Anda di halaman 1dari 9

Laporan Pendahuluan

ABSES SCROTUM DI RUANG BEDAH KECELAKAAN


RSUD BLAMBANGAN - BANYUWANGI

Oleh:

Riyan Dwi Prasetyawan

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI
2015
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Abses Scrotum Di Ruang Bedah Kecelakaan

RSUD Blambangan – Banyuwangi

Telah diterima dan di setujui:

Mahasiswa

(........................................................)

Pembimbing Klinik Pembimbing Institusi

(........................................................) (........................................................)

Mengetahui,

Kepala Ruangan RBK

(........................................................)
A. Pengertian
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telahmati)
yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi(biasanya oleh
bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru,
atau jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk
mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain. Abses adalah infeksi
kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisinanah. (Siregar, 2004)
Abses Skrotum merupakan salah satu kasus dalam bidang urologi yang harus
segera ditangani untuk mencegah terjadinya kerusakan pada testis dan terjadinya
Fournier’s gangrene. Abses Srotum adalah kumpulan purulen pada ruang diantara tunika
vaginalis parietalis dan viseralis yang berada mengelilingi Testis, Abses skrotum,terjadi
apabila terjadi infeksi bakteri dalam skrotum (burner et all, 2013)
abses skrotum adalah terbentuknya kantong berisi nanah pada jaringan kutis dan
subkutis akibat infeksi kulit skrotum yang disebabkan oleh bakteri/parasit atau karena
adanya benda asing.

B. Etiologi

Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui
beberapa cara :
a) Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak
steril
b) Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain
c) Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak
menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.
Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :
a) Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi
b) Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
c) Terdapat gangguan sistem kekebalan
Bakteri tersering penyebab abses adalah Staphylococus Aureus

C. Tanda dan Gejala (Manifestasi Klinis)

Dalam kasus ini abses yang terjadi adalah pada skrotum, tanda dan gejala abses
biasanya Paling sering, abses akan menimbulkan Nyeri tekan dengan massa yang
berwarna merah, hangat pada permukaan abses, dan lembut. Hingga terjadi nekrosis pada
jaringan permukaan skrotum.
Menurut Smeltzer & Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa:
a) Nyeri
b) Nyeri tekan
c) Teraba hangat
d) Pembengkakan
e) Kemerahan
f) Demam
D. Patofisiologi
Terjadinya abses dikarenakan masuknya bakteri melalui luka atau infeksi di
bagian tubuh lain maupun bakteri dalam tubuh yang tidak menimbulkan gangguan, lama
kelamaan bagian yang terkena terjadi infeksi. Infeksi ini menyebabkan sebagian sel mati
dan hancur sehingga bagian tersebut berongga berisi bakteri, sedangkan sebagian sel
darah putih melakukan perlawanan dan akhirnya mati, karena jumlah sel tersebut sedikit.
Sel tersebut menjadi pus dan akhirnya terdorong seperti benjolan yang disebut abses lalu
terjadi peradangan yang menimbulkan nyeri, membuat tidak nafsu makan. Peradangan
tersebut akhirnya pecah terjadi perdarahan sehingga menimbulkan kecemasan.

E. Komplikasi
Apabila abses skrotum tidak ditangani dengan baik maka dapat menyebabkan
Fournier’s gangrene,yaitu: nekrosis pada kulit skrotum, dan merupakan kasus
kegawatdaruratan Fournier gangren (necrotizing fasciitis) dapat menyebabkan
kehilangan jaringan yang signifikan memerlukan pencangkokan kulit berikutnya untuk
skrotum,serta hilangnya kulit perut dan perineum. Individu mungkin memerlukan
penempatan tabung suprapubik untuk pengalihan cara berkemih serta kolostomi.

F. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium
a. Pada pemeriksaan laboratorium biasanya ditemukan peningkatan sel darah
putih(leukosit) yang diakibatkan oleh terjadinnya inflamasi atau infeksi pada
skrotum.
b. Selain itu dapat dilakukan Kultur urin dan pewarnaan gram untuk mengetahui
kuman penyebab infeksi.
c. Analisa urin untuk melihat apakah disertai pyuria atau tidak
d. Tes penyaringan untuk klamidia dan gonorhoeae.
e. Kultur darah bila dicurigai telah terjadi infeksi sistemik pada penderita
2. Ultrasonografi
Pada pemeriksaan Ultrasonografi pyocele akan memberikan gambaran yang lebih
parah, Hal itu membedakan dari hidrocele. Septa atau lokulasi, level cairan
menggambarkan permukaan dari hidrocele /pyocele,dan gas pada pembentukan
organisme. Pemeriksaan USG biasanya menunjukankan akumulasi cairan ringan
dengan gambaran internal atau lesi hypoechoic yang diserai dengan isi skrotum
normal atau bengkak.
USG skrotum sangat membantu dalam mendiagnosis abses intraskrotal terutama
jika ada massa inflamasi. USG skrotum dapat menggambarkan perluasan abses ke
dinding skrotum, epididimis, dan atau testis. USG skrotum adalah tambahan yang
berguna untuk mendiagnosis dan pemeriksaan fisik dalam penilaian abses skrotum.
Hal ini memungkinkan untuk lokalisasi abses skrotum serta evaluasi vaskularisasi
dari epididimis dan testis, yang mungkin terlibat.
3. CT-Scan
CT Scan juga dapat digunakan untuk melihat adanya penyebaran abses. Pemeriksaan
Real-time ultrasound harus dilakukan jika terjadi fraktur,dan harus ditangani dengan
eksplorasi skrotal. Testis yang mengalami kontusio biasanya memberikan respon
yang baik terhadap istirahat dan analgesia.
G. Penatalaksanaan
Manajemen abses intrascrotal, terlepas dari penyebabnya, memerlukan drainase
bedah dimana rongga abses harus dibuka dan dikeringkan, termasuk testis jika terlibat.
Rongga harus dibiarkan terbuka. Fournier gangren (necrotizing fasciitis) membutuhkan
resusitasi cepat dan eksplorasi bedah dan debridemen serta antibiotik yang agresif. Abses
Superficial juga memerlukan insisi dan drainase.[3] Untuk mengobati abses skrotum,
diagnosis yang tepat dari penyebab infeksi diperlukan untuk menentukan pengobatan
yang cocok.
Dapat dilakukan drainase dan pertimbangan untuk orkidoctomy yang diikuti dengan
pemberian agen antimicrobial untuk abses intratestikular. Abses skrotum yang terjadi
superficial dapat ditangani dengan insisi dan drainase. Tidak ada kontraindikasi terhadap
drainase abses intrascrotal,selain pada pasien yang terlalu sakit untuk menahan operasi.
Pasien dengan gangren Fournier (necrotizing fasciitis) membutuhkan penanganan yang
cepat.
Abses skrotum Superfisial, yang terbatas pada dinding skrotum, sering dapat diobati
dengan infiltrasi kulit sekitar abses dan kemudian menggores diatas abses dengan pisau
sampai rongga dibuka dan dikeringkan. Rongga tersebut kemudian dibiarkan untuk tetap
terbuka dan dikeringkan.
Sayatan dan drainase abses intrascrotal biasanya dilakukan dengan anestesi umum.
Kulit yang, melapisi area fluktuasi massa.Pada Jaringan subkutan digunakan
elektrokauter sampai ditemui tunika vagina. Jaringan devitalized, termasuk epididimis
dan testis dilakukan debridement. Luka skrotum dibiarkan terbuka dan dikeringkan
untuk mencegah berulangnya abses.

H. Pathway

Bakteri Gram Positif


(Staphylococcus aureus Streptococcus mutans)

Mengeluarkan enzim hyaluronidase dan enzim koagulase

merusak jembatan antar sel


transpor nutrisi antar sel terganggu

Jaringan rusak/mati/nekrosis

Media bakteri yang baik

Jaringan terinfeksi

Peradangan
Sel darah putih mati

Demam
Jaringan menjadi abses Pembedahan
& berisi PUS
Gangguan
Thermoregulator
Pecah
(Pre Operasi)
Reaksi Peradangan
(Rubor, Kalor, Tumor, Dolor, Fungsiolaesea)
Luka Insisi
Nyeri
Nyeri
Resiko Penyebaran Infeksi
(Pre Operasi)
(Pre dan Post Operasi) (Post Operasi)

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas
Abses bisa menyerang siapa saja dan dari golongan usia berapa saja, namun
yang paling sering diserang adalah bayi dan anak-anak.
b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Nyeri, panas, bengkak, dan kemerahan pada area abses.
2. Riwayat kesehatan sekarang
a) Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali, sedangkan abses
dalam seringkali sulit ditemukan.
b) Riwayat trauma, seperti tertusuk jarum yang tidak steril atau terkena peluru,
dll.
c) Riwayat infeksi (suhu tinggi) sebelumnya yang secara cepat menunjukkan rasa
sakit diikuti adanya eksudat tetapi tidak bisa dikeluarkan.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit menular dan kronis, seperti TBC dan diabetes mellitus.
c. Pemeriksaan fisik
1. KEPALA
Biasanya Konjungtiva : Anemis (-) Sklera : Ikterus (-) Bibir : Sianosis (-)
2. LEHER
Biasanya Massa tumor (-) Nyeri tekan (-) Deviasi trakea (-) Pembesaran Kelenjar
getah bening (-)
3. THORAKS
Biasanya Inspeksi : Simetris kiri = kanan, sikatriks (-) Palpasi : Massa (-), NT (-),
vocal fremitus normal Perkusi : Sonor; Batas paru-hepar setinggi ICS VI
Auskultasi : BP: vesikuler BT: Rh -/- Wh -/- JANTUNG Inspeksi : Ictus cordis tidak
tampak Palpasi : Ictus cordis tidak teraba Perkusi : pekak, batas jantung kesan
normal Auskultasi : Bunyi jantung I/II, murni, reguler
4. ABDOMEN
Biasanya Inspeksi : cembung, ikut gerak napas Auskultasi : peristaltik (+) kesan
normal Perkusi : timpani Palpasi : Massa (-), NT (-), defans muskular (-)
5. GENITALIA
Biasanya Inspeksi : abses (+), eritema (+), ulkus(+), pus(+), darah (+), jaringan
nekrotik (+) Palpasi : NT (+) Ukuran ulkus 10 x 5 cm, berongga
6. EKSTREMITAS
Biasanya Edema (-) Akral teraba hangat (+|+)
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologi atau insisi pembedahan
b. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
c. Kerusakan Intergritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan.
d. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan luka terbuka

3. Intervensi keperawatan
1) Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologi atau insisi pembedahan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
gangguan rasa nyaman nyeri teratasi.
Kriteria Hasil : Klien mengungkapkan secara verbal rasa nyeri
berkurang, klien dapat rileks, klien mampu mendemonstrasikan
keterampilan relaksasi dan aktivitas sesuai dengan
kemampuannya, TTV dalam batas normal; TD : 120 / 80
mmHg, Nadi : 80 x / menit, pernapasan : 20 x / menit.
Intervensi Rasional
1) Observasi TTV 1) Sebagai data awal untuk melihat keadaan
2) Kaji skala, lokasi, dan karakteristik umum klien
nyeri. 2) Sebagai data dasar mengetahui seberapa hebat
3) Observasi reaksi non verbal dari nyeri yang dirasakan klien sehingga
ketidaknyamanan. mempermudah intervensi selanjutnya
4) Dorong menggunakan teknik 3) Reaksi non verba menandakan nyeri yang
manajemen relaksasi. dirasakan klien hebat
5) Kolaborasikan obat analgetik sesuai 4) Untuk mengurangi ras nyeri yang dirasakan
indikasi. klien dengan non farmakologis
5) Mempercepat penyembuhan terhadap nyeri

2) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
hipertermi dapat teratasi.
Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal (36 0 C – 37 0C).

Intervensi Rasional
1) Observasi TTV, terutama suhu tubuh 1) Untuk data awal dan memudahkan intervensi
klien. 2) Untuk mencegah dehidrasi akibat penguapan
2) Anjurkan klien untuk banyak tubuh dari demam
minum, minimal 8 gelas / hari. 3) Membantu vasodilatasi pembuluh darah
3) Lakukan kompres hangat. sehingga mempercepat hilangnya demam
4) Kolaborasi dalam pemberian 4) Mempercepat penurunan demam
antipiretik.

3) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan


Tujuan : Dapat tercapainya proses penyembuhan luka
tepat waktu.
Kriteria hasil : Luka bersih, tidak bau, tidak ada pus/sekret,
odema disekitar luka berkurang.

Intervensi Rasional
1) Kaji luas dan keadaan luka serta 1) Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses
proses penyembuhan. penyembuhan akan membantu dalam
2) Rawat luka dengan baik dan benar menentukan tindakan selanjutnya.
dengan teknik aseptik 2) Merawat luka dengan teknik aseptik, dapat
3) Kolaborasi dengan dokter untuk menjaga kontaminasi luka.
pemberian anti biotik.
3) Menghilangkan infeksi penyebab kerusakan
jaringan.

4) Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan luka terbuka

Tujuan : Penyebaran infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil : Klien bebas tanda dan gejala penyebaran infeksi

Intervensi Rasional
1) Observasi tanda-tanda infeksi 1) Deteksi dini terhadap infeksi
2) Lakukan perawatan luka dengan teknik 2) Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan
aseptik dan antiseptik penyebaran bakteri
3) Kolaborasi dengan dokter untuk 3) Menghilangkan infeksi penyebab kerusakan
pemberian antibiotik jaringan.

Daftar Pustaka

Burner.david,Ellie L Ventura,Jhon J Devlin. Scrotal Pyocele:Uncommon Urologic Emergency.


[online Apr-Jun 2012].[cited 2013 February 09th]. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3391854

Siregar, R,S. Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta. Edisi 2.
Jakarta:EGC,2004.

Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Bruner and
Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa Indonesia :Monica Ester.
Edisi 8 jakarta : EGC,2001.

NANDA International. 2012. Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications 2012-2014.


Jakarta : EGC

Bulecheck, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, J. McCloskey. 2012.Nursing


Interventions Classification (NIC). Fifth Edition. Iowa : Mosby Elsavier.

Jhonson,Marion. 2012. Iowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC). St. Louis
,Missouri ; Mosby.

Anda mungkin juga menyukai