Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN

“TERAPI BERMAIN LABIRIN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN FUNGSI


PERNAPASAN”

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sistem Respirasi

Dosen Pengampu : Puji Purwaningsih S.Kep.

DISUSUN OLEH KELOMPOK I :

M. AMIRUDIN AKBAR (010112a061)


NANIK PURWANTI (010112a066)
NURJAKNAH (010112a071)
OCTAVIA N.A (010112a076)
RESTI ANGGRAENI (010112a081)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO

T.A. 2013-2014
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

“TERAPI BERMAIN LABIRIN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN FUNGSI


PERNAPASAN”

 Topik : Terapi Bermain Labirin Pada Anak Dengan Gangguan Fungsi


Pernapasan
 Hari/Tanggal : Jum’at, 06 Desember 2013
 Tempat : Laboratorium Anak
 Peserta : Anak-anak usia 4-12 tahun
 Waktu : 08.00 WIB - Selesai
 Lama : 30 menit
 Rasio Perawat/Pasien : 1:1
 Penyaji : Mahasiswa STIKES Ngudi Waluyo / PSIK B (III)

A. LATAR BELAKANG
Beberapa masalah kesehatan yang paling umum dalam kelompok usia anak yang
terkait dengan fungsi pernafasan, dengan kegagalan pernapasan, seperti dalam penyebab
morbiditas lahir waktu (kendig & chernick tahun 1983). Masalah pernapasan pada
anak-anak, dapat disebabkan oleh penyakit ini, fisik atau anomali yang dapat dilihat
sebagai manifestasi dari sistem organ atau gangguan lain. Penyakit menular yang
memiliki sistem pernapasan (whaley & wong 1991 ).
Penyedia layanan kesehatan merancang kegiatan bermain untuk pasien anak
dengan ekspansi berkurang paru-paru , gangguan aliran udara , atau abnomalities lain
yang mengganggu fungsi pernapasan harus memahami bahwa perbedaan perkembangan
ada di antara anak dan sistem pernapasan dewasa . Ukuran dan posisi jalan napas anak
memungkinkan untuk dengan mudah terhalang dengan penyakit pernapasan . Bahkan
jumlah minimal pembengkakan dan peradangan di sepanjang jalan napas dapat membuat
gangguan pernapasan pada anak ( Whaley & Wong , 1991; feeg & Harbin , 1991) .
Jalan nafas dari bayi dan anak muda belum berkembang sempurna dibandingkan
pada orang dewasa , sehingga mereka lebih mudah terhalang oleh mual , darah , atau
edema ( Behrman & Vaughn , 1987; Blazer , Navek & Friedman , 1980; Hagedown ,
Gardner , & Abman , 1989) . Dalam bayi rusuk muda lebih lentur dan gagal untuk
mendukung paru-paru , menyebabkan retraksi dengan masalah pernapasan. Pernafasan
selanjutnya dikompromikan ketika dada tidak dapat mengkompensasi , seperti pada anak
dengan asma atau distensi abdomen ( Ellis , 1988).
Seorang anak memiliki tingkat metabolisme lebih tinggi dibandingkan dengan
orang dewasa dan , karena itu, penyakit paru yang mempengaruhi fungsi pernafasan
dapat mengakibatkan peningkatan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen .
Sebagai contoh, pada anak dengan bronkiolitis , penyakit dapat mengganggu pertukaran
udara di paru-paru ( Wohl , 1986) . Untuk setiap anak dengan masalah pernapasan ,
memiliki informasi tentang penyakit anak sekarang adalah penting ( misalnya , Apakah
ini sebuah penyakit akut ? Apakah anak memiliki infeksi saluran pernapasan atas atau
bawah berulang ? ). Beberapa penyakit paru-paru , seperti cystic fibrosis , yang
diwariskan. Penyakit , seperti asma atau bronkitis , memiliki keduanya penyebab genetik
dan lingkungan.
B. TUJUAN
1) Untuk meningkatkan ekspansi paru dan kedalaman pernafasan
2) Untuk membantu proses penyembuhan anak yang mengidap gangguan fungsi
pernapasan.
3) Setelah mengikuti program bermain diharapkan anak dapat bersosialisasi dan dapat
mengekspresikan perasaannya selama di rawat di rumah sakit serta melanjutkan
tumbuh kembang anak dan meminimalkan hospitalisasi pada anak.

C. KRITERIA HASIL
Secara verbal anak mengatakan senag dapat mengikuti aktivitas bermain bersama
yang telah dilaksanakan,Anak keluar dari ruangan bermain dengan wajah ceria dan
menceritakan pengalamannya pada orang tua,Anak termotivasi untuk bermain lagi,Anak
tidak merasa cemas selama dirawat di Rumah Sakit.
D. PENGORGANISASIAN
1. Struktur Organisasi
a. Leader : OCTAVIA NURAINI
b. Co. Leader : NURJAKNAH
c. Fasilitator : 1. M. AMIRUDIN AKBAR
2. NANIK PERWANTI
d. Observer : 1. RESTI ANGGRAENI
3. Uraian Tugas
a. Leader
Menjelaskan tujuan bermain
Mengarahkan proses kegiatan pada anggota kelompok
Menjelaskan aturan bermain pada anak
Mengevaluasi perasaan setelah pelaksanaan
b. Co.Leader
Membantu leader dalam mengorganisasi anggota.
c. Fasilitator
Menyiapkan alat-alat permainan
Memberi motivasi kepada anak untuk mendengarkan apa yang sedang
dijelaskan.
Mempertahankan kehadiran anak
Mencegah gangguan/hambatan terhadap anak baik luar maupun dalam.
d. Observer
Mencatat dan mengamati respon klien secara verbal dan non verbal.
Mencatat seluruh proses yang dikaji dan semua perubahan prilaku,
Mencatat dan mengamati peserta aktif dari program bermain

D. PERENCANAAN KEGIATAN BERMAIN


1. Jenis Program Bermain
“LABIRIN (Menentukan Jalan Keluar)”
2. Karakteristik Bermain
a. Meningkatkan kedalaman pernafasan secara perlahan untuk efek yang lebih baik.
b. Melatih motorik halus
c. Melatih motorik kasar
d. Melatih kesabaran dan kecekatan
3. Karakteristik Peserta
a. Anak usia 4 sampai 12 tahun
b. Keadaan umum mulai membaik
c. Klien dapat bergerak atau ambulasi
d. Tidak cacat fisik
e. Peserta kooperatif
4. Sasaran
Pasien anak yang mengalami gangguan pernafasan (usia 4-12 tahun).
5. Media
a. Beberapa kardus membentuk labirin
b. Bola kecil
c. Sedotan
6. Metode
Demonstrasi dan praktik.
7. Proses Bermain
a. Pelaksanaan permainan dilaksanakan di dalam ruang bermain (lab. Anak)
b. Mahasiswa yang sebagai perawat anak, duduk disamping anak.
c. Mahasiswa melakukan pendekatan terlebih dahulu sebelum ke tujuan utama agar
anak merasa nyaman.
d. Mahasiswa mengenalkan dan menjelaskan permainan yang akan dimainkan.
e. Mahasiswa memberi contoh terlebih dahulu bagaimana jalannya permainan
kemudian menuntun anak agar dapat melakukannya sendiri
f. Memberi dukungan pada anak agar semangat.
g. Beri apresiasi atau reinforcment positif atas usaha anak dalam melakukan
permainannya.
8. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan
a. Permainan tidak boleh dilakukan pada saat pasien asma.
b. Fisik anak harus dalam keadaan normal (tidak cacat fisik)
c. Anak bisa berpindah-pindah/ambulasi (tidak ada gangguan mobilisasi)
d. Anak merasa bosan dengan permaianan sehingga tidak mau melanjutkan
permainan sampai selesai.
e. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
f. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
9. Antisipasi Untuk Meminimalkan Hambatan
a. Lakukan pendekatan terlebih dahulu kepada anak agar anak tidak merasa takut
ataupun malu sehingga mau melakukan permainan.
b. Tuntun anak agar dapat melakukan permainan secara baik dan benar.
c. Jika anak merasa bosan, selingi dengan pembicaraan ringan yang bertujuan agar
anak tetap tertarik pada permainan.

E. STRATEGI PELAKSANAAN
No Terapis Waktu Subjek Terapi
1 Persiapan (Pra interaksi) 5 menit Ruangan, alat-alat, anak
-Menyiapkan ruangan dan keluarga sudah siap
-Menyiapkan alat-alat
-Menyiapkan anak dan keluarga
2 Pembukaan (Orientasi) 5 menit Anak dan keluarga
-Mengucapkan salam menjawab salam, anak
-Memperkenalkan diri saling berkenalan, anak
-Anak yang akan bermain saling dan keluarga
berkenalan memperhatikan terapis
-Menjelaskan kepada anak dan
keluarga maksud dan tujuan terapi
bermain
3 Kegiatan (Kerja) 15 menit Anak dan keluarga
-Menjelaskan kepada anak dan memperhatikan
keluarga tujuan, manfaat bermain penjelasan dan keluarga
dan cara permainan. memberikan respon yang
-Membantu anak-anak dalam baik.
merancang dan membangun labirin
dari kardus.
-Bola tenis meja tempat di salah satu
ujung dari labirin
-Katakan kepada anak untuk
menggunakan sedotan untuk meniup
bola melewati labirin
-kemudian mendesain dan
membangun ulang labirin baru,
dengan tingkat Kesulitan yang lebih
tinggi. Kemudian ulangi langkah 2
dan 3.
4 Penutup (Terminasi) 5 menit Anak dan keluarga
-Memberikan reward pada anak atas tampak senang,
kemamuan mengikuti kegiatan menjawab salam
bermain sampai selesai
-Mengucapkan terimakasih
-Mengucapkan salam
F. EVALUASI YANG DIHARAPKAN
1. Evaluasi Struktur
a. Kondisi lingkungan tenang, dilakukan ditempat tertutup dan memungkinkan klien
untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan
b. Posisi tempat di lantai menggunakan tikar
c. Adik-adik sepakat untuk mengikuti kegiatan
d. Alat yang digunakan dalam kondisi baik
e. Leader, Co-leader, Fasilitator, observer berperan sebagaimana mestinya.
2. Evaluasi Proses
a. Leader dapat mengkoordinasi seluruh kegiatan dari awal hingga akhir.
b. Co-leader membantu mengkoordinasi seluruh kegiatan
c. Fasilitator mampu memotivasi adik-adik dalam kegiatan.
d. Observer sebagai pengamat melaporkan hasil pengamatan
e. Peserta mengikuti kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akhir
3. Evaluasi Hasil
a. Anak menyatakan rasa senangnya
b. Diharapkan adanya peningkatan dalam kemampuan bernafas, terutama ekspansi
paru dan kedalaman bernafas serta pelebaran saluran nafas yang menyempit,
selain itu juga meningkatkan perkembangan motorik, intelektual, dan kreatifitas
anak. Sebagai indikator keberhasilan dimana anak mampu meniup bola dengan
baik dan tepat serta anak mampu meniup bola dengan nafas yang maksimal.

PENUTUP

Dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain bagi anak dengan gangguan pernafasan yang
memiliki keluhan sesak nafas seperti asma, bronkopneumonia, TB paru dan RDS
(Respiratory Distress Syndrome) tidak bisa dipisahkan dengan bermain pada anak yang sehat,
disini digunakan permainan yang dapat menghibur dan memfasilitasi anak juga dapat
bermanfaat sehubungan dengan sakitnya yaitu peningkatan ekspansi paru dan kedalaman
pernafasan serta pelebaran saluran pernafasan yang menyempit.
DAFTAR PUSTAKA

Hart, Mather, Powell, Slack. (1992). Therapeutic Play Activities For Hospitalized
Children. USA : Mosby – Year Book, Inc