Anda di halaman 1dari 24

TUGAS SPK

“PERENCANAAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR”

OLEH :

NADYA MERCY

E1A1 13 026

JURUSAN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
1. Gambar dan siklus hidrologi :

Gambar siklus hidrologi


Tahapan sistem hidrologi yaitu
a. Evaporasi adalah tahapan pertama siklus hidrologi atau biasa di sebut penguapan.
Penguapan tersebut terjadi karena pemanasan dari sinar matahari, dimana semua air
yang ada dipermukaan bumi akan mengalami proses penguapan dan akan berubah
menjadi uap air karena pemanasan sinar matahari. Semakin banyak air yang terkena
sinar matahar akan semakin banyak terjadi proses penguapan d atmosfer.
b. Transpirasi
Uap air yang dimaksud dalam sistem transpirasi ini adalah penguapan yang terjadi
disebabkan dari air yang berwujud cair dari jaringan makhluk hidup (jarimgan hewan
dan tumbuhan)
c. Evapotraspirasi
Evapotranspirasi ini merupakan gabungan dari evapotasi dan juga transpirasi. Sehingga
dapat dikatakan bahwa evapotranspirasi ini merupakan total penguapan air atau
penguapan air secara keseluruhan, baik yang ada di permukaan Bumi atau tanah
maupun di jaringan makhluk hidup. Dalam siklus hidrologi, evapotranspirasi ini
sangatlah mempengaruhi jumlah uap air yang ternagkut ke atas atau ke atmosfer bumi.
d. Sublimasi
Sumblimasi merupakan proses perubahan es di kutub atau di puncak gunung menjadi
uap air, tanpa harus melalui proses cair terlebih dahulu. Dibandingkan dengan
evaporasi maupun transpirasi, proses sublimasi ini berjalan lebih lambat dari pada
keduanya. Sublimasi ini terjadi pada tahap sikulus hidrologi panjang.
e. Kondensasi
Kondensasi merupakan proses berubahnya uap air menjadi partikel- partikel es. Ketika
uap air dari proses evaporasi, transpirasi, evapotranspirasi, dan sublimasi sudah
mencapai ketinggian tertentu, uap air tersebut akan berubah menjadi partikel-partikel
es yang berukuran sangat kecil melalui proses konsendasi. Perubahan wujud ini terjadi
karena pengaruh suhu udara yang sangat rendah saat berada di ketinggian tersebut.
Partikel- partikel es yang terbentuk tersebut akan saling mendekati satu sama lain dan
bersatu hingga membentuk sebuah awan. Semakin banyak partikel es yang bersatu,
maka akan semakin tebal dan juga hitam awan yang terbentuk. Inilah hasil dari proses
kondensasi.
f. Adveksi
Adveksi ini terjadi setelah partikel- partikel es membentuk sebuah awan. Adveksi
merupakan perpidahan awan dari satu titik ke titik lainnya namun masih dalam satu
horisontal. Jadi setelah partikel- partikel es membentuk sebuah awan yang hitam dan
gelap, awan tersebut dapt berpindah dari satu titik ke titik yang lain dalam satu
horizontal.
Proses adveksi ini terjadi karena adanya angin maupun perbedaan tekanan udara
sehingga mengakibatkan awan tersebut berpindah. Proses adveksi ini memungkinkan
awan akan menyebar dan berpindah dari atmosfer yang berada di lautan menuju
atmosfer yang ada di daratan. Namun perlu diketahui bahwa tahapan adveksi ini tidak
selalu terjadi dalam proses hidrologi, tahapan ini tidak terjadi dalam siklus hidrologi
pendek.
g. Presipitasi
Awan yang telah mengalami proses adveksi tersebut selanjutnya akan mengalami
presipitasi. Presipitasi merupakan proses mencairnya awan hitam akibat adanya
pengaruh suhu udara yang tinggi. Pada tahapan inilah terjadinya hujan. Sehingga awan
hitam yang tebentuk dari partikel es tersebut mencair dan air tersebut jatuh ke Bumi
manjadi sebuah hujan. Namun, tidak semua presipitasi menghasilkan air.

Apabila presipitasi terjadi di daerah yang mempunyai suhu terlalu rendah, yakni sekitar
kurang dari 0ᵒ Celcius, maka prepitisasi akan menghasilkan hujan salju. Awan yang
banyak mengandung air tersebut akan turun ke litosfer dalam bentuk butiran- butiran
salju tipis. Hal ini dapat kita temui di daerah yang mempunyai iklim sub tropis, dimana
suhu yang dimiliki tidak terlalu panas seperti di daerah yang mempunyai iklim tropis.
h. Run Off
Tahapan run off ini terjadi ketika sudah di permukaan Bumi. Ketika awan sudah
mengalami proses presipitasi dan menjadi air yang jatuh ke Bumi, maka air tersebut
akan mengalami proses run off. Run off atau limpasan ini merupakan proses pergerakan
air dari tempat yang tinggi menjuju ke tempat yang lebih rendah yang terjadi di
permukaan Bumi. Pergerakan air tersebut dapat terjadi melalui saluran- saluran, seperti
saluran got, sungai, danau, muara sungai, hingga samudera. Proses ini menyebabkan
air yang telah melalui siklus hidrologi akan kembali menuju ke lapisan hidrosfer Bumi.
i. Infiltrasi
Proses selanjutnya adalah proses infiltrasi. Air yang sudah berada di Bumi akibat proses
presipitasi, tidak semuanya mengalir di permukaan Bumi dan mengalami run off.
Sebagian dari air tersebut akan bergerak menuju ke pori- pori tanah, merembes, dan
terakumulasi menjadi air tanah. Sebagian air yang merembes ini hanyalah sebagian
kecil saja. Proses pergerakan air ke dalam pori- pori tanah ini disebut sebagai proses
infiltrasi. Proses infiltrasi akan secara lambat membawa air tanah untuk menuju
kembali ke laut.

Setalah melalui proses run off dan infiltrasi, kemudian air yang telah mengalami
siklus hidrologi akan kembali berkumpul ke lautan. Dalam waktu yang
berangsunr- angsur, air tersebut akan kembali mengalami siklus
hidrologi yang baru, dimana diawali dengan evaporasi. Dan itulah kesembilan
dari tahapan siklus hidrologi.

2. Pengertian irigasi dan data-data yang di perlukan untuk suatu perencanaan suatu
irigasi

a) Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuatan bangunan air menunjang
usaha pertanian, perkebunan dan peternakan.
Irigasi adalah segala usaha yang berhubungan dengan perencanaan dan pembuatan sarana
pertanian untuk penyaluran serta membagi air ke biang-bidang tanah pertanian secara
teratur, serta pembuanagan secara berlebihan air yang tidak diperlukan lagi.

b.) Data-data yang diperlukamuntuk merencanakan suatu jaringan irigasi :


Peta topografi daerah
Jumlah air yang dapat dimanfaatkan berdasarkan debit sumber airnya
Lokasi sumber air / lokasi pengambilannya
Keadaan tanah daerah pengairan untuk memperkirakan banyaknya air yang hilang
melalui rembesan, bocoran serta menentukan bentuk tampang saluran
Data hidrologi terutama menyangkut potensi penyediaan air (water avability) dan
kesetimbangan air (water balance).
Kebutuhan air pada areal irigasi (water requirement) sesuai jenis tanaman dan pada
perencanaan ini didasarkan kebutuhan air untuk tanaman padi.
Keadaan air terutama menyangkut kualitasnya.
Data klimatologi
Peta lahan tanah
Data lain yang berhubungan dengan pelaksanaan perencanaan pembangunan
daerah menjadi daerah irigasi

3. Klasifikasi jaringan irigasi ditinjau dari cara pengaturannya, pengukuran dan


fasilitas secara rinci
a. Klasifikasi jaringan irigasi yang dimaksud adalah :
Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran aliran air dan lengkapnyafasilitas, jaringan
irigasi dapat dibedakan kedalam tiga jenis yaitu:
 Irigasi sederhana

Dalam suatu jaringan irigasi yang dapat dibedakan adanya empat unsur
fungsional pokok yaitu :

1. Bangunan-bangunan utama
2. Jaringan pembawa berupa saluran yang mengalirkan air irigasi ke petak- petak
tersier.

3. Petak-petak tersier dengan sistem pembagian air dan sistem pembuangan

kolektif, air irigasi dibagi-bagi dan dialirkan ke sawah-sawah dan kelebihan

air ditampung di dalam suatu system pembuangan di dalam petak tersier.

4. Sistem pembuangan yang ada di luar daerah irigasi untuk membuang kelebihan
air lebih ke sungai atau saluran-saluran alamiah.

Tabel 2.1 Klasifikasi Jaringan Irigasi


Gambar 2.1 Sket Jaringan Irigasi

 Irigasi Non Teknis

kelompok petani pemakai air, sehingga kelengkapan maupun kemampuan dalam


mengukur dan mengatur masih sangat terbatas. Ketersediaan air biasanya
melimpah dan mempunyai kemiringan yang sedang sampai curam, sehingga mudah
untuk mengalirkan dan membagi air. Jaringan irigasi sederhana mudah
diorganisasikan karena menyangkut pemakai air dari latar belakang sosial yang
sama. Namun jaringan ini masih memiliki beberapa kelemahan antara lain, terjadi
pemborosan air karena banyak air yang terbuang, air yang terbuang tidak selalu
mencapai lahan di sebelah bawah yang lebih subur, dan bangunan penyadap
bersifat sementara, sehingga tidak mampu bertahan lama.

 Irigasi Semi Teknis

Jaringan irigasi semi teknis memiliki bangunan sadap yang permanen


ataupun semi permanen. Bangunan sadap pada umumnya sudah dilengkapi dengan
bangunan pengambil dan pengukur. Jaringan saluran sudah terdapat beberapa
bangunan permanen, namun sistem pembagiannya belum sepenuhnya mampu
mengatur dan mengukur. Karena belum mampu mengatur dan mengukur dengan
baik, sistem pengorganisasian biasanya lebih rumit. Sistem pembagian airnya sama
dengan jaringan sederhana, bahwa pengambilan dipakai untuk mengairi daerah
yang lebih luas daripada daerah layanan jaringan sederhana.
 Irigasi teknis

Jaringan irigasi teknis mempunyai bangunan sadap yang permanen. Bangunan


sadap serta bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur. Disamping itu terdapat
pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang.Pengaturan dan pengukuran
dilakukan dari bangunan penyadap sampai ke petak tersier. Petak tersier
menduduki fungsi sentral dalam jaringan irigasi teknis. Sebuah petak tersier terdiri
dari sejumlah sawah dengan luas keseluruhan yang umumnya berkisar antara 50 –
100 ha, kadang-kadang sampai 150 ha.

Petak tersier menerima air di suatu tempat dalam jumlah yang sudah diukur dari
suatu jaringan pembawa yang diatur oleh Dinas Pengairan. Untuk memudahkan
sistem pelayanan irigasi kepada lahan pertanian, disusun suatu organisasi petak
yang terdiri dari petak primer, petak sekunder, petak tersier, petak kuarter dan petak
sawah sebagai satuan terkecil.

a. Petak Tersier
Petak tersier menerima air irigasi yang dialirkan dan diukur pada bangunan
sadap (offtake) tersier yang menjadi tanggung jawab Dinas Pengairan.
Bangunan sadap tersier mengalirkan airnya ke saluran tersier. Petak tersier yang
kelewat besar akan mengakibatkan pembagian air menjadi tidak efisien. Faktor-
faktor lainnya adalah jumlah petani dalam satu petak, jenis tanaman dan
topografi.

Di daerah- daerah yang ditanami padi, luas petak yang ideal antara 50-100
ha, kadang-kadang sampai 150 ha.

Petak tersier terdiri dari beberapa petak kuarter masing-masing seluas


kurang Petak tersier sebaiknya berbatasan langsung dengan saluran sekunder
atau saluran primer. Sedapat mungkin dihindari petak tersier yang terletak tidak
secara langsung di sepanjang jaringan saluran irigasi utama, karena akan
memerlukan saluran muka tersier yang mebatasi petak- petak tersier lainnya.
Panjang saluran tersier sebaiknya kurang dari 1500 m tetapi dalam kenyataan
kadang-kadang panjang saluran ini mencapai 2500 m..

b. Petak Sekunder

Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang kesemuanya dilayani
oleh satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder menerima air dari
bangunan bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder. Batas-batas petak
sekunder pada urnumnya berupa tanda topografi yang jelas misalnya saluran
drainase. Luas petak sekunder dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi
topografi daerah yang bersangkutan.
Saluran sekunder pada umumnya terletak pada punggung mengairi daerah
di sisi kanan dan kiri saluran tersebut sampai saluran drainase yang
membatasinya. Saluran sekunder juga dapat direncanakan sebagai saluran garis
tinggi yang mengairi lereng-lereng medan yang lebih rendah.

c. Petak Primer
Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder yang mengambil
langsung air dari saluran primer. Petak primer dilayani oleh satu saluran primer
yang mengambil airnya langsung dari sumber air biasanya sungai.

Daerah di sepanjang saluran primer sering tidak dapat dilayani dengan


mudah dengan cara menyadap air dari saluran sekunder. Apabila saluran primer
melewati sepanjang garis tinggi daerah saluran primer yang berdekatan harus
dilayani langsung dari saluran primer.

Macam-macam sistem irigasi menurut :


1. sumber airnya
Mata air yaitu air yang terdapat didalam tanah, seperti sumur, air artesis, dan air
tanah. Air tersebut banyak mengandung zat terlarut sehingga mineral bahan makan
tanamana sangat kurang dan pada umunya kosisten
Air sungai, yaitu air yang terdapat diatas permukaan tanah. Air tersebut banyak
mengandung mineral sebagai bahan makan makanan, sehingga sangat baik untuk
pemupukan dan juga suhunya lebih rendah dari pada suhu atmosfer. Air sungai ini
berasal dari dua macam sungai, yaitu sungai kecil yang debit airnya berubah-ubah
dan sungai besar
Air waduk, yaitu air yang terdapat dipermukaan tanah , seperti pada sungai. Tetapi
air waduk sedikit mengandung lumpur , sedangkan zat terlarutnya sama banyaknya
dengan air sungai.
2. cara pengambilan
Menurut pengambilannya air irigasi dibagi menjadi :
 Pengambilan gravitasi
Irigasi gravitasi merupakan sistem irigasi yang telah lama dikenal dan diterapkan
dalam kegiatan usaha tani. Dalam sistem irigasi ini, sumber air diambil dari air yang
ada di permukaan burni yaitu dari sungai, waduk dan danau di dataran tinggi.
Pengaturan dan pembagian air irigasi menuju ke petak-petak yang membutuhkan,
dilakukan secara gravitati
 Pompa
Sistem irigasi dengan pompa bisa dipertimbangkan,apabila pengambilan secara
gravitatif ternyata tidak layak dari segi ekonomi maupun teknik.
3. Menurut cara pengaliran
a. Saluran terbuka (open channel)
b. Jaringan pipa (pipe network)
4. Menurut cara distribusi dilahan
a. Irigasi permukaan
b. Irigasi curah
c. Irigasi tetes
4. a. Perhitungan Data Curah Hujan Yang Hilang

1 P1 P2 P𝑛
Rumus : Px = ( nx + nx + ....+ nx)
n n1 n2 n𝑛

Keterangan :

Px = Curah hujan pada Stasiun yang di cari

P1, P2, Pn = Curah hujan pada Stasiun 1, 2, dan n

n1, n2, nn = Curah hujan maksimum tahunan pada Stasiun 1, 2, sampai nn

n = Banyaknya data

 Untuk tahun 2012 :


1) Bulan Juni

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Baito

Dik : P1 Stasiun Onembute = 7 mm


P2 Stasiun Tanea = 13 mm
n1 Stasiun Onembute = 13 mm
n2 Stasiun Tanea = 13 mm
nx Stasiun Baito = 39 mm
Dit : P Stasiun Baito. .?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 7 13
= ( 39 + 39 )
2 13 13
= 30 mm
 Untuk tahun 2014 :
2) Bulan Mei

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Baito

Dik : P1 Stasiun Onembute = 8 mm


P2 Stasiun Tanea = 10 mm
n1 Stasiun Onembute = 13 mm
n2 Stasiun Tanea = 18 mm
nx Stasiun Baito = 8 mm
Dit : P Stasiun Baito. .?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 8 10
= ( 8 + 8)
2 13 18
= 4,7 mm
 Untuk tahun 2015 :
3) Bulan Juni

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Baito

Dik : P1 Stasiun Onembute = 0 mm


P2 Stasiun Tanea = 0 mm
n1 Stasiun Onembute = 62 mm
n2 Stasiun Tanea = 36 mm
nx Stasiun Baito = 60 mm
Dit : P Stasiun Baito. .?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 0 0
= ( 60 + 60 )
2 62 36
= 30 mm
 Untuk tahun 2012 :
4) Bulan Agustus.

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Onembute.

Dik : P1 Stasiun Baito = 0 mm


P2 Stasiun Tanea = 9 mm
n1 Stasiun Baito = 39 mm
n2 Stasiun Tanea = 13 mm
nx Stasiun Onembute = 13 mm
Dit : P Stasiun Onembute. .?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 0 9
= ( 13 + 13 )
2 39 13
= 4,5 mm
 Untuk tahun 2013 :
5) Bulan Oktober

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Onembute.

Dik : P1 Stasiun Baito = 0 mm


P2 Stasiun Tanea = 2 mm
n1 Stasiun Baito = 22 mm
n2 Stasiun Tanea = 62 mm
nx Stasiun Onembute = 20 mm
Dit : P Stasiun Onembute. .?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 0 2
= ( 20 + 20 )
2 22 62
= 0,32 mm
 Untuk tahun 2014 :
6) Bulan Maret.

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Onembute.

Dik : P1 Stasiun Baito = 5 mm


P2 Stasiun Tanea = 18 mm
n1 Stasiun Baito = 8 mm
n2 Stasiun Tanea = 18 mm
nx Stasiun Onembute = 13 mm
Dit : P Stasiun Onembute. .?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 5 18
= ( 13 + 13 )
2 18 18
= 10,56 mm
 Untuk tahun 2015 :
7) Bulan Januari.

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Onembute.

Dik : P1 Stasiun Baito = 3 mm


P2 Stasiun Tanea = 0 mm
n1 Stasiun Baito =60 mm
n2 Stasiun Tanea = 36 mm
nx Stasiun Onembute = 62 mm
Dit : P Stasiun Onembute. .?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 3 0
= ( 62 + 62 )
2 60 36
= 1,55 mm
 Untuk tahun 2016 :
8) Bulan Oktober

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Onembute.

Dik : P1 Stasiun Baito = 0 mm


P2 Stasiun Tanea = 23 mm
n1 Stasiun Baito = 26 mm
n2 Stasiun Tanea = 28 mm
nx Stasiun Onembute = 60 mm
Dit : P Stasiun Onembute. .?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 0 23
= ( 60 + 60 )
2 26 28
= 24,64 mm
 Untuk tahun 2012 :
9) Bulan Maret.

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Tanea.

Dik : P1 Stasiun Baito = 0 mm


P2 Stasiun Onembute = 9 mm
n1 Stasiun Baito = 39 mm
n2 Stasiun Tanea = 13 mm
nx Stasiun = 13 mm
Dit : P Stasiun Tanea.?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 0 9
= ( 13 + 13 )
2 39 13
= 4,50 mm
 Untuk tahun 2013 :
10) Bulan Januari

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Tanea.

Dik : P1 Stasiun Baito = 9 mm


P2 Stasiun Onembute = 0 mm
n1 Stasiun Baito = 22 mm
n2 Stasiun Tanea = 20 mm
nx Stasiun = 62 mm
Dit : P Stasiun Tanea.?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 9 0
= ( 62 + 62 )
2 22 20
= 12,7 mm
 Untuk tahun 2014 :
11) Bulan Juni

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Tanea.

Dik : P1 Stasiun Baito = 0 mm


P2 Stasiun Onembute = 13 mm
n1 Stasiun Baito = 8 mm
n2 Stasiun Tanea = 13 mm
nx Stasiun = 16 mm
Dit : P Stasiun Tanea.?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 0 13
= ( 16 + 16 )
2 8 13
= 9,00 mm
 Untuk tahun 2016 :
12) Bulan Desember

 Perhitungan data curah hujan pada Stasiun Tanea.

Dik : P1 Stasiun Baito = 0 mm


P2 Stasiun Onembute = 3 mm
n1 Stasiun Baito = 26 mm
n2 Stasiun Tanea = 60 mm
nx Stasiun = 28 mm
Dit : P Stasiun Tanea.?
Penye :
1 P1 P2
Px = ( nx + nx)
n n1 n2
1 0 3
= ( 28 + 28 )
2 26 60
= 0,70 mm

Satsiun Baito Satsiun Onembute Satsiun Tanea


2012

2013

2014

2015

2016

2012

2013

2014

2015

2016

2012

2013

2014

2015

2016
jan 20 9 0 3 21 13 0 7 1.55 0 7 12.6818 0 0 12
feb 0 3 0 8 0 10 7 9 17 8 9 17 9 16 28
mar 0 21 5 0 0 9 18 10.56 4 0 5 4 18 13 20
apr 0 22 8 0 26 0 0 0 3 0 0 3 0 36 0
mei 39 12 4.7 0 16 8 20 10 7 0 10 7 0 0 11
jul 0 0 0 60 11 8 5 6 28 60 6 28 16 10 15
jun 30 0 0 13 15 7 18 13 62 13 13 62 9.00 26 14
agt 0 0 0 0 0 5 10 9 0 0 9 0 0 12 0
sept 0 2 0 0 4 5 9 0 0 0 0 0 0 0 0
okt 0 0 0 0 0 7 0.32 0 0 24.64 0 2 0 0 23
nov 14 0 0 0 0 0 0 6 0 0 6 0 0 0 0
des 0 0 0 0 0 0 6 8 0 3 8 0 0 0 0.70
Hujan maks 39 22 8 60 26 13 20 13 62 60 13 62 18 36 28
Jumalah
103 69 17.7 84 93 71.5 93.3 78.6 122.6 108.6 72.5 135.7 52 113 123.7
curah hujan
luas stasiun 268.2 622.8 96.2

b. Perhitungan Curah Hujan Kawasan.

1) Metode Poligon Thiessen.


 Rumus yang digunakan :
A1 R1 + A2 R2 +⋯.+ A𝑛 R𝑛
̅ =
R A1 + A2 ….+ A𝑛

Keterangan :
̅
R = Curah hujan area (mm)
R1,R2,Rn = Curah hujan pada Stasiun 1, 2, n (mm)
A1,A2,An = Luas area pada Stasiun 1, 2, n
 Contoh perhitungan pada tahun 2012 :
Dik : R1 = 103 mm A1 = 268,2 km2
R2 = 71,5 mm A2 = 622,8 km2
R3 = 72,5 mm A3 = 96,2 km2
Penye:
A1 R1 + A2 R2 + A3 R3
̅ = =
R A1 + A2 + A3
268,2 x 1037+ 622,8x 71,5 + 96,2 x 72,5
̅ =
R 268,2 + 622,8 + 96,22

̅ = 80,2 mm
R
data stasiun Luas
tahun
Baito Onembute Tanea stasiun
2012 103.0 71.5 72.5 80.2
2013 69.0 93.3 135.7 90.8
2014 17.7 78.6 52.0 59.4
2015 84.0 122.6 113.0 111.1
2016 93.0 108.6 123.7 105.9
jumlah 447.4
rata-rata 89.5

2) Metode Rerata Aritmatik


 Rumus yang digunakan :
R1 + R2+ R3 +⋯.+ R𝑛
̅ =
R 𝑛

Keterangan :
̅
R = Curah hujan area (mm)
R1,R2,Rn = Curah hujan pada Stasiun 1, 2, n (mm)
n = Jumlah Stasiun
 Contoh perhitungan pada tahun 2012 :
Dik : R1 = 103,0 mm
R2 = 71,5 mm
R3 = 72,5 mm
Penye:
R1 + R2+ R3
̅ =
R 𝑛
103,0 + 71,5 +72,5
̅ =
R 3
̅ = 82,5 mm.
R
cura
data stasiun
tahun hujan
Baito Onembute Tanea area (mm)
2012 103.0 71.5 72.5 82.3
2013 69.0 93.3 135.7 99.3
2014 17.7 78.6 52.0 49.4
2015 84.0 122.6 113.0 106.5
2016 93.0 108.6 123.7 108.4
jumlah 446.0
rata-rata 89.2

5. Rencanakan dan sketsa dimensi saluran primer!


Dik :A = 926,960 Ha
NFR = 1,692 lt/dtk/ha
C =1
e = Efisiensi Saluran primer = 0,9
n = 2,626 n = b/h b = 2,626h
m = 1,26 m
v = 0,226 m/det
k = 35

Debit Pembawa Rencana


A x NFR x C
Q=
e
926,960 x 1,692 x 1
Q=
0,9
Q = 1742,68/dtk = 1,743 m3/dtk

 Rumus Saluran Trapesium


A = (b + m.h)h
= (2,626h + 1,26 h) h
= 3,886 h2
𝑄 1,743
A = = = 7,711 m2
𝑉 0,226
Sehingga :
A = 3,886 h2
7,711
h2 = = 1,984
3,886
h = 1,4 m

 Luas Penampang Basah (A)


A = 3,886 h2 = 3,886 x 1,42 = 7,711 m2
 Lebar Dasar Saluran (b)
b = 2,626 h = 2,626 x 1,4 = 3,70 m
 Keliling Penampang Basah
P = b + 2h √𝑚2 + 1
= 3,70 + (2 x 1,4) √1,262 + 1
= 7,934 m

 Tinggi Muka air Jagaan (W)


W = 0,60 (KP 04 tabel 3.5 tinggi jagaan minimum untuk saluran tanah)
 Lebar Atas Saluran (B)
B = b + 2m (h + W)
= 3,70 + 2 x 1,26 (1,4 +0,60)
= 8,761 m
 Lebar Muka air (T)
T = b + 2mh = 3,70 + (2 x 1,26 x 1,4) = 7,249 m
 Jari – Jari Hidrolis
𝐴 7,711
R = = = 0,972 m
𝑃7,934
 Kemiringan saluran (I)
2 2
 V   0,226 
I = 2/3 
=   = 0,00037 m
2/3 
 k .R   35 x0,972 

Gambar sketsa dimensi Saluran primer.


6. Rencanakan jaringan irigasi berikut!
Perencanaan Saluran Primer A

Dik :A = 86 ha
NFR = 1,226 lt/dtk/ha
C =1
e = Efisiensi, dimana : - Saluran primer = 0,9

Debit Pembawa Rencana


A x NFR x C
Q=
e
86 x 1,226 x 1
Q=
0,9
Q = 117 l/dtk/ha = 0.117 m3/dtk

 Parameter Perhitungan Untuk Kemiringan Saluran


Berdasarkan tabel karakteristik saluran (Lampiran II KP – 3), diperoleh:
Q m n k Q V
0.0 1 1 35 0,0 0,25
0,117 X X 35 0,117 x
0,15 1 1 35 0,15 0,30

Dengan cara interpolasi diperoleh :


 Nilai m(kemiringan talut) :

0,117−0,0 m−1
=
0,15−0,0 1−1
0 = 1m –1,15
1,15
m =
1
= 1

Dengan cara yang sama, maka diperoleh:


 Nilai n (perbandingan lebar dasar saluran dengan kedalaman air) :
n =1 n = b/h b = 1h
 Nilai v (kecepatan pengaliran) = 0,29
 Nilai k(koefisien kekasaran Strickter pasangan tanah) = 35

 Rumus Saluran Trapesium


A = (b + m.h)h
= (1h + 1h) h
= 2 h2
𝑄 0,117
A = = = 0,405 m2
𝑉 0,29
Sehingga :
A = 2 h2
0,405
h2 = = 0,203
2
h = 0,45 m

 Luas Penampang Basah (A)


A = 2 h2 = 2 x 0,45 2 = 0,405m2
 Lebar Dasar Saluran (b)
b = 1 h = 1 x 0,45 = 0,45 m
 Keliling Penampang Basah
P = b + 2h √𝑚2 + 1
= 0,45 + (2 x 0,45) √12 + 1
= 1,723 m

 Tinggi Muka air Jagaan (W)


W = 0,60 (KP 04 tabel 3.5 tinggi jagaan minimum untuk saluran tanah)
 Lebar Atas Saluran (B)
B = b + 2m (h + W)
= 0,45+ 2 x 1 (0,45 +0,60)
= 2,550 m
 Lebar Muka air (T)
T = b + 2mh = 0,45+ (2 x 1x 0,45) = 1,350 m
 Jari – Jari Hidrolis
𝐴 0,405
R = = = 0,235 m
𝑃 1,723
 Kemiringan saluran (I)
2
 V  
2
0,29 
I = 2/3 
=   = 9,90 x 10-6 m
2/3 
 k .R   35 x0,235 
Untuk perhitungan selanjutnya dapat di lihat pada table berikut

A NFR QS V A h b A Pakai P W B T R I
Saluran C e m n k
(Ha) lt/dt/Ha m3/det m/det m2 m m m2 m m m m m m
S. Primer A 86 1.226 1 0.9 0.117 1 1.000 0.29 0.405 0.45 35 0.45 0.405 1.723 0.60 2.550 1.350 0.235 9.900E-06
S. Primer D 426 1.226 1 0.9 0.580 1 1.364 0.52 1.124 0.69 35 0.94 1.124 2.891 0.60 3.520 2.320 0.389 6.171E-05
Perencanaan Saluran Sekunder B

Dik :A = 236 ha
NFR = 1,226 lt/dtk/ha
C =1
e = Efisiensi, dimana : - Saluran Sekunder = 0,9

Debit Pembawa Rencana


A x NFR x C
Q=
e
236 x 1,226 x 1
Q=
0,9
Q = 321 l/dtk/ha = 0.321 m3/dtk

 Parameter Perhitungan Untuk Kemiringan Saluran


Berdasarkan tabel karakteristik saluran (Lampiran II KP – 3), diperoleh:
Q m n k Q V
0.3 1 1 35 0,3 0,35
0,321 X X 35 0,321 x
0,5 1 1,2 35 3,00 0,40

Dengan cara interpolasi diperoleh :


 Nilai m(kemiringan talut) :

0,321−0,3 m−1
=
0,5−0,3 1−1
0 = 1m –1,15
1,15
m =
1
= 1

Dengan cara yang sama, maka diperoleh:


 Nilai n (perbandingan lebar dasar saluran dengan kedalaman air) :
n =1 n = b/h b = 1,021h
 Nilai v (kecepatan pengaliran) = 0,36
 Nilai k(koefisien kekasaran Strickter pasangan tanah) = 35

 Rumus Saluran Trapesium


A = (b + m.h)h
= (1,02h + 1h) h
= 2,021 h2
𝑄 0,321
A = = = 0,891 m2
𝑉 0,36
Sehingga :
A = 2 h2
0,891
h2 = = 0,441
2,021
h = 0,66 m

 Luas Penampang Basah (A)


A = 2,021 h2 = 2 x 0,66 2 = 0,891m2
 Lebar Dasar Saluran (b)
b = 1,021 h = 1,021 x 0,66 = 0,68 m
 Keliling Penampang Basah
P = b + 2h √𝑚2 + 1
= 0,68 + (2 x 0,66) √12 + 1
= 2,556 m

 Tinggi Muka air Jagaan (W)


W = 0,60 (KP 04 tabel 3.5 tinggi jagaan minimum untuk saluran tanah)
 Lebar Atas Saluran (B)
B = b + 2m (h + W)
= 0,68+ 2 x 1 (0,66 +0,60)
= 3,206 m
 Lebar Muka air (T)
T = b + 2mh = 0,68 + (2 x 1x 0,66) = 2,006 m
 Jari – Jari Hidrolis
𝐴 0,891
R = = = 0,349 m
𝑃 2,556
 Kemiringan saluran (I)
2
 V   
2
0,36
I = 2/3 
=   = 2,61 x 10-5 m
2/3 
 k .R   35 x0,349 

Untuk perhitungan selanjutnya dapat di lihat pada table berikut

A NFR QS V A h b A Pakai P W B T R I
Saluran C e m n k
(Ha) lt/dt/Ha m3/det m/det m2 m m m2 m m m m m m
S. Sekunder B 236 1.226 1 0.9 0.321 1 1.021 0.36 0.891 0.66 35 0.68 0.891 2.556 0.60 3.206 2.006 0.349 2.607E-05
S. Sekunder C 642 1.226 1 0.9 0.875 1 1.100 0.42 2.058 0.99 35 1.09 2.058 3.889 0.60 4.269 3.069 0.529 6.309E-05
7. Perencanaan gorong-gorong
Dik : V = 1,5 m/det
L =8m
K = 70 (pasangan beton)
Q = 0,562 m3/det
b = 1,26 m
h = 0,480 m
m =1
I = 0,000335
Peny:

 Parameter Perhitungan Untuk kecepatan pengaliran Saluran


Berdasarkan tabel karakteristik saluran (Lampiran II KP – 3), diperoleh:

Q Va
0.5 0.45
0.562 0.46
0.75 0.5

Dengan cara interpolasi diatas diperoleh nilai Va = 0,46 m/det:

 Luas Penampang Basah (A)


A = b x h = 1,26 x 0,480 = 0,605 m2

 Keliling Penampang Basah


P = 2 x(b + h) = 2 x (1,26 + 0,480) = 3,480 m

 Jari-jari Hidrolis
𝐴 0,605
R= = = 0,2 m
𝑃 3,480

Kehilangan energy pada gorong-gorong

Kehilangan Masuk
(va - v)2
ΔHms = ξ masuk
2g
( 0.462 - 1.5 )2
= 0.5
2 x 9.81
= 0.027 m
Kehilangan Energi Akibat Gesekkan Masuk Gorong-
Gorong
v2 v2 L
ΔHf = Cf = .
2.g C2 R
v2 L
= 1/6 2
.
(k.R ) R
1.5 8
= 1/6 x
(70 x 0,417 0.2
= 0.001 m

Kehilangan Keluar
(va - v)2
ΔHkl = ξ Keluar
2g
( 0.462 - 1.5 )2
= 1
2 x 9.81
= 0.055 m

Jadi, Kehilangan energi pada bangunan gorong-gorong


adalah

ΔH = ΔHf + ΔHms + ΔHms


= 0.001 + 0.027 + 0.05
= 0.083 m

Tabel Kehilangan Energi pada Gorong-Gorong


Nama v L R va ΔHf ΔH msk ΔH klr ΔH
k ξ masuk ξ keluar
Bangunan m/det (m) (m) m/det (m) (m) (m) (m)
G 1.5 8 70 0.174 0.462 0.5 1 0.001 0.027 0.055 0.083
Perencanaan dimensi gorong-gorong

b sal = 1.26 m
B = b sal 1.26 m
= 1.26 ˜̴ 1
h sal = 0.480
W = 0,25 h +0,30 = 0.4
H = h sal + W
= 0.480 + 0.42
= 0.9 m

Untuk dimensi -dimensi berikutnya dari gorong-gorong dapat diambil dari


tabel 5.5 Standar Penulangan Untuk Gorong-Gorong Segi Empat Type single (KP-
04)
Tabel Dimensi Gorong-Gorong
Nama b sal B h W H t1 t2 t3 t4 BT HT
Bangunan (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m)
G 1.5 1.5 0.5 0.4 0.9 0.2 0.2 0.2 0.2 1.8 1.79