Anda di halaman 1dari 2

AIR MATA LELAKI DAN PAJAK

oleh:1401160293

Laki-laki selalu diasosiakan sebagai


makhluk yang kuat, berani dan suka tantangan.
Jika seorang lelaki menangis itu terkadang
dianggap sebagai anomali dan salah satu bentuk
kelemahan. Jikalau pun seorang lelaki harus
menangis pasti disebabkan oleh sesuatu yang
tergolong luar biasa. Oleh karena itu kita sangat
jarang melihat seorang lelaki menangis apalagi di
depan orang asing yang baru ditemuinya.
Saya memiliki kisah tentang dua orang
lelaki, sebut saja pak Jono dan pak Bejo, dan air
mata mereka. Kedua orang tersebut memiliki
latar belakang yang berbeda namun setidaknya
memiliki satu kesamaan. Mereka berdua
menangis di depan orang asing dan orang asing itu adalah saya.
Pak Jono hanya lulusan SMP, meski demikian dia adalah seorang developer
perumahan yang sukses. Perumahan-perumahan yang pak Jono bangun dan pasarkan selalu
sukses dan laris dibeli masyarakat. Sebagai seorang pengusaha sukses tentu saja pak Jono
memiliki banyak pekerja dan mental yang teruji untuk bersaing dalam dunia bisnis. Namun
saat saya mengirimkan sepucuk surat dan kemudian pak Jono menemui saya terkait surat
tersebut, tak disangka-sangka pak Jono menitikan air mata setelah tahu bahwa selama
bertahun-tahun menjalankan bisnis dia memiliki kewajiban yang terutang dan belum
dilaksanakan berkaitan dengan pajak.
Lain lagi dengan pak Bejo. Pak Bejo adalah seorang dokter spesialis bedah satu-
satunya di kabupaten tempat saya bekerja. Untuk mampu menjadi dokter seperti pak Bejo
tentu membutuhkan pendidikan sampai belasan tahun dengan kepintaran yang tidak bisa
dipandang sebelah mata. Sudah tak terhitung berapa operasi yang dilakukan dan nyawa
pasien yang dia selamatkan selama ini. Suatu waktu dikarenakan surat yang saya kirim, pak
Bejo datang menemui saya ditempat saya bekerja. Saat saya menjelaskan bahwa kewajiban
pajaknya tidak terbatas hanya dari pemotongan oleh pihak rumah sakit dan menunjukan
beberapa deret angka, terlihat raut pucat dan pelupuk mata yang basah.
Pak Jono dan pak Bejo, keduanya berada pada usia 40 tahunan, keduanya telah
kenyang dengan asam garam kehidupan. Tapi mereka semua menangis di depan anak muda
yang sekiranya seumuran anak mereka yang baru pertama ditemui karena satu hal yang
sama, ketidaktahuan yang berakibat ketidaktaatan mereka pada pajak. Suatu hal yang bagi
mereka sesusatu yang awam dan dianggap luar biasa.
Air mata lelaki sering dianalogikan dengan air mata buaya. Jika lelaki menangis
biasanya hanya kepura-puraan dengan maksud lain dibelakangnya. Namun dalam air mata
kedua bapak-bapak tersebut saya tidak melihat kepura-puraan. Mereka menitikan air mata
karena merasa mendapati beban yang entah datang dari mana karena ketidaktahuan mereka.
Selama ini tax compliance atau kepatuhan pajak selalu dijadikan salah satu kambing
hitam tidak tercapainya target pajak. Melihat kasus airmata pak Jono dan pak Bejo di atas,
saya berkesimpulan bahwa rendahnya kepatuhan pajak ini sebagian besar dikarenakan wajib
pajak tidak ngeh mengenai masalah perpajakan. Jangan lah kita mengharap wajib pajak akan
patuh dalam menjalankan kewajiban perpajakannya, karena saya yakin untuk tahu cara
menghitung bahkan jenis pajak yang menjadi tanggungan mereka saja tidak tahu.
Sudah saatnya pemerintah berperan aktif dalam mengenalkan mengenai pajak lebih
dini kepada masyarakat. Pengenalan itu bisa dilakukan dengan memasukan pajak dalam
kurikulum pendidikan di sekolah (yang tiap ganti menteri, ganti kurikulum). Kenalkan lah jenis-
jenis pajak yang ada dan cara menghitung pajak kepada para siswa karena hal tersebut akan
lebih bermanfaat bagi mereka dibandingkan mengajarkan cara menghitung berbagai rumus
sampai berbusa-busa.
Dengan masyarakat memahami dasar perpajakan sejak duduk di bangku sekolah,
diharapkan saat mereka berposisi sebagai wajib pajak, mereka akan lebih peduli dan patuh
pajak. Terbukti setelah diberikan penjelasan secara menyeluruh dan mengetahui hak dan
kewajibannya sebagai wajib pajak, pak Jono dan pak Bejo bersedia untuk membayar dan
melaksanakan kewajiban perpajakannya secara tuntas.
Dengan masyarakat yang sadar akan pajak, semoga tidak ada lagi pak Jono dan pak
Bejo lain yang harus menitikan air mata karena ketidaktahuannya akan pajak. Dan tidak ada
lagi pandangan aneh dari rekan sejawat pada seseorang karena ada bapak-bapak paruh baya
menangis di sebelahnya.