Anda di halaman 1dari 5

3.

Perencanaan
1. Resiko terhadap perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan imobilisasi,
dehidrasi pasca operasi, gangguan aliran balik vena.
Tujuan: perfusi jaringan adekuat dengan tanda-tanda vital stabil, kulit hangat,
kesadaran normal.
Intervensi:
a) Pantau tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) setiap 4 jam sekali pada
6-8 jam pertama pasca pembedahan dan setiap 6 jam sekali setelah 8 jam pasca
pembedahan.
Rasional: merupakan indikator dari volume sirkulasi dan perfusi jaringan yang
adekuat.
b) Catat suhu/warna kulit dan capillary refil.
Rasional: indikator dari volume sirkulasi dan fungsi organ/ perfusi jaringan yang
adekuat.
c) Ubah posisi secara perlahan ditempat tidur setelah 6-8 jam pasca
pembedahan (miring kiri dan kanan atau latihan aktif kaki dan lutut).
Rasional: menstimulasi sirkulasi perifer, membantu mencegah terjadinya vena
statis sehingga menurunkan resiko pembentukan trombus.
d) Bantu ambilasi awal (belajar duduk pada hari kedua dan mulai belajar
berjalan pada hari kedua bila kondisi baik).
Rasional: meningkatkan sirkulasi dan mengembalikan fungsi normal organ.
e) Kolaborasi dalam peberian cairan IV/ produk-produk darah sesuai
kebutuhan.
Rasional: merpertahankan volume sirkulasi, mendukung terjadinya perfusi
jaringan.
f) Kolaborasi dalam pemantauan Hemoglobin (Hb) pasca operasi.
Rasional: perubahan bermakna dapat menandakan perdarahan sehingga dapat
mengganggu perfusi jaringan.
2. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan fungsi biokimia atau regulasi,
efek-efek anastesi.
Tujuan: cedera tidak terjadi, bebas dari komplikasi pembedahan.
Intervensi:
a) Pantau TD, nadi, suhu, perlambatan pengisian kapiler atau sianosis tiap 6 jam.
Rasional: hipotensa dan takikardia dapat menunjukkan dehidrasi dan hipovolemia
tetapi mungkin tidak terjadi sampai volume darah sirkulasi telah
menurun sampai 35-50 %
b) Pantau balutan terhadap perdarahan berlebihan.
Rasional: luka bedah dengan drain dapat membasahi balutan, rembesan dapat
menunjukkan terjadinya komplikasi.
c) Pantau kerakteristik dan jumlah lochea dan konsistensi fundus uteri.
Rasional: aliran lochea seharusnya tidak banyak dan fundus uteri harus tetap
berkontraksi untuk mencegah perdarahan.
d) Beri posisi V pada pasien dengan blok spinal anastesi selama 6-8 jam pasca
pembedahan.
Rasional: memblok perluasan aliran efek anastesi.
e) Kolaborasi dalam pemantauan Hb/ Ht pasca operasi: bandingkan dengan kadar
praoperasi.
Rasional: perubahan bermakna dalam volume memerlukan penggantian dengan
produk darah.
3. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan sekunder terhadap pembedahan.
Tujuan: nyeri berkurang.
Intervensi:
a) Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri, perhatikan isyarat verbal dan nonverbal
setiap 6 jam.
Rasional: penentuan tindak lanjut intervensi.
b) Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien
Rasional: Nyeri dapat menyebabkan gelisah serta TD, nadi dan pernapasan
meningkat.
c) Terapkan teknik distraksi (berbincang-bincang).
Rasional: pengalihan perhatian dari rasa nyeri.
d) Ajarkan teknik relaksasi (nafas dalam) dan sarankan untuk mengulangi bila
merasa nyeri.
Rasional: relaksasi mengurangi ketegangan otot-otot sehingga mengurangi
penekanan dan nyeri.
e) Beri dan biarkan pasien memilih posisi yang nyaman.
Rasional: mengurangi ketegangan area yang nyeri.
f) Kolaborasi dalam pemberian analgetik.
Rasional: analgesik akan mencapai pusat rasa sakit dan menimbulkan
penghilangan nyeri.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan sisi masuknya organisme
sekunder terhadap pembedahan.
Tujuan: infeksi tidak terjadi.
Intervensi:
a) Observasi tanda-tanda infeksi (rubar, kolar, dolor, tumor, functiolghesa, pus) tiap
hari.
Rasional: infeksi pada luka post pembedahan dapat terjadi bila perawatan tidak
stabil.
b) Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien
Rasional: peningkatan suhu diatas 37c dapat menandakan terjadi infeksi.
c) Pantau jumlah dan bau rabas lochea.
Rasional: lochea berbau busuk menandakan terjadi infeksi.
d) Jelaskan pada pasien tentang tanda-tanda infeksi dan sarankan untuk melaporkan
bila hal itu terjadi.
Rasional: mengantisipasi terjadinya infeksi.
e) Rawat luka dengan teknik aseptik bila balutan kotor dan basah.
Rasional: teknik aseptik mencegah penyebaran kuman.
f) Anjurkan pasien untuk menjaga leka tetap kering dan bersih dengan tidak
menyentuh luka dengan tangan.
Rasional: keadaan lembab pada luka mempercepat perkembangbiakan kuman.
g) Lakukan vulva hygiene 2 kali sehari, ganti pembalut minimal 2 kali atau sehabis
BAK, BAB.
Rasional: kebersihan diri mengurangi penyebaran kuman.
h) Periksa tinggi fundus uteri.
Rasional: fundus uteri harus tetap berkontraksi untuk mencegah pendarahan dan
memperlancar pengeluaran lochea.
i) Pantau balutan luka terhadap adanya perdarahan dan kebersihan.
Rasional: balutan lembab dan kotor merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan kuman.
j) Kolaborasi dalam pemberian antibiotik, vitamin dan pemeriksaan laboratorium
(WBC).
Rasional: memperkecil dan memantau terjadinya infeksi.
5. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan trauma/ diversi mekanis.
Tujuan: pola berkemih optimal atau lancar.
Intervensi:
a) Perhatikan dan catat jumlah warna dan konsistensi urine.
Rasional: oliguria mungkin disebabkan oleh kelebihan kehilangan cairan atau
ketidakadekuatan penggantian cairan.
b) Berikan cairan peroral (misalnya: 6-8 gelas perhari atau 1200-1600 ml per hari)
bila masukan oral telah diinstruksikan.
Rasional: cairan meningkatkan hidrasi dan membantu mencegah statis kandung
kemih.
c) Palpasi kandung kemih.
Rasional: distensi kandung kemih dapat memperlambat involusi uterus.
d) Observasi keadaaan kateter terhadap aliran urine setiap hari.
Rasional: mempertahankan potensi urine.
e) Perhatikan tanda dan gejala infeksi saluran kemih (warna keruh, bau busuk,
sensasi terbakar) setelah pengangkatan kateter.
Rasional: adanya kateter mempredisposisikan klien pada masuknya bakteri.
6. Resiko terhadap konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik sekunder
akibat efek dari anastesi, imobilisasi.
Tujuan: konstipasi tidak terjadi.
Intervensi:
a) Auskultasi terhadap adanya bising usus pada keempat kuadron setiap 4 jam
setelah kelahiran sesarea.
Rasional: menentukan kesiapan terhadap pemberian makan per oral.
b) Palpasi abdomen, perhatikan distensi atau ketidaknyamanan.
Rasional: menandakan pembentukan gas.
c) Anjurkan masukan cairan oral yang adekuat (misal 6-8 gelas per hari) bila
masukan oral sudah mulai kembali dan tingkatkan diet makanan kasar dan buah-
buahan dan sayuran.
Rasional: merangsang eliminasi dan mencegah konstipasi defekasi.
d) Anjurkan latihan kaki dan tingkatkan ambulasi dini.
Rasional: memperbaiki motilitas abdomen.
e) Kolaborasi dalam pemberian obat pelunak feces.
Rasional: melunakkan feses, merangsang peristaltik dan membantu
mengembalikan fungsi usus.
7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan peningkatan metabolisme sekunder terhadap
pembedahan.
Tujuan: mampu melaksanakan aktivitas secara bertahap.
Intervensi:
a) Tentukan kemampuan pasien dalam berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri.
Rasional: kondisi dasar akan menentukan tingkat kekurangan atau kebutuhan.
b) Berikan bantuan sesuai kebutuhan, misalnya personal higyne (perawatan mulut,
mandi, gosok punggung, perawatan perineal).
Rasional: memperbaiki harga diri, meningkatkan perasaan kesejahteraan.
c) Libatkan keluarga dalam perawatan pasien.
Rasional: dukungan keluarga meningkatkan penghargaan terhadap pasien.
d) Anjurkan pasien untuk melakukan mobilisasi dini secara bertahap (miring kiri,
miring kanan, duduk, berdiri dan berjalan).
Rasional: mobilisasi yang dilakukan secara bertahap dapat meningkatkan
kemampuan pasian dalam memenuhi perawatan diri sendiri.
e) Beri posisi V pada pasien dengan blok spiral anastesi selama 6-8 jam pasca
pembedahan.
Rasional: memblok perluasan aliran anastesi dan membantu mengembalikan
kemampuan beraktivitas.
8. Ansietas berhubungan dengan kritis situasi, ancaman pada konsep diri, kebutuhan
tidak terpenuhi.
Tujuan: ansietas berkurang sampai hilang.
Intervensi:
a) Tentukan tingkat ansietas pasien dan sumber masalah.
Rasional: penentuan intervensi lebih lanjut.
b) Dorong pasien untuk mengungkapkan kebutuhan dan harapan yang tidak
terpenuhi.
Rasional: kelahiran SC mungkin dipandang sebagai suatu kegagalan dalam hidup.
c) Beri informasi yang akurat tentang kedaan pasien atau bayinya.
Rasional: menurunkan tingkat kecemasan berkaitan dengan keadaan pasca
pembedahan.
d) Dorong keberadaan atau partisipasi dari pasangan.
Rasional: memberikan dukungan emosional, dapat mendorong pengungkapan
masalah.
e) Mulai kontak antara pasien dan bayi sesegera mungkin.
Rasional: mengurangi ansietas yang mungkin berhubungan dengan penanganan
bayi.
9. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
Tujuan: pengetahuan pasien bertambah.
Intervensi:
a) Kaji persiapan dan motivasi pasien untuk belajar.
Rasional: periode pasca partum dapat menjadi pengalaman positif bila
kesempatan penyuluhan diberikan.
b) Beri penjelasan tentang perawatan post partum dengan sectio cesarea (menyusui,
perawatan bayi baru lahir, dan perawatan luka post SC yang benar)
Rasional: informasi yang diberikan dapat meningkatkan pengetahuan pasien.
c) Beri kesempatan pasien untuk menjelaskan kembali cara perawatan post partum
dengan sectio caesarea (menyusui, perawatan bayi baru lahir, dan perawatan luka
post SC yang benar).
Rasional: teknik evaluasi pada akhir tahap pembelajaran dapat menilai keefektifan
atau keberhasilan pembelajaran yang diberikan.
d) Ingatkan pasien untuk kontrol luka post SC kepoliklinik kebidanan pada hari ke-3.
Rasional: membantu pasien mengingat jadwal kontrol sehingga tidak terjadi
infeksi pada luka post SC.