Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN IMUNOSEROLOGI II

PEMERIKSAAN HBsAg

DISUSUN OLEH :
KELAS : 15 D
KELOMPOK V

NURHILALIYAH : 153145453144
SULPIA : 153145453154
JUMRIANI. S : 153145453135
DEWI ANDRIANI. M : 153145453127
ZULHAM : 153145453160

PROGRAM STUDI D III ANALIS KESEHATAN


STIKES MEGA REZKY
MAKASSAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hepatitis B merupakan penyakit yang banyak ditemukan sebagai penyebab

utama terjadinya kesakitan dan kematian, serta tetap menjadi masalah

kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Virus Hepatitis B (VHB) dapat

menyerang semua umur dan semua suku bangsa, bahkan dapat menimbulkan

berbagai macam manifestasi klinis. Hepatitis B adalah infeksi virus yang

menyerang hati dan dapat menyebabkan penyakit hati akut maupun kronis

(WHO, 2008).

Penyakit hepatitis B saat ini sudah menjadi penyakit endemis di berberapa

negara termasuk Indonesia. Angka prevalensi infeksi virus hepatitis B di

Indonesia antara 3-20%. Hal ini berhubungan dengan penularan virus hepatitis

B secara vertikal dari ibu dengan HBsAg positif kepada bayi yang

dilahirkannya terjadi sebanyak 25-45% (Franco et al., 2012).

Penularan secara horizontal terjadi pada anak sebanyak 25-50%. Anak

terinfeksi sebelum usia 5 tahun dengan daya tular tertinggi pada usia 3-5

tahun 66,7%. Keadaan ini menjadi penting, semakin muda usia terinfeksi

VHB maka efek carier kronis semakin menetap. Indonesia digolongkan ke

dalam kelompok daerah endemisitas sedang sampai tinggi, dan termasuk

negara yang sangat dihimbau oleh WHO untuk segera melaksanakan usaha

pencegahan terhadap hepatitis B (Soejoenoes, 2001).


Deteksi HBsAg dapat dilakukan dengan beberapa metode pemeriksaan,

yaitu serologi dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Uji serologi antara lain

menggunakan metode Enzyme Immunoassay (EIA), Enzyme Linked

Immunoassay (ELISA), Enzyme Linked Flouroscent Assay (ELFA),

Immunochromatography Test (ICT) atau rapid test, Radio Immunoassay

(RIA), dan Chemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA).

Sedangkan untuk mendeteksi DNA virus dapat digunakan PCR (Lin et al.,

2008).

Rapid test merupakan metode ICT untuk mendeteksi HBsAg secara

kualitatif yang ditampilkan secara manual dan memerlukan pembacaan

dengan mata. Tes ini sudah secara luas digunakan dalam mendiagnosis dan

skrining penyakit infeksi di negara berkembang. Tujuan adanya pemeriksaan

HBsAg menggunakan rapid test ini adalah untuk mendeteksi kadar rendah

antigen target yang ada pada darah dengan pasien asimptomatik. Terdapat

beberapa jenis rapid test yang telah diakui keakuratannya, seperti Determine

HBsAg yang memiliki sensitifitas 98,92% dan spesifisitas 100%, serta DRW-

HBsAg yang memiliki sensitifitas 99,46% dan spesifisitas 99,2% (Lin et al.,

2008).

Immunoassay adalah sebuah tes biokimia yang mengukur konsentrasi

suatu substansi dalam cairan, biasanya berupa serum darah dengan melihat

reaksi antibodi terhadap antigennya. Metode CMIA merupakan salah satu tes

immunoassay yang peka dengan ketelitian dan ketepatan analisis yang

baik dengan rentang pengukuran yang luas. Pemeriksaan dengan HBsAg


kuantitatif Architect metode CMIA sudah terkalibrasi standard oleh WHO

International Standard untuk HBsAg. Metode ini dapat mengukur HBsAg

secara kuantitatif yang sama sensitifnya dengan tes asam nukleat untuk

mendeteksi infeksi VHB dengan cepat (Maylin S et al., 2012).

1.2 Tujuan Praktikum

- Mampu mengidentifikasi HbSag dengan berdasarkan prinsip imunnassay

kromotografi

1.3 Prinsip Kerja

Antigen yang terdapat pada sampel akan berikatan dengan Ab konjugat

sehingga akan membentuk kompleks Ag-Ab. Komplek Ag-Ab tersebut akan

melewati garis test (T), sehingga terjadi penjenuhan dan akan membentuk

warna. Sedangkan antibodi yang bebas akan berikatan dengan antigen

konjugat yang berada pada garis kontrol (C), sehingga akan membentuk

warna yang mengindikasikan konjugat berfungsi dengan baik.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hepatitis

Hepatitis merupakan penyakit peradangan pada hati yang disebabkan

oleh virus, bakteri, penyakit autoimun, racun dan lain sebagainya. Virus

hepatitis, sebagai penyebab hepatitis virus telah banyak mengalami

perkembangan. Saat ini, telah ditemukan jenis-jenis virus hepatitis antara lain

virus hepatitis A, B, C, D, E, G dan TT (masih dalam tahap penelitian).

Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut “Hepatitis akut”,

hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut “hepatitis kronis”.

Penyebab Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama salah satu dari

kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi

karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam

kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama

adalah alkohol dan obat-obatan (Mustofa,S. 2013 ).

2.2. Etiologi

Penyebab hepatitis bermacam-macam akan tetapi penyebab utama

hepatitis dapat dibedakan menjadi dua kategori besar yaitu penyebab virus

dan penyebab non virus. Sedangkan insidensi yang muncul tersering adalah

hepatitis yang disebabkan oleh virus. Hepatitis virus dapat dibagi ke dalam

hepatitis A, B, C, D, E, G. Hepatitis non virus disebabkan oleh agen bakteri,

cedera oleh fisik atau kimia, pada prinsipnya penyebab hepatitis terbagi atas
infeksi dan bukan infeksi. Hepatitis B dan C dapat berkembang menjadi

sirosis (pengerasan hati), kanker hati dan komplikasi lainnya yang dapat

mengakibatkan kematian (Mustofa,S. 2013 ).

Dalam masyarakat kita, penyakit hepatitis biasa dikenal sebagai

penyakit kuning. Sebenarnya hepatitis adalah peradangan organ hati (liver)

yang disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor penyebab penyakit hepatitis

atau sakit kuning ini antara lain adalah infeksi virus, gangguan metabolisme,

konsumsi alkohol, penyakit autoimun, hasil komplikasi dari penyakit lain,

efek samping dari konsumsi obat-obatan maupun kehadiran parasit dalam

organ hati (liver). Salah satu gejala penyakit hepatitis (hepatitis symptoms)

adalah timbulnya warna kuning pada kulit, kuku dan bagian putih bola mata.

Peradangan pada sel hati dapat menyebabkan kerusakan sel-sel, jaringan,

bahkan semua bagian dari organ hati (liver). Jika semua bagian organ hati

(liver) telah mengalami kerusakan maka akan terjadi gagal hati (liver) yang

menyebabkan kematian (Mustofa,S. 2013 ).

2.3. Patofisiologi

Virus atau bakteri yang menginfeksi manusia masuk ke aliran darah

dan terbawa sampai ke hati. di sini agen infeksi menetap dan mengakibatkan

peradangan dan terjadi kerusakan sel-sel hati (hal ini dapat dilihat pada

pemeriksaan SGOT dan SGPT). Akibat kerusakan ini maka terjadi

penurunan penyerapan dan konjugasii bilirubin sehingga terjadi disfungsi

hepatosit dan mengakibatkan ikterik. peradangan ini akan mengakibatkan

peningkatan suhu tubuh sehinga timbul gejala tidak nafsu makan


(anoreksia). Salah satu fungsi hati adalah sebagai penetralisir toksin, jika

toksin yang masuk berlebihan atau tubuh mempunyai respon

hipersensitivitas, maka hal ini merusak hati sendiri dengan berkurangnya

fungsinya sebagai kelenjar terbesar sebagai penetral racun. Aktivitas yang

berlebihan yang memerlukan energi secara cepat dapat menghasilkan H2O2

yang berdampak pada keracunan secara lambat dan juga merupakan

hepatitis non-virus. H2O2 juga dihasilkan melalui pemasukan alkohol yang

banyak dalam waktu yang relatif lama, ini biasanya terjadi pada alkoholik.

Peradangan yang terjadi mengakibatkan hiperpermea-bilitas sehingga terjadi

pembesaran hati, dan hal ini dapat diketahui dengan meraba / palpasi hati.

Nyeri tekan dapat terjadi pada saat gejala ikterik mulai nampak (Hardjoeno

2007 ).

Hepatitis viral dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu kronik dan

akut. Klasifikasi hepatitis viral akut dapat dibagi atas hepatitis akut viral

yang khas, hepatitis yang tak khas (asimtomatik), hepatitis viral akut yang

simtomatik, hepatitis viral anikterik dan hepatitis viral ikterik. Hepatitis

virus kronik dapat diklasifikasikan dalam 3 kelompok yaitu hepatitis kronik

persisten, hepatitis kronik lobular, dan hepatitis kronik aktif.

Virus hepatitis A mempunyai masa inkubasi singkat/hepatitis infeksiosa,

panas badan (pireksia) didapatkan paling sering pada hepatitis A. Hepatitis

tipe B mempunyai masa inkubasi lama atau disebut dengan hepatitis serum

(Hardjoeno 2007 ).
Hepatitis akibat obat dan toksin dapat digolongkan ke dalam empat

bagian yaitu: hepatotoksin-hepatotoksin direk, hepatotoksin-hepatotoksin

indirec, reaksi hipersensitivitas terhadap obat, dan idiosinkrasi metabolik

(Hardjoeno 2007 ).

Obat-obat yang dapat menyebabkan gangguan/ kerusakan hepar

adalah: (Kresno boediana 2014).

1. Obat anastesi.

2. Obat antibiotik.

3. Obat antiinflamasi.

4. Obat antimetabolik dan imunosupresif.

5. Antituberkulosa.

6. Hormon-hormon.

7. Obat psikotropik.

8. Lain-lain, contoh phenothiazine.

2.4. Gambaran klinis Penyakit Hepatitis

Gambaran klinis dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu :

1. Hepatitis kronik.

a. Secara klinis bervariasi dari keadaan dari keadaan tanpa keluhan

sampai perasaan lelah yang sangat mengganggu. Adanya keluhan

dan gejala hipertensi portal (asites, perdarahan varises esofagus)

menunjukkan penyakit pada stadium yang sudah lanjut.

b. Pemeriksaan biokimiawi menunjukkan peningkatan kadar

bilirubin, transminase dan globulin serum.


c. Gambaran histopatologis memperlihatkan kelainan morfologis

yang khas untuk hepatitis kronik (Kresno boediana 2014).

2. Hepatitis akut.

a. Pada umumnya, hepatitis tipe A, B, dan C mempunyai perjalanan

klinis yang sama. Hepatitis tipe b dan c cenderung lebih parah

perjalanan penyakitnya dan sering dihubungkan dengan serum-

sickness.

b. Serangan yang teringan tidak menunjukkan gejala dan hanya

ditandai dengan naiknya transminase serum.

c. Serangan ikterus biasanya pada orang dewasa dimulai dengan

suatu masa prodmoral kurang lebih 3-4 hari sampai 2-3 minggu,

saat mana pasien umumnya merasa “tidak enak badan”, menderita

gejala digestif, terutama anoreksia dan nausea, dan kemudian ada

panas badan ringan; ada nyeri di abdomen kanan atas, yang

bertambah pada tiap guncangan badan; tak ada nafsu untuk

merokok atau minum alkohol; perasaan badan tak enak bertambah

menjelang malam dan pasien merasa sengsara.

d. Kadang-kadang dapat menderita sakit kepala yang hebat.

e. Hati dapat di palpasi dengan pinggiran yang lunak dan nyeri tekan

pada 70% pasien.

f. Setelah kurang lebih 1-4 minggu masa ikterik, biasanya pasien

dewasa akan sembuh (Kresno boediana 2014).


3. Manifestasi Klinik

a. Stadium Praikterik berlangsung selama 4-7 hari. Pasien mengeluh

sakit kepala, lemah, anoreksia, mual, muntah, nyeri pada otot, dan

nyeri di perut kanan atas, urin menjadi lebih coklat.

b. Stadium Ikterik, berlangsung selama 3-6 minggu. Ikterus mula-

mula terlihat pada sclera, kemudian pada kulit seluruh tubuh.

Keluhan-keluhan berkurang, tetapi pasien masih lemah anoreksia,

dan muntah. Hati membesar dan nyeri tekan. Tinja mungkin

berwarna kelabu atau kuning muda. Serangan Ikterus biasanya

pada orang dewasa dimulai dengan suatu masa prodromal, kurang

lebih 3-4 hari sampai 2-3 minggu, saat mana pasien umumnya

merasa tidak enak makan, menderita gejala digestive terutama

anoreksia dan nausea dan kemudian ada panas badan ringan, ada

nyeri di abdomen kanan atas yang bertambah pada tiap guncangan

badan. Masa prodormal diikuti warna urin bertambah gelap dan

warna tinja menjadi gelap, keadaan demikian menandakan

timbulnya ikterus dan berkurangnya gejala : panas badan

menghilang, mungkin timbul bradikardi. Setelah kurang lebih 1-2

minggu masa ikterik, biasanya pasien dewasa akan sembuh. Tinja

menjadi normal kembali dan nafsu makan pulih. Setelah

kelihatannya sembuh rasa lemah badan masih dapat berlangsung

selama beberapa minggu.


c. Stadium pasca ikterik. Ikterus mereda, warna urin dan tinja

menjadi normal lagi.Penyembuhan pada ank-anak lebih cepat

lebih cepat dari orang dewasa, yaitu pada akhir bulan kedua,

karena penyebab yang biasanya berbeda (Kresno boediana 2014).

2.5 Pengertian Hepatitis B

Virus hepatitis B (VHB) adalah virus DNA, suatu prototif virus yang

termasuk keluarga Hepadnaviridae. Virus ini memiliki DNA yang sebagian

berupa untaian tungaal (single stranded DNA) dan DNA polymerase endogen

yang berfungsi menghasilkan DNA untaian ganda (double stranded DNA,

dsDNA). Virion lengkap VHB terdiri atas suatu struktur berlapis ganda

dengan diameter keseluruhan 42 nm. Bagian inti sebelah dalam (inner core)

yang berdiameter 28 nm dan dilapisis selaput (envelop) yang tebalnya 7 nm

mengandung dsDNA dengan berat molekul 1.6X 106. Bagian envelop yang

mengelilingi core terdiri ataskompleks dengan sifat biokimia heterigen ;

bagian ini mempunyai sifat antigen berbeda dengan antigen core (HBcAg)

dan disebut antigen permukaan hepatitis B surface antigen (HbsAg). HbsAg

diproduksi lebih banyak oleh hepatosit yang terinfeksi dan dilepaskan ke

dalam darah sebagai partikel bulat berukuran 17-25 nm (diametrer rata-rata

20 nm) dan sebagian partikel tubuler berdiameter sama yang panjangnya

berkisraan natara 100-200 nm (Mustofa,S. 2013 ).

Antibody terhadap HBcAg dan HBsAg masing-masing disebut antyi

HBc dan anti-HBs. Keberadaan anti-HBs dalam sirkulasi melindungi

seseorang terhadap infeksi dengan VHB. Selain kedua jenis antigen di atas
antigen lain yang diketahui adalah HBeAg yang merupakan bagian integral

dari kapsid virion VHB. HBeAg dapat beredar bebas dalam darah atau

membentuk kompleks dengan IgG. Karena kaitannya ssangat erat dengan

nukleokapsid VHB, maka HBeAg merupakan petanda yang dapat dipercaya

yang menunjukkan banyaknya virion dalam serum. Sebaliknya ant HBe

digabungkan dengan kadar virion yang lebih rendah (Mustofa,S. 2013 ).

Hepatitis B adalah salah satu peradangan hati yang disebabkan oleh

suatu virus hepatitis B. Hepatitis B muncul dalam darah dan menyebar

melalui kontak dalam darah, air mani dan cairan vagina yang terinfeksi atau

penggunaan bersama jarum obat. Hepatitis B merupakan penyakit yang dapat

berjalan akut maupun kronik. Sebagian penderita hepatitis B akan sembuh

secara sempurna dan mempunyai kekebalan seumur hidup, tapi sebagian lagi

gagal memperoleh kekebalan. Virus hepatitis B dengan komponen antigen

permukaan (HbsAg). Diameter 42 nm, dengan ” core ” 4 nm. ” coat virion ”

merupakan ” surface antigen ” atau HbsAg ”. Suface antigen biasanya

diproduksi berlebihan sehingga dijumpai dalam darah penderita. Pada

hepatitis agresif, hati mengalami peradangan kronik, fibrotik dan mengecil

dan dapat menjurus. Gejalanya meliputi penyakit kuning, lemah, rasa sakit

pada perut dan muntah (Mustofa,S. 2013 ).


2.6 Cara Penyebaran Virus Hepatitis B

Penyebaran virus hepatitis B dapat melalui berbagai cara :

1. Penularan melalui kulit (perkutan)

Penularan perkutan terjadi jika bahan yang mengandung HBsAg/partikel

virus hepatitis B intak masuk atau dimasukkan ke dalam kulit. Terdapat 2

keadaan cara penularan ini : (Kresno boediana 2014).

a. Penularan perkutan yang nyata :

Terjadi jika bahan yang infeksius masuk melewati

kulit; melalui penyuntikan darah atau bahan yang berasal

dari darah, baik secara intravena atau tusukan jarum.

1) Hepatitis pasca transfusi

Hepatitis virus B akut dapat timbul sebagai

akibat transfusi darah yang mengandung HBsAg

positip. Dengan melakukan uji saring darah donor

terhadap adanya HBsAg, maka jelas terdapat

penurunan prevalensi kejadian hepatitis pasca

transfusi.

2) Hemodialisa

Prevalensi yang tinggi baik sebagai infeksi

akut maupun kronik, telah dilaporkan pada

penderita dengan penyakit gagal ginjal kronik yang

menjalani hemodialisa berkala.


3) Alat suntik

Penularan lewat suntikan dengan

mempergunakan alat yang tidak steril, telah lama

dikenal. Sering sesudah imunisasi masal terjadi

letupan hepatitis beberapa waktu kemudian.

b. Penularan perkutan tidak nyata :

Penularan perkutan yang tidak nyata bisa terjadi.

Banyak penderita mendapat hepatitis virus B dan tidak

pernah dapat mengingat bahwa mereka mendapat trauma

pada kulit atau hal lain, virus hepatitis B tidak dapat

menembus kulit yang sehat, namun dapat melalui kulit

yang mengalami kelainan penyakit kulit. Penularan yang

tidak nyata ini sangat mungkin memegang peranan penting

dalam menerangkan jumlah pengidap HBsAg yang sangat

besar.

2. Penyebaran melalui selaput lendir

a. Penyebaran peroral

Cara ini terjadi jika bahan yang infeksius mengenai

selaput lendir mulut. Cara ini tidak sering menimbulkan

infeksi. Agaknya penularan melalui mulut hanya terjadi

pada mereka dimana terdapat luka didalam mulutnya.


b. Penyebaran seksual

Cara ini terjadi melalui kontak dengan selaput lendir

saluran ginjal, sebagai akibat kontak seksual dengan

individu yang mengandung HBsAg positip yang bersifat

infeksius. Infeksi dapat terjadi melalui hubungan seksual

baik heteroseksual maupun homoseksual. Hal ini

dimungkinkan oleh karena cairan sekret vagina dapat

mengandung HBsAg.

c. Penularan perinatal (transmisi vertikal)

Penularan perinatal ini disebut juga sebagai

penularan maternal neonatal dan merupakan cara penularan

yang unik. Penularan infeksi virus hepatitis B terjadi dalam

kandungan, sewaktu persalinan, pasca persalinan.

2.7 Pengertian HbsAg

Antigen permukaan virus hepatitis B (hepatitis B surface antigen,

HBsAg) merupakan material permukaan dari virus hepatitis B. Pada awalnya

antigen ini dinamakan antigen Australia karena pertama kalinya diisolasi oleh

seorang dokter peneliti Amerika, Baruch S. Blumberg dari serum orang

Australia (Kresno boediana 2014).

HBsAg merupakan petanda serologik infeksi virus hepatitis B pertama

yang muncul di dalam serum dan mulai terdeteksi antara 1 sampai 12 minggu

pasca infeksi, mendahului munculnya gejala klinik serta meningkatnya

SGPT. Selanjutnya HBsAg merupakan satu-satunya petanda serologik selama


3 – 5 minggu. Pada kasus yang sembuh, HBsAg akan hilang antara 3 sampai

6 bulan pasca infeksi sedangkan pada kasus kronis, HBsAg akan tetap

terdeteksi sampai lebih dari 6 bulan dan tidak adanya anti-HBc IgM.

Beberapa kasus menunjukkan peningkatan menjadi hepatitis kronis

berhubungan dengan adanya penyakit kronis yang diderita, misalnya

kegagalan ginjal, infeksi HIV, dan diabetes..HBsAg positif yang persisten

lebih dari 6 bulan didefinisikan sebagai pembawa (carrier). Sekitar 10%

penderita yang memiliki HBsAg positif adalah carrier, dan hasil uji dapat

tetap positif selam bertahun-tahun (Kresno boediana 2014).

2.8 Pemeriksaan HbsAg

Pemeriksaan HBsAg berguna untuk diagnosa infeksi virus hepatitis B,

baik untuk keperluan klinis maupun epidemiologik, skrining darah di unit-

unit transfusi darah, serta digunakan pada evaluasi terapi hepatitis B kronis.

Pemeriksaan ini juga bermanfaat untuk menetapkan bahwa hepatitis akut

yang diderita disebabkan oleh virus B atau superinfeksi dengan virus lain

(Kresno boediana 2012).

HBsAg positif dengan IgM anti HBc dan HBeAg positif

menunjukkan infeksi virus hepatitis B akut. HBsAg positif dengan IgG anti

HBc dan HBeAg positif menunjukkan infeksi virus hepatitis B kronis

dengan replikasi aktif. HBsAg positif dengan IgG anti HBc dan anti-HBe

positif menunjukkan infeksi virus hepatitis B kronis dengan replikasi rendah

(Hardjoeno 2007 ).
Pemeriksaan HbsAg secara rutin dilakukan pada pendonor darah

untuk mengidentifikasi antigen hepatitis B. Transmisi hepatitis B melalui

transfusi sudah hampir tidak terdapat lagi berkat screening HbsAg pada darah

pendonor. Namun, meskipun insiden hepatitis B terkait transfusi sudah

menurun, angka kejadian hepatitis B tetap tinggi. Hal ini terkait dengan

transmisi virus hepatitis B melalui beberapa jalur, yaitu parenteral, perinatal,

atau kontak seksual. Orang yang berisiko tinggi terkena infeksi hepatitis B

adalah orang yang bekerja di sarana kesehatan, ketergatungan obat, suka

berganti-ganti pasangan seksual, sering mendapat transfusi, hemodialisa, bayi

baru lahir yang tertular dari ibunya yang menderita hepatitis B (Kresno

boediana 2014).

Menurut Kresno boediana tahun 2014 ada beberapa pemeriksaan

standar yang biasa digunakan untuk menegakkan diagnosa infeksi hepatitis B

yaitu:

1. HBsAg (hepatitis B surface antigen): adalah satu dari penanda yang

muncul dalam serum selama infeksi dan dapat dideteksi 2 -8

minggu sebelum munculnya kelainan kimiawi dalam hati atau

terjadinya jaundice (penyakit kuning). Jika HBsAg berada dalam

darah lebih dari 6 bulan berarti terjadi infeksi kronis. Pemeriksaan

HBsAg bisa mendeteksi 90% infeksi akut.

2. Fungsi dari pemeriksaan HBsAg diantaranya :

- Indikator paling penting adanya infeksi virus hepatitis B

- Mendiagnosa infeksi hepatitis akut dan kronik


- Tes penapisan (skrining) darah dan produk darah (serum, platelet

dll).

- Skrining kehamilan

3. Anti HBs (antobodi terhadap hepatitis B surface antigen): jika

hasilnya “reaktif/positif” menunjukkan adanya kekebalan terhadap

infeksi virus hepatitis B yang berasal dari vaksinasi ataupun proses

penyembuhan masa lampau.

4. Anti HBc (antibodi terhadap antigen inti hepatitis B): terdiri dari 2

tipe yaitu Anti HBc IgM dan Anti HBc IgG.

Anti HBc IgM:

- Muncul 2 minggu setelah HBsAg terdeteksi dan bertahan hingga 6

bulan.

- Berperan pada core window(fase jendela) yaitu saat dimana HBsAg

sudah hilang tetapi anti-HBs belum muncul.

Anti HBc IgG:

- Muncul sebelum anti HBcIgM hilang

- Terdeteksi pada hepatitis akut dan kronik

- Tidak mempunyai efek protektif

Interpretasi hasil dan beberapa metode yang dapat di gunakan dimana

anti-HBc tergantung hasil pemeriksaan HBsAg dan Anti-HBs (Hardjoeno

2007 ).
2.8.1 Metode : HBsAg Test

a. Prinsip :

Ketika serum/plasma ditambahkan dalam

sampel pad, serum akan bergerak menuju pada konjugat

yang dilapisi dengan gold-monoclonal antibody sebagai

anti HBs konjugat. Campuran tersebut bergerak di

sepanjang membran oleh aksi kapiler dan bereaksi

dengan cocktail monoclonal dan polyclonal antibody anti

HBs yang melapisi area test. Apabila terdapat HBsAg

pada tingkat minimal 0,5ng/ml, hasilnya terbentuk warna

pada tes tersebut. Jika tidak ada HBsAg dalam sampel,

warna pada area tidak akan nampak. Selanjutnya sampel

akan menuju ke kontrol area dan membentuk warna

merah / ungu mengindikasikan bahwa tes bekerja dan

hasilnya valid.

b. Interprestasi hasil

Baca Interpretasi dalam 20-30 menit

 Positif (+) : Adanya dua garis warna pada tanda T

dan C

 Negatif (- ) : Hanya ada satu garis warna pada

kontrol (C)

 Invalid : Tidak ada garis warna pada kontrol (C).


2.8.2 Metode : pasif aglutinasi latex

a. Prinsip :

HbsAg dalam serum akan berekasi dengan

antibodi HbsAg yang reaktif yang dilekatkan pada latex

yang ditandai dengan aglutinasi yang jelas.

b. Interprestasi hasil.

- Hasil postif terdapat aglutinasi

2.8.3 Pemeriksaan Hepatitis B metode ELISA

a. Prinsip :

Pencucian untuk menghilangkan pembungkus

antigen terbentuk kompleksbiotin dan streptolisin

menghubungkan alkalin fosfat mengkatalisis hidrolis

dan substrat menghasilkan fluoresensi, diukur pada

panjang gelombang 450 nm. Intensitas dari fluoresensi

sebanding dengan kualitas Anti-HBs pada serum.

b. Interpretasi Hasil :

Ada atau tidaknya HBsAg dalam sample yang

diperiksa ditentukan oleh hubungan nilai absorban dari

setiap sample dengan nilai Cut Off (NCO).

 Sample positif bila absorban ≥ Cut Off Value

(COV).

 Sample negative bila absorban sample < Cut Off

Value (COV).
BAB III

METODELOGI KERJA

3.1 Alat yang diperlukan :

1. Cetrifuge.

2. Tabung reaksi.

3. Tourniquet.

4. Timer.

5. Sarung tangan steril.

6. Masker.

3.2 Bahan yang diperlukan :

1. Sampel serum.

2. Spuit.

3. Kapas alkohol 70%.

4. Alat uji Immunoassay merk CIK (dipcard).

3.3 Prosedur kerja :

1. Preparasi sampel

a. Diambil darah vena pasien sebanyak 3 ml

b. Disentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 3000 rpm hingga

didapatkan sampel serum.

Keterangan :

Sampel darah harus disimpan dalam wadah bersih dan

kering. Uji dapat dilakukan menggunakan sampel plasma maupun


serum, pengumpulanya harus mengikuti prosedur laboratorium

klinik reguler, dipisahkan serum dan plasma sesegera mungkin

agar tidak terjadi hemolisis, suhu spesimen berkisar 2- 8° C,

spesimen harus segera digunakan setelah pengumpulan jika tidak,

untuk penyimpanan yang berkepanjangan spesimen dapat

dibekukan dan disimpan dibawah suhu -20°C dengan catatan

spesimen tidak boleh dibekukan berulang-ulang kali.

c. Diperhatikan kondisi sampel yang diperoleh dengan melihat

terjadinya hemolisis atau tidak

2. Cara kerja:

a. Dibuka kemasan alat uji pada suhu kamar.

b. Diberi label pada alat uji dengan identitas pasien.

c. Disimpan alat uji pada permukaan yang datar dan bersih.

d. Diteteskan 60-90 µl serum (2 tetes) ke dalam alat uji dan

dipastikan tidak ada gelembung udara

e. Diatur waktu sebelum pembacaan.

f. Dibaca hasilnya dalam 15 menit. Hasil positif bisa terlihat

sesingkat 1 menit.
BAB IV

HASIL PRAKTIKUM

1.
Jenis Specimen Serum

2.
Kondisi Specimen Baik

3.
Kode Specimen Mr. M

4.
Merek KIT CIK

5.
No. Lot F 02 11KI

6.
Tanggal kadaluarsa 16/02/2016

7.
Metode Pemeriksaan Card

Antigen yang terdapat pada sampel


serum akan berikatan dengan antibodi
konjugat sehingga membentuk
kompleks antigen-antibodi, kemudian
kompleks antigen-antibodi ini akan
berikatan dengan antibodi yang
8.
Prinsip Pemeriksaan terdapat pada garis T (Test) sampai
jenuh. Selanjutnya antibodi bebas akan
berikatan dengan antigen yang
terdapat pada garis C (Control) hingga
membentuk kompleks warna yang
mengindikasikan bahwa kojugat
berfungsi dengan baik
Negatif (-)

9.
Intrepretasi Hasil
BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum yang dilakukan kali ini, diperoleh hasil negatif pada

pemeriksaan HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen), sehingga akan terbentuk 1

garis yaitu pada area kontrol (C). Hal ini dikarenakan, spesimen tidak

mengandung antigen HBs, maka tidak terbentuk kompleks Ag-Ab pada area test

(T) sehingga tidak menghasilkan warna. Sedangkan, pada area kontrol (C)

terbentuk warna dikarenakan antibodi bebas yang akan berikatan dengan antigen

konjugat yang berada pada area kontrol (C) dan akan terbentuk warna yang

mengindikasikan konjugat berfungsi dengan baik atau hasil uji dapat dikeluarkan

(valid).

Terbentuknya garis warna akan terlihat di permukaan pada area test (T), jika

terdapat antigen yang cukup terhadap resiko HBV (Hepatitis B Virus) dalam

sampel. Jika antigen terhadap resiko HBV tidak ada atau ada namun pada tingkat

yang sangat rendah dalam sampel, maka tidak akan ada warna yang muncul dalam

garis test (T). Adanya HBsAg dapat dideteksi karena antigen dari sampel serum

atau plasma akan berikatan dengan antibodi rekombinan virus Hepatitis B yang

terdapat di dalam Test Kit Anti-HBs. Kompleks tersebut akan bermigrasi

disepanjang membrane strip secara kromatografi menuju daerah test dan

menghasilkan garis berwarna pada daerah garis uji apa bila hasilnya positif.

Pada patofisiloginya sendiri, sel hati manusia merupakan target organ bagi

virus Hepatitis B. Virus ini, mula-mula melekat pada reseptor spesifik di

membran sel hepar kemudian mengalami penetrasi ke dalam sitoplasma sel hepar.
Virus melepaskan mantelnya di sitoplasma, sehingga melepaskan nukleokapsid.

Selanjutnya nukleokapsid akan menembus sel dinding hati. Asam nukleat VHB

akan keluar dari nukleokapsid dan akan menempel pada. DNA hospes dan

berintegrasi pada DNA tersebut. Proses selanjutnya adalah DNA VHB

memerintahkan sel hati untuk membentuk protein bagi virus baru. Virus Hepatitis

B dilepaskan ke peredaran darah, terjadi mekanisme kerusakan hati yang kronis

disebabkan karena respon imunologik penderita terhadap infeksi (Mustofa &

Kurniawaty, 2013).

Setelah HBsAg menghilang, anti-HBs akan terdeteksi dalam serum pasien

dan terdeteksi sampai waktu yang tidak terbatas sesudahnya. Karena terdapat

variasi dalam waktu timbulnya anti-HBs, kadang terdapat suatu tenggang waktu

(window period) beberapa minggu, bulan atau tahun lebih yang memisahkan

hilangnya HBsAg dan timbulnya anti-HBs. Selama periode tersebut, anti-HBc

dapat menjadi bukti serologik pada infeksi virus Hepatitis B. Anti- HBc sendiri

merupakan antibodi terhadap antigen core yang terdapat pada sel hati. Dikenal 2

macam anti-HBc yaitu anti-HBc IgM dan anti-HBc total. Untuk mengetahui

adanya infeksi virus hepatitis B bila HBsAg dan anti-HBs negatif, perlu dilakukan

pemeriksaan anti-HBc IgM untuk memastikan apakah individu tersebut telah

terpapar (Asdie et al, 2012).

Berdasarkan pada patofisologinya, antigen virus Hepatitis B (HBV) dapat

dideteksi dalam serum manusia sekitar 2 minggu sampai 2 bulan sebelum ada

gejala klinik yang terjadi. Pada pemeriksaan HBsAg (Hepatitis B Surface

Antigen) sendiri, dapat menggunakan spesimen serum atau plasma heparin.


Sampel yang digunakan merupakan sampel yang tidak limfemik, tidak

hemolisis (pemisahan serum atau plasma harus dilakukan segera mungkin),

dimana sampel yang digunakan merupakan sampel serum atau plasma. Specimen

yang ikterik (hiperbilirubin sampai dengan 500µmol/l), hemolisis (sampai dengan

30mg/l) dapat mempengaruhi hasil pembacaan yang dapat memberikan hasil

positif palsu maupun negatif palsu.

Pada pemeriksaan HBsAg secara kualitatif, apabila ditemukan hasil positif

dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan HBsAg secara kuantitatif dengan

pemeriksaan HBsAg Architect berdasarkan metode CMIA (Chemiluminescence

Microparticle Immunoassay test). Metode ini, merupakan generasi terbaru setelah

ELISA dengan kemampuan deteksi yang lebih sensitif. Interpretasi hasil dari

pemeriksaan HBsAg kuantitatif Architect adalah nonreaktif jika spesimen dengan

nilai konsentrasi <0,05 IU/mL dan reaktif jika spesimen dengan nilai konsentrasi

>0,05 IU/mL. Sampel nonreaktif menandakan negatif untuk HBsAg dan tidak

membutuhkan tes selanjutnya (Ahn SH dan Lee JM, 2011).


BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pemeriksaan pada sampel darah dengan metode rapid test
dan prinsip imunokromatografi assay, dapat disimpulkan bahwa hasil yang
diperoleh negatif (-).
DAFTAR PUSTAKA

Ahn SH, Lee JM. 2011. Quantification of HBsAg: Basic virology for clinical
practice. World J Gastroenterol. 17(3):283-89.

Asdie AH, dkk. 2012. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Edisi ke-
13. Jakarta: EGC.

Boediana Kresno, S. 2012 . Imunologi Diagnosis dan Prosedur Laboratorium,


edisi ketiga : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Boediana Kresno, S. 2014 . Imunologi Diagnosis dan Prosedur Laboratorium,


edisi keempat : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Hardjoeno UL. 2007. Kapita selekta hepatitis virus dan enterprestasi hasil
laboratorium. Makassar. : Cahaya dinan rucitra. : Hlm 5-14.

Mustofa S, Kurniawaty E. 2013. Manajemen gangguan saluran serna : panduan


bagi dokter umum. Bandar lampung : Aura printing dan publishing.
Jlm.272-7.
DAFTAR TUGAS
KELOMPOK

No. Nama Kelompok Tugas


1. Nurhilaliyah Bab II – Dapus
2. Sulpia Bab V & VI
3. Jumriani. S Bab III & IV
4. Dewi Andriani. M Bab I
5. Zulham Bab I