Anda di halaman 1dari 16

ASPEK MEDIKOLEGAL PADA TERMINASI KEHAMILAN

I. PENDAHULUAN

Terminasi kehamilan adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin telah


tumbuh cukup untuk hidup di luar rahim. Terminasi kehamilan sebagian besar
dilakukan dalam 12 minggu pertama kehamilan. Tapi bisa dilakukan dalam 20
minggu pertama. Melakukan terminasi kehamilan lebih awal adalah lebih aman.(1)
Abortus atau aborsi merupakan sinonim dari terminasi kehamilan dimana istilah
ini merupakan istilah yang digunakan secara umum.(2)

Abortus merupakan suatu masalah kontroversi yang sudah ada sejak


sejarah di tulis orang. Kontroversi karena di satu pihak abortus ada di masyarakat.
Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya jamu dan obat-obat peluntur serta dukun
pijat untuk mereka yang terlambat bulan. Di pihak lain abortus tidak dibenarkan
oleh agama. Bahkan dicaci, dimaki dan dikutuk sebagai perbuatan tidak bermoral.
Pembicaraan tentang abortus dianggap tabu. Sulit ditemukan seorang wanita yang
secara sukarela mengaku bahwa ia pernah diabortus, karena malu.(3)

Di Indonesia, setiap tahun jutaan wanita hamil tidak menginginkan


kehamilannya,meskipun fakta nya aborsi yang dilakukannya umumnya ilegal.
Berdasarkan hukum aborsi di Indonesia yang disahkan pada tahun 1992 dimana
aborsi dapat dilakukan jika wanita diberikan konfirmasi oleh dokter bahwa
kehamilannya mengancam hidupnya,disertai surat persetujuan dari suami atau
anggota keluarga dan pernyataan bahwa wanita tersebut akan menggunakan
kontrasepsi sesudah dilakukan aborsi atau terminasi kehamilan.(4)

Hukum tentang aborsi sendiri sampai saat ini masih menjadi perdebatan di
masyarakat, meskipun Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan fatwa haram
untuk aborsi kecuali pada kondisi-kondisi tertentu dan sudah adanya peraturan
yang melarang tindakan aborsi tersebut. Sumpah dokter menyatakan bahwa dokter
akan menghargai hidup insani sejak mulai awal pembentukan, tetapi sikap
kalangan profesi dokter terhadap aborsi juga belum seragam. Dalam konteks

1
hukum pidana, terjadi konflik antara peraturan perundang-undangan yang lama
(KUHP) dengan peraturan perundang-undangan yang baru (Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). Padahal peraturan
perundang-undangan tersebut mengatur hal yang sama. Terdapat dua perbedaan
yang sangat tajam antara kedua aturan tersebut, pertama KUHP mengenal
larangan aborsi tanpa kecuali, tetapi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
23 Tahun 1992 tentang Kesehatan justru memperbolehkan terjadi aborsi dengan
alasan medis. Kedua, pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan mengenai ketentuan pidana yang diancamkan terhadap
pelaku tindak pidana aborsi yang tidak memenuhi indikasi medis sebagaimana
yang diatur dalam undang-undang kesehatan tersebut jauh lebih berat daripada
ancaman pidana terhadap perbuatan yang sama dalam KUHP.(5)

II. EPIDEMIOLOGI
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan 4,2 juta abortus
dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara, dengan perincian : (3)
1. 1,3 juta dilakukan di Vietnam dan Singapura
2. Antara 750.000 sampai 1,5 juta di Indonesia
3. Antara 155.000 sampai 750.000 di Filipina
4. Antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand

Tidak dikemukakan perkiraan tentang abortus di Kamboja, Laos dan


Myanmar. Hasil survei yang diselenggarakan oleh suatu lembaga penelitian di
New York yang dimuat dalam International Family Planning Perspectives, Juni
1997, memberikan gambaran lebih lanjut tentang abortus di Asia Selatan dan Asia
Tenggara, termasuk Indonesia. Abortus di Indonesia dilakukan Baik di daerah
perkotaan maupun pedesaan. Dan dilakukan tidak hanya oleh mereka yang
mampu tapi juga oleh mereka yang kurang mampu ( lihat Tabel 1.).(3)

2
Penelitian Faisal dan Ahmad (1997) menemukan bahwa walaupun aborsi
dilarang oleh hukum, praktek aborsi di Indonesia, baik oleh dokter, bidan,
maupun dukun tergolong tinggi, dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Sampai tahun 1997 diperkirakan dalam setahun di In donesia terjadi 750.000 –
1.000.000 aborsi yang disengaja atau dengan resiko 16,7 – 22,2 aborsi per
kelahiran hidup.(6)

Namun menurut Darwin (2000), sejak tahun 2000 diperkirakan terjadi


sebanyak 2 juta kasus aborsi setahun. Peningkatan ini terasa aneh karena KUHP
melarang aborsi tanpa pengecualian, sementara UU no.23 tahun 1992 tentang
kesehatan (UUK) melarang dilakukannya aborsi kecuali ada indikasi medis dan
dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan jiwa ibu. (6)

Perkiraan bahwa sejak tahun 2000 terjadi 2 juta kasus aborsi di Indonesia
dipertegas oleh hasil penelitian yang dilakukan tahun 2000 (Utomo dkk, 2001) di
10 kota besar (jakarta, Bandung, semarang, Surabaya, Yogyakarta, Medan,
Banjarmasin, Denpasar, Manado, dan Makassar) dan 6 kabupaten (Sukabumi,
Jepara, lampung, Tana Toraja, Lombok Timur, dan Kupang) di Indonesia oleh
Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia bekerjasama dengan Pusat
Kajian Pembangunan Masyarakat Universitas Atma Jaya, Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana, Kelompok Kesehatan Reproduksi Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia, Persatuan Obstetri dan Ginekolog (POGI),
Ikatan Bidan Indonesia, dan Perkumpulan keluarga Berencana Indonesia (PKBI).
Hasil penemuan ini menemukan angka kejadian 2 juta kasus aborsi per tahun,
berarti 37 aborsi per 1000 wanita usia 15-19 tahun, atau 43 aborsi per kelahiran

3
hidup, atau 30% dari kehamilan. Angka ini menunjukkan betapa besar kehamilan
yang tidak diinginkan (KTD).(6)

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kejadian aborsi lebih tinggi
di perkotaan dibanding di pedesaan, dan sebagian besar aborsi merupakan aborsi
sengaja, terutama di kota. Banyak kejadian aborsi merupakan aborsi tak aman.
Data menunjukkan bahwa peran dukun bayi dalam pelayanan aborsi masih besar.,
apalagi di pedesaan. Demikian pula, banyak penyedia layanan lain yang
beroperasi secara sembunyi-sembunyi, yang kemungkinan besar terkait dengan
aborsi tak aman.(6)

III. KLASIFIKASI TERMINASI KEHAMILAN

Aborsi atau dalam bahasa medis disebut abortus/terminasi kehamilan


adalah pengeluaran hasil konsepsi secara prematur dari uterus dimana embrio
tidak dapat tumbuh di luar kandungan. Abortus dibagi menjadi tiga jenis,
yaitu:(7,8)

1. Abortus spontan/alami atau Abortus Spontaneus. Yaitu dapat disebabkan


karena terjadinya kelalaian dari mudigah atau fetus, maupun adanya
penyakit pada ibu.
2. Abortus Buatan/Sengaja atau Abortus Provocatus Criminalis. Yaitu
tindakan abortus yang tidak mempunyai alasan medis yang dapat
dipertanggungjawabkan atau tanpa mempunyai arti medis yang bermakna.
3. Abortus Terapeutik/Medis atau Abortus Provocatus Therapeuticum . yaitu
penghentian kehamilandengan tujuan agar kesehatan si ibu baik agar
nyawanya dapat diselamatkan. Abortus yang dilakukan atas dasar
pengobatan (indikasi medis) biasanya baru dikerjakan bila kehamilan
mengganggu kesehatanatau membahayakan nyawa si ibu , misalnya bila si
ibu menderita kanker atau penyakit lain, yang akan mendatangkan bahaya
maut bila kehamilan tidak dihentikan.

4
IV. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA TINDAK PIDANA ABORTUS
PROVOCATUS

Abortus provocatus berkembang sangat pesat dalam masyarakat Indonesia,


hal ini disebabkan banyaknya factor yang memaksa pelaku dalam masyarakat
untuk melakukan hal tersebut. Pelaku merasa tidak mempunyai pilihan lain yang
lebih baik selain melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan hukum dan moral
yaitu melakukan aborsi. Berikut ini disebutkan beberapa faktor yang mendorong
pelaku dalam melakukan tindakan abortus provocatus menurut Ekotama, yaitu(9):
1. Kehamilan sebagai akibat hubungan kelamin di luar perkawinan.
Pergaulan bebas dikalangan anak muda menyisakan satu problem
yang cukup besar. Angka kehamilan di luar nikah meningakat tajam.
Hal ini disebabkan karena anak muda Indonesia belum begitu
mengenal arti pergaulan bebas yang aman, kesadaran yang amat
rendah tentang kesehatan. Minimnya pengetahuan tentang reproduksi
dan kontrasepsi maupun hilangnya jati diri akibat terlalu berhaluan
bebas seperti negara-negara barat tanpa dasar yang kuat (sekedar tiru-
tiru saja). Hamil di luar nikah jelas merupakan suatu aib bagi wanita
yang bersangkutan, keluarganya maupun masyarakat pada umumnya.
Masyarakat tidak menghendaki kehadiran anak haram seperti itu di
dunia. Akibat adanya tekanan psikis yang diderita wanita hamil
maupun keluarganya, membuat mereka mengambil jalan pintas untuk
menghilangkan sumber/penyebab aib tadi, yakni dengan cara
menggugurkan kandungan.
2. Alasan-alasan sosio ekonomis.
Kondisi masyarakat yang miskin (jasmani maupun rohani) biasanya
menimbulkan permasalahan yang cukup kompleks. Karena terhimpit
kemiskinan itulah mereka tidak sempat memperhatikan hal-hal lain
dalam kehidupan mereka yang bersifat sekunder, kecuali kebutuhan
utamanya mencari nafkah. Banyak pasangan usia subur miskin kurang
memperhatikan masalah-masalah reproduksi. Mereka tidak menyadari

5
kalau usia subur juga menimbulkan problem lain tanpa alat-alat bukti
kontrasepsi. Kehamilan yang terjadi kemudian tidak diinginkan oleh
pasangan yang bersangkutan dan diusahakan untuk digugurkan
dengan alasan mereka sudah tidak mampu lagi membiayai seandainya
anggota mereka bertambah banyak.
3. Alasan anak sudah cukup banyak.
Alasan ini sebenarnya berkaitan juga dengan sosio-ekonomi di atas.
Terlalu banyak anak sering kali memusingkan orang tua. Apalagi jika
kondisi ekonomi keluarga mereka pas pasan. Ada kalanya jika
terlanjur hamil mereka sepakat untuk menggugurkan kandungannya
dengan alasan sudah tidak mampu mengurusi anak yang sedemikian
banyaknya. Dari pada si anak yang akan dilahirkan nanti terlantar dan
hanya menyusahkan keluarga maupun orang lain, lebih baik
digugurkan saja.
4. Alasan belum mampu punya anak.
Banyak pasangan-pasangan muda yang tergesa-gesa menikah tanpa
persiapan terlebih dahulu. Akibatnya, hidup mereka pas-pasan, hidip
menumpang mertua, dsb. Padahal salah satu konsekuensi dari
perkawinan adalah lahirnya anak. Lahirnya anak tentu saja akan
memperberat tanggung jawab orang tua yang masih kerepotan
mengurusinya hidupnya sendiri. Oleh karena itu, mereka biasanya
mengadakan kesepakatan untuk tidak mempunyai anak terlebih
dahulu dalam jangka waktu tertentu. Jika terlanjur hamil dan betul-
betul tidak ada persiapan untuk menyambut kelahiran sang anak,
mereka dapat menempuh jalan pintas dengan cara menggugurkan
kandungannya. Harapannya, dengan hilangnya embrio/janin tersebut,
dimasa-masa mendatang mereka tak akan terbebani oleh kehadiran
anak yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk
merawatnya sampai besar dan menjadi orang.

6
5. Kehamilan akibat perkosaan.
Perkosaan adalah pemaksaan hubungan kelamin (persetubuhan)
seorang pria kepada seorang wanita. Konsekuensi logis dari adanya
perkosaan adalah terjadinya kehamilan. Kehamilan pada korban ini
oleh seorang wanita korban perkosaan yang bersangkutan maupun
keluarganya jelas tidak diinginkan. Pada kasus seperti ini, selain
trauma pada perkosaan itu sendiri, korban perkosaan juga mengalami
trauma terhadap kehamilan yang tidak diinginkan.hal inilah yang m
menyebabkan si korban menolak keberadaan janin yang tumbuh di
rahimnya. Janin dianggap sebagai objek mati, yang pantas dibuang
karena membawa sial saja. Janin tidak diangap sebagai bakal manusia
yang mempunyai hak-hak hidup. (Ekotama, 2001).

V. TERMINASI KEHAMILAN DIPANDANG DARI PERSPEKTIF HAM

Ditinjau dari perspektif HAM, seorang wanita mempunyai hak untuk


memperoleh pelayanan untuk mengakhiri kehamilannya karena merupakan bagian
dari hak kesehatan reproduksi yang sangat mendasar. Terminasi kehamilan
merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dihindari bagi wanita yang tidak
menginginkan kehamilannya karena adanya beberapa alasan seperti kegagalan
akibat penggunaan kontrasepsi, atau memang sengaja tidak menggunakan
kontrasepsi, kehamilan yang diakibatkan karena kekerasan seksual seperti
pemerkosaan. Hal ini tertuang dalam UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
pasal 72 dan 73.(10)

Di Indonesia, aborsi merupakan salah satu isu yang menarik untuk diteliti
karena meskipun oleh hukum dilarang, tetapi aborsi tetap dilakukan. Kondisi ini
diperparah setelah International Conference on Population and Developmnet
(ICPD) Kairo 1994 dan Fourth World Conference and Women(FWCW) Beijing
tahun 1995. ICPD secara tegas mengakui hak reproduksi perempuan dalam arti
perempuan mempunyai hak untuk mengontrol dirinya sendiri, termasuk berhak

7
menghentikan atau melanjutkan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD).
Sedangkan FWCW pada prinsipnya menerima konsep-konsep kesehatan
reproduksi dan kesehatan seksual serta hak-hak reproduksi, namun melangkah
lebih jauh lagi dengan mendiskusikan hak-hak seksual. Bahkan di dalam salah
satu butir program aksi FWCW direkomendasikan untuk dilakukan peninjauan
kembali terhadap status hukum aborsi dan penghapusan ancaman pidana terhadap
perempuan yang melakukan aborsi legal.(6)

VI. TERMINASI KEHAMILAN DIPANDANG DARI SEGI ETIK


KEDOKTERAN

Bunyi lafal sumpah dokter : “Saya akan menghormati setiap hidup insane
mulai dari pembuahan”. Pasal 10 KODEKI : Dokter wajib mengingat akan
kewajibannya melindungi hidup tiap insani. Kewajiban umum pasal 7 d Undang-
Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran berbunyi : ”Setiap dokter
harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani”, artinya
segala perbuatan dokter terhadap pasien bertujuan untuk memelihara kesehatan
dan kebahagian, dengan sendirinya dia harus mempertahankan dan memelihara
kehidupan manusia, ini berarti bahwa dari segi etik kedokteran, seorang dokter
tidak dibolehkan untuk menggugurkan kandungan ( Abortus Provokatus ).
Abortus provokatus/pengguguran kandungan dapat dibenarkan sebagai
pengobatan apabila satu-satunya jalan menolong jiwa ibu dari bahaya maut,
ataupun korban pemerkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis. Hal ini
diperjelas oleh Undang-undang RI No. 36 Tahun 2009, tentang kesehatan. (10)
Keputusan untuk melakukan abortus provocatus therapeuticus harus dibuat
oleh sekurang-kurangnya dua dokter dengan persetujuan tertulis dari wanita hamil
yang bersangkutan, suaminya dan atau keluarganya yang terdekat. Hendaknya
dilakukan dalam suatu rumah sakit yang mempunyai cukup sarana untuk
melakukannya.(11)

8
Pedoman etik POGI, Tahun 2003 BAB X : sikap dokter spesialis obstetric
dan ginekologi terhadap aborsi.(10)

Pasal 32
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi hendaknya menyikapi dengan arif agar tidak
terjebak dalam pertentangan tajam antara aliran Pro-life yang secara ekstrim menolak
aborsi dan aliran Pro-choise yang menghormati hak perempuan untuk secara bebas
menentukan apakah akan meneruskan atau menghentikan kehamilannya dengan cara
aborsi.

Pasal 33
Aborsi atas indikasi medis ( theurapeutic abortion) dapat dilakukan oleh spesialis
obstetri dan ginekologi setelah melaui proses Informed Consent dan diputuskan oleh
dua orang yang kompeten dalam bidangnya.

Pasal 34
Aborsi atas indikasi nonmedis dapat dilakukan pada kasus-kasus tertentu secara selektif
setelah melalui konseling yang aman dan dapat di pertanggungjawabkan.

Pasal 35
Sebagai kontrol apakah keputusan aborsi aman dibenarkan secara etis apabila keputusan
itu dibuat dengan berat hati karena tidak ada jalan lain yang lebihbaik, bukan karena
pertimbangan komersial dan hanya pada kehamilan sebelum 12 minggu.

VII. TERMINASI KEHAMILAN DITINJAU DARI ASPEK


MEDIKOLEGAL
Abortus buatan, jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke
dalam dua golongan yakni(12):
1. Abortus buatan legal
Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-
cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Populer juga disebut dengan abortus

9
provocatus therapcutius, karena alasan yang sangat mendasar untuk
melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa/menyembuhkan si ibu.

2. Abortus buatan ilegal


Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain dari pada untuk
menyelamatkan/ menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak
kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh
undang-undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus
provocatus criminalis, karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau
kejahatan.

Ketentuan hukum tentang aborsi di dalam hukum pidana positif Indonesia


diatur di dalam KUHP dan Undang-undang Kesehatan. Menurut Supriyadi
(2002), KUHP tidak membolehkan dengan alasan apa pun juga dan oleh siapapun
juga. Ketentuan ini sejak diundangkannya di zaman pemerintahan Hindia Belanda
sampai dengan sekarang ini tidak pernah berubah, dan ketentuan ini berlaku
umum bagi siapa pun yang melakukan, bahkan bagi dokter yang melakukan
dikenakan pidana. Namun berdasarkan undang-undang kesehatan, berdasarkan
indikasi medis dalam keadaan darurat dan untuk menyelamatkan ibu, maka tenaga
kesehatan tertentu yang mempunyai kewenangan bertindak, dapat melakukan
aborsi.(12)

Aturan aborsi di Indonesia yang berlaku saat ini yaitu: Undang-undang


RI No. 36 Tahun 2009, tentang kesehatan. (13)

Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik
yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetic

10
berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga
menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis
bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah
melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan
konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan
berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama
haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang
memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
Menteri.

Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman,
dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Pasal 77
Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa

11
persetujuan perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
yang tidak profesional, tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan yang
berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan materi dari pada
indikasi medis.

Pasal 194
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Aborsi dalam KUHP (10)


Pasal 229
(1)Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang perempuan atau
mengerjakan sesuatu perbuatan terhadap seorang perempuan dengan memberitahukan atau
menimbulkan pengharapan,bahwa oleh karena itu dapat gugur kandungannya, dihukum penjara
selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya empat puluh lima ribu rupiah.
(2)Kalau sitersalah mengerjakan itu karena mengharapkan keuntungan, dari
pekerjaanya atau kebiasaannya dalam melakukan kejahatan itu, atau kalau ia seorang tabib,
dukun beranak (bidan), atau tukang membuat obat, hukuman itu, dapat ditambah dengan
sepertiganya.
(3) Kalau sitersalah melakukan kejahatan itu dalam jabatannya, dapat ia dipecat dari
pekerjaannya itu.

Pasal 346
Perempuan yang dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya atau menyuruh
orang lain untuk itu, dihukum penjara selama-lamanya empat tahun.

12
Pasal 347
(1)Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungan
seorang wanita tidak dengan izin wanita itu, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya
dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu berakibat wanita itu mati, ia dipidana dengan pidana penjara selama-
lamanya lima belas tahun.

Pasal 348
(1)Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungan seorang wanita
dengan izin wanita itu, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu berakibat wanita itu mati, ia dipidana dengan pidana penjara selama-
lamanya tujuh tahun.

Pasal 349
Jika seorang dokter, bidan, atau juru obat membantukejahatan tersebut dalam pasal 346, atau
bersalah melakukan, atau membantu salah satu kejahatan diterangkan pasal 347 dan 348, maka
pidana yangditentukan dalam pasal itu dapat ditambah sepertiganya dan dapat dicabut haknya
melakukan pekerjaannya yang dipergunakan untuk menjalankan kejahatan itu.

Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan


bahwa(14):
1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh
orang lain, diancam hukuman empat tahun penjara.
2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan
tanpa persetujuan ibu hamil tersebut, diancam hukuman penjara 12 tahun,
dan jika ibu hamil tersebut mati, diancam 15 tahun penjara.
3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun
penjara dan bila ibu hamilnya mati diancam hukuman 7 tahun penjara.
4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut
seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman

13
hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk berpraktek dapat
dicabut.(12)

Jika menelaah pasal-pasal tersebut di atas, tampaklah KUHP tidak


membolehkan terjadinya suatu aborsi di Indonesia. KUHP tidak melegalkan
aborsi tanpa kecuali, yaitu terhadap aborsi yang dilakukan berdasarkan alasan atau
pertimbangan medis (abortus provocatus medicinalis) atau aborsi yang dilakukan
dengan sengaja dengan melanggar berbagai ketentuan hukum yang berlaku
(abortus provocatus criminalis) pun dilarang. Kalau dicermati ketentuan dalam
KUHP tersebut dilandisi suatu pemikiran atau paradigma bahwa anak yang masih
dalam kandungan merupakan subyek hukum sehingga berhak untuk mendapatkan
perlindungan hukum. (5)
Hal ini jelas, bahwa Indonesia mengikuti perundang-undangan aborsi
tersebut (Pasal 299, 346-349 KUHP) tersebut, yang menurut perundang-undangan
tidak memperkenankan aborsi dan yang karenanya dapat dikatakan bersifat
"ilegal". Selaku demikian, seolah-olah ia tidak memberikan kemungkinan bagi
suatu pengecualian, dalam sistem perundang-undangan Indonesia tidak
memperkenankan melakukan aborsi, juga yang berdasarkan atas pertimbangan
medis dan yang disebut dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia. (5)

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Permanente K. Regional Health Education: Termination of Pregnancy.


California : The Permanente Medical Group: 2005. P. 1.

2. Willacy, H. Termination of Pregnancy. [online] 2010 March 22 [cited


2012 August 13]. Available from : URL: http://www.patient.co.uk/

3. Azhari. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Bagian


Obstetri & Ginekologi FK Unsri/ RSMH . Palembang. 2002. hal 1-2

4. Sedgh G., Ball, H. Abortion in Indonesia. New york : Guttmacher


Institute. In Brief. 2008 (2) : 1.

5. Hardianto J. Tinjauan Terhadap Konstruksi Hukum Dakwaan Dalam


Penuntutan Perkara Aborsi Dan Implikasi Yuridis Terhadap Penjatuhan
Sanksi Pidana (Studi Kasus Perkara Nomor : 42/pid.b/2010/pn.klt).
[Skripsi] Surakarta: Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. 2010. hal
5-6

6. Soge, P. Pengaruh Perkembangan Kehidupan Masyarakat Terhadap


Pengaturan Hukum Tentang Aborsi di Indonesia. [Disertasi] Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada, 2008. hal 1-3

7. Budiyanto, A. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Fakultas Kedokteran


UI. 1997. Hal 159-64.

8. Idris AM. Abortus dan Pembunuhan Anak. Dalam: Idris AM,


Tjiptomartono AL, editors. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan. Edisi Revisi. Jakarta: CV. Sagung Seto; 2011. hal 168-
70

15
9. Nainggolan, LH. Aspek Hukum Abortus Provocatus dalam Perundang-
undangan Indonesia. Medan: Universitas Sumatera Utara. Jurnal Equalis:
2006 (8) hal 94-102

10. Hanafiah MJ. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta:


EGC.1999

11. Ikatan Dokter Indonesia. Kode Etik kedokteran Indonesia dan Pedoman
Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia. Jakarta. 2002

12. Syafruddin. Abortus Provokatus dan Hukum. Medan: Fakultas Hukum


Universitas Sumatra Utara. 2010. hal 1-6

13. Kemenkes RI. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun


2009 Tentang Kesehatan. Jakarta. 2009

16