Anda di halaman 1dari 11

TUGAS I

PENGOLAHAN BAHAN GALIAN DAN INDUSTRI

OLEH :

NAMA : STEVEN MASU


NIM : 1406100005

UNIVERSITAS NUSA CENDANA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
KUPANG
2017
A. Batu Gamping
Dikenal batu gamping non-klastik, merupakan koloni dari bintang laut antara lain
dari Coelantera, Moluska dan Protozoa, Foraminifera dan sebagainya, jenis batu gamping ini
sering disebut sebagai batu gamping koral karena penyusun utamanya adalah koral yang
merupakan anggota dari Coelentera. Batu gamping ini merupakan pertumbuhan/perkembangan
koloni Koral, oleh sebab itu dilapangan tidak menunjukan perlapisan yang baik dan belum
banyak mengalami pengotoran mineral lain. Secara kimia batugamping terdiri atas Kalsium
karbonat (CaCO3). Dialam tidak jarang pula dijumpai batugamping magnesium. Kadar
magnesium yang tinggi mengubah batugamping dolomitan dengan komposisi kimia
CaMg(CO3)2.

Gambar 1.1. Batu Gamping


Adapun sifat dari batugamping adalah sebagai berikut :
a. Warna : Putih,putih kecoklatan, dan putih keabuan
b. Kilap : Kaca, dan tanah
c. Goresan : Putih sampai putih keabuan
d. Bidang belahan : Tidak teratur
e. Pecahan : Uneven
f. Kekerasan : 2,7 – 3,4 skala mohs
g. Berat Jenis : 2,387 Ton/m3
h. Tenacity : Keras, Kompak, sebagian berongga
Batu gamping klastik, merupakan hasil rombakan jenis batu gamping non klastik melalui
proses erosi oleh air, transportasi, sortasi, sendimentasi. Oleh karenanya selama proses tersebut
terikut jenis mineral lain yang merupakan pengotor dan memberi warna pada batu gamping yang
bersangkutan. Akibat adanya proses sortasi maka secara ilmiah akan terbentuk pengelompokan
ukuran butir. Dikenal jenis kalsirudit apabila batu gamping tersebut fragmental, kalkarenit
apabila batu gamping tersebut berukuran lempung.Tingkat pengotoran/kontaminasi oleh mineral
asing berkaitam erat dengan ukuran butirnya.Pada umumnya jenis batuan gamping inidilapangan
menujukan berlapis. Adanya perlapisan dan struktur sedimen yang lain serta adanya kontaminasi
mineral tertentu yang akan memberi warna dalam beberapa hal memberikan nilai tambah setelah
batu gamping tersebut terkena sentuhan teknologi.
Selain itu mata air mineral dapat pula mengendapkan batu gamping yang disebut sebagai
endapan sinter kapur. Batu gamping jenis ini terjadi karena proses kimia di alam, peredaran air
panas alam maka berlarutlah batu gamping dibawah permukaan yang kemudian diendapkan
kembali dipermukaan bumi.
Secara kimia batu gamping terdiri atas kalsium karbonat (CaCO3).Di alam tidak jarang
pula dijumpai batu gamping magnesium.Kadar magnesium yang tinggi mengubah batu gamping
menjadi batu gamping dolomitan dengan komposisi kimia CaMg(CO3)2.Hasil penyelidikan
hingga kini menyebutkan bahwa kadar Calsium Oksida batu gamping di Jawa umumnya tinggi
(CaO > 50%). Selain magnesium batu gamping kerap kali tercampur dengan lempung, pasir,
bahkan jenis mineral lain.
Pada umumnya batu gamping yang padat dan keras mempunyai berat jenis 2.Selain yang
pejal (masif) dijumpai pula batu gamping yang sarang (porus). Mengenai warna dapat dikatakan
bervariasi dari putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat, merah, bahkan hitam. Semuanya
disesbabkan karena jumlah dan jenis pengotor yang ada.Warna kemerahan disebabkan oleh
mangaan dan oksida besi, sedang kehitaman karena zat organic. Batu gamping yang mengalami
metamorphose berubah menjadi marmer.
Di beberapa daerah berbatu gamping yang tebal lapisannya didapatkan gua atau sungai
bawah tanah yang terjadinya berkaitan erat dengan kerjanya air tanah.Air hujan yang
mengandung CO2dari udara dan CO2 hasil pembusukan zat organic dipermukaan setelah
meresap ke dalam tanah dapat melarutkan batu gamping yang dilaluinya sepanjang rekahan.
Reaksi kimia yang berlangsung adalah:
CaCO3 + 2CO2 + H2O Ca(HCO3)2 + CO2
Ca(HCO3)2larut dalam air sehingga lambat laun terjadilah rongga dalam bentuk gua atau
sungai bawah tanah.
Seperti dijelaskan dimuka, secara geologi batu gamping mungkin berubah menjadi
dolomitan (Mg) 2,2% - 10,9%) atau dolomit (MgO > 19,9%) karena pengaruh perlindian
(leaching) atau perserapan unsur magnesium dari laut kedalam batu gamping tersebut, disamping
itu dolomit juga diendapkan secara tersendiri atau bersamaan dengan batu gamping. Ada
hubungan erat antara batu gamping dan dolomit seperti yang dikemukakan Pettijhon (1949)

Table 1.tatanama batu gamping sesuai dengan kadar magnesium (Pettijhon, 1949)
Nama batuan Kadar dolomite Kadar MgO (%)
Batu gamping 0–5 0,1 - 1,1
Batu gamping bermagnesium 5 – 10 1,1 - 2,2
Batu gamping dolomitan 10 – 50 2,2 - 10,9
Dolomitan berkalsium 50 – 90 10,9-19,7
Dolomitan 90 – 100 19,7 -21,8
Catatan: dolomit tidak larut oleh HCl
B. Keterdapatan

Gambar 1.2. Peta pesebaran batu gamping di Indonesia

Dari peta diatas terlihat bahwa bulatan berwarna kuning merupakan pesebaran batu
gamping di Indonesia. pesebaran terbanyak yaitu berada pada pulau sumatera dan pulau
jawa.Penyebaran batu gamping di alam terdapat di Jawa Timur tempat diketemukan dengan
berbagai kualitas dan jumlah cadangan yakni di Kec.Merakurak, Kab Tuban; Kec.Kebomas,
Gresik; Indro, Gresik, Kec.Babat, Kab Lamongan; Baureno, Kab. Bojonegoro, Socah Timur,
Kab. Bangkalan, Madura, Kec. Labang,Kab. Bangkalan Madura.
Pada umumnya deposit batu gamping ditemukan dalam bentuk bukit. Oleh sebab itu
teknik penambangan dilakukan dengan tambang terbuka dalam bentuk kuari tipe sisi bukit (side
hill type). Untuk penambangan skala besar pembongkaran dibantu dengan sistem peledakan
beruntun dibantu peralatan berat antara lainescavatordan ripper (penggaru), sedang untuk
penambangan skala kecil dilakukan secara sederhana antara lain cangkul, ganco, dan sekop
apabila batu gampingnya tidak keras, pemberaian dibantu dengan membuat sederatan ”lubang”
tembak yang diisi dengan lempung. Sesudah lempung diisikan pada masing-masing lubang lalu
dituangkan padanya air. Akibatnya lempung mengembang yang akhirnya dengan bantuan
”linggis” batu gamping mudah dibongkar.
Apabila skala penambangankecil, sistem yang diterapkan dalam kegiatan penambangan
adalah sistem gophering, mengikuti bagian/jalur batu gamping yang relative mudah
dibongkar.Disamping hal tersebut teknik penambangan juga mempertimbangkn ukuran/bentuk
pembongkran yang diingikan.Mempertimbangkan keselamatan kerja sistem gopheringtidak
dianjurkan.

Gambar 1.3. Penambangan batu gamping di Jawa Timur

C. Pengolahan dan Pemanfaatan


Cara pengolahan hasil penambangan sangat ditentukan oleh rencana
pemanfaatan/penggunaan batu gamping antara lain untuk:
1 Fondasi rumah/pengeras jalan/bangunan fisik lainya.
Apabila disekitar daerah/ditempat tersebut tidak didapatkan jenis batuan
beku/batuan lain yang lebih keras, maka batu gamping dapat dimanfaatkan untuk
keperluan tersebut. Untuk itu dipilih batu gamping yang pejal dan tidak berlubang.
Bentuk dan ukuran tidak ada standart, tetapi seyogyanya mudah diangkat oleh tenaga
manusia. Bagaimanapun kerasnya batu gamping akan mudah lapuk dan larut oleh air
hujan. Oleh sebab itu batu gamping untuk fondasi rumah disarankan untuk rumah yang
tidak menahan beban berat. Disamping itu fragmen batu gamping tidak disarankan untuk
adonan semen cor, karena disamping batu gamping mempunyai kekerasan rendah juga
mudah larut dengan air yang bersifat asam.untuk pengeras jalan tidak disrankan untuk
jalan yang menahan beban berat. Apabila terpaksa dipergunakan untuk dinding saluran
atau bending, dituntut pengerjaan yang sempurna, karena batu gamping mudah larut
dalam air yang mengalir. Batu gamping yang dibuat berukuran krakal tidak disarankan
untuk pengeras atau bantalan rel kereta api. Apabila hal ini terpakasa dilakukan karena
tidak ada pilihan lain, maka pengontrolan harus lebih sering dilakukan.
2 Penetral keasaman tanah
Tanah yang terlalu asam misalnya didaerah gambut, tidak sesuai untuk budidaya
pertanian karena tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik. Dalam usaha menetralkan
keasaman tanah, salah satunya dengan cara menambah kapur/batu gamping. Karena batu
gamping mudah larut dalam air, dalam usaha penetralan tanah disarankan dipergunakan
fragmen batu gamping yang berukuran kerikil-kerakal, bukan berukuran pasir. Hal ini
dilakukan dengan maksud fragmen batu gamping tersebut dapat tahan lama sebagai
bagian dari tanah dan tidak mudah larut dalam air. Batu gamping yang dimanfaatkan
langsung dari hasil penambangan dan belum dimatikan/dibakar
3 kapur tohor
kapur tohor (quick lime) dihasilkan dari batu gamping yang dikalsinasikan, yaitu
dipanaskan dalam dapur pada suhu 6000 C – 9000C. kapur tohor ini apabila disiram
dengan air secukupnya akan menghasilkan kapur padam (hydrated/slaked quicklime)
dengan mengeluarkan panas. Pengkalsinasian batu gamping/dolomit tersebut umumnya
dilakukan dalam dapur tegak untuk produksi kecil-kecilan dan dalam dapur putar (kiln)
untuk produksi besar-besaran. Sesuai dengan bahan bakunya adalah
a. Batu gamping: CaCO3900 C CaO+CO2
Batu gamping Kapur tohor kalsium

b. Dolomit: CaMg(CO3)2600-900C CaOMgO+CO2


Dolomit Kapur tohor dolomitan

Reaksi bolak-balik ini terjadi pada tekanan 1 atm. Apabila tekanan lebih besar dari 1 atm
maka gas CO2 yang terbentuk akan bereaksi dengan CaO dan membentuk kembali CaCO3
(hard burned/over burned). Untuk menghindari ini suhu harus dinaikan hingga 10000 C –
12000C dan kapur tohor yang segera berbentuk harus didinginkan. Kapur tohor tidak bisa
disimpan terlau lama karena dengan air dan udara (kelembaban) akan menimbulkan panas.
Reaksi kimianya sebagai berikut:
CaO+H2O` Ca(OH)2+panas
Kapur tohor kalsium Kapur padam kalsium

CaOMgO+H2O Ca(OH)2Mg(OH)2 + panas


Kapur tohor dolomitan Kapur padamdolomitan

Demikian pula CO2 dari udara menyebabkan kapur tohor tidak murni lagi karena terbentuk
kembali Kalsium Karbonat.
Reaksinya sebagai berikut:
CaO+CO2 CaCO3
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa mutu kapur tohor/padam tergantung pada:
1.Mutu bahan asal/batu gampingnya
2.Cara memproduksinya
Untuk menghasilkan kapur tohor yang memenuhi persyaratan tertentu diperlukan batu
gamping tertentu pula.Untuk bahan bangunan seyogyanya mengandung MgO cukup rendah
dan ini dihasilkan apabila batu gampingnya berkadar MgCO3rendah. Apabila
kadarMgCO3cukup tinggi seperti pada batu gamping dolomit maka kemungkinan terjadi
penurunan mutu kapur tohor yang diperoleh jika bahan tersebut dipakai sebagai bahan
bangunan. Adapun keterangan proses sebgai berikut:
1. MgO yang terbentuk pada temperature tinggi lebih sulit diseduh dengan air disbanding
dengan yang berbentuk pada suhu rendah
2. Makin tinggi suhu yang dipakai makin tidak aktif zat tersebut
3. Pembentukan tidak dapat dihindari karena pada reaksi penguraian CaCO3 dibutuhukan
suhu yang lebih tinggi dari pada menguraikan MgCO3
4. Suhu jadi lebih tinggi lagi apabila yang digunakan ialah bongkahan batu gamping yang
lebih besar, MgO yang terbentuk pada suhu agak tinggi dapat pula terseduh menjadi
4. Pembuatan PCC
Kalsium Karbonat ini dapat diperoleh dari tambang atau pada proses pemurnian batu
kapur. Selain itu proses pembuatan PCC di laboratorium dapat dilakukan dengan
mereaksikan Ca(OH)2 dengan CO2 dalam sebuah reaktor gelembung. Apabila laju alir dalam
reaktor gelembung cukup kecil, maka padatan PCC akan terbentuk pada reaktor dan
mengendap pada reaktor.
PCC juga dapat buatan dibuat dengan presipitasi (pengendapan), misalnya dengan
mereaksikan larutan kalsium klorida mendidih dengan larutan natrium karbonat mendidih
atau dengan melewatkan karbondioksida ke dalam suspensi susu gamping (milk of lime).
Sebagian besar suspensi digunakan dalam cat, karet, farmasi atau industri kertas.
Secara umum, PCC diproduksi melalui tiga tahapan utama yang sederhana. Pertama
adalah pembakaran batu kapur, kemudian mengontakkan hasil pembakaran batu kapur
dengan air, setelah itu hasil kontak dengan air diendapkan dengan kehadiran karbon
dioksida. Reaksi kimia yang terjadi adalah:
 Pembakaran batu kapur (Kalsinasi)
CaCO3 → CaO + CO2
 Pengontakan hasil pembakaran dengan air
CaO + H2O ←→ Ca(OH)2
 Hasil kontak dengan air diendapkan dengan penambahan CO2
Ca(OH)2 + CO2 → CaCO3 + H2O
PCC dapat diperoleh dari tambang atau pemurnian batu kapur. PCC dapat disintesis
dari batu kapur melalui 3 metoda, yaitu metoda Solvay, metoda Kaustik Soda dan metoda
Karbonasi.
5. pembuatan semen
Proses Pembuatan Semen:
 Quarry : Bahan tambang berupa batu kapur, batu silika,tanah liat, dan material-material lain
yang mengandung kalsium, silikon, alumunium, dan besi oksida yang
diekstarksi menggunakan drilling dan blasting.
 Crushing :Pemecahan material material hasil penambangan menjadi ukuran yang lebih kecil
dengan menggunakan crusher.
 Conveying:Bahan mentah ditransportasikan dari area penambangan ke lokasi pabrik
untuk diproses lebih lanjut dengan menggunakan belt conveyor.
 Raw mill (penggilingan) :Proses Basah penggilingan dilakukan dalam raw mill dengan
menambahkan sejumlah air kemudian dihasilkan slurry dengan kadar air 34-38 %.Material-
material ditambah air diumpankan ke dalam raw mill. Karena adanya putaran, material akan
bergerak dari satu kamar ke kamar berikutnya.Pada kamar 1 terjadi proses pemecahan dan
kamar 2/3 terjadi gesekan sehingga campuran bahan mentah menjadi slurry. Sedangkan,
pada proses kering, terjadi di Duodan Mill yang terdiri dari Drying Chamber, Compt 1, dan
Compt 2. Material-material dimasukkan bersamaan dengan dialirkannnya gas panas yang
berasal dari suspension preheater dan menara pendingin. Pada ruangan pengering terdapat
filter yang berfungsi untuk mengangkut dan menaburkan material sehingga gas panas dan
material berkontaminasi secara merata sehingga efisiensi dapat tercapai. Terjadi pemisahan
material kasar dan halus dalam separator.
 Homogenisasi:Proses Basah, slurry dicampur di mixing basin,kemudian slurry dilairkan ke
tabung koreksi; proses pengoreksian. Sedangkan pada proses kering terjadi di blending silo
dengan sistem aliran corong.
 Pembakaran (pembentukan clinker): Terjadi di dalam kiln. Kiln adalah alat berbentuk
tabung yang di dalamnya terdapat semburan api. Kiln di design untuk memaksimalkan
efisiensi dari perpindahan panas yang berasal dari pembakaran bahan bakar.
Daftar Pustaka

https://www.scribd.com/search?content_type=tops&page=1&query=PROSES%20PEMBENTU
KAN%20BATU%20GAMPING. Diakses : 20 oktober 2017
https://www.slideshare.net/search/slideshow?searchfrom=header&q=PEMBENTUKAN+BATU
+GAMPING. Diakses : 20 oktober 2017
https://www.academia.edu/9766705/Genesa_Batu_Gamping. Diakses : 20 oktober 2017
https://shinqueena.wordpress.com/semen-dan-proses-pembuatannya/. Diakses : 20 oktober 2017