dalam usaha dan aktivitas-aktivitasnya.

B. Akidah Dapat Menumbuhkan Kedisiplinan.

Disiplin dimaksud, seperti disebut oleh beberapa Ulama, adalah kepatuhan dan ketaatan dalam
mengikuti semua ketentuan dan tata tertib yang berlaku, termasuk hukum alam (sunnah allah) dengan
kesadaran dan tanggung jawab. Akidah yang mantap akan mampu menempatkan diri seseorang sebagai
makhluk berdisiplin tinggi dalam kehidupanya. Disiplin adalah kata kunci untuk keberhasilan. Karena itu
bila seseorang muslim ingin berhasil, ia harus berdisplin. Tanpa dsiplin, tidak munngkin seseorang dapat
meraih kesuksesanya. Dalam konteks peningkatan kualitas hidup displin sangat dituntut terutama:

1. Disiplin dalam waktu. Artinya, tertib dan teratur dalam memanfaatkannya dalam penanganan kerja
maupun dalam melakukan ibadah mahdhah.

2. Disiplin dalam bekerja. Artinya, seorang muslim yang berakidah menyadari bahwa ia harus bekerja,
sebagai pelaksanaan tanggung jawabnya sebagai khalifah Allah. Dan agar kerjanya berhasil baik,
diperlukan sikap displin. Sebab penangan kerja dengan kedisplinan akan menghasilkan sesuatu secara
maksimal dan membahagiakan.

C. Aqidah Berpengaruh Dalam Peningkatan Etos Kerja.

Sebab seseorang yang memilki keyakinan yang mantap akan selalu berupaya keras untuk keberhasilan
kerjanya, sebagai bagian dari pemenuhan kataatanya pada Allah. Dengan demikian melalui aqidahnya
akan tersembul etos kerja yang baik yang tercermin dari ciri-ciri berikut ini:

1) Memiliki jiwa kepeloporan dalam menegakan kebenaran

Kepeloporan disini dimaksud sebagai mengambil peran secara aktif untuk mempengaruhi orang lain
agar dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Jadi, ia memilki kemampuan untuk mengambil posisi dan
sekaligus memainkan peran (role) sehingga kehadiranya selalu dirasakan memberikan spirit bagi
munculnya semangat peningkatan kualitas hidup setiap oran di sekitarnya.

2) Memiliki perhitungan (kalkulatif)

Setiap langkah dalam hidupnya selalu diperhitungkan dari segala aspek, termasuk untung dan resikonya,
dan tentu saja sebuah perhitungan yang rasional.
3) Memiliki rasa iri yang mendalam pada perbuatan tidak merasa puas dalam berbuat kebajikan.

Tipe muslim yang memilki aqidah yang kaut akan tampak dari semangatnya yang tak kenal lelah
melakukan berbagai aktivitas untuk mencapai dan menegakan kebaikan. Sekali dia berniat, ia akan
menepati cita-citanya secara serius dan cermat, serta tidah mudah menyerah bila berhadapan dengan
cobaan dan rintangan. Dengan semangat semacam ini seorang muslim selalu berusaha mengambil posisi
dan memainkan peranan positif, dinamis, dan keratif dalam penanganan kerjanya, dan memberi contoh
kepada orang yang disekitarnya.

BAB III

Syariat

3.1 Pengertian syariat

Syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Muslim.
Selain berisi hukum dan aturan, syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini.
Maka oleh sebagian penganut Islam, syariat Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna
seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini. Terkait dengan susunan tertib syariat, Al
Qur'an dalam surat Al Ahzab ayat 36 yang berbunyi :
َ َ َ َ َ َ َ َّ ُ َ َ َ ُ َ ْ َ َ َ َ َ َ َّ َ ‫َ َ ا‬
َ َّ ‫وله‬
‫الل َيعص َو َمن أمر ِهم ال ِخ َ َية ِمن لهم َيكون أن أمرا َو َرسوله الل قض ِإذا مؤ ِمن ٍة َول ِلمؤ ِمن كان َو َما‬ ‫ُّم ِبينا ضلل ضل فقد ورس‬

Artinya :

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah
sesat, sesat yang nyata” (QS Al Azhab 73:33)

mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan Rasul-Nya sudah memutuskan suatu perkara, maka umat Islam
tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. Oleh sebab itu, secara implisit dapat dipahami bahwa
jika terdapat suatu perkara yang Allah dan Rasul-Nya belum menetapkan ketentuannya, maka umat
Islam dapat menentukan sendiri ketetapannya itu. Pemahaman makna ini didukung oleh ayat Al Qur'an
dalam Surat Al Maidah (QS 5:101) yang menyatakan bahwa hal-hal yang tidak dijelaskan
ketentuannya sudah dimaafkan Allah. Yang berbunyi :
َ َ َّ ْ َ َ ْ ُ َ َ َ َ َ َ ُ َ ُ َ ْ َُ َ َ ‫الل َع َفا َل ُكم تب َد ْالقرآن ي َ َّيل ح‬
ّ َ َ ّ َ ‫َ ي َ ي‬
‫ين أ ُّي َها َيا‬ ‫ي َعن َها َوِإنتسألوا تسؤكم لكم تبد ِإن أشياء عن تسألوا ل آمنوا ال ِذ‬ ِ ‫ح ِليم غفور والل عنها‬

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika
diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur'an itu
sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah mema`afkan (kamu) tentang hal-hal itu.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS 5:101)

3.2 Sumber hukum islam

1. Al Qur'an

Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman (QS Saba
34:28). Selain sebagai sumber ajaran Islam, Al Qur'an disebut juga sebagai sumber pertama atau asas
pertama Syara'.

(QS Saba 34:28) Berbunyi :


َ َ ْ َ َّ ‫َ َّ ا‬ َّ ِّ َ َ َْ َ َّ َ َ َ
‫َيعلمون ل الناس أ ك َي َول ِك َّن َون ِذيرا َب ِشيا للناس كافة ِإل أر َسلناك َو َما‬

Artinya : “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui.” (QS Saba 34:28)

Al Qur'an merupakan kitab suci terakhir yang turun dari serangkaian kitab suci lainnya yang pernah
diturunkan ke dunia. Dalam upaya memahami isi Al Qur'an dari waktu ke waktu telah
berkembang tafsiran tentang isi-isi Al Qur'an namun tidak ada yang saling bertentangan.

2. Al Hadist

1. Hadits Hasan

2. Hadits Shaheh

3. Hadits Dhaif 4. maudu'

3. Ijtihad

Ijtihad adalah sebuah usaha untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadist.
Ijtihad dilakukan setelah Nabi Muhammad SAW wafat sehingga tidak bisa langsung menanyakan pada
beliau tentang sesuatu hukum. Namun, ada hal-hal ibadah tidak bisa di ijtihadkan. Beberapa macam
ijtihad, antara lain :
A. Ijma, kesepakatan para-para ulama

B. Qiyas, diumpamakan dengan suatu hal yang mirip dan sudah jelas hukumnya

C. Maslahah Mursalah, untuk kemaslahatan umat

D. 'Urf, kebiasaan

Perbedaan Al Qur'an dan Al Hadist

- AL QUR'AN, merupakan Kitab Suci yang Oleh Pemeluknya dianggap sebagai 'Suara Tuhan' yang
dituliskan. - Al HADIS, merupakan Kumpulan yang Khusus memuat 'Ucapan-ucapan nabi Muhammad'
dan 'Cerita-cerita tentang Nabi Muhammad'.

3.3 Pembagian Syariat Islam

Hukum yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu:

1. Ilmu Tauhid, yaitu hukum atau peraturan-peraturan yang berhubungan dengan dasar-dasar
keyakinan agama Islam, yang tidak boleh diragukan dan harus benar-benar menjadi keimanan kita.
Misalnya, peraturan yang berhubungan dengan Dzat dan Sifat Allah swt. yang harus iman kepada-Nya,
iman kepada rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan iman kepada hari akhir
termasuk di dalamnya kenikmatan dan siksa, serta iman kepada qadar baik dan buruk. Ilmu tauhid ini
dinamakan juga Ilmi Aqidah atau Ilmu Kalam.

2. Ilmu Akhlak, yaitu peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pendidikan dan penyempurnaan
jiwa. Misalnya, segala peraturan yang mengarah pada perlindungan keutamaan dan mencegah
kejelekan-kejelekan, seperti kita harus berbuat benar, harus memenuhi janji, harus amanah, dan
dilarang berdusta dan berkhianat.

3. Ilmu Fiqh, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan
hubungan manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh mengandung dua bagian: pertama, ibadah, yaitu yang
menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan manusia dengan Tuhannya. Dan ibadah tidak sah (tidak
diterima) kecuali disertai dengan niat. Contoh ibadah misalnya shalat, zakat, puasa, dan haji. Kedua,
muamalat, yaitu bagian yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan antara manusia dengan
sesamanya. Ilmu Fiqh dapat juga disebut Qanun (undang-undang)

3.4 Tujuan Syariat Islam

Menurut buku “Syariah dan Ibadah” (Pamator 1999) yang disusun oleh Tim Dirasah Islamiyah dari
Universitas Islam Jakarta, ada 5 (lima) hal pokok yang merupakan tujuan utama dari Syariat Islam, yaitu:

1. Memelihara kemaslahatan agama (Hifzh al-din)


Agama Islam harus dibela dari ancaman orang-orang yang tidak bertanggung-jawab yang hendak
merusak aqidah, ibadah dan akhlak umat. Ajaran Islam memberikan kebebasan untuk memilih agama,
seperti ayat Al-Quran:

Artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman
kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak
akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 256).

Akan tetapi, untuk terpeliharanya ajaran Islam dan terciptanya rahmatan lil’alamin, maka Allah SWT
telah membuat peraturan-peraturan, termasuk larangan berbuat musyrik dan murtad:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain
dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempesekutukan Allah, maka
sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisaa [4]: 48).

Dengan adanya Syariat Islam, maka dosa syirik maupun murtad akan ditumpas.

2. Memelihara jiwa (Hifzh al-nafsi)

Agama Islam sangat menghargai jiwa seseorang. Oleh sebab itu, diberlakukanlah hukum qishash yang
merupakan suatu bentuk hukum pembalasan. Seseorang yang telah membunuh orang lain akan
dibunuh, seseorang yang telah mencederai orang lain, akan dicederai, seseorang yang yang telah
menyakiti orang lain, akan disakiti secara setimpal. Dengan demikian seseorang akan takut melakukan
kejahatan. Ayat Al-Quran menegaskan:

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang
dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita.
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan)
mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang
memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan
kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang
sangat pedih. (QS Al-Baqarah [2]: 178).

a Mercy from your Lord. After this whoever exceeds the limits shall be in grave penalty.”
Namun, qishash tidak diberlakukan jika si pelaku dimaafkan oleh yang bersangkutan, atau daiat (ganti
rugi) telah dibayarkan secara wajar. Ayat Al-Quran menerangkan hal ini:

3. Memelihara akal (Hifzh al-’aqli)

Kedudukan akal manusia dalam pandangan Islam amatlah penting. Akal manusia dibutuhkan untuk
memikirkan ayat-ayat Qauliyah (Al-Quran) dan kauniah (sunnatullah) menuju manusia kamil. Salah satu
cara yang paling utama dalam memelihara akan adalah dengan menghindari khamar (minuman keras)
dan judi.

4. Memelihara keturunan dan kehormatan (Hifzh al-nashli)

Islam secara jelas mengatur pernikahan, dan mengharamkan zina. Didalam Syariat Islam telah jelas
ditentukan siapa saja yang boleh dinikahi, dan siapa saja yang tidak boleh dinikahi

5. Memelihara harta benda (Hifzh al-mal)

Dengan adanya Syariat Islam, maka para pemilik harta benda akan merasa lebih aman, karena Islam
mengenal hukuman Had, yaitu potong tangan dan/atau kaki. Seperti yang tertulis di dalam Al-Quran:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagaimana)
pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa
lagi Maha Bijaksana”
(QS Al-Maidah [5]: 38).

Hukuman ini bukan diberlakukan dengan semena-mena. Ada batasan tertentu dan alasan yang sangat
kuat sebelum diputuskan. Jadi bukan berarti orang mencuri dengan serta merta dihukum potong
tangan. Dilihat dulu akar masalahnya dan apa yang dicurinya serta kadarnya. Jika ia mencuri karena
lapar dan hanya mengambil beberapa butir buah untuk mengganjal laparnya, tentunya tidak akan
dipotong tangan. Berbeda dengan para koruptor yang sengaja memperkaya diri dengan
menyalahgunakan jabatannya, tentunya hukuman berat sudah pasti buatnya. Dengan demikian Syariat
Islam akan menjadi andalan dalam menjaga suasana tertib masyarakat terhadap berbagai tindak
pencurian.
BAB IV

Akhlak

4.1 Pengertian Ahlak

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara
sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk,
berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.

Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. Ia dengan takwa merupakan'buah' pohon
Islam yang berakarkan akidah, bercabang dan berdaun syari'ah. Pentingnyakedudukan akhlak, dapat
dilihat dari berbagai sunnah qauliyah (sunnah dalam bentuk perkataan)Rasulullah. Diantaranya adalah:

Akhlak Nabi Muhammad, yang diutus menyempurnakan akhlak manusia itu, disebut akhlak Islami
karena bersumber dari wahyu Allah yang kini terdapat dalam Al-Qur'an yang menjadisumber utama
ajaran Islam.

4.2 Pembagian Akhlak

Secara garis besar akhlak dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
· Akhlak Al-Karimah ( Mahmudah )

Akhlak Al-Karimah yaitu akhlak yang senantiasa berada dalam kontrol ilahiyah yang dapat membawa
nilai-nilai positif dan kondusif bagi kemaslahatan ummat. Adapun yang tergolong kepada akhlak al-
karimah atau akhlak yang mulia di antaranya :

1. Benar atau jujur

Benar atau jujur termasuk golongan akhlak al-karimah. Benar artinya sesuainya sesuatu dengan
kenyataan yang sesungguhnya, dan ini tidak saja berupa perkataan tetapi juga perbuatan. Dal;am
bahasa arab benae atau jujur di sebut siddik (‫) ِص ِدي يق‬, lawan dari kizbu (‫)كدب‬
ِ yaitu bohong atau dusta

2. Ikhlas

Ikhlas adalah murni atau bersih, tak ada campuran, ibarat emas, ialah emas tulen, bersih dari segala
macam campuran yang lain seperti: perak dan lain sebagainya. Maksud bersih disini ialah bersihnya
sesuatu pekerjaan dari campuran motif-motif yang selain Allah, seperti ingin di puji orang, ingin
mendapat nama dan lain sebagainya. Jadi, sesuatu pekerjaan dapat di katakan ikhlas, kalau pekerjaan
itu di lakukan semata-mata karena Allah saja, mengharap ridhonya dan pahalanya

3. Qona’ah

Qona’ah ialah menerima dengan rela apa yang ada atau merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Qona’ah dalam pengertian yang luas sebenarnya mengandung lima perkara:

a. Menerima dengan rela apa yang ada

b. Memohon kepada tuhan tambahan yang pantas, disertai dengan usaha atau ikhtiar

c. Menerima dengan sabar ketentuan tuhan

d. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia

4. Malu

Malu ialah perasaan undur seseorang sewaktu lahir atau tampak dari dirinya sesuatu yang membawa ia
tercela. Adakala ia malu kepada dirinya sendiri, atau kepada orang lain, atau adakala juga malu kepada
Allah. Ketiga macam ini lebih-lebih malu kepada Allah merupakan sendi keutamaan dan pokok dasar
budi pekerti yang mulia, sebab dengan adanya malu kepada Allah orang tidak akan berani durhaka
kepada Allah dengan melanggar segala larangannya serta mengabaikan perintah-perintahnya, baik
sewaktu dilihat orang maupun tidak.

 Akhlak Mazmumah

Akhlak mazmumah yaitu akhlak yang tidak dalam kontrol ilahiyah, atau berasal dari hawa nafsu yang
berada dalam lingkaran syaithoniyah dan dapat membawa suasana negatif serta destruktif bagi
kepentingan umat islam Macam-macam akhlak mazmumah
Ø Bohong atau dusta

Bohong atau dusta adalah pernyataan tentangn suatu hal yang tidak cocok dengan kenyataan yang
sesungguhnya, dan ini tidak saja menyangkut perkataantetapi juga perbuatan. Dalam pandangan agama,
dusta adalah suatu hal yang sangat terkutuk dan tercela, ia merupakan pokok dan induk dari bermacam-
maacm akhlak yang buruk, yang tidak saj amerugikan masyarakat pada umumnya tetapi juga merugikan
orang itu sendiri.

Ø Takabbur

Takabbur ialah salah satu diantara akhlak yang tercela pula. Arti takabbur ialah merasa atau mengaku
dirinya besar, tinggi atau mulia, melebihi orang lain, pendek kata merasa dirinya serba hidup. Sikap yang
demikian berakibat dia tidak tahu dirinya, sukar menyadari kelemahan atau kesalahan dirinya, dan
ْ ََ ْ َ َ َ
kelebihan atau kebenaran orang lain, karena itu Nabi SAW barkata: ‫“ الناس غظم َو ال َح ِق تطر ال ِكدب‬Takabbur
itu ialah menolak kebenaran dan menghinakan orang lain” ( HR. Muslim )

Ø Dengki

Dengki atau kata arabnya “hasad” jelas termasuk akhlak mazmumah. Dengki itu ialah rasa atau sikap
tidak senang atas kenikmatan yang di peroleh orang lain dan berusaha untuk menghilangkan
kenikmatan itu dari orang lain tersebut, baik dengan maksud supaya kenikmataan itu berpindah
ketangan sendiri atau tidak

4.3 Ahlak baik terhadap Allah SWT , Orang tua , Sesama manusia Dan Lingkungan

A. Akhlak Baik Terhadap Allah SWT

Ø Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Aalh untuk menyembah-Nya sesuai dengan
perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukan terhadap perintah Allah.

Ø Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan
dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.

Ø Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan inti ibadah, karena ia
merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan
kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu. Kekuatan do’a dalam ajaran Islam sangat luar biasa,
karena ia mampu menembus kekuatan akal manusia. Oleh karena itu berusaha dan berdo’a merupakan
dua sisi tugas hidup manusia yang bersatu secara utuh dalam aktifitas hidup setiap muslim.Orang yang
tidak pernah berdo’a adalah orang yang tidak menerima keterbatasan dirinya sebagai manusia karena
itu dipandang sebagai orang yang sombong ; suatu perilaku yang tidak disukai Allah.
Ø Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan
atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Ø Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina
di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak kalau hidup dengan angkuh dan
sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.

B. Ahlak baik terhadap orang tua

Salah satu ajaran paling penting setelah ajaran Tauhid adalah berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan,
menurut pendapat banyak ulama, ajaran berbakti kepada kedua orang tua ini menempati urutan kedua
setelah ajaran menyembah kepada Allah S.w.t. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

‫سانا ِإ اما يَبْلغ اَن عِندَك َْال ِكبَ َر أ َ َحده َما أ َ ْو ِكالَه َما فَالَ ت َقل لاه َمآ أف َولَ ت َ ْن َه ْره َما َوقل لاه َما قَ ْولك َِريما‬
َ ْ‫ضى َربُّكَ أَلا ت َ ْعبدواْ ِإلا ِإيااه َو ِب ْال َوا ِلدَي ِْن ِإح‬
َ َ‫َوق‬

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Q, s. al-Isra’ / 17:23)

Ada tiga kelompok yang disebut orang tua dalam ajaran Islam. Pertama, “‫ “األب الذي ولدك‬: bapak-ibu yang
melahirkan, yaitu bapak-ibu kandung. Kedua, “‫ “األب الذي زوجك‬: bapak-ibu yang mengawinkan, yaitu
bapak-ibu mertua. Ketiga, “‫ “األب الذي علمك‬: bapak-ibu yang mengajarkan, yaitu bapak-ibu guru. Ketiga
kelompok inilah yang diwajibkan atas kita untuk menghormati dan berbuat baik kepadanya.

C. Ahlak baik terhadap sesama manusia

Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur'an berkaitan dengan perlakuan sesama manusia.
Petunjuk dalam hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negative seperti
membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa alasan yang benar, tetapi juga sampai
kepada menyakiti hati dengan cara menceritakan aib sesorang dibelakangnya, tidak perduli aib itu benar
atau salah. Dalam hal ini Allah berfiman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 263 yakni:

Artinya: "Perkataan yang baik dan pemberian ma'af, lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan
sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerimanya), Allah Maha Kaya Lagi Maha Penyantun” (al-
Baqarah :263)

Di sisi lain Al-Qur'an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara wajar. Tidak masuk
kerumah orang lain tanpa izin, jika bertemu saling mengucapkan salam, dan ucapan yang dikeluarkan
adalah ucapan yang baik, hal ini dijelaskan dalam surat an-Nur ayat 24 yakni :

Artinya: "Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa
yang dahulu mereka kerjaka (An-Nur : 24). “

Ahlak Terhadap Ligkungan

D. Akhlak baik terhadap lingkungan

Yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala sesuatu yang disekitar manusia, baik binatang,
tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda yang tidak bernyawa.

Pada dasarnya akhlak yang diajarkan al-Qur'an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia
sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan
manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan,
agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaanya.
Dalam pandangan Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetik
bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk
mencapai tujuan penciptaannya.
Ini berarti manusia dituntut mampu menghormati proses yang sedang berjalan, dan terhadap
proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertangung jawab, sehingga ia tidak
melakukan perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia itu sendiri.
Binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa semuanya di ciptakan oleh Allah SWT, dan
menjadi milik-Nya, serta kesemuanya memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini
mengantarkan seorang muslim untuk menyadari bahwa semunya adalah "umat" Tuhan yang harus
diperlakukan secara wajar dan baik.
BAB V

PENUTUP

Aqidah, syariah dan akhlak dalam Al-Qur’an disebut iman dan amal saleh. Iman menunjukkan makna
aqidah, sedangkan amal saleh menunjukkan pengertian syariah dan akhlak.

Seseorang yg melakukan perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi aqidah, maka perbuatannya hanya
dikategorikan sebagai perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan yg sesuai dengan nilai-nilai
kemanusiaan, tetapi belum tentu dipandang benar menurut Allah. Sedangkan perbuatan baik yg
didorong oleh keimanan terhadap Allah sebagai wujud pelaksanaan syariah disebut amal saleh.
Kerena itu didalam Al-Qur’an kata amal saleh selalu diawali dengan kata iman.

Antara lain firman Allah dalam (An-Nur, 24:55) :

“Allah menjanjikan bagi orang-orang yg beriman diantara kamu dan mengerjakan amal saleh menjadi
pemimpin di bumi sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang dari sebelum mereka (kaum muslimin
dahulu) sebagai pemimpin; dan mengokohkan bagi mereka agama mereka yg Ia Ridhai bagi mereka;
dan menggantikan mereka dari rasa takut
mereka (dengan rasa) tenang. Mereka menyembah (hanya) kepada-Ku, mereka tidak
menserikatkan Aku dengan sesuatupun. Dan barang siapa ingkar setelah itu, maka
mereka itu adalah orang-orang yg fasik” (An-Nur, 24:55)

Oleh karena itu sebagai muslim dan muslimah yang taat kita harus menjalankan Aqidah , syariat dan
ahlak secara bersamaan agar dapat mendapat ridha Allah SWT. Demikian makalah ini kami tulis, yang
kami harap dapat berguna untuk kami khususnya dan untuk teman-teman , agar dapat memahami lebih
dalam apa itu Aqidah, Syariah dan Ahlak. Semoga kita semua termasuk golongan orang yang benar.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.alquran-indonesia.com/web/quran/

http://id.wikipedia.org/wiki/Aqidah

http://alislamu.com/aqidah/683-definisi-aqidah.html

http://muslimcianjur.blogspot.com/2007/04/aqidah-syariah-dan-akhlak-dalam-islam.html

http://pembahasanaqidahsyariahdanakhlak.blogspot.com

http://www.wikisyariah.com/2011/01/syariah.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Syariah

http://islamwiki.blogspot.com/2012/08/pengertian-syariah-dalam-arti-luas-dan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Akhlak

http://zairifblog.blogspot.com/2011/01/pembagian-akhlak.html

http://alumni1pleret.forumotion.net/t6-akhlak-kepada-allah

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2108596-pengertian-aqidah/#ixzz28fUM6PHx

http://www.dakwatuna.com/2008/02/412/mengenal-syariat-islam-bagian-1/#ixzz28iBqtxMu