Anda di halaman 1dari 10

Pdgk 4301 RANGKUMAN EVALUASI PEMBELAJARAN DI SD MODUL 1 - 6

MODUL 1
KEGIATAN BELAJAR 1

A. Konsep Dasar Evaluasi Pembelajaran


Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu tes, pengukuran, dan penilaian. Namun evaluasi tersebut memiliki makna yang berbeda dengan
penilaian, pengukuran, maupun tes. Evaluasi merupakan suatu proses menyediakan informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan
harga dan jasa ( the worth and merit ) dari tujuan yang dicapai, desain, implementasi dan dampak untuk membantu membuat keputusan, pertanggung jawaban
serta meningkatkan pemahaman terhadap fenomena. Menurut rumusan tersebut, inti dari evaluasi adalah penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Pengukuran, penilaian dan evaluasi bersifat heirarki. Evaluasi didahului dengan penilaian sedangkan penilaian didahului dengan pengukuran. Pengukuran
diartikan sebagai kegiatan membandingkan hasil pengamatan dengan criteria, penilaian (assessment) merupakan kegiatan menafsirkan dan mendeskripsikan
hasil pengukuran, sedangkan evaluasi merupakan pentapan nilai atau implikasi perilaku.
Dalam penjelasan yang dipaparkan Brinkerhoff (1986:ix) menunjukan bahwa, dalam melakukan evaluasi, evaluator pada tahap awal harus focus menentukan
tahap yang akan dievaluasi dan desain yang akan digunakan. Hal ini berarti harus ada kejelasan apa yang akan dievaluasi yang secara implicit menekankan
adanya tujuan evaluasi, serta adanya perencanaan bagaimana melaksanakan evaluasi. Selanjutnya dilakukan pengumpulan data, menganalisis dan membuat
interpretasi terhadap data yang terkumpul serta membuat laporan. Selain itu, evaluator juga harus melakukan pengaturan terhadap evaluasi dan mengevaluasi
apa yang telah dilakukan dalam melaksanakan evaluasi secara keseluruhan.
Sedangkan menurut Weiss (1972) ada empat hal yang di tekankan pada rumusan tujuan evaluasinya, yaitu : menunjuk pada penggunaan metode penelitian,
menekankan pada hasil suatu program, pengguna criteria untuk menilai dan kontirbusi terhadap pengambilan keputusan dan perbaikan program di masa
mendatang. Jadi berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan,
mendeskripsikan, menginterpretasikan dan menyajikan informasi tentang suatu program. Untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan, menyusun
kebijakan maupun menyusun program selanjutnya. Tujuan dari evaluasi tersebut adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan objektif tentang suatu
program informasi tersebut dapat berupa proses pelaksanaan program, dampak atau hasil yang dicapai, efisiensi serta pemanfaatan hasil evaluasi yang di
putusaskan dari program itu sendiri yaitu untuk mengambil keputusan apakah dilanjutkan, diperbaiki atau dihentikan. Wujud dari hasil evaluasi adalah
rekomendasi dari evaluator untuk pengambil keputusan

B. Penilaian Dalam Evaluasi Pembelajaran


Perkembangan konsep penilaian pendidikan yang ada pada saat ini kearah yang lebih luas. Konsep- konsep tersebut pada umumnya berkisah pada
pandangan bahwa penilaian tidak hanya diarahkan kepada tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan tetapi juga terhadap tujuan- tujuan yang tersembunyi
termasuk efek samping yang mungkin berdampak pada proses penilaian. Selain itu penilaian tidak hanya melalui penilaian perilaku siswa tetapi juga melakukan
pengkajian terhadap komponen-komponen pendidikan baik masukan proses maupun keluaran dan penilaian tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui tercapai
tidaknya tujuan-tujuan yangb telah ditetapkan tetapi juga untuk mengetahui tujuan-tujuan tersebut penting bagi siswa dan bagaimana siswa mencapainya.
Mengingat luasnya tujuan dan objek penilaian maka alat yang digunakan dalam penilaian sangat beraneka ragam, tidak hanya terbatas pada tes tetapi juga alat
penilaian bukan tes. Atas dasar itu maka lingkup dasar penilaian mencakup 3 sasaran pokok yaitu program pendidikan, proses pembelajaran dan hasil belajar.

C. Pengertian Penilaian Dalam Evaluasi Pembelajaran


Penilaian hasil belajar merupakan komponen yang penting dalam kegiatan pembelajaran meningkatkan kualitas pembelajaran dapat ditempuh melalui
peningkatan kualitas sistem penilaian. Menurut Djemari Mardapi (2008:5) kualitas pembelajaran dapat dilihat dari hasil penilaiannya. Sistem penilaian yang baik
akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi peserta didik untuk belajar dengan lebih baik.
Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek
diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Misalnya untuk dapat mengatakan baik, sedang, kurang, diperlukan adanya ketentuan atau ukuran yang jelas bagaimana
yang baik, yang sedang dan yang kurang. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa ciri penilaian adalah adanya objek atau program yang dinilai dan
adanya kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara kenyataan atau apa adanya. Perbandingan bisa bersifat mutlak, bisa pula bersifat relatif.
Perbandingan bersifat mutlak artinya hasil perbandingan tersebut menggambarkan posisi objek yang dinilai ditinjau dari kriteria yang berlaku. Sedangkan
perbandingan bersifat relatif artinya hasil perbandingan lebih menggambarkan posisi suatu objek yang dinilai terhadap objek lainnya dengan bersumber pada
kriteria yang sama.
Dalam konteks ini penilaian yang di maksud dalam proses evaluasi pembelajaran adalah penilaian hasil belajar. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian
nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Pada
hakikatnya hasil belajar siswa adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, efektif,
dan psikomotoris. Oleh sebab itu, dalam penilaian hasil belajar, peranan tujuan instruksional yang berisi rumusan kemampuan dan tingkah laku yang dikuasai
siswa menjadi unsure penting sebagai dasar dan acuan penilaian.

KEGIATAN BELAJAR 2

A. Jenis Penilaian Dalam Evaluasi Pembelajaran


Dibedakan dari fungsinya, ada beberapa macam jenis penilaian, yaitu penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostic, penilaian selektif dan penilaian
penempatan.
Penilaian formatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir program pembelajaran untuk melihat tingkat keberhasilan proses pembelajaran itu sendiri.
Dengan demikian, penilaian formatif diharapkan guru dapat memperbaiki program pengajaran dan strategi pelaksanaannya. Biasanya di sekolah-sekolah, tes
formatif itu pada umumnya ditekankan pada bahan-bahan pelajaran yang akan diajarkan oleh seorang guru, setelah guru mengadakan atau melaksanakan suatu
tes formatif maka sebaiknya ditindaklanjuti lagi jika ada bagian-bagian yang memang belum dikuasai atau belum dipahami oleh peserta didik. Dengan begitu
tujuan dari evaluasi formatif adalah untuk memperbaiki tingkat penguasaan materi dari peserta didik dan sekaligus memperbaiki dalam suatu proses
pembelajaran.
Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program, yaitu akhir semester dan akhir tahun.Tujuannya adalah untuk melihat hasil
yang dicapai oleh para siswa, yakni seberapa jauh tujuan-tujuan kurikuler dikuasai oleh para siswa. Penilaian ini berorientasi kepada produk, bukan proses.
Penilaian diagnostik adalah penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahan-kelemahan siswa serta factor penyebabnya. Penilaian ini di laksanakan untuk
untuk keperluan bimbingan belajar, pengajaran remedial (remedial teaching), menemukan kasus-kasus, dll. Soal-soal tentunya disusun agar dapat ditemukan
jenis kesulitan belajar yang dihadapi oleh para siswa.
Penilaian selektif adalah penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya ujian saringan masuk ke lembaga pendidikan tertentu.
Penilaian penempatan adalah penilaian yang ditujukan untuk mengetahui ketrampilan prasayarat yang diperlukan bagi suatu program belajar dan penguasaan
belajar seperti yang diprogramkan sebelum memulai kegiatan belajar untuk program itu. Dengan perkataan lain, penilaian ini berorientasi kepada kesiapan siswa
untuk menghadapi program baru dan kecocokan program belajar dengan kemampuan siswa.
Dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes dan bukan tes (nontes). Tes ini ada yang berikan secara lisan (menurut jawaban secara
lisan), ada tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan. Soal-soal tes ada yang disusun
dalam bentuk objektif, ada juga yang dalam bentuk esai atau uraian. Sedangkan non tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara,
skala, sosiometri, studi kasus, dll.

B. Contoh Penilaian Dalam Evaluasi Pembelajaran

1. Tes Uraian
Secara umum tes uraian adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan,
memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri.
Kelebihan atau keunggulan tes uraian ini antara lain:
a) Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi.
b) Dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa.
c) Dapat melatih kemampuan berpikir teratur atau penalaran, yakni berpikir logis, analitis, dan sistematis.
d) Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving).
e) Adanya keuntungan teknis seperti mudah membuat soalnya sehingga tanpa memakan waktu yang lama, guru dapat secara langsung melihat proses berpikir
siswa.
Kelemahan atau kekurangan yang terdapat dalam tes ini antara lain:
a) Sample tes sangat terbatas sebab dengan tes ini tidak mungkin dapat menguji semua bahan yang telah diberikan, tidak seperti pada tes objektif yang dapat
menanyakan banyak hal melalui sejumlah pertanyaan.
b) Sifatnya sangat subjektif, baik dalam menanyakan, dalam membuat pertanyaan, maupun dalam cara memeriksanya. Guru bisa saja bertanya tentang hal-hal
yang menarik baginya, dan jawabannya juga berdasarkan apa yang dikehendakinya.
c) Tes ini biasanya kurang realibel, mengungkap aspek yang terbatas, pemeriksaannya memerlukan waktu lama sehingga tidak praktis bagi kelas yang jumlah
siswanya relatif besar.

2. Jenis-jenis tes uraian


a) Uraian Bebas (free essay)
Dalam uraian bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada pandangan siswa itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh isi pertanyaan uraian bebas sifatnya
umum. Melihat karakteristiknya, pertanyaan bentuk uraian bebas ini tepat digunakan apabila bertujuan untuk:
a. Mengungkapkan pandangan para siswa terhadap suatu maasalah sehingga dapat diketahui luas dan intensitasnya.
b. Mengupas suatu persoalan yang kemungkinan jawabannya beraneka ragam sehingga tidak ada satupun jawaban yang pasti
c. Mengembangkan daya analisis siswa dalam melihat suatu persoalan dari berbagai segi atau dimensi.
Kelemahan tes ini ialah sukar menilainya karena jawaban siswa bisa bervariasi, sulit menentukan kriteria penilaian, sangat subjektif karena bergantung pada guru
sebagai penilainya.

b) Uraian Terbatas
Pertanyaan bentuk tes uraian terbatas telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan tertentu. Pembatasan bisa dari segi: a. ruang lingkupnya, b.
sudut pandang menjawabnya, c. indikator-indikatornya.
Dengan adanya pembatasan tersebut, jawaban siswa akan lebih terarah sesuai dengan yang diharapkan. Cara memberikan penilaian juga lebih jelas
indikatornya. Kriteria kebenaran jawaban bisa lebih mudah ditentukan. Oleh sebab itu, bentuk soal uraian terbatas lebih terarah dan telebih tepat digunakan
daripada bentuk uraian bebas.

c) Uraian Berstruktur
Soal berstruktur dipandang sebagai bentuk antara soal-soal objektif dan soal-soal essay. Soal berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat sekalipun
bersifat terbuka dan bebas menjawabnya. Soal yang berstruktur berisi unsur-unsur a. pengantar soal, b. seprangkat data, dan c. serangkaian sub soal.
Keuntungan soal berstruktur antara lain: a. satu soal bisa terdiri atas beberapa sub soal atau pertanyaan, b. setiap pertanyaan yang diajukan mengacu kepada
suatu data tertentu sehingga lebih jelas dan terarah, c. soal-soal berkaitan satu sama lain dan bisa diurutkan berdasarkan tingkat kesulitannya.
Data yang diajukan dalam berstuktur bisa berupa angka, tabel, grafik, gambar, bagan, kasus, bacaan tertentu, diagram, model, dll.
Bentuk soal berstruktur bisa digunakan untuk mengukur semua aspek kognitif seperti ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tingkat
kesulitan soal dapat dibuat sedemikian rupa sehingga berurutan dari soal yang mudah menuju soal yang sukar.
Kelemahan yang mungkin terjadi berkisar pada: a. bidang yang diujikan menjadi terbatas, dan b. kurang praktis sebab satu permasalahan harus dirumuskan
dalam pemaparan yang lengkap disertai data yang memadai.

MODUL 2

PENGEMBANGAN TES HASIL BELAJAR

Keunggulan dan Kelemahan Tes


A. Keunggulan Tes Obyektif
1. Untuk mengukur proses berpikir rendah sampai dengan sedang (ingatan, pemahaman, dan penerapan)
2. Semua atau sebagian besar materi yang telah diajarkan dapat ditanyakan saat ujian
3. Pemberian skor dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan konsisten, karena jawaban yang benar untuk setiap butir soal sudah jelas dan pasti
4. Memungkinkan untuk dilakukan analisis butir soal (tingkat kesukaran, daya beda, efektivitas, pengecoh, dan reliabilitasnya)
5. Tingkat kesukaran butir soal dapat dikendalikan
6. Informasi yang diperoleh lebih kaya

B. Kelemahan Tes Obyektif


1. Hanya mengukur proses berpikir rendah
2. Membuatnya lebih sulit daripada tes uraian, terutama pada alternatif jawaban
3. Dapat mengganggu kemampuan siswa dalam memahami kalimat dalam butir soal
4. Siswa tidak dapat mengorganisasikan, menghubungkan dan menyatakan idenya sendiri, karena sudah ada alternatif jawaban

Upaya untuk meminimalisir kelemahan tes obyektif adalah :


1. Harus berorientasi dari kisi-kisi soal, berdasarkan pada indikator yang dapat diukur, penulis soal harus menguasai teknik penulisan tes obyektif dan ketika
menulis soal yang baru atau merevisi butir soal berdasarkan hasil analisi butir soal.
2. Penulis soal harus menguasai materi dan berlatih menulis soal terus menerus, untuk menanggulangi lamanya menulis soal penulis soal harus memiliki bank
soal.
3. Untuk mengatasi kemampuan membaca siswa penulis soal harus dapat mengonstruksi alternatif jawaban dengan kalimat yang pendek, mudah dimengerti,
tidak lebih dari satu arti. Sedangkan untuk mengatasi masalah tebakan (guessing) dapat diatasi dengan memperbanyak alternatif jawaban sehingga kemungkinan
menebak akan semakin kecil. Dengan formula sebagai berikut :

SA= b-s/n-1

SA = skor akhir yang diperoleh anak


b = jumlah jawaban yang benar
s = jumlah jawaban salah
n = jumlah alternatif jawaban
4. Tes obyektif sebaiknya digunakan untuk tes sumatif, sedangkan untuk ulangan harian usahakan dengan tes uraian.

C. Keunggulan tes uraian


1. Untuk mengukur proses berpikir tinggi
2. Untuk mengukur hasil belajar yang kompleks dan tidak dapat diukur dengan tes obyektif
3. Waktu yang digunakan untuk menulis soal lebih cepat
4. Menulis tes uraian yang baik relatif lebih mudah daripada menulis tes obyektif yang baik

D. Kelemahan Tes Uraian


1. Terbatasnya sampel materi yang ditanyakan
2. Sukar memeriksa jawaban siswa
Karena sukar memeriksa jawaban siswa, sehingga pemberian skor kurang obyektif dan kurang konsisten. Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya:
a. Adanya Hallo Effect
Memberi skor hanya dengan anggapan bahwa siswa pada satu mata pelajaran (misal: MTK), sehingga pelajaran yang lain pun dianggap pandai.
b. Adanya Efek Bawaan (Carry Over Effect)
- Efek bawaan yang terjadi pada saat memeriksa butir soal nomor 1 ke butir soal nomor 2 dan seterusnya.
- Efek bawaan yang terjadi pada saat memeriksa jawaban satu siswa ke siswa lainnya cenderung tinggi setelah memeriksa jawaban siswa yang jelek.
c. Efek urutan pemeriksaan (Order Effect)
Hasil siswa yang diperiksa lebih awal cenderung tinggi daripada hasil siswa yang diperiksa mendekati akhir.
d. Pengaruh penggunaan bahasa
Kualitas jawaban siswa tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas isi jawaban tetapi juga dipengaruhi oleh penggunaan bahasa, ejaan, kalimat, tanda baca, dan
struktur kalimat
e. Pengaruh tulisan tangan
Kualitas tulisan siswa cenderung mempengaruhi skor siswa. Kualitas tulisan yang baik diberi skor tinggi daripada kualitas tulisan yang jelek.
Ada beberapa upaya yang ditempuh untuk meminimalkan kelemahan tes uraian, yaitu :
1. Agar validitas isi tes uraian tinggi, maka berbentuk tes uraian terbatas.
2. Unsur subyektivitas harus ditekan seminimal mungkin dengan memeriksa hasil tes siswa tanpa nama.
3. Agar pemeriksaan tes uraian lebih obyektif dan konsisten, maka cara yang harus dilakukan pemeriksa adalah sebagai berikut :
a. Gunakan tes uraian terbatas
b. Gunakan dua pemeriksa
c. Ada kesepakatan dalam memberi skor antara kedua pemeriksa
d. Lakukan uji coba terlebih dahulu terhadap skor yang telah disepakati setidak-tidaknya dari 4 orang siswa dengan perbedaan skor kedua pemeriksa kurang dari
5.
4. Upaya untuk mengurangi Hallo Effect adalah dengan menutup nama peserta tes.
5. Untuk menghindari Carry Over Effect adalah dengan memeriksa jawaban per nomor untuk seluruh siswa.
6. Untuk menghindari Order Effect adalah bila anda lelah, berhentilah memeriksa dan lanjutkan kembali setelah anda fresh kembali.

Mengembangkan Tes
Pengelompokkan Tes :
A. Tes Obyektif
1. Benar - Salah (True-False Item)
Digunakan untuk :
a. Mengidentifikasi kebenaran suatu pernyataan : fakta, definisi, prinsip, teori, hukum, dsb.
b. Mengukur kemampuan siswa untuk membedakan antara fakta dengan opini atau pendapat.
c. Mengukur hasil belajar yang lebih tinggi dari sekedar ingatan.
Keunggulan
-. Mudah dikonstruksi
-. Dpt menanyakan banyak sampel materi
-. Mudah penyekorannya
-. Tepat utk mengukur proses berpikir sederhana
Kelemahan
-. Kemungkinan untuk menebak lebih tinggi
-. Kemungkinan menjawab benar salah adalah sama.
-. Hanya untuk mengukur aspek ingatan.
Beberapa saran yang layak dipertimbangkan dalam mengkonstruksi tes B – S
1) Kalimat atau pertanyaan harus dapat ditentukan dijawab benar atau salah. Hindari pertanyaan yang membingungkan atau yang bermakna ganda.
2) Hindari penulisan butir soal B – S yang hanya mengukur hasil belajar yang tidak mengukur kompetensi tetapi konstruksilah butir soal B – S yang dapat
mengukur hasil belajar yang lebih penting dan bermakna.
3) Upayakan butir soal B – S menguji hasil belajar yang lebih tinggi dari sekedar ingatan.
4) Hindari penggunaan pertanyaan negatif apalagi pertanyaan negatif ganda.
5) Hindari penggunaan kalimat yang terlalu kompleks.
6) Pernyataan yang benar dan pernyataan yang salah harus dibuat seimbang dalam hal panjang pendeknya kalimat. Hal ini menjadi penting karena secara
alamiah ada kecenderungan bahwa pernyataan yang benar itu dibuat dalam bentuk kalimat yang panjang karena pernyataan tersebut harus dibuat dengan
setepat-tepatnya.
7) Jumlah jawaban untuk pertanyaan yang benar hendaknya seimbang dengan jumlah pernyataan yang salah dan urutan jawaban yang benar dan salah
hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga siswa tidak mudah untuk menebak.

2. Menjodokan (Matching Exercise)


Tes obyektif yang ditulis dalam dua kolom. Kolom Pertama pokok soal (premis), kolom kedua jawaban (respon)
Keunggulan
-. Mudah dibuat
-. Mudah penyekorannya
-. Dapat menguji banyak materi ajar
-. Dapat mengukur hasil belajar siswa tentang definisi, fakta, istilah, dan peristiwa atau kejadian.
-. Dapat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menghubungkan dua hal secara langsung maupun tidak langsung.
Kelemahan
-. Cederung hanya untuk mengukur proses berpikir sederhana

Beberapa hal yang layak dipertimbangkan dalam menulis tes menjodohkan :


1) Pernyataan-pernyataan di bawah kolom pertama (premis) dan kolom kedua (respons) harus terdiri dari kelompok pernyataan yang homogen.
2) Jumlah pernyataan dalam kolom kedua hendaknya dibuat lebih banyak dari jumlah pernyataan dalam kolom pertama.
3) Jika pernyataan pada premis dan respon dibuat dalam bentuk kalimat, maka penulisan kalimat pada respons hendaknya lebih pendek dari pernyataan pada
premis.
4) Jika jawaban-jawaban yang ada pada respons berbentuk angka, maka penulisannya harus diurutkan.
5) Letakkan keseluruhan pernyataan pada premis dan respon pada halaman yang sama.

3. Pilihan Ganda (Multiple Choice)


Konstruksinya terdiri atas:
a. Pokok soal (stem)
Dapat dibuat dalam 2 bentuk, yaitu dalam bentuk pertanyaan tidak selesai atau dalam bentuk pertanyaan.
b. Alternatif jawaban (option)
Satu diantara alternatif jawaban adalah jawaban benar (kunci jawaban) sedangkan yang lainnya sebagai pengecoh (distractor). Jumlah alternatif jawaban
biasanya 3 sampai 5 alternatif.
Semakin banyak alternatif jawaban yang dibuat maka kemungkinan siswa menebak jawaban semakin kecil.
Contoh :
Jika alternatif jawaban 3 buah, maka kemungkinan menebak ⅓ x 100% = 33,3%
Jika alternatif jawaban 4 buah, maka kemungkinan menebak ¼ x 100% = 25%

Ragam Tes Pilihan Ganda, ada 5 ragam tes :


a) Melengkapi Pilihan (Ragam A), tersusun atas pokok soal disertai dengan 4 alternatif jawaban. Dengan perintah Pilih salah satu jawaban yang paling tepat.
b) Hubungan antarhal (Ragam B), konstruksinya butir soal hubungan antarhal yang tersusun dari 2 pernyataan yang berdiri sendiri dan dipisahkan dengan kata
sebab, dengan jawaban menentukan ada tidaknya hubungan antar kedua pernyataan.
c) Analisis kasus (Ragam C), pertanyaan yang dirumuskan dikembangkan dari kasus yang disajikan sebelumnya dengan perintah jawaban siswa sama dengan
ragam A.
d) Ganda Kompleks (Ragam D), tersusun atas pokok soal yang berupa pertanyaan disertai dengan 3 atau 4 buah alternatif jawaban. Dengan perintah jawaban
menggunakan angka 1,2,3.
e) Membaca diagram, Tabel atau Grafik (Ragam E), soal disampaikan dalam bentuk tabel, grafik, atau diagram. Dengan perintah jawaban yang berhubungan
dengan tabel, grafik, atau diagram.

Beberapa saran yang layak diperhatikan dalam penulisan tes pilihan ganda:
1) Inti permasalahan yang akan ditanyakan harus dirumuskan dengan jelas pada pokok soal. Dengan membaca pokok soal diharapkan peserta tes dapat
mengerti apa yang ingin ditanyakan oleh butir soal tersebut.
2) Hindari pengulangan kata yang sama pada alternatif jawaban.
3) Hindari penggunaan kalimat yang berlebihan pada pokok soal. Rumusan pokok soal yang baik adalaha singkat, jelas, dan tidak menimbulkan salah tafsir.
4) Alternatif jawaban yang disediakan hendaknya logis, homogen baik dari segi materi atau panjang pendeknya kalimat, dan pengecoh menarik untuk dipilih.
5) Dalam merumuskan pokok soal, hindari adanya petunjuk ke arah jawaban yang benar.
6) Setiap butir soal hanya ada satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
7) Dalam merumuskan pokok soal, hindari penggunaan ungkapan negatif. Jika ungkapan negatif diperlukan maka kata tersebut harus dicetak tebal.
8) Hindari penggunaan alternatif jawaban yang berbunyi semua jawaban benar atau semua jawaban salah.
9) Jika alternatif jawaban berbentuk angka, susunlah angka tersebut secara berurutan.
10) Dalam merumuskan pokok soal, hindari penggunaan istilah yang terlalu teknis.
11) Upayakan agar jawaban butir soal yang satu tidak tergantung dari jawaban butir soal yang lain.

B. Tes Uraian
1. Uraian Terbatas (Restricted Question)
Tepat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menjelaskan hubungan sebab akibat, menerapkan suatu prinsip atau teori, memformulasikan
hipotesis, merumuskan kesimpulan, dan lain sebagainya.

2. Uraian Terbuka (Open Ended Question)


Tepat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam : menghasilkan, mengorganisasi, dan mengekspresikan ide; mengintegrasikan pelajaran dalam
berbagai bidang; membuat rencana suatu eksperimen; mengevaluasi manfaat suatu ide dan sebagainya.

Keunggulan
-. Digunakan untuk mengukur proses berpikir tinggi (analisis, evaluasi, dan kreasi)
-. Digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks yang tidak dapat diukur dengan tes obyektif misal: keterampilan menulis, menghasilkan,
mengorganisasi, dan mengekspresikan ide atau gagasan.
-. Waktu yang dibutuhkan untuk menulis perangkat tes lebih cepat.
-. Menulis tes uraian yang baik relatif lebih mudah daripada menulis tes obyektif yang baik.
Kelemahan
-. Terbatasnya sampel materi yang ditanyakan.
-. Sukar memeriksa jawaban siswa.

a) Cara menulis tes uraian yang baik.


1. Ditulis berdasarkan perencanaan tes yang dibuat.
2. Digunakan untuk mengukur hasil belajar yang sukar.
3. Kembangkan butir soal dari suatu kasus.
4. Gunakan tes uraian terbatas.
5. Gunakan kata tanya (jelaskan, bandingkan, hubungkan, simpulkan, analisislah, kelompokkanlah, identifikasikanlah, dsb.
6. Rumuskan pertanyaan dengan jelas dan tegas sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.
7. Mempertimbangkan waktu yang tersedia dengan kemampuan dan kecepatan menulis siswa.
8. Hindarkan penggunaan pertanyaan pilihan.
9. Tentukan skor maksimal dari setiap butir soal yang ditulis.

Sebelum tes uraian digunakan, telaahlah dengan pedoman telaah tes uraian berikut :
No Pertanyaan penelaahan Ya Tidak
1. Apakah tipe tes ini yang paling tepat digunakan untuk mengukur tujuan pembelajaran yang diinginkan?
2. Apakah tes ini sudah digunakan untuk mengukur jenjang berpikir tinggi?
3. Apakah pertanyaan yang dirumuskan dapat mengukur tujuan pembelajaran yang diinginkan?
4. Apakah pertanyaan sudah dirumuskan dengan jelas sehingga siswa tahu apa yang harus dijawab?
5. Apakah jumlah butir soal tersebut dapat dikerjakan dalam satu waktu ujian yang telah ditetapkan?
6. Apakah setiap siswa diberi kesempatan yang sama untuk mengerjakan tes yang sama?
7. Jika butir soal tersebut direvisi, apakah masih tetap dapat mengukur tujuan yang sama?
8. Apakah jumlah skor maksimal pada setiap butir soal sudah tepat dan sudah dicantumkan?
9. Apakah butir soal tersebut sudah ditulis berdasarkan kisi-kisi?

b) Cara memeriksa hasil tes uraian


Ada 2 cara yang dapat digunakan untuk memeriksa hasil tes uraian;
1) Metode analitik (analytic method) untuk memeriksa tes uraian terbatas.
Pemeriksaan jawaban siswa dilakukan berdasarkan pedoman perskoran yang dibuat oleh penulis soal.

Yang perlu diperhatikan dalam membuat pedoman penskoran adalah:


a. Tulis jawaban terbaik dari butir soal yang dibuat.
b. Semua alternatif jawaban harus ditulis semua.
c. Harus ada kata kunci dari setiap jawaban.
d. Pertimbangkan bobot dari setiap kata kunci satu dengan yang lainnya.
e. Beri skor dari setiap kata kunci yang diharapkan.
f. Bobot yang lebih tinggi harus diberi skor yang tinggi juga.
g. Cantumkan skor maksimal pada bagian kanan atas setiap butir soal.

Yang perlu dilakukan agar reliabilitas meningkat dari pemeriksaan tes uraian adalah:
a. Setiap jawaban siswa diperiksa oleh 2 orang dengan bekerja sendiri-sendiri.
b. Sebelum memeriksa, kedua pemeriksa harus menyamakan persepsi dari setiap butir soal dan jawaban yang dinginkan penulis soal.
c. Melakukan uji coba pemeriksaan dengan sampel minimal 5 orang siswa.
d. Setelah mempunyai persepsi yang sama, mulailah memeriksa dengan menutup nama siswa dengan memeriksa per nomor secara bergantian.
e. Setelah seslesai memeriksa, kedua pemeriksa bertemu untuk menoleransi-kan terhadap perbedaan skor. Non eksak 10% dari skor maksimal.
Eksak 5% dari skor maksimal. Jika terdapat perbedaan skor yang melebihi batas toleransi, maka harus diperiksa kembali.
2) Metode Holistik (Holistic scoring method ) dapat dilakukan denga 2 cara :
a. Pemeriksa memeriksa secara keseluruhan jawaban siswa.
b. Pemeriksa mengulang kembali pemeriksaan untuk lebih meyakinkan bahwa jawaban tepat sesuai kategori atau tidak.

MODUL 3
KONSEP DASAR ASESMEN ALTERNATIF

KEGIATAN BELAJAR I

A. KONSEP DASAR ASESMEN ALTERNATIF


Dalam Pendidikan dikenal dua pengertian tentang penilaian yaitu penilaian dalam arti asesmen dan penilaian dalam arti evaluasi. Penilaian dalam arti asesmen
merupkan kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian dan kemajuan belajar siswa sedangkan penilaian dalam arti evaluasi merupakan kegiatan
yang dirancang untuk mengukur keefektifan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan asesmen,yaitu tradisional assessmen,performance assessment,authentic assesmen,portofolio assesmen,
achievement assessment, dan alternatife assessment.
1. Tradisional assessment
Tradisional asesmen mengacu pada tes tertulis.maksudnya tradisional assessment hanya mengukur hasil belajar siswa dengan menggunakan satu jenis alat ukur
yaitu tes tertulis.padahal kita ketahui bersama tes tertulis mempunyai kelemahan diantaranya hanya mampu mengukur aspek kognitif dan ketrampilan sederhana,
sebagian kecil dari hasil belajar siswa, dan tes sering kali menimbulkan kecemasan.
2. Performance assessment ( asesmen kinerja)
Asesmen kinerja merupakan asesmen yang menghendaki siswa untuk mendemonstrasikan kemampuannya baik pengetahuan atau ketrampilan dalam bentuk
kinerja nyata yang ditunjukan dalam bentuk penyelesaian suatu tugas, bukan hanya menjawab atau memilih jawaban yang sudah tersedia. Asesmen kinerja
menilai hasil belajar siswa dan proses belajarnya.
3. Authentic assessment.
Authentic assessment merupakan assessment yang menuntut siswa mampu menerapkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam kehidupan nyata diluar
sekolah. Tujuan dan otentik assessment adalah untuk mengumpulkan bukti-bukti apakah siswa sudah dapat menggunakan pengetahuan dan ketrampilannya
secara efektif dalam kehidupan nyata dan dapat memberikan kritik terhadap upaya yang telah ia lakukan. Dari Pengertian tersebut tampak bahwa authentic
assessment didasarkan performance assessment yang menuntut siswa mampu unjuk kerja. Contoh : disekolah siswa diajari konsep penjumlahan 2 + 3 = 5.
Konsep tersebut abstrak.Konsep tersebut tidak ditemukan dalam kehidupan nyata anak, yang ada adalah 2 bola + 3 bola = 5 bola. Untuk itu dalam mengajarkan
konsep penjumlahan ajarlah siswa dengan menggunakan contoh-contoh yang ada dalam kehidupan nyata. Untuk mengetahui bagaiman anak harus bersikap
sopan kepada orang tua pada situasi yang sebenarnya.Amatilah bagaimana sikap siswa saat berinterkasi dengan orang tua yang ada disekitar sekolah. Misalnya
kepada pesuruh sekolah, penjual kue dan minuman disekitar sekolah dan sebagainya.
4. Portofolio assessment (assessment portofolio)
Asesmen portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematis yang menunjukan upaya,proses,hasil dan kemajuan belajar yang
dilakukan siswa dari waktu ke waktu. Mungkin banyak definisi portofolio yang telah anda kenal dan agak berbeda dengan pengertian diatas tetapi pada dasarnya
portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang menunjukan pencapaian dan perkembangan hasil hasil belajar siswa.
5. Achievement assessment
Achivement assessment merupakan pengertian umumterhadapa semua usaha untuk mengukur,mengetahui dan mendeskripsikan hasil belajar siswa, baik yang
dilakukan dengan tes tertulis,assasemen kinerja,portofolio, dan semua usaha untuk memperoleh informasi hasil dan kemajuan belajar siswa.
6. Alternative assessment
Alternative assessment merupakan asasement yang tidak hanya tergantung pada tes tertulis. Pada dasarnya asasemen alternative merupakan alternative dari
asasemen tradisional (paper and pencil test). Jadi performance assesmen,portofolio assessment,authentic assessment, dan achievement assessment merupakan
kelompok asesmen alternative.

B. LANDASAN PSIKOLOGIS
Asesmen alternative tidak hanya menilai hasil belajar, tetapi dapat member informasi secara lengkap tentang proses pembelajaran.Asesment alternative tidak
hanya menilai produk belajar saja tetapi juga menilai proses belajar untuk menghasilkan kemampuan produk tersebut.
Asesmen alternative dilaksanakan bersdasarkan teori belajar khususnya dari aliran psikologi kognitif. Beberapa teori belajar yang digunakan sebagai landasan
dalam pelaksanakan asesmen alternative adalah:
1. Teori fleksibilitas kognitif dan R.spiro (1990)
2. Teori belajar Bruner (1966)
3. Generative learning model dari Osborne dan wittrock (1983)
4. Experiential learning theory dari c rogers (1969)
5. Multiple intelligent theory dari Howard gardner (1983)
C. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN ASESMEN ALTERNATIF
Seperti halnya alat ukur yang lain, asesmen alternative seperti performance asesmen,authentic assessment, dan portofolio assessment mempunyai keunggulan
dan kelemahan.
1. Keunggulan asesmen alternative antara lain:
a. Dapat menilai hasil belajar yang kompleks dan ketrampilan-ketrampilan yang tidak dapat dinilai dengan asesmen tradisional.
Contohnya : jika anda ingin menguku rkinerja kerja siswa dalam membuat karangan maka banyak aspek yang dapat diukur dari tugas dari tugas karangan
tersebut. Misalnya kemampuan dalam siswa dalam membuat paragraph yang baik, pemilihan kosa kata yang tepat, kemampuan siswa dalam menuangkan ide
dalam bentuk tulisan, kemampuan merangkai kata dan kalimat,dan kemampuan berimajinasi.
b. Menyajikan hasil penilaian yang lebih hakiki, langsung, dan lengkap dengan melakukan asesmen anda akan dapat menilai hasil belajar anak secara lengkap,
tidak hanya hasil belajar dalam ranah kognitif tetapi juga ranah afektif dan psikomotor.
c. Meningkatkan motivasi siswa.
d. Mendorong pembelajaran dalam situasi yang nyata.Asesmen Alternatif menekankan kepada apa yang dapat ditunjukan atau dikerjakan oleh siswa bukan apa
yang diketahui siswa.
e. Memberi kesempatan kepada siswa untuk selfvaluation.
f. Membantu guru untuk menilai efektifitas pembelajaran yang telah dilakukan.
g. Meningkatkan daya transferabilitas hasil belajar.

2. Kelemahan Asesmen alternative:


a. Membutuhkan banyak waktu b. Adanya unsure subjektifitas dalam penskoran c. Ketetapan penskoran rendah d. Tidak tepat untuk kelas besar.

KEGIATAN BELAJAR 2

A. BENTUK ASESMEN KINERJA

Asesmen kinerja terdiri dari dua komponen :

1. Tugas ( Task )
2. Kriteria penskoran ( Rubric )

A. Tugas ( Task )
1. Computer adaptive testing 2.Tes pilihan ganda yang diperluas 3.Tes uraian terbuka ( open ended question ) 4. Tugas individu 5. Tugas kelompok
6. Proyek 7. Inteview 8. Pengamatan

Langkah – langkah menyusun tugas :

1. Pengetahuan dan keterampilan yang akan dimiliki siswa setelah mereka mengerjakan tugas . Ada lima pertanyaan pokok yang membantu dalam
merumuskan tugas yaitu :
a. Keterampilan atau atribut kognitif apa yang harus dikuasai siswa ?
b. Keterampilan atau atribut afektif apa yang harus dikuasai siswa ?
c. Keterampilan meta kognitif apa yang harus dikembangkan siswa ?
d. Tipe masalah yang seperti apa yang harus dipecahkan oleh siswa ?
e. Konsep atau prinsip apa yang dapat diterapkan oleh siswa ?
2. Merancang tugas yang yangmemungkinkan siswa dapat menunjukan kemampuannya dalam berfikir dan keterampilan.
3. Menetapkan criteria keberhasilan

Beberapa catatan penting yang harus diperhatikan pada saat merancang tugas dalam asesmen kinerja :
1. Tugas – tugas yang disusun hendaknya merupakan bagian dari proses pembelajaran.
2. Tugas yang baik dalah tugas yang berhubungan dengan kehidupan nyata.
3. Tugas yang diberikan terhadap siswa harus adail. Dalam hal ini bukan berarti tugas yang diberikan harus sama. Harus dijaga jangan samapai ada unsur
subjektifitas dalam memberikan tugas.
4. Jangan memeberikan tugas terlalu mudah karena hal ini tidak akan memebrikan motivasi siswa dan tidak memberikan tantangan kepda siswauntuk
melakukannya.

B. KRITERIA PENILAIAN ( RUBRIC )

Beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam menembangkan rubric :


1. Menentukan konsep, keterampilan dan kinerja yang akan dinilai.
2. Merumuskan atau mendefinisikan serta menentukan urutan konsep dan atau keterampilan yang akan dinilai kedalam rumusan yang akan menggambarkan
kinerja siswa.
3. Menetukan tugas yang akan dinilai .
4. Menetukan skala yang akan digunakan.
5. Mendeskripsikan kinerja mulai dari yang diharapkan sampai dengan kinerja yang
tidak diharapkan.
6. Melakukan uji coba.
7. Melakukan revisi hasil uji coba.

Berdasarkan kegunaannya rubric dapat dibedakan menjadi dua yaitu rubric holistic dan rubric analytic .

a. Holistic Rubric
Yang dimaksud dengan holistic rubric adalah rubric yang deskripsi dimensi kinerjanya dibuat secara umum, Karena itu biasanya holistic rubric digunakan
untuk menilai berbagai macam kinerja.

Aspek – aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai kinerja siswa antara lain :

Kwalitas pengerjaan tugas.


Kretifitas dalam pengerjaan tugas.
Produk tugas.

Setiap aspek yang akan dilihat kinerjanya kemudian ditentukan gradasi mutunya mulai dari yang paling sempurna sampai yang paling jelek.

Dimensi kinerja Skor Deskripsi

1. Kualitas pengerjaan tugas 4 Tugas dikerjakan dengan sangat baik dan akurat.
3 Tugas dikerjakan dengan baik tetapi tidak akurat
2 Pengerjaan tugas yang kurang baik dan kurang akurat
1 Pengerjaan tugas tidak baik dan tidak akurat.
2. Kualitas dalam pengerjaan tugas 4 Mampu memodifikasi prosedur dalam kondisi yang menantang.
Mampu memodifikasi prosedur tetapi atas bantuan instruktur
3 Mampu memodifikasi prosedur tapi setelah diberi contoh.
Tugas dikerjakan dengan prosedur baku.
2
1
3. Produk tugas 4 Secara keseluruhan produk tugas sangat bagus .
3 Secara keseluruhan produk tugas bagus .
2 Secara keseluruhan produk tugas sedang .
1 Secara keseluruhan produk tugas kurang bagus .

Holistik rubric yang khusus dibuat untuk menilai kinerja siswa yang berhubungan dengan keterampilan mengerjakan sesuatu , Dimensi kerjanya yang harus
diperhatikan antara lain :
Kemampuan menggunakan prosedur kerja.
Kemampuan menunjukan fungsi dari setiap langkah sesuai dengan prosedur, dan
Kemampuan memodifikasi prosedur yang ada tanpa menyalahi fungsi.

Dimensi kinerja Skor Deskripsi

1. Penggunaan prosedur 4 Prosedur digunakan secara cepat dan terampil.


3 Prosedur digunakan secara cepat tetapi kurang terampil.
2 Ada kesalahan penggunaan prosedur,digunakan lambat dan canggung.
Tidak menggunakan prosedur
1
2. Fungsi langkah dalam prosedur 4 Mampu menunjukan fungsi masing – masing langkah dalam prosedur
dengan baik.
3 Langkah – langkah dalam prosedur ditunjukan secara umum.
Langkah – langkah dalam prosedur ditunjukan secara terbatas
2 Langkah – langkah dalam prosedur ditunjukan kurang bisa dipahami

1
3. kemampuan memodifikasi prosedur 4 Mampu memodifikasi prosedur dalam keadaan menantang.
Mampu memodifikasi prosedur tapi dengan bantuan instruktur.
3 Mampu memodifikasi prosedur setelah diberi contoh oleh instruktur
Tidak mampu memodifikasi prosedur..
2

b. Analitic Rubric

Analitic rubric adalah rubric yang dimensi atau aspek kinerjanya dibuat lebih rincidemikian pula deskripsi setiap aspek kinerjanya.
Contoh rubric tugas karangan dengan topic pengalaman saat liburan semester, panjang karangan dan komponen – komponen serta tanggal pengumpulan tugas
sudah di tentukan :

Aspek kinerja Indikator skor Deskripsi

1. Struktur karangan a. Judul


4 Judul berupa frase, penulisannya tepat, judul sesuai isi karangan.
Judul bukan frase, penulisannya tepat,judul sesuai dengan karangan.
3 Judul bukan frase, penulisannya kurang tepat, judul sesuai dengan isi
karangan.
2 Judul bukan frase penulisannya tidak tepat, judul tidak sesuai dengan isi
karangan.
1
Ada dan mengarah ke isi karangan
b. Pembukaan Ada dan kurang mengarah ke isi karangan
4 Ada tetapi tidak mengarah ke isi karangan
3 Tidak ada pembukaan
2
1 Isi lengkap dan jelas
c. Isi Isi lengkap tetapi kurang jelas
4 Isi kurang lengkap tetapi jelas
3 Isi tidak langkap dan tidak jelas
2
1 Ada dan merupakan kesimpulan isi karangan
d. Penutup Ada tapi kurang sesuai dengan isi karangan
4 Ada tepai tidak sesuai dengan isi karangan
3 Tidak ada penutup
2
1
2. Penggunaan a. kosa kata
bahasa 4 Makna dan bentuk tepat
3 Makna tepat,bentuk kurang tepat
2 Makna kuarang tepat, bentuk tepat
1 Makna dan bentuk tidak tepat
b. Struktur kalimat
4 90% - 100% Struktur kalimat benar
3 80% - 89% Struktur kalimat benar
2 60% - 79 % Struktur kalimat benar
C. Alinea 1 Kurang dari 60% Struktur kalimat benar

4 Ada satu pokok pikiran dan dikembangkan dengan jelas


Ada satu pokok pikiran dan pengembangannya kurang jelas
3 Ada lebih dari satu pokok pikiran dan dikembangkan dengan jelas
Ada lebih dari satu pokok pikiran dan pengembangannya tidak jelas
2
d. Ejaan 90% - 100% benar
1 80% - 89% benar
70% - 79 % benar
Paling banyak69% benar
4
3
2
1

KEGIATAN BELAJAR 3

ASESMEN PORTOFOLIO
A. Pengertian dan Tujuan Portofolio
Portofolio adalah kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematis yang menunjukan upaya, proses, hasil dan kemajuan belajar yang dilakukan siswa
dari waktu ke waktu.
Pada dasarnya portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang dapat menunjukkan pencapaian dan perkembangan hasil belajar siswa. Portfolios is a
purposeful collection of student work that tells the story of student achievement or growth. Portfolios are not folders of all work a student does.
Kumpulan hasil karya siswa dalam folder dapat dikatakan sebagai portofolio jika kumpulan hasil hasil karya tersebut dapat menggambarkan perkembangan hasil
belajar siswa dari waktu ke waktu.
Definisi portofolio menuerut Paulson “a purposeful collection of student work that exhibits the student’s efforts, progress and achievements in one or more areas.
The collection must include student participation in selecting contents, the criteria for selection, the criteria for judging merit and evidence of student self-
reflection”.
Tiga prinsip utama dalam asesmen portofolio: collect, select, reflect, sedangkan lebih rinci karakteristik portofolio :
1. Asesmen portofolio adalah asesmen yang menuntut adanya kerjasama antara murid dengan guru
2. Asesmen portofolio tidak hanya sekedar kumpulan hasil karya tetapi yang utama adanya proses seleksi yang dilakukan berdasar criteria tertentu untuk
dimasukan ke dalam karya siswa
3. Hasil karya siswa dikumpulkan dari waktu ke waktu yang digunakan siswa untuk refleksi sehingga siswa mampu mengenal kelemahan dan kelebihan karya
yang dihasilkan dan kelemahan tersebut digunakan sebagai bahan pembelajaran berikutnya
4. Kriteria penilaian yang digunakan harus jelas baik bagi guru ataupun bagi siswa dan diterapkan secara konsisten.
Menurut John Mueller, tujuan utama portofolio adalah untuk salah satu dari tiga tujuan:
1. Menunjukkan perkembangan hasil belajar siswa
2. Menunjukkan kemampuan siswa secara langsung
3. Menilai secara keseluruhan pencapaian hasil belajar siswa
Portofolio memberikan bukti nyata hasil kerja siswa, informasi tambahan untuk standardized test, memberikan catatatn kepada siswa untuk melakukan refleksi diri
dan merupakan cara terbaik untuk mengkomunikasikan pencapaian hasil belajar siswa kepada orangtua siswa.
Untuk membedakan portofolio sebagai asesmen dan portofolio sebagai hasil karya, Shakelee et.al (1997) mengemukakan sebagai berikut:

Portofolio Sebagai Asesmen Portofolio Sebagai Hasil Karya


(bagaimana saya menggunakan bukti?) (mengapa saya mengumpulkan bukti?)
1. Sebagai landasan pengembangan level berikutnya 1. Sebagai representasi keterampilan yang telah
dimiliki
2. Untuk mempromosikan pengembangan berikutnya 2. Sebagai bukti pengembangan suatu ranah
3. Sebagai bukti kemampuan yang telah dicapai 3. Untuk menunjukan kemampuan yang dimiliki
4. Untuk memodifikasi pengajaran yang akan dilakukan 4. Sebagai bahan yang akan di bahas dalam suatu
pertemuan
5. Untuk menyesuaikan kurikulum 5. Sebagai bahan pelaporan

Ada beberapa komponen penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan portofolio sebagai asesmen:
1. Portofolio hendaknya memiliki criteria penilaian yang jelas, spesifik, dan berorientasi pada research based criteria
2. Dapat digunakan sebagai sumber informasi yang mengenal dengan baik kemampuan dan keterampilan siswa
3. Berbagai cara yang perlu diperhatikan damal pengmpulan bukti yang berkontribusi terhadap portofolio yaitu: bukti-bukti tercetak (printed materials)
maupun bukti non-printed (non-printed materials)
4. Portofolio dapat terdiri dari berbagai bentuk informasi seperti karangan, hasil lukisan, skor tes, foto dan sebagainya
5. Kualitas portofolio harus ditingkatkan dari waktu ke waktu
6. Setiap mata pelajaran mungkin mempunyai bentuk portofolio yang berbeda dari yang lain
7. Portofolio harus dapat diakses secara langsung oleh orang-orang yang berkepentingan terhadap portofolio tersebut.
B. Perencanaan Portofolio
Delapan pedoman yang harus diperhatikan pada saat merencanakan portofolio Shaklee et.al (1977):
1. Menentukan criteria atau standar yang akan digunakan sebagai dasar asesmen portofolio
2. Menerjemahkan criteria atau standar tersebut kedalam rumusan-rumusan hasil belajar yang dapat diamati
3. Menggunakan criteria, memeriksa ruang lingkup dan urutan materi dalam kurikulum untuk menentukan perkiraan waktu yang diperlukan untuk
mengumpulkan bukti yang diperlukan
4. Menentukan orang-orang yang berkepentingan secara langsung dengan portofolio siswa
5. Menentukan jenis-jenis bukti yang harus dikumpulkan
6. Menentukan cara yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan berdasar bukti yang dikumpulkan
7. Menentukan system yang akan digunakan untuk membahas hasil portofolio, pelaporan informasi dan keputusan asesmen portofolio
8. Mengatur bukti-bukti portofolio berdasar umur, kelas, atau isi agar kita dapat membandingkan
C. Pelaksanaan Portofolio
Dalam pelaksanaan asesmen portofolio, tugas guru adalah :
a. Mendorong dan memotivasi siswa
b. Memonitor pelaksanaan tugas
c. Memberikan umpan balik
d. Memamerkan hasil portofolio siswa
D. Pengumpulan Bukti Portofolio
Kumpulan karya siswa dapat dikatakan portofolio jika kumpulan karya tersebut merupakan representasi dari kumpulan karya terpilih yang menunjukkan
pencapaian dan perkembangan belajar siswa dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. Setiap bagian atau pemenggalan dari karya dalam portofolio
dimaksudkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang khusus. Karya siswa harus dapat menunjukkan perkembangan atau bukti bahwa siswa telah mencapai
tujuan tertentu.
E. Tahap Penilaian
1. Penilaian dimulai dengan menentapkan criteria penilaian yang disepakati bersama antara guru dengan siswa pada awal pembelajaran
2. Kriteria penilaian yang telah disepakati diterapkan secara konsisten
3. Hasil penilaian selanjutnya digunakan sebagai penentuan tujuan pembelajaran berikutnya
4. Penilaian dalam asesmen portofolio pada dasarnya dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan.

KEGIATAN BELAJAR 4

Penilaian Ranah Afektif


A. KONSEP DASAR

Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar siswa yang sangat penting. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotorik sangat
ditentukan oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap yang positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata
pelajaran tersebut sehingga mereka akan dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal.
Menurut Krathwohl ( dalam Gronlund and Linn, 1990 ),ranah afektif terdiri atas lima level yaitu :
1. Receiving
Receiving merupakan keinginan siswa untuk memperhatikan suatu gejala atau stimulus, misalkan aktivitas dalam kelas,buku atau musik.
2. Responding
Responding merupakan partisipasi aktif siswa untuk merespon gejala yang dipelajari.
3. Valuing
Valuing merupakan kemampuan siswa untuk memberikan nilai,keyakinan atau sikap dan menunjukkan suatu derajat internalisasi dan komitmen.
4. Organization
Organization merupakan kemampuan anak untuk mengorganisasi nilai yang satu dengan nilai yang lain dan konflik antar nilai mampu diselesaikan dan
siswa mulai membangun sistem internal yang konsisten.
5. Characterization
Characterization merupakan level tertinggi dalam ranah afektif. Pada level ini siswa sudah memiliki system nilai yang mampu mengendalikan perilaku
sampai pada waktu tertentu hingga menjadi pola hidupnya.

Sedangkan karakteristik yang penting dalam ranah afektif adalah sikap, minat, konsep diri dan nilai.
1. Sikap
Menurut Fishbein dan Ajzen seperti dikutip oleh Mardapi (2004), sikap didefinisikan sebagai predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau
negative terhadap suatu objek, situasi, konsep atau orang. Proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila pihak sekolah mampu mengubah sikap siswa dari
sikap negatif menjadi sikap positif

2. Minat
Menurut Getzel (dalam Mardapi, 2004), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untukmemperoleh objek
khusus, aktivitas, pemahaman dan ketrampilanuntuk tujuan perhatian dan pencapaian. Hal penting pada minat adalah intensitas untukmemperoleh sesuatu.

3. Konsep diri
Konsep diri adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan diri sendiri ( Smith dalam Mardapi, 2004). Konsep diri penting untuk
menentukan jenjang karir siswa. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri maka siswa akan dapat memilih alternative karir yang tepat bagi
dirinya.

4. Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan yang dalam tentang perbuatan, tindakan atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap tidak baik (Rokeach dalam
Mardapi, 2004). Sekolah perlu membantu siswa untuk menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna bagi siswa agar siswa mampu mencapai kebahagiaan
diri dan mampu memberikan hal-hal yang positif bagi masyarakat.

B. BEBERAPA CARA MENILAI RANAH AFEKTIF

Menurut Ericson (dalam Nasoetion dan Suryanto, 2002), penilaian afektif dapat dilakukan dengan cara:
1. Pengamatan langsung, yaitu dengan memperhatikan dan mencatat sikap dan tingkah laku siswa terhadap sesuatu,benda, orang, gambar atau kejadian.
Dari tingkah laku yang muncul kemudian dicari atribut yang mendasari tingkah laku tersebut.
2. Wawancara, dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka atau tertutup. Pertanyaan tersebut digunakan sebagai pancingan.
3. Angket atau kuesioner, merupakan suatu perangkat pertanyaan atau isian yang sudah disediakan pilihan jawaban baik berupa pilihan pertanyaan atau
pilihan bentuk angka.
4. Teknik proyektil, merupakan tugas atau pekerjaan atau objek yang belum pernah dikenal siswa. Para siswa diminta untuk mendiskusikan hal tersebut
menurut penafsirannya.
5. Pengukuran terselubung, merupakan pengamatan tentang sikap dan tingkah laku seseorang dimana yang diamati tdak tahu bahwa ia sedang diamati.

C. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN INSTRUMEN AFEKTIF

1. Merumuskan tujuan pengukuran afektif


Pengembangan alat ukursikap bertujuan untukmengetahui sikap siswa terhadap sesuatu objek, misalnya sikap siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler di
sekolah. Alat ukur minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat siswa terhadap sesuatu. Hasil pengukuran minat akan bermanfaat bagi sekolah
untuk mengidentifikasi dan menyediakan sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan minat siswa. Sedangkan bagi siswa akan bermanfaat untuk mempelajari
sesuatu objek sesuai dengan minatnya.

2. Mencari definisi konseptual dari afektif yang akan diukur


Setelah tujuan pengukuran ditetapkan maka langkah berikutnya adalah merumuskan definisi konseptual dari afektif yang akan diukur.

3. Menentukan definisi operasional dari setiap afektif yang akan diukur


Penentuan definisi operasional dimaksudkan untuk menentukan cara pengkuran definisi konseptual.

4. Menjabarkan definisi operasional menjadi sejumlah indikator


Indikator merupakan petunjuk terukurnya definisi operasional. Dengan demikian indikator harus operasional dan dapat diukur. Ketepatan pengukuran ranah
konektif sangat ditentukan oleh kemampuan penyusun instrument dalam membuat atau merumuskan indikator.

5. Menggunakan indikator sebagai acuan menulis pernyataan-pernyataan dalam instrument.


Penulisan instrument atau alat ukur dapat dilakukan dengan menggunakan skala pengukuran. Skala pengukuran yang paling banyak digunakan adalah skala
Liekert. Skala Likert merupakan salah satu jenis skala pengukuran ranah afektif yang terdiri dari sejumlah pertanyaan yang diikuti dengan penilaian responden
terhadap setiap pernyataan dengan menggunakan lima skala mulai dari yang paling sesuai sampai dengan yang paling tidak sesuai.

6. Meneliti kembali setiap butir pernyataan


Penelitian kembali instrument yang selesai ditulis sebaiknya dilakukan oleh orang yang telah memiliki banyak pengalaman dalammengembangkan alat ukur
afektif minimal dua orang.Kepada dua orang tersebut diberikan spesifikasi dari setiap butir (tujuan pengukuran,definisi konseptual, definisi operasioanl, indicator
dan pernyataan yang dibuat) dan rambu – rambu penulisan pernyataan yang baik seperti yang disarankan oleh Edwards.
7. Melakukan uji coba
Perangkat instrument yang telah ditelaah dan diperbaiki,disusun dan diperbanyak untuk kemudian di uji cobakan dilapangan. Tujuan uji coba adalah untuk
mengetahui perangkat alat ukur tersebut sudah dapat memberikan hasil pengukuran seperti yang kita inginkan.

8. Menyempurnakan instrumen
Data yang diperoleh dari hasil uji coba selanjutnya kita olah untuk memperoleh gambaran tentang validitas dan reliabilitas instrumen tersebut. Berdasarkan data
hasil uji coba kita akan dapat memperbaiki butir-butir pernyataan yang dianggap lemah. Dengan demikian pada akhir kegiatan ini kita sudah dapat memperoleh
perangkat instrumen yang memenuhi syarat sebagai alat ukur yang baik.

9. Mengadministrasikan instrumen
Yang dimaksud dengan mengadministrasikan instrumen adalah melaksanakan pengambilan data di lapangan. Untuk mengadministrasikan instrumen di
lapangan perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:

a. Kesiapan perangkat instrumen


Kesiapan perangkat instrumen paling tidak terdiri dari petunjuk cara menjawab dan contoh pengisian instrumen.
b. Tenaga lapangan
Tenaga lapangan yang dibutuhkan disesuaikan dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti. Sebelum terjun ke lapangan, petugas perlu dilatih bagaimana
melaksanakan pengumpulan data di lapangan. Pelatihan ini dimaksudkan agar semua petugas lapangan mempunyai persepsi yang sama dalam mengambil data.

c. Kesiapan responden
Sebelum pengumpulan data dilakukan kita perlu menghubungi instansi atau unit yang terkait di lapangan agar pada saat pengambilan data dilakukan semua
responden sudah siap.

MODUL 4
KEGIATAN BELAJAR 1
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN INFORMASI HASIL BELAJAR

Tujuan utama dari kegiatan penilaian adalah untuk mengethaui apakah kompetensi dasar yang telah ditetapkan sudah dapat dicapai oleh siswa atau belum.
Untuk keperluan tersebut guru perlu menyusun prosedur penilaian dalam bentuk kisi-kisi pengukuran. Kisi-kisi pengukuran tersebut antara lain berisi :
(a) aspek yang akan diukur : kognitif, afektif, atau psikomotor,
(b) jenis alat ukur yang digunakan : tes atau non-tes,
(c) teknik atau cara pengukurannya : tertulis, lisan, atau perbuatan
(d) cara penskoran serta pengolahannya.

Pengumpulan dan Pengolah Informasi Hasil Belajar dari Tes Tertulis


Informasi hasil belajar yang diperoleh dari tes tertulis dikumpulkan dari hasil tes tertulis yang telah dikerjakan siswa, baik yang berasal dari ulangan harian, tes
tengah semester, ataupun tes akhir semester. Jenis tes yang sering digunakan di lapangan adalah tes objektif dan tes uraian.

A. Memeriksa dan Mengolah Hasil Tes


1. Memeriksa Hasil tes Objektif
Cara yang paling umum dilakukan oleh para praktisi pendidikan di lapangan adalah dengan pemeriksaan secaar manual. Cara ini tepat dilakukan jika jumlah
peserta tesnya tidak terlalu banyak. Jika jumlah peserta tes sangat besar, maka pemeriksaan secara manual dirasa tidak efektif lagi. Jika peserta tes dalam
jumlah besar maka dapat menggunakan fasilitas komputer untuk menskor dan mengolahnya. Pembacaan jawaban siswa dapat dilakukan dengan menggunakan
bantuan mesin pembaca (scanner machine) dan untuk mengolah data selanjutnya dapat digunakan komputer.

2. Memeriksa Hasil Tes Uraian


Pemberian skor atau scoring merupakan masalah serius dalam pemeriksaan hasil tes uraian. Menurut Hopkins dan kawan-kawan (1990) terdapt lima faktor yang
menjadi permasalahan pada saat memeriksa hasil tes uraian yaitu ketidaktetapan pemeriksa dalam memberikan skor, adanya hallo effect, carri over effect, order
effect, dan adanya efek penggunakan bahasa serta tulisan siswa.

3. Mengolah Data Hasil Tes


a) Untuk tes objektif (tanpa formula tebakan)
Persentase penguasaan = .... x 100 %

b) Untuk tes uraian :


Persentase penguasaan = .... x 100 %

B. Pengumpulan dan Pengolahan Informasi haisl Belajar dari Unjuk Kerja Siswa

Informasi hasil belajar yang diperoleh dari unjuk siswa kerja siswa, baik yang berupa unjuk kerja yang langsung diamati guru, pembuatan laporan, pengumpulan
hasil karya, pengumpulan portofoio dan lain sebagianya. Satu hal yang tidak kalah penting adalah informasi yang berkenaan dengan proses selama
menghasilkan karya tersebut.
Untuk memperoleh informasi tersebut sudah barang tentu guru harus mempersiapkan pedoman pengamatan yang dilengkapi dengan kriteria penskoran. Inilah
yang dikenal dengan rubrik
KEGIATAN BELAJAR 2
Pendekatan dalam Pemberian Nilai

Informasi hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes, pada awalnya masih berupa skor mentah (raw score) yang berupa data terserak (belum tertata). Karena data
belum tertata dengan baik maka guru akan menemui kesulitan untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang hasil belajar siswa tersebut.
Data tersebut perlu diatur sedemikian rupa agar mudah dipahami, misalnya diurutkan dari data terbesar sampai dengan yang terkecil. Dengan mengurutkan hasil
tes tersebut maka anda akan dapat melihat dengan mudah rangking siswa.
Apabila jumlah siswa sedikit (misalnya 10 anak) maka penyusunan datanya dapat anda lakukan dengan mudah dan dapat dengan cepat diketahui rangking kelas
pada mata pelajaran tertentu. Tetapi jika jumlah siswa anda banyak maka kumpulan data hasil belajar yang anda peroleh akan mudah dipahami jika data tersebut
diolah dalam bentuk tabel frekuensi. Cara membuat daftar distribusi frekuensi :

1. Tentutan rentang, ialah data terbesar dikurangi dengan data terkecil.


2. Tentukan banyak kelas interval yang diperlukan.
3. Tentukan panjang kelas interval (p)
4. Tentukan ujung bawah kelas interval untuk data terkecil.
5. Masukkan semua data ke dalam kelas interval.

Pendekatan dalam pemberian nilai diantaranya:

1. Pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN)


Adalah suatu pendekatan untuk menginterpretasikan hasil belajar siswa dimana hasil belajar yang diperoleh seorang siswa dibandingkan dengan hasil belajar
yang diperoleh kelompoknya. Pemberian skor seorang siswa dapat diberikan berdasarkan pada pencapaian hasil belajar kelompoknya. Dengan demikian guru
dapat memberikan nilai tertinggi pada siswa yang memperoleh skor tertinggi dan sebaliknya siswa yang memperoleh skor terendah diberi nilai terendah.
Jika jumlah siswa banyak (mencapai ratusan) maka penggunaan statistika sederhana yaitu haarga rata-rata (mean) dan simpangan baku (SB) akan sangat
membantu dalam memberikan nilai untuk seluruh siswa.
Simpangan baku sangat bermanfaat dalam pengukuran varriasi skor. Pada dasarnya simpangan baku mengukur seberapa jauh setiap skor menyebar dari mean.
Semakin besar harga simpangan baku menunjukkan bahwa sebaran skor dari mean semakin besar. Atau dengan kata lain semakin besar harga simpangan
baku, data tersebut semakin heterogen. Sebaliknya semakin kecil harga simpangan baku maka data tersebut semakin homogen.

2. Pendekatan Penilaian Acuan Kriteria (PAK)


Dalam PAK keberhasilan setiap anak tidak dibandingkan dengan hasil hang diperoleh kelompoknya tetapi keberhasilan setiap anak akan dibandingkan dengan
kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Penentuan kriteria berorientasi pada pencapaian kompetensi atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Penerapan PAK dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam penerimaan dosen baru di suatu perguruan tinggi di tentukan dengan kriiteria; berijasah S1
dalam program studi yang relevan, Indeks Prestasi Kumulatif minimal 3,00 dan persyaratan yang lainnya.

Penilaian
Pengertian penilaian disini mengacu pada penilaian sebagai asesmen yaitu serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh informasi tentang
pencapaian hasil belajar siswa dan menggunakan informasi tersebut utuk mencapai tujuan pendidikan.

Penyajian Hasil Penilaian


Bentuk penilaian yang dapat dipergunakan guru untuk menilai hasil belajar siswa:
a. Penilaian dengan menggunakan angka.
b. Penilaian dengan menggunakan kategori.
c. Penilaian dengan uraian atau narasi
d. Penilaian kombinasi

Proses Pemberian Nilai


Pelaksanaan penilaian sesuai prinsipnya harus dilakukan pada semua aspek hasil belajar (kognitif, afektif, dan psikomotor) sesuai dengan tuntutan kompetensi
yang terdapat dalam kurikulum. Perlu dipahami bahwa penguasaan kompoetensi hasil belajar untuk setiap mata pelajaran tidak sama. Ada mata pelajaran yang
kompetensi belajarnya lebih menekankan pada ranah kognitif (misalnya matematika), ranah afektif (misalnya Pendidikan Agama dan Pendidikan
Kewarganegaraan), atau ranah psikomotor (misalnya Olah Raga).
Beberapa jenis alat ukur dan jenis tagihan yang dapat digunakan dalam proses pemberian nilai antara lain:
a) Kuis
b) Pertanyaan lisan
c) Ulangan harian
d) Tugas individu
e) Ulangan semesteran
f) Laporan tugas atau laporan kerja
g) Ujian praktek