Anda di halaman 1dari 14

NASKAH VIDEO PENDIDIKAN

NOVELTY

Disusun oleh:
A.A. Gede Puja Wiguna
17707251015

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
Pengantar
Judul: Novelty (Kebaruan)
Production Company : Beep Produser : Tim
Project Title : Tercerahkan Director : Tim
Durasi : >5 Menit Technical Director : Tim

Susunan Aktor:
Tokoh Utama; Pak Deni = Deni

Tokoh Pendukung; Joe Taslim = Aziz


Reza Rahardian = Iing
Kesiswaan = Albana

Tokoh pembantu; Kepala Sekolah = Agung

Sutradara : Iing,dkk
Editor : Agung, dkk

Tokoh dan Watak/Karakter:


Pak Deni : Optimistis, Tegas, Keras kepala.
Joe Taslim : Cerdas, Aktif, Kritis.
Reza Rahardian : Pintar, Jahil, Tempramental
Kepala Sekolah : Bijak, Santun, Berwibawa
Kesiswaan : Empati, Pintar, Komunikatif

Sinopsis:

Film Tercerahkan bercerita tentang perjuangan seorang guru bertangan dingin yang mengajar
musik di sebuah sekolah menengah atas selama 30 tahun. Pak Deni adalah seorang musisi dan
composer berbakat yang juga menjabat sebagai seorang guru. Pak Deni mempunyai ekspektasi
bahwa seorang guru bisa membuat perubahan besar pada setiap murid didikannya. Tapi setelah
belum lama mengajar, Pak Deni didapuk oleh kenyataan bahwa menjadi seorang guru bukanlah
pekerjaan yang mudah.
Kenyataan pahit tersebut ia rasakan dengan melihat reaksi anak muridnya yang merepresentasikan
kebosanan atas pelajaran dan cara mengajar yang dirinya berikan. Hingga kemudian, Pak Deni
menyadari bahwa ego yang dia bawa saat mengajar malah semakin memperburuk keadaan. Pak
Deni pelan-pelan mulai mengubah pendekatannya kepada peserta didik sehingga berhasil
melibatkan siswa untuk merasuk ke dalam jiwa musik. Keberhasilannya tersebut menjadikan Pak
Deni sebagai guru yang difavoritkan oleh kepala sekolah maupun para muridnya.

Treatment:

 Scene 1

Ext. Sekolah, lobi

Pak Deni tiba diparkiran dengan motor bersamaan dengan kepala sekolah, mereka ngobrol sejenak
sambil berjalan bersama-sama. Pak Deni lalu berjalan sendiri di lorong lobi dengan perasaan
bersemangat untuk mengajar pada suati pagi, sembari mengingat kembali dalam benaknya tentang
masa-masa jaya beliau menjadi komposer handal dan musisi terkenal di saat muda.

Skenario:

Teknis Kamera: Mengikuti subyek dari depan dan belakang, lalu zoom ke arah wajah (monolog)
untuk selanjutnya dalam proses editing ditambahkan ilustrasi footages lainnya (blending dengan
layer footage saat berjalan di lorong) saat masa muda menjadi musisi.

Monolog:

Pak Deni: Kalau di ingat kembali masa-masa indah itu sepertinya sangat sulit untuk terulang
kembali, saatnya membina bibit-bibit musisi baru untuk meramaikan blantika musik
Indonesia.(Pak Deni: sambil berjalan di lorong )
Skenario:

Sorot Kamera :Wajah Pak


Deni (ekspresi tersenyum)
Properti :

1. Tas jinjing
2. Buku-buku
3. Alat Tulis

Cut To
 Scene 2

Int. Lobi menuju ruang kelas

Ketika sedang berjalan di lobi Pak Deni bertemu Albana yang merupakan pembimbing
kesiswaan sekolah, mereka berdiskusi sejenak sambil bersenda gurau .

Pemain : Pak Deni ( Deni ), Kesiswaan ( Albana )

Kamera : TIM

Aristic : TIM

Skenario:

Kesiswaan (Albana): - (menatap pak Deni dari kejauhan dan mendatanginya) (kamera dibelakang
albana medium shot) Albana: Pak saya bantuin ya, ( sambil memegang tas pak Deni)
Pak deni (Deni): aduh mbak ga usah, kayak sama siapa saja hahaha, bagaimana keadaan siswa?
apakah ada permasalahan di anak-anak sekolah ? entah kenapa sepertinya saya sangat
bersemangat untuk mengajar pagi ini, serasa muda kembali (sambil tersenyum girang).

 Scene 3
Int. Ruang kepala sekolah
Kepala sekolah baru saja tiba di ruangan sambil melihat-melihat laporan perkembangan siswa di
tiap-tiap kelas.

Pemain : Agung

Kamera : TIM
Artistic : TIM
Skenario:
Monolog:
Kepala sekolah: Dari kelas seni musik kenapa ada yang janggal ya, sepertinya ini kelas Pak deni.
Nilai siswa rata-rata kurang baik semua. Project karya siswa-siswi juga tidak ada kebaruannya
dari tahun ke tahun.

Teknis Kamera: Sorot ke Objek dan Pemeran, Lalu ke pemeran (Saat bicara)

Properti :

1. Dokumen penilaian siswa


2. Buku-buku di atas meja
3. Set ruang kantor
Cut – To
Scene 4

Int. Lobi Sekretariat bagian kesiswaan

Situasi sekretariat yang sibuk, banyak siswa mengurus dokumen-dokumen.

Kamera : TIM

Atistic : TIM

Skenario:

Bu Albana melayani siswa-siswi yang sedang berkonsultasi

Joe Taslim dan Reza rahardian datang dari kejauhan menuju ke bu Albana

Reza: Selamat pagi ibu

Joe : Selamat pagi ibu albana, apa kabar ?

Albana : Hai kalian berdua apa kabar ? saya baik (sambi tersenyum)

Joe dan reza: Baik-baik bu, kita datang mau ngobrol sedikit ini tentang sesuatu bu, sesuatu yang
menyangkut nusa dan bangsa (tertawa lepas) hahahahaha
Bu Albana : hahahahahaha ada-ada saja kalian ini, ayo silahkan duduk dulu, tapi sebentar saja yaa
nanti kalau bel kelas berbunyi kalian harus segera masuk kelas jngan sampai terlambat.

Teknis Kamera: Sorot ke Objek dan Pemeran, Lalu ke pemeran (Saat bicara, tanpa audio)

Cut-To
 Scene 5

Int. Ruang Kelas

Pak Deni masuk kedalam ruang kelas berbarengan dengan beberapa siswa lainnya, Pak Deni
dengan segera menulis dipapan tulis tentang materi yang akan dipelajari hari ini sambil
menyuruh siswa segera mengkondisikan tempat duduk dengan nada yang lantang.

Pemain : Pak Deni ( Deni ), Joe Taslim (Aziz), Reza Rahardian (Iing)

Kamera : TIM

Aristic : TIM

Skenario:

Pak Deni (Deni) - (Berjalan cepat menuju papan tulis sambil menulis mengeluarkan sejumlah
buku dan alat-alat tulis) Anak-anak cepat masuk, kita sudah terlambat 3 menit jangan buang-
buang waktu lagi, lebih cepat, lebih cepat lagi. Sekarang tutup buku kalian dan acungkan tangan
bagi yang bisa menjawab apa itu musik. Tidak ada yang bisa ? Sekarang buka buku halaman 8 dan
baca dengan keras! Reza rahardian (iing) terlihat tertidur sambil menutupi keberadaannya dengan
tas yang diletakan di depan meja. Joe Taslim dengan lantang membaca jawaban yang ada dibuku
dibarengi dengan teman-teman lainnya. Scene ini berulang ulang diceritakan sampai 3 kali
pertemuan dengan suasana kelas yang hapir selalu sama

Teknis Kamera: Sorot ke seluruh siswa kelas dengan slider dari kiri ke kanan,
Lalu ke pemeran uatama (medium close-up) (Saat bicara)
Cut-To

 Scene 6

Ext. Kantin sekolah

Setelah 3 kali pertemuan dengan siswa di dalam kelas, Pak Deni pun merasa ada yang tidak
beres dengan prestasi dan partisipasi siswa di dalam kelas. Dan dia terus berpikir kalau ada yang
salah dengan sikap siswa terhadap dirinya. Kepala sekolah datang ke kantin selang 15 menit
setalah Pak Deni berada di kantin

Pemain : Pak Deni (Deni), Kepala Sekolah ( Agung )

Kamera : TIM

Aristic : TIM

Skenario:
(monolog) Apa yang salah dengan para siswa ya ? saya sudah mengajar sesuai prosedur, sudah 30
tahun saya menjadi guru tapi baru kali ini saya merasa ada yang janggal dengan siswa-siswi saya.
Saya juga sudah mengerahkan startegi terbaik saya yang tidak pernah gagal 30 tahun kebelakang
tapi masih juga belum berhasil.

Kepala sekolah datang : Wahh bengong saja ini pak, sedang kepikiran gaji ke-13 ya hahaha
(sambil menepuk pundak Pak Deni)

Pak Deni : Hahahaha tidak pak, saya hanya sedang kebingungan saja, eh, sebelum itu mari kita
pesan makanan dulu, bapak mau pesan apa ? supaya saya yang pesankan (dengan nada semangat)

Kepala sekolah: Tidak usah repot-repot pak Deni, terimakasih banyak ini tapi saya sudah bawa
bekal dari rumah dimasaki istri tadi pagi. (tersenyum santun) Saya di minta untuk mengubah
kebiasaan lama jajan diluar oleh istri (pada bagian ini menggunakan teknik pengambilan gambar
big close-up dan extreme close-up), selain untuk mnghemat kata dia juga bisa mengontrol
pemasukan nutrisi yang diperlukan tubuh, yaaah maklum sudah berumur pak (teknik medium
shot) ( Pak deni dan kepala sekolah tertawa lepas)
Cut – To
 Scene 6

Ext. Depan Kelas

Pembimbing kesiswaan, bu Albana sedang sibuk merapikan dokumen-dokumen di meja


skretariat, Pak Deni melintas hendak menuju pulang tetapi akhirnya mengobrol sebentar dengan
bu Albana.

Pemain : Imah ( Indah ), Petugas kebersihan (Nurul).


Kamera : TIM
Aristic : TIM

Skenario :
(wide shot lanjut ke big close-up ke wajah pak Deni) Wah kebetulan sekali ada bu Albana,
sekalian saya mau konsultasi sedikit soal siswa (bicara dalam hati).
Pak Deni : Selamat siang mbak, lagi buru-buru ya ?
Albana : Eh pak Deni, tidak pak ini hanya merapikan beberapa dokumen saja. Apa kabar pak
? ada yang bisa saya bantu ?
Pak Deni : Waaah, mari saya bantu (sambil membantu merapikan dokumen-dokumen) begini
mbak langsung saja, akhir-akhir ini saya merasa ada yang aneh dengan siswa-siswi di
kelas, saya merasa ada yang salah dengan generasi mereka yang semangat belajarnya
tidak seperti anak-anak yang dulu saya pernah ajar 30 tahun kebelakang. Saya jadi
bingung mbak, sebagai staff pengajar paling muda dan yang paling dekat dengan
siswa sepertinya sangat tepat bila saya bertanya pada mbak Albana. Eh, tapi mbak
tidak buru-buru kan ?
Albana : oooh jadi belakngan ini saya sering melihat pak Deni seperti kurang ceria seperti
biasanya karena ini toh ? wah sayang sekali ya pak. Bagaimana kalau kita ngobrol di
luar saja ? saya juga sekalian mau keparkiran langsung pulang (sambil berjalan ke
arah luar)
Pak Deni : Wah baik mbak, mari kita sambil jalan (berjalan bersama-sama keluar)
Albana : Jadi begini pak, sebenarnya saya sudah mendapat curhatan dari anak didik bapak
Joe taslim dan Reza Rahardian (keluar video menceritakan anak-anak trsebut pernah
curhat kepada mbak Albana) Jadi anak-anak tersebut pernah datang sedikit bercerita
soal kelas yang bapak isi, dari apa yang bisa saya tangkap melalui pembicaraan itu,
anak-anak merasa tidak nyaman dengan gaya mengajar pak Deni, kata mereka
suasana kelas menjadi horor pak (sambil tertawa) hahahaha.
Pak Deni : wah apa betul ya ? (sambil tertawa juga) hahahaha Tapi aneh juga ya, selama 30
tahun mengajar saya belum pernah mengalami yang namanya kesulitan
dalammengajar didalam kelas seperti apa yang saya alami belakngan ini. Seharusnya
dengan pengalaman matang yang saya miliki saya bisa dengan mudahnya
mengorganisasi kelas dengan baik. Hhhhh (menghela nafas sambil menggeleng-
gelengkan kepala)
Albana : Benar sekali pak, dengan pengalaman se senior bapak seharusnya itu bukannlah
menjadi masalah. Saya juga paham bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.
Tetapi mohon maaf kalau saya menggurui bapak, ada kalanya ketika kita sudah
merasa nyaman dengan apa yang kita kerjakan, pola yang sama cenderung akan kita
gunakan terus menerus tanpa memerhatikan kebaruan yang harus dijadikan
pertimbangan untuk menjaga ritme. (sambil memandang mata pak Deni)
Pak Deni : eh (sambil mengejap-ngejapkan mata)
Albana : Begini pak, ada satu pepetah modern yang pernah menjadi viral di sosial media
bahwa sebagian besar orang telah mati di usia 25 tahun, tapi baru dikubur saat rata-
rata usia 75 tahun, yang bisa saya terjemahkan bahwa banyak orang lupa
mengembangkan dirinya sejak dia berada di puncak pencapaiannya dan berakhir
stagnan/datar-datar saja tidak ada kebaruan dalam hidup hingga akhirnya menutup
usianya. Saya tidak mengatakan bahwa bapak merupaka orang seperti itu, tetapi ada
baiknya mungkin bisa direfleksikan dulu pak Deni (tersenyum pada pak Deni)
Mohon maaf pak, saya sudah dijemput, sampai ketemu lagi besok pak Deni saya
pamit (salim kepada pak Deni) (pak Deni diam tanpa kata)
Pak Deni : Hati-hati mbak albana, sampai bertemu besok (pak Deni berbalik arah ke arah
motor sambil tertunduk lesu)

Cut – To
 Scene 7

Ext. Parkiran sekolah

Joe Taslim dan Reza rahardian sampai di sekolah pagi-pagi untuk menjalankan tugas piket
sebelum kelas dimuali. Berbarengan dengan Joe dan Reza, Pak Deni juga tiba di sekolah dan
mendapati Joe dan Reza sedang bersama-sama dan langsung terbayang ucapan bu Albana
kemarin siangnya.

Pemain : Joe Taslim ( Aziz ), Reza rahardian (Iing), Pak Deni (Deni)
Skenario :
(wide shot) Joe dan Reza tiba di sekolah berbarengan dengan pak Deni, Pak deni hendak
memanggil joe dan reza tapi mereka sudah terlanjur berjalan menajuh dan tidak bisa mendengar
panggilan pak Deni, lalu pak Deni juga bergegas turun dari motornya dan berjalan pelan-pelan ke
ruang guru untuk mempersiapkan materi ajar sambil kembali terngiang-ngiang perkataan mbak
Albana kemari sorenya tentang dirinya.

Cut – To
 Scene 8

Ext. Ruang guru

Sesampainya di ruang guru pak Deni bertemu dengan pak kepala sekolah yang kebetulan sedang
minum kopi bersama guru-guru lainnya dan mereka pun ngobrol.

Pemain : kepala sekolah ( Agung ), pak deni (Deni)


Skenario :
Kepala sekolah : pagi komandan deni (tertawa lepas) ayo kita ngopi dulu, biar saya yang
buatkan (membuka sachet kopi) kopi susu kan seperti biasa kesukaan pak
Deni (tersenyum ke pak Deni)
Pak Deni : jangan repot-repot pak, saya jadi tidak enak ini (tersenyum lebar ke arah
teman-teman pengajar lainnya) jangan terlalu bnyak gula ya pak hahaha
Kepala sekolah : siaaap komandan!! (tertawa) ooiya nanti setelah mengaja kita bertemu di
ruanga saya ya pak, ada yang mau saya bicarakan(sambil memberikan
secangkir kopi).
Pak deni : baik pak (menyeruput kopi) saya hanya mengisi satu kelas saja hari ini
Kepala sekolah : baik pak, sekalian nanti saya pesankan makanan hahaha

Cut – To
 Scene 9

Int. Ruang kelas

Pak Deni mengajar di kelas seperti biasanya hingga bel pergantian jam berbunyi dan anak-anak
sudah diperbolehkan beristirahat. Selesai mengajar pak Deni mendatangi Joe dan Reza dan
mengobrol sejenak.

Pemain : Joe Taslim ( Aziz ), Reza rahardian (Iing), Pak Deni (Deni)
Skenario :
(medium shot) Joe dan Reza masih asyik mengobrol didalam kelas dan pak Deni menghampiri
mereka.
Pak Deni : Joe, Reza, kalian nggak keluar istirahat sama teman-teman ?
Joe : nanti saja pak, saya mau kerjakan soal latihan untuk mata pelajaran pak Bowo dulu,
saya masih bnyak yang belum selesai (sambil menggaruk-garuk kepala)
Reza : Ahh, memang dasarnya malas saja kamu joe, itu kan pekerjaan rumah bukan untuk
dikerjakan di sekolah (tertawa)
Joe : Bukannya begitu za, saya dirumah sibuk sekali dengan pekerjaan rumah dan
membantu orang tua
Reza : wah rajin sekali, sini-sini saya peluk (tertawa keras)
Pak Deni : Hahahaha kalian ini memang kompak sekali yaa (sambil tertawa dan menepuk
pundak reza dan joe) bapak mau ngobrol sambil kalian kerjakan tugas juga tidak apa-
apa. Boleh kita sambil ngobrol kan ?
Reza : boleh sih pak, memangnya ada apa ya pak ?
Joe : iya pak, apakah kami pernah membuat kesalahan ? atau justru nilai kami jelek ya
pak ? maafkan kami ya pak ? (sambil mencakupkan tangan memohon maaf pada pak
Dei)
Pak Deni : eh eh, bukan, bukan anak. Justru nilai kalian malah yang paling baik di kelas ini dan
saya bangga dengan kalian, kalian menunjukkan partisipasi belajar aktif dan paling
bisa mengikuti pembelajaran dengan baik(sambil tersenyum)
Reza : wah terimakasih banyak pujiannya pak, jadi malu (menggaruk-garuk tangan dan
kaki) lalu kalau bukan tentang nilai, tentang apalagi yang mau bapak bicarakan pada
kami ?
Joe menatap mata pak Deni dengan penuh pertanyaan
Pak deni : begini nak, terus terang akhir-akhir ini bapak merasa ada jarak yang luar biasa
dengan siswa-siswi baru yang saya ajarkan. Saya merasa kesulitan untuk membuat
anak didik saya masuk ke dalam jiwa musik dan mengikuti pelajari dengan baik.
Saya tidak pernah mengalami ini sebelumnya, semuala saya kira ini kesalahan anak-
anak dan ada sesuatu yang tidal beres dengan anak-anak jaman sekarang. Tapi
setelah dipikir-pikir masalahnya pasti ada di gaya mengajar saya. Apa kalain melihat
hal yang sama ?
Joe dan Reza saling menatap dan tampak sangat kebingungan
Joe : eeeeeeee, anu pak, begini, eee saya tidak tahu apa yang harus diucapkan pak
Reza : iya pak saya juga bingung (menggaruk-garuk kepala)
Pak deni : aaaaaah, begini saja, kita makan dikantin sambil minum jus. Nanti biar saya saja
yang traktir, lapar kan ? saya juga (tertawa)
Joe dan Reza makin merasa kebingungang dan mengangguk serentak
Joe & Reza : Ayo pak, boleh juga sekalian saya berhemat uang jajan (sambar Joe)

Cut – To
 Scene 10

Int. kantin

Joe taslim, Reza rahardian dan Pak Deni sudah duduk dikantin dan sudah dihidangkan makanan
yang mereka pesan.

Pemain : Joe Taslim ( Aziz ), Reza rahardian (Iing), Pak Deni (Deni)
Skenario :
(wide shot, pan left to right) Joe dan Reza masih canggung untuk menyantap makanan yang
dipesankan pak Deni. Pak deni mengajak mereka untuk makan dan mengajak ngobrol basa-basi.
Pak deni : Ayolah ini sudah saya pesankan jangan sampai mubazir loo anak (tersenyum)
Joe : baik pak, sepertinay enak ini (tertawa)
Reza : ahh bilang saja kau memang doyan joe, dari kemarin kan kamu bilang mau makan
yang banyak tapi gratis di kantin, sekarang saatnya joe, sikat (tertawa lebar)
Joe tertawa menatap Reza sambil memukul pundaknya
Pak Deni : ayo sudahlah makan saja, ini enak saya jamin hahaha
Reza : (sambil mengunyah makanan) jadi begini pak, soal pertanyaan bapak barusan, saya
mungkin hanya akan katakan apa yang saya rasakan pak(sambil menoleh ke arah
Joe)
Pak Deni : ah, silahkan saja, memang itu yang saya inginkan dari awal. Saya sangat butuh
sekali pendapat jujur dari siswa saya, saya melakukan ini karena saya cinta pekerjaan
saya. Begitu pula saya juga sangat menyayangi anak didik saya sehingga saya tidak
mau mengecewakan kalian semua hanya karna kesalah pahaman komunikasi.
Reza : tidaklah pak, saya tahu pak Deni seorang guru yang berdedikasi dan saya senang
mengikuti kelas pak Deni meskipun saya tidak dapat memberi yang terbaik.
Joe : kami percaya bahwa semua siswa menghargai pak Deni sebagai guru dan orang tua
untuk kami di sekolah. Jadi saya rasa pak Deni tidak perlu berkata seperti itu. Kamu
semua sayang pak Deni (sambil melirik ke arah Reza)
Pak Deni : Hhhh, iya memang saya paham kalian menghormati saya sebagai seorang guru.
Tapi....
Joe : Tapi apa pak ? (menatap dengan tajam)
Pak Deni : saya ingin memperbaiki diri, 30 tahun mengajar sebagai guru saya merasa cara
mengajar saya terlalu kaku dan itu yang membuat anak-anak jaman sekarang sulit
untuk menerima keberadaan saya, memang mereka bisa mengikuti pembelajaran tapi
saya merasa tidak ada rasa kepuasan yang muncul dari wajah siswa-siswi akhir-akhir
ini. Itu membuat saya sedih, saya ingin semua merasa senang tanpa ada yang merasa
terpaksa untuk mengikuti kelas saya.
Joe : hmm, mungkin saya bisa kasi satu masukan pak. Tapi saya tidak tahu apakah ini
sopan atau tidak. Kesannya saya menjari orang yang lebih dewasa daripada saya.
Pak Deni : tidak apa-apa, saya akan sangat berterimakasih apabila kamu mau membantu saya,
saya sangat butuh itu sekarang.
Joe : begini pak, saya kira bapak menyadari juga bahwa teman-teman disini lebih akrab
dengan guru-guru muda yang ada di sekolah ini, ditambah lagi dengan kedatangan
mbak Albana ke sekolah ini banyak anak-anak yang mengidolakan beliau, termasuk
saya juga. Saya paham kalau jarak usia yang sangat jauh membuat komunikasi
berlangsung sangat terbatas. Generasi milenial menjadi lebih sungkan berbicara
dengan orang yang lebih berumur dari diri mereka. (sambil menatap Reza)
Reza : benar pak, terlebih lagi generasi zaman now yang banyak diistilahkan seperti itu
memang spesial, mungkin lebih tepatnya terlalu spesia pak (tertawa) mereka
cenderung berpikir lebih santai, dan tidak suka mendapat tekanan berlebih dari
siapapun, termasuk dari guru. Apabila seorang guru tidak mampu memahami itu
maka jarak yang terbentuk akan menjadi sangat jauh dan merugikan dua pihak.
Joe : saya kira ini bukan hanya soal moral dan budi pekerti remaja sekarang yang
terkikis, tapi pergerakan jaman yang semakin “edan” ini mau tidak mau
menghadapkan kita pada kenyataan yang seperti ini pak. Dan harus ada satu pihak
yang harus mengalah. Dimana, mohon maaf, pak Deni dan guru-guru lain sebagai
pendidik yang harus pelan-pelan memaklumi perubahan jaman yang terjadi.
Reza : siswa sekarang mungkin sangat jauh berbeda dengan dulu pak, kalau dulu semua
siswa sangat takut dan taat pada orang tua apalagi pada gurunya di sekolah. Tapi
seiring dengan kebebasan berpendapat yang sudah berlaku disemua kalangan, maka
pergeseran pun terjadi dan salah atau benar berlaku untuk siapa saja tidak menganal
usia.
Pak Deni : Saya tidak sangka (muka heran terkejut) kalian bisa memiliki analisa sedalam itu
dan pemikiran yang matang, sangat matang. Terbukti sudah kalau benar memang
saya kurang dekat dengan siswa-siswa saya. ( sambil menggeleng-geleng kepala)
awalnya saya kira menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mudah dan
seorang guru bisa mengajarkan apapun kepada siswanya soal pendidikan dan juga
pembelajaran, tetapi...siswa jaman sekaran jauh lebih dapat memandang dunia
dengan kacamata yang lebih luas dan belajar banyak hal melalui kemajuan teknologi
sehingga pikiran kritis seperti kalia-kalian ini bisa terbentuk. Saya belajar banyak
dari kalian. Kalian mungkin memang masih muda, masih kecil di mata saya. Tapi
kalian tidak pernah tahu dititik mana kalian telah menginspirasi seorang bapak tua
keras kepala ini.
Pak Deni, Reza, dan Joe tertawa bersama-sama dan melanjutkan makan mereka dan menambah
beberapa makanan lagi. Mereka terlihat sangan senang dan bahagia.

SEKIAN