Anda di halaman 1dari 9

A.

13

PERAN ORANG TUA DALAM PERKEMBANGAN MORAL ANAK


(KAJIAN TEORI KOHLBERG)

Retno Dwiyanti
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto
rianejadku@yahoo.com

Abstraksi.Tujuan penulisan artikel ini untuk mengkaji perkembangan moral anak yang
dikembangkan oleh Kohlberg. Penilaian moral dalam perkembangannya, yaitu apa yang
dianggap baik (seharusnya dilakukan) dan tidak baik (tidak pantas dilakukan) anak, oleh
Kohlberg dibagi dalam stadium yang berbeda-beda.Kohlberg membagi perkembangan
moralitas ke dalam 3 tingkatan yang masing-masing di bagi menjadi 2 stadium. Tingkat I.
Penalaran moral yang pra-konvensional. stadium 1. Orientasi patuh dan takut hukuman;
stadium 2. Orientasi naif egoistis/hedonisme instrumental. Tingkat II. Penalaran moral yang
konvensional. Stadium 3. Orientasi anak atau person yang baik; stadium 4. Orientasi
pelestarian otoritas dan aturan sosial. Tingkat III. Penalaran moral yang post-konvensional.
Stadium 5. Orientasi kontrol legalitas; stadium 6. Orientasi yang mendasarkan atas prinsip dan
konsiensia sendiri. Menurut Kohlberg stadium ini akan selalu dilalui oleh setiap anak, jadi
merupakan hal yang universal, yang ada dimana-mana, mungkin tidak pada urutan usia yang
sama namun perkembangannya selalu melalui urutan itu. Keluarga merupakan lingkungan
sosial pertama dan utama bagi tumbuh kembangnya anak. Anak akan berkembang optimal
apabila mereka mendapatkan stimulasi yang baik dari keluarga. Oleh karena itu pola parenting
yang tepat dapat dijadikan sarana untuk perkembangan moral anak. Keluarga berfungsi
mengembangkan moral anak yang dibentuk secara sosial melalui accepting, preserving, taking,
exchanging dan biophilous.

Kata kunci : Tingkatan, Perkembangan moral, Parenting

Perkembangan moral merupakan hal Menurut Al-Halwani (1995) anak memiliki


yang sangat penting bagi perkembangan kebiasaan meniru yang kuat terhadap seluruh
kepribadian dan sosial anak untuk menuju gerak dan perbuatan dari figur yang menjadi
kedewasaannya (Monk, Knoers & Haditono, idolanya.
2006). Masalah moral merupakan salah satu Seorang anak secara naluriah akan
aspek penting yang perlu di tumbuh menirukan perbuatan yang dilakukan oleh
kembangkan dalam diri anak. Berhasil kedua orang tuanya, saudara dekat serta
tidaknya penanaman nilai moral pada masa kerabat yang terdekat. Realitas yang
kanak-kanak akan sangat menentukan baik demikian itu perlu mendapat perhatian
buruknya perilaku moral seseorang pada tersendiri, karena perkambangan moral anak
masa selanjutnya (Hermansyah, 2001). akan sangat ditentukan oleh kondisi dan

161
162 | Prosiding Seminar Nasional Parenting 2013

situasi yang terdapat dalam keluarganya. Hal pada anak, dalam artian cara yang ditempuh
ini berkaitan dengan kedudukan keluarganya sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip
sebagai lingkungan yang pertama dan utama penanaman nilai moral sesuai dengan
bagi anak (Mardiya, 2005). Dengan asumsi perkembangan anak, selain itu mereka juga
bahwa keluarga merupakan unit sosial kurang memahami pencapaian perkembangan
terkecil yang memberikan pondasi primer anaknya yang berimbas pada permasalahan
bagi perkembangan anak, maka pola asuh anak. Menurut Santrock (2007),
orangtua yang diterapkan pada anak akan perkembangan moral memiliki dimensi
sangat berpengaruh pada perkembangan interpersonal, yang mengatur aktifitas
moralitasnya. Bila pola asuh yang diterapkan seseorang ketika dia tidak terlibat dalam
pada anak baik maka akan membentuk interaksi sosial dan dimensi interpersonal
kepribadian anak yang baik pula. Sedangkan yang mengatur interaksi sosial dan
bila orang tua salah dalam menerapkan pola penyelesaian konflik.
asuh akan berdampak buruk pada Sedangkan Harlock (1980)
perkembangan moral anak (Widayanti dan mengungkapkan bahwa perkembangan moral
Iryani, 2005). mempunyai aspek kecerdasan dan aspek
Dari perkembangan moral ini, anak impulsif, anak harus belajar apa saja yang
akan mengetahui bagaimana berpikir benar dan yang salah. Perkembangan moral
mengenai konsep benar dan salah, dan pada awal masa kanak-kanak masih dalam
bagaimana mereka bertindak juga melalui tingkat rendah. Hal ini disebabkan karena
suatu proses. Proses itulah yang dinamakan perkembangan intelektual anak-anak belum
dengan penalaran moral (suatu pemikiran mencapai titik di mana ia dapat mempelajari
mengenai benar atau salah) yang nantinya atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak
akan melahirkan perilaku moral, yaitu suatu tentang benar dan salah. Ia juga tidak
tindakan benar dan salah yang sesuai dengan mempunyai dorongan untuk mengikuti
norma dalam masyarakat. Hasil penelitian peraturan-peraturan karena tidak mengetahui
Zeitlin (2000) menunjukkan bahwa anak manfaatnya sebagai anggota kelompok sosial.
yang diasuh dengan baik akan memiliki Karena tidak mampu mengerti masalah
tingkat perkembangan yang baik pula. standar moral, anak-anak harus belajar
Dewasa ini banyak orang tua tidak berperilaku moral dalam pelbagai situasi
mengetahui ataupun kurang paham yang khusus. Ia hanya belajar bagaimana
mengenai perkembangan moral anaknya bertindak tanpa mengetahui mengapa. Awal
(Mardiya, 2010). Karena kekurangpahaman masa kanak-kanak ini ditandai dengan apa
tersebut menyebabkan para orang tua tidak yang oleh Piaget disebut “moralitas melalui
bijak dalam menanamkan nilai-nilai moral paksaan”. Selanjutnya, setelah mereka cukup
Peran Orangtua dalam Perkembangan Moral Anak | 163
Dwiyanti, R. [hal.161-169]

besar, mereka harus diberi penjelasan sengaja, baik oleh keluarga, lembaga
mengapa ini benar dan salah. pendidikan, lembaga pengajian, atau
Pada perkembangan moral ini komunitas-komunitas lainnya yang
Kohlberg membagi perkembangan moralitas bersinggungan dengan masyarakat (Abdulah,
ke dalam tiga tingkatan yaitu pra- 1992).
konvensional, konvensional, dan Perkembangan moral adalah
pascakonvensional, dan setiap tingkatan perubahan penalaran, perasaan, dan perilaku
memiliki dua tahapan (Santrock, 2007). tentang standar mengenai benar dan salah.
Berdasarkan uraian diatas, maka Perkembangan moral memiliki dimensi
rumusan masalahnya adalah bagaimana peran intrapersonal, yang mengatur aktifitas
orang tua dalam perkembangan moral anak seseorang ketika dia terlibat dalam interaksi
berdasarkan kajian teori Kohlberg. sosial dan dimensi interpersonal yang
mengatur interaksi sosial dan penyelesaian
Perkembangan Moral konflik. Perkembangan moral berkaitan
Secara kebahasaan perkataan moral dengan aturan-atuaran dan ketentuan tentang
berasal dari ungkapan bahasa latin yaitu apa yang seharusnya dilakukan oleh
mores yang merupakan bentuk jamak dari seseorang dalam berinteraksi dengan orang
perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. lain (Santrock, 2007).
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia Menurut Kohlberg (dalam Monks, dkk,
dikatakan bahwa moral adalah penentuan 2002) perkembangan insan kamil melalui 6
baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. stadium dan stadium ini akan selalu dilalui
Istilah moral biasanya dipergunakan untuk oleh setiap anak, jadi merupakan hal yang
menentukan batas-batas suatu perbuatan, universal, yang ada di mana-mana; mungkin
kelakuan, sifat dan perangai yang dinyatakan tidak pada urutan usia yang sama namun
benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak perkembangannya selalu melalui urutan itu.
layak, patut maupun tidak patut. Moral Kohlberg membagi perkembangan
adalah suatu aturan atau tata cara hidup yang moralitas ke dalam 3 tingkatan yang masing-
bersifat normatif (mengatur/mengikat) yang masing dibagi menjadi 2 stadium hingga
sudah ikut serta bersama kita seiring dengan keseluruhannya menjadi 6 stadium. Pada
umur yang kita jalani, sehingga titik tekan masing-masing tahapan memiliki ciri
”moral” adalah aturan-aturan normatif yang tersendiri, seperti yang ditampilkan pada
perlu ditanamkan dan dilestarikan secara tabel 1.
164 | Prosiding Seminar Nasional Parenting 2013

Tabel 1. Perkembangan Moral Kohlberg


Tingkatan Stadium
Tingkatan I. Penalaran moral pra konvensional. Stadium 1. Orientasi patuh dan takut hukuman.
Mendasarkan pada objek di luar diri individu sebagai Suatu tingkah laku dinilai benar bila tidak dihukum
ukuran benar atau salah. dan salah bila perlu dihukum. Seseorang harus patuh
pada otoritas karena otoritas tersebut berkuasa.
Stadium 2. Orientasi Naif egoistis/hedonism
instrumental.
Masih mendasarkan pada orang atau kejadian di luar
diri individu, namun sudah memperhatikan alasan
perbuatannya, misalnya mencuri dinilai salah, tetapi
masih bisa dimaafkan bila alasannya adalah untuk
memenuhi kebutuhan dirinya atau orang lain yang
disenangi. Ada yang menamakan stadium ini sebagai
stadium hedonistik instrumental.
Tingkat II. Penalaran moral yang konvensional. Stadium 3. Orientasi anak atau person yang baik.
Mendasarkan pada pengharapan sosial, yaitu suatu Anak menilai suatu perbuatan itu baik bila ia dapat
perbuatan dinilai benar bila sesuai dengan peraturan menyenangkan orang lain, bila ia dapat dipandang
yang ada dalam masyarakat. sebagai anak wanita atau anak laki-laki yang baik,
yaitu bila ia dapat berbuat seperti apa yang
diharapkan oleh orang lain atau oleh masyarakat.
Stadium 4. Orientasi pelestarian otoritas dan aturan
sosial.
Anak melihat aturan sosial yang ada sebagai sesuatu
yang harus dijaga dan dilestarikan. Seorang
dipandang bermoral bila ia “melakukan tugasnya”
dan dengan demikian dapat melestarikan aturan dan
sistem sosial.
Tingkatan III. Penalaran moral yang post- Stadium 5. Orientasi control legalistis.
konvensional. Memahami bahwa peraturan yang ada dalam
Memandang aturan-aturan yang ada dalam masyarakat merupakan ckntrol (perjanjian) antara
masyarakat tidak absolut, tetapi relatif; dapat diganti diri orang dan masyarakat. Individu harus memenuhi
oleh yang lain. kewajiban-kewajibannya, tetapi sebaliknya
masyarakat juga harus menjamin kesejahteraan
individu. Peraturan dalam masyarakat adalah
subjektif.
Stadium 6. Orientasi yang mendasarkan atas prinsip
dan konsiensia sendiri.
Peraturan dan norma adalah subjektif, begitu pula
batasan-batasannya adalah subjektif dan tidak pasti.
Dengan demikian maka ukuran penilaian tingkah
laku moral adalah konsiensia orang sendiri,
prinsipnya sendiri lepas daripada segala norma yang
ada. Kohlberg menyebut prinsip ini sebagai prinsip
moral yang universal, suatu norma moral yang
dasarnya ada dalam konsiensia orangnya sendiri.

Dalam hal tingkah laku konformistis , hukuman, sedangkan pada stadium kedua
masing-masing stadium membawa anak cenderung bersikap untuk memperoleh
konsekuensi. Pada stadium pertama, anak hadiah atau untuk dipandang sebagai anak
cenderung menurut untuk menghindari baik. Memasuki stadium ketiga, anak
Peran Orangtua dalam Perkembangan Moral Anak | 165
Dwiyanti, R. [hal.161-169]

bersikap konformistis untuk menghindari berlaku pula terhadap anak-anaknya. Para


celaan dan untuk disenangi orang lain, hingga orang tua dipastikan memiliki harapan-
kemudian pada stadium empat, anak bersikap harapan terhadap anak-anak yang dilahirkan
konformistis untuk mempertahankan sistem dan dibesarkannya. Misalnya, mereka
peraturan sosial yang ada dalam kehidupan menginginkan sang anak menjadi orang yang
bersama. Perilaku pada stadium kelima sudah patuh, taat dan berbakti terhadap orang tua,
terbentuk dan tidak lagi sebagai usaha berperilaku baik, disiplin dan sebagainya.
memenuhi perjanjian bersama yang ada Harapan dan keinginan orangtua
dalam peraturan sosial, demikian halnya pada terhadap anak-anaknya di masa depan inilah
stadium keenam dimana anak tidak yang akan banyak mempengaruhi bagaimana
melakukan sesuatu karena perintah dan mereka memperlakukan anak-anaknya,
norma dari luar, melainkan karena keyakinan memberi tugas dan tanggung jawab, serta
sendiri. pemenuhan terhadap kebutuhan anak-
anaknya, baik fisik maupun non fisik.
Peran Orang Tua Dalam Perkembangan Termasuk didalamnya, dalam menanamkan
Moral Anak nilai-nilai moral pada anak, agar anak
Manusia adalah makhluk pribadi memiliki pemahan yang baik terhadap nilai
sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk dan norma yang akan membawa pengaruh
sosial, manusia tidak akan lepas dari baik terhadap moralitas anak sehingga
lingkungan kehidupan sosial yang penuh mereka dapat hidup harmonis di
dengan nilai, peraturan dan norma. Nilai, lingkungannya.
peraturan dan norma tersebut sangat Berdasarkan tingkatan perkembangan
diperlukan manusia untuk membedakan moral menurut Kohlberg (dalam Monks, dkk,
mana yang baik dan yang buruk, mana yang 2002) pada tingkat II (penalaran moral yang
benar dan mana yang salah, mana yang jika konvensional), yang mendasarkan pada
dilakukan berdosa mana yang tidak dilakukan pengharapan sosial, yaitu suatu perbuatan
tidak berdosa. dinilai benar bila sesuai dengan peraturan
Orang tua (ayah dan Ibu) sebagai yang ada dalam masyarakat. Pada stadium 3.
pemimpin sekaligus pengendali sebuah Orientasi anak atau person yang baik, anak
keluarga, dipastikan memiliki harapan- menilai suatu perbuatan itu baik bila ia dapat
harapan atau keinginan-keinginan yang menyenangkan orang lain, bila ia dapat
hendak dicapai di masa depan. Harapan dan dipandang sebagai anak wanita atau anak
keinginan tersebut ibarat sebuah cita-cita, laki-laki yang baik, yaitu bila ia dapat
sehingga orangtua akan berusaha sekuat berbuat seperti apa yang diharapkan oleh
tenaga untuk mencapainya. Hal tersebut orang lain atau oleh masyarakat. Pada
166 | Prosiding Seminar Nasional Parenting 2013

stadium 4. Orientasi pelestarian otoritas dan optimal apabila mereka mendapatkan


aturan sosial, anak melihat aturan sosial yang stimulasi yang baik dari keluarga. Oleh
ada sebagai sesuatu yang harus dijaga dan karena itu pola parenting yang tepat dapat
dilestarikan. Seorang dipandang bermoral dijadikan sarana untuk perkembangan moral
bila ia “melakukan tugasnya” dan dengan anak. Keluarga berfungsi mengembangkan
demikian dapat melestarikan aturan dan moral anak yang dibentuk secara sosial
sistem sosial. melalui accepting, preserving, taking,
Untuk menciptakan moral yang baik exchanging dan biophilous (Alwisol, 2006).
bagi anak adalah menciptakan komunikasi Perkembangan moralitas pada tingkat I
yang harmonis antara orangtua dan anak, yaitu penalaran moral yang pra-konvensional,
karena itu akan menjadi modal penting dalam yang mendasarkan pada objek di luar diri
membentuk moral. Kebanyakan ketika anak individu sebagai ukuran benar atau salah.
beranjak remaja atau dewasa, tidak Pada stadium 1. Orientasi patuh dan takut
mengingat ajaran-ajaran moral diakibatkan hukuman, suatu tingkah laku dinilai benar
tidak adanya ruang komunikasi dialogis bila tidak dihukum dan salah bila perlu
antara dirinya dengan orangtua sebagai “guru dihukum. Seseorang harus patuh pada
pertama” yang mestinya terus memberikan otoritas karena otoritas tersebut berkuasa.
pengajaran moral. Jadi, titik terpenting dalam Berdasarkan perkembangan moralitas tingkat
membentuk moral sang anak adalah I ini, orangtua akan menggunakan pola asuh
lingkungan sekitar rumah, setelah itu yang cenderung kaku (otoriter) untuk
lingkungan sekolah dan terakhir adalah merealisasikan keinginan-keinginannya. Pola
lingkungan masyarakat sekitar.Namun, ketika asuh yang dimaksud dapat direfleksikan
dilingkungan rumahnya sudah tidak nyaman, dalam bentuk perlakuan fisik maupun psikis
biasanya anak-anak akan memberontak di terhadap anak-anaknya. Hal ini tercermin
luar rumah (kalau tidak di sekolah, pasti di dari tutur kata, sikap, perilaku dan tindakan
lingkungan masyarakat). Oleh karena itu, mereka terhadap sang anak.
agar tidak terjadi hal seperti itu sudah Wagiman menjelaskan pendapatnya
kewajibannya orang tua membina interaksi Neil A.S. Summerheil, bahwa hukuman fisik
komunikasi yang baik dengan sang buah hati merupakan suatu usaha untuk memaksakan
supaya di masa mendatang ketika mereka kehendak. Walaupun tujuan utamanya untuk
memiliki masalah akan meminta jalan keluar menegakkan disiplin anak, tindakan ini dapat
kepada orang tuanya. berakibat sebaliknya, yaitu anak menjadi
Keluarga merupakan lingkungan frustrasi. Selanjutnya, anak hanya merespons
sosial pertama dan utama bagi tumbuh pada tujuan hukuman itu sendiri. Banyak
kembangnya anak. Anak akan berkembang anak merasa bahwa menerima hukuman
Peran Orangtua dalam Perkembangan Moral Anak | 167
Dwiyanti, R. [hal.161-169]

badan tidak terhindarkan, sehingga mereka dewasa atau kurang matang. Sedangkan pada
menjadi resisten (kebal) terhadap hukuman pengasuhan permisif yang pemurah
tersebut. Hukuman badan tidak membuat (Permisive-indulgent parenting), orangtua
mereka melaksanakan suatu aktivitas dengan sangat terlibat dengan anaknya tetapi sedikit
baik. Sebaliknya, anak akan cenderung sekali menuntut atau mengendalikan mereka.
membiarkan dirinya dihukum daripada Biasanya orangtua yang demikian akan
melakukannya. Ganjaran fisik ini justru bisa memanjakan, dan mengizinkan anak untuk
berakibat buruk. Bahkan, dapat mendorong melakukan apa saja yang mereka inginkan.
anak untuk meneruskan dan meningkatkan Gaya pola asuh ini menunjukkan bagaimana
tingkah lakunya yang salah. Hukuman orangtua sangat terlibat dengan anaknya,
haruslah dipandang sebagai bentuk tetapi menempatkan sedikit sekali kontrol
pertanggungjawaban atas perbuatan yang pada mereka. Metode pengelolaan anak ini
melanggar batasan-batasan yang ditetapkan. cenderung membuahkan anak-anak nakal
Menurut Steinberg (1993) model yang manja, lemah, tergantung dan bersifat
pengasuhan yang menekankan pada hukuman kekanak-kanakan secara emosional. Dampak
termasuk dalam kategori Authoritarian selanjutnya anak akan mengalami
parenting style. Ibu tidak ingin menguraikan penyimpangan-penyimpangan perilaku,
mengapa mereka melakukan suatu tindakan misalnya suka tidak masuk sekolah atau tidak
termasuk mengapa ibu menghukum anak. pulang ke rumah. Dengan demikian anak
Dalam metode parenting ini ibu menunjukkan pengendalian diri yang buruk
menerapkan disiplin dengan kaku dan dan tidak bisa menangani kebebasan dengan
kekerasan, menggunakan hukuman fisik dan baik.
ancaman. Ibu juga memberi hukuman Menurut Trisusilaningsih (2009) pola
dengan cara menghindarkan afeksi dari anak asuh orangtua memiliki pengaruh yang
dalam waktu tertentu serta menjauhi anak. sangat besar terhadap perkembangan moral
Pada pola asuh permisif menurut anak, karena orangtua dengan model pola
Maccoby & Martin (1993) bahwa pada pola asuh otoriter akan cenderung menghasilkan
asuh permisif yang penuh kelalaian anak dengan ciri kurang matang, kurang
(Permisive-neglectfull parenting), ibu tidak kreatif dan inisiatif, tidak tegas dalam
memonitor perilaku anaknya ataupun menentukan baik buruk, benar salah, suka
mendukung perilaku anaknya. Ibu tidak menyendiri, kurang supel dalam pergaulan,
mempedulikan perilaku anak, sehingga anak ragu-ragu dalam bertindak atau mengambil
juga tidak tahu apakah perilakunya sesuai keputusan karena takut dimarahi. Sementara
dengan norma sosial atau tidak. Akibatnya anak yang diasuh dengan pola permisif
anak memiliki self esteem yang rendah, tidak menunjukkan gejala cenderung terlalu bebas
168 | Prosiding Seminar Nasional Parenting 2013

dan sering tidak mengindahkan aturan, Simpulan


kurang rajin beribadah, cenderung tidak 1. Perkembangan moral menurut Kohlberg
sopan, bersifat agresif, sering mengganggu pada tingkat II, yang mendasarkan pada
orang lain, sulit diajak bekerjasama, sulit pengharapan sosial, keluarga berfungsi
menyesuaikan diri dan emosi kurang stabil. mengembangkan moral anak yang
Sedangkan anak yang diasuh dengan pola dibentuk secara sosial melalui accepting,
demokratis menunjukkan kematangan jiwa preserving, taking, exchanging dan
yang baik, emosi stabil, memiliki rasa biophilous,
tanggungjawab yang besar, mudah 2. Perkembangan moralitas pada tingkat I,
bekerjasama dengan orang lain, mudah yang mendasarkan pada objek di luar
menerima saran dari orang lain, mudah diatur diri individu sebagai ukuran benar atau
dan taat pada peraturan atas kesadaran salah, orangtua memiliki peran yang
sendiri. besar terhadap perkembangan moral
Menurut Effendi (1995) keluarga anak, yang dapat diidentifikasi melalui
memiliki peranan utama didalam mengasuh tutur kata, sikap dan perbuatan mereka
anak, di segala norma dan etika yan berlaku terhadap anak.
didalam lingkungan masyarakat, dan
budayanya dapat diteruskan dari orang tua Saran
kepada anaknya dari generasi-generasi yang 1. Bagi keluarga, khususnya orang tua agar
disesuaikan dengan perkembangan bisa mengontrol dan memberikan
masyarakat. pendidikan moral yang tepat untuk
Keluarga memiliki peranan penting anaknya sesuai dengan tahapan-tahapan
dalam meningkatkan kualitas sumber daya perkembangan anak.
manusia. Pendidikan moral dalam keluarga 2. Bagi para peneliti diharapkan dapat
perlu ditanamkan pada sejak dini pada setiap mengkaji lebih lanjut tentang nilai-nilai
individu. Walau bagaimana pun, selain moral yang dilakukan oleh seorang anak
tingkat pendidikan, moral individu juga tidak hanya dilihat dari hal-hal yang
menjadi tolak ukur berhasil tidaknya suatu nampak saja, tetapi dilihat juga dari
pembangunan. penalaran moralnya.
Peran Orangtua dalam Perkembangan Moral Anak | 169
Dwiyanti, R. [hal.161-169]

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A.(1992). Filsafat Islam : Kajian Ontologis, Epistemologis,. Aksiologis, Historis


Perspektif, Yogyakarta : LESPI.
Al-Halwani, A.F. (1995). Melahirkan Anak Saleh. Mitra Pustaka, Jakarta
Alwisol. (2006). Psikologi Kepribadian, Malang : UMM
Effendi, Suratman, Ali Thaib, Wijaya, Dan B. Chasrul Hadi. (1995). Fungsi Keluarga Dalam
Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. Jambi: Departemen Pendidikan dan
Kebudayan.
Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan Edisi Kelima. Erlangga, Jakarta.
Hermansyah. (2001). Pengembangan Moral. Depdiknas, Jakarta.
Maccoby, E. E., & Martin, J. A. (1993). “Socialization in the context of the family: Parent–child
interaction”. In P. H. Mussen (Ed.) & E. M. Hetherington (Vol. Ed.), Handbook of child
psychology: Vol. 4. Socialization, personality, and social development (4th ed., pp. 1-101).
New York: Wiley.
Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditono, S.R. (2002). Psikologi Perkembangan : Pengantar dalam
berbagai bagiannya. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Mardiya. (2005). “Buramnya Wajah Keluarga Kita”. Artikel. Kedaulatan Rakyat 17 April 2005
halaman 8.
Santrock, John W. (2007). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga
Trisusilaningsih, E. (2009). Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Moral Anak.
Laporan Penelitian. Mardiya.wordpress.com
Widayanti, S.Y.M dan Iryani, S.W. (2005). Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Kenakalan
Anak B2P3KS, Yogyakarta.
Wagiman, http://keluargasyifa.blogspot.com, diakses 24 Mei 2010