Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Farmasi merupakan bagian dari profesi kedokteran hewan meliputi kegiatan di
bidang penemuan, pengembangan, cara membuat, memformulasi, menyimpan dan
menyediakan obat. Resep merupakan surat permintaan tertulis dari Dokter, Dokter gigi,
dan Dokter hewan kepada Apoteker Pengelola Apotek (APA) untuk menyediakan dan
menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(SK Menkes No. 922/Men.Kes/Per/X/1993).
Bentuk sediaan obat berdasarkan konsistensinya dapat dibagi menjadi tiga yaitu
padat, setengah padat dan cair. Bentuk sediaan obat padat dapat dibagi menjadi 6 yang
terdiri dari pulvis, pulveres, kapsul, tablet, pil dan suppoisitoria. Bentuk sediaan obat
setengah padat terdiri dari unguenta (salep). Sedangkan bentuk sediaan obat cair terdiri
dari solutiones (larutan), suspensiones (suspensi), dan emulsi (emulsa).
Praktikum kali ini kami meracik bahan obat dalam bentuk sediaan pulveres,
kapsul dan unguenta (salep). Pulveres adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang
sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas untuk sekali minum. Kapsul adalah
sediaan obat terbungkus cangkang kapsul keras atau lunak. Sedangkan unguenta
(salep) adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai
obat luar.
1.2 Tujuan Pratikum
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum reseptir dan farmasi veteriner antara
lain :
1. Melakukan penelaahan dan pengkajian resep.
2. Melakukan peracikan obat atau memformulasikan obat sesuai dengan permintaan
resep.
3. Dapat menulis resep yang rasional.
4. Dapat membuat bentuk sediaan obat berupa pulveres, kapsul dan unguenta (salep)
dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip kerja.
1.3 Manfaat Pratikum
Manfaat dari pelaksanaan praktikum reseptir dan farmasi veteriner adalah :
1. Mahasiswa FKH dapat menelaah dan mengkaji resep.
2. Mahasiswa dapat memahami isi resep serta mampu menulis resep yang rasional.

1
3. Mahasiswa dapat memahami berbagai mekanisme kerja obat beserta indikasinya,
efek samping dan kontra indikasinya.
4. Mahasiswa memiliki bekal untuk dapat meracik obat atau memformulasikan obat
sesuai dengan permintaan resep.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pulveres
Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan
untuk pemakaian dalam secara oral atau untuk pemakaian luar. Pulveres adalah
serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama yang dibungkus kertas
perkamen atau bahan pengemas lain yang cocok dan dikemas untuk sekali minum
(Syamsuni 2005). Untuk serbuk yang mengandung bahan yang mudah meleleh atau
atsiri, harus dibungkus dengan kertas perkamen atau kertas yang mengandung lilin,
kemudian dilapisi lagi dengan kertas logam. Keseragaman bobot harus memenuhi
persyaratan keseragaman bobot farmakope Indonesia. Penyimpanan dilakukan dalam
wadah tertutup baik. Beberapa keuntungan sediaan pulveres yaitu :
 berupa unit dose,
 campuran obat lebih stabil dibanding larutan,
 disolusi obat lebih cepat dibanding bentuk obat padat lainnya.
Sedangkan kerugian dari bentuk sediaan pulveres yaitu rasanya yang dapat
merangsang mukosa mulut dan atau saluran cerna.
Terdapat beberapa methode pencampuran bahan-bahan bentuk serbuk untuk
kegunaan pembuatan pulveres yang terdiri dari beberapa jenis obat agar lebih
homogen. Methode umum yang sering digunakan yaitu :
 Trituration ( Mortar Methode )
Mencampur obat didalam Mortir ( Lumpang ). Methode digunakan pada
bahan-bahan obat jenis kristal, obat digerus menjadi lebih halus dan homogen.
 Spatulation
Mencampur obat serbuk dengan cara langsung diletakkan diatas kertas atau
papan pil dengan menggunakan spatel. Methode ini mampu menekan dan
mengurangi hilangnya bahan obat.
 Siftting
Methode mencampur obat dengan menggunakan ayakan tertutup.
 Tumbling
Merupakan methode mencampur obat dengan cara menggoyang-
goyangakan serbuk dalam ruangan tertutup dimana didalamnya terdapat bola-bola

3
logam sebagai penggiling. Cara ini digunakan pada pabrik obat untuk mencampur
obat dalam jumlah yang besar dan banyak.
Beberapa cara pemberian serbuk untuk tujuan lokal :
 Serbuk tabur (pulvis adspersorius) diberikan dalam satu wadah/kemasan dengan
cara ditaburkan pada tempat yang diinginkan (untuk pemakaian luar).
 Serbuk gigi (pulvis dentifirisius) diberikan dalam satu wadah/kemasan,dengan
cara pemakain langsung dibubuhkan pada gigi yang sakit/ bolong, biasanya berupa
obat penghilang rasa sakit atau obat anti infeksi.
 Serbuk hisap (pulvis sternutatorrius) di berikan dalam satu wadah/kemasan ,cara
pemakaian dihisap melalui hidung, biasanya untuk penderita sesak nafas hanya
diberikan pada manusia.
 Serbuk antasida dan laksatif diberikan dalam satu wadah/kemasan , cara
pemberian dengan takaran tertentu misalnya sendok teh/makan dimasukan
kedalam air lalu diminum.
 Serbuk untuk disemprotkan diberikan dalam satu wadah/kemasan, cara pemberian
dengan takaran tertentu lalu dilarutkan dalam air hangat dan di pakai pada vagina.
 Dipping powder diberikan pada hewan untuk menghilangkan bakteri pada kulit
dengan cara dimasukkan dalam tempat hewan berendam.

2.2 Kapsul
Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat, dimana satu macam
obat atau lebih dan/atau bahan inert lainnya yang dimasukkan ke dalam cangkang
atau wadah keci l yang dapat larut dalam air. Pada umumnya cangkang kapsul
terbuat dari gelatin. Tergantung pada formulasinya kapsul dapat berupa kapsul
gelatin lunak atau keras.
Hard Capsule (kapsul cangkang keras) terdiri atas wadah dan tutup yang
dibuat dari campuran gelatin, gula dan air, jernih tidak berwarna dan pada dasarnya
tidak mempunyai rasa. Biasanya cangkang ini diisi dengan bahan padat atau
serbuk, butiran atau granul. Ukuran kapsul mulai dari yang besar sampai yang kecil
yaitu 000, 00, 1, 2, 3, 4, 5. Soft Capsule (kapsul cangkang lunak) Kapsul gelatin
lunak dibuat dari gelatin dimana gliserin atau alkohol polivalen dan sorbitol
ditambahkan supaya gelatin bersifat elastis seperti plastik. Kapsul-kapsul ini
mungkin bentuknya membujur seperti elips atau seperti bola dapat digunakan untuk
diisi cairan, suspensi, bahan berbentuk pasta atau serbuk kering.

4
2.3 Unguenta (Salep)
Unguentum adalah bentuk sediaan obat setengah padat yang mudah
dioleskan yang digunakan sebagai obat luar, bahan obat larut atau terdispersi
homogen dalam basis salep yang cocok, dan digunakan untuk pengobatan lokal.
Unguentum terdiri dari obat (zat aktif) dan basis (vehikulum) sebagai pembawa.
Sediaan salep sebagai obat local memiliki efek sebagai anti alergi, anti parasitic,
emoben, sunscream, anti inflamasi, keratolityk, dan antibiotik.
Menurut daya penetrasinya salep dibagi menjadi salep epidermik, salep
endodermik, salep diadermik. Salep berfungsi sebagai pembawa (vehicle), pelumas
(emollient), pelindung (protective). Bahan – bahan salep yaitu, ointment (setengah
padat), pasta (salep yang mengandung > 50% bahan padat), cream (basis dalam
bentuk emulsi, mudah dicuci, mengandung air dan mudah diserap kulit), liniment
(salep yang keadaannya cair).
Pembagian basis salep terdiri dari basis salep berlemak, basis salep serap,
basis salep emulsi, basis salep yang larut dalam air. Syarat dari kualitas salep
adalah stabil selama dipakai, mudah dipakai, lunak dan halus, basis salep yang
cocok, obat terdistribusi secara merata dan homogeny, tidak terpengaruh
kelembaban dan temperatur.

5
BAB III
METODE PRATIKUM

Praktikum ini dilakukan dengan metode langsung sesuai petunjuk dalam penuntun
praktikum yang telah diberikan sebelumnya. Jenis sediaan yang dibuat adalah pulveres,
kapsul dan salep. Segala jenis alat dan bahan yang digunakan telah disediakan dalam lab
praktikum.
Obat-obat yang digunakan untuk pembuatan pulveres dan kapsul adalah Antalgin,
Ampicillin, CTM, dan Vitamin B Kompleks. Sedangkan, obat-obat yang digunakan dalam
pembuatan salep yaitu peru balsam 2 cc dan vaselin albumin (putih) 1 gram.
Hal yang perlu diperhatikan dalam praktikum ini adalah pada saat penimbangan
obat. Sebelum melakukan penimbangan, timbangan dialasi dengan kertas untuk mencegah
menempelnya bahan obat pada alat penimbang. Berat kertas ini hanya 1 gram namun tetap
harus dihitung terhadap berat bersih obat yang ditimbang.

6
BAB IV
ALAT DAN BAHAN

4.1 Pulveres dan Kapsul


Alat :
 Mortir dan lumpang
 Kertas HVS (9x6cm)
 Sendok tanduk
 Cangkang kapsul no. 00
 Gunting
 Penggaris
Bahan :
 Antalgin 2 tablet
 Ampicillin 2 tablet
 CTM 2 tablet
 B Kompleks 2 tablet
4.2 Unguenta

Alat :

 Timbangan digital
 Mortir dan lumpang
 Sendok tanduk
 Pot plastic 2 buah
 Kertas minyak
Bahan :
 Peru balsem 2 cc
 Vaselin album 1 gram

7
BAB V
LANGKAH KERJA

5.1 Cara Pembuatan Pulveres


1. Semua jenis obat (Antalgin, Ampicillin, CTM, dan B Kompleks) di tampung ke
dalam mortar.
2. Semua obat tersebut kemudian di gerus secara perlahan-lahan sampai diperoleh
serbuk yang halus dan homogen.

Gambar 1. Hasil penggerusan obat yang sudah homogen

3. Serbuk halus yang diperoleh terbagi menjadi dua bagian yaitu satu bagian untuk
pembuatan kemasan pulveres dan bagian yang lainnya untuk kemasan kapsul.
4. Untuk kemasan pulveres, serbuk halus yang sudah jadi diletakkan di atas kertas
yang berukuran 9x6 cm yang telah disiapkan sebelumnya.

Gambar 2. Serbuk obat yang telah dibagi-bagi


8
5. Kemudian dilakukan pelipatan kertas yang berisi obat sehingga obat tidak mudah
tumpah.

Gambar 3. Pelipatan kertas


6. Hal tersebut diulang beberapa kali hingga didapatkan jumlah pulveres yang
diinginkan.

Gambar 4. Sediaan pulveres yang telah dikemas


5.2 Cara Pembuatan Capsul
1. Serbuk halus yang tersisa saat penggerusan dimasukkan dalam kemasan kapsul.
2. Pertama-tama cangkang kapsul di lepas kemudian cangkang kapsul yang lebih kecil
diisi adonan serbuk homogen tadi sampai penuh atau batas atas cangkang kapsul,
selanjutnya di tutup dengan cangkang kapsul yang lebih besar.

Gambar 5. Pengisian serbuk obat ke dalam cangkang kapsul


3. Kemudian bila ada beberapa serbuk halus yang menempel pada cangkang maka
cangkang harus dibersihkan.

9
Gambar 6. Pulvis yang telah dikemas dalam bentuk kapsul

5.3 Cara Pembuatan Unguenta


1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Pada timbangan yang digunakan, pada bagian atas timbangan dialasi menggunakan
kertas. Kemudian kertas di timbang beratnya. Setiap bahan aktif obat ditimbang di
atas alas tersebut agar tidak menempel pada timbangan. Setiap alas harus diganti
untuk masing-masing bahan aktif obat.
3. Timbang vaselin album 1 gram, tuangkan sedikit demi sedikit ke dalam mortir
sambil dilakukan pengadukan dan di gerus pelan-pelan sampai diperoleh adonan
salep yang homogen.

Gambar 7. Penimbangan bahan vaselin

10
Gambar 8. Adonan salep yang telah homogen
4. Setelah salep terlihat homogen, kemudian di tampung ke dalam pot plastik sesuai
dengan kemasan yang diinginkan.

Gambar 9. Sediaan salep yang sudah siap digunakan

11
BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Antalgin
 Farmakodinamik
Antalgin adalah derivat metansulfonat dari Amidopirina yang bekerja
terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitifitas reseptor rasa nyeri
dan mempengaruhi pusat pengaturan suhu tubuh. Tiga efek utama adalah
sebagai analgesik, antipiretik, dan anti-inflamasi.
 Farmakokinetika
Antalgin mengalami proses absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi
yang berjalan secara simultan langsung atau tidak langsung melintasi membran
sel.
 Indikasi
 Analgetik-antipiretik
 Nyeri akut hebat, sesudah luka/ pembedahan, tumor dan kolik .
 Demam tinggi yang tidak dapat diatasi antipiretik lain
 Kontraindikasi
 Alergi dipiron atau AINS lainnya
 Congestive heart failure
 Penderita dengan tekanan darah <100 mmHg
 Ulserasi sampai inflamasi saluran cerna, ulser lambung, penyakit ginjal atau
hati.

6.2 Ampicillin
Komposisi ampicilin adalah ampisilina trihidrat. Mekanisme kerjanya yaitu
menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih pada
ikatan penicillin-protein (PBPs–Protein binding penicillin’s), sehingga
menyebabkan penghambatan pada tahapan akhir transpeptidase sintesis
peptidoglikan dalam dinding sel bakteri, akibatnya biosintesis dinding sel
terhambat dan sel bakteri menjadi pecah (lisis). Kelompok ampicillin, walaupun
spektrumnya lebar, aktivitasnya terhadap mikroba gram-positif tidak sekuat
penicillin G, tetapi efektif terhadap beberapa mikroba gram-negatif dan tahan asam.

12
6.3 Chlorpheniramin maleat (CTM)
CTM merupakan salah satu antihistaminika yang memiliki efek sedative
(menimbulkan rasa kantuk). CTM memiliki indeks terapetik (batas keamanan)
cukup besar dengan efek samping dan toksisitas relatif rendah. CTM merupakan
salah satu antihistaminika H1 (AH1) yang mampu mengusir histamin secara
kompetitif dari reseptornya (reseptor H1) dan dengan demikian mampu
meniadakan kerja histamin.
Jadi sebenarnya rasa kantuk yang ditimbulkan setelah penggunaan CTM
merupakan efek samping dari obat tersebut. Sedangkan indikasi CTM adalah
sebagai antihistamin yang menghambat pengikatan histamin pada resaptor
histamin.

6.4 B Kompleks
8 unsur utama pembentuk vitamin B Kompleks, dan fungsi yang dikandung
dari masing-masing unsur tersebut :
1. Vitamin B1 (Thiamine) : berfungsi membantu sel tubuh menghasilkan energi,
kesehatan jantung, serta metabolisme karbohidrat.
2. Vitamin B2 (Riboflavin) : berfungsi melindungi tubuh dari penyakit kanker,
mencegah migrain, serta katarak.
3. Vitamin B3 (Niacin), bermanfaat untuk melepaskan energi dari zat-zat nutrien,
membantu menurunkan kadar kolesterol, mengurangi depresi, dan gangguan pada
persendian.
4. Vitamin B5 (Asam Panthothenate) : membantu sistem saraf dan metabolisme,
mengurangi alergi, kelelahan, dan migrain. Penting bagi aktivitas kelenjar adrenal,
terutama dalam proses pembentukan hormon.
5. Vitamin B6 (Pyridoxine) : membantu produksi sel darah merah dan meringankan
gejala hipertensi (darah tinggi), asma, serta PMS.
6. Vitamin B7 (Biotin) : bermanfaat dalam proses pelepasan energi dari karbohidrat,
pembentukan kuku, serta rambut.
7. Vitamin B9 (Asam Folic) : membantu perkembangan janin, pengobatan anemia,
dan pembentukan hemoglobin.
8. Vitamin B12 (Cobalamine) : membantu merawat sistem saraf dan pembentukan sel
darah merah.

13
 Tiamin (vitamin B1)
 Kebutuhan sehari
 Kebutuhan minimum adalah 0,3 mg/1000 kcal, sedangkanAKG di Indonesia ialah
0,3-0,4 mg/hari untuk bayi, 1,0mg/hari untuk orang dewasa dan 1,2 mg/hari untuk
wanitahamil.
 Farmakokinetik
 Pada pemberian parenteral, absorbsinya cepat dansempurna. Absorbsi per oral
maksimum 8-15 mg/hari yangdicapai dengan pemberian oral sebanyak 40 mg.
Dalam satuhari sebanyak 1 mg tiamin mengalami degradasi di jaringantubuh.
 Efek samping
 Meskipun jarang, reaksi anafilaktoid dapat terjadi setelahpemberian IV dosis besar.
 Sediaan
 Tiamin HCl (vit B1, aneurin HCl) tersedia dalam bentuktablet 5-500 mg, larutan
steril 100-200 mg untukpenggunaan parenteral, dan eliksir 2-25 mg/ml.
 Dosis 2-5 mg/hari (pencegahan) dan 5-10 mg tiga kalisehari (pengobatan).

 Riboflavin (vitamin B2)


 Defisiensi
 Gejala sakit tenggorokan dan radang di sudut mulut(stomatitis angularis), keilosis,
lositis, lidah berwarnamerah dan licin.
 Kebutuhan sehari
 Minimum 0,3 mg/1000 kcal.
 Farmakokinetik
 Pemberian secara oral atau parenteral akan diabsorbsidengan baik dan distribusi
merata di seluruh jaringan.
 Indikasi
 Untuk pencegahan dan terapi defisiensi vitamin B2 yang sering menyertai pellagra
atau defisiensi vitaminB-kompleks lainnya, sehingga riboflavin diberikanbersama
vitamin lainnya.
 Dosis untuk pengobatan adalah 5-10 mg/hari.

14
 Niasin ( Vitamin B3 )
 Defisiensi
 Pellagra adalah penyakit defisiensi niasin dengan kelainanpada kulit, saluran cerna,
dan SSP.
 Kebutuhan sehari
 Kebutuhan minimal asam nikotinat untuk mencegah pellagrarata-rata 4,4 mg/1000
kcal, pada dewasa asupan minimal 13mg.
 Farmakokinetik
 Niasin dan niasinamid mudah diabsorbsi. Ekskresinya melaluiurin, sebagian kecil
dalam bentuk utuh dan sebagian lainnyadalam bentuk berbagai metabolitnya.
 Sediaan dan posologi
 Tablet niasin mengandung 25-750 mg. Sediaan untuk injeksimengandung 50 atau
100 mg niasin/ml. Tablet niasinamid 50-1000 mg, dan larutan untuk injeksi
mengandung 100 mg/ml.
 Untuk pengobatan pellagra pada keadaan akut dianjurkandosis oral 50 mg
diberikan sampai 10 kali sehari, atau 25 mgniasin 2-3 kali sehari secara intravena.

 Piridoksin (vitamin B6)


 Defisiensi
 Kelainan kulit berupa dermatitis seboroik dan peradangan padaselaput lendir, mulut
dan lidah
 Kelainan SSP berupa perangsangan sampai timbulnya kejang
 Gangguan sistem eritropoietik berupa anemia hipokrom mikrositik
 Kebutuhan sehari
 Kira-kira 2 mg/100 mg protein.
 Farmakokinetik
 Piridoksin, piridoksal dan piridoksamin mudah diabsorbsi melalui salurancerna.
Ekskresi melalui urin terutama dalam bentuk 4-asam piridoksatdan piridoksal.
 Efek samping
 Dapat menyebabkan neuropati sensorik atau sindrom neuropati dalamdosis antara
50 mg-2 g per hari untuk jangka panjang.
 Sediaan dan indikasi

15
 Tablet piridoksin HCl 10-100 mg dan sebagai larutan steril 100 mg/mlpiridoksin
HCl untuk injeksi.
 Untuk mencegah dan mengobati defisiensi vitamin B6 diberikan bersamavitamin B
lainnya atau sebagai multivitamin untuk pencegahan danpengobatan defisiensi
vitamin B-kompleks. Indikasi lain untuk mencegahatau mengobati neuritis perifer
oleh obat, misalnya setelah pemberianobat isoniazid.

 Asam pantotenat (Vitamin B5)


 Kebutuhan sehari
 Kebutuhan sehari 5-10 mg.
 Farmakokinetik
 Pada pemberian oral, absorbsinya baik dandistribusinya ke seluruh tubuh dengan
kadar 2-45mcg/g. Ekskresi dalam bentuk utuh 70% melalui urindan 30% melalui
tinja.
 Sediaan
 Dalam bentuk Ca-pantotenat 10 atau 30 mg dandalam bentuk larutan steril untuk
injeksi dengan kadar50 mg/ml.

 Biotin (Vitamin B7)


 Gejala defisiensi biotin :dermatitis, sakitotot, rasa lemah, anoreksia, anemiaringan.
 Berfungsi sebagai koenzim padaberbagai reaksi karboksilasi.
 Jumlah biotin yang diperlukan sehariberkisar antara 150-300 μg.

6.5 Resep Obat


6.5.1 Contoh Resep Pulveres
Dokter : Drh. Pradnya
Izin : No.020/Disnak-Manggarai/2016
Alamat : Jl. Kenyeri No.4
Tlp. : (0385) 2424656

Klungkung, 17 Agustus 2017


R/ Antalgin mg 500 no.II
Ampicillin mg 500 no. II

16
CTM mg 4 no.II
B-complex tab I
m.f. pulv.dtd.no. V
S.3.dd.pulv.I
#
Pro : Anjing
Pemilik : Ade
Umur : 1,5 tahun
BB : 10 kg
Alamat : Jl. Mahoni No. 252.

6.5.2 Contoh Resep Kapsul

Dokter : Drh. Swari

Izin : No.007/Disnak-Manggarai/2015

Alamat : Jl. Tukad Melangit. No.17

Tlp. : (0385) 2424656

Denpasar, 18 Agustus 2017

R/ Antalgin mg 500

Ampicillin mg 500

CTM mg 4

B-complex tab I

m.f.caps.dtd.no. III

S.3.dd.caps.I

Pro : Anjing

17
Pemilik : Komang

Umur : 3,5 thun

BB : 15 kg

Alamat : Jl. Tukad Irawadi No.12

6.5.3 Contoh Resep Unguenta/Salep

Dokter : Drh. Putu

Izin : No.007/Disnak-Manggarai/2015

Alamat : Jl. Gajah Mada No.1

Tlp. : (0385) 2424656

Klungkung, 22 Agustus 2017

R/ Balsam peru gr 0,1

Vaseline album gr 10

m.f.l.a.ung.

S.u.e

Pro : Anjing

Pemilik : Aditya

Umur : 4 tahun

BB : 15 kg

Alamat : Jl.Nangka No. 7

18
BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Pulveres adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama yang
dibungkus kertas perkamen atau bahan pengemas lain yang cocok dan dikemas untuk
sekali minum. Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat, dimana satu
macam obat atau lebih dan/atau bahan inert lainnya yang dimasukkan ke dalam
cangkang atau wadah keci l yang dapat larut dalam air. Unguentum adalah bentuk
sediaan obat setengah padat yang mudah dioleskan yang digunakan sebagai obat luar,
bahan obat larut atau terdispersi homogen dalam basis salep yang cocok, dan
digunakan untuk pengobatan lokal.

7.2 Saran
Sebagai dokter hewan hendaklah kita mampu menulis resep secara rasional
demi kesembuhan pasien kita. Dalam pengobatan hendaknya memegang 5 prinsip
dasar yaitu cito (cepat kerjanya), tuto (aman), curare (menyembuhkan) et jucunde
(menyenangkan). Hal ini akan membantu kita mempertimbangkan bentuk sediaan
mana yang tepat dipilih dalam pengobatan pasien.

19
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, Howard C., Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi 4, UI Press, Jakarta, 1989
Shargel, Leon. et all, Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics, Fifth edition,
Mc.Graw Hill, Singapore, 2005
AIACHE, J.M.et all: Soeratri, Widji.Farmasetika 2 Biofarmasi ,edisi kedua, Airlangga
University Press, Surabaya, 1982
Chairun Wiedyaningsih; Oetari; 2004; Tinjauan terhadap bentuk sediaan obat : kajian
resep-resep di apotek kotamadya Yogyakarta; Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah
Mada. Majalah Farmasi Indonesia, 14(4), 201 – 207, 2004
Chris Langley; Dawn Belcher; 2008; Pharmaceutical Compounding and Dispensing;
London; Pharmaceutical Press.

Sumirtapura, Yeyet C., Saungnage, Badruzzaman, dan Rachmat, Mamat. 2002.


Farmakokinetik dan Ketersediaan Hayati Relatif Sediaan Kapsul, Tablet Salut
Enterik dan Supositoria Ketoprofen. Institut Teknologi Bandung. Jurnal
Matematika dan Sains Vol. 7 No. 1, April 2002, hal 15 - 19

Turco Salvatore, M.S. Pharm.D, F.A.S.H.P, Sterile Dosage Form: Their Preparation and
Clinical Application, 3rd edition, Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore, USA,
1994
Yanhendri, Satya Wydya Yenny; 2012; Berbagai Bentuk Sediaan Topikal dalam
Dermatologi; Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas. CDK-194/ vol. 39 no. 6, th. 2012. Hal : 423-430

20