Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

BAKTERIOLOGI
(PEWARNAAN SPORA)

OLEH

NAMA : MELINA RAHMAN


NIM : 16 3145 353 100
KELOMPOK : V (LIMA)
KELAS :C

D.IV ANALIS KESEHATAN


STIKes Mega Resky Makassar
2016 / 2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Beberapa spesies bakteri tertentu dapat membentuk spora. Spora
dihasilkan di dalam tubuh vegetatif bakteri tersebut, dapat berada di bagian
tengah (central), ujung (terminal) ataupun tepian sel. spora merupakan tubuh
bakteri yang secara metabolik mengalami dormansi, dihasilkan pada faselanjut
dalam pertumbuhan sel bakteri yang sama seperti asalnya, yaitu sel vegetatif.
Spora bersifat tahan terhadap tekanan fisik maupun kimiawi.
Spora bakteri dapat berbentuk bulat, lonjong atau silindris. Berdasarkan
letaknya spora di dalam sel kuman, dikenal letak sentral,subterminal dan
terminal. Ada spora yang garis tengahnya lebih besar dari garis tengah sel
kuman, sehingga menyebabkan pembengkakan sel bakteri.
Pewarnaan diferensial merupakan teknik pewarnaan yang menampilkan
perbedaan di antara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba. Teknik
pewarnaan ini menggunakan tidak hanya satu jenis larutan zat warna, berbeda
dengan teknik pewarnaan sederhana (pewarnaan tunggal) yang hanya
menggunakan satu jenis zat warna saja. Pewarnaan diferensial banyak
jenisnya, antara lain ialah pewarnaan gram, pewarnaan spora, pewarnaan
tahan asam, pewarnaan giemsa, pewarnaan kapsul, dan pewarnaan flagel.
Pada praktikum kali ini, digunakan teknik pewarnaan spora.
Teknik pewarnaan spora merupakan Pewarnaan spora merupakan
pewarnaan dengan menggunakan malachite green dan safranin, yang dalam
hasil pewarnaannya akan muncul warna hijau pada sporanya, serta warna
merah pada sel vegetatifnya yaitu pada Bacillus subtitulis.
Sebagai tenaga analis kesehatan dibutuhkan keterampilan dalam
membuat spesimen yang berguna dalam pemeriksaan spesimen di
laboratorium. Spora bakteri umumnya tidak mudah diwarnai dengan zat
pewarna pada umumnya, tetapi sekali diwarnai, zat warna tersebut akan sulit
hilang. Hal tersebut yang melatarbelakangi penulis untuk mengangkat
permasalahan ini sebagai masalah yang akan dibahas dalam laporan
praktikum dengan judul “Pewarnaan Spora”.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan pada praktikum ini, untuk melihat bentuk (morfologi) dan letak
spora pada bakteri..
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan
sifat-sifat yang khas begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hamper tidak
berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri yang ada di suspensikan.
Salah satu cara unutk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah di
identifikasi adalah dengan cara metode pengenceran atau pewarnaan. Hal tersebut
berfungsi untuk mengetahuisifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel
bakteri melalui serangkaian pengecetan atau pewarnaan.
Bakteri merupakan organisme prokariot. Umumnya ukuran bakteri sangat
kecil, bentuk tubuh bakteri baru dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop
dengan pembesaran 1.000 X atau lebih. Sel bakteri memiliki panjang yang
beragam, sel beberapa spesies dapat berukuran 100 kali lebih panjang daripada sel
spesies yang lain. Bakteri merupakan makhluk hidup dengan ukuran antara 0,1
sampai 0,3 μm. Bentuk bakteri bermacam – macam yaitu elips, bulat, batang dan
spiral. Bakteri lebih sering diamati dalam olesan terwarnai dengan suatu zat
pewarna kimia agar mudah diamati atau dilihat dengan jelas dalam hal ukuran,
bentuk, susunan dan keadaan struktur internal dan butiran.
Beberapa spesies bakteri tertentu dapat membentuk spora. Spora
dihasilkan di dalam tubuh vegetative bakteri tersebut, dapat berada di bagian
tengah (central), ujung (terminal) atau pun tepian sel. spora merupakan tubuh
bakteri yang secara metabolic mengalami dormansi, dihasilkan pada fase lanjut
dalam pertumbuhan sel bakteri yang sama seperti asalnya, yaitu sel vegetatif.
Spora bersifat tahan terhadap tekanan fisik maupun kimiawi.
Bakteri pembentuk spora lebih tahan terhadap desinfektan, sinar,
kekeringan, panas, dan kedinginan. Kebanyakan bakteri pembentuk spora tinggal
di tanah, namun spora bakteri dapat tersebar di mana saja.
Spora bakteri adalah bentuk bakteri yang sedang dalam usaha
mengamankan diri terhadap pengaruh buruk dari luar. Segera setelah keadaan luar
baik lagi bagi mereka, maka pecahlah bungkus spora dan tumbuhlah bakteri.
Spora lazim disebut endospora ialah karena spora itu dibentuk di dalam sel.
Endospora jauh lebih tahan terhadap pengaruh luar yang buruk dari pada bakteri
biasa yaitu bakteri dalam bentuk vegetatif. Sporulasi dapat dicegah, jika selalu
diadakan pemindahan piaraan ke medium yang baru.
Beberapa spesies bakteri menghasilkan spora eksternal. Streptomyces
misalnya, meghasilkan serantaian spora (disebut konidia), yang disangga di ujung
hifa, suatu filamen vegetatif. Proses ini serupa dengan proses pembentukan spora
pada beberapa cendawan.
Spora bakteri dapat berbentuk bulat, lonjong atau silindris. Berdasarkan
letaknya spora di dalam sel kuman, dikenal letak sentral,subterminal dan terminal.
Ada spora yang garis tengahnya lebih besar dari garis tengah sel kuman, sehingga
menyebabkan pembengkakan sel bakteri.
Jenis-jenis bakteri tertentu, terutama yang tergolong dalam genus Bacillus
dan Clostridium mampu membentuk spora. Spora yang dihasilkan di luar sel
vegetatif (eksospora) atau di dalam sel vegetatif (endospora). Bakteri membentuk
spora bila kondisi lingkungan tidak optimum lagi untuk pertumbuhan dan
perkembangannya, misalnya: medium mengering, kandungan nutrisi menyusut
dan sebagainya.
Suatu badan yang refraktil terdapat dalam induk sel dan merupakan suatu
stadium isrtirahat dari sel tersebut. Endospora memiliki tingkat metabolisme yang
sangat rendah sehingga dapat hidup sampai bertahun-tahun tanpa memerlukan
sumber makanan dari luar.
Dua jenis bakteri yang dapat membentuk spora misalnya Clostridium dan
Bacillus. Clostridium adalah bakteri yang bersifat anaerobic, sedangkan Bacillus
pada umumnya bersifat aerobic. Struktur endospora mungkin bervariasi untuk
setiap jenis spesies, tapi umumnya hamper sama. Endospora bakteri merupakan
struktur yang tahan terhadap keadaan lingkungan yang ekstrim misalnya kering,
pemanasan, dan keadaan asam.
Pembentukan spora dapat dianggap sebagai suatu proses diferensiasi dari
suatu siklus hidup dalam keadaan-keadaan tertentu. Hal ini berbeda dari peristiwa
pembelahan sel karena tidak terjadi replikasi kromosom. Kemampuan
menghasilkan spora memberi keuntungan ekologis pada bakteri, karena
memungkinkan bakteri itu bertahan dalam keadaan buruk. Langkah-langkah
utama di dalam proses pembentukan spora sebagai berikut :
1. Penjajaran kembali bahan DNA menjadi filamen dan invaginasi membrane sel
di dekatsatu ujung sel untuk membentuk suatu struktur yang disebut bakal
spora.
2. Pembentukan sederet lapisan yang menutupi bakal spora, yaitu korteks spora
diikuti dengan selubung spora berlapis banyak.
3. Pelepasan spora bebas seraya sel induk mengalami lisis.
Endospora adalah struktur spesifik yang ditemukan pada beberapa jenis
bakteri. Karena kandungan air endospora sangat rendah bila dibandingkan dengan
sel vegetatifnya, maka endospora berbentuk sangat padat dan sangat refraktil bila
dilihat di bawah mikroskop. Endospora sangat sukar diwarnai dengan pewarna
biasa, sehingga harus digunakan pewarna spesifik dan yang biasa digunakan
adalah malachite green.
Pewarnaan diferensial merupakan teknik pewarnaan yang menampilkan
perbedaan di antara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba. Teknik
pewarnaan ini menggunakan tidak hanya satu jenis larutan zat warna, berbeda
dengan teknik pewarnaan sederhana (pewarnaan tunggal) yang hanya
menggunakan satu jenis zat warna saja. Pewarnaan diferensial banyak jenisnya,
antara lain ialah pewarnaan gram, pewarnaan spora, pewarnaan tahan asam,
pewarnaan giemsa, pewarnaan kapsul, dan pewarnaan flagel. Pada praktikum kali
ini, digunakan teknik pewarnaan spora.
Teknik pewarnaan spora merupakan Pewarnaan spora merupakan
pewarnaan dengan menggunakan malachite green dan safranin, yang dalam hasil
pewarnaannya akan muncul warna hijau pada sporanya, serta warna merah pada
sel vegetatifnya yaitu pada Bacillus subtitulis .
Endospora dibuat irisan dapat terlihat terdiri atas pembungkus luar,
korteks dan inti yang mengandung struktur nukleus. Apabila sel vegetatif
membentuk endospora, sel ini membuat enzim baru, memproduksi dinding sel
yang sama sekali baru dan berubah bentuk. Dengan kata lain sporulasi adalah
bentuk sederhana diferensiasi sel, karena itu, proses ini diteliti secara mendalam
untuk mempelajari peristiwa apa yang memicu perubahan enzim dan morfologi.
Spora biasanya terlihat sebagai badan-badan refraktil intrasel dalam sediaan
suspensi sel yang tidak diwarnai atau sebagai daerah tidak berwarna pada sel yang
diwarnai secara biasa. Dinding spora relatif tidak dapat ditembus, ini pula yang
mencegah hilangnya zat warna spora setelah melalui pencucian dengan alkohol
yang cukup lama untuk menghilangkan zat warna sel vegetatif. Sel vegetative
akhirnya dapat diberi zat warna kontras. Spora biasanya diwarnai dengan hijau
malachit atau carbol fuchsin.
Endosopora tidak mudah diwarnai dengan zat pewarna pada umumnya,
tetapi sekali diwarnai, zat warna tersebut akan sulit hilang. Hal inilah yang
menjadi dasar dari metode pengecatan spora secara umum. Pada metode
Schaeffer-Fulton yang banyak dipakai dalam pengecatan endospora, endospora
diwarnai pertama dengan malachite green dengan proses pemanasan. Larutan ini
merupakan pewarna yang kuat yang dapat berpenetrasi ke dalam endospora.
Setelah perlakuan malachite green, biakan sel dicuci dengan air lalu ditutup
dengan cat safranin. Teknik ini akan menghasilkan warna hijau pada endospora
dan warna merah muda pada sel vegetatifnya.
Salah satu ciri endospora bakteri adalah susunan kimiawinya. Semua
endospora bakteri mengandung sejumlah besar asam dipikolinat yaitu suatu
substansi yang tidak terdeteksi pada sel vegetatif. Sesungguhnya, asam tersebut
merupakan 5-10 % berat kering endospora. Sejumlah besar kalsium juga terdapat
dalam endospora, dan diduga bahwa lapisan korteks terbuat darim kompleks Ca2+
asam dipikolinat peptidoglikan.
Diameter spora dapat lebih besar atau lebih kecil dari diameter sel
vegetatifnya. Dibandingkan dengan sel vegetatif, spora sangat resisten terhadap
kondisi-kondisi fisik yang kurang menguntungkan seperti suhu tinggi dan
kekeringan serta bahan-bahan kimia seperti desinfektan. Dalam pengamatan spora
bakteri diperlukan pewarnaan tertentu yang dapat menembus dinding tebal spora.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Objek glass
b. Ose
c. Rak pewarnaan
d. Gegep kayu
e. Mikroskop
f. Bunseng
g. Gelas kimia
h. Kaki tiga
2. Bahan
a. Aquadest
b. Larutan malacit green
c. Larutan safranin/air fuchsin
d. Biakan tua
e. Kertas merang
B. Prinsip kerja
pada penggunaan zat warna malachite green dan safranin dimana pada
hasil pewarnaan akan menghasilkan warna hijau pada spora dan warna merah
pada sel vegetatifnya.
C. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibuat preparat ulas dari biakan yang disediakan
3. Ditetesi ulasan pada objek glass dengan malacit green di atas kertas
merang. Letakkan di atas air mendidih dan biarkan selama 5 menit. Dijaga
jangan sampai mengering, jika bagian pinggir mulai mengering
tammbahkan lagi alacit green.
4. Ditunggu sampai dingin, kemudian dibilas dengan air mengalir
5. Ditetesi safranin/air fuchsin, diamkan ± 45 detik
6. Dicuci dengan air mengalir, lalu dikeringkan preparatnya
7. Diamati dengan mikroskop perbesaran 100×
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Gambar1.1 penambahan air fuchsin gambar1.2 pijarkan ose gambar 1.3 dipanaskan
preparat+malacit green

Gambar 1.3 hasil pembesaran 40×


B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pewarnaan bakteri berupa
pewarnaan spora. Spora pada bakteri berbeda dengan spora pada jamur, pada
bakteri sporanya tidak mempunyai fungsi sebagai alat reproduksi tetapi
sebagai perlindungan dari kondisi yang tidak menguntungkan bagi bakteri
tersebut. Endospora bakteri tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrim seperti
suhu yang tinggi, kekeringan, senyawa kimia beracun (desinfektan ,
antibiotik), dan radiasi sinar UV. Biasanya bakteri yang membentuk
endospora merupakan fase tidur dari bakteri. Endospora ini mampu bertahan
sampai kondisi lingkungan kembali menguntungkan bagi bakteri. Tetapi
setelah keadaan lingkungan menguntungkan bagi bakteri maka bungkus spora
akan pecah dan tumbuh bakteri.
Pewarnaan spora merupakan pewarnaan yang tidak dapat di warnai
dengan pewarnaan biasa, diperlukan tekhnik pewarnaan khusus. Endospora
tidak mudah diwarnai dengan zat pewarna pada umumnya, tetapi sekali
diwarnai, zat warna tersebut akan sulit hilang. Pewarnaan yang dilakukan
dalam praktikum ini dengan menggunakan pewarnaan Klein. Pewarnaan
Klein merupakan pewarnaan sporayang paling banyak digunakan dengan
menggunakan pewarna malachite green sebagai pewarna utama dan karbol
fuchsin sebagai pewarna sekundernya. Spora bakteri sangat sulit sekali bila
diwarnai dengan pewarnaan gram. Untuk pewarnaan spora, perlu dilakukan
pemanasan supaya pewarna bisa masuk ke dalam spora.
Langkah pertama adalah dengan membuat suspense bakteri. Suspensi
bakteri yang akan dibuat diusahakan tidak terlalu tebal sehingga bakteri tidak
bertumpuktumpuk karena akan mempengaruhi pengamatan dibawah
mikroskop. Pembuatan suspense pada pewarnaan ini sama dengan pewarnaan
- pewarnaan sebelumnya yaitu kaca preparat disterilkan terlebih dahulu
dengan cara fiksasi di atas Bunsen, dan begitupula pada ose bulat kita
pijarkan terlebih dahulu sebelum mengambil biakan. Kemudian biakan kita
oleskan pada objek glas menggunakan ose bulat dengan cara membuat ulasan
seperti baygon.
Langkah kedua yaitu menambahkan malacit green pada preparat yang
sudah dikasi kertas merang, setelah ditetesi secara merata kita simpan di atas
air mendidih selama 5 menit. Pada pemanasan ini, usahakan malacit greennya
tidak mengering jika mulai mengering tambahkan malacit green kembali.
Tuujuannya agar malacit green dapat menembus ke dalam spora.
Langkah selanjutnya adalah dibilas dengan air mengalir dan
tambahkan safranin/air fuchsin yang bertujuan akan mewarnai sel endospore
menjadi merah, dimana warna ini tidak mempengaruhi warna hijau
endospora. setelah ditetesi dibiarkan selama ± 45 detik, tujuannya agar warna
dapat menyerap ada sel vegetative bakteri.
Namun, pada praktikum kali ini, terjadi kesalahan yaitu pada saat
penambahan safranin/air fuchsin terlalu banyak. Sehingga pada saat diamati
dengan mikroskop perbesaran 100× yang sudah ditambahkan oil emersi, kami
mendapatkan hasil spora pada bakteri tidak terlalu jelas warna hijaunya.
Sehingga menyulitkan kami dalam melihat sporanya. Selain itu, kami juga
melakukan kesalahan pada saat membuat suspen bakteri terlalu tebal
sehingga bakterinya bertumpuk-tumpuk.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pewarnaan spora merupakan pewarnaan yang tidak dapat di warnai
dengan pewarnaan biasa, diperlukan tekhnik pewarnaan khusus.
Endospora tidak mudah diwarnai dengan zat pewarna pada umumnya,
tetapi sekali diwarnai, zat warna tersebut akan sulit hilang.
2. Zat warna yang digunakan pada praktikum ini adalah malacit green
dan safranin/air fuchsin sebagai pewarnaan sekundernya.
3. Pada praktikum kali ini hasil yang didapatkan adalah banyaknya
bakteri pada sampel bakteri Streptococcus mutans. Namun, tidak ada
yang didapatkan bakteri yang memiliki kapsul.
B. Saran
Pada saat melakukan praktikum diharapkan agar praktikan
melakukan percobaan dengan teliti sehingga dapat meminimalisir
terjadinya kesalahan pada praktikum. Dan juga disarankan pada praktikan
agar memakai APD yang lengkap supaya tidak terkontaminasi dengan
bakterinya.
DAFTAR PUSTAKA

Angria Nirmawati. 2017.Penuntun bakteriologi I. Makassar: STIKes Mega Rezky

Nugraha Sulpia F R. 2015. https://www.scribd.com/doc/316845284/laporan-


pewarnaan-spora. Diakses pada tanggal 17 Mei 2017.