Anda di halaman 1dari 59

HUBUNGAN TEKNIK RELAKSASI BERNAFAS DENGAN RESPON ADAPTASI NYERI PADA PASIEN INPARTU KALA I DI RUMAH SAKIT WILAYAH KABUPATEN BIREUEN

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan

Program Studi Diploma III Kebidanan STIKes U’Budiyah

Banda Aceh

Studi Diploma III Kebidanan STIKes U’Budiyah Banda Aceh Oleh : SYARIFAH KHAIRUNNISA NIM : 10010097 SEKOLAH

Oleh :

SYARIFAH KHAIRUNNISA NIM : 10010097

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN U’BUDIYAH PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN BANDA ACEH TAHUN 2013

ABSTRAK

HUBUNGAN TEKNIK RELAKSASI BERNAFAS DENGAN RESPON ADAPTASI NYERI PADA PASIEN INPARTU KALA I DI RUMAH SAKIT WILAYAH KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2013

Syarifah khairunnisa¹, Rahmayani²

x + 41 halaman : 5 Tabel, 4 Gambar, 11 Lampiran

Latar Belakang: Teknik relaksasi merupakan teknik pereda nyeri yang banyak memberikan masukan terbesar karena teknik relaksasi dalam persalinan dapat mencegah kesalahan yang brlebihan pasca persalinan. Setiap tahun lebih dari 200 juta wanita hamil, sebagian besar kehamilan berakhir dengan kelahiran bayi hidup pada ibu yang sehat walaupun demikian, pada beberapa kasus kelahiran bukanlah peristiwa membahagiakan tetapi menjadi suatu masa yang penuh dengan rasa nyeri, rasa takut, penderitaan dan bahkan kematian. Tujuan penelitian: untuk mengetahui hubungan teknik relaksasi bernafas dengan respon adaptasi nyeri pada pasien inpartu kala I di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen. Metodelogi Penelitian: penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional di Rumah Sakit Umum Dr.Fauziah Bireuen, pengambilan sampel menggunakan teknik acidental sampling sebanyak 32 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi langsung kepada responden dengan alternatif pilihan yang tercantum dalam format cheklist yang akan di isi langsung oleh peneliti. Hasil penelitian: dari 32 responden ibu yang melakukan teknik relaksasi bernafas sebanyak 19 orang (59,4%) dan yang tidak melakukan teknik relaksasi bernafas sebanyak 13 orang (40,6%), sedangkan ibu yang mengalami respon adaptasi nyeri sebanyak 28 0rang (87,5%) dan yang tidak mengalami respon adaptasi nyeri sebanyak 4 orang(12,5%). Kesimpulan: Ada hubungan teknik relaksasi bernafas dengan respon adaptasi nyeri pada pasien inpartu kala I. Saran: Diharapkan agar karya tulis ilmiah ini menjadi informasi tambahan bagi mahasiswi kebidanan tentang relaksasi bernafas yang dapat mempengaruhi respon adaptasi nyeri.

Kata Kunci : Teknik relaksasi bernafas, respon adaptasi nyeri

Sumber

: 15 buku (2001-2010) dan 5 internet (2009-2013)

¹Mahasiswa Prodi D-III Kebidanan Stikes U’budiyah ² Dosen Pembimbing Prodi D-III Kebidanan Stikes U’budiyah

KATA PENGANTAR

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, serta selawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW karena dengan berkat dan karunia-Nyalah peneliti dapat menyelesaikan ini dengan judul HubunganTeknik Relaksasi Bernafas Dengan Respon Adaptasi Nyeri Pada Pasien Inpartu Kala I Di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen. Karya Tulis Ilmiah ini merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan pada Program Diploma III Kebidana di STIKes U’Budiyah Banda Aceh. Dalam Penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini peneliti telah banyak menerima

bimbingan dan arahan serta motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, maka perkenankanlah peneliti mengucapkan terimakasih yang tiada terhingga kepada yang terhormat :

1. Bapak Dedi Zefrizal, ST selaku Ketua Yayasan U’Budiyah Indonesia.

2. Ibu Marniati, M.Kes selaku Ketua STIKes U’Budiyah Banda Aceh.

3. Ibu Nuzulul Rahmi,SST selaku Ketua Prodi D-III Kebidanan STIKes U’Budiyah Banda Aceh.

4. Ibu Rahmayani, SKM, M.Kes selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dan pemikiran dalam proses penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

5. Ibu Susanti, SKM, M.Kes selaku Penguji I yang telah banyak memberi bimbingan dan saran sehingga peneliti bisa membuat Karya Tulis Ilmiah

6. Ibu Lisma Safriza Putri, SST selaku Penguji II yang telah banyak memberi bimbingan dan saran sehingga peneliti bisa membuat Karya Tulis Ilmiah

7. Kepala Rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen yang telah memberikan izin untuk peneliti melakukan pengambilan penelitian.

8. Seluruh Dosen Pengajar Jurusan Kebidanan dan Staf Akademik STIKes U’Budiyah Banda Aceh.

9. Ayahanda dan Ibunda tercinta, serta keluarga tersayang yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan serta bantuan baik moril maupun material sehingga dengan restu beliau peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

10. Sahabat-sahabat peneliti dan teman-teman seangkatan di Program Studi

Diploma III Kebidanan U’Budiyah Banda Aceh yang selalu membantu dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. Peneliti menyadari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang peneliti miliki. Untuk itu peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini dimasa yang akan datang. Harapan peneliti semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermamfaat bagi pengembangan pendidikan kearah yang lebih baik.

Banda Aceh,

Oktober 2013

Peneliti

DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL

i

ii

LEMBARAN

PERSETUJUAN

iii

LEMBARAN

PENGESAHAN

iv

KATA PENGANTAR

v

DAFTAR

ISI

vii

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR

TABEL

x

DAFTAR

LAMPIRAN

xi

BAB I PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Rumusan masalah

5

C. Tujuan

5

D. penelitian

Manfaat

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

7

A. Inpartu Kala I

7

B. Nyeri Inpartu

12

1. Pengertian

12

2. Penyebab Nyeri persalinan

15

3. Intensitas

Nyeri

16

4. Klasifikasi Nyeri

19

C. Teknik Relaksasi Bernafas

21

1. Pengertian

21

2. Manfaat Relaksasi

22

D.

Respon Adaptasi Nyeri

24

1. Pengertian

25

2. Komponen dari Adaptasi

26

3. ResponTingkah Laku Terhadap Nyeri

28

4. Faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri

28

BAB III KERANGKA KONSEP

29

A. Kerangka Konsep Penelitian

29

B. Definisi Operasional

30

C. Hipotesa Penelitian

30

BAB IV METODE PENELITIAN

31

A. Jenis Penelitian

31

B. Tempat dan Waktu penelitian

31

C. Populasi dan Sampel

31

D. Pengumpulan Data

31

1. Teknik Pengumpulan Data

31

2. Instrumen Pengumpulan Data

32

E. Pengolahan Data

32

F. Analisa Data

33

1. Analisa

Univariat

33

2. Analisa

Bivariat

33

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

35

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

35

B. Hasil Penelitian

36

C. Pembahasan

38

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

40

A. Kesimpulan

40

B. Saran

40

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN.

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Skala Numerik Nyeri

 

17

Gambar 2.2. Visual Analog scale

 

17

Gambar 2.3. Skala Wajah

 

17

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

 

29

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Kurva Friedman Kecepatan Pembukaan Serviks

9

Tabel 2.2. Definisi Operasional

30

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Respon Adaptasi Nyeri Ibu Bersalin Kala I di

Rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen

36

Tabel 5.2. Distibusi Frekuensi Teknik Relaksasi Bernafas Pasien Inpartu Kala I

di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen

36

Tabel 5.3. Tabulasi Silang Teknik Relaksasi Bernafas Terhadap Respon Adaptasi

Nyeri Pasien Inpartu Kala I di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten

Bireuen

37

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Lembaran Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 2

: Lembaran Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 3

: Kuesioner Penelitian

Lampiran 4

: Surat Pengambilan Data awal

Lampiran 5

: Surat Selesai Pengambilan Data awal

Lampiran 6

: Surat Izin Penelitian

Lampiran 7

: Surat Selesai Penelitian

Lampiran 8

: Master tabel

Lampiran 9

: Lampiran SPSS

Lampiran 10

: Lembaran Konsultasi

Lampiran 11

: Biodata

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal.

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi

pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi

belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada

ibu maupun pada janin. Persalinan adalah saat yang sangat dinanti-nantikan

ibu hamil untuk dapat merasakan kebahagiaan melihat dan memeluk bayinya.

Tetapi, persalinan juga dapat disertai rasa nyeri yang membuat kebahagiaan

yang didambakan diliputi oleh rasa takut dan cemas. Beberapa penelitian

menunjukkan bahwa pada masyarakat primitif, persalinannya lebih lama dan

nyeri, sedangkan masyarakat yang telah maju 7-14% bersalin tanpa rasa nyeri

dan

sebagian

besar

(90%)

persalinan

disertai

rasa

nyeri.

Nyeri

dalam

kebidanan adalah sesuatu yang dikatakan oleh pasien, kapan saja adanya

nyeri

tersebut.

Nyeri

adalah

masalah

yang

alamiah

dalam

menghadapi

persalinan. Apabila tidak diatasi maka menimbulkan masalah lain yaitu

meningkatkan rasa khawatir (Winkjosastro, 2002).

Berbagai

upaya

dilakukan

untuk

menurunkan

rasa

nyeri

pada

persalinan, baik secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Manajemen

nyeri

secara

farmakologi

lebih

efektif

dibandinkan

dengan

metode

nonfarmakologi namun metode farmakologi lebih mahal, dan berpotensi

mempunyai

efek

yang

kurang baik.

Sedangkan

metode nonfarmakologi

bersifat

murah,

simpel,

(Winkjosastro,2002).

efektif,

tanpa

efek

yang

merugikan

Metode nonfarmakologi juga dapat meningkatkan kepuasan selama

persalinan

karena

ibu

dapat

mengontrol

perasaannya

dan

kekuatannya.

Relaksasi, teknik pernapasan, pergerakan dan perubahan posisi, massage,

hidroterapi,

terapi

panas/dingin,

musik,

guideimagery,

akupresur,

aromaterapi

merupakan

beberapa

teknik

farmakologi

yang

dapat

meningkatkan kenyamanan ibu saat bersalin dan mempunyai pengaruh yang

efektif terhadap pengalaman persalinan (Handerson & Jones, 2006).

Berdasarkan pendapat Steer dikutip dari (Mander, 2003). Relaksasi

adalah

metode

pengendalian

digunakan

di

Inggris.

Steer

metode

relaksasi.

Frekuensi

nyeri

nonfarmakologis

yang

paling

sering

melaporkan

ini

sedikit

bahwa

34%

ibu

menggunakan

ketinggalan

dengan

penggunaan

Etonox (60%). Tetapi tidak terlalu jauh berada di belakang metode yang

kedua

yang

paling

sering

digunakan,

yaitu

petidine

(36%).

Teknik

pengendalian

nyeri

yang

termasuk

relaksasi

mengajarka

ibu

untuk

meminimalkan aktivitas simpatis dan sistem saraf otonom. Dengan menekan

aktivitas

saraf

simpatis,

ibu

(Rosemary Mander, 2003).

mampu

memecahkan

siklus

ketegangan

Nyeri dan ketegangan emosional meningkatkan kadar kortisol dan

katekolamin, yang dapat mempengaruhi lama dan intensitas persalinan. Rasa

nyeri saat persalinan bisa meningkatkan tekanan darah, denyut jantung janin

meningkat dan konsentrasi ibu selama persalinan menjadi terganggu. Semua

itu akan berefek buruk terhadap kelancaran persalinan (Indriati, 2009).

Ketika ibu sangat takut menghadapi persalinan secara otomatis otak

mengatur dan mempersiapkan tubuh untuk mengurangi rasa sakit semakin

parah

dan

akhirnya

ibu

semakin

takut.

Metode

penghilang

rasa

sakit

persalinan dibutuhkan karena pada dasarnya persalinan bukanlah siksaan,

bahkan hukuman dan bukan ajang uji ketakutan atau daya tahan wanita.

Persalinan adalah tugas reproduksi untuk melanjutkan kehidupan dimuka

bumi

ini.

Untuk

meringankan

tugas

ini

ibu

berhak

atas

upaya

untuk

mengurangi penderitaan apalagi rasa sakit yang dialami sepanjang persalinan

dapat beresiko bagi keselamatan ibu dan janin (Danuatmaja & Meiliasari

2004).

Setiap

tahun

lebih

dari

200

juta

wanita

hamil,

sebagian

besar

kehamilan

berakhir

dengan

kelahiran

bayi

hidup

pada

ibu

yang

sehat

walaupun

demikian,

pada

beberapa

kasus

kelahiran

bukanlah

peristiwa

membahagiakan tetapi menjadi suatu masa yang penuh dengan rasa nyeri,

rasa takut, penderitaan dan bahkan kematian (WHO, 2003).

Dari data Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung tahun 2008 tentang

penanggulangan nyeri persalinan secara nonfarmakologis berhasil di lakukan

kira-kira 50% dengan metode relaksasi pernafasan. Study yang dilakukan

oleh National Birthday Trust terhadap 1000 ibu wanita hamil menunjukkan

90% wanita

merasakan

manfaat

relaksasi

dilakukan petugas kesehatan.

untuk

meredakan

nyeri

yang

Keterampilan

mengatasi

rasa

nyeri

ini

dapat

digunakan

selam

persalinan, mengatasi persalinan dengan baik berarti tidak kewalahan atau

panik

saat

bermanfaat

menghadapi

rangkaian

untuk

mengatasi

rasa

kontraksi.

Ketrampilan

yang

paling

nyeri

persalinan

mencakup

relaksasi

pernapasan. Para wanita yang menggunakan ketrampilan ini biasanya tidak

merasa begitu sakit dibandingkan para wanita yang tidak menggunakannya

(Whalley & Keppler, 2008).

Relaksasi merupakan proses mengistirahatkan tubuh dan pikiran dari

segala beban fisik dan kejiwaan, sehingga ibu menjadi lebih tenang. Di

samping itu relaksasi juga membuat sirkulasi darah rahim, plasenta dan janin

menjadi lancar sehingga kebutuhan oksigen dan maknan si kecil terpenuhi.

Sirkulasi darah yang lancar juga akan membuat otot-otot yang berhubungan

dengan

kandungan

dan

janinseperti

otot

panggul,

punggung,

dan

perut

menjadi lemas dan kendur. Sedang ketika persalinan, relaksasi membuat

proses kontraksi berlangsung aman, alami, dan lancar. Di samping menjadi

rileks, pengetahuan tentang cara bernafas yang baik juga dapat mengatasi

beberapa kesulitan bernafas yang biasa dialami ibu hamil (Indriati, 2009).

Di provinsi Aceh masih banyak ibu bersalin yang belum melakukan

relaksasi bernafas. Hal ini dibuktikan dengan masih banyak ibu bersalin yang

merasakan nyeri yang adekuat saat bersalin dengan presentase 43,56% pada

tahun 2010. Persentase ini juga lebih tinggi dari persentase Nasional yang

mencapai 30,28 % pada tahun 2010 (www.bps.go.id dan Statistik Kesra Aceh

2010).

Teknik

relaksasi

merupakan

teknik

pereda

nyeri

yang

banyak

memberikan masukan terbesar karena teknik relaksasi dalam persalinan dapat

mencegah kesalahan

yang brlebihan pasca persalinan. Adapun relaksasi

bernafas selama proses persalinan dapat mempertahankan komponen sistem

saraf simpatis dalam keadaan homeostasis sehingga tidak terjadi peningkatan

suplai

darah,

mengurangi

kecemasan

dan

ketakutan

agar

ibu

dapat

beradaptasi dengan nyeri selama proses persalinan (Rosemary Mander, 2003).

Dari survey awal yang peneliti lakukan di Rumah Sakit Umum Dr.

Fauziah Bireuen, Jumlah ibu bersalin dari bulan januari-desember 2012

berjumlah 460 orang. Dari 5 ibu bersalin yang penulis survey hanya 3 orang

yang melakukan relaksasi bernafas dengan persentase 40%.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai

“Hubungan

Teknik

Relaksasi

Bernafas

Dengan

Respon

Adaptasi Nyeri Pada Pasien Inpartu Kala I Di Rumah Sakit Wilayah

Kabupaten Bireuen”.

B. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian adalah

Adakah hubungan teknik

relaksasi bernafas dengan respon adaptasi nyeri

pada pasien inpartu kala I di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen”.

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui hubungan teknik relaksasi bernafas dengan respon

adaptasi nyeri pada pasien inpartu kala I di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten

Bireuen.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Rumah Sakit

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif

penurunan rasa nyeri pada persalinan yang dengan mudah dilakukan tanpa

efek yang membahayakan dalam memberikan intervensi pada ibu selama

persalinan kala I.

2. Bagi Pendidikan Kebidanan

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan data dasar untuk

penelitian selanjutnya mengenai pengaruh relaksasi pernafasan terhadap

respon adaptasi nyeri pada persalinan kala I.

3. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti

tentang pengaruh relaksasi pernafasan terhadap respon adaptasi nyeri pada

persalinan kala I.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Inpartu Kala I

Persalinan kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara

pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan kontraksi otot

rahim yang terasa nyeri dan yang dapt menimbulkan pembukaan serviks pada

persalinan, kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga pasien

masih bisa berjalan-jalan. Lama kala I primigravida berlangsung 12 jam

sedangkan multigravida sekitar 8 jam (Manuaba, 2002).

Kala I persalinan dibagi menjadi fase laten dan fase aktif yaitu :

a. Fase laten

Fase pembukaan dari 1-3 cm yang berlangsung sekitar 8 jam . fase

laten dimulai dengan kontraksi teratur, yang umumnya masih lemah dan

jarang.

Ibu

masih

merasa

mampu

beroping

dengan

rasa

tidak

nyaman/nyerinya. Ibu mulai menyadari bahwa persalinannya akhirnya

mulai dan kehamilannya telah berakhir. Meskipun ibu tampak cemas, ibu

mampu mengenali dan mengungkapkan perasaan kecemasannya tersebut.

Ibu seringkali masih bisa berbicara dan tersenyum serta mau berbicara

dengan dirinya sendiri dan menjawab pertanyaan. Rasa kegembiraanya

tinggi dan pendamping serta keluarganya seringkali membesarkan hatinya

(Anik Maryunani , 2010).

Kontraksi uterus menjadi mulai jelas selama fase laten ini disertai

peningkatan frekuensi, durasi dan intensitasnya. Kontraksi dimulai dari

kontraksi lemah/ringan yang berlangsung 15 sampai 20 detik dengan

frekuensi 10 sampai 20 menit dan mengalami kemajuan menjadi kontraksi

sedang yang berlangsung 30 sampai 40 detik dengan frekuensi 5 sampai 7

menit dengan servik uteri mulai meregang/berdilatasi dan juga mengalami

pendataran (efficement) penipisan serviks, janin mulai turun meskipun

sedikit. Pendataran dan pembukaan serviks pada primipara berbeda dengan

multipara, penyebabnya dapat di jelaskan pada tabel berikut ini :

b. Fase aktif

Fase pembukaan dari 4 sampai 10 cm. frekuensi dan lama kontraksi

uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat / memadai jika

terjadi tiga kali dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik

atau lebih. Terjadi penurunan bagian terbawah janin di bagi menadi 3 fase

yaitu: 1) Fase akselarasi : dalam waktu 2 jam pembukaan menjadi 3cm

sampai 4cm, 2) Fase dilatasi maksimal : pembukaan berlangsung sangat

cepat dari 4 cm menjadi 9cm, 3) Fase deselarasi : pembukaan menjadi

lambat dalam waktu 2 jam dari 9 cm menjadi 10 cm (Winkjosastro, 2005).

Ketika persalinan memasuki fase aktif, kecemasan ibu cenderung

meningkat seiring ibu merasakan kontraksi dan nyeri semakin hebat. Ibu

mulai

takut

kehilangan

kendali

dan

menggunakan

berbagai

macam

mekanisme

koping.

Beberapa

ibu

menunjukkan

penurunan

kemampuannya untuk berkoping dan rasa tidak berdaya. Berdasarkan

kurva Friedman, kecepatan pembukaan serviks dalam masing-masing

tahap pada primigravida berlainan daripada kecepatan pembukaan pada

multipara, yang digambarkan sebagai berikut :

 

Primipara

Multipara

Fase laten

8 jam

6 jam

Fase aktif

4 jam

2 jam

Fase transisi

2 jam

1 jam

Tabel 2.1 : Kurva Friedman Kecepatan Pembukaan Serviks

Adapun

perubahan-perubahan

pembukaan adalah :

fisiologis

yang

terjadi

pada

kala

a. Adanya kontraksi dari uterus pada otot otot uterus

Kontraksi uterus terjadi karena uterus terdiri dari otot-otot polos yang

gerakannya

dibawah

pengawasan

urat

saraf

terutama

apabila

ada

rangsangan.

Di

waktu

persalinan,

rangsangan

bukan

hanya

karena

membesar atau meregangnya uterus saja tetapi juga karena pengaruh

hormon yang dikeluarkan oleh hipofise posterior. Kontraksi otot-otot

uterus yang berlangsung lama, akan banyak menekan pembuluh-pembuluh

darah dalam dinding uterus yang akan mengganggu peredaran zat-zat asam

yang sangat dibutuhkan untuk fetus.

b. Adanya pembentukan segmen atas dan segmen bawah rahim

Pada akhir kehamilan Uterus atau rahim menjadi 2 bagian yaitu

segmen atas rahim dan segmen bawah. Segmen atas uterus dengan otot-

otot yang lebih tebal dan sifatnya kontraktif karena terdapat banyak otot-

otot serong dan memanjang. Segmen atas ini dimulai daerah fundus uteri

dari bawah sampai istimus Uteri, yaitu batas corpus dan servik uteri dalam

keadaan tidak hamil.

Bagian bawah rahim ialah dari istimus uteri sampai ke serviks, di sini

otot-otot lebih tipis dan bersifat elastis. Pada waktu permulaan persalinan

otot-otot memanjang di uterus segmen atas berkontraksi menarik otot-otot

dari segmen bawah rahim, sehingga otot-otot berelastis. Dalam keadaan

demikian

ditambah

dengan

adanya

kekuatan

desakan

janin

yang

disebabkan kontraksi uterus segmen atas pula, maka uterus segmen bawah

ini memungkinkan janin dapat melewatinya kemudian dikeluarkan melalui

jalan lahir.

c. Adanya perkembangan retraksi ring

Retraksi ring adalah batas pinggiran antara uterus segmen bawah yang

otot-ototnya tebal dan uterus segmen bawah yang otot-ototnya tipis.

Pinggiran atau batas ini akan terjadi setiap persalinan, tetapi tidak tampak

dari luar bila persalinan berlangsung biasa. Apabila tonjolan retraksi ring

tampak dari luar itu disebabkan karena janin tidak dapat turun ke dasar

panggul,

karena

uterus

segmen

bawah

harus

meregang

agar

dapat

menyesuaikan diri dengan keadaan janin dari uterus segmen bawah terus

meregang.

Bahaya

yang

timbul

akibat

uterus

segmen

bawah

yang

meregang adalah terjadinya rupture uterus

d.

Adanya penarikan serviks

Dimulainya persalinan maka jaringan-jaringan otot yang mengelilingi

segmen atas, karenanya serviks menjadi pendek dan menjadi bagian dari

uterus segmen bawah. Apabila telah terjadi penarikan serviks ke atas oleh

uterus segmen atas, berarti proses persalinan sedang berlangsung dan

berusaha membuka jalan serta mengeluarkan janin dari uterus.

e. Adanya pembukaan ostium uteri internum dan externum

Pembukaan pada kala ini disebabkan oleh membesarnya ostium uteri

externum karena otot-otot yang melingkar di sekitar ostium meregang yang

memungkinkan ssaluran menjadi lebih besar dan cukup dilalui oleh kepala

janin. Mekanisme pembukaan ostium diperkirakan karena tarikan ke atas

otot-otot rahim segmen atas yang menarik tepi bagian yang lunak, yaitu

ostium menjadi lebih besar dan juga disebabkan oleh tekanan isi uterus

kepala ostium, terutama oleh kepala janin dan kantong ketuban.

f. Adanya show atau pengeluaran dari vulva

Show adalah pengeluaran dari vulva yang menjadi tanda bahwa

persalinan telah mulai. Pengeluaran dari vulva ini merupakan lendir

bercampur darah, biasanya dikeluarkan beberapa jam setelah persalinan

dimulai. Lendir yang dikeluarkan itu berasal dari serviks, yaitu lendir yang

dibentuk dalam masa hamil untuk mengisi serviks karena adanya tarikan

serviks ke atas maka lendir tersebut dikeluarkan, sedangkan darah berasal

dari decidua vena karena pelepasan selaput chorium, dan disebabkan oleh

pemecahan pembuluh-pembuluh darah dan adanya tarikan serviks ke atas

karena pembukaan.

g. Adanya tonjolan kantong ketuban

Apabila uterus segmen bawah meregang maka selaput chorium yang

menempel di daerah itu akan terlepas dan karena bertambahnya tekanan

dalam uterus maka chorium yang terlepas akan membentuk kantong yang

berisi cairan dan menonjol ke ostium uteri internum yang telah terbuka.

Kantong ketuban tersebut akan masuk kedalam ostium uteri yang telah

terbuka walaupun pembukaan masih kecil (Darlina, 2006).

B. Nyeri Inpartu

1.

Pengertian

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan.

Sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang

dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat

menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialami. Berikut ini pengertian

nyeri:

a. Rasa nyeri pada persalinan adalah nyeri kontraksi uterus yang dapat

mengakibatkan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, perubahan

tekanan darah, denyut jantung. Pernafasan dengan warna kulit dan apabila

tidak segera diatasi maka akan meningkatkan, tegang, takut dan stress

(Bobak, 2004).

b. Secara

umum,

nyeri

diartikan

sebagai

suatu

keadaan

yang

tidak

menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut

dalam serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik,

fisiologis, maupun emosional (Musrifatul, 2008).

Rasa nyeri pada persalinan kala I terjadi karena aktivitas besar di

dalam

tubuh

guna

mengeluarkan

bayi.

Persalinan

diartikan

sebagai

peregangan pelebaran mulut rahim. Kejadian itu terjadi ketika otot-otot rahim

berkontraksi untuk mendorong bayi keluar. Otot-otot rahim menegang selama

kontraksi. Bersama dengan setiap kontraksi, kandung kemih, rektum, tulang

belakang, dan tulang pubic menerima tekanan kuat dari rahim. Berat dari

kepala bayi ketika bergerak kebawah saluran lahir juga menyebabkan tekanan.

Rasa

sakit

kontraksi

dimulai

dari

bagian

bawah

punggung,

kemudian

menyebarkan ke bagian bawah perut mungkin juga menyebar ke kaki. Rasa

sakit

dimulai

seperti

sedikit

tertusuk,

lalu

mencapai

puncak,

kemudian

menghilang seluruhnya ( Danuatmadja & Meiliasari, 2004).

Pada persalinan kala 1 sebelum atau sesudah terjadi kontraksi, sering

kali muncul lendir bercampur darah yang keluar dari vagina sebagai tanda

persalinan, hal ini disebabkan oleh karena terlepasnya sumbatan pelindung

pada leher rahim, karena serviks mulai membuka dan mendatar sedangkan

darah itu berasal dari pembuluh darah kapiler yang berada disekitar kanalis

servikalis yang peka akibat pergesaran yang terjadi sewaktu serviks membuka.

Masa kala 1 pada ibu primigravida terjadi sekitar 13 jam sedangkan pada ibu

multigravida sekitar 7 jam. Kala pertama selesai apabila pembukaan serviks

lengkap. Intensitas kontraksi uterus meningkat sampai kala pertama dan

frekuensi menjadi 2 sampai 4 kontraksi dalam 5 sampai 10 menit, juga

lamanya his meningkat mulai dari 20 detik pada awal partus ibu sampai

mencapai 60 sampai 90 detik pada kala pertama (Wiknjosastro, 2002).

Pada

awal

persalinan,

kontraksi

mungkin

terasa

seperti

nyeri

punggung bawah yang biasa atau kram saat haid. Kontraksi awal ini biasanya

berlangsung singkat dan lemah. Datangnya kira-kira 15 sampai 20 menit.

Namun, beberapa persalinan dimulai dengan kontraksi-kontraksi kuat yang

lebih dekat jarak waktunya. Banyak wanita yang awalnya merasa sakit

dibagian

punggung

mereka,

kemudian

merambat

kebagian

depan.

Bila

kontraksi-kontraksi terus datang, tetapi hanya berlangsung kurang dari 30

detik, atau jika tidak begitu kuat, dan jika tidak berdekatan waktunya, berarti

masih dalam tahap pra persalinan atau memasuki persalinan awal. Dalam

persalinan

sejati,

kontraksi

akan

bertambah

kuat,

panjang,

dan

makin

berdekatan waktunya ( Whalley & Keppler, 2008).

Nyeri persalinan menjadi lebih ringan seiring dengan semakin sering

dan

efektifnya

pengendalian

nyeri

interventif

sehingga

ikatan

antara

persalinan dan nyeri masih kuat. Nyeri persalinan biasanya dikaitkan dengan

regangan, tekanan, dan robekan struktur-struktur lokal ( Rosemary Mander,

2003).

Nyeri selama persalinan berhubungan dengan kontraksi uterus. Pada

persalinan yang normal, nyeri tersebut hilang timbul (intermiten). Serangan

nyeri mulai terasa sakit ketika uterus berkontraksi, menjadi lebih hebat ketika

kontraksi mencapai puncaknya, dan menghilang setelah uterus mengadakan

relaksasi. Derajat nyeri bervariasi pada tiap-tiap pasien, pada pasien yang

sama dalam persalinan berikutnya dan pada tahap-tahap yang berbeda dalam

persalinan berikutnya dan pada tahap-tahap yang berbeda dalam persalinan

yang sama. Pada sebagian kasus, kontraksi uterus tidak menimbulkan nyeri

(Harry oxorn & William, 2010).

2. Penyebab Nyeri Persalinan

Rasa nyeri persalinan muncul karena:

a. Kontraksi otot rahim

Kontraksi

rahim

menyebabkan

dilatasi

dan

penipisan

servik

serta

iskemia

rahim

akibat

kontraksi

arteri

miometrium.

Karena

rahim

merupakan

organ

internal

maka

nyeri

yang

timbul

disebut

nyeri

visceral. Nyeri visceral juga dapat dirasakan pada organ lain yang

bukan merupakan asalnya disebut nyeri alih (reffered pain). Pada

persalinan nyeri alih dapat dirasakan pada punggung bagian bawah dan

sacrum. Biasanya ibu hanya mengalami rasa nyeri ini hanya selama

kontraksi dan bebas dari rasa nyeri pada interval antar kontraksi.

b. Regangan otot dasar panggul

Jenis nyeri ini timbul pada saat mendekati kala II. Tidak seperti nyeri

visceral, nyeri in terlokalisir di daerah vagina, rectum dan perineum,

sekitar anus. Nyeri jenis ini disebut nyeri somatic dan disebabkan

peregangan struktur jalan lahir bagian bawah akibat penurunan bagian

terbawah janin.

c.

Episiotomi

Nyeri ini dirasakan apabila ada tindakan episiotomi, laserasi maupun

rupture pada jalan lahir.

d. Kondisi Psikologis

Nyeri dan rasa sakit yang berlebihan akan menimbulkan rasa cemas.

Takut, cemas dan tegang memicu produksi hormon prostatglandin

sehingga

timbul

stress.

Kondisi

stress

dapat

mempengaruhi

kemampuan

tubuh

menahan

rasa

nyeri

(www.bidan

kita.com

disunting oleh lydia pada 17 maret 2013).

3. Intensitas Nyeri

Intensitas

nyeri

adalah

gambaran

tentang

seberapa

parah

nyeri

dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan

individual. Kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan

sangat

berbeda

oleh

individu,

pengukuran

nyeri

dengan

pendekatan

objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologis tubuh

terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga

tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri,

2007).

Pengukuran intensitas nyeri menggunakan 3 skala diantaranya :

a. Skala numerik nyeri

Skala ini sudah biasa dipergunakan dan telah di validasi. Berat

ringannya rasa sakit atau nyeri di buat menjadi terukur dengan

hingga 10 dikenal juga sebagai visual analog scale (VAS), Nol (0)

merupakan keadaan tanpa atau bebas nyeri, sedangkan sepuluh (10)

suatu nyeri yang sangat hebat.

Gambar 2.1 Skala Numerik Nyeri

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

b. Visual Analog Scale (VAS)

Terdapat skala sejenis yang merupakan garis lurus, tanpa angka bebas

mengekspresikan nyeri, ke arah kiri menuju tidak sakit, arah kanan

sakit tak tertahankan dan tengah kira-kira nyeri yang sedang.

Gambar 2.2 Visual Analog Scale (VAS)

Tidak nyeri

Sangat nyeri

c. Skala Wajah

Skala

nyeri

enam

wajah

dengan

ekspresi

yang

berbeda,

menampilkan wajah bahagia hingga wajah sedih, juga di gunakan

untuk mengeskpresikan rasa nyeri.

Gambar 2.3 Skala wajah

menampilkan wajah bahagia hingga wajah sedih, juga di gunakan untuk mengeskpresikan rasa nyeri. Gambar 2.3 Skala

Keterangan :

0

: tidak nyeri

1

: sedikit nyeri

2

: agak mengganggu

3

: mengganggu aktivitas

4

: sangat mengganggu

5

: tak tertahankan

Terdapat beberapa efek yang berkaitan dengan nyeri pada persalinan

dapat mempengaruhi proses kelahiran itu sendiri. Pengaruh utama yang

tejadi adalah karena terpicunya sistem simpatis dimana terjadi peningkatan

kadar plasma dari katekolamin, terutama epinefrin.

Nyeri yang diakibatkan oleh persalinan dapat disimpulkan menjadi

beberapa hal di bawah ini:

a. Psikologis

b. Kardiovaskuler

: Penderitaan, ketakutan dan kecemasan.

:

Peningkatan

kardiak

output,

tekanan

darah,

frekuensi nadi dan resistensinperifer sistemik

c. Neuroendokrin :

stimulasi

sistem

simpato-adrenal,

peningkatan

kadar plasma, ACTH, Kortisol, ADH dan renin.

d. Metabolik

:

Peningkatan

hiperglikemia, lipolisi.

kebutuhan

oksigen,

asidosis

laktat,

e. Gastrointrestinal : Penurunan pengosongan lambung.

f. Rahim/uterus : Inkoordinasi kontraksi uterus/rahim.

g. Uteroplasental : Penurunan aliran darah uteroplasental

4.

Klasifikasi Nyeri

Klasifikasi nyeri umumnya dibagi 2 ,yaitu nyeri akut dan nyeri kronis.

Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat

menghilang,tidak

melebihi

6

bulan,dan

ditandai

adanya

peningkatan

tegangan otot. Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahan

lahan biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama ,yaitu lebih dari 6

bulan.

Yang

termasuk

dalam

kategori

nyeri

kronis

adalah

nyeri

terminal,sindrom nyeri kronis dan psikosomatik.

Tabel 2.2 Perbedaan Nyeri Akut dan Kronis

Karakteristik

Nyeri akut

Nyeri kronis

 

Pengalaman

Suatu kejadian

Suatu

situasi,

status

eksistensi

Sumber

Sebab eksternal atau penyakit dari dalam

Tidak diketahui atau pengobatan yang terlalu lama

Serangan

Mendadak

Bisa

mendadak,

berkembang

dan

terselubung

Waktu

Sampai 6 bulan

Lebih dari enam bulan sampai bertahun-tahun

Pernyataan

Daerah nyeri tidak diketahui dengan pasti

Daerah

nyeri sulit

nyeri

dibedakan intensitas sehingga sulit dievaluasi (perubahan perasaan)

Gejala-gejala

Pola respons yang khas dengan gejala yang lebih jelas

Pola respons yang bervariasi sedikit gejala- gejala (adaptasi)

klinis

Pola

Terbatas

Berlangsung terus dapat bervariasi

Perjalanan

Biasanya berkurang setelah beberapa saat

Penderitaan meningkat setelah beberapa saat (siti Nurfatonah, 2010).

C. Teknik Relaksasi Bernafas

1. Pengertian

Teknik relaksasi bernafas merupakan tindakan pengendalian nyeri non

farmakologis yang dapat membantu ibu mengendurkan seluruh tubuhnya

ketika rahim berkontraksi. Beberapa jenis pernafasan biasa membantu ibu

dalam menghadapi persalinan tahap 1 :

a. Menarik nafas dalam (untuk membantu ibu rileks) dilakukan pada awal

kontraksi.

b. Menarik nafas dangkal dan cepat di dada bagian atas, dilakukan pada

saat kontraksi mencapai puncaknya.

c. Menarik nafas pendek dan cepat diikuti dengan menghembuskan nafas

melalui

mulut

mengedan.

dan

dilakukan

untuk

menahan

keinginan

untuk

Rasa nyeri bersalin tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah (seperti

rasa sakit yang disebabkan oleh cidera atau penyakit). Nyeri adalah bagian

yang normal dari proses melahirkan. Biasanya, itu berarti bayi dalam

kandungan sedang mengikuti waktunya untuk dilahirkan. Mengetahui

beberapa metode mengatasi rasa sakit akan membantu ibu untuk tidak

merasa begitu takut. Tidak hanya itu, menggunakan beberapa ketrampilan

ini selama persalinan akan membantu ibu merasa lebih kuat (Whalley &

Keppler 2008).

Relaksasi pernafasan selama proses persalinan dapat mempertahankan

komponen sistem saraf simpatis dalam keadaan homeostasis sehingga

tidak

terjadi

peningkatan

suplai

darah,

mengurangi

kecemasan

dan

ketakutan

agar

ibu

dapat

beradaptasi

dengan

nyeri

selama

proses

persalinan.

Dengan

memperhatikan

kontrol

pernafasan,

diharapkan

kontraksi ibu menjadi rileks, dimana seluruh sistem saraf, organ tubuh dan

panca indra ibu beristirahat untuk melepaskan ketegangan yang ada.

Caranya

adalah

dengan

ibu

menarik

nafas

dalam-dalam

akan

dapat

mengalirkan

oksigen

ke

darah

kemudian

dialirkan

keseluruh

tubuh.

Hasilnya ibu menjadi lebih tenang dan stabil (Anik Maryunani, 2010).

2. Manfaat Relaksasi

a. Menyimpan energi dan mengurangi kelelahan

Jika tidak secara sadar merelakskan otot-otot, ibu cenderung membuat

otot

selama

kontraksi.

Ketegangan

ini

meningkatkan

nyeri

yang

dirasakan, memboroskan energi, menurunkan pasokan oksigen ke

rahim dan bayi, serta membuat ibu lelah.

b. Menenangkan pikiran dan mengurangi stress

Tubuh yang relaks membuat pikiran relaks, yang pada gilirannya

membantu mengurangi respon stress. Ada bukti bahwa stress pada

wanita yang sedang mengalami persalinan yang disebabkan oleh

kecemasan, amarah, ketakutan, atau penyakit yang menghasilkan

ketekolamin (hormon stress). Kadar katekolamin yang tinggi didalam

darah dapat memperpanjang persalinan dengan mengurangi efisiensi

kontraksi rahim dan dapat berpengaruh buruk pada janin dengan

mengurangi aliran darah ke rahim plasenta.

c.

Mengurangi rasa nyeri

Relaksasi

mengurangi

ketegangan

dan

kelelahan

yang

mengintensifkan

nyeri

yang

ibu

rasakan

selama

persalinan

dan

kelahiran. Juga memungkinkan ketersediaan oksigen dalam jumlah

maksimal untuk rahim, yang juga mengurangi rasa nyeri, karena otot

kerja (yang membuat rahim kontraksi) menjadi sakit jika kekurngan

oksigen. Selain itu, konsentrasi mental yang terjadi saat ibu secara

sadar merelakskan otot membantu mengalihkan perhatian ibu dari

sakit waktu kontraksi dan karena itu, akan mengurangi kesadaran ibu

akan rasa sakit.

3. Penatalaksanaan Teknik Relaksasi

Ada banyak cara untuk mengatasi rasa nyeri dan stress bersalin.

Ketrampilan mengatasi nyeri dan langkah-langkah kenyamanan ini dapat ibu

gunakan selama persalinan.Mengatasi persalinan dengan baik berarti ibu tidak

kewalahan atau panik saat menghadapi rangkaian kontraksi. Itu berarti ibu

mampu rileks dan menangani rasa nyeri ( Whalley & Keppler, 2008).

Ada beberapa posisi relaksasi yang dapat dilakukan selama dalam

keadaan istirahat atau selama proses persalinan :

a. Posisi relaksasi dengan telentang

Berbaring telentang, kedua tungkai kaki lurus dan terbuka sedikit,

kedua

tangan rileks disamping dibawah lutut dan kepala diberi bantal.

b. Posisi relaksasi dengan berbaring miring

Berbaring miring, kedua lutut dan kedua lengan ditekuk, di bawah

kepala diberi bantal dan di bawah perut sebaiknya diberi bantal juga, agar

perut tidak menggantung.

c. Posisi relaksasi dalam keadaan berbaring terlentang

Kedua lutut ditekuk, berbaring telentang, kedua lutu ditekuk, kedua

lengan di samping telinga.

d. Posisi relaksasi dengan duduk

Duduk memmbungkuk, kedua lengan di atas sandaran kursi atau di

atas tempat tidur. Kedua kaki tidak boleh menggantung.

D. Respon Adaptasi Nyeri

1.

Pengertian

Adaptasi adalah suatu proses yang konstan dan berkelanjutan yang

membutuhkan perubahan dalam hal struktur, fungsi dan perilaku sehingga

seseorang lebih sesuai dengan suatu lingkungan tertentu. Adaptasi merupakan

suatu

proses

individual

imana

masing-masing

individu

mempunyai

kemampuan untuk mengatasi masalah atau berespon dengan tingkat yang

berbeda-beda (Brunner Sutdar, 2001).

Reaksi terhadap nyeri merupakan respon fisioligis dan perilaku yang

terjadi setelah mempersepsikan nyeri. Nyeri dengan intensitas ringan hingga

sedang dan nyeri yang superfisial menimbulkan reaksi’’flight atau fight”,

yang merupakan sindrom adaptasi umum (Whalley & Keppler,2008).

Stimulasi pada cabang simpatis pada saraf otonom menghasilkan

respon fisiologis, apabila nyeri berlangsung terus menerus, maka sistem

parasimpatis akan bereaksi (Http://kumpublogger.com/Respon Adaptasi Nyeri

disunting oleh Erfandi pada 20 januari 2009).

2. Komponen Adaptasi Nyeri ( Bobak, 2004)

a. Adaptasi Fisiologis

Adaptasi secara fisiologis adalah menyesuaikan diri secara fisik untuk

merespon stimulus dari lingkungan. Respon fisiologis terhadap nyeri

persalinan ditujukan dengan peningkatan tekanan darah, pernafasan,

nadi,

suhu

/

mual,

muntah,

ketegangan

otot,

diaphoresis

yang

berlebihan, warna kulit. Peningkatan tekanan darah di atas normal

dapat

menyebabkan

resiko

terjadinya komplikasi

seperti

cerebral

hemoragi

sepelan

respirasi

rate

dapat

menyebabkan

alkalis

respiratoria. Dalam hal ini perawat teladan harus dapat mengamati

tanda-tanda

bahaya

yang

timbul.

Proses

adaptasi

nyeri

secara

fisiologis selama persalinan ditunjukkan dengan penyesuaian di dalam

mempertahankan

tanda-tanda

vital

tersebut

tetap

dalam

keadaan

normal sehingga dapat mencegah komplikasi akibat nyeri persalinan

(Bobak, 2004).

b. Adaptasi Psikologis

Adaptasi psikologis adalah penyesuaian diri yang ditujunkan dengan

tingkah laku dalam berespon terhadap

stimulus dari lingkungan.

Respon perilaku yang diamati terhadap nyeri persalinan misalnya

vokalisasi

yang

mengacu

pada

suara

yang

dihasilkan

mencakup

erangan, rintihan, jeritan atau tangisan. Di sisi lain ekspresi wajah

dapat

memperlihatkan

bahwa

wanita

sedang

mengalami

nyeri

persalinan, antara lain gigi yang dikatupkan, otot rahang mengeras,

serta mata yang terpejam erat. Gerakan tubuh seperti sangat gellisah

juga

perilaku

yang

berhubungan

atau

respon

terhadap

nyeri

persalinan. Beberapa wanita memilih diam dan berbaring di atas

tempat tidur serta bersikap tenang dalam menghadapi nyeri selama

kontraksi. Proses adaptasi ini berlangsung dengan majunya persalinan

serta

pengalaman

 

Mander, 2003).

c.

Adaptasi Sosial

wanita

terhadap

nyeri

sebelumnya.

(Rosemary

Adaptasi sosial adalah penyesuaian diri yang ditunjukkan dengan

kemampuan interaksi sosial antara seseorang

dengan orang lain.

Selama

proses

persalinan

terutama

dalam

fase

transisi

wanita

menunjukkan

penurunan

kemampuan

untuk

mendengar

atau

berkontraksi pada semua hal selain melahirkan. Komunikasi yang

tidak jelas serta perhatian lebih ke arah diri sendiri, merasa terganggu

dengan keadaan sekeliling, sulit diajak kerjasama, interaksi dengan

orang

lain

berkurang.

Adaptasi

ditunjukan

dengan

kemampuan

individu dalam berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya (Bobak,

2004).

3. Respon Tingkah Laku Terhadap Nyeri

Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:

a. Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)

b. Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)

c. Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan

gerakan jari & tangan)

d. Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan,

Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pada

aktivitas menghilangkan nyeri)

Individu yang mengalami nyeri dengan mendadak dapat bereaksi

sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit

atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat

individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur,

bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam

aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap

nyeri (www.wordpress.com disunting oleh safina kuswardani pada 02.43,

4.

26 desember 2012).

Faktor yang Mempengaruhi Respon Terhadap Nyeri (Anik Maryunani,

2010)

Ibu yang akan bersalin berespon terhadap nyerinya dengan cara yang

berbeda-beda. Beberapa ibu mungkin merasa takut, dan cemas, sementara

yang

lainnya

bersikap

toleran

dan

optimis.

Beberapa

ibu

ada

yang

menangis, merintih, menjerit, menolak bantuan, atau bergerak tanpa arah

pada saat mengalami nyeri persalinan yang hebat, sementara yang lainnya

tetap

berbaring

dengan

tenang

di

tempat

tidur

dan

mungkin

hanya

menutup

matanya,

mengertakkan

giginya,

menggigit

bibirnya

atau

bercucuran keringatnya pada waktu mengalami nyeri persalinan.

Respon terhadap nyeri juga dipengaruhi oleh keletihan dan gangguan

tidur. Wanita yang letih mengalami kekurangan energi dan kemampuan

untuk

menggunakan

strategi

seperti

distraksi

dan

imajinasi

untuk

menghadapi nyeri. Sebagai akibatnya wanita tersebut bisa kehilangan

kemampuannya untuk berkoping dengan persalinan dan memilih analgesik

atau obat-obatan lainnya untuk mengurang rasa nyerinya (whalley &

Keppler,2002)

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka konsep

hubungan konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian

yang akan dilakukan (Notoadmodjo, 2005).

Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah menjelaskan hubungan

teknik relaksasi bernafas dengan respon adaptasi nyeri pada pasien inpartu

kala

I.

Teknik

relaksasi

merupakan

teknik

pereda

nyeri

yang

banyak

memberikan masukan terbesar karena teknik relaksasi dalam persalinan dapat

mencegah kesalahan yang berlebihan pasca persalinan (Mander 2003).

Variabel Independen

Variabel Dependen

Teknik Relaksasi

bernafas

Respon adaptasi Nyeri

Independen Variabel Dependen Teknik Relaksasi bernafas Respon adaptasi Nyeri Gambarr 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Gambarr 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

B.

Definisi Operasional

 

Tabel 3.1 Definisi Operasional

N

 

Variabel

Definisi

Cara

Alat

Hasil Ukur

Skala

o

Operasional

Ukur

Ukur

Ukur

1

 

Dependen

         
   

Respon

Kemampuan

observasi

Cheklist

-Ya Jika ibu mangalami respon

Ordinal

adaptasi

ibu dalam

nyeri

menyesuaikan

diri terhadap

adatasi nyeri x ≥

nyeri

4

persalinan

-Tidak Jika ibu tidak mengalami respon

adaptasi nyeri x <

4

2

 

Independen

         
   

Teknik

Membebaskan

observasi

cheklist

-Ya Jika ibu melakukan teknik relaksasi bernafas x ≥ 4

Ordinal

relaksasi

pikiran dan

bernafas

beban dari

ketegangan

yang dengan

sengaja

 

diupayakan

-Tidak Jika ibu tidak melakukan teknik relaksasi bernafas x < 4

dan

dipraktekkan

C.

Hipotesa

 

Ha : Ada hubungan teknik relaksasi bernafas dengan respon adaptasi nyeri

pada ibu inpartu kala I

Ho : Tidak ada hubungan teknik

nyeri pada ibu inpartu kala I

relaksasi bernafas dengan respon adaptasi

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan penelitian cross

sectional yaitu suatu penelitian di mana variabel variabel yang termasuk

faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek di observasi sekaligus

pada waktu yang sama (Notoadmodjo, 2005).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr.Fauziah Kabupaten

Bireuen pada tanggal 3 sampai 16 Agustus 2013

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan objek penelitian atau

objek

yang

di

teliti

(Notoatmodjo,

2010).

Dimana

populasi

dalam

penelitian ini adalah ibu inpartu kala I di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten

 

Bireuen.

2.

Sampel

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara accidental

sampling yaitu dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang

kebetulan

ada

atau

tersedia

sebanyak 32 orang.

(Notoatmodjo,

2002).

Jumlah

responden

1.

Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data

primer yaitu data yang diperoleh dari lapangan dengan cara melakukan

observasi

langsung

kepada

responden

dengan

alternatif

pilihan

yang

tercantum dalam lembaran format observasi. Sedangkan data sekunder

diperoleh dari Kepala Ruang Bersalin Rumah Sakit Wilayah Kabupaten

Bireuen.

2. Instrumen Penelitian

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini cheks-

list terdapat 5 pertanyaan untuk teknik relaksasi bernafas dan 5 pertanyaan

untuk respon adaptasi nyeri, untuk masing-masing pertanyaan dengan

melakukan observasi kepada responden, memberikan jawaban yang sesuai

dengan alternatif pilihan yang tercantum dalam format cheklist yang akan

di isi langsung oleh peneliti. Pertanyaan tentang teknik relaksasi bernafas

dan respon adaptasi nyeri disusun dengan menggunakan skala Guttman.

Pertanyaan bersifat tegas : benar dan salah dengan interprestasi penilaian

apabila jawaban benar untuk pertanyaan positif bernilai 1 dan apabila

salah

nilainya

0,

sedangkan

untuk

pertanyaan

negatif

apabila

benar

nilainya 0 dan untuk pertanyaan negatif apa bila salah nilainya 1 (Hidayat,

2007).

E. Pengolahan Data

Proses pengolahan data dapat dilakukan melalui beberapa tahap.

Menurut Arikunto, 2006 tahap pengolahan data meliputi :

1. Editing adalah memeriksa dan menyesuaikan dengan rencana semula

seperti apa yang diinginkan.

2. Coding

adalah mengklasifikasikan jawaban

memberikan kode tertentu.

menurut

jenisnya dengan

3. Transfering adalah memindahkan jawaban responden dalam bentuk master

tabel.

4. Tabulating adalah data yang sudah benar kemudian dimasukkan dalam

tabel distribusi frekuensi.

F. Analisa Data

1. Analisa Univariat

Dilakukan

terhadap

variable

dari

hasil

penelitian.

Analisa

ini

menghasilkan distribusi dan persentasi dari tiap variabel (Notoatmodjo,

2005). Penilaian hasil ukur menggunakan kriteria penilaian yang terdiri

dari : relaksasi bernafas dan respon adaptasi nyeri persalinan. Kriteria

variabel relaksasi bernafas dan respon adatasi nyeri persalinan dilakukan

dengan menggunakan rumus :

F

P = x 100 %

Dimana :

P = Persentase

F = Frekuensi

N = Jumlah Sampel

100%

= Bilangan tetap (Budiarto, 2002).

2. Analisa Bivariat

Analisa ini digunakan untuk menguji hipotesis yang diolah dengan

computer menggunakan SPSS versi 15, untuk menentukan hubungan

antara variabel independen dan variabel dependen melalui uji Chi-Square

Tes (X 2 ), untuk melihat kemungkinan (CI) 0,05 % (Arikunto, 2006),

dengan ketentuan bila nilai P < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima

yang

menunjukkan

variabe bebas.

adanya

hubungan

antara

variabel

terikat

dengan

Untuk menentukan nilai P-value Chi-Square Tes (X 2 ) tabel, memiliki

ketentuan sebagai berikut :

a. Bila Chi-Square Tes (X 2 ) tabel terdiri dari tabel 2 x 2 dijumpai nilai

ekspantasi (E) < 5, maka P-value yang digunakan adalah nilai yang

terdapat pada nilai fisher exact test.

b. Bila Chi-Square Tes (X 2 ) tabel terdiri dari tabel 2 x 2 tidak dijumpai

nilai ekspantasi (E) < 5, maka P-value yang digunakan adalah nilai

yang terdapat pada nilai continuity correction.

c. Bila Chi-Square Tes (X 2 ) tabel terdiri lebih dari tabel 2 x 2, contohnya

tabel 3 x 2, 3 x 3 dan sebagainya, maka P-value yang digunakan adalah

nilai yang terdapat pada nilai pearson chi- square (Hastono, 2001).

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Rumah sakit umum berada di jalan T.Mayjend Hamzah No. 13 Kec.

Jeumpa Kab. Bireuen, dengan luas 2567 H. Rumah sakit umum memiliki

fasilitas diantaranya IGD,

ruang kartu, apotik, poli umum, anak, gigi,

THT,

bedah,

saraf,

penyakit

dalam,

mata,

diabetes,

poli

kebidanan,

gudang, aula, ruang, kepegawaian, serta memiliki jumlah tenaga kerja

sebanyak 500 karyawan, diantaranya 250 perawat, 25 dokter, 70 bidan, 30

asisten

apoteker,

15

kesling,

wilayahnya adalah :

80

kepegawaian.

Adapun

batas-batas

1. Sebelah barat berbatasan dengan desa Reuleut

2. Sebelah timur berbatasan dengan desa geudong-geudong

3. Sebelah utara berbatasan dengan desa karang rejo

4. Sebelah selatan berbatasan dengan desa menasah capa

B. Hasil Penelitian

1. Analisa Univariat

a. Respon Adaptasi Nyeri

Tabel

5.1

Distribusi Frekuensi Respon Adaptasi Nyeri Ibu Bersalin Kala I

di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen Tahun 2013

No

Respon Adaptasi Nyeri

f

%

1

Ya

28

87.5

2

Tidak

4

12.5

 

Total

32

100.0

Sumber Data Primer diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.1 diketahui bahwa dari 32 responden yang

mengalami respon adaptasi nyeri sebanyak 28 orang (87.5%).

b. Teknik Relaksasi Bernafas

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Teknik Relaksasi Bernafas Ibu Bersalin Kala I

 

di

Rumah sakit Wilayah Kabupaten Bireuen Tahun 2013

 

No

 

Teknik Relaksasi Bernafas

f

%

1

Ya

19

59.4

2

Tidak

13

40.6

   

Total

32

100.0

Sumber Data Primer diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.2 diketahui bahwa dari 32 responden

yang melakukan Teknik Relaksasi Bernafas sebanyak 19 oranga

(59.4%).

2.

Analisa Bivariat

a. Hubungan Teknik Relaksasi Bernafas dengan Respon Adaptasi Nyeri

Tabel 5.3

Tabulasi Silang Teknik Relaksasi Bernafas dengan Respon Adaptasi Nyeri Pasien Inpartu Kala I di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen Tahun 2013

Teknik

 

Respon Adaptasi Nykeri

 

Uji statistik

Relaksasi

Ya

Tidak

Total

Bernafas

f

%

F

%

F

%

P value

α

Ya

         

100

   

19

100.0

0

0.0

19

.0

Tidak

9

62,9

4

30,8

32

100

0.02

0.05

Total

28

87.5

4

12.5

32

100

Sumber Data Primer diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.3 diatas diketahui bahwa dari 19 responden

yang menggunakan teknik relaksasi bernafas mayoritas mengalami

respon

adaptasi

nyeri

sebesar 19

responden

(100.0),

dan

dari

13

responden yang tidak menggunakan teknik relaksasi bernafas mayoritas

mengalami respon adaptasi nyeri sebesar 9 responden (62,9%).

Setelah

dilakukan

uji

statistik

dengan

chi-squartest,

maka

diperoleh nilai p-value adalah 0.02 (p<0.05), yang berarti bahwa ada

hubungan antara teknik relaksasi bernafas dengan respon adaptasi nyeri

pada pasien inpartu kala I.

C. Pembahasan

1. Hubungan Teknik Relaksasi Bernafas dengan Respon Adaptasi Nyeri

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 19 responden

yang memiliki teknik relaksasi bernafas mayoritas mendapatkan respon

adaptasi nyeri sebesar 19 responden (100%), dan dari 13 responden yang

tidak menggunakan

teknik relaksasi

bernafas

mayoritas

mendapatkan

respon adaptasi nyeri sebesar 9 responden (62,9%).

Ibu yang akan bersalin berespon terhadap nyeri dengan cara yang

berbeda-beda. Beberapa ibu mungkin merasa takut, dan cemas, sementara

yang

lainnya

bersikap

toleran

dan

optimis.

Beberapa

ibu

ada

yang

menangis, merintih, menjerit, menolak bantuan, atau bergerak tanpa arah

pada saat mengalami nyeri persalinan yang hebat, sementara yang lainnya

tetap

berbaring

dengan

tenang

di

tempat

tidur

dan

mungkin

hanya

menutup

matanya,

mengertakkan

giginya,

menggigit

bibirnya

atau

bercucuran keringatnya pada waktu waktu mengalami nyeri persalinan

(Anik Maryunani, 2010)

Respon terhadap nyeri juga dipengaruhi oleh keletihan dan gangguan

tidur. Wanita yang letih mengalami kekurangan energy dan kemampuan

untuk

menggunakan

strategi

seperti

distraksi

dan

imajinasi

untuk

menghadapi nyeri. Sebagai akibatnya wanita tersebut bisa kehilangan

kemampuannya untuk berkoping dengan persalinan dan memilih analgesik

atau obat-obatan lainnya untuk mengurangi rasa nyerinya (Whalley &

Keppler, 2002).

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh:

Darlina (2006) dengan judul “Pengaruh teknik relaksasi bernafas terhadap

intensitas nyeri”, yang mengatakan bahwa ibu yang melakukan teknik

relaksasi bernafas lebih relaks saat menghadapi persalinan, sedangkan ibu

yang cemas saat menghadapi persalinan merasakan nyeri yang hebat

seperti menggelutukkan gigi sehingga tidak bisa melakukan penyesuaian

terhadap nyeri.

Ibu yang akan bersalin berespon terhadap nyeri dengan cara yang

berbeda-beda. Beberapa ibu mungkin merasa takut, dan cemas, sementara

yang

lainnya

bersikap

toleran

dan

optimis.

Beberapa

ibu

ada

yang

menangis, merintih, menjerit, menolak bantuan, atau bergerak tanpa arah

pada saat mengalami nyeri persalinan yang hebat, sementara yang lainnya

tetap

berbaring

dengan

tenang

di

tempat

tidur

dan

mungkin

hanya

menutup

matanya,

mengertakkan

giginya,

menggigit

bibirnya

atau

bercucuran keringatnya pada waktu waktu mengalami nyeri persalinan

(Anik Maryunani, 2010)

Respon terhadap nyeri juga dipengaruhi oleh keletihan dan gangguan

tidur. Wanita yang letih mengalami kekurangan energy dan kemampuan

untuk

menggunakan

strategi

seperti

distraksi

dan

imajinasi

untuk

menghadapi nyeri. Sebagai akibatnya wanita tersebut bisa kehilangan

kemampuannya untuk berkoping dengan persalinan dan memilih analgesik

atau obat-obatan lainnya untuk mengurangi rasa nyerinya (Whalley &

Keppler, 2002)

Peneliti berasumsi bahwa ibu yang menggunakan teknik adaptasi

nyeri maka akan lebih mudah dalam menangani dan menganstipasi datang

rasa

nyeri.

Pada

saat

melakukan

penelitian

dengan

cara

observasi

langsung, peneliti melihat bahwa ibu yang menjalankan persalinannya

dengan tenang dapat menahan rasa nyerinya dengan baik, sedangkan ibu

yang mengutamakan rasa cemas, takut, dan gugup merasakan nyeri yang

berlebihan.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Rumah Sakit Wilayah

Kabupaten Bireuen tentang hubungan teknik relaksasi bernafas dengan

respon adaptasi nyeri dapat disimpulkan hasil penelitiannya bahwa ada

hubungan teknik relaksasi bernafas dengan respon adaptasi nyeri pada

pasien inpartu kala I.

Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-squartest, maka diperoleh

nilai p-value adalah 0.02 (p<0.05), yang berarti bahwa ada hubungan

antara teknik relaksasi bernafas dengan respon adaptasi nyeri pada pasien

inpartu kala I.

B. Saran

1. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan

hasil

penelitian

ini

dapat

menjadi

tolak

ukur

bagi

pelayanan kebidanan khususnya di Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen

agar

mampu

memberikan

masukan

kepada

pasien

inpartu

untuk

melakukan

teknik

relaksasi

bernafas,

sehingga

pasien

dapat

mengurangi rasa nyeri pada proses persalinan.

2.

Bagi Pendidikan Kebidanan

Diharapkan agar karya tulis ilmiah ini menjadi informasi tambahan

bagi mahasiswa kebidanan tentang relaksasi

bernafas

mempengaruhi respon adaptasi nyeri.

3. Bagi peneliti

yang dapat

Diharapkan peneliti lebih memahami tentang teknik relaksasi bernafas

sehingga nantinya dapat diaplikasikan dalam pelayanan kebidanan

sehari-hari

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. S, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, PT. Renika Cipta

Budiarto. E, Biostatistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta, EGC

Bobak, 2004, Buku Ajar Keperawatan maternitas, Jakarta. EGC

Danuatmadja & Meiliasari, Persalinan Tanpa Rasa Sakit, Jakarta, Puspa Sehat

Darlina, 2006, Pengaruh Teknik Relaksasi Bernafas Terhadap Intensitas Nyeri, Medan, Universitas Pembangunan Veteran

Hidayat. A, 2009, Asuhan Keperawatan Dalam Maternitas dan Ginekologi, Jakarta, Salemba Medika

Http://Kumpulblogger.com/Respon Adaptasi Nyeri disunting oleh Erfandi pada 20 januari 2009

Hastono, 2001, Analisa Data, Jakarta, Fakultas Kesehatan Masyarakat Indonesia

Mander. R, 2003, Nyeri Persalinan, Jakarta, EGC

Notoadmodjo. S, 2002, Metode Penelitian Kesehatan, Jakarta, Rineka Cipta

, 2010, Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta, Rineka

Cipta

Maryunani. A, 2010, Nyeri Dalam Persalinan Teknik & Cara Penanganannya, Jakarta, TIM

Oxorn. H, & Forte W. R, Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi Persalinan, Jakarta, Yayasan Essentia Medika

Prawirohardjo. S, 2005, Ilmu Kebidanan, Jakarta, PT. Bina Pustaka

STIKES U’Budiyah, 2012/2013, Buku Panduan Penyusunan Skripsi dan Karya Tulis Ilmiah, Banda Aceh, U’budiyah

Saifuddin, 2002, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal, Jakarta, Yayasan Bina Pustaka

Whalley & Keppler, 2008, Nyeri Persalinan, Http://www.skripsi.com, Diakses tanggal 18 desember 2012

www.bps.go.id dan Statistik Kesra Aceh 2010

www.wordpress.com disunting oleh Safina Kuswardani pada 02.43, 26 desember

2012

www.bidan kita.com disunting oleh lydia pada 17 maret 2013

Lampiran 1

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth,

Calon Responden Penelitian

Di,-

Tempat

Dengan Hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama : Syarifah Khairunnisa

Nim

: 10010097

Adalah mahasiswi akademi kebidanan STIKes U’Budiyah yang akan mengadakan penelitian untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh ahli madya kebidanan. Adapun penelitian yang dimaksud berjudul Hubungan Teknik Relaksasi Bernafas Dengan Respon Adaptasi Nyeri pada Pasien Inpartu Kala I di Rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen tahun 2013.

Untuk maksud tersebut saya memerlukan data atau informasi yang nyata dan akurat dari ibu melalui pengisian observasi yang saya lampirkan dalam surat ini. Ibu berhak berpartisipasi atau tidak dalam penelitian ini, namun demikian penelitian ini sangat berdampak positif terhadap kemajuan dalam bidang kebidanan bila semua pihak ikut berpartisipasi. Ibu setuju terlibat dalam penelitian ini, mohon menandatangani lembar persetujuan yang di sediakan.

Kesediaan ibu menjadi responden sangat saya harapkan, atas kerja samanya saya ucapkan terimakasih

Diploma III Kebidanan U’Budiyah

Peneliti,

(Syarifah Khairunnisa)

Lampiran 2

LEMBARAN PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan di bawah bersedia menjadi responden yang akan di lakukan oleh mahasiswa akademi STIKes U’Budiyah Banda Aceh :

Nama

: Syarifah Khairunnisa

Nim

: 10010097

Judul

: Hubungan Teknik Relaksasi Bernafas Dengan Respon Adaptasi Nyeri pada pasien Inpartu Kala I di rumah Sakit Wilayah Kabupaten Bireuen Tahun 2013

Saya mengetahui bahwa informasi yang saya berikan ini sangat besar manfaatnya bagi pengembangan Kebidanan di Indonesia dan Aceh khususnya.

Demikian pernyataan persetujuan menjadi responden bagi saya semoga dapat dipergunakan seperlunya.

Banda Aceh,

April 2013

Responden

(………………………)

OBSERVASI PENELITIAN

HUBUNGAN TEKNIK RELAKSASI BERNAFAS DENGAN RESPON ADAPTASI NYERI PADA PASIEN INPARTU KALA I DI RUMAH SAKIT WILAYAH KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2013

Identitas Responden

No. Responden

:

Tangal Penelitian

:

Petunjuk

Berilah tanda checklist (√) pada alternative jawaban yang tersedia sesuai pilihan

anda.

A. TEKNIK RELAKSASI BERNAFAS

NO

 

PERTANYAAN

 

YA

TIDAK

1

Ibu dapat mengatasi nyeri dengan melakukan teknik relaksasi bernafas

   

2

Ibu dapat mengontrol pernafasannya saat nyeri persalinan

   

3

Ibu mealkukan teknik relaksasi dengan menarik nafas awal kontraksi

   

4

Ibu

tidak

mampu

melakukan

teknik

relaksasi

   

bernafas

 

5

Ibu

mengalami

kecemasan

dan

ketakutan

saat

   

nyeri persalinan

 

B. RESPON ADAPTASI NYERI

NO

PERTANYAAN

YA

TIDAK

1

Ibu merasakan nyeri saat persalinan

   

2

Ibu merintih, menangis saat nyeri persalinan

   

3

Ibu tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaaan sekelilingnya saat nyeri persalinan

   

4

Ibu meringis, menggelutukkan gigi dan menggigit bibir saat nyeri persalinan

   

5

Ibu dapat melakukan penyesuaian terhadap nyeri persalinan