Anda di halaman 1dari 1

Senin, Februari 21

Menyingkap Misteri
MENYINGKAP TABIR MISTERI BUDAYA JAWA KUNO

P.M. DARUDRIYA SUMODININGRAT yang dilahirkan di solo pada 11 juli 1945 masih
terhitung turunan Dinasti Paku Buwono dari solo. Ayahnya, BPM, Mr. soemodiningrat
(Sarjana hukum lulusan Leiden itu) sawaktu masa remajanya bernama kecil RM.
Tantanus atau bandoro Pangeran, adalah anak dari GPH. Koesoemoyuda (R.M Abimayu).
Sedang GPH. Koesoesmoyuda sendiri adalah anak kandung dari Paku Buwono X yang
dimasa remajanya bernama R.M. Koesno.
Lebih jauh P.B.X. mengangkat cucunya R.M. Tamtanus menjadi anak,
berstatus anak. Hingga secara defacto R.M. Daradriya sumodiningrat adalah buyut
dari P.B.X. tapi secara de jure adalah cucu-cucunya! Kisahnya dimulai ditahun 1964,
pada saat R.M. Darudriya sumodiningrat berusia 19 tahun, sakit selama sebulan.
Badanya panas sekali, kadang2 sampai tidak sadarkan diri. Selama sebulan iu, dia
sering sakit seorang tua dalam mimpinya selalu muncul memberikan wejangan. Dari
foto, dia kenal orang tua itu sebagai Paku Buwono X (1893-1939), neneknya; setelah
sembuh mas daru, demikian panggilan R.M Darudriya Sumodiningrat dalam kehidupan
sehari-hari sering pergi kebukit2 gunung lawu, kadang2 sampai 3-4 bulan, kemudian
ke solo lagi. Puncak puncak gunung lawu yang terletak 40km dari solo dan sering
oleh masyarakat Jawa dianggap merupakan �Gunung Mahendra� seperti halnya gunung
himalaya bagi orang India, seperti hargo gumilang, hargo puruso, hargo dalem dan
hargo dumilah sering jadi tempatnya menyepi.
Setelah hal itu berlangsung agak lama, kalangan keluarganya mulai
merasakan perubahan baru dalam diri Mas Daru. Secara sederhana mas Daru menguraikan
wejangan yang diperolehnya dari puncak2 gunung lawu tersebut. Kalangan keluarga
Darudriya dari penuturan itu memaklumi bahwa wahyu yang diterima pemuda tersebut
adalah ilmu SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATE DIYU, subuah ilmu jawa kuno yang
tadinya menjadi salah satu pegangan ilmu kraton solo.
Negara kita sekarang sudah menjadi republik. Semua perbendaharaan
budaya kuno kita harus kita hidangkan ke majelis permusyawaratan umum, supaya
diteliti, dibina dan disempurnakan. Siapa tau ada gunanya untuk membangun
masyarakat modern indonesia sekarang! Terlebih ilmu Sastra Jendra Hayuningrat
Pangruwaing Diyu pada wujud luwarnya mempunyai metode �ilmu pengobatan dan ilmu
beladiri�. Kata mas Daru. Perbendaharaan budaya Indonesia kuno SASTRA Jendra
Hayuningrat Pangruwaing diyu ini bisa diuraikan dengan 4 bagian : (1) informasi
mitologi, (2) konsep manusia dan alam (3) ilmu beladiri dan (4) ilmu pengobatan.
Serta yang ke (5) adalah renungan.
Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwaing Diyu, dibangun dari kata-kata
jawa kuno �sastra� (tulisan atau seratan), �jendra� (agung,besar), �hayu� (damai)
�ningrat� (dunia), �pangruwat� dengan ditambah akhiran �ing� (pangruwat-
membudayakan, mengatur) dan �diyu� (raksasa).