Anda di halaman 1dari 128

LAPORAN PELAKSANAAN MAGANG

BIDANG GIZI MASYARAKAT


PUSKESMAS PULOREJO, KABUPATEN JOMBANG

Oleh:
Ananda Zahrah S.N. NIM. 101411231037

Airin Levina NIM. 101411231038

Dessy Nur Fadzila NIM. 101411231039

PROGRAM STUDI S-1 ILMU GIZI


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017

1
2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmatNya
kegiatan magang gizi masyarakat ini dapat diselesaikan. Kami mengucapkan
terimakasih atas bimbingan dari dosen Program Studi Ilmu Gizi Gizi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, pembimbing lapangan yakni
Petugas Gizi dan Kepala Puskesmas Pulorejo, Dinas Kesehatan Kabupaten
Jombang, serta pihak-pihak lainnya.
Laporan kegiatan Magang Gizi Masyarakat dibuat sebagai bentuk
pertanggungjawaban dan bukti pelaksanaan kegiatan magang oleh mahasiswa
semester VII S1 Ilmu Gizi FKM Unair. Bersama dengan laporan ini, kami juga
mengucapkan trimakasih kepada pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dan
Puskesmas Pulorejo atas bimbingan yang diberikan selama pelaksanaan magang
gizi masyarakat.
Demikian laporan ini kami buat. Kami menerima kritik dan saran dari
Bapak/Ibu guna perbaikan dan pengembangan diri kami di masa yang akan
datang. Trimakasih.

Surabaya, 27 Oktober 2017

Penulis
(Peserta Magang Gizi Masyarakat)

3
DAFTAR ISI

Lembar pengesahan i

Kata pengantar ii

Daftar isi iii

I. Pendah

uluan 1

1.1 Latar belakang 1

1.2 Tujuan 3

1.3 Manfaat 3

II. Tinjauan Pustaka 5

2.1 Program gizi 5

2.2 Metode analisis situasi permasalahan gizi 6

2.3 Metode penentuan prioritas masalah gizi 6

2.4 Metode penentuan alternative pemecahan masalah gizi 8

2.5 Monitoring dan evaluasi 8

III. Metode 10

3.1 Lokasi dan waktu pelaksanaan 10

3.2 Peserta kegiatan 11

3.3 Cara pengumpulan data 11

3.4 Matriks perencanaan kegiatan 11

IV. Hasil dan pembahasan 15

4.1 Gambaran umum 15

4
A. Sejarah 15

B. Visi dan misi 15

C. Struktur organisasi 17

D. Kegiatan puskesmas 18

E. Sarana dan prasarana 20

F. Sumber daya manusia dan tupoksi 21

4.2 Identifikasi masalah (analisis situasi) 30

A. Kondisi demografis dan geografis 30

B. Kondisi sosial ekonomi penduduk 31

C. Kondisi pola konsumsi 32

D. Program puskesmas yang sudah berjalan dan capaiannya 32

E. Prioritas masalah 54

F. Studi kasus 56

V. Penutup 111

5.1 Monitoring dan evaluasi 111

5.2 Kesimpulan 111

5.3 Saran 112

Daftar pustaka 114

Lampiran 115

5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari mengenai zat gizi (nutrient)
yang terkandung dalam makanan beserta interaksinya di dalam tubuh manusia
dan dampaknya bagi kesehatan manusia. Gizi adalah penunjang kehidupan
manusia. Gizi yang baik akan meningkatkan kualitas kesehatan dan
kesejahteraan manusia. Sedangkan, gizi yang kurang baik akan berdampak
pada penurunan kualitas kesehatan manusia.

Gizi masyarakat adalah ilmu gizi yang berfokus pada kesehatan


masyarakat secara luas. Pada gizi masyarakat, ahli gizi berperan sebagai
perencana, pelaksana serta evaluator program gizi untuk meningkatkan status
kesehatan masyarakat secara luas. Gizi masyarakat banyak berhubungan
dengan pengambilan kebijakan oleh instansi berwenang terkait contohnya
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Salah satu kompetensi dari S1 Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan


Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR) adalah menciptakan sarjana
gizi yang unggul termasuk dalam bidang gizi masyarakat. Untuk menunjang
hal tersebut, Program Studi S1 Ilmu Gizi FKM UNAIR melaksanakan Program
Magang Gizi Masyarakat. Magang Gizi Masyarakat merupakan mata kuliah
wajib dengan bobot 4 SKS.

Pada tahun ini, Magang Gizi Masyarakat dilakukan di 4 kabupaten


yaitu Kabupaten Sidoarjo, Jombang, Kediri, dan Tulungagung. Teknis
pelaksanaannya dilakukan dengan membagi mahasiswa menjadi kelompok
kecil. Dalam satu kelompok kecil terdiri dari 3 orang mahasiswa yang akan
ditempatkan pada satu puskesmas di kabupaten yang ditunjuk sesuai kebijakan
dan kerjasama yang dibuat antara FKM UNAIR dan Dinas Kesehatan
Kabupaten yang telah disebutkan. Dalam pelaksanaan Magang Gizi
Masyarakat ini, mahasiswa akan belajar secara langsung di lapangan dan akan

6
dibimbing oleh 2 dosen pembimbing akademik dari Program Studi S1 Ilmu
Gizi FKM UNAIR serta pembimbing lapangan di Dinas Kesehatan atau
Puskesmas yang ditunjuk, yakni Puskesmas Pulorejo.

Puskesmas Pulorejo terletak di Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Ngoro,


Kabupaten Jombang. Di Kecamatan Ngoro terdapat 2 puskesmas yakni
Puskesmas Pulorejo dan Kesamben. Puskesmas Pulorejo memiliki wilayah
kerja yang mencakup 7 desa yaitu Desa Pulorejo, Banyuarang, Jombok,
Sidowarek, Genukwatu, Rejoagung, dan Badang. Oleh karena cakupan wilayah
kerja yang luas, puskesmas ini memiliki 2 puskesmas pembantu yang terletak
di Dusun Pageng Desa Jombok dan Dusun Ngrembang Desa Rejoagung.

Puskesmas Pulorejo memiliki pelayanan di dalam dan luar gedung.


Pelayanan dalam gedung seperti poli umum, gigi, KIA, VCT, gizi, lansia,
klinik sanitasi, kamar obat, imunisasi, persalinan, UGD, rawat inap, dan lain-
lain. Pelayanan luar gedung seperti puskesmas keliling, promosi kesehatan,
kelas ibu hamil, posyandu balita, taman pemulihan gizi, dan lain-lain. Hari
kerja puskesmas setiap Senin-Sabtu, dari pagi hingga siang hari. Ada UGD
yang siap sedia 24 jam.

Poli gizi memiliki layanan dalam dan luar gedung. Pelayanan dalam
gedung meliputi pelayanan gizi rawat jalan dan rawat inap. Pelayanan gizi
rawat jalan dilakukan kepada pasien yang dirujuk poli umum, lansia, dan KIA
ke poli gizi. Pasien dengan penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes,
asam urat; pasien dengan penyakit infeksi, khususnya pada anak-anak yang
mengakibatkan nafsu makan menurun; pasien gastritis; dan ibu hamil yang
melakukan ANC terpadu yang banyak dilayani di pelayanan rawat jalan poli
gizi. Pelayanan rawat inap yang dilakukan yakni visit untuk melihat asupan
gizi pasien. Adapun pasien rawat inap di Puskesmas Pulorejo juga diberikan
makanan, yakni dengan sistem outsourcing.

Pelayanan gizi di luar gedung dilakukan di sekolah dan posyandu


balita, remaja, dan lansia. Pelayanan ini meliputi screening berat dan tinggi
badan, pencatatan, pemberian vitamin, serta edukasi gizi; baik dengan
konseling maupun penyuluhan dengan berbagai metode yang disesuaikan.

7
Pelayanan gizi di luar gedung juga melibatkan berbagai pihak selain petugas
gizi, diantaranya: bidan desa, kader, komite desa, ibu-ibu PKK, dan lain-lain.
Pelayanan seperti taman pemulihan gizi dan outlet tambah darah dilakukan
dengan bekerjasama dengan instansi lain yaitu sekolah dan pemerintah
desa/kecamatan yang bersangkutan.

Berbagai program gizi tercanang dan dilakukan oleh Puskesmas


Pulorejo. Pelayanan kepada ibu hamil, bayi, anak, remaja, dewasa, dan lansia
semua dilakukan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Program gizi
yang ada saling berintegrasi dan melibatkan seluruh pihak terkait untuk
mencapai keberhasilan. Salah satu penghargaan yang diterima oleh Puskesmas
Pulorejo adalah juara KP ASI pada tahun 2013.

1.2. Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan magang gizi masyarakat adalah sebagai berikut :
1.2.1 Tujuan Umum
Mendapatkan pengalaman, pengetahuan, keterampilan mengenai
program gizi di Puskesmas Pulorejo, Kabupaten Jombang
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mempelajari alur kerja, susunan organisasi, dan struktur organisasi di
Puskesmas Pulorejo, Kabupaten Jombang.
b. Mempelajari proses perencanaan program perbaikan gizi di tingkat
Puskesmas Pulorejo, Kabupaten Jombang.
c. Mempelajari analisis situasi permasalahan gizi, prioritas masalah gizi,
dan alternatif pemecahan masalah gizi di Puskesmas Pulorejo,
Kabupaten Jombang.
d. Mempelajari kasus dengan permasalahan gizi prioritas yang ada di
wilayah kerja magang yang kemudian diamati dan diobservasi selama
magang berlangsung.
e. Melakukan studi kasus pemberdayaan masyarakat dalam
penanggulangan masalah pangan dan gizi.

8
1.3. Manfaat
Kegiatan kerja praktek/magang ini diharapkan dapat memberikan manfaat
bagi pihak-pihak yang terkait didalamnya.
1.3.1 Bagi Mahasiswa
a. Menambah pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan
wawasan mengenai gizi masyarakat beserta implementasi
program terkait
b. Sebagai sarana dalam latihan dan penerapan ilmu yang
diperoleh dengan kondisi sebenarnya yang ada dilapangan
khususnya dalam bidang gizi masyarakat seperti program
evaluasi gizi, pendidikan gizi, antropologi gizi, sosiologi,
penentuan status gizi, dan lain-lain.
c. Meningkatkan kemampuan dalam bersosialisasi dengan
lingkungan kerja, secara khusus di Puskesmas Pulorejo
Kabupaten Jombang.
1.3.2 Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat
a. Dapat menjalankan fungsi utama dalam hal pendidikan dan
pembinaan ke arah pengembangan sumber daya manusia yang
berkualitas.
b. Terciptanya hubungan kerja sama yang saling menguntungkan
antara kedua belah pihak, yaitu instansi pendidikan (FKM) dan
instansi tempat magang yaitu Puskemas Pulorejo beserta Dinas
Kesehatan Kabupaten Jombang dalam hal pendidikan.
1.3.3 Bagi Instansi Praktik Kerja (Puskesmas Pulorejo, Dinas Kesehatan
Kabupaten Jombang)
a. Turut berperan serta mennyukseskan program pemerintah dalam
pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
b. Dapat memperoleh masukan mengenai solusi kondisi dan
permasalahan yang dihadapi instansi dari metode yang telah
diperoleh dari materi perkuliahan yang dapat diaplikasikan pada
instansi baik secara teknis maupun administratif.

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Program Gizi


Berdasarkan Profil Kesehatan Jombang tahun 2015, terdapat
beberapa program untuk menangani masalah gizi dan kesehatan terkait
gizi yaitu:
1. EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival)
Program ini merupakan program kerjasama Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia dan USAID (United States Agency for
International Development) tahun 2012-2016 yang bertujuan untuk
membantu percepatan penurunan kematian ibu dan neonatal sebesar
25% di Indonesia. Pelaksanaan program dilakukan dengan cara
meningkatkan kualitas pelayanan kehamilan darurat dan bayi baru
lahir di seluruh fasilitas kesehatan serta memperkuat sistem rujukan
yang efisien dan efektif antar puskesmas dan rumah sakit.
2. DOTS (Directly Observed Treatment Shourtcourse)
Program ini merupakan program penanggulangan penyakit
tuberkulosis (TB) di masyarakat. Pada pelaksanaannya di Jombang,
program ini mendapatkan dukungan dari Organisasi Kemasyarakatan
Aisyiyah Cabang Jombang.
3. Program Pelayanan Ibu dan Anak
Program ini merupakan program untuk membantu penurunan
angka kematian ibu dan anak (bayi dan balita) sehingga dapat
menghasilkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Program
ini meliputi pelayanan antenatal care, ASI Eksklusif, P4K (Program
Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi), dan imunisasi
anak.
4. Program Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita
Program ini merupakan program yang bertujuan untuk
mencegah kejadian kebutaan anak serta mengurangi risiko morbiditas
dan mortalitas anak. Upaya pemberian vitamin A pada balita

10
dilakukan dengan sosialisasi peningkatan pengetahuan tentang vitamin
A dan melakukan sweeping vitamin A di Taman Posyandu dan
PAUD.
2.2 Metode Analisis Situasi Permasalahan Gizi
Menurut Sugianto (2012), dalam menganalisis situasi permasalahan
masyarakat dapat dilakukan menggunakan metode Fishbone Analysis
(Analisis Tulang Ikan) dan Lock Frame Analysis/Problem Tree (Pohon
Masalah).
1. Fishbone Analysis (Analisis Tulang Ikan)
Metode ini menganalisis suatu permasalahan melalui faktor-
faktor penyebab masalah dalam bentuk diagram yang bentuknya
serupa dengan bentuk tulang ikan. Diagram ini digunakan untuk
mengurutkan penyebab-penyebab masalah hingga didapatkan suatu
akar penyebabnya.
2. Lock Frame Analysis/Problem Tree (Pohon Masalah)
Metode ini menganalisis suatu permasalahan dengan
menunjukkan masalah dan akar akibat serta menunjukkan keadaan
sebenarnya maupun situasi yang tidak diharapkan. Dengan melakukan
analisis pohon masalah, suatu solusi dapat terbentuk dari pemetaan
sebab-akibat di sekitar masalah utama sehingga terbentuk pola pokir
yang terstruktur.

2.3 Metode Penentuan Prioritas Masalah Gizi


Menurut Symond (2013) dalam jurnal berjudul "Penentuan
Prioritas Masalah Kesehatan dan Prioritas Jenis Intervensi Kegiatan dalam
Pelayanan Kesehatan di Suatu Wilayah”, metode untuk menentukan
prioritas masalah kesehatan yaitu:
1. Metode Matematik
Metode ini dikembangkan oleh PAHO (Pan American Health
Organization) di Amerika Latin. Dalam metode ini, penentuan
prioritas dilakukan berdasarkan luas masalah, berat kerugian yang
muncul, adanya solusi masalah, dukungan masyarakat dan politik
serta adanya data. Setiap poin akan diberikan nilai dengan rentang 1
11
sampai 5 oleh ahli kesehatan yang kemudian akan nilai per poinnya
akan dikalikan sehingga muncul total nilai dari masalah tersebut.
2. Metode Delbeque
Metode ini merupakan metode kualitatif yang penilaiannya
dilakukan oleh para ahli kesehatan melalui langkah-langkah yaitu
penetapan kriteria bersama, pemberian bobot masalah, dan penentuan
rentang nilai setiap masalah. Setelah semua langkah dilakukan, akan
terlihat peringkat prioritas masalah menurut pendapat masing-masing
ahli yang nantinya akan didiskusikan bersama guna menyamakan
pendapat dan mencapai suatu mufakat.
3. Metode Delphi
Metode ini hampir sama dengan metode Delbeque yaitu
dengan mengumpulkan para ahli kesehatan ke dalam suatu forum
guna mendiskusikan masalah yang ada kemudian saling memberikan
pendapat untuk menentukan prioritas masalah. Perbedaan dengan
metode Delbeque adalah dalam metode Delphi tidak dilakukan
scoring masalah namun langsung didiskusikan.
4. Metode Estimasi Beban Kerugian Akibat Sakit (Disease Burden)
Metode ini merupakan metode kuantitatif dengan menghitung
jumlah hari produktif yang hilang karena munculnya masalah. Metode
ini merupakan metode yang jarang digunakan karena teknik
perhitungannya relatif sulit.
5. Metode Perbandingan antara Target dan Pencapaian Program Tahunan
Metode ini menetapkan prioritas masalah dengan
membandingkan target program mendapat dengan pencapaian setahun
yang lalu. Di Indonesia, metode ini merupakan metode yang paling
sering digunakan sampai saat ini.
6. Metode Urgensi, Keseriusan, dan Perkembangan Isu (USG)
Metode ini menetapkan prioritas masalah dengan menentukan
tingkat urgensi/urgency (U), keseriusan/seriousness (S), dan
perkembangan isu/growth (G) menggunakan skala nilai 1-5 atau 1-10.
Isu yang memiliki total skor tertinggi dari perkalian nilai tingkat

12
urgensi, keseriusan, dan perkembangan isu merupakan isu prioritas
(Kepner & Tregoe, 1981).

Dalam magang ini, kami menggunakan metode USG dengan skala


nilai 1-5 yang ditentukan oleh petugas gizi dan tenaga kesehatan di
Puskesmas Pulorejo.

2.4 Metode Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah Gizi


Symond (2013) juga menjelaskan bahwa terdapat 2 metode yang
sering digunakan untuk menentukan alternatif pemecahan masalah
kesehatan yaitu:
1. Metode Analisis Cost-Effective dan Cost-Effeciency (Cost Analysis)
Metode ini merupakan metode yang mempertimbangkan
keefektifan dan keefisienan intervensi menggunakan suatu rumus
tertentu. Variabel yang digunakan dalam rumus penentuan prioritas ini
yaitu luas masalah, pentingnya penanggulangan masalah, solusi yang
ada untuk masalah, dan biaya yang dikeluarkan untuk menangani
masalah.
2. Metode Hanlon
Metode ini merupakan metode yang menggunakan 4 kriteria
yaitu luas masalah, urgensi masalah, kemudahan penanggulangan
masalah, dan kemampuan pelaksanaan program berdasar PEARL
factor (appropriateness, economic feasibility, acceptability, resources
availability, dan legality). Jika suatu program tidak memenuhi salah
satu faktor PEARL, maka program tersebut tidak layak dilaksanakan.

Dalam pelaksanaan magang gizi bidang masyarakat ini, kami


menggunakan metode Cost-Analysis untuk membuat program pemecahan
masalah gizi. Adapun program pemecahan masalah gizi yang ada, selaku
studi kasus, terlampir.

2.5 Monitoring dan Evaluasi


Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk melihat keberhasilan
suatu program. Definisi monitoring adalah suatu aktivitas untuk

13
mengetahui kesesuaian program yang sedang berjalan dengan yang
direncanakan. Sedangkan, evaluasi adalah kegiatan penilaian dari data
yang dikumpulkan saat proses monitoring (Arifin et al, 2016). Suryana
(2010) dalam “Strategi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Sistem
penjaminan Mutu Internal Sekolah” menyatakan bahwa prinsip dari
monitoring yaitu harus dilakukan secara terus menerus, harus dijadikan
pedoman perbaikan program, harus memberikan manfaat baik pada semua
pihak, harus dapat memotivasi sumber daya manusia di dalamnya untuk
berprestasi, harus berorientasi pada aturan yang berlaku, bersifat obyektif,
dan berorientasi pada tujuan program. Metode untuk mengumpulkan data
selama proses monitoring yaitu survei, pengamatan, dokumentasi,
wawancara, dan kuesioner dengan isian singkat (Moerdiyanto, 2011).
Adapun jenis evaluasi dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Evaluasi formatif
Evaluasi formatif dilakukan pada tahap pelaksanaan program
dengan tujuan untuk memperbaiki kesalahan keika program
sedang berjalan.
b. Evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif dilakukan di akhir pelaksanaan program,
ketika program sudah dilakukan. Evaluasi sumatif dilakukan
untuk menilai keberhasilan program.
Pada pelaksanaan program gizi, evaluasi perlu dilakukan; baik
evaluasi formatif maupun sumatif. Evaluasi formatif dilakukan oleh
pelaksana dan pengawas pelaksana program. Evaluasi sumatif dapat
dilakukan dan dinilai berdasarkan angka, misalkan: penurunan jumlah
balita yang mengalami gizi buruk, peningkatan jumlah bayi yang diberi
ASI Eksklusif, dan lain-lain. Evaluasi sumatif juga dapat dilihat dari
efektivitas dan efisiensi program.
Dalam pelaksanaan gizi bidang masyarakat ini, masing-masing
mahasiswa mengambil studi kasus yakni membuat program dan
menjalankannya. Monitoring dan evaluasi program yang dilakukan, secara
lebih rinci akan tertera pada lampiran studi kasus.

14
BAB III
METODE

3.1 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan


Lokasi pelaksanaan magang gizi masyarakat telah dilakukan di:
Instansi terkait : Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang
Nama Puskesmas : Puskesmas Pulorejo
Alamat Puskesmas : Jalan Klotok Nomor 35 Desa Pulorejo, Kecamatan
Ngoro
Adapun wilayah kerja dari Puskesmas Pulorejo ini meliputi: Desa
Jombok, Genukwatu, Rejoagung, Badang, Pulorejo, Banyuarang, dan
Sidowarek.

Waktu pelaksanaan kegiatan magang gizi masyarakat ini


berlangsung selama kurang lebih 4 minggu dengan jam dan ketentuan
magang yang disepakati dengan pihak Dinas Kesehatan Jombang serta
Puskesmas Pulorejo yaitu 18 September 2017 sampai 17 Oktober 2017.
Adapun timeline kegiatan magang adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Timeline Kegiatan Magang

Waktu Kegiatan
11 September 2017 Pembekalan magang
12–14 September 2017 Penyusunan proposal magang
15 September 2017 Pemberangkatan ke Jombang –
Pembukaan oleh Dinas Kesehatan
Jombang
18–19 September 2017 Orientasi di Dinas Kesehatan
Jombang
20 September – 17 Oktober 2017 Magang masyarakat di Puskesmas
Pulorejo
18 Oktober 2017 Presentasi laporan akhir magang

15
gizi masyarakat di Dinas Kesehatan
Kabupaten Jombang.

3.2 Peserta Kegiatan


Peserta kegiatan Magang Gizi Masyarakat di Puskesmas Pulorejo,
Kabupaten Jombang ini terdiri dari 3 orang mahasiswa yaitu:

1. Ananda Zahrah Sectio Nugraheny NIM. 101411231037


2. Airin Levina NIM. 101411231038
3. Dessy Nur Fadzila NIM. 101411231039

3.3 Cara Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan menggunakan beberapa metode yaitu
ceramah, observasi, diskusi, praktik, studi literatur, dan wawancara. Data
yang didapat kemudian diolah untuk digunakan sebagai komponen dari
laporan kegiatan.

3.4 Matrix Perencanaan Kegiatan


Rencana kegiatan magang yang telah dilaksanakan antara lain:
Tabel 2. Rencana Kegiatan Magang

Kegiatan Metode Output/Target yang Ingin Dicapai


Pembekalan magang Ceramah Mahasiswa mendapatkan
gambaran mengenai magang yang
akan dilaksanakan
Penyusunan proposal Studi Mahasiswa menyusun rencana
magang Literatur kegiatan magang yang akan
dilaksanakan
Orientasi di Dinas Wawancara, Mahasiswa dapat mengetahui alur
Kesehatan Jombang Ceramah, kerja dan mengenal pihak Dinkes
Diskusi dan Jombang; mengatuhi program
Observasi gizi yang ada di Kabupaten
Jombang

16
Perkenalan dan orientasi di Wawancara Mahasiswa dapat mengetahui
Puskesmas Pulorejo dan profil puskesmas, kegiatan rutin,
Observasi dan alur kerja Puskesmas
Pulorejo serta mengenal pihak
Puskesmas Pulorejo
Mempelajari masalah gizi Wawancara Mahasiswa dapat mengetahui
maupun masalah kesehatan dan permasalahan gizi maupun
terkait gizi di wilayah kerja Observasi masalah kesehatan terkait gizi di
Puskesmas Pulorejo baik wilayah kerja Puskesmas Pulorejo
yang sudah dapat ditangani dan menyusun prioritas
maupun belum serta penyelesaian masalahnya
menyusun prioritas
masalah yang akan
diselesaikan dengan
melihat data sekunder
Mengikuti proses Observasi, Mahasiswa dapat mengetahui
perencanaan, pelaksanaan, Wawancara, cara penyusunan hingga
monitoring, dan evaluasi Praktik, dan pelaksanaan program
program gizi masyarakat Diskusi penanggulangan masalah gizi dan
maupun program kesehatan kesehatan terkait di Puskesmas
terkait untuk
menanggulangi masalah
gizi

Kegiatan Survei Kadarzi Wawancara Menggali dan menganalisis


kesadaran gizi pada tingkat KK di
wilayah dusun Kepuh Pandak
Desa Sidowarek dan Dusun
Payak Santren Desa Rejoagung

17
Kegiatan screening gizi di Analisis data Mengetahui status gizi anak
SD, SMP, SMA dan TB dan BB sekolah dan masalah gizi yang
sederajat dari UKS ada
Kegiatan survei garam Iodine test Mengetahui secara kualitatif
beryodium pada siswa SD keberadaan kandungan yodium
dalam garam yang digunakan
sehari-hari oleh keluarga dari
anak tersebut
Kegiatan konseling ANC Konseling Mahasiswa dapat memberikan
edukasi kepada ibu hamil
mengenai gizi kehamilan, ASI
eksklusif, dan cara menyusui
Konseling gizi – pelayanan Konseling Mahasiswa dapat memberikan
rawat jalan edukasi gizi kepada pasien
dengan penyakit yang
bersangkutan
Visite gizi – pelayanan Konseling Mahasiswa dapat memberikan
rawat inap edukasi gizi kepada pasien rawat
inap seturut penyakit yang
diderita
Kegiatan kelas hamil Observasi Mahasiswa dapat mengetahui
program gizi yang bersasaran
pada ibu hamil
Kegiatan Edukasi Ibu Ceramah dan Mahasiswa dapat memberikan
tentang Pemberian MP-ASI Diskusi pengetahuan baru dan tepat
yang Tepat kepada ibu-ibu mengenai
pemberian MP-ASI
Kegiatan Edukasi tentang Ceramah dan Mahasiswa dapat memberikan
Hipertensi dan Obesitas Diskusi pengetahuan baru dan tepat
tentang hipertensi dan obesitas

18
kepada masyarakat
Pembuatan poster gizi - Mahasiswa dapat memberikan
seimbang dan perilaku edukasi kepada siswa dengan
hidup sehat media poster
Penyusunan laporan akhir Studi Mahasiswa dapat menyusun dan
magang gizi masyarakat – Literatur dan memaparkan laporan hasil
beserta presentasi akhir Analisis Data kegiatan magang

19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. GAMBARAN UMUM PUSKESMAS


A. Sejarah
Puskesmas Pulorejo didirikan pada tahun 1951. Renovasi puskesmas yang
terbaru dilakukan pada tahun 1999. Pada tahun 2006, Puskesmas Pulorejo
mengalami peningkatan dari puskesmas non rawat inap ke puskesmas rawat inap.
Luas bangunan puskesmas yaitu 537,5 m2. Puskesmas Pulorejo memiliki tata nilai
yang ditetapkan dalam komitmen melayani pasien yaitu Si JEMPOL yang
memiliki makna sebagai berikut:

Si = Siap memberikan pelayanan terbaik dan bermutu untuk masyarakat


wilayah Puskesmas Pulorejo.
J = Jelas. Memberikan pelayanan dengan jelas dan transparan sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
E = Empati. Memberikan pelayanan dengan rasa emphati yang cepat, tepat dan
akurat dalam pelayanan kesehatan.
M = Manusiawi. Memberikan pelayanan secara manusiawi ramah, sopan dan
saling menghormati dalam pelayanan kesehatan.
P = Profesional. Melakukan pelayanan secara professional dilakukan oleh
tenaga yang kompeten di bidangnya masing-masing sesuai dengan tupoksi
petugas.
O = Obyektif. Melakukan pelayanan secara obyektif dengan keadaan yang
sebenarnya dan dapat dipertanggungjawabkan.
L = Lancar. Memberikan pelayanan yang terbaik dilakukan oleh tenaga yang
kompeten agar semuanya berjalan dengan lancar.

B. Visi dan Misi


1) Visi
Visi UPTD Puskesmas Pulorejo adalah “Terwujudnya masyarakat sehat di
wilayah kerja Puskesmas Pulorejo”.

20
2) Misi

Untuk mendukung tercapainya visi tersebut, maka Puskesmas Pulorejo


memiliki misi sebagai berikut:

1. Membangun kesadaran masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat.


2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan Puskesmas Pulorejo.
3. Menjalin hubungan kerjasama dengan lintas sektor dan lintas terkait.
4. Meningkatkan kualitas sumber daya tenaga kesehatan yang profesional.

21
C. Struktur Organisasi

Gambar 1. Struktur Organisasi Puskesmas

22
D. Kegiatan Puskesmas
Program Usaha Kesehatan Perseorangan (UKP), kefarmasian, dan
laboratorium meliputi pelayanan rawat jalan, rawat inap serta UGD, laboratorium,
dan kamar obat (farmasi). Sedangkan, program Usaha Kesehatan Masyarakat
(UKM) yang ada di Puskesmas Pulorejo meliputi:
1) Promosi Kesehatan
a. Penyuluhan kelompok di posyandu, poskesdes, sekolah, pertemuan
PKK, dan lainnya
2) Kesehatan Lingkungan
a. Pemeriksaan TTU, TPM, sumber air bersih, kepemilikan jamban,
dan rumah sehat
3) Surveilans Epidemiologi
4) Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P)
5) Perkesmas
6) KIA-KB
a. Pelayanan kesehatan ibu hamil (ANC Terpadu dan Kelas Ibu
Hamil)
b. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi
kebidanan
c. Penanganan ibu hamil komplikasi
d. Pelayanan ibu nifas
e. Pelayanan kesehatan neonatus, bayi, anak, dan balita
f. Pelayanan kesehatan anak usia SD dan sederajat
7) Imunisasi
a. Pemberian imunisasi pada anak sampai usia 1 tahun
b. Pemberian imunisasi pada wanita usia subur dan ibu hamil
8) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
a. Penjaringan kesehatan anak sekolah di SD/MI, SMP/MTs, dan
SMA/SMK/MA
9) Penyakit Tidak Menular
10) Gizi
a. Taman Pemulihan Gizi

23
b. Kelompok Pendukung ASI
c. Penanganan balita gizi buruk (pemberian PMT)
d. Pemberian kapsul vitamin A
e. Pemberian TTD
f. Pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan (sosialisasi ASI dan
adanya pojok laktasi)
11) Usaha Kesehatan Gigi Sekolah
a. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut serta praktik sikat gigi masal
12) Usaha Kesehatan Gigi Mulut Dewasa
13) Upaya Kesehatan Kerja
14) Kesehatan Olahraga
15) Pelayanan Kesehatan Tradisional
16) Kesehatan Reproduksi Remaja
17) Kesehatan Lansia
a. Posyandu lansia
b. Karang werda
c. PROLANIS (Program Penatalaksanaan Penyakit Kronis)
PROLANIS dilaksanakan setiap awal bulan dengan tema
berbeda di setiap minggunya. Pada hari Jumat tanggal 29
September 2017 tema PROLANIS yaitu hipertensi. Kegiatan yang
dilakukan meliputi registrasi lansia, pengecekan tekanan darah
lansia dan keluhan yang dimiliki lansia, edukasi seputar hipertensi
oleh tenaga kesehatan poli lansia serta tanya jawab/sharing
pengalaman lansia, senam bersama, sarapan bersama, dan
pembagian obat untuk lansia. Sedangkan, pada hari Jumat tanggal 6
Oktober 2017 tema PROLANIS yaitu diabetes melitus. Kegiatan
yang dilakukan hampir sama yaitu registrasi lansia, pengecekan
gula darah lansia dan keluhan yang dimiliki lansia, senam bersama,
sarapan bersama, edukasi seputar diabetes melitus oleh dokter poli
umum serta tanya jawab/sharing pengalaman lansia, dan
pembagian obat untuk lansia.
18) Kesehatan Jiwa

24
19) Kesehatan Indra

E. Sarana dan Prasarana Puskesmas


1) Sarana Kesehatan Lingkungan
a. Air Bersih
b. Jamban / Toilet
c. Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL)
2) Sarana Transportasi
a. Ambulan 1 buah
b. Mobil Puskesmas keliling 1 buah
c. Kendaraan roda 2 atau sepeda motor 3 buah
d. Kendaraan roda 4 atau mobil 1 buah
3) Sarana Pelayanan Kesehatan Tambahan
a. Puskesmas Pembantu sebanyak 2 buah (Pustu Pageng dan Pustu
Ngrembang) dengan pelayanan Poli Umum dan Poli KIA-KB.
b. Praktek Dokter sebanyak 4 buah
c. Praktek Dokter Gigi sebanyak 1 buah
d. Praktek Bidan sebanyak 7 buah
4) Rumah Dinas
a. Rumah Dinas Medis 1, Desa Kauman
b. Paramedis 3, Kwangen, Pustu, Pustu
5) Sarana Pelayanan Dalam Gedung
a. Poli Umum
b. Poli Gigi
c. Poli KIA-KB
d. Poli Gizi/Laktasi
e. Poli P2/VCT
f. Poli Lansia
g. Klinik Sanitasi
h. Kamar Obat
i. Imunisasi

25
j. Persalinan
k. UGD 24 jam
l. Rawat Inap
m. Laboratorium
n. Poli MTBS
6) Sarana Administratif
a. Ruang Kepala Puskesmas
b. Ruang Tata Usaha
c. Ruang Administrasi
d. Gudang
e. Ruang Sekretariat
f. Loket
7) Sarana Tambahan
a. Musholla
b. Ruang tunggu
8) Sarana Peran Serta Masyarakat
a. Posyandu : 50 buah
i. Kader Posyandu : 199 orang
ii. Kader Terlatih : 149 orang
b. Poskesdes : 7 buah
i. Tenaga Kesehatan Bidan : 7 orang
ii. Tenaga Kesehatan Perawat : 1 orang
c. Poskestren : 2 buah
i. Jumlah Kader : 30 orang
d. Polindes : 6 buah
e. Desa Siaga : 11 buah
f. TTU/TPM : 149 buah
i. Tempat-Tempat Umum (TTU) : 72 buah
ii. Tempat Pengolahan Makanan (TPM) : 77 buah
F. Sumber Daya Manusia dan Tupoksi
Data Ketenagaan di Puskesmas Pulorejo tahun 2017 yaitu:

26
Tabel 3. Data Ketenagakerjaan Puskesmas Pulorejo

Tenaga Non
Tenaga PNS TOTAL
PNS
No Ketenagaan
Jml Jml Jml
L P L P L P
h h h
1 MEDIS 0 3 3 0 0 0 0 3 3
a. Dokter
0 2 2 0 0 0 0 2 2
Umum
b. Dokter Gigi 0 1 1 0 0 0 0 1 1
c. Dokter
0 0 0 0 0 0 0 0 0
Spesialis
2 PERAWAT 4 3 7 5 5 10 7 10 17
a. Perawat 4 3 7 5 5 10 7 10 17
b. Perawat Gigi 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 BIDAN 0 9 9 0 5 5 0 14 14
a. Bidan Di
0 5 5 0 2 2 0 7 7
Puskesmas
b. Bidan Di
0 4 4 0 3 3 0 7 7
Desa
4 FARMASI 0 1 1 0 1 1 0 2 2
a. Asisten
0 1 1 0 1 1 0 2 2
Apoteker
b. Apoteker 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 KESEHATAN
0 0 0 0 0 0 0 0 0
MASYARAKAT
a. S1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
b. S2 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 SANITARIAN 1 0 1 0 0 0 1 0 1
7 GIZI 0 1 1 0 0 0 0 1 1
8 TEKNISI MEDIS 0 1 1 0 0 0 0 1 1
a. Analis 0 1 1 0 0 0 0 1 1

27
Kesehatan
b. Radiografer 0 0 0 0 0 0 0 0 0
c. Teknisi
0 0 0 0 0 0 0 0 0
Elektronika
d. Teknisi Gigi 0 0 0 0 0 0 0 0 0
9 KETERAPIAN
0 0 0 0 0 0 0 0 0
FISIK
a. Fisioterapi 0 0 0 0 0 0 0 0 0
b. Akupunturis 0 0 0 0 0 0 0 0 0
c. Terapi
0 0 0 0 0 0 0 0 0
Okupasi
10 NON
2 2 4 2 3 5 4 5 9
KESEHATAN
a. SD 0 0 0 0 1 1 0 1 1
b. SMP 1 1 2 1 0 1 2 1 3
c. SMA 2 0 2 0 1 1 2 1 3
d. D1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
e. D3 0 0 0 0 0 0 0 0 0
f. S1/DIV 0 0 0 0 2 2 0 2 2
Jumlah 7 19 26 5 14 19 12 33 45

Tugas Pokok dan Fungsi:


a. Dokter Umum
1) Melaksanakan dan memberikan upaya pengobatan dasar
dengan penuh tanggungjawab sesuai keahlian dan
kewenanganya serta sesuai standar profesi dan peraturan
perundangan yang berlaku
2) Melaksanakan dan meningkatkan mutu pengobatan dasar
di Puskesmas
3) Melaksanakan pelayanan medik/asuhan kedokteran sesuai
SOP, Standar Pelayanan Minimal (SPM), Standar

28
Pelayanan Publik tata kerja dan kebijakan yang telah
ditetapkan oleh Kepala Puskesmas.
4) Memberikan penyuluhan kesehatan dengan pendekatan
promotif dan edukatif.
5) Melakukan pencatatan pada rekam medik dengan baik,
lengkap serta dapat dipertanggungjawabkan termasuk
memberi kode diagnosa penyakit menurut ICDX
6) Melakukan pencatatan dan menyususn pelaporan serta
visualisasi dan kegiatan pengobatan dasar sebagai bahan
informasi dan pertanggungjawaban kepada Kepala
Puskesmas.
7) Mengidentifikasi, merencanakan, memecahkan masalah
dan melakukan evaluasi kinerja program pengobatan
dasar.
b. Dokter Gigi
1) Menyusun rencana kerja dan kebijakan teknis pelayanan kesehatan
gigi
2) Menetukan pola pelayanan dan tatakerja
3) Memimpin pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan gigi
4) Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan evaluasi kegiatan
pelayanan kesehatan gigi.
5) Merencanakan, melaksanakan dan mengawasai kegiatan mutu
pelayanan kesehatan gigi
6) Melaksanakan dan memberikan upaya pelayanan medik dengan
penuh tanggungjawab sesuai keahlian dan kewenanganya serta
sesuai standar profesi dan peraturan perundangan yang berlaku.
7) .Memberikan penyuluhan kesehatan dengan pendekatan promotif
dan preventif
8) Melakukan pencatatan pada rekam medik dengan baik, lengkap
serta dapat dipertanggungjawabkan termasuk memberi kode
diagnosa menurut ICDX.

29
c. Perawat

1) Melaksanakan dan memberikan upaya pengobatan dasar


dengan penuh tanggungjawab sesuai keahlian dan
kewenanganya serta sesuai standar profesi dan peraturan
perundangan yang berlaku
2) Melaksanakan dan meningkatkan mutu pengobatan dasar
di Puskesmas
3) Melaksanakan pelayanan medik/asuhan kedokteran sesuai
SOP, Standar Pelayanan Minimal (SPM), Standar
Pelayanan Publik tata kerja dan kebijakan yang telah
ditetapkan oleh Kepala Puskesmas.
4) Memberikan penyuluhan kesehatan dengan pendekatan
promotif dan edukatif.
5) Melakukan pencatatan pada rekam medik dengan baik,
lengkap serta dapat dipertanggungjawabkan termasuk
memberi kode diagnosa penyakit menurut ICDX
6) Melakukan pencatatan dan menyususn pelaporan serta
visualisasi dan kegiatan pengobatan dasar sebagai bahan
informasi dan pertanggungjawaban kepada Kepala
Puskesmas.
7) Mengidentifikasi, merencanakan, memecahkan masalah
dan melakukan evaluasi kinerja program pengobatan
dasar.
8) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala
Puskesmas.
d. Bidan
1) Menyusun rencana kerja pelayanan KIA-KB berdasarkan
data program
2) Melaksanakan ANC (Antenatal Care), INC (Intra Natal
Care), PNC (Post Natal Care), perawatan neonatus,
pelayanan KB, penyuluhan KIA-KB dan koordinasi lintas
program sesuai dengan prosedur/SOP.

30
3) Melaksanakan Asuhan Kebidanan
4) Melaksanakan pelayanan kebidanan.
5) Melakukan pencatatan dan pelaporan pada rekam medik
dengan baik, lengkap serta dapat dipertanggungjawabkan
termasuk memberi kode diagnosa menurut ICDX
6) Melaakukan pencatatan dan pelaporan serta visualisasi
data kegiatan KIA-KB sebagai bahan informasi dan
pertanggungjawaban kepada Kepala Puskesmas
7) Melasksanakan evaluasi kegiatan kebidanan dan
melaporkan pelaksanaan kegiatan kebidanan secara
berkala kepada penanggung jawab
8) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala
Puskesmas
e. Asisten Apoteker
1) Beserta Kepala Puskesmas menyusun perencanaan upaya
pengelolaan dan pelayananan kefarmasian
2) Menyususn rencana kegiatan pelayanan obat di kamar
obat berdasarakan data pogram Pelayanan Kesehatan
Dasar Puskesmas
3) Melaksanakan upaya pelayanan kefarmasian dengan
penuh tanggung jawab sesuai keahlian dan kewenanganya.
4) Melaksnakan upaya pelayanan kefarmasian sesuai SOP,
SPM, tata kerja dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh
Apoteker dan Kepala Puskesmas
5) Menyerahkan obat sesuai resep ke pasien
6) Memberikan informasi tentang pemakaian penyimpanan
obat kepada pasien
7) Menyimpan, memelihara dan mencatat mutasi obat dan
perbekalan kesehatan yang dikeluarkan maupun yang
diterima oleh kamar obat dalam bentuk buku catatan
mutasi obat

31
8) Melaksanakan pengelolaan obat termasuk pencatatan dan
pelaporan secara baik, lengkap serta dapat
dipertanggungjawabkan.
9) Membuat pencatatan dan pelaporan pemakaian dan
permintaan obat serta perbekalan kesehatan sebagai bahan
informasi dan pertanggungjawaban kepada Kepala
Puskesmas, pencatatan dan pelaporan penggunaan obat
secara rasional serta penggunaan obat generik
10) Melakukan evaluasi hasil kegiatan pelayanan obat di
kamar obat
11) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala
Puskesmas
f. Sanitarian
1) Di Dalam Gedung
a) Menyusun rencana kegiatan Kesehatan
Lingkungan berdasarkan data program Puskesmas
b) Melakukan kegiatan pembinaan lingkungan yang
meliputi pengawasan dan pembinaan SAB,
pengawasan TTU (Tempat Tempat Umum)/ TPM
(Tempat Pengolahan Makanan) Pestisida,
pelayanan klinik sanitasi, penyuluhan kesehatan
lingkungan dan koordinasi lintas program terkait
sesuai dengan prosedur/ SOP
c) Membuat pencatatan dan pelaporan serta
visualialisasi data kegiatan kesehatan lingkungan
sebagai bahan informasi dan pertanggungjawaban
kepada Kepala Puskesmas
d) Melakukan evaluasi hasil kegiatan kesehatan
lingkungan secara keseluruhan
e) Melaksanakan tugas lain yang diberikan olaeh
Kepala Puskesmas’

32
f) Menerima kartu rujukan status dari petugas
poliklinik
g) Mempelajari kartu status/rujukan tentang diagnosis
oleh petugas poliklinik
h) Menyalin dan mencatat nama penderita atau
keluarganya, karakteristik penderita yang melipui
umur, jenis kelamin, pekerjaan dan alamat, serta
diagnosis penyakit ke dalam buku register
i) Melakukan wawancara atau konseling dengan
penderita/keluarga penderita, tentang kejadian
penyakit , keadaan lingkungan, dan perilaku yang
diduga berkaitan dengan kejadian penyakit.
j) Membantu menyimpulkan permasalahan
lingkungan atau perilaku yang berkaitan dengan
kejadian penyakit yang diderita.
k) Memberikan saran tindak lanjut sesuai
permasalahan
l) Bila diperlukan, membuat jadwal kunjungan
lapangan.
2) Luar Gedung
a) Mempelajari hasil wawancara atau konseling di
dalam gedung (Puskesmas)
b) Menyiapkan dan membawa berbagai peralatan dan
kelengkapan lapangan yang diperlukan seperti
formulir kunjungan lapangan, media penyuluhan,
dan alat sesuai dengan penyakitnya
c) Memberitahu atau menginformasikan kedatangan
kepada perangkat desa/kelurahan (Kepala
Desa/Lurah, sekretaris, kepala Dusun atau RT
/RW) dan petugas kesehatan/ bidan di desa

33
d) Melakukan pemeriksaan/pengamatan lingkungan,
pengamatan perilaku, serta konseling sesuai
dengan penyakit/masalah yang ada.
e) Membantu menyimpulkan hasil kunjungan
lapangan
f) Memberikan saran tindak lanjut kepada sasaran
(keluarga penderita dan keluarga sekitar)
g) Apabila permasalahan yang ditemukan
menyangkut sekelompok keluarga atau kampung,
informasikan hasilnya kepada petugas kesehatan di
desa/kelurahan (kepala desa/lurah, sekretaris,
kepala dusun atau ketua RT/RW), kader kesehatan
lingkungan serta sektor terkait di tingkat
Kecamatan untuk dapat ditindaklanjuti secara
bersama
g. Gizi
1) Menyusun rencana kegiatan peningkatan gizi masyarakat
berdasarkan data program puskesmas
2) Melaksanakan pembinaan Posyandu, PSG (Pemantauan
Status Gizi), Pemantauan Kosumsi Gizi (PKG),
pemantauan penggunaan garam beryodium, ASI ekslusif,
pemberian kapsul vit A, pemberian tablet Fe, penyuluhan
gizi dan koordinasi lintas program sesuai dengan prosedur/
SOP
3) Membuat pencatatan dan pelaporan kegiatan serta
visualisasi data sebagai bahan informasi dan
pertanggungjawaban kepada Kepala Puskesmas
4) Melakukan evaluasi hasil kinerja kegiatan surveilan.
5) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala
Puskesmas

34
h. Analis Kesehatan
1) Melaksanakan pelayanan laboratorium sesuai SOP, SPM,
tata kerja dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Kepala
Puskesmas
2) Meningkatkan mutu pelayananan di Puskesmasdengan
melaksanakan upaya pelayanan Laboratorium dengan
penuh tanggung jawab sesuai keahlian/standar profesi
kewenanganya.
3) Membuat pencatatan dan pelaporan serta visualisasi data
yang perlu secara baik, lengkap serta dapat
dipertanggungjawabkan sebagai bahan informasi dan
pertanggungjawaban kepda Kepala Puskesmas
4) Melakukan evaluasi hasil kinerja kegiatan beserta Kepala
Puskesmas menyusun perencanaan upaya pelayanan
laboratorium
5) Melaksanakan upaya kesehatan dan keselamatan kerja (K3
Laboratorium)
6) Menyiapkan bahan rujukan spesimen
7) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala
Puskesmas

4.2. IDENTIFIKASI MASALAH (ANALISIS SITUASI)


A. Kondisi Geografis dan Demografis
a) Kondisi Geografis
Puskesmas Pulorejo terletak di Jalan Klotok No. 35, Desa Pulorejo,
Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Area kerja Puskesmas Pulorejo
meliputi Kecamatan Pulorejo yang memiliki luas area kerja 31,52 km 2
serta meliputi 7 Desa (Desa Genukwatu, Desa Badang, Desa Pulorejo,
Desa Jombok, Desa Banyuarang, Desa Sidowarek, dan Desa Rejoagung)
dan 49 Dusun. Batas-batas Puskesmas Pulorejo secara administratif
adalah sebagai berikut:

Utara : Kecamatan Diwek


35
Timur : Wilayah kerja Puskesmas Kesamben Ngoro

Selatan : Kecamatan Badas Kediri

Barat : Wilayah kerja Puskesmas Blimbing Gudo

Gambar 2. Batas Administratif Puskesmas


b) Kondisi Demografis
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Pulorejo pada tahun 2017
adalah 42.203 jiwa. Mayoritas penduduk di wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo beragama Islam.

B. Kondisi Sosial Ekonomi Penduduk Wilayah


Sarana pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Pulorejo meliputi:
a. TK negeri dan swasta : 15 buah
b. SD negeri dan swasta : 21 buah
c. SMP negeri dan swasta : 6 buah

36
d. SMA negeri dan swasta : 1 buah
e. SMK negeri dan swasta : 4 buah
f. RA negeri dan swasta : 11 buah
g. MI negeri dan swasta : 11 buah
h. MTs negeri dan swasta : 5 buah
i. MA negeri dan swasta : 5 buah

Sarana ibadah di wilayah kerja Puskesmas Pulorejo meliputi masjid,


musholla, gereja protestan, dan pura. Sedangkan, mata pencaharian masyarakat di
wilayah kerja Puskesmas Pulorejo sebagian besar yaitu petani, pegawai swasta,
dan wiraswasta.

C. Kondisi Pola Konsumsi


Menurut jenis penggunaan tanah, sebagian besar digunakan untuk
sawah sehingga seharusnya akses masyarakat terhadap pangan lebih mudah. Pada
tahun 2014, produksi padi sawah dan ladang mencapai 20.898,4 ton; jagung
10.541,4 ton; ubi kayu 2.498 ton; dan tebu sebanyak 5.222,831 ton. Populasi sapi
potong yaitu2.192 ekor; kambing/domba yaitu 1.646 ekor; ayam sebanyak 41.023
ekor; entok sebanyak 496 ekor;dan itik sebanyak 1.275 ekor. Hasil perikanan
berupa gurame sebanyak 0,75 ton; lele sebanyak 724,5 ton;dan bawal sebanyak
986 ton. Selain produksi, fasilitas penyedia pangan lain yaitu 1 buah pasar hewan
di Desa Sidowarekdan pracangan atau toko sebanyak 428 buah yang tersebar di 7
desa. Selain itu, terdapat restoran/rumah makan/depot/warung makan yang juga
tersebar di 7 desa sebanyak 299 buah. Dengan jumlah produksi yang ada dan
akses menuju fasilitas yang tersedia dengan baik, masyarakat wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo seharusnya sudah dapat mencukupi pangan yang beragam.
Namun, gambaran pola konsumsi masyarakat belum diketahui oleh karena hasil
survei pola konsumsi yang dilakukan oleh pemerintah provinsi tidak diserahkan
kepada pihak puskesmas.

D. Program Puskesmas yang Sudah Berjalan dan Pencapaiannya


- Penanggulangan Gizi Makro
o Penyuluhan Gizi Masyarakat

37
Penyuluhan gizi masyarakat adalah kegiatan yang dilakukan
dengan cara menyebarluaskan pesan yang menanamkan keyakinan
sehingga masyarakat sadar, mengerti, dan mau melakukan suatu anjuran
untuk kesehatan.
Materi penyuluhan gizi masyarakat sangat beragam, terdiri dari
materi kesehatan ibu dan anak, gizi, tumbuh kembang anak, kesehatan
remaja, kesehatan lansia, PHBS, HIV/AIDS serta P3 NAPZA. Sasaran
kegiatan ini adalah individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Pada
sasaran keluarga diutamakan pada keluarga dengan risiko tinggi seperti
keluarga yang menderita penyakit menular, keluarga dengann status gizi
buruk, keluarga dengan sanitasi lingkungan yang buruk, dan
sebagainya. Pada sasaran kelompok, penyuluhan dilakukan pada
kelompok ibu hamil, kelompok ibu yang memiliki anak balita,
kelompok lansia, kelompok yang ada di institusi pelayanan kesehatan
seperti anak sekolah, pekerja dalam perusahaan, dan sebagainya.
Penyuluhan pada sasaran kelompok biasanya disampaikan pada saat
posyandu, sekolah, pertemuan PKK, dan lintas sektor lainnya.
Pada saat kegiatan magang, mahasiswa mengikuti kelas ibu hamil
yang dilaksanakan di Puskesmas Pembantu Pageng, Desa Jombok.
Sebelum dan setelah penyuluhan, ibu hamil diberikan kuesioner
evaluasi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan ibu hamil sebelum
dan sesudah diberi penyuluhan. Media penyuluhan yang digunakan
yaitu flipchart kelas ibu hamil dari Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Jumlah peserta kelas ibu hamil hanya sedikit. Hal ini
disebabkan ada beberapa ibu hamil yang malas datang karena bertempat
tinggal jauh dari lokasi kegiatan. Sehingga, untuk pelaksanaan
selanjutnya, dapat dilakukan rotasi lokasi kegiatan guna memudahkan
seluruh ibu hamil.
Selain mengikuti kelas ibu hamil, mahasiswa mengikuti pertemuan
PKK yang dilaksanakan di Balai Desa Jombok. Pada pertemuan ini
mahasiswa memberikan penyuluhan tentang pemberian makanan

38
pendamping ASI pada bayi dengan media makanan yang telah dibuat
mahasiswa.
Di Puskesmas Pulorejo, penyuluhan gizi di masyarakat dilakukan
oleh petugas gizi dan petugas promosi kesehatan. Penyuluhan gizi di
masyarakat ini minimal dilakukan 1 tahun 1 kali. Sasaran penyuluhan
meliputi kader posyandu, ibu PKK, anak sekolah, ibu hamil, posyandu
lansia, dan lain-lain; mengikuti program yang ada. Selama kegiatan
magang berjalan, petugas gizi puskesmas juga mendapatkan tugas
untuk mengisi penyuluhan mengenai keamanan pangan di kantor
kecamatan.
Evaluasi kegiatan penyuluhan gizi masyarakat yang dilakukan oleh
puskemas dapat meliputi evaluasi langsung dan tidak langsung.
Evaluasi langsung diukur melalui banyaknya jumlah peserta
penyuluhan, perhatian dan peningkatan pengetahuan peserta
penyuluhan. Sedangkan evaluasi tidak langsung dapat diukur melalui
data sekunder setelah penyuluhan dilakukan, misalkan peningkatan
berat badan balita yang ditimbang di posyandu, peningkatan rata-rata
status gizi anak sekolah, dan lain-lain.

o Pemantauan Pertumbuhan Balita


Pemantauan pertumbuhan anak balita berguna untuk mengetahui
apakah balita tumbuh dengan baik. Pemantauan balita yang dilakukan
secara rutin dapat mengetahui sedini mungkin adanya masalah gizi
seperti tidak naiknya berat badan. Berat badan dapat menjadi indikator
untuk memantau pertumbuhan anak balita. Apabila anak balita
mengalami penurunan berat badan atau kenaikan berat badannya tidak
sesuai dengan yang seharusnya maka mengindikasikan terganggunya
pertumbuhan anak balita dan anak akan berisiko mengalami kekurangan
gizi. Namun apabila terjadi kenaikan berat badan lebih dari yang
seharusnya dapat mengindikasikan balita tersebut berisiko mengalami
kelebihan gizi (Permenkes No 155 Tahun 2010).

39
Pemantauan pertumbuhan anak dapat dicatat menggunakan Kartu
Menuju Sehat (KMS). Dalam kartu tersebut memuat kurva
pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan
menurut umur. Sehingga apabila terdapat gangguan pertumbuhan atau
terjadi risiko kelebihan gizi dapat dilakukan tindakan untuk
menanggulangi masalah gizi sedini mungkin. KMS merupakan laporan
pertumbuhan anak untuk lingkungan pribadi, sedangkan laporan
lingkungan desa dikenal dengan SKDN.
S : Jumlah balita yang ada di wilayah posyandu
K : Jumlah balita yang memiliki KMS
D : Jumlah balita yang ditimbang
N : Jumlah balita yang mengalami kenaikan berat badan
T : Jumlah balita yang tidak mengalami kenaikan berat badan
Hasil pemantauan pertumbuhan balita dalam SKDN Puskesmas
Pulorejo tahun 2017 ditampilkan dalam tabel 4.

Tabel 4. Data SKDN Puskesmas Pulorejo Tahun 2017


Data SKDNT
No Desa
S K D N T
1 Genukwatu 620 556 544 455 80
2 Badang 505 467 464 452 5
3 Pulorejo 427 435 335 249 75
4 Jombok 348 345 300 153 140
5 Banyuarang 441 433 341 170 164
6 Sidowarek 534 480 454 322 124
7 Rejoagung 668 678 535 353 172
Sumber: Data Puskesmas Pulorejo 2017

Pemantauan pertumbuhan merupakan serangkaian kegiatan yang


terdiri dari penilaian pertumbuhan balita yang dilakukan menggunakan
pengukuran antropometri oleh tenaga terlatih secara teratur melalui
penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan setiap bulan
yang dilakukan di posyandu setiap dusun atau desa, pengisian KMS,

40
menentukan status pertumbuhan berdasarkan hasil penimbangan berat
badan, kemudian menindaklanjuti setiap kasus gangguan
pertumbuhan.Tindak lanjut dapat berupa kegiatan konseling, pemberian
makanan tambahan (PMT), pemberian suplemen gizi, dan rujukan.
Selama kegiatan magang gizi masyarakat, mahasiswa mengikuti
kegiatan pemantauan gizi balita melalui posyandu yang diadakan pada
minggu pertama dan kedua setiap bulannya. Mahasiswa ikut ambil
bagian dalam penimbangan berat badan balita, pengukuran tinggi badan
balita, pencatatan, serta konseling gizi kepada ibu dari balita yang
bersangkutan.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di lapangan, yakni
kunjungan mahasiswa ke 1 posyandu yang mewakili masing-masing
desa; meja konseling kurang berjalan karena kader kurang percaya diri
menyampaikan ilmu yang sudah diberikan dalam pelatihan kader.
Selain itu, tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah akan gizi dan
kesehatan juga menjadi salah satu penyebab ibu balita tidak menjadikan
penurunan status gizi atau berat badan sebagai masalah kesehatan
balitanya.
Evaluasi dari pemantauan pertumbuhan balita dilakukan oleh
Puskesmas Pulorejo dengan cara pengumpulan data posyandu, baik
jumlah balita yang hadir ataupun kader yang hadir. Data ini
dikumpulkan oleh bidan desa dan kemudian dianalisis oleh petugas gizi
Puskesmas Pulorejo. Evaluasi pemantauan pertumbuhan balita per
nama balita dilakukan saat operasi timbang, yaitu bulan Februari dan
Agustus. Dari data operasi timbang ini, didapatkan nama-nama balita
yang bermasalah beserta alamatnya tempat tinggalnya. Dari data inilah,
petugas gizi memberikan intervensi, baik berupa pemberian makanan
tambahan ataupun edukasi.

o Pemetaan Kadarzi
Permasalahan gizi di Indonesia yang utama adalah kurang energi
dan protein, gangguan akibat kekurangan yodium, kurang vitamin A,

41
dan anemia gizi besi. Banyak faktor yang berperan dalam terjadinya
masalah gizi tersebut diantaranya karena asupan makanan yang tidak
adekuat, penyakit infeksi, serta keluarga dan lingkungan. Keluarga
dianggap sebagai strategi yang ampuh untuk mengatasi masalah gizi
karena keluarga dapat mempengaruhi anggota keluarga lain, termasuk
dalam hal kesehatan. Oleh karena itu pemerintah berupaya agar seluruh
keluarga menjadi keluarga sadar gizi (Kadarzi). Keluarga disebut
kadarzi apabila telah melakukan perilaku gizi baik yaitu
a. Memantau berat badan secara teratur.
b. Mengkonsumsi makanan beraneka ragam.
c. Mengkonsumsi garam beryodium
d. Memberikan ASI eksklusif pada bayinya usia 0-6 bulan.
e. Memberikan suplementasi gizi untuk anggota keluarga.

Tabel 5.Cakupan Kadarzi Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

Cakupan Kadarzi Tribulan II


Desa Realisasi
Cakupan Sasaran
Cakupan
Genukwatu 42 42 100%
Badang 0 0 0
Pulorejo 22 22 100%
Jombok 22 22 100%
Banyuarang 22 22 100%
Sidowarek 0 0 0
Rejoagung 0 0 0
Sumber: Data Puskesmas Pulorejo 2017

Target kadarzi untuk wilayah kerja Puskesmas Pulorejo adalah


lebih dari 60%. Cakupan Kadarzi pada tahun 2017 wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo ditunjukkan dalam Tabel 4. Empat dari tujuh desa
telah mencapai 100% yaitu Desa Genukwatu, Desa Pulorejo, Desa
Jombok, dan Desa Banyuarang. Sementara untuk desa yang belum

42
dilakukan survei kadarzi yaitu Desa Badang, Sidowarek, dan
Rejoagung.
Pada saat kegiatan magang, mahasiswa diberikan kesempatan
untuk melakukan survei kadarzi pada dua desa yang belum dilakukan
survei kadarzi pada tahun ini yaitu Desa Sidowarek dan Rejoagung.
Dengan bantuan dari bidan desa, para ibu balita diinformasikan untuk
membawa sampel garam yang dipakai sehari-hari pada saat kegiatan
posyandu. Mahasiswa kemudian melakukan pengecekan sampel garam
tersebut apakah mengandung yodium atau tidak. Sebagian besar sampel
yang dibawa oleh ibu balita mengandung yodium, namun ternyata juga
masih terdapat garam yang kurang atau tidak mengandung yodium.
Setelah dicek kandungan yodiumnya, ibu balita diwawancara secara
singkat untuk mengisi angket survei kadarzi. Hal yang dilakukan
mahasiswa setelah mendapatkan hasil angket adalah memberi sedikit
konseling kepada ibu balita contohnya tentang pentingnya konsumsi
makanan beragam dan garam beryodium bagi kesehatan hingga cara
menyimpan garam yang tepat.
Pada saat melaksanakan survei ini, beberapa ibu balita masih ada
yang tidak membawa garam sehingga tidak bisa dilakukan pengecekan
garam namun mereka mengingat merek garamnya sehingga diambilkan
sampel dari ibu balita lain yang membawa garam dengan merek serupa
sehingga tetap bisa dilakukan survei kadarzi. Beberapa ibu balita yang
hadir juga ada yang terburu-buru ingin pulang karena berbagai alasan
diantaranya balita rewel dan harus menjemput anak sekolah sehingga
konseling yang diberikan tidak maksimal. Selain itu, ketika dilakukan
konseling, ibu balita kurang aktif bertanya setelah dilakukan penjelasan.
Hasil yang didapatkan pada saat survei yaitu dari 27 rumah tangga
di Desa Sidowarek, seluruh rumah tangga sudah kadarzi (100%).
Sedangkan, dari 51 rumah tangga di Desa Rejoagung hanya 48 rumah
tangga yang sudah kadarzi (94%).
Dari hasil pemantauan kadarzi ini, pihak Puskesmas Pulorejo
memberikan intervensi berupa peningkatan edukasi mengenai garam

43
beryodium, konsumsi makanan beragam, ASI-eksklusif, dan lain-lain
kepada daerah prioritas seturut masalah yang didapati.

o Pemantauan BBLR
Berat badan lahir bayi adalah berat badan bayi yang ditimbang
dalam jangka waktu satu jam pertama setelah lahir. Berat badan lahir
bayi dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu kurang dari 2500 gram,
2500-3999 gram, dan lebih dari atau sama dengan 4000 gram
(Riskesdas, 2013). Sedangkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR)
adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran
mencapai kurang dari 2500 gram.

Tabel 6.Jumlah BBLR di Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

Jumlah Bayi BBLR


Nama Desa
Lahir Banyaknya Persentase

Genukwatu 116 3 2.6%

Badang 94 1 1.1%

Pulorejo 85 1 1.2%

Jombok 86 2 2.3%

Banyuarang 113 0 -

Sidowarek 116 0 -

Rejoagung 152 7 4.6%

Sumber: Data Puskesmas Pulorejo 2017

Pada tahun 2017 kasus BBLR mencapai 14 kasus dari total 762
kelahiran yang tersebar dalam lima desa di wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo. Sehingga persentase kejadian BBLR di wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo adalah sebesar 1,8%. Pemantauan BBLR ini
dilakukan oleh bidan desa setempat.

44
Evaluasi yang dilakukan petugas adalah melihat rasio kelahiran
bayi BBLR dan semua. Ketika banyak kasus BBLR, maka dibutuhan
edukasi mengenai gizi kehamilan dan pemberian makan bayi dan anak
secara lebih intensif kepada ibu dari bayi yang bersangkutan. Selain itu,
peningkatan akses pangan juga diperlukan. Untuk itu, puskemas
bekerjasama dengan pihak desa dan kecamatan melalui pemberdayaan
masyarakat.

o Pemantauan KEK Ibu Hamil


Pemantauan KEK dilakukan dengan pengukuran lingkar lengan
atas (LILA) ibu hamil pada kunjungan ANC. Ibu hamil yang
mengalami KEK, diberikan edukasi melalui konseling untuk
meningkatkan status gizinya dengan meningkatkan asupannya.
Berdasarkan data. ibu hamil yang mengalami Kurang Energi
Kronik (KEK) mencapai 88 orang dengan total ibu hamil sebanyak 410.
Sehingga persentase ibu hamil yang mengalami KEK mencapai 21,5%
dari total ibu hamil pada wilayah kerja Puskesmas Pulorejo. Dari 88 ibu
hamil yang mengalami KEK, baru 49 ibu hamil yang dapat ditangani
pada tribulan III. Artinya baru 55.7% yang ditangani dan 44.3% yang
belum ditangani. Berdasarkan hasil tersebut, maka diperlukan
penanganan ibu hamil KEK lebih lanjut untuk tribulan IV sehingga
target dapat dipenuhi.
Pencapaian dengan target lebih dari 60% ibu hamil KEK yang
ditangani per desa, hanya dua desa yang telah mencapai target, yaitu
Desa Rejoagung (62.96%) dan Desa Banyuarang (71.43%) seperti yang
ditunjukkan pada grafik 1. Sedangkan Desa Sidowarek menunjukkan
tidak ada ibu hamil KEK yang ditangani, karena pada desa tersebut
tidak terdapat ibu hamil dengan kondisi KEK.

45
Grafik 1. Cakupan Penanganan Ibu Hamil KEK Tahun 2017

Tribulan I Tribulan 2 Tribulan 3

71.43
60 60 62.96
50 52.38
43.48
42.86
31.58 25 25 28.57

0 0 0 0 0 000 0

Sumber: Data Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

o Pemantauan Status Gizi Anak Sekolah


Pemantauan status gizi merupakan bagian dari penjaringan
kesehatan (program bidang UKS). Pemantauan status gizi dilakukan
pada seluruh siswa SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/SMK/MA dengan
pengukuran antropometri. Dari hasil pemantauan status gizi tahun
ajaran 2016/2017 didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 7. Hasil Pemantauan Status Gizi Tahun Ajaran 2016/2017


Status Gizi
Tingkat
No Sangat Total
Sekolah Normal Kurus Gemuk Obesitas
Kurus
1. SD/MI 667 8 4 19 33 731
2. SMP/ 460 205 64 14 21 764
MTs
3. SMA/ 472 99 31 3 16 621
SMK/
MA
Total 1599 312 99 36 70 2116

46
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa masih ada 24% siswa
yang memiliki gangguan gizi baik kekurangan maupun kelebihan.
Sedangkan, hasil pemantauan status gizi di beberapa SD/MI pada tahun
ajaran 2017/2018 yaitu:

Tabel 8. Hasil Pemantauan Status Gizi di Beberapa SD/MI Tahun Ajaran


2017/2018
Status Gizi
No. Nama SD/MI Total
Kurus Normal Gemuk
1. SDN 64 8 1 73
Rejoagung I

2. SDN 89 14 5 108
Rejoagung II

3. SDN 84 22 4 110
Rejoagung III

4. SDN Pulorejo 152 27 6 185


IV

5. SDN 59 8 1 68
Sidowarek II

6. SDN 73 11 10 94
Sidowarek III

7. SDN Jombok 125 15 10 150


II

8. SDI 69 3 3 75
Trunojoyo

9. MI Al Ilahiyah 63 2 2 67

10. MI Hadisalam 134 66 41 241

11. MI Al Hikmah 152 15 4 171

47
Total 1064 191 87 1342

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa


SD/MI dari beberapa SD/MI memiliki status gizi kurus (79,3%). Secara
kasar, terdapat penurunan status gizi pada siswa SD/MI. Sehingga,
perlu adanya solusi contohnya berupa penyuluhan gizi seimbang di
sekolah untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan memperbaiki
status gizi siswa.

- Penanggulangan Gizi Mikro


o Penanggulangan Anemia
Upaya penanggulangan anemia ditujukan untuk sasaran kelompok
rawan anemia yaitu wanita usia subur (WUS) yang terdiri dari remaja
putri dan ibu hamil. Upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan
tablet tambah darah (TTD) pada kelompok sasaran tersebut.
Target pencapaian TTD untuk ibu hamil di wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo adalah 90%. Namun realisasi capaian masih sangat
rendah, yaitu rata-rata sebesar 25.28%. Hal ini masih jauh dari target
karena berbagai faktor, salah satunya adalah tidak tersedianya pasokan
TTD yang cukup di fasilitas kesehatan. Oleh sebab itu perlu dilakukan
upaya lebih guna mencapai target yang telah ditetapkan sehingga
masalah anemia dapat ditanggulangi. Sedangkan untuk remaja putri,
yang mendapatkan TTD sejumlah 106 remaja putri dari total 7656
remaja putri di wilayah kerja Puskesmas Pulorejo. Penyebaran jumlah
remaja putri yang mendapatkan tablet Fe terdapat pada tabel 6.
Pada saat kegiatan magang, mahasiswa mengikuti kegiatan
penjaringan kesehatan di SMP Negeri 2 Ngoro. Pada kegiatan ini
dilakukan pemeriksaan tanda klinis anemia pada siswa kelas 1. Setelah
dilakukan pemeriksaan, didapatkan hasil bahwa sebagian besar siswa
mengalami anemia. Oleh karena itu, siswa di setiap kelas juga diberikan
himbauan untuk membeli tablet Fe secara kolektif satu kelas untuk
mencegah keparahan anemia.

48
Tabel 9. Jumlah Remaja Putri yang Mendapat Tablet Fe Tahun 2017

Remaja Putri yang Mendapat Tablet Fe

Nama Desa Jumlah Remaja


Dapat Fe Persentase (%)
Putri

Genukwatu 1582 15 0.9

Badang 1274 16 1.3

Pulorejo 978 15 1.5

Jombok 712 15 2.1

Banyuarang 812 15 1.8

Sidowarek 1074 15 1.4

Rejoagung 1224 15 1.2

Sumber: Data Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

o Penanggulangan Kekurangan Vitamin A


Upaya penanggulangan kekurangan vitamin A ditujukan untuk
sasaran bayi, balita, dan ibu nifas. Target untuk pemberian vitamin A
secara keseluruhan pada tahun 2017 adalah sebesar 94% sedangkan
cakupan bayi yang diberikan tablet vitamin A mencapai 99.3%, cakupan
vitamin A balita mencapai 112%, dan cakupan vitamin A ibu nifas
mencapai 70%. Hal tersebut menunjukkan bahwa target untuk
pemberian vitamin A telah tercapai.

49
Grafik 2. Cakupan Vitamin A

700
623
600

487
500
435 417
400 368 374
340

300

200 183
145
98 85 90 102
100 83 76 77 82
63 69 61
44

0
Badang

Pulorejo

Sidowarek
Banyuarang

Rejoagung
Genukwatu

Jombok

Bayi
Balita
Ibu Nifas

Sumber: Data Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

- Upaya perbaikan Gizi Institusi


o Peningkatan ASI Eksklusif
Cakupan ASI Eksklusif 0 bulan (E0) sampai Eksklusif 5 bulan (E5)
pada wilayah kerja Puskesmas Pulorejo telah mencapai target yaitu
diatas 80%, dengan hasil capaian ASI E0-E5 rata-rata sebesar 99,1%.
Sebagian besar telah mencapai 100%, namun di Desa Pulorejo
dibandingkan desa lainnya lebih rendah pencapaiannya yaitu sebesar
88.46% pada tribulan I dan mencapai 94% pada tribulan III. Capaian
setiap desa di Puskesmas Pulorejo ditunjukkan Grafik 3.
Cakupan ASI Eksklusif 6 bulan (E6) di Puskesmas Pulorejo lebih
rendah dari E0-E5. Meskipun terbilang lebih rendah namun ASI E6
mencapai 90,8% dari total balita yang mendapat ASI E6. Sehingga
dapat dikatakan untuk pemberian ASI E6 termasuk tinggi. Dari 77
50
balita yang diperiksa, terdapat 71 balita yang sampai dengan ASI E6
dengan capaian ditunjukkan Grafik 4.

Grafik 3. Capaian ASI Eksklusif (E0-E5) Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

Sumber: Data Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

Grafik 4. Capaian ASI Eksklusif 6 Bulan (E6) Puskesmas Pulorejo Tahun


2017

120
100 100 100 100 100 100
80 78.6
60 57.1 ASI E6
40
20
0
k

ek

ng
o
u

ng

ng
bo
ej
at

ar

u
da

ra
w

ag
lo

w
ua
uk

Ba

Jo
Pu

jo
do
ny
en

Re
Si
Ba
G

Sumber: Data Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

Berbagai upaya yang telah dilakukan guna meningkatkan cakupan


ASI eksklusif diantaranya adalah

51
a. Sosialisasi ASI di desa-desa.
b. Didirikan pojok laktasi di Puskesmas Pulorejo meskipun
masih menjadi satu ruangan dengan Poli Gizi namun telah
diberi sekat pemisah antara pojok laktasi dan Poli Gizi.
c. Pelatihan kader motivator Kelompok Pendukung ASI (KP-
ASI).
d. Dibentuknya KP-ASI.

o Pengembangan Pojok Gizi


Berdasarkan alur kerjanya, poli gizi mendapatkan pasien yang
merupakan rujukan dari poli umum, poli KIA, dan poli lansia. Dimana
berdasarkan data registrasi pasien rawat jalan, rujukan pasien terbanyak
berasal dari poli KIA yaitu ibu yang mengikuti antenatal care terpadu
dan poli lansia dengan pasien usia > 55 tahun dengan keluhan berupa
hipertensi, hiperkolesterol, diabetes melitus, dan asam urat.

Di poli gizi, ahli gizi akan melakukan komunikasi dua arah


(konseling) untuk menggali sumber permasalahan pasien. Setelah
sumber permasalahan diketahui, ahli gizi akan memberikan saran untuk
mengurangi efek sumber masalah dan akan memberikan saran
mengenai diet yang harus dilakukan.

Dalam melakukan konseling, ahli gizi meggunakan media leaflet


dan food model. Namun, berdasarkan pemantauan kami, leaflet yang
digunakan hanya leaflet tentang penyakit degeneratif sedangkan leaflet
untuk ibu hamil, anemia, obesitas, ISPA, dan beberapa gangguan lain
tidak diperbanyak dan digunakan dalam melakukan konseling.
Walaupun pasien yang datang hanya bisa melalui rujukan poli lain,
sebenarnya banyak pasien yang memang sudah sadar akan penyakitnya
dan datang ke puskesmas dengan tujuan ke poli gizi namun karena alur
pelayanan tersebut, pasien harus mendatangi poli lain terlebih dahulu
baru kemudian dirujuk ke poli gizi.

52
- SKPG
o Pemantauan Status Gizi
Pementauan status gizi merupakan saranan untuk menemukan
suatu kasus terkait gizi, baik itu gizi buruk, gizi kurang, maupun gizi
lebih dengan melihat indikator status gizi BB/U, TB/U, dan BB/TB
(Kemenkes, 2015). Status gizi balita dinilai menurut 3 indeks, yaitu
berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U),
dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
 BB/U adalah berat badan yang dicapai anak balita pada umur
tertentu.
 TB/U adalah tinggi badan yang dicapai anak balita pada umur
tertentu.
 BB/TB adalah berat badan anak balita yang dicapai
dibandingkan dengan tinggi badan yang dicapai.

Ketiga indikator tersebut kemudian dibandingkan dengan standar


baku pertumbuhan World Health Organization (WHO). Pada standar
pertumbuhan, terdapat Z-score yang merupakan nilai simpangan BB
atau TB dari nilai BB atau TB normal menurut baku pertumbuhan
WHO. Kategori status gizi pada anak balita dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 10. Kategori Status Gizi Balita

Indikator Status Gizi Z-Score


BB/U Gizi Buruk <-3 SD
Gizi Kurang -3 SD s/d <-2 SD
Gizi Baik -2 SD s/d 2 SD
Gizi Lebih >2 SD
TB/U Sangat Pendek <-3 SD
Pendek -3 SD s/d <-2 SD
Normal ≥-2 SD
BB/TB Sangat Kurus <-3 SD
Kurus -3 SD s/d <-2 SD

53
Normal -2 SD s/d 2 SD
Gemuk >2 SD
Sumber: WHO 2005 dalam Kepmenkes RI Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010
tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak

Dilaporkan pada tahun 2017, sebanyak 1239 baduta (0-23 bulan)


dan 2972 balita (0-59 bulan) melakukan penimbangan berat badan.
Diantaranya terdapat kasus BGM sebanyak 2 baduta dan 6 balita.
Sedangkan kasus berat badan tidak naik secara berturut-turut sebanyak
130 balita dengan jumlah balita terbanyak pada Desa Jombok yaitu 42
balita.

Tabel 11. Sebaran Jumlah Balita Puskesmas Pulorejo


Bawah Garis
Ditimbang Berat Badan Merah (BGM)
Nama Desa Tidak Naik
0-23 0-59 0-23 0-59
Beuturut-turut
Bulan Bulan Bulan Bulan

Genukwatu 205 544 7 0 1

Badang 174 464 5 1 1

Pulorejo 135 335 16 0 0

Jombok 114 300 42 1 2

Banyuarang 150 341 20 0 1

Sidowarek 196 454 28 0 0

Rejoagung 264 535 11 0 1

Sumber: Data Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

Data BB/U diperoleh status gizi berat badan sangat kurang


sebanyak 6 balita (0.2%), berat badan kurang sebanyak 72 balita
(2.4%), berat badan normal sebanyak 2862 balita (96.3%), dan berat

54
badan lebih sebanyak 32 balita (1.1%). Hasil tersebut menunjukkan
bahwa sebagian besar balita pada wilayah kerja puskesmas Pulorejo
memiliki berat badan normal (96.3%). Sedangkan pada indikator status
gizi BB/TB diperoleh balita dengan status gizi kurus sebanyak 3 balita.

o Pemantauan Pola Konsumsi


Survei pola konsumsi atau pemantauan pola konsumsi pernah
dilakukan secara langsung oleh Dinas Kesehatan Jawa Timu, namun
Puskesmas Pulorejo tidak diberikan hasilnya sehingga Puskesmas
Pulorejo tidak memiliki data pola konsumsi penduduk wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo.

o Pemantauan Pertumbuhan (SKDN)


Pemantauan pertumbuhan balita di wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo dilaporkan dalam data SKDN. Dari seluruh balita di wilayah
kerja Puskesmas Pulorejo pada tahun 2017, sebagian besar telah
memiliki KMS. Namun dari balita yang telah memiliki KMS tidak
seluruhnya melakukan penimbangan, yaitu hanya sebesar 87,5%. Dari
seluruh balita yang melakukan penimbangan, masih terdapat balita yang
tidak mengalami kenaikan berat badan. Padahal kenaikan berat badan
adalah salah satu indikator bahwa balita mengalami pertumbuhan.
Sehingga apabila balita tidak bertambah berat badannya maka dapat
dikatakan terjadi gangguan pertumbuhan.

Tabel 12. Data SKDN Puskesmas Pulorejo Tahun 2017


Banyuarang
Nama Desa

Genukwatu

Rejoagung
Sidowarek
Pulorejo

Jombok
Badang

Total

S 620 505 427 348 441 534 668 3545


K 556 467 435 345 433 480 678 3394
D 544 464 335 300 341 454 535 2973
N 455 452 249 153 170 322 353 2154

55
T 80 5 75 140 165 124 172 761
K/S (%) 89.6 92.5 101.8 99.2 98.3 89.9 101.5 96.1
D/K (%) 97.8 99.3 77 86.8 78.7 94.6 78.8 87.5
N/D (%) 85 99 76.7 52.4 50.8 72.2 67.2 71.9
D/S (%) 87.7 91.9 78.4 86.1 77.3 85 80.1 83.8
N/S (%) 73.5 89.5 58.3 44.1 38.5 60.3 52.8 68.2
Sumber: data Puskesmas Pulorejo Tahun 2017

Menurut rencana strategis Rencana Pembangunan Jangka


Menengah Daerah (RPJMD) Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang,
target pencapaian indikator N/D pada tahun 2017 adalah sedikitnya
76%. Pada tahun 2017, pencapaian Puskesmas Pulorejo masih belum
sesuai target yaitu dengan rata-rata N/D sebesar 71,9%. Apabila
ditelusuri lebih dalam, terdapat tiga desa yang telah mencapai target dan
empat desa belum dapat mencapai target. Sehingga pencapaian N/D di
Puskesmas Pulorejo masih menjadi masalah yang perlu ditindaklanjuti.

o Pemantauan Gizi Buruk


Sebagai upaya untuk pencegahan gizi buruk, dilakukan berbagai
upaya yang dapat meminimalisir terjadinya gizi buruk. Salah satu upaya
tersebut yaitu dengan pemantauan pertumbuhan. Pemantauan
pertumbuhan biasanya menggunakan KMS sebagai medianya yang
dapat memudahkan petugas kesehatan atau orangtua dalam mengontrol
perkembangan balita dan memantau pertumbuhan secara optimal,
termasuk kemungkinan risiko mengalami status gizi buruk sedini
mungkin.
Pada wilayah kerja Puskesmas Pulorejo tidak terdapat kasus gizi
buruk pada tahun 2017. Sehingga dapat dinyatakan wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo bebas masalah gizi buruk. Meskipun pada wilayah
tersebut tidak ditemukan kasus gizi buruk jika perlu dilakukan skrining
untuk memastikan status gizi anak balita di wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo masih dalam kategori aman.

56
o Pemantauan Konsumsi Garam Beryodium
Pada tahun 2017, satu dari tujuh desa wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo belum dilakukan survei garam beryodium melalui survei
kadarzi yaitu Desa Badang. Selain Desa Badang, survei garam
beryodium dan menunjukkan hasil cukup konsumsi garam beryodium
sebesar 100%.
Pada saat kegiatan magang, mahasiswa diberikan kesempatan
untuk melakukan pemantauan garam beryodium pada desa yang belum
dilakukan survey garam beryodium pada tahun ini yaitu di desa
Sidowarek dan Rejoagung. Pemantauan konsumsi garam beryodium
dilakukan di salah satu posyandu di Desa Sidowarek dan Rejoagung.
Sebelum kegiatan posyandu, para ibu balita telah dihimbau oleh bidan
desa untuk membawa sampel garam yang dikonsumsi sehari-hari.
Mahasiswa kemudian mengecek sampel garam tersebut apakah
mengandung yodium atau tidak. Sebagian besar sampel yang dibawa
oleh ibu balita mengandung yodium, namun ternyata juga masih
terdapat garam yang kurang atau bahkan tidak mengandung yodium.
Hal yang dilakukan mahasiswa saat pengecekan garam setelah
mendapatkan hasil kadar yodium adalah memberi sedikit penyuluhan
kepada ibu balita tentang pentingnya garam beryodium bagi kesehatan
dan cara menyimpan garam yang tepat.
Survei garam beryodium juga dilakukan pada saat penjaringan
kesehatan di SD/MI dengan menghimbau siswa untuk membawa garam
yang kemudian akan dites menggunakan larutan iodine. Pada kegiatan
magang, mahasiswa berpartisipasi dalam melakukan pengecekan garam
beryodium menggunakan larutan iodine baik pada saat melakukan
survei kadarzi maupun penjaringan kesehatan.
EVALUASI?

o Pelatihan Kader
Pelatihan kader merupakan kegiatan untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan kader kesehatan. Pengetahuan dan

57
ketrampilan kader diperlukan agar mampu berperan serta dalam
pengembangan program kesehatan dan menyukseskannya. Dilaporkan
belum ada kegiatan untuk pelatihan kader di wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo pada tahun 2017. Sehingga diharapkan kepada pihak
Puskesmas Pulorejo untuk menyelenggarakan pelatihan kader dengan
teratur agar kader memiliki wawasan luas dan mendapat pengetahuan
baru.

o Pemberian MP-ASI
Program pemberian MP-ASI ini diperuntukkan balita yang
mengalami masalah gizi seperti balita gizi buruk atau gizi kurang. Pihak
puskesmas menggalakkan program Pemberian Makanan Tambahan
(PMT) seperti susu atau biskuit untuk balita dengan masalah gizi
tersebut. Sedangkan untuk balita dengan status gizi normal akan
diberikan PMT dalam kegiatan posyandu pada masing-masing desa.
Dilaporkan sebanyak 5 bayi (6-12 bulan) kurus dan 15 balita (12-
24 bulan) kurus keluarga miskin telah diberikan MP-ASI dengan
cakupan pemberian sebesar 100% di wilayah kerja Puskesmas Pulorejo.

- Evaluasi
o Evaluasi dan Monitoring Cakupan Vitamin A
Target pencapaian cakupan vitamin A di wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo adalah lebih dari 91%. Pencapaian cakupan vitamin A telah
mencapai lebih dari 100% yaitu rata-rata mencapai 185.57%.
Pancapaian yang lebih besar dari target disebabkan oleh pemberian
vitamin A kepada blita yang rutin ke posyandu serta balita penduduk
musiman atau kepada balita yang tidak datang secara rutin ke posyandu.

o Evaluasi SKPG
Pemantauan status gizi baduta dan balita di wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo sudah bagus. Kerjasama antara kader posyandu,

58
bidan desa, dan ahli gizi yang sangat baik memudahkan pelaporan
status gizi yang dilakukan oleh ahli gizi.
Pemantauan garam beryodium dilakukan pada saat survei kadarzi
di desa serta saat penjaringan kesehatan anak sekolah. Namun, sampel
yang disurvei cenderung hanya di satu dusun tiap desa sehingga untuk
survei selanjutnya lebih baik hanya mengambil beberapa sampel di
setiap dusun di setiap desa sehingga terdapat perwakilan setiap daerah.
Pelatihan kader merupakan hal yang penting. Berdasarkan data
yang didapat dari 199 orang kader, hanya 149 orang kader yang terlatih
sehingga perlu adanya pelatihan kader yang harus segera dilaksanakan
tahun 2017 untuk meningkatkan keefektivitasan posyandu terutama
meja 4 (konseling).
Pemberian MP-ASI pada bayi dan balita kurus keluarga miskin
telah berjalan dengan baik. Selain berfokus pada bayi dan balita kurus,
perlu adanya pelatihan pemberian MP-ASI pada ibu dari bayi dan balita
yang berat badannya tidak naik sehingga dapat membantu
perkembangan anak.
Untuk survei pola konsumsi, perlu adanya komunikasi antara pihak
Provinsi Jawa Timur dengan Puskesmas Pulorejo agar hasil dari survei
pola konsumsi dikomunikasikan satu sama lain. Berdasarkan
keterangan ahli gizi di puskesmas, setelah dilakukan survei pihak
provinsi tidak memberitahukan hasil dari survei sehingga puskesmas
tidak mendapatkan informasinya. Oleh karena itu, perlu adanya
komunikasi yang lebih intens antara pihak provinsi dan puskesmas
untuk mencegah kejadian serupa. Selain itu, jika memungkinkan, pihak
puskesmas dapat melakukan survei mandiri dengan bantuan pihak lintas
sektor di daerahnya untuk mendapatkan data cadangan.

E. Prioritas Masalah
Berdasarkan hasil di atas, dapat diketahui bahwa masih terdapat
beberapa masalah kesehatan dan gizi yang ditemui di Puskesmas Pulorejo.
Beberapa masalah tersebut meliputi tingginya anemia remaja, rendahnya

59
nilai N/D, tingginya status gizi kurang anak sekolah hingga tingginya
frekuensi kunjungan lansia di poli gizi dengan keluhan hipertensi. Dari
masalah-masalah tersebut diambil tiga masalah utama di bidang gizi.
Penyelesaian masalah dilakukan berdasarkan prioritas masalah. Penentuan
prioritas masalah yang digunakan menggunakan metode USG.

Tabel 13. Hasil Scoring Prioritas Masalah

Kriteria
No. Masalah Urgency Seriousness Growth Total Rangking
(U) (S) (G)
1. N/D rendah 4 5 5 100 I
2. Gizi 3 4 3 36 III
Kurang
Anak
Sekolah
3. Hipertensi 5 3 4 60 II
Lansia

60
F. Studi Kasus
a. N/D Rendah
STUDI KASUS I
Judul: Penyuluhan Tentang Pemberian Mp-Asi Secara Tepat Kepada
Kader Posyandu untuk Meningkatkan Cakupan N/D Balita di Desa
Jombok, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang
(Disusun oleh Dessy Nur Fadzila, 101411231039)

1. Analisis Masalah
Berdasarkan prioritas masalah gizi yang dilakukan pada wilayah
kerja Puskesmas Pulorejo, masalah N/D atau tidak naiknya berat
badan balita di wilayah tersebut khususya di Desa Jombok menjadi
salah satu prioritas masalah gizi. Hal tersebut dimasukkan dalam
prioritas masalah gizi dengan alasan masih belum tercapainya target
yang telah ditetapkan pada indikator N/D.
Tidak naiknya berat badan balita setiap bulannya dapat
menggambarkan status gizi balita. Hal tersebut juga dapat dikatakan
bahwa balita tidak mengalami pertumbuhan, padahal pada saat masa
tersebut merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang
pesat (Supariasa, 2002). Sehingga keadaan tidak naiknya berat badan
balita menjadi suatu masalah.
Status gizi dapat dinilai dari beberapa indikator yang dipengaruhi
oleh berbagai faktor. Berdasarkan kerangka konsep penyebab
masalah gizi menurut United Nations Children’s Fund (UNICEF)
pada tahun 1990, terdapat beberapa faktor penyebab masalah gizi,
yaitu faktor langsung, faktor tidak langsung, dan akar masalah.
Berbagai faktor tersebut dapat dilihat pada bagan problem tree
berikut.

61
a. Problem Tree dan Objective Tree
Problem Tree
Status Gizi (N/D↓)

Konsumsi makanan rendah Penyakit infeksi tinggi

Ketersediaan pangan Pola asuh kurang tepat, Sanitasi dan


RT rendah Pemberian ASI/MP-ASI pelayanan kesehatan
dan penyediaan MP-ASI kurang memadai
rendah

Daya beli dan akses pangan rendah

Kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi


rendah

Kurangnya pengetahuan dan pendidikan

Krisis ekonomi dan kurangnya kebijakan politik

Sumber: UNICEF (1990) dengan modifikasi

Status gizi balita dapat dipengaruhi oleh berbagai


faktor. Faktor penyebab langsung status gizi adalah asupan
atau konsumsi makanan dan penyakit infeksi yang diderita
balita seperti diare. Kedua faktor tersebut saling
mempengaruhi. Asupan makanan yang tidak adekuat yang
disertai penyakit infeksi dapat menghambat pertumbuhan
balita, begitu pula sebaliknya. Penyakit infeksi seperti diare
dapat menurunkan asupan makanan, dengan cara
mengeluarkan makanan yang telah dikonsumsi dengan
cepat sehingga penyerapan zat gizi pada makanan tersebut
sangat rendah. Pada kasus balita di Desa Jombok
berdasarkan pengamatan, balita disana kurang diberi asupan
62
makanan yang bergizi, contohnya yaitu saat makan hanya
diberi lauk kerupuk. Selain itu orangtua hanya memberikan
makanan yang disuka balita seperti makanan ringan
kemasan. Sehingga kemungkinan balita mengalami
kekurangan zat gizi yang berakibat asupan makanan
menjadi rendah.
Ketersediaan pangan dalam rumah tangga yang rendah
merupakan akibat langsung dari kemiskinan (UNICEF,
1990). Pada kenyataannya, warga miskin memiliki daya beli
dan kemampuan akses terhadap pangan yang rendah.
Warga miskin selalu melakukan penghematan ketika akan
membeli sesuatu, termasuk dalam mencukupi kebutuhan
pokoknya, yaitu pangan. Mayoritas warga miskin lebih
banyak membeli makanan pokok atau sumber karbohidrat
daripada lauk atau sumber protein. Ha tersebut karena
pangan sumber karbohidrat lebih murah dan
mengenyangkan daripada pangan sumber protein. Sehingga
dapat dikatakan bahwa akses terhadap pangan warga miskin
rendah yang berakibat pada ketersediaan pangan yang juga
rendah.
Kemiskinan yang berakibat pada akses pangan dan
daya beli yang rendah dengan ditambah pengetahuan yang
rendah juga dapat mempengaruhi bagaimana pemberian
MP-ASI pada balita. Akses padan dan daya beli yang
rendah menyebabkan ketersediaan MP-ASI yang tidak
terlalu beragam. Pengetahuan yang rendah akan pemberian
MP-ASI yang tepat pada balita dapat menyebabkan
kesalahan dalam pemberian MP-ASI. Kebanyakan orangtua
di daerah pedesaan masih dipengaruhi oleh mitos dan
keterlibatan orangtua atau mertua dalam memberikan MP-
ASI pada balita akibat rendahnya pengetahuan orangtua
balita. Hal inilah yang perlu diluruskan bahwa mitos-mitos

63
yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah patut untuk
ditinggalkan.
Penyakit infeksi yang tinggi dapat disebabkan oleh
rendahnya sanitasi dan air yang bersih. Apabila keadaan
sanitasi disekitar tempat tinggal kurang bersih atau air yang
digunakan kebutuhan sehari-hari seperti untuk konsumsi,
memasak, mandi, dan mencuci yang kurang baik
kualitasnya dapat meningkatkan risiko terjadinya penularan
berbagai penyakit infeksi. Keadaan sanitasi yang kurang
baik juga dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan orangtua
akan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Apabila
orangtua mengetahui pentingnya PHBS maka sanitasi
disekitar tempat tinggal juga akan baik sehingga risiko
penularan penyakit infeksi di sekitar tempat tinggal dapat
diminimalisir.
Akar penyebab dari semua permasalahan tidak lepas
dari krisis ekonomi dan kurangnya kebijakan politik yang
mendukung penuntasan permasalahan tersebut. Faktor
ekonomi dianggap sebagai hal yang paling mempengaruhi
dalam segala bidang. Sehingga peran pemerintah dalam
mengatasi krisis ekonomi sangat diperlukan. Selain itu
kebijakan pemerintah yang mendukung dalam upaya
perbaikan status gizi juga menjadi salah satu faktor yang
penting. Hal tersebut karena kebijakan pemerintah dapat
melancarkan program-program untuk perbaikan tingkat
kesehatan atau status gizi warga negaranya.

64
Objective Tree
Status Gizi (N/D↑)

Konsumsi makanan meningkat Penyakit infeksi berkurang

Ketersediaan pangan Pola asuh dan pemberian Sanitasi dan


RT meningkat ASI/MP-ASI lebih tepat pelayanan kesehatan
dan penyediaan MP-ASI lebih memadai
meningkat

Daya beli dan akses pangan meningkat

Angka kemiskinan menurun, ketahanan


pangan dan gizi meningkat

Pengetahuan meningkat

Meningkatnya kebijakan politik yang mendukung

Berdasarkan analisis dari permasalahan tidak naiknya


berat badan balita dengan menggunakan problem tree maka
dapat diketahui faktor penyebabnya. Dalam kasus ini,
intervensi yang mungkin dapat dilakukan untuk
memperbaiki atau meningkatkan status gizi balita yang
tidak mengalami kenaikan berat badan adalah dengan
meningkatkan pemahaman atau pengetahuan orangtua balita
atau kader posyandu. Tingkat pengetahuan orangtua yang
rendah dapat menyebabkan praktik pola asuh balita yang
salah. Pola asuh pada balita yang salah meliputi waktu

65
pengenalan dan pemberian ASI atau MP-ASI yang kurang
tepat sesuai usia balita. Sehingga dengan hal ini diperlukan
peningkatan pengetahuan orangtua atau kader posyandu
dalam melakukan pola asuh pada balita.
Selain itu pengetahuan orangtua balita yang memadai
dapat memberikan dampak positif terhadap sanitasi yang
baik. Apabila sanitasi disekitar tempat tinggal balita terjaga
kebersihannya dengan baik maka penularan berbagai
penyakit infeksi dapat diminimalisir.
Berdasarkan analisis, maka upaya yang dapat dilakukan
adalah dengan meningkatkan pengetahuan orangtua yang
tujuannya untuk meningkatkan konsumsi makanan balita.
Harapannya agar masalah berat badan balita yang tidak naik
dapat diturunkan dan dapat memperbaiki status gizi balita
khususnya di Desa Jombok.

b. Alternatif Pemecahan Masalah


Alternatif pemecahan masalah digunakan untuk
memilih cara mana yang lebih tepat yang digunkan untuk
memecahkan masalah yang tengah dihadapi, dalam hal ini
masalah tersebut adalah kasus rendahnya balita yang
mengalami kenaikan berat badan. Alternatif pemecahan
masalah yang dipilih sebagai berikut.
Tabel 14. Tabel Alternatif Pemecahan Masalah
Alternatif
Pemecahan Kelebihan Kekurangan
Masalah
Edukasi dan - Cost effective - Persiapan
praktik membuat - Lebih mudah pembuatan MP-
MP-ASI pada dikondisikan ASI harus
kader posyandu - Meja 4 dilakukan dengan
posyandu dapat matang

66
berjalan
Edukasi dan - Cost effective - Sulit
praktik membuat - Tepat sasaran dikondisikan saat
MP-ASI pada balita rewel
ibu balita - Persiapan
pembuatan MP-
ASI harus
dilakukan dengan
matang
Pemberian - Tepat sasaran - Biaya mahal
bantuan MP-ASI - Kebutuhan
banyak
- Kemungkinan
tidak semua
balita mendapat
MP-ASI

Berdasarkan tabel alternatif pemecahan masalah diatas,


kemungkinan cara yang dipilih yaitu dengan memberikan
edukasi dan demo praktik membuat MP-ASI kepada para
kader posyandu di Desa Jombok dengan
mempertimbangkan berbagai faktor. Dipilihnya alternatif
tersebut tentunya dengan pertimbangan kelebihan dan
kekurangan masing-masing alternatif.
Penyuluhan yang diselenggarakan harapannya dapat
meningkatkan pengetahuan sasaran dalam hal pola asuh,
pola makan, dan melakukan PHBS, khususnya pengetahuan
mengenai pemberian MP-ASI yang tepat. Program ini
lebih mudah dalam pelaksanaan dan lebih ekonomis
daripada alternatif lainnya. Selain itu dengan diadakannya
edukasi atau penyuluhan kepada kader posyandu,
harapannya meja 4 pada posyandu dapat berjalan dengan

67
baik. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat
mengikuti legiatan posyandu di Desa Jombok, meja 4 tidak
dapat dimanfaatkan dengan baik. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh para kader posyandu kurang percaya diri
terhadap kemampuannya dalam mengisi meja 4. Sehingga
dengan kegiatan ini diharapkan pemanfaatan meja 4 dapat
lebih baik lagi.
Sedangkan pada program kedua yaiu edukasi kepada
ibu balita memang lebih tepat sasaran, namun berdasarkan
pengamatan saat mengikuti kegiatan posyandu tidak
memungkinkan diadakan penyuluhan karena ibu balita
dating silih bergati saat posyandu. Selain itu keadaan sulit
dikondisikan karena balita yang rewel saat penimbangan
dan sebagainya. Oleh sebab itu alternatif kedua tidak
dipilih.
Program ketiga yaitu pemberian MP-ASI siap santap
tidak dipilih karena memiliki kelemahan yaitu biaya yang
dikeluarkan akan lebih besar daripada program pertama dan
kedua. Selain itu kemungkinan pemberian MP-ASI balita
tidak dapat merata apabila balita di posyandu tersebut
dating lebih dari biasanya. Alasan lain tidak dipilihnya
program ketiga karena sasaran tidak dapat mengetahui cara
dan bahan secara langsung dalam pembuatan MP-ASI
sehingga kemungkinan besar sasaran tidak dapat membuat
MP-ASI tersebut saat berada di rumah.

c. Penetapan Wilayah yang Akan Menjadi Prioritas


Penanggulangan Masalah Gizi
Penetapan wilayah dilakukan berdasarkan hasil analisis
masalah gizi yang ada di cakupan wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo. Data Puskesmas Pulorejo tahun 2017
menunjukkan masalah gizi untuk kasus rendahnya N/D atau

68
rendahnya jumlah balita yang ditimbang yang mengalami
kenaikan berat badan berada di Desa Jombok. Balita yang
mengalami kenaikan berat badan di Desa Jombok mencapai
52.4 %, hal ini berarti hampir setengah balita di Desa
Jombok tidak mengalami kenaikan berat badan. Padahal
target cakupan N/D untuk wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo adalah 76% pada tahun 2017, sehingga untuk
cakupan N/D di Desa Jombok masih belum mencapai target
yang diharapkan. Berat badan merupakan tanda
pertumbuhan balita, apabila balita tidak mengalami
peningkatan berat badan berarti terdapat gangguan dalam
pertumbuhannya.
Penetapan wilayah tersebut juga didukung oleh adanya
data balita yang mengalami berat badan kurang terbanyak di
wilayah kerja puskesmas Pulorejo juga berada di Desa
Jombok yaitu sejumlah 29 balita dari 300 balita yang
diperiksa. Selain itu cakupan ASI Eksklusif juga masih
rendah yaitu hanya sebesar 78.6%, sedangkan target tahun
2017 adalah mencapai 82%, sehingga Desa Jombok dipilih
untuk kegiatan penanggulangan masalah tersebut.

2. Menentukan Program Perbaikan Gizi Masyarakat


a. Penetapan Tujuan Kegiatan
Tujuan dari kegiatan yang tepat dapat menggunakan
metode SMART (Specific, Measurable, Achievable,
Realistic, Time-bound). berikut ini adalah tujuan kegiatan
peningkatan pengetahuan pada kader posyandu di Desa
Jombok dalam pemberian MP-ASI pada balita dengan tepat.
Specific :Kegiatan ini dilakukan untuk memberi
pemahaman dan meningkatkan pengetahuan
para kader posyandu di Desa Jombok tentang
pentingnya pemberian MP-ASI secara tepat

69
agar kasus balita yang tidak naik berat
badannya dapat menurun. Kegiatan ini
dilakukan dengan penyuluhan tentang MP-ASI
yang tepat sesuai usia balita.
Measurable :Kegiatan ini bertujuan untu meningkatkan
pengetahuan dan pemahaman kader posyandu
tentang MP-ASI yang tepat sesuai usia balita.
Diharapkan semua peserta mengalami
peningkatan pengetahuan dan pemahaman
setelah mengikuti kegiatan ini..
Achievable :Kegiatan ini diharapkan membuahkan hasil
yang memuaskan dengan menurunnya jumlah
balita yang tidak naik berat badannya.
Realistic :Dengan adanya peningkatan pengetahuan
kader posyandu dapat berbagi ilmu kepada ibu
balita di posyandu sehingga dapat menerapkan
pola asuh yang tepat untuk balita.
Time-bound :Setelah diadakan kegiatan ini dalam satu
jangka waktu satu bulan balita yang tidak
mengalami kenaikan berat badan dapat
mengalami kenaikan berat badan.
b. Sasaran
Sasaran kegiatan ini adalah Kader Posyandu di Desa
Jombok. Dipilihnya sasaran tersebut karena kader berperan
penting dalam berkembangnya program kesehatan. Kader
posyandu dirasa lebih dekat dengan para ibu balita sehingga
para ibu balita tidak merasa malu untuk berbagi
permasalahannya terkait balita. Selain itu kader posyandu
bertugas untuk menyampaikan informasi penting dan
membagi pengetahuannya dari pelatihan-pelatihan yang
telah mereka ikuti kepada para ibu balita di posyandu yang

70
membutuhkan. Dengan begitu harapannya meja 4 pada
posyandu dapat dijalankan dengan baik.

c. Strategi
Upaya untuk menyukseskan suatu program kesehatan
tentu diperlukan suatu strategi. Salah satu strategi yang
dipilih untuk kegiatan penyuluhan materi MP-ASI adalah
dengan disertai demo atau praktik membuat produk MP-
ASI untuk balita usia tertentu. Harapannya selain dapat
mendengarkan materi penyuluhan MP-ASI, peserta juga
dapat melihat secara langsung proses pembuatan MP-ASI
sehingga lebih tertanam di pikiran dan lebih memahami
materi tersebut. Seperti telah diketahui bahwa proses
penerimaan materi baru apabila hanya dengan teknik
mendengar maka persentase yang dapat diserap dan
diingatnya hanya sebesar 20%. Sedangkan apabila
mempraktikkan seta mengucapkannya dapat mengingat
materi hingga sebesar 90%. Hal ini lah yang menjadi poin
penting pemilihan strategi agar peserta dapat memahami
materi secara optimal.

d. Kegiatan
Kegiatan ini berisi penyuluhan dengan materi tentang
MP-ASI yang baik dan tepat sesuai dengan umur balita
disertai dengan demo pembuatan MP-ASI untuk balita usia
6-12 bulan. Pada pembukaan materi, dilakukan diskusi
terlebih dahulu antara pemateri dan peserta tentang ASI.
Pemateri memberikan pertanyaan seputar pengertian ASI
dan MP-ASI, untuk menilai sejauh mana peserta
mengetahui materi tersebut. Kemudian baru pemateri
menjelaskan pengertian ASI dan MP-ASI yang berdasarkan
pedoman Kemenkes RI. Menurut Kemenkes RI, pada saat

71
bayi telah berusia 6 bulan, ASI hanya dapat memenuhi
setengah dari kebutuhan gizi bayi. Sedangkan saat bayi
berusi 12-24 bulan, ASI paling sedikit dapat memenuhi
sepertiga kebutuhan gizi anak. Sehingga bayi berusia 6
bulan perlu diberikan makanan tambahan berupa MP-ASI.
Materi selanjutnya yaitu pengertian MP-ASI yang
dijelaskan oleh pemateri. Kemudian diberikan materi yang
berisi tentang jenis-jenis MP-ASI. Jenis MP-ASI dijelaskan
berdasarkan tumpeng gizi seimbang. Pada tumpeng gizi
seimbang terdapat makanan pokok, sayuran, buah-buahan,
kelompok lauk untuk sumber protein dari nabati dan
hewani, serta makanan hasil olahan sumber protein. Setelah
jenis MP-ASI dijelaskan, disertai keterangan tahap-tahap
atau pola pemberian MP-ASI untuk usia tertentu.
Pola pemberian makanan pada balita diibagi menjadi tiga
yaitu berupa makanan lumat untuk balita usia 6-8 bulan,
makanan lembik untuk balita usia 9-11 bulan, dan makanan
keluarga untuk balita usia 12-59 bulan (Kemenkes RI,
2011). Sebagai pendukung penjelasan pemateri, disediakan
pula contoh MP-ASI untuk balita usia 6 bulan yang
merupakan tahap pengenalan MP-ASI pertama, MP-ASI
yang dibawa berupa bubur susu halus. Diberikan pula
penjelasan untuk pemberian MP-ASI sebaiknya dilakukan
setelah ibu memberi ASI.

e. Output dan Outcome


Output:
Peserta mengalami peningkatan pengetahuan. Peserta
dapat mengerti dan memahami materi penyuluhan, dapat
mengetahui kapan waktu yang tepat untuk pengenalan MP-
ASI sesuai umur balita, mengetahui kapan pemberian MP-

72
ASI yang tepat, serta dapat mengetahui jenis dan cara
pembuatan MP-ASI di rumah.

Outcome:
Peserta dapat memberikan MP-ASI dengan tepat dan
dapat menyebarluaskan informasi seputar MP-ASI kepada
para ibu balita saat di posyandu agar dapat memperbaiki
pola asuh balita sehingga bayi dan balita mengalami
kenaikan berat badan secara signifikan.

f. Biaya
Kegiatan ini membutuhkan alokasi dana untuk
memperlancar pelaksanaannya. Berikut rincian dana
kegiatan:
Tabel 15. Kebutuhan Biaya Kegiatan Penyuluhan MP-ASI
Kebutuhan
Banyak Harga
Bahan
Tepung beras 500 gram Rp. 8.400
Beras 100 gram Rp. 1.200
Susu cair 200 ml Rp. 5.000
Wortel 100 gram Rp. 1.000
Labu siam 100 gram Rp. 1.500
Bayam 100 gram Rp. 2.000
Daging ayam 100 gram Rp. 4.000
Tempe 200 gram Rp. 2.000
Tahu 200 gram Rp. 2.000
Pisang 5 buah Rp. 5.000
Papaya 1 buah Rp. 4.000
Air 1.5 L Rp. 5.000
Total Rp. 41.100

73
g. Jadwal
Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin, 25 September 2017
pukul 09.00 WIB.

3. Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat


a. Tujuan
Kegiatan penyuluhan ini memiliki tujuan sebagai
berikut.
 Tujuan Umum:
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan
pengetahuan kader posyandu tentang MP-ASI yang
tepat dan sesuai untuk balita.
 Tujuan Khusus:
Tujuan khusus kegiatan ini adlah:
- Memberi pengetahuan para kader posyandu di Desa
Jombok tentang pentingnya pemberian MP-ASI
secara tepat.
- Memberi pengetahuan para kader posyandu di Desa
Jombok tentang jenis-jenis MP-ASI.
- Memberi pengetahuan para kader posyandu di Desa
Jombok tentang tahap pemberian MP-ASI pada
balita.
- Memberi pengetahuan para kader posyandu di Desa
Jombok tentang cara pengolahan MP-ASI.
- Memberi pemahaman kepada para kader posyandu
di Desa Jombok agar materi yang diperoleh dari
kegiatan ini dapat disampaikan kepada para ibu
balita saat di posyandu sehingga kasus balita yang
tidak naik berat badannya dapat menurun.
b. Sasaran
Sasaran dari kegiatan ini yaitu kader posyandu Desa
Jombok.

74
c. Tempat dan Waktu
Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Jombok, pada hari
Senin, 25 September 2017 pukul 09.00 WIB.

d. Materi
Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini tentang
pengertian MP-ASI, jenis-jenis MP-ASI, usia pengenalan
MP-ASI, dan waktu pemberian MP-ASI yang tepat.

e. Media
Penyuluhan MP-ASI yaitu menggunakan media contoh
maknana/jenis MP-ASI usia 6-12 bulan berupa bubur susu,
buah lumat, sayuran lumat, lauk nabati dan hewani, serta
makanan keluarga berupa nasi putih biasa.

f. Hasil Kegiatan
Kegiatan yang seharusnya dimulai pukul 09.00 WIB
namun baru pukul 09.30 kegiatan penyuluhan dimulai. Hal
ini dikarenakan tidak hadirnya ketua PKK yang biasanya
memimpin kegiatan pertemuan PKK sehingga acara
menjadi tidak tepat waktu. Selain itu sebelum kegiatan
penyuluhan dilakukan, terdapat kegiatan cek tekanan darah
oleh pihak swasta diluar agenda kegiatan, sehingga hal
tersebut juga turut menunda jadwal kegiatan penyuluhan.
Setelah acara tes tekanan darah selesai, kegiatan
penyuluhan baru dapat dilaksanakan.
Peserta yang hadir berjumlah 39 orang anggota PKK
yang juga berperan sebagai kader posyandu Desa Jombok
dan 2 petugas Puskesmas Pulorejo yang mendampingi
dengan rincian terlampir pada bagian lampiran. Mayoritas
peserta telah mengetahui pengertian MP-ASI yang

75
diketahui dari hasil diskusi awal sebelum materi dimulai
oleh pemateri. Mayoritas peserta menjawab dengan tepat
pertanyaan pemateri masalah pengertian MP-ASI sehingga
dapat dikatakan peserta memahami pengertian MP-ASI.
Pertanyaan selanjutnya yaitu tentang jenis-jenis MP-
ASI. Menurut peserta, jenis-jenis MP-ASI adalah bubur
instan. Hanya sekitar 5 dari 39 peserta yang menjawab
pertanyaan tersebut, dan lainnya hanya mengiyakan. Maka
dari hasil tersebut pemateri menganggap peserta belum
memahami apa yang dimaksud jenis-jenis MP-ASI. Hal
yang dilakukan pemateri selanjutnya yaitu dengan
memberikan penjelasan apa yang dimaksud dengan jenis
MP-ASI. Jenis MP-ASI tidak hanya bubur instan untuk
bayi namun makanan berdasarkan tumpeng gizi seimbang,
yaitu makanan pokok sumber karbohidrat, sumber protein
nabati dan hewani, buah, dan sayur. Hal ini perlu
dikenalkan pada balita sehingga balita dapat mengenal
berbagai rasa dari berbagai jenis makanan dengan harapan
saat dewasanya tidak menjadi picky-eater atau sangat
pemilih dalam mengonsumsi suatu jenis makanan.
Setelah penjelasan jenis-jenis MP-ASI, pemateri juga
menunjukkan contoh makanan yang telah dibawa kepada
peserta. Contoh MP-ASI yang dibawa yaitu bubur susu,
nasi lembik, sayuran yang telah dihaluskan, pisang kerok,
serta lauk nabati dan hewani yang telah dihaluskan
sebelumnya. Harapannya peserta lebih memahami materi
yang telah disampaikan dengan disertai contoh nyata
bentuk MP-ASI untuk balita tersebut.
Pertanyaan selanjutnya yang diajukan pemateri kepada
peserta adalah kapan pemberian MP-ASI pada balita yang
tepat. Sekitar 15 dari 39 peserta menjawab MP-ASI
diberikan pada bayi saat usianya telah mencapai 6 bulan.

76
Maka dapat dikatakan hampir setengahnya telah mengerti
usia pengenalan MP-ASI yang tepat.
Hasil akhir diketahui bahwa peserta kurang aktif dalam
kegiatan peyuluhan ini, sebagai contoh yaitu hanya 2 dari
39 peserta yang mau bertanya. Hal ini dapat disebabkan
oleh dua hal. Pertama, kemungkinan peserta telah
mengetahui dan memahami seputar materi MP-ASI yang
telah dijelaskan sehingga tidak ada pertanyaan seputar
materi. Hal kedua yaitu karena peserta memang tidak
mengerti apa yang dijelaskan dari awal hingga akhir materi
seputar MP-ASI sehingga malu untuk mengajukan
pertanyaan tentang materi tersebut. Berdasarkan
pengamatan, hal lain yang menjadi faktor kurangnya
keaktifan peserta dalam bertanya dapat disebabkan oleh
konsentrasi yang mulai menurun setelah serangkaian
kegiatan yang mereka ikuti dari pagi hingga akhir kegiatan
seperti tes tekanan darah sebelum kegiatan penyuluhan
dilaksanakan.

g. Bentuk Evaluasi
Bentuk evaluasi dari kegiatan ini adalah dengan
mengamati perilaku peserta. Pada saat berlangsungnya
kegiatan, peserta sulit dikondisikan karena terdapat
kegiatan lain yaitu pemeriksaan tekanan darah sebelum
kegiatan penyuluhan MP-ASI dimulai dan tidak ada waktu
jeda antara kegiatan sebelumnya. Sehingga peserta yang
mayoritas diikuti oleh dewasa tua lebih antusias dalam
pemeriksaan tersebut. Namun dengan bantuan petugas
puskesmas yang hadir, peserta dapat dikondisikan lebih
baik.
Waktu yang disediakan untuk memberikan penyuluhan
cukup singkat. Dengan waktu yang singkat ini pemateri

77
berusaha semaksimal mungkin menjelaskan semua materi,
namun penyampaian materi hanya seperlunya pokok-pokok
materi saja. Akibatnya pemateri kurang dapat menggali
masalah yang mungkin ada dalam penerimaan atau
pemahaman peserta terhadap materi ini.
Peserta kurang aktif dalam bertanya. Hal ini
ditunjukkan dengan hanya 2 dari 39 peserta atau hanya
sebesar 5% yang mau bertanya. Ada dua hal yang mungkin
menjadi penyebab kurang aktifnya peserta dalam bertanya
yaitu peserta telah memahami materi dengan baik dan
peserta sama sekali tidak memahami materi yang diberikan.
Perhatian peserta mengenai pentingnya pemahaman
MP-ASI masih rendah sehingga perlu dilakukan upaya
meningkatkan perhatian tersebut dengan kegiatan yang
lebih ke arah praktik yaitu seperti demo masak dari bahan
mentah sampai menjadi makanan pendamping ASI yang
siap santap agar materi dapat diserap oleh peserta dengan
baik. Sehingga apabila akan dilakukan kegiatan penyuluhan
selanjutnya juga sebaiknya disertai dengan praktik secara
langsung.
Saran yang dapat diberikan untuk puskesmas yaitu
sebenarnya kegiatan penyuluhan untuk kader posyandu
sangat penting, meskipun materinya tidak hanya seputar
makanan untuk balita. Kegiatan seperti ini sebaiknya
dilakukan secara rutin setiap bulannya agar kader-kader
posyandu memiliki pengetahuan yang luas dan terbaru,
sehingga kepercayaan diri kader juga dapat terbentuk.
Apabila kader posyandu percaya diri maka meja 4 pada
posyandu yang digunakan untuk penyuluhan seputar balita
dapat dijalankan oleh kader dengan baik.

78
LAMPIRAN
A. Daftar Hadir
Acara : Pertemuan Rutin PKK dan Penyuluhan MP-ASI
Tenggal : 25 September 2017
Tempat : Balai Desa Jombok
No Nama Alamat Dusun
1 Riani Jembaran
2 Bu Mujianto Pageng
3 Bu Sutikno Pageng
4 Bu Suwito Pageng
5 Bu Mujiran Pageng
6 Bu Hasan Sumbirjo
7 Khurotul Aini Sumbirjo
8 Bu Temuningsih Jombok
9 Bu Riyanto Sumberjo
10 Bu S. Aminatun N. Jombok
11 Bu Sabiran Sumbirjo
12 Nur Syaidah Sumbirjo
13 Bu Yenik Sri Winarni Jombok
14 Bu Sumini Jombok
15 Wiwik Jombok
16 Bu Nunung Ngasem
17 Bu Yatimah Ngasem
18 Bu Syaiful Jembar
19 Bu Kotijah Jembar
20 Bu Supriadi Dawuhan
21 Bu Sriatun Dawuhan
22 Bu Sumini Dawuhan
23 Mukayah Jombok
24 Sri Indayah Jombok
25 Bu Heni Susilowati Jatirejo

79
26 Zuli A. N. Jatirejo
27 Nur Aini Jatirejo
28 Eriska Jatirejo
29 Ely Jatirejo
30 Muji Rahayu Jombok
31 Bu Massunah Bicek
32 Bu Triani Bicek
33 Bu Munadi Bicek
34 Bu Sripurwati Jombok
35 Bu Maratik Sy. Jembar
36 Bu Zuliatin Jembaran
37 Bu Nurul Jembaran
38 Bu Maya Jatirejo
39 Endayani Jombok

80
B. Dokumentasi

Kegiatan Penyuluhan MP-ASI di Balai Desa Jombok

Kegiatan Penyuluhan MP-ASI di Balai Desa Jombok

81
DAFTAR PUSTAKA

Data Puskesmas Pulorejo tahun 2017


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Panduan Penyelenggaraan
Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan bagi Balita Gizi Kurang
Supariasa, I.D.N. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC

82
b. Hipertensi Lansia
STUDI KASUS II
Judul: Edukasi Pencegahan dan Penanganan Hipertensi pada Lansia dengan
Metode Focus Group Discussion di Posyandu Lansia Mlaten, Desa
Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang
(Disusun oleh Ananda Zahrah S N, 101411231037)

Analisis Masalah
Berdasarkan data register rawat jalan di Poli Gizi Puskesmas Pulorejo bulan
Juli sampai September 2017, selain ibu hamil yang melakukan antenatal care
(ANC) terpadu, pasien yang mengunjungi Poli Gizi sebagian besar berasal dari
rujukan Poli Lansia. Keluhan atau diagnosa penyakit yang dimiliki yaitu
hipertensi, hiperkolesterol, diabetes melitus, dan asam urat. Hal ini selaras dengan
data 10 Penyakit Terbesar Poli Lansia bulan Januari sampai dengan Agustus 2017
dimana kasus hipertensi, osteoartritis/hiperuric, dan diabetes melitus merupakan 3
penyakit terbesar dengan jumlah kasus sebanyak 492, 291, dan 259 kasus. Dalam
data Profil Kesehatan Kabupaten Jombang tahun 2015, Puskesmas Pulorejo
termasuk dalam puskesmas dengan jumlah kasus hipertensi usia ≥ 18 tahun
terbanyak ke 4 setelah Puskesmas Tambakrejo, Megaluh, dan Blimbing
Kesamben. Setelah dilakukan analisis prioritas masalah, di wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo, masalah hipertensi pada lansia merupakan masalah dengan
prioritas ke-2 dan perlu segera dilakukan penanganan.

Berdasarkan Eighth Joint National Committee (JNC 8), batas atas nilai
normal tekanan sistolik yaitu 140 mmHg untuk semua usia. Seseorang yang
berusia di atas 60 tahun hendaknya memiliki tekanan darah kurang dari 150/90
mmHg (James et al, 2014). Penyebab dasar dari hipertensi pada lansia yaitu
perubahan fisiologis pada resistensi dan elastisitas arteri (Pestana, 2001). Selain
itu, pada lansia, gangguan ginjal dapat menyebabkan hipertensi maupun
komplikasi dari hipertensi (Rigaud & Forette, 2001). Tekanan darah, khususnya
tekanan darah sistolik cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia
sedangkan tekanan darah diastolik cenderung meningkat hingga usia 50 tahun
namun akan menurun perlahan setelahnya (Franklin et al , 2001). Faktor lain yang
berpengaruh dengan kejadian hipertensi pada lansia yaitu konsumsi makanan
83
tinggi natrium, konsumsi banyak alkohol, dan kurangnya aktivitas fisik pada
lansia (Davis, 2004). Berdasarkan penelitian yang sudah ada, faktor lain yang
berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia yaitu kebiasaan merokok dan
konsumsi makanan berlemak (Arif dkk, 2013) serta stres (Andria, 2013).

a. Problem Tree
Berdasarkan hasil penggalian informasi pada pasien rawat jalan yang telah
dilakukan ahli gizi, penyebab hipertensi pada sebagian besar pasien meliputi
kurangnya tidur dan aktivitas fisik serta tingginya stres, konsumsi natrium, lemak,
kopi, dan rokok. Sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Problem Tree Hipertensi

Perubahan fisiologis merupakan salah satu faktor dasar dari kejadian


hipertensi pada lansia (Pestana, 2001). Perubahan fisiologis lansia dapat terjadi
karena adanya pertambahan usia. Perubahan fisiologis tersebut berupa
menurunnya elastisitas arteri. Selain disebabkan faktor usia, penurunan elastisitas
arteri dapat disebabkan oleh konsumsi rokok yang tinggi (Virdis et al, 2010).

Kurangnya aktivitas fisik pada lansia diikuti konsumsi lemak yang tinggi
dapat menyebabkan terjadinya obesitas dan menyebabkan aterosklerosis sehingga
tekanan darah dapat meningkat (Jansen, 2006). Adanya peningkatan stres diduga
mempengaruhi peningkatan aktivitas saraf simpatis sehingga dapat menaikkan
tekanan darah. Apabila tidak ada upaya memanajemen stres, maka tekanan darah
84
dapat menetap di tingkat yang tinggi (Andria, 2013). Selain tingginya stres,
berdasarkan penelitian oleh Tochikubo et al (1996), tekanan darah sistolik
meningkat sebanyak 6 mmHg setelah melalui malam tanpa waktu tidur yang
cukup sedangkan tekanan darah diastolik meningkat sebanyak 3 mmHg.
Peningkatan ini dapat terjadi karena kurangnya tidur dapat memicu kelelahan dan
stres mental.

Kandungan dalam kopi berupa kafein memiliki acute pressor effect yang
dapat mempengaruhi peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis dengan
meningkatkan produksi hormon kortisol sehingga dapat terjadi peningkatan
tekanan darah pada orang yang secara rutin mengonsumsi kopi (Myers, 1988;
Nurminen et al, 1999; James, 1997; Smits et al, 1990). Sedangkan, gangguan
ginjal dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hormon dalam ginjal contohnya
hormon renin-angiotensin sebagai pengatur tekanan darah (Guyton, 1994).

b. Objective Tree
Dari kerangka penyebab masalah di atas, maka kerangka tujuan yang ingin
dicapai yaitu:

Gambar 2. Objective Tree Hipertensi

Dengan edukasi tentang penanganan untuk hipertensi serta pencegahannya,


maka faktor-faktor penyebab dapat diminimalisir sehingga prevalensi hipertensi
dapat menurun. Selain itu, dengan motivasi dan pengulangan edukasi, probabilitas
realisasi pengetahuan yang didapat di kehidupan akan lebih besar.

85
c. Alternatif Pemecahan Masalah
Alternatif program dalam menyelesaikan masalah tingginya prevalensi
hipertensi pada lansia yaitu dengan melakukan edukasi pada lansia mengenai cara
mencegah dan menangani hipertensi dengan metode ceramah. Selain pemberian
edukasi dengan metode ceramah, metode lain yang dapat digunakan yaitu metode
focus group discussion. Alternatif lain yang dapat dilakukan yaitu dengan
melakukan advokasi kepada lintas sektor (Pemerintah Kabupaten Jombang) untuk
melakukan kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten dalam melaksanakan
kegiatan lansia se-Kabupaten.

Penetapan prioritas alternatif pemecahan masalah dilakukan melalui metode


cost-analysis yaitu:

Tabel 16. Tabel Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah

Efektifitas Efisiensi
No. Alternatif Kegiatan Skor Prioritas
M I V C

1. Melakukan edukasi pada lansia 5 5 3 2 37,5 II


mengenai cara mencegah dan menangani
hipertensi dengan metode ceramah.

2. Melakukan edukasi pada lansia 5 5 4 2 50 I


mengenai cara mencegah dan menangani
hipertensi dengan metode focus group
discussion.

3. Advokasi lintas sektor untuk melakukan 5 2 4 1 40 III


kerjasama dengan Dinas Kesehatan
Kabupaten Jombang.

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa prioritas utama yang dapat
dilakukan untuk memecahkan masalah adalah melakukan edukasi pada lansia
mengenai cara mencegah dan menangani hipertensi dengan metode focus group
discussion. Dengan adanya program ini diharapkan lansia dapat memahami
mencegah dan manangani hipertensi. Selain sebagai program yang berdiri sendiri,
program ini dapat diterapkan dalam pelaksanaan posyandu lansia setiap bulannya

86
atau PROLANIS sesi edukasi karena selama ini sesi edukasi hanya terkesan satu
arah dan tidak seluruh lansia bisa bercerita pengalamannya.

d. Penetapan Wilayah yang Akan Menjadi Prioritas Penanggulangan


Masalah Gizi

Berdasarkan data register rawat jalan, mulai tanggal 3 Juli 2017 sampai 30
September 2017, lansia yang mengunjungi poli gizi dengan keluhan hipertensi
berasal dari seluruh desa akan tetapi sebagian besar lansia berasal dari Desa
Badang dan Jombok. Meski begitu, oleh karena Desa Rejoagung memiliki
populasi lansia (usia > 55 tahun) terbanyak yaitu 1.155 orang daripada desa lain
yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pulorejo berdasarkan data dari BPS yaitu
Kecamatan Ngoro dalam angka 2016, pemberian edukasi di Desa Rejoagung
sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya masalah hipertensi baru terutama
pada lansia. Pada Desa Rejoagung terdapat 3 posyandu lansia yaitu Posyandu
Lansia Payak Sanggrok, Posyandu Lansia Mlaten, dan Posyandu Lansia Ngepeh.
Posyandu lansia dengan jumlah lansia terbanyak di Desa Rejoagung yaitu
Posyandu Lansia Ngepeh namun karena keterbatasan waktu magang, kegiatan ini
hanya bisa dilakukan di Posyandu Lansia Mlaten dengan jumlah total lansia
sebanyak 30 orang lansia. Dalam penerapannya, program ini bersifat fleksibel dan
dapat dilaksanakan di seluruh wilayah kerja Puskesmas Pulorejo.

Penentuan Program Perbaikan Gizi Masyarakat

a. Penetapan Tujuan Kegiatan (SMART)


Tingginya prevalensi hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo merupakan salah satu masalah terkait gizi yang memerlukan program
pemecahan masalah. Berikut adalah tujuan program peningkatan pengetahuan
pada lansia untuk mencegah dan mengurangi prevalensi hipertensi pada lansia di
Desa Rejoagung menggunakan metode analisis SMART (Spesific, Measurable,
Achievable, Realistic, Time-bound):
Specific : Program ini diberikan langsung kepada lansia untuk
mencegah dan mengurangi prevalensi hipertensi pada lansia. Program ini
dilakukan dengan cara memberi edukasi dan pemaparan materi kepada
87
lansia di posyandu lansia tentang pencegahan dan penganggulangan
hipertensi khususnya mengenai diet hipertensi di dalam kelompok kecil.
Measurable : Dengan adanya edukasi ini, diharapkan semua peserta
memiliki peningkatan pengetahuan tentang pencegahan dan
penganggulangan hipertensi khususnya mengenai diet hipertensi.
Achievable : Peningkatkan pengetahuan ini diharapkan dapat
berpengaruh dalam penurunan prevalensi hipertensi lansia di wilayah
kerja Puskesmas Pulorejo.
Realistic : Pelaksanaan program dapat dilakukan bersamaan dengan
posyandu lansia setiap bulannya. Peserta yang diikutkan dalam edukasi
yaitu seluruh lansia yang berkenan mengikuti edukasi.
Time-bound : Pelaksanaan program ini dapat dilakukan setiap bulannya
untuk mengingatkan atau menambah pengetahuan lansia yang mungkin
lupa atau tidak hadir di pertemuan sebelumnya.

b. Sasaran
Masyarakat usia pra-lansia dan lansia di Posyandu Lansia Mlaten sebanyak
30 orang.

c. Strategi
Strategi yang digunakan dalam program ini adalah metode focus group
discussion. Metode ini dipilih oleh karena dengan metode ini, interaksi antara
pemateri atau fasilitator dengan peserta menjadi lebih intens dan mendalam.
Sedangkan, media yang digunakan yaitu leaflet. Leaflet tersebut akan diberikan
pada peserta sehingga peserta selalu mengingat materi yang telah diberikan.

d. Kegiatan
Kegiatan yang akan dilakukan yaitu edukasi dengan metode focus group
discussion. Pretest dan posttest dilakukan secara lisan sehingga tidak
memberatkan lansia. Topik materi edukasi yaitu pencegahan dan penanganan
hipertensi pada lansia dengan media leaflet.

e. Output dan Outcome


Output dari program ini adalah adanya peningkatan pengetahuan lansia
mengenai pencegahan dan penanganan hipertensi. Sedangkan, outcome dari
88
program ini adalah adanya penurunan prevalensi lansia hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo.

f. Biaya
Biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan program ini yaitu:

Tabel 17. Tabel Biaya Pengeluaran Program


Kebutuhan Satuan Harga/Satuan Total

Cetak leaflet 3 lembar Rp 1.000 Rp 3.000

Fotokopi leaflet I 35 lembar Rp 200 Rp 7.000

Fotokopi leaflet II 20 lembar Rp 300 Rp 6.000

TOTAL Rp 16.000

g. Jadwal
Hari, tanggal : Senin, 16 Oktober 2017

Waktu : 08.00-10.30 WIB

Tempat : Posyandu Lansia Mlaten, Desa Rejoagung

Tabel 18. Tabel Rencana Jadwal Kegiatan


Waktu Kegiatan

08.00 – 08.30 Registrasi

08.30 – 09.00 Pemeriksaan kesehatan lansia

09.00 – 09.30 Pengelompokkan lansia

09.30 –10.15 Materi:

1. Pretest
2. Pengertian hipertensi lansia
3. Pencegahan dan panganan hipertensi
4. Pengaturan makan pasien hipertensi

89
5. Posttest
6. Sesi Tanya Jawab
10.15 - 10.30 Penutupan

Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat

a. Tujuan
1) Tujuan Umum
Menurunkan prevalensi hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo.
2) Tujuan Khusus
i. Memberikan edukasi kepada lansia tentang pencegahan dan
penangananan hipertensi.
ii. Meningkatkan pengetahuan lansia mengenai pencegahan dan
penangananan hipertensi.

b. Sasaran
Jumlah sasaran yang hadir dan mengikuti kegiatan edukasi yaitu sebanyak
14 orang usia dewasa hingga lansia di Posyandu Lansia Mlaten, Desa Rejoagung.
Dari 14 peserta yang mengikuti kegiatan, 3orang berusia dewasa namun memiliki
anggota keluarga dengan hipertensi dan 11 orang lansia non hipertensi dimana 7
diantara 11 lansia memiliki riwayat tekanan darah > 140/90 mmHg.

c. Tempat, Waktu
Hari, tanggal : Senin, 16 Oktober 2017
Waktu : 08.30-10.05 WIB
Tempat : Posyandu Lansia Mlaten, Desa Rejoagung

d. Materi
Materi pretest dan posttest disampaikan secara lisan dengan menanyakan
tentang istilah hipertensi, indikator hipertensi, dan pantangan makan pada pasien
hipertensi.

Materi edukasi yang akan diberikan yaitu:

90
1) Pengertian Hipertensi Lansia
Meliputi istilah hipertensi dan indikator hipertensi. Hipertensi
adalah keadaan dimana tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan
darah diastolik > 90 mmHg. Di kalangan masyarakat hipertensi lebih
dikenal dengan istilah darah tinggi.

2) Pencegahan dan Penanganan Hipertensi


i. Pengaturan Makanan
ii. Menghindari Stres
Stres dapat memicu peningkatan aktivitas saraf simpatis
yang dapat meningkatkan tekanan darah sebagai reaksi fisik
seseorang yang merasa terancam atau tertekan.

iii. Olahraga Teratur


Melakukan olahraga secara teratur minimal 30 menit per
hari setiap hari memiliki efek yang bagus dalam menurunkan
tekanan darah. Bagi seseorang yang tidak pernah melakukan
olahraga dapat memulai dengan durasi 15 menit per hari sebanyak
3-4 kali/minggu. Durasi dan frekuensi tersebut kemudian dapat
ditingkatkan secara bertahap hingga 30-40 menit/hari sebanyak 3-4
kali/minggu sampai terbiasa dan sanggup melakukan 30 menit/hari
setiap hari.

iv. Istirahat Cukup


Untuk usia > 55 tahun, durasi tidur yang direkomendasikan
yaitu 6-7 jam per hari.

v. Memperbaiki Kebiasaan
Tekanan darah yang tinggi dapat dipicu oleh konsumsi
alkohol, kopi, dan rokok yang berlebihan. Bagi pasien hipertensi
hendaknya tidak mengonsumsi rokok, alkohol, dan kopi guna
mencegah peningkatan tekanan darah kembali. Untuk pasien yang
terlalu sering mengonsumsi alkohol hendaknya kuantitasnya
dikurangi hingga maksimal 200 ml bir bagi laki-laki dan 100 ml bir
bagi perempuan. Untuk pasien yang terlalu sering mengonsumsi
91
kopi hendaknya kuantitasnya dikurangi hingga maksimal 4 gelas
(@ 200 ml). Jumlah tersebut hendaknya selalu dikurangi hingga
terbiasa tanpa mengonsumsinya.

vi. Kontrol Tekanan Darah


Melakukan kontrol tekanan darah tidak hanya perlu
dilakukan oleh lansia saja atau pasien hipertensi saja namun juga
untuk semua orang tanpa batasan usia. Pemeriksaan tekanan darah
secara teratur berfungsi untuk memantau tekanan darah sehingga
apabila ada gangguan dapat segera diatasi. Pemeriksaan secara
teratur dapat dilakukan di rumah maupun di fasilitas kesehatan
terdekat.

3) Pengaturan Makanan Pasien Hipertensi


i. Prinsip Makan
a. Makan beraneka ragam sesuai gizi seimbang.
b. Membatasi asupan garam.

ii. Bahan Makanan yang Disarankan


a. Semua makanan pokok, lauk pauk, susu, sayuran dan buah-
buahan segar.
b. Lauk pauk hewani: telur maksimal 1 butir/hari dan
daging/ayam/ikan maksimal 2 potong sedang.
c. Susu maksimal 1 gelas sedang (200 ml)/hari.
d. Makanan yang diolah tanpa garam, vetsin, kaldu bubuk.

iii. Bahan Makanan yang Dibatasi


a. Garam dapur.
b. Makanan bernatrium (soda kue dan makanan dalam
kemasan).

iv. Bahan Makanan yang Dilarang


a. Jeroan dan otak kambing.
b. Makanan olahan bergaram natrium (biskuit, pastry, krupuk,
kripik, dan makanan kering yang asin).

92
c. Makanan dan minuman olahan dalam kaleng.
d. Makanan yang diawetkan (abon, ikan asin, telur asin, acar,
dan lainnya).
e. Mentega dan keju.
f. Makanan beralkohol (tape dan durian).
g. Bumbu-bumbu penyedap (kecap, terasi, petis, saus, dan lain-
lain).

v. Cara Mengatur Makanan


a. Melakukan penambahan gula aren, bawang merah/putih,
jahe, kencur, salam dan bumbu lain yang tidak mengandung
garam natrium.
b. Memasak dengan cara ditumis, digoreng atau dipanggang
tanpa garam.
c. Garam beryodium (30-80 ppm) ditaburkan setelah makanan
diangkat dari kompor maksimal ½ sendok teh/hari.
d. Dapat menggunakan garam rendah natrium.

vi. Contoh Menu Sehari


Tabel 19. Contoh Menu Makan Sehari
MAKAN PAGI MAKAN SIANG MAKAN MALAM

Nasi/Nasi Tim Nasi/Nasi Tim Nasi/Nasi Tim

Bawal bumbu balado Dadar jagung/Bakwan Telur bumbu kuning


sayuran
Tempe mendoan Tahu panggang isi
Oseng tahu kacang sayuran
Cah kangkung
panjang
Tumis sawi tauge
Ayam panggang jahe
Pisang
Jeruk manis

SELINGAN SELINGAN SELINGAN

Pepaya potong Belimbing potong Jus jambu biji

93
Konsumsi buah dan sayur hendaknya 8-10 porsi per hari atau 2-3
porsi pada 1 waktu makan. Konsumsi air mineral hendaknya 8-10 gelas
(@ 250 ml).

e. Media
Media yang digunakan pada program ini adalah leaflet yang berisi tentang
pencegahan dan penangan hipertensi khususnya diet hipertensi. Leaflet diberikan
kepada peserta yang datang sehingga peserta tidak lupa akan materi yang
diberikan.

f. Hasil Kegiatan
Program edukasi kepada lansia tentang pencegahan dan penangan hipertensi
khususnya diet hipertensi telah berlangsung dengan baik. Walaupun peserta hanya
mencapai 47% target sasaran, antusiasme peserta dalam mengikuti edukasi sangat
besar. Acara dimulai pukul 08.30 WIB dengan melakukan pengecekan tekanan
darah pada lansia oleh bidan desa. Oleh karena kedatangan peserta yang tidak
bersamaan, diskusi dibagi menjadi 3 sesi dimana di setiap sesi terdapat 2
kelompok kecil kecuali sesi 1. Pada pukul 08.45 WIB, diskusi sesi 1 dengan
jumlah lansia sebanyak 3 orang yang telah dicek kesehatannya dimulai. Sesi 2
dimulai pada pukul 09.05 WIB dengan jumlah lansia sebanyak 4 orang di
kelompok kecil 1 dan 1 lansia serta 2 orang dewasa di kelompok kecil 2.
Sedangkan, sesi 3 dimulai pada pukul 09.35 WIB dengan jumlah lansia sebanyak
2 orang di kelompok kecil 1 dan 1 orang lansia serta 1 orang dewasa di kelompok
kecil 2.

Di awal diskusi, fasilitator yaitu 2 orang mahasiswa magang memberikan


pretest secara lisan pada peserta mengenai istilah hipertensi, indikator hipertensi,
dan pantangan makan pada pasien hipertensi. Dari 14 peserta yang hadir, 8
diantaranya menyatakan kurang familier dengan kata hipertensi namun mengenal
istilah darah tinggi. 6 diantara 11 lansia berpendapat bahwa darah tinggi terjadi
apabila tekanan darah seseorang mencapai > 200 mmHg, 2 orang lansia
menyatakan > 180 mmHg, dan 3 orang lansia menyatakan bahwa tekanan

94
normalnya 140/90 mmHg. Dari 14 peserta, hanya 3 diantaranya yang telah
mengetahui pantangan bagi pasien hipertensi karena memiliki riwayat hipertensi.

Setelah dilakukan pretest, fasilitator membagikan leaflet dan melakukan


edukasi kepada peserta. Setelah fasilitator memberikan edukasi, fasilitator
memberikan waktu kepada peserta untuk bertanya dimana peserta sangat antusias
bertanya walaupun beberapa pertanyaannya tidak sesuai dengan materi yang
disampaikan. Sesi diskusi ditutup dengan posttest secara lisan kepada peserta
dimana hampir 100% peserta sudah dapat menjawab pertanyaan dengan benar.

g. Bentuk Evaluasi
Evaluasi dilakukan secara lisan menggunakan 3 pertanyaan yang sama.
Hasil pretest dan posttestnya yaitu:

Tabel 20. Hasil Prestest dan Posttest

Kelompok Pretest Posttest


Peserta
Umur 1 2 3 1 2 3
1 Lansia      
2 Lansia      
3 Lansia      
4 Lansia      
5 Lansia      
6 Lansia      
7 Lansia      
8 Lansia      
9 Lansia      
10 Dewasa      
11 Lansia      
12 Dewasa      
13 Lansia      
14 Dewasa      

95
Presentase Jawaban Benar 42,9% 42,9% 42,9% 100% 92,9% 100%

Berdasarkan tabel 5, dapat diketahui bahwa seluruh peserta telah


mengetahui jawaban pertanyaan 1 (istilah hipertensi) dan 3 (pantangan makanan
hipertensi) dengan benar sedangkan untuk pertanyaan 2 (indikator hipertensi)
masih ada 1 peserta yang memberikan jawaban yang salah. Sehingga, apabila
dilakukan edukasi kembali, maka materi yang perlu disampaikan lebih mendalam
adalah indikator hipertensi. Selain itu, materi yang masih perlu disampaikan
adalah mengenai pantangan dan pembatasan makanan pada pasien hipertensi. Hal
ini dikarenakan sebagian besar peserta hanya mengetahui 1 jenis pantangan
makanan sehingga perlu penjelasan berulang mengenai pantangan dan
pembatasan makanan yang ada. Untuk tindak lanjut yang bisa dilakukan yaitu
memberikan edukasi pada posyandu lansia di bulan selanjutnya dengan fasilitator
tenaga kesehatan puskesmas.
Tabel 21. Ringkasan Jawaban Peserta
Pertanyaan 1 Pertanyaan 2 Pertanyaan 3
Posttes
Pretest Pretest Posttest Pretest Posttest
t
Darah Tensi - > 200 - > - Tape ketan - BENGKOL
tinggi atau mmHg 140/90 - BENGKOL - Kurangi
tekanan - > 180 mmHg (bebek, micin dan
darah mmHg - > 140 bayam, bumbu
tinggi - Normaln mmHg emping, penyedap
ya - Tidak nangka, - Tape dan
140/90 tahu jeroan, durian
mmHg lemak) - Makanan dan
- Tidak - Ikan minuman
tahu - Sate olahan/kema
kambing san
- Jeroan

96
Grafik 5. Hasil Pretest dan Posttest

Berdasarkan hasil tersebut, terdapat peningkatan pengetahuan pada 8 peserta


dari total 14 peserta (57%) setelah dilakukan edukasi hipertensi dengan metode
FGD. Sedangkan, 6 peserta lainnya tidak mengalami peningkatan atau tetap
(43%).

Diagram 1. Peningkatan Pengetahuan Peserta

Walaupun jumlah sasaran hanya terpenuhi 47% oleh karena kurangnya


kesadaran lansia akan pentingnya mengikuti posyandu lansia, selama edukasi
peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan. Kedatangan lansia yang tidak

97
bersamaan membuat pelaksanaan FGD terhambat sehingga beberapa lansia yang
sudah datang terlebih dahulu harus menunggu lansia lain yang datang. Untuk
pelaksanaan kegiatan selanjutnya, diharapkan para kader dan bidan desa atau
pihak lain yang bersangkutan lebih bisa memberi pengertian kepada para lansia
akan pentingnya mengikuti posyandu lansia.

Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilakukan terdapat alternatif metode


edukasi yang bisa dilakukan yaitu dengan mengoptimalisasikan meja 4 atau meja
konseling di posyandu lansia. Namun, pengoptimalisasian ini tidak serta merta
dapat dilakukan begitu saja oleh karena banyaknya kader meja 4 yang kurang
percaya diri untuk memberikan konseling pada lansia ataupun kurangnya
kesadaran kader untuk menghidupkan meja 4. Sehingga, cara yang bisa dilakukan
yaitu pemberian edukasi dan media mengenai hipertensi dengan metode FGD
pada kader oleh tenaga kesehatan puskesmas sehingga kader dapat memberikan
konseling di posyandu lansianya menggunakan pengetahuan dan media yang
didapat. Pemberian edukasi dan media ini dapat dilaksanakan secara berulang
minimal 6 bulan sekali sehingga pengetahuan kader berkembang dan informasi
yang didapat selalu informasi yang baru.

Tabel 22. Tabel Perbandingan Alternatif Kegiatan yang Ada


Kegiatan Kelebihan Kekurangan

Edukasi pada lansia 1. Lansia dapat berbagi 1. Membutuhkan


dengan metode FGD oleh pengalamannnya sumber daya manusia
tenaga kesehatan dengan lansia yang yang banyak
puskesmas diikuti lain 2. Lansia yang sudah
pembagian leaflet datang lebih dulu
harus menunggu
lansia lain untuk
datang
Edukasi pada kader 1. Dapat dilakukan 1. Lansia hanya bisa
dengan metode FGD oleh sebagai upaya menceritakan
tenaga kesehatan menghidupkan meja pengalamannya pada
puskesmas diikuti 4 di posyandu lansia kader

98
pembagian leaflet 2. Lansia yang telah
dicek kesehatannya
dapat langsung
berkonsultasi

99
LAMPIRAN

A. Leaflet

100
B. Dokumentasi

Gambar 5. Registrasi Peserta

Gambar 3. Cek
Tekanan Darah
oleh Bidan Desa

. 4.Edukasi Kelompok Kecil 1


Gambar

Gambar 6. Edukasi Kelompok Kecil 2


101
DAFTAR PUSTAKA

Andria, K.M., 2013. Hubungan antara Perilaku Olahraga, Stres dan Pola Makan
dengan Tingkat Hipertensi pada Lanjut Usia di Posyandu Lansia Kelurahan
Gebang Putih Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya. Jurnal Promkes, 1(2),
pp.111-117.

Arif, D., Rusnoto, R. and Hartinah, D., 2013. Faktor–Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Pusling Desa Klumpit Upt
Puskesmas Gribig Kabupaten Kudus. Jurnal Ilmu Keperawatan dan
Kebidanan, 4(2).

Davis, L. 2004. Cardiovascular Nursing SECRET. Elsevier MOSBY: USA.

Franklin SS, Larson MG, Khan SA, et al. 2001. Does the relation of blood
pressure to coronary heart disease risk change with aging? The Framingham
Heart study. Circulation, 103, 1245-9.

Guyton AC. 1994. Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta: Binarupa Aksara.

James JE. 1997. Is habitual caffeine use a preventable cardiovascular risk factor?.
Lancet, 349, 279–81.

James PA, Oparil S, Carter BL, Cushman WC, Dennison-Himmelfarb C, Handler


J, Lackland DT, LeFevre ML, MacKenzie TD, Ogedegbe O, Smith Jr SC,
Svetkey LP, Taler SJ, Townsend RR, Wright Jr JT, Narva AS, Ortiz E. 2014.
2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood
Pressure in Adults Report From the Panel Members Appointed to the Eighth
Joint National Committee (JNC 8). JAMA, 311(5), 507-520.
doi:10.1001/jama.2013.284427.

Jansen, S. 2006. Makanan Fungsional. Yogyakarta.

Myers MG. 1988. Effects of caffeine on blood pressure. Arch Intern Med, 148,
1189–93.

102
Nurminen ML, Niittynen L, Korpela R, Vapaatalo H. 1999. Coffee, caffeine and
blood pressure: a critical review. Eur J Clin Nutr, 53, 831–9.

Pestana, M. 2001. Hypertension in the elderly. Int. Urol. Nephrol. 33, 563–569.

Rigaud AS and Forette, B. 2001. Hypertension in Older Adults. Journal of


Gerontology: MEDICAL SCIENCES, Vol. 56A, No. 4, M217–M225.

Smits P, Lenders JW, Thien T. 1990. Caffeine and theophylline attenuate


adenosine-induced vasodilation in humans. Clin Pharmacol Ther, 48, 410–
8.

Tochikubo, O., Ikeda, A., Miyajima, E., & Ishii, M. (1996). Effects of insufficient
sleep on blood pressure monitored by a new multibiomedical
recorder. Hypertension, 27(6), 1318-1324.

Virdis A, Giannarelli C, Fritsch Neves, M, Taddei S, Ghiadoni L. 2010. Cigarette


Smoking and Hypertension. Current Pharmaceutical Design, Volume 16,
Number 23, pp. 2518-2525(8).

103
c. Gizi Kurang Anak Sekolah
STUDI KASUS III
Judul: Pembagian Poster Guna Edukasi Gizi Seimbang untuk
Meningkatkan Status Gizi Siswa Sekolah Dasar di Wilayah Kerja
Puskesmas Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang
(Disusun oleh: Airin Levina, 101411231038)

Salah satu faktor penting dalam pengembangan kualitas sumber daya


manusia adalah gizi (Syatyawati, 2013). Gizi merupakan salah satu penunjang
status kesehatan dan produktivitas. Status gizi yang baik akan meningkatkan
status kesehatan dan produktivitas. Zat gizi digunakan untuk menjalankan fungsi
normal kehidupan. Karbohidrat berperan sebagai sumber energi, protein sebagai
zat pembangun, lemak sebagai cadangan energi, vitamin dan mineral sebagai zat
yang mendukung terjadinya metabolisme dari zat gizi makro. Gizi diperlukan di
semua daur atau tahap dalam kehidupan, mulai dari janin dalam kandungan
hingga masa lansia.

Gizi pada anak sekolah dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan,


daya tahan serta energi untuk belajar dan menjalankan fungsi normal kehidupan
sehari-harinya (Siagian et al, 2012). Kekurangan gizi akan berdampak pada
rendahnya kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang (Pujianti,
2013). Pada magang gizi bidang masyarakat di Puskesmas Pulorejo, salah satu
program kesehatan yang bersasaran anak sekolah adalah skrining kesehatan.
Skrining kesehatan ini meliputi:

a. Pemeriksaan fisik kepada siswa baru (kelas I, VII, dan X) di sekolah


dasar dan sekolah menengah. Pemeriksaan fisik ini meliputi:
- Pemeriksaan gigi dan mulut
- Pemeriksaan ketajaman indra pengelihatan
- Pemeriksaan telinga
- Pemeriksaan kuku
- Pemeriksaan kelenjar gondok
b. Pemeriksaan garam beryodium kepada siswa kelas V
104
c. Pengukuran berat dan tinggi badan kepada seluruh siswa. Output dari
pengukuran ini adalah skrining gizi yaitu penentuan status gizi siswa.
Dari data berat dan tinggi badan, dilakukan perhitungan sesuai
kesepakatan yang digunakan instansi, yaitu indeks massa tubuh (IMT)
dan diinterpretasikan menjadi status gizi siswa sesuai nilai cut off.
Adapun klasifikasi nilai cut off adalah sebagai berikut:

Kurang dari 18,5 = Kurus

18,5 – 22,9 = Normal

Lebih dari 23 = Gemuk

(Sumber: WHO Asia)


Adapun jumlah sekolah yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas
Pulorejo adalah 32 SD sederajat, baik negeri maupun swasta; dan 21 SMP
sederajat, baik negeri maupun swasta. Data berat dan tinggi badan didapat dari
pengukuran langsung yang dilakukan oleh pihak UKS, kemudian data tersebut
diserahkan kepada petugas gizi puskesmas dengan koordinasi oleh pemegang
program kesehatan anak sekolah. Dari data tersebut didapatkan bahwa banyak
anak sekolah yang memiliki status gizi kurus, dengan indeks massa tubuh kurang
dari 18,5. Berikut data beberapa sekolah beserta status gizi seluruh siswanya:

Tabel 23. Gambaran Status Gizi di Beberapa Sekolah Dasar Tahun 2017
Nama Sekolah Jumlah Murid Status Gizi

Kurus Normal Gemuk

SDN Rejoagung I 73 64 8 1

SDN Rejoagung II 108 89 14 5

SDN Rejoagung III 110 84 22 4

SDN Pulorejo IV 185 152 27 6

SDN Sidowarek II 68 59 8 1

SDN Sidowarek III 94 73 11 10

105
SDN Jombok II 150 125 15 10

SDI Trunojoyo 75 69 3 3

MI Al Ilahiyah 67 63 2 2

MI Hadisalam 241 134 66 41

MI Al Hikmah 171 152 15 4

Total: 1342 1064 191 87

(79,3%) (14,2%) (6,5%)

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa SD di


wilayah kerja Puskesmas Pulorejo memiliki status gizi kurus. Berikut analisis
faktor penyebab masalah tersebut:

Sumber: Adaptasi dari kerangka konsep penyebab masalah gizi UNICEF


Anak sekolah rawan mengalami kekurangan asupan gizi diakibatkan
karena faktor ekonomi dan kurangnya pengetahuan (Anzarkusuma et al, 2014).
Asupan yang kurang menyebabkan ketidakseimbangan energi. Padahal,
keseimbangan energi dibutuhkan di fase anak sekolah ini, khususnya untuk
pertumbuhan dan perkembangan sistem reproduksi (Blake, 2015). Ketika asupan
106
kurang, tubuh memiliki cara adaptasi untuk menanggulanginya yaitu dengan
membongkar cadangan energi dalam tubuh (Hall et al, 2012). Cadangan energi
yang dibongkar pertama kali adalah glikogen, kemudian lemak, dan pada tahap
kekurangan energi kronis terjadi perombakan simpanan protein / otot menjadi
energy (Hall et al, 2012). Akibatnya, berat badan dapat menurun dan menjadi
kurang dari standar.

Fungsi zat gizi untuk mendukung pertumbuhan anakpun tidak berjalan


akibat asupan yang kurang. Akibat yang ditimbulkan dalam jangka waktu pendek
adalah penurunan status gizi anak, dibuktikan dengan tingginya jumlah anak yang
kurus. Kekurangan nutrisi kronis berhubungan dengan perkembangan kognitif
yang lambat dan masalah kesehatan lebih lanjut di masa yang akan datang yang
berdampak pada menurunnya usia harapan hidup (Srivastava et al, 2012).

Dari observasi langsung yang dilakukan kepada anak sekolah, didapatkan


dua penyebab yang saling berhubungan dengan kurangnya asupan, yaitu
kebiasaan tidak sarapan dan jajan sembarangan. Sarapan menyumbang energy dan
zat gizi yang penting bagi aktivitas anak pada hari tersebut (Garg et al, 2014).
Kebiasaan tidak sarapan menyebabkan asupan gizi tidak optimal (Garg et al,
2014). Anak tidak memiliki energi lebih lanjut untuk melakukan aktivitasnya pada
hari tersebut, anak tersebut lapar. Perut anak kosong dan kadar glukosa darah
anakpun menurun. (Sharon, 1998). Guna mengatasi hal tersebut, anak sekolah
akan jajan. Jajanan yang tersedia di sekolah kebanyakan adalah jajanan yang
tinggi lemak dan gula. Banyak anak yang lebih memilih makan jajan daripada
makan nasi, serta minum es kemasan daripada air putih.

Kebiasaan yang demikian berulang dan banyak dilakukan oleh siswa


sekolah dasar, dari kelas I hingga VI. Siswa yang membawa bekal dari rumah
sangat jarang ditemui. Jika kebiasaan ini terus-menerus dilakukan, siswa akan
memiliki risiko defisiensi zat gizi, khususnya vitamin dan mineral. Penelitian
Garg et al tahun 2014 menyebutkan bahwa ada perbedaan signifikan antara
asupan jenis makanan serealia, susu, buah, sayuran berdaun hijau, dan lemak pada
anak yang sarapan dan tidak sarapan.

107
Kekurangan vitamin dan mineral juga berdampak terhadap pada
penurunan sistem imunitas anak sekolah. Hal ini berkaitan dengan terjadinya
penyakit infeksi, dimana penyakit infeksi dapat timbul karena sistem imunitas
yang rendah. Ketika terjadi penyakit infeksi, nafsu makan anak juga dapat
menurun sehingga dapat menurunkan asupan juga. Oleh karena itu, penyebab
memiliki hubungan saling timbal balik. Dalam jangka panjang, kebiasaan tidak
sarapan dan jajan sembarangan akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit
degeneratif (Babara, 2014).

Hygiene sanitasi, pola asuh yang salah, faktor ekonomi, dan kurangnya
pengetahuan menjadi faktor penyebab tidak langsung. Kebiasaan mencuci tangan
sebelum makan belum menjadi budaya dari semua siswa, selain itu kebersihan diri
siswa juga tidak terjaga. Data pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa 64 dari 487
siswa SD sederajat memiliki kuku panjang, hal ini membuktikan bahwa masih ada
siswa yang tidak menjaga kebersihan dirinya. Selain itu, 75% diantaranya
memiliki gigi karies. Indikasi gigi karies ini dapat menunjukkan bahwa kesadaran
dan perilaku menggosok gigi tidak menjadi kebiasaan, serta pola konsumsi yang
tinggi gula menjadi kebiasaan. Orang tua juga lebih memilih memberikan uang
jajan kepada anaknya dibandingkan dengan menyediakan sarapan atau bekal
kepada anak. Kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya zat gizi dan makanan
seimbang juga menjadi faktor penyebab tidak langsung yang mempengaruhi
perilaku ini. Paradigma 4 sehat 5 sempurna masih lebih melekat pada masyarakat
dibandingkan dengan pedoman umum gizi seimbang.

Dari berbagai faktor penyebab di atas, faktor pengetahuan mengenai gizi


seimbang penting untuk ditingkatkan kepada siswa sekolah dasar sederajat.
Edukasi gizi yang dilakukan adalah menggunakan poster. Poster sebagai media
visual akan lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa, secara khusus
siswa sekolah dasar karena siswa lebih cenderung tertarik dengan gambaran visual
serta penjelasan singkat dan jelasnya daripada siswa diberikan edukasi hanya
melalui media ceramah saja. Selain itu, media poster dipilih karena waktu magang
gizi masyarakat yang cukup singkat; yang tidak memungkinkan mahasiswa
berkeliling ke seluruh sekolah dan memberikan edukasi langsung dengan metode
penyuluhan atau ceramah. Poster ini juga dapat digunakan sebagai media edukasi
108
gizi yang dilakukan oleh pihak lain, seperti petugas gizi dan promotor kesehatan
Puskesmas Pulorejo. Poster ini dibagikan ke seluruh sekolah di wilayah kerja
Puskesmas Pulorejo sebab status gizi siswa yang kurus tersebar di seluruh sekolah
yang ada di berbagai desa. Adapun perencanaan program ini adalah sebagai
berikut:

1. Penetapan tujuan kegiatan


Tujuan kegiatan: meningkatkan pengetahuan siswa SD mengenai gizi
seimbang
2. Sasaran: siswa SD sederajat
3. Strategi: membuat dan membagikan poster ke sekolah (SD se-derajat) di
wilayah kerja Puskesmas Pulorejo, bekerjasama dengan pemegang
program UKS
4. Kegiatan
Selain pembagian poster, poster juga dapat digunakan sebagai media
edukasi gizi oleh pihak sekolah maupun pihak puskesmas, khususnya
promosi kesehatan bagi siswa
5. Output dan outcome
Output yang diharapkan adalah siswa mengetahui pentingnya
pemenuhan gizi seimbang, sehingga siswa mulai menerapkan pola makan
yang lebih baik. Pola makan itu dapat diukur dengan meningkatnya
kebiasaan sarapan, pemilihan jajanan yang sehat, serta kualitas makanan
yang dimakan oleh siswa.
Outcome yang diharapkan adalah peningkatan status gizi siswa,
sehingga pada skrining mendatang terjadi penurunan jumlah siswa yang
memiliki status gizi kurus.
6. Biaya
Biaya pencetakan poster: 32 x Rp 3.000,00 = Rp 96.000,00
32 poster akan dibagikan ke SD sederajat
7. Jadwal
Tanggal Kegiatan

2 – 10 Oktober 2017 Skrining di SD sederajat

109
11 – 14 Oktober 2017 Analisa data, pemecahan masalah,
pembuatan poster

15 Oktober 2017 Pencetakan dan penggandaan poster

16 Oktober 2017 Pelimpahan poster kepada pemegang


program UKS

16 – 26 Oktober 2017 Skrining di SMP sederajat, distribusi poster


ke SD dan SMP sederajat

Dalam pelaksanaan program ini, ada beberapa hal yang ditambahkan


seperti perlunya edukasi gizi seimbang kepada siswa sekolah lanjutan. Adapun
dalam pelaksanaannya:

a. Penetapan tujuan kegiatan


Tujuan umum:
- Meningkatkan status gizi siswa

Tujuan khusus:

- Meningkatkan pengetahuan siswa mengenai gizi seimbang


- Memudahkan petugas untuk memberikan edukasi mengenai gizi
seimbang
b. Sasaran: siswa SD dan SMP sederajat, petugas UKS di masing-masing
sekolah, petugas puskesmas
c. Materi: Pedoman Umum Gizi Seimbang
d. Media: Poster, distribusi melalui pemegang program UKS
e. Jadwal kegiatan:
Tanggal Kegiatan

2 – 10 Oktober 2017 Skrining di SD sederajat

11 – 14 Oktober 2017 Analisa data, pemecahan masalah,


pembuatan poster

110
15 Oktober 2017 Pencetakan dan penggandaan poster

16 Oktober 2017 Pelimpahan poster kepada pemegang


program UKS

16 – 26 Oktober 2017 Skrining di SMP sederajat, distribusi poster


ke SD dan SMP sederajat

f. Bentuk evaluasi
- Evaluasi biaya
Biaya pencetakan poster: 55 x Rp 3.000,00 = Rp 165.000,00
32 poster akan dibagikan ke SD sederajat, 21 poster ke SMP
sederajat, sisa poster akan diberikan ke Puskesmas Pulorejo dan
Puskesmas Pembantu.
- Evaluasi distribusi dan penggunaan poster
Poster didistribusikan melalui bidan desa yang dikoordinasikan
oleh pemegang program UKS kepada petugas UKS di SD dan SMP
se-wilayah kerja Puskesmas Pulorejo. Sisa poster diberikan ke
Puskesmas Pulorejo dan Puskesmas Pembantu sebagai sarana
edukasi gizi dan promosi kesehatan. Evaluasi ini dilakukan dengan
koordinasi kepada pemegang program UKS dan gizi.
- Evaluasi jangka panjang
Dilakukan pada tahun depan, saat skrining dilakukan kembali
dengan melihat adanya peningkatan status gizi siswa dan
penurunan jumlah siswa yang kurus.

PERBANDINGAN ANTARA PROGRAM YANG DILAKUKAN DAN


PROGRAM ALTERNATIF LAIN UNTUK MEMECAHKAN MASALAH

No Usulan Kelebihan Kekurangan


Program

1 Pembagian Dapat menjangkau semua Tanpa edukasi lebih lanjut


poster ke sekolah dalam waktu yang oleh petugas UKS atau

111
sekolah – singkat, lebih cost effective. puskesmas, pesan poster
bekerja sama Poster dapat digunakan kurang efektif
dengan sebagai media edukasi oleh tersampaikan kepada
pemegang petugas kesehatan. Media audiens (siswa)
program visual lebih menarik perhatian
UKS. siswa.

2 Penyuluhan Siswa langsung diberikan Butuh SDM dan waktu


mengenai edukasi melalui penyuluhan, yang panjang. Selain itu,
Gizi pemateri dapat melihat secara tanpa menggunakan media
Seimbang langsung bagaimana respon visual, perhatian siswa
siswa ketika diberikan materi akan cenderung hanya
– apakah dapat menerima dalam jangka pendek.
dengan baik ataupun tidak.

3 Kolaborasi Intervensi ini termasuk dalam Perlu ditingkatkan


untuk intervensi sensitif, yang kesadaran masyarakat dan
menetapkan menurut penelitian lebih komitmen lintas sektor
kebijakan efektif daripada intervensi yang berkelanjutan untuk
seperti: spesifik. Kebijakan sarapan melakukan kegiatan ini.
Sarapan Sehat sehat dimaksudkan untuk
dan larangan membudayakan sarapan bagi
penjualan siswa, sehingga terjadi
jajan yang peningkatan status gizi.
tidak sehat di Larangan penjualan jajanan
kawasan yang tidak sehat mencegah
sekolah terjadinya masalah kesehatan
yang berdampak pada
penurunan status gizi siswa.

112
LAMPIRAN
Poster

113
DAFTAR PUSTAKA

Anzarkusuma, Indah Suci et al. 2014. Status Gizi berdasarkan Pola Makan Anak
Sekolah Dasar di Kecamatan Rajeg Tangerang. Indonesian Journal of
Human Nutrition, Desember 2014, Vol 1, No 2:135 – 148.

Barbara Mullan CW, Emily Kothe, Kathleen O’Moore, Kristen Pickles and Kirby
Sainsbury. An examination of the demographic predictors of adolescent
breakfast consumption, content, and context. BMC Public Health. 2014:1-
9.

Blake, Taylor E. 2015. Relationship of energy balance and body composition in


elite female gymnast. Theses 11-11-2015 Departement of Nutrition
Georgia State University.

Garg, Meenakshi et al. 2014. Effect of breakfast skipping on nutritional status and
school performance of 10-16 years old children of Udupi District. Health
and Population Perspective and Issues 37 (3 & 4), 98 – 117, 2014.

Hall, Kevin D et al. 2012. Energy balance and its components: implication for
body weight regulation. American Journal of Clinical Nutrition, April
2012; 95(4): 989 – 994.

Pujiati, Eny. 2013. Status gizi siswa SDN I Buara Kecamatan Karanganyar
Kabupaten Purbalingga. eprints.uny.ac.id/17616/. Diakses pada 26
Oktober 2017

Sharon Rofles, L. D. (1998). Life Span Nutrition. USA: Wadsworth Publishing


Company.

Siagian, Darmawan et al. 2012. Gambaran status gizi anak sekolah dasar daerah
eks-transmigrasi dan penduduk lokal di Kecamatan Palawan Kabupaten
Sarolangun Provinsi Jambi tahun 2012.
download.portalgaruda.org/article.php?article=131344&val=4108. Diakses
pada 26 Oktober 2017.

114
Srivastava, Anurag. 2012. Nutritional status of school-age children – A scenario of
urban slums in India. Arch Public Health 2012; 70(1):8

Syatyawati, Riska. 2013. Hubungan antara status gizi dan prestasi belajar anak di
Desa Grenggeng Kecamatan Karanganyar Kebumen.
eprints.ums.ac.id/24354/12/NASKAH_PUBLIKASI.pdf. Diakses pada 26
Oktober 2017.

115
BAB V
PENUTUP

6.1 Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan evaluasi magang gizi masyarakat dilakukan oleh


pembimbing lapangan dan dosen FKM Unair. Hal ini dilakukan dengan
cara:

a. Pembimbing lapangan (Petugas gizi Puskesmas Pulorejo)

Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan diskusi, baik


mengenai teknis pelaksanaan magang dan keilmuan. Hal ini
dilakukan setiap hari selama jam kerja magang.

b. Dosen FKM Unair

Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan supervisi, yakni


pada hari Rabu, 4 Oktober 2017. Dalam supervise oleh dosen
ke Puskesmas Pulorejo, diskusi mengenai teknis pelaksanaan
magang dan keilmuan juga dilakukan.

Selain itu, monitoring dan evaluasi kegiatan magang juga dilihat


dari lembar presensi dan catatan harian kegiatan mahasiswa selama
magang yang diketahui oleh pembimbing lapangan. Evaluasi dan penilaian
magang dilakukan oleh pembimbing lapangan, dosen FKM Unair, dan
petugas gizi di Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang berdasarkan
hardskill maupun softskill dan berdasarkan nilai kelompok dan individu.
Presentasi dan pelaporan hasil magang dilakukan di Dinas Kesehatan
Kabupaten Jombang pada hari Rabu, 18 Oktober 2017.

6.2 Kesimpulan

Kegiatan UKP, kefarmasian, dan laboratorium yang ada di


Puskesmas Pulorejo yaitu 4 kegiatan sedangkan kegiatan UKM yang ada
yaitu 19 kegiatan. Susunan organisasi UPTD Puskesmas Pulorejo meliputi
1 (satu) kepala puskesmas yang mambawahi 1 (satu) kasubag TU dan 1

116
(satu) tim mutu. Kasubag TU membawahi 4 sub bagian administrasi (data
dan informasi, keuangan, umum dan kepegawaian, serta rumah tangga)
sedangkan kepala puskesmas membawahi 3 bagian (jaringan pelayanan
puskesmas dan fasyankes, UKM serta UKP, kefarmasian, dan
laboratorium). Program kegiatan terkait perbaikan gizi di Puskesmas
Pulorejo telah berjalan dengan cukup baik dan sesuai dengan rencana yang
telah disusun petugas gizi yang ada. Beberapa program yang belum
berjalan secara maksimal dapat dimaksimalkan dengan cara
mengoordinasikan program secara lebih intens dengan sektor kesehatan
lain contohnya bidan desa.

Berdasarkan hasil analisis situasi program yang ada, terdapat 3


(tiga) masalah utama gizi dan kesehatan yang terkait gizi di Puskesmas
Pulorejo. Urutan prioritas masalah tersebut adalah masalah N/D yang
rendah, hipertensi lansia, dan gizi kurang anak sekolah. Untuk mengatasi
masalah tersebut banyak upaya yang dapat dilakukan. Masalah N/D yang
rendah dapat diatasi dengan cara pemberian bantuan MP-ASI yang sesuai
standar dan edukasi yang disertai praktik pembuatan MP-ASI yang tepat.
Masalah hipertensi lansia dapat diatasi dengan cara pemberian edukasi
pada lansia atau kader posyandu lansia. Sedangkan, masalah gizi kurang
anak sekolah dapat diatasi dengan cara pemberian media penyuluhan gizi,
edukasi gizi, dan penetapan kebijakan gizi di sekolah.

6.3 Saran

Adapun saran yang diberikan kepada Puskesmas Pulorejo dalam


proses pelaksaan magang bidang gizi masyarakat ini, antara lain:

a. Program pemantauan status gizi balita

1. Peningkatan kepercayaan diri kader untuk memberikan konseling


kepada ibu balita di posyandu

2. Peningkatan ketrampilan kader dalam melakukan pengukuran berat


badan dan tinggi badan

117
3. Pemberian leaflet atau media edukasi lain ke posyandu sebagai
saran edukasi gizi balita

4. Pengembangan KP ASI di wilayah desa masing-masing, secara


khusus untuk mendukung pemberian ASI Eksklusif ibu kepada
bayi

b. Program pemantauan gizi ibu hamil

1. Pengembangan pojok gizi untuk konseling kepada calon ibu hamil

2. Pengembangan konseling ANC pada ibu hamil menggunakan


media yang tersedia, seperti leaflet dan food model

c. Program pemantauan gizi anak sekolah

1. Penggunaan software WHO Antro Plus sebagai media penentuan


status gizi anak sekolah berdasarkan indeks IMT/U

2. Kolaborasi puskesmas dengan pihak sekolah, desa, dan kecamatan


untuk melakukan edukasi gizi, baik melalui penyuluhan bersama
orang tua ataupun dengan pembuatan kebijakan seperti sarapan
bersama di sekolah guna meningkatkan kebiasaan siswa dalam
sarapan dan meningkatkan status gizi siswa.

d. Program lansia

1. Penggunaan metode kelompok kecil atau Focus Group Discussion


sebagai cara edukasi kepada lansia.

2. Penggunaan media untuk edukasi kepada lansia, seperti leaflet,


poster, dan food model

e. Rawat jalan dan rawat inap

1. Pengembangan visit rawat inap pasien dengan melakukan


monitoring dan evaluasi setiap hari

2. Pengembangan rawat jalan dengan pencatatan rekam gizi pasien

118
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, S., Rahman, F., Wulandari, A., dan Anhar, V. Y. (2016). Buku Ajar Dasar-
Dasar Manajemen Kesehatan. Banjarbaru: Pustaka Banua.

Badan Pusat Statistik. (2016). Kecamatan Ngoro dalam Angka 2016. Badan Pusat
Statistik. Jakarta, Indonesia.

Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. (2016). Profil Kesehatan Kabupaten


Jombang Tahun 2015. Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Jombang,
Indonesia.

Kepner, C. H dan Tregoe, B. B. (1981). Manajer yang Rasional Edisi Terjemahan.


Jakarta: Penerbit Erlangga.

Moerdiyanto. (2011). Teknik Monitoring dan Evaluasi (Monev) dalam Rangka


Memperoleh Informasi untuk Pengambilan Keputusan Manajemen.
Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta, Indonesia.

Sugianto, A. (2012). Metode Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan


Masyarakat. Paper. Program Studi Ilmu Peternakan, Universitas Jenderal
Soedirman. Purwokerto, Indonesia.

Suryana, A. (2010). Strategi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Sistem


penjaminan Mutu Internal Sekolah. Universitas Pendidikan Indonesia.

Symond, D. (2013). Penentuan Prioritas Masalah Kesehatan dan Prioritas Jenis


Intervensi Kegiatan dalam Pelayanan Kesehatan di Suatu Wilayah. Jurnal
Kesehatan Masyarakat. 7(2): 94-100.

119
LAMPIRAN

DOKUMENTASI KEGIATAN

LAMPIRAN

Konseling Rawat Jalan di Poli Gizi


Puskesmas Pulorejo

Konseling ANC di Poli Gizi


Puskesmas Pulorejo
Penyuluhan MP-ASI pada Pertemuan
PKK di Balai Desa Jombok

Survei Kadarzi di Posyandu Kepuh Kegiatan Posyandu Bakalan, Pulorejo


Pandak, Sidowarek dan Pengambilan Data Primer

120
Skrining Kesehatan di SD dan MI Edukasi Gizi Ibu Hamil pada Kelas Ibu
Wilayah Kerja Puskesmas Pulorejo Hamil Desa Jombok

Konseling Rawat Inap Puskesmas Survei Kadarzi di Posyandu Payak


Pulorejo Santren, Rejoagung

Konseling Rawat Jalan di Poli Gizi Senam Bersama Anggota Prolanis


Puskesmas Pulorejo Puskesmas Pulorejo

121
LAMPIRAN: PRESENSI KEGIATAN MAGANG

122
123
124
125
126
127
ALAMAT SURAT:

Sekretariat Departemen Gizi

Kampus Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR

Kampus C Mulyorejo, Surabaya 60115

Telp. : 031-5920948, 5920949


Fax : 031-5924618
E-mail : fkm@unair.ac.id
http://www.fkm.unair.ac.id

ALAMAT PESERTA MAGANG

1. Ananda Zahrah S. N.
Pacar Kembang 5 No. 43C Surabaya
Hp 085748334080
E-mail anandazsn23@gmail.com
2. Airin Levina
Dharma Husada Indah Utara XIV / U406
Hp 08990582615
E-mail airinlevina@gmail.com
3. Dessy Nur Fadzila
Jl. Mulyorejo Tengah No.2 Surabaya
Hp 085784486610
E-mail dfadzila16@gmail.com

128