Anda di halaman 1dari 6

Resume 4 Applying Theory to Accounting Regulation

Wisnu Adi Setyanto/ 9-1 Alih Program/ 37/ 1401160293

A. Theories of Regulation
Para penganut teori pasar modal berpendapat bahwa manajer memiliki insentif untuk secara
sukarela memberikan informasi akuntansi kepada pihak eksternal dan diverifikasi oleh auditor
eksternal. Namun, kebanyakan negara mempunyai persyaratan dalam menghasilkan standar
akuntansi dan laporan keuangan auditnya. Ada bebeapa teori yang relevan dalam memahami
aturan laporan keuangan, yaitu:

1. Theory of efficient market


Penganut teori pasar bebas berpendapat bahwa pasar mencapai fungsi terbaiknya tanpa
intervensi pemerintah dan mampu mencapai efisiensi maksimal dengan membiarkan kekuatan
permintaan dan penawaran mendikte pasar. Namun pemerintah tetap melakukan intervensi dalam
hal bagaimana pasar dijalankan dan informasi yang disediakan dengan tujuan pengembangan pasar
dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Akuntansi dipandang sebagai sebuah industri informasi. Oleh karena itu, para pendukung teori
ini juga berpendapat seperti produk lain, bahwa hukum permintaan dan penawaran juga berlaku.
Ada permintaan informasi akuntansi oleh penggunan dan perusahaan harus menyediakan
informasi akuntansi berupa laporan keuangan. Sehingga secara teoritis ada harga untuk suatu
informasi akuntansi.

Namun ada kritik terhadap teori ini karena dianggap tidak realistis untuk memberikan harga.
Pada dasarnya produk ini merupakan produk umum, saat suatu informasi akuntansi berupa laporan
keuangan di keluarkan maka informasi ini tersedia untuk semua. Selain hal tersebut, perusahaan
memiliki monopoli terhadap informasi yang dimiliki dan bertendensi mengurangi informasi untuk
meningkatkan harga. Kewajiban pelaporan akan menghasilkan lebih banyak informasi dan
menekan biaya. Peran regulator diperlukan dalam hal membujuk perusahaan untuk menghasilkan
informasi yang diperlukan sesuai dengan permintaan dan memastikan pasar modal yang efesien.

2. Agency theory
Permintaan informasi keuangan bisa dikategorikan juga untuk pengelolaan atau tujuan
pengambilan keputusan. Permintaan untuk tujuan pengelolaan, informasi tersebut berhubungan
dengan keinginan untuk memotivasi agen/ perwakilan, distribusi resiko secara efisien. Permintaan
informasi akuntansi untuk tujuan pengambilan keputusan berkaitan dengan kegunaan informasi
dalam mengurangi ketidakjelasan dalam alokasi sumber daya dan resiko ekonomi.
Ketidakpastian dalam teori agensi diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu: ex ante dan ex
post. Ex ante (ketidakpastian ada pada saat pengambilan keputusan dibuat/ before the event),
sedangkan ex post (ketidakpastian ada sesudah keputusan dibuat dan hasil direalisasikan / after the
event. Teori akuntansi berfokus pada dampak laporan ex post alternatif yang berdampak pada
ketidakpastian ex post.

Teori keagenan memberikan kita sebuah kerangka di mana untuk belajar kontrak antara
prinsipal dan agen dan memprediksi konsekuensi ekonomi dari standar. Karena mekanisme pasar
yang tidak efisien karena adanya tidak adanya titik keseimbangan antara pemasok data dengan
pengguna data, ketidakpastian dan risiko yang ada. Maka diperlukan regulasi akuntansi untuk
mengurangi ketidakefisienan dan hasil yang adil.

3. Theory of regulation
a. Public Interest Theory
Alasan utama pemerintah melakukan intervensi pada pasar adalah adanya “kepentingan
umum” terkait dengan kegagalan pasar. Kegagalan pasar biasanya disebabkan oleh:
 Kurangnya kompetisi (oligopoly, monopoly)
 Hambatan untuk masuk
 Asimetri informasi antara penjual dan pembeli
 Sifat “barang publik” pada beberapa produk.

Public interest theory berdasarkan asumsi bahwa pasar yang tidak sempurna atau
kegagalan pasar yang bisa menimbulkan hasil yang tidak efisiensi dan tidak layak. Teori ini
juga didasarkan pada tiga asumsi yaitu kepentingan konsumen, agen, dan pemerintah.

b. Regulatory Capture Theory


Meskipun pada faktanya peraturan dibuat untuk menjaga kepentingan umum
pengguna,tujuan ini tidak bisa dicapai karena dalam proses pembuatannya pihak yang diatur
(regulatee) mengontrol dan mendominasi pembuat peraturan.
Teori ini mengasumsikan bahwa masyarakat itu rasional dan berusaha mempengaruhi
peraturan yang mempengaruhi kemakmuran mereka. Asumsi lainnya adalah ahwa pemerintah
tidak independen dalam proses pembuatan peraturan maka dari itu kelompok berkepentingan
melawan kendali pemerintah dari kekuatan koersif pemerintah untuk mencapai distribusi
kesejahteraan yang mereka inginkan.
Alasan utama pada teori ini berfokus pada fakta bahwa keputusan penetapan peraturan
biasanya cenderung mempengaruhi peraturan berbagai industri. Masukan bagi teori ini adalah
profesional bidang akuntansi atau sektor perusahaan akan mencari kendali sebanyak mungkin
pada semua susunan standard akuntansi yang mengatur pelaporan yang dilakukan oleh
anggotanya.
c. Private Interest Theory
Pada teori ini, pemerintah tidak independen dan mementingkan diri mereka sendiri. Politisi
akan menggunakan kekuasaannya untuk memaksimalkan kesuksesan dalam pemilihan dimasa
akan datang atas meningkatkan kekayaannya. Pemerintah membuat aturan dalam merespon
kelompok bisnis yang mempunyai “voting power”. Komoditas yang diperdagangkan dalam
pasar politik adalah pemindahan kekayaan, konstituen di sisi permintaan, politisi di sisi
penawaran. Pasar akan mendistribusikan kepada permintaan yang tertinggi atau yang
menawar tertinggi. Produsen cenderung menjadi penawar tertinggi karena jumlahnya lebih
sedikit dan lebih mudah bergabung daripada konsumen atau kelompok kepentingan publik
lainnya, yang terkendala dua faktor: biaya organisasi dan biaya informasi. Regulasi dicari oleh
‘produser’ (kelompok kepentingan privat) dan dirancang dan dilakukan untuk kepentingan
mereka. Pejabat pemerintah juga mengejar kepentingannya sendiri secara rasional, untuk
dipilih kembali atau mendapatkan kekayaan atau keduanya. Maka dari itu, produser akan
menyediakan sumber daya kepada mereka dalam bentuk sumbangan kampanye, iklan politik
atau kesempatan kerja setelah pension. Hal itu dilakukan karena Regulasi adalah alat
memindahkan laba kepada kelompok-kelompok yang terorganisir dengan baik dalam bentuk
subsidi, penetapan harga, kuota, pengendalian kompetisi dan pembatasan produk subtitusi bila
kelompok-kelompok tersebut membayar dalam bentuk suara atau kontribusi kepada politisi

B. Penerapan Teori Regulasi


1. Penerapan Public Interest Theory
Pemerintah harus mengintervensi dalam merespon kegagalan pasar dan kepentingan publik.
Contohnya adalah munculnya Sarbanes-Oxley Acy di Amerika tahun 2002 atas bangkrutnya
Enron dan firma audit Arthur Andersen. Contoh lainnya adalah pemerintah Australian
menerbitkan ASRB tahun 1984 dalam merespon kegagalan pasar untuk informasi akuntansi yang
dibuktikan dengan banyaknya perusahaan yang bangkrut meskipun sudah diperiksa oleh auditor.

Konsentrasi pemerintah dalam mengintervensi pasar untuk melindungi konsumen dan


mengembalikan kepercayaan investor pada pasar modal, teori ini mengabaikan riset yang
mengindikasikan manager suatu entitas secara intensif mengoreksi persepsi kegagalan pasar
tentang aktivitas bisnisnya. Koreksi ini dilakukan dengan merelease secara sukarela dalam
mengungkapkan informasi untuk melindungi pengguna informasi keuangan.

2. Penerapan Capture Theory


Pada dasarnya, profesi akuntansi perlu untuk melegitimasi standar akuntansi (memastikan
kepatuhan dengan standar) yang bisa dicapai jika didukung oleh Undang-Undang. Profesi
akuntansi memiliki kepentingan ekonomi dalam mempertahankan proses pengaturan standar, yang
tidak ingin melepaskannya ke pemerintah. Satu-satunya cara adalah dengan menangkap (capture)
Accounting Standards Review Board (ASRB), badan yang memiliki kekuatan untuk membuat
standar akuntansi wajib untuk entitas perusahaan. Dengan demikian, profesi akuntansi sebagai
kelompok elit tidak bertanggung jawab untuk kepentingan umum yang mana lebih ingin
mengontrol proses pengaturan standar untuk kepentingan sendiri.

Pemain besar di Australia seperti ASX sangat mendukung adanya adopsi standar internasional
karena memiliki fokus komersial dan responsif terhadap kebutuhan bisnis serta manfaat lainnya
mengalir dari penggunaan standar internasional ini. Sedangkan pihak-pihak lainnya hanya tunduk,
karena ASX dan perusahaan besar lainnya yang berperan besar dalam mempengaruhi akuntansi
Australia dari masa lalu.

3. Application of private interest theory


Fungsi dan organisasi dewan menunjukkan bahwa dewan tergantung dan rentan terhadap
pengaruh dari beberapa kelompok berkepentingan. Pengaruh profensi akuntansi hanya
berpengaruh pada persiapan dan reviu standar. Beberapa kelompok seperti dewan menteri akan
diberikan otoritas dasar yang memungkinkan untuk meneliti dan mempengaruhi dewan standar.
Dengan ini gagasan dari dewan harus sesuai dan tunduk pada persetujuan politik.

Dewan juga bergantung pada komisi sekuritas (NCSC) dan perusahaan nasional dalam
menegakkan standar. Eksekutif suatu perusahaan perlu dilibatkan dalam hal ini karena mereka
yang harus patuh pada standar akuntansi sehingga dapat mengamankan kepentingan dari kelompok
pihak yang diatur. Dengan kata lain, profesi akuntansi tidak meng-capture proses penetapan
standar, tetapi lebih ke sekelompok produser yang memiliki pengaruh politik yang signfikan.

Keterbatasan ini teori ini adalah tidak saling eksklusif, artinya suatu peristiwa dapat dijelaskan
oleh salah satu teori sama baiknya dengan teori yang lain.

Penyusunan Standard sebagai Proses Politik


Penyusunan standard dipandang sebagai proses politik karena berpotensi secara signifikan
menjadi sangat mempengaruhi dari berbagai kelompok berkepentingan. Oleh karena itu berbagai
kelompok kepentingan berusahan mempengaruhi pengenalan peraturan. Atau secara singkatnya
beda kelompok maka akan beda mempengaruhi peraturan akuntansi. Pemerintah di berbagai
Negara membentuk pembuat peraturan yang bekerja secara independent yang berusaha untuk
menghasilkan standard dengan kualitas yang tinggi dimana memenuhi kebutuhan para pengguna
laporan keuangan dalam membuat suatu keputusan.

Beberapa contoh kasus akuntansi yang terkait dengan hal ini (lobby secara politik) diantaranya
adalah pengadopsian IAS 39 Financial Instrument-recognition and measurement melalui proses
yang politis dan IAS 38 Intangible Asset.

C. Kerangka Peraturan untuk Pelaporan Keuangan


Ada banyak pihak yang terlibat dalam pembuatan laporan keuangan, yaitu pembuat laporan
keuangan sendiri, auditor eksternal dan pembuat peraturan, seperti pemerintah. Aktivitas mereka
dipengaruhi oleh lingkungan laporan keuangan dibuat, baik secara hukum, ekonomi maupun
sosial. Meski kerangka peraturan berbeda-beda di tiap negara, tetap ada elemen yang sama yaitu:

1. Persyaratan Wajib
Partisipan kunci dalam pembuatan laporan keuangan adalah direksi perusahaan dan auditor
independen. Persyaratan wajib berperan sebagai insentif/pendorong untuk menghasilkan laporan
keuangan untuk diaudit. Di berbagai negara, hukum perusahaan menyatakan bahwa direktur harus
menyediakan laporan keuangan yang diaudit. Dengan demikian maka direktur dan auditor harus
memenuhi persyaratan wajib pelaporan seperti yang terkandung dalam hukum perusahaan
(undang-undang).

2. Tata kelola Perusahaan


Tata pengelolaan perusahaan mengacu pada struktur, proses dan lembaga-lembaga dalam dan
di sekitar organisasi yang mengalokasikan kekuasaan dan kontrol sumber daya di antara mereka.
Tetapi sebuah kerangka peraturan dapat berisi tambahan pedoman tata kelola perusahaan dan
peraturan yang timbul dari rekomendasi sukarela sektor swasta dan aturan pencatatan di bursa
saham.

3. Auditor dan Pengawasan


Auditor berperan penting dalam menjamin kualitas informasi yang terkandung dalam laporan
keuangan perusahaan. Auditor adalah orang dengan kualifikasi tertentu, pengalaman dan ijin untuk
berpraktek. Mereka berkomitmen terhadap kode etik mereka, dan harus rela menanggung sanksi
jika melanggar peraturan. Peraturan dikenakan karena profesi auditor harus menyetujui sebuah
aturan umum mereka untuk mempertahankan hak istimewa dan melindungi hak mereka untuk
berpraktek sebagai profesi. Pengawasan diperlukan agar kinerja auditor dapat
dipertanggungjawabkan dengan badan hukum daripada mengijinkan peraturan diri oleh auditor
sendiri.

4. Badan Pelaksana Independen


Badan pelaksana independen adalah bagian dari keseluruhan system untuk pelaksanaan
persyaratan pelaporan keuangan. Badan pelaksana independen berperan untuk meningkatkan
kepatuhan terhadap peraturan yang mengatur pembuatan laporan keuamgan, sebagaimana yang
terkandung dalam hokum dan standar akuntansi. Badan Pelaksana independen merupakan
perpanjangan dari pengajuan pengawasan yang merupakan dasar dari kerangka peraturan. Contoh
dari badan/pihak independen adalah OJK, BI.

D. Struktur kelembagaan untuk menetapkan standar akuntansi dan audit


1. Background
Perkembangan standar akuntansi internasional mulai dibentuk tahun 1973 dengan nama
International Accounting Standards Committee (IASC) yang bertujuan untuk mengembangkan
standar akuntansi yang bisa digunakan di seluruh dunia. Pada akhir tahu 1980, IASC memulai
proyek pengembangan dengan meningkatkan kualitas IAS dengan menghapus banyak perlakuan
opsional. IOSCO, badan yang mewakili regulator sekuritas di seluruh dunia, mencari standar yang
anggotanya bisa menggunakan cross-border listings. Pada revisi standar, negara-negara anggota
bisa menambah persyaratan lebih lanjut. Pada tahun 2001 IASC menjadi IASB dikarenakan dewan
penetapan standar tidak independen. Pada tahun 2002, keputusan Euroepean Commission (EC)
akan menadopsi stadar IASB pada tahun 2005.
2. The IASB and FASB convergence program
Standar akuntansi dunia didominisi oleh dua dewan yaitu FASB dan IASB. Adanya pemikiran
untuk melakukan konvergensi antara FASB dan IASB. Namun, konvergensi adalah proses yang
rumit karena kedua dewan tersebut harus mengidentifikasi perbedaan antara standar masing-
masing, reviu solusi yang ada, dan mengadopsi perlakuan yang terbaik. Selain hal tersebut, US
GAAP dideskripsikan sebagai rule-based standards, sementara IAS lebih ke principles-based.

3. Accounting standard for the public sector


Seperti sektor swasta, perbedaan standar juga belaku pada sektor publik, mengingat entitas
sektor publik memilik tujuan dan stakeholder yang berbeda dibandingkan entitas sektor swasta.
Tiap-tiap negara harus memutuskan sejauh mana mereka akan menggunakan standar IASB untuk
sektor publik. Di Australia dan Selandia Baru, pendekatan yang dipakai adalah satu standar baik
untuk sektor swasta dan publik.

4. International auditing standards


Audit ada karena adanya permintaan untuk memenuhi kebutuhan pengguna lapkeu dan pihak
kontraktor dan undang-undang mewajibkan audit dikodifikasikan menjadi the best existing
practice.. Teori tentang proses audit dan tugas audit semakin melembaga dengan munculnya
standar audit yang pertama kali dikeluarkan di AS oleh American Institute of Accountants tahun
1939. Kemudian standar audit diterbitkan oleh profesi auditor. AICPA memulai sistem peer review
tahun 1960 dan bersifat suka rela sampai dengan tahun 1989. Sarbanes-Oaxley Act (2002)
memunculkan lembaga yang mengatur regulasi bagi para auditor yaitu the Public Company
Accounting and Oversight Board (PCAOB). Fokus lembaga regulasi hanya menulis ulang
sehingga dapat dimasukkan ke dalam peraturan atau hanya didukung oleh peraturan. Di Australia,
Auditing and Assurance Standards Board (AUASB) menulis ulang standar profesional dan
diarahkan oleh International Standards on Auditing (ISA) sebagai dasar untuk mengembangkan
standar baru dengan beberapa amandemen yang diperlukan.