Anda di halaman 1dari 3

Nama : Rendy Fathagrap

Kelas : C 2015
Nim : 1501349

ANALISIS TERHADAP PELANGGARAN KASUS UU ITE


1. Kasus Rekaman suara yang di unggah oleh Ibu Nuril
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) kembali memakan
korban. Baiq Nuril Maknun mendekam di penjara, karena dilaporkan atasannya dengan
tuduhan menyebarkan rekaman telepon yang diduga mengandung unsur asusila.
Ibu tiga anak ini terpaksa harus meninggalkan keluarganya setelah menjadi
terdakwa dalam kasus ITE. Nuril didakwa dengan Pasal 27 ayat (1) Jo Pasal 45 ayat (1)
UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Saat ini kasus Nuril sudah memasuki proses persidangan di Pengadilan Negeri
(PN) Mataram.
Joko menceritakan, kasus Nuril berawal tahun 2012. Saat itu Nuril yang masih
bekerja menjadi pegawai honorer di SMAN 7 Mataram. Nuril kerap mendapat telepon
dari atasannya yang bercerita soal hubungannya dengan wanita lain. Padahal, saat itu
Nuril sudah berumah tangga dan memiliki tiga orang anak.
Pada saat itu Nuril dianggap memiliki Hubungan dengan atasannya oleh temn-
temannya di sekolah, hingga akhirnya ibu Nuril memutuskan untuk merekam percakapn
telepon antara dirinya dengan atasannya dan disimpan oleh ibu Nuril.
Pada saat itu ada satu rekan ibu Nuril yang mengetahui rekaman tersebut, dan
setelah dua tahun tepatnya pada tahun 2014 rekannya tersebut memaksa ibu Nuril
untuk menyerahkan rekaman suara tersebut, pada awalnya Ibu Nuril menolak, hingga
akhirnya diberikanlah rekaman tersebut kepada rekannya tersebut, yang akhirnya
tersebar luas.

Isi dari pasal 45 ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2008 berbunyi “Setiap Orang yang dengan
sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat
diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang
melanggar kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).”

2. Kasus Anggapan Pencemaran nama baik terhadap Misbakhun DPR


Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) kembali memakan
'korban'. Benny Handoko, pemilik akun twitter @benhan dinyatakan bersalah atas
tindak pidana pencemaran nama baik terhadap anggota DPR M Misbakhun.
Ia divonis 6 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun. Vonis tersebut
ditetapkan hari ini, Rabu (5/2/2014) oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan. Benhan sendiri dinyatakan bersalah dan melanggar UU ITE Pasal 27 ayat 1.
Menanggapi kasus ini, komunitas blogger dan aktivis online Asia Tenggara yang
tergabung dalam South Asian Freedom of Network (SAFENET) menyerukan agar
pemerintah segera menghentikan praktik pembungkaman berpendapat di dunia maya.
SAFENET menilai pemerintah Indonesia belum bisa melindungi kebebasan berpendapat
warganya. Padahal publik berhak menyampaikan pendapat tanpa harus takut merasa
diawasi, dikekang ataupun dibungkam.
Pasal 27 ayat 1 dianggap sebagai salah satu ganjalan kebebasan berpendapat di
internet. Sebab pasal tersebut dapat memenjarakan para pengguna internet yang
berpendapat di dunia maya. Hal ini dianggap tidak sesuai dengan semangat reformasi.
Warga bisa saja jadi takut nge-blog atau mmeposting sesuatu di internet.
"Di banyak negara, pencemaran nama tidak masuk ke dalam ranah hukum
pidana dan cukup diseslesaikan dengan hukum perdata," jelas SAFENET melalui
keterangan tertulis.
Sejak UU ITE disahkan ke publik tahun 2008 lalu, lembaga studi kebijakan dan
advokasi ELSAM mendata bahwa hingga saat ini setidaknya ada 32 kasus
pembungkaman kebebasan berekspresi di dunia maya. Bahkan ada kecenderungan
pasal 27 ayat 1 UU ITE digunakan oleh mereka yang memiliki kekuasaan, seperti pejabat
atau tokoh, untuk membungkam yang kritis.
Pasal 27 Ayat 1 UU ITE berbunyi “melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak
mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan
dan/atau pencemaran nama baik.” Jangkauan pasal ini jauh sampai dunia maya.
3. Kasus Penghinaan Kota Yogyakarta
Penahanan seorang pengguna media sosial atas konten yang diunggah kini
tengah menjadi perhatian nasional. Florence Sihombing, mahasiswa S2 Universitas
Gajah Mada Yogyakarta, harus mendekam di sel Polda DIY usai dilaporkan menghina
masyarakat Yogya di akun Path miliknya.
Florence dijerat Pasal 27 ayat 3 terkait informasi elektronik yang dianggap
menghina dan mencemarkan nama baik.
Nasib yang dialami Florence itu bukan pertama kalinya. Sejak UU Informasi dan
Transaksi Elektronik (ITE) disahkan April 2008, regulasi ini sudah menjerat beberapa
korban di platfrom elektronik. Menurut Catatan Ringkas Tata Kelola dan Praktik Internet
di Indonesia ICT Watch, UU itu telah memakan 32 korban pencemaran nama baik.
Jerat itu terdapat pada Pasal 27 ayat 1 UU ITE mengancam siapa pun yang
mendistribusikan dokumen atau informasi elektronik yang bermuatan penghinaan dan
atau pencemaran nama baik.
Sedangkan Pasal 28 UU itu juga memuat pelarangan penyebaran informasi yang
menyebarkan kebencian.