Anda di halaman 1dari 14

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK PKMRS

FAKULTAS KEDOKTERAN Februari 2010


UNIVERSITAS HASANUDDIN

ALERGI

Oleh :
Riskiyana Hamid
1102050033

Pembimbing :
dr. Dianti Maya

Supervisor :
dr. Hj. Nuraeni, Sp.A
dr. A. Tenri Sanna, Sp.A

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2010
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN 1
II. DEFINISI 2
III. EPIDEMIOLOG 2
IV. PREVALENSI 3
V. ETIOLOGI 3
VI. GAMBARAN KLINIK 5
VII. KRITERIA DIAGNOSTIK 5
VIII. DIAGNOSIS BANDING 7
IX. TERAPI 8
X. PROGNOSIS\ 8
XI. KESIMPULAN 9
DAFTAR PUSTAKA 10
LAMPIRAN REFERENSI 11
Efek Samping Obat Antidepresi

I. Pendahuluan
Depresi adalah gangguan di mana keadaan murung setelah 2-3
minggu masih juga bertahan atau bahkan memburuk.
Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) :
 Afek depresif
 Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
 Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas.
Gejala lainnya :
 Konsentrasi dan perhatian berkurang;
 Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
 Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;
 Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
 Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
 Tidur terganggu;
 Nafsu makan berkurang.
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih
pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
Teori monoamin menyatakan bahwa depresi diakibatkan oleh terganggunya
keseimbangan antara neurotransmitter didalam otak. Khsusunya akibat terutama
kekurangan serotonin (dan atau noradrenalin) di saraf-saraf otak.
Obat antidepresiva atau obat antimurung adalah obat yang mampu
memperbaiki suasana jiwa (“mood”) dengan menghilangkan atau meringankan gejala
keadaan murung.
Obat-obat antidepresi dibagi menjadi empat golongan yaitu obat antidepresi
trisiklik, tetrasiklik, Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI), dan Monoamin
Oxydase Inhibitor (MAOI).
Adapun efek samping dari obat-obat antidepresi ini dapat berupa:
 Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor
menurun, kemampuan kognitif menurun)
 Efek antikolinergik (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi,
sinus takikardia)
 Efek anti-adrenergik alfa (perubahan EKG, hipotensi)
 Efek neurotoksis (tremor halus, gelisah, agitasi, insomnia)

Untuk mengatasi keadaan tersebut dapat dilakukan:


 Mulut kering dapat diatasi dengan meminta pasien mengunyah permen karet
tanpa gula atau permen tanpa gula, memakai larutan pilocarpine 1 persen,
suatu agonis kolinergik, sebagai larutan pencuci mulut tiga kali sehari, tablet
bethanechol, suatu agonis kolinergik lainnya, 10 sampai 30 mg, sekali atau
dua kali sehari.
 Pandangan kabur dapat diatasi dengan tetes mata kolinimimetik, suatu larutan
pilocarpine 1 persen sebagai obat tetes mata.
 Retensi urin dapat diatasi dengan bethanechol
 Konstipasi dapat diatasi dengan laksatif pembentuk massa
 Hipotensi ortostatik dapat diatasi dengan memilihkan obat dengan aktivitas
adrenergik-α1 yang rendah. Atau memberikan instruksi kepada pasien untuk
bangkit perlahan-lahan dan duduk segera jika mengalami rasa pusing.
 Monitoring EKG untuk deteksi kelainan jantung.
II. Penggolongan obat-obat antidepresi
a. Antidepresan trisiklik (Tricyclic Antidepressants; TCA):
Antidepresan trisiklik disebut demikian karena memiliki karakteristik
nukleus dengan tiga-cincin. Yang termasuk golongan ini antara lain
amitriptyline, imipramine, clomipramine, tianeptine, opipramol.
b. Tetrasiklik; obat-obat generasi kedua dan ketiga:
Yang termasuk golongan ini antara lain maprotiline, mianserin, amoxapine
c. Inhibitor ambilan kembali serotonin selektif (Selective Serotonin
Reuptake Inhibitor, SSRI):
Yang termasuk golongan ini antara lain sertraline, paroxetine,
fluvoxamine, fluoxetine, citalopram.
d. Inhibitor oksidase monoamine (Monoamine Oxydase [MAO] Inhibitor)
Yang termasuk golongan ini antara lain maclobemide, tranylcypromine.

III. Kerja farmakologis


Farmakokinetik
a. Trisiklik dan tetrasiklik:
Absorpsi dari pemberian sebagian besar obat trisiklik dan tetrasiklik
adalah tidak lengkap, dan terdapat metabolisme bermakna dari efek lintas
pertama. Trisiklik dimetabolisme melalui dua jalur utama: transformasi
nukleus trisiklik dan perubahan rantai cabang alifatik. Jalur pertama
melibatkan hidroksilasi dan konjugasi cincin untuk membentuk
glucuronide; jalur kedua, terutama dimetilasi nitrogen. Imipramine
pamoate adalah suatu obat dalam bentuk depot yang digunakan untuk
pemberian intramuskular (IM); indikasi untuk pemakaian preparat tersebut
adalah terbatas. Ikatan protein biasanya lebih dari 75 persen, kelarutan
dalam lemak adalah tinggi, dan volume distribusi terentang dari 10 sampai
30 L per kg untuk amin tersier sampai 20 sampai 60 L per kg untuk amin
sekunder yang bersangkutan. Waktu paruh obat trisiklik dan tetrasiklik
adalah bervariasi dari 10 sampai 70 jam, tetapi nortriptyline, maprotiline,
dan terutama protriptyline dapat memiliki waktu paruh yang lebih
panjang. Waktu paruh yang panjang memungkinkan semua senyawa
diberikan sekali sehari; diperlukan waktu lima sampai tujuh hari untuk
mencapai kadar plasma yang stabil.
b. SSRI:
Perbedaan utama antara SSRI yang tersedia terletak terutama pada sifat
farmakokinetiknya, terutama waktu paruhnya. Fluoxetine memiliki waktu
paruh yang terpanjang, dua sampai tiga hari; metabolit aktifnya memiliki
waktu paruh tujuh sampai sembilan hari. Waktu paruh SSRI lain adalah
jauh lebih pendek, kira-kira 20 jam, dan SSRI tersebut tidak memiliki
metabolit aktif yang penting. Semua SSRI diabsorpsi baik setelah
pemberian oral dan memiliki efek puncaknya dalam rentang empat sampai
delapan jam. Semua SSRI dimetabolisme oleh hati. Paroxetine dan
fluoxetine dimetabolisme di hati oleh P450IID6, suatu subtipe enzim yang
spesifik, yang menyatakan bahwa klinisi harus berhati-hati dalam
pemberian bersama obat lain yang juga dimetabolisme oleh P450IID6. Pada
umumnya, makanan tidak memiliki efek yang besar pada absorpsi SSRI;
pada kenyataannya, pemberian SSRI dengan makanan sering menurunkan
insidensi gejala mual dan diare yang sering berhubungan dengan
pemakaian SSRI.
c. MAOI:
MAOI yang sekarang tersedia diabsorpsi cepat jika diberikan peroral.
Tranylcypromine mencapai konsentrasi plasma puncak dalam kira-kira
dua jam dan memiliki waktu paruh dua sampai tiga jam. Tidak seperti
MAOI hydrazine, konsentrasi plasma tranylcypromine adalah disertai
dengan efek hipotensinya. Dengan demikian, klinisi dapat memberikan
tranylcypromine dalam sejumlah dosis kecil harian untuk menurunkan
efek hipotensif. Pendekatan pemberian tersebut tidak menurunkan efek
hipotensif dari MAOI hydrazine.
Farmakodinamik
a. Trisiklik dan tetrasiklik:
Efek jangka pendek obat trisiklik dan tetrasiklik adalah untuk menurunkan
ambilan kembali norepinefrin dan serotonin dan menghambat reseptor
asetilkolin muskarinik dan histamin. Trisiklik dan tetrasiklik adalah
bervariasi dalam hal efek farmakodinamiknya. Amoxapine, nortriptyline,
desipramine, dan maprotiline memiliki aktivitas antikolinergik yang
paling kecil; doxepine memiliki aktivitas antihistaminergik yang paling
besar; clomipramine adalah trisiklik dan tetrasiklik yang paling selektif
serotonin dan seringkali dimasukkan dengan inhibitor ambilan kembali
spesifik serotonin (SSRI) seperti fluoxetine (Prozac).
Pemberian jangka panjang obat risiklik dan tetrasiklik menyebabkan
penurunan jumlah reseptor adrenergik-β dan, kemungkinan, penurunan
yang serupaa dalam jumlah reseptor serotonin tipe 2 (5-HT2).
b. SSRI:
SSRI memiliki dua ciri yang sama: Pertama, mereka memiliki aktivitas
spesifik dalam hal inhibisi ambilan kembali serotonin tanpa efek pada
ambilan kembali norepinefrin dan dopamin. Kedua, SSRI pada intinya
tidak memiliki sama sekali aktivitas agonis dan antagonis pada tiap
reseptor neurotransmiter. Tidak adanya aktivitas pada reseptor
antikolinergik, antihistaminergik, dan anti-adrenergik-α1 adalah dasar
farmakologis untuk rendahnya insidensi efek samping yang terlihat pada
pemberian SSRI.
c. MAOI:
Monoamin oksidase (MAO) adalah enzim yang terdistribusi luas dalam
tubuh dan berlokasi terutama intraselular, dimana enzim biasanya
berikatan dengan sisi luar membran mitokondrium. Konsentrasi MAO
paling tinggi adalah di hati, saluran gastrointestinal, sistem saraf pusat,
dan sistem saraf simpatik. MAOA dalam saluran gastrointestinal adalah
bertanggung jawab untuk metabolisme tyramine diet; jika MAOA
diinhibisi oleh MAOI, tyramine makanan dapat memasuki sirkulasi secara
langsung dalam bentuk tidak termetabolisme dan selanjutnya dapat
bertindak sebagai presor, yang menyebabkan suatu krisis hipertensif.
MAO memiliki dua jenis. MAO A relatif lebih spesifik untuk metabolisme
norepinefrin dan serotonin; MAOB relatif spesifik untuk metabolisme
phenylethylamine; baik MAOA maupun MAOB terlibat dalam
metabolisme dopamin. Jika digunakan MAOI ireversibel untuk mengobati
pasien, diperlukan waktu sekurangnya dua minggu setelah dosis obat
terakhir sebelum pasien dapat dengan aman memakan makanan yang
mengandung tyramine, karena tubuh memerlukan kira-kira dua minggu
untuk mensintesis ulang MAO yang telah diinhibisi secara ireversibel dan
dihancurkan oleh MAOI yang ireversibel.

IV. Efek samping obat antidepresi


Efek samping obat antidepresi dapat berupa:
Trisiklik
Sedasi Rasa mengantuk, efek aditif dengan sedatif
lain
Simpatomimetik Gemetar, insomnia
Antimuskarinik Penglihatan kabur, konstipasi, susah buang
air kecil, kebingungan
Kardiovaskular Hipotensi ortostatik, defek konduksi, aritmia
Psikiatris Psikosis semakin memburuk, sindroma
menarik diri
Neurologis Seizure
Metabolik-endokrin Berat badan meningkat, gangguan seksual

MAOI Gangguan tidur, berat badan meningkat,


hipotensi postural, gangguan seksual
(pheneizine)
Amoxapine Sama seperti efek pada trisiklik dengan
tambahan dari efek yang dihubungkan
dengan antipsikosis
Maprotiline Sama seperti pada trisiklik, seizure
tergantung dosis
Mirtazapine Somnolen, selera makan meningkat, berat
badan bertambah, pusing
Trazadone, nefazodone Mengantuk, pusing, insomnia, mual, agitasi
Venlafaxine Mual, somnolen, berkeringat, pusing,
gangguan seksual, hipertensi, kecemasan
Bupropion Pusing, mulut kering, berkeringat, tremor,
psikosis semakin memburuk, berpotensi
terjadi seizure pada dosis tinggi
Fluoxetine dan SRI yang lain Insomnia, tremor, gejala gastrointestinal,
ruam, penurunan libido, disfungsi seksual,
kecemasan (secara akut)

a. Trisiklik dan tetrasiklik


Efek psikiatrik: suatu efek merugikan yang utama dari obat trisiklik dan
tetrasiklik dan antidepresan lainnya adalah kemungkinan menginduksi episode
manik pada pasien gangguan bipolar I dan pada pasien tanpa riwayat gangguan
bipolar I. Adalah penting untuk menggunakan dosis rendah obat risiklik dan
tetrasiklk pada pasien tersebut atau menggunakan obat seperti fluoxetine (Prozac)
atau berupa bupropion (Willbutrin), yang lebih kecil kemungkinannya
menyebabkan episode manik.
Efek neurologis: dua trisiklik, desipramine dan protriptyline, dikaitkan dengan
stimulasi psikomotor. Kedutan mioklonik dan tremor lidah dan anggota gerak atas
adalah sering terjadi. Amoxapine adalah unik dalam hal menyebabkan gejala
parkinsonisme, akathisia, dan malahan diskinesia karena aktivitas penghambatan
dopaminergik yang dimiliki oleh salah satu metabolitnya. Amoxapine juga dapat
menyebabkan sindroma neuroleptik malignan pada kasus yang jarang.
Maprotiline dapat menyebabkan kejang jika dosis ditingkatkan terlalu cepat atau
dipertahankan pada kadar yang tinggi untuk jangka waktu yang lama.
Clomipramine dan amoxapine dapat menurunkan ambang kejang lebih dari obat
lain dalam kelasnya. Tetapi, sebagai satu kelas, obat trisiklik dan tetrasiklik
memiliki risiko relatif rendah untuk menimbulkan kejang, kecuali pada pasien
yang memiliki risiko untuk kejang (sebagai contohnya, pasien epileptik dan
pasien dengan lesi otak). Dosis awal harus lebih rendah dari biasanya, dan
peningkatan dosis selanjutnya harus bertahap.
Efek antikolinergik: dapat berupa mulut kering, konstipasi, pandangan kabur,
dan retensi urin. Glaukoma sudut sempit juga dapat diperberat oleh obat
antikolinergik, dan pencetusan glaukoma memerlukan terapi gawat darurat
dengan obat miotik. Obat trisiklik dan tetrasiklik dapat digunakan pada pasien
dengan glaukoma, asalkan tetes mata pilocarpine diberikan bersama-sama. Efek
antikolinergik yang berat dapat menyebabkan sindroma antikolinergik sistem
saraf pusat dengan konfusi dan delirium, khususnya jika obat trisiklik dan
tetrasiklik diberikan dengan obat antipsikotik atau antikolinergik.
Sedasi: merupakan efek yang paling sering ditemukan pada obat trisiklik dan
tetrasiklik dan dapat diperkirakan jika mengantuk telah menjadi masalah. Efek
sedatif dari obat trisiklik dan tetrasiklik adalah akibat dari aktivitas serotonergik,
kolinergik dan histaminergik (H1).
Efek autonomik: diakibatkan penghambatan adrenergik-α1, adalah hipotensi
ortostatik, yang dapat menyebabkan terjatuh dan cedera pada pasien yang terkena.
Nortriptyline mungkin merupakan obat yang paling kecil kemungkinannya
menyebabkan masalah tersebut, dan beberapa pasien berespon terhadap
fluorocotisone (Florinef), 0,02 sampai 0,05 mg dua kali sehari. Efek autonomik
lain yang mungkin terjadi adalah keringat berlebihan, palpitasi, dan peningkatan
tekanan darah.
Efek jantung: jika diberikan dalam dosis terapetik yang lazimnya, obat trisiklik
dan tetrasiklik dapat menyebabkan takikardia, pendataran gelombang T,
perpanjangan interval QT, dan depresi segmen ST dalam pencatatan
elektrokardiografik (EKG). Imipramine memiliki efek mirip quinidine pada kadar
terapetik plasma dan dapat menurunkan jumlah kontraksi prematur ventrikular.
Pada pasien dengan riwayat penyakit jantung, obat trisiklik dan tetrasiklik harus
dimulai dengan dosis kecil, dengan peningkatan dosis secara bertahap dan
memantau fungsi jantung.
Efek merugikan lain: penambahan berat badan terutama suatu efek
penghambatan reseptor histamin tipe 2 (H2), sering terjadi. Impotensi suatu
masalah yang kadang-kadang ditemukan kemungkinan lebih sering berhubungan
dengan amoxapine karena penghambatan reseptor dopamin yang disebabkan oleh
obat dalam traktus tuberoinfundibular.

b. SSRI:
Fluoxetine: efek merugikan yang paling sering dari fluoxetine melibatkan sistem
saraf pusat dan sistem gastrointestinal. Efek sistem saraf pusta yang paling sering
adalah nyeri kepala, ketegangan, insomnia, mengantuk, dan kecemasan. Keluhan
gastrointestinal yang paling sering adalah mual, diare, anoreksia, dan dispepsia.
Data menyatakan bahwa mual adalah berhubungan dengan dosis dan merupakan
suatu efek merugikan di mana pasien tampaknya mengembangkan toleransi. Efek
yang lainnya melibatkan fungsi seksual dan kulit. Fluoxetine dieksresi dalam air
susu; dengan demikian, ibu menyusui tidak boleh menggunakan fluoxetine.
Fluoxetine juga harus digunakan dengan berhati-hati oleh pasien dengan penyakit
hati.
SSRI lain: efek merugikan yang ditemukan pada SSRI lainnya serupa dengan
yang ditemukan pada fluoxetine.

c. MAOI
Efek merugikan yang paling sering dari MAOI adalah hipotensi ortostatik,
penambahan berat badan, edema, disfungsi seksual, dan insomnia. Jika hipotensi
ortostatik berhubungan dengan pemakaian phenelzine atau isocarboxazid adalah
parah, keadaan ini mungkin berespon terhadap terapi dengan fludrocortisone
(florinef), suatu mineralokortikosteroid 0,1 sampai 0,2 mg sehari; kaus kaki
elastik (support stocking); hidrasi; dan peningkatan asupan garam. Hipotensi
ortostatik yang berhubungan dengan pemakaian tranylcypromine, adalah suatu
krisis hipertensif spontan yang terjadi setelah pemaparan pertama dengan obat
dan tidak berhubungan dengan ingesti tyramine. Penambahan berat badan, edema,
dan disfungsi seksual seringkali tidak responsif terhadap terapi apapun dan
mungkin mengharuskan mengganti dari hydralazine menjadi MAOI
nonhydralazine atau sebaliknya. Mioklonus, nyeri otot, dan parathesia kadang-
kadang ditemukan pada pasien yang diobati dengan MAOI. Parathesia mungkin
sekunder karena defisiensi pyrodoxine akibat MAOI, yang berespon dengan
suplementasi pyrodoxine, 50 sampai 150 mg peroral setiap hari. Kadang-kadang,
pasien mengeluh merasa mabuk atau kebingungan, kemungkinan menyatakan
bahwa dosis harus diturunkan dan selanjutnya ditingkatkan perlahan-lahan. Efek
hepatotoksik jarang dilaporkan. MAOI kurang kardiotoksik dan kurang
epileptogenik jika dibandingkan obat trisiklik yang digunakan untuk mengobati
depresi. MAOI harus digunakan dengan berhati-hati oleh pasien dengan penyakit
ginjal, gangguan kejang, penyakit kardiovaskular, atau hipertiroidisme. MAOI
dikontraindikasikan selama kehamilan, walaupun data tentang risiko
teratogeniknya adalah minimal. MAOI tidak boleh digunakan oleh wanita
menyusui karena obat dapat keluar melalui air susu.
Krisis Hipertensif akibat Tyramine: jika pasien yang menggunakan MAOI
nonselektif mengingesti makanan yang kaya akan tyramine, mereka kemungkinan
mengalami reaksi hipertensif yang dapat membahayakn (sebagai contohnya, suatu
penyakit serebrovaskular). Pasien juga harus diperingatkan bahwa gigitan lebah
dapat menyebabkan krisis hipertensif.

V. Kesimpulan
Sindrom depresi disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa
“aminergik neurotransmitter” (noreadrenaline, serotonin, dopamine) pada sinaps
neuron di susunan saraf pusat (khususnya pada sistem limbik).
Mekanisme obat antidepresi adalah menghambat re-uptake aminergik
neurotransmitter dan menghambat penghancuran oleh enzim monoamine oxidase
sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada sinaps neuron
di susunan saraf pusat.
Efek samping obat antidepresi dapat berupa sedasi, efek kolinergik, efek anti-
adrenergik alfa dan efek neurotoksis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan H I, Sadock B J, Grebb J A. Terapi biologis. Dalam: S Wiguna I M,


editor. Kaplan dan sadock sinopsis psikiatri. Edisi 7. Jilid 2. Jakarta: Binarupa
aksara; 1997. hal 594, 601, 622.
2. Hall A. Antidepresi. Dalam : Guze B, Richeimer S, Siegel D J, editor. Buku
Saku Psikiatri. Jakarta: EGC; 2002. hal. 400.
3. Fauci Anthony S, Lane H Clifford. Gangguan mental. In : Braunwald Eugene,
Fauci Anthony S, Kasper Dennis L, Hauser Stephen L, Longo Dan L,
Jameson J Larry, editors. Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Edisi
13. Volume 5. United States: The McGraw-Hill Companies; 2001. hal. 2646.
4. Santoso S O, Wiria M S S. Psikotropik. Dalam: Ganiswarna S G, Setiabudy R,
Suyatna F D, Purwantyastuti, Nafraidi, editor. Farmakologi dan terapi. Edisi
4. Jakarta: Bagian farmakologi FKUI; 2001. hal 157-160.
5. Potter W Z, Hollister L E. Agen-agen antidepresi. Farmakologi dasar dan
klinik. Edisi 8. Jakarta: Salemba Medik; 2002. hal. 268-290.
6. Maslim R. Obat antidepresi. Panduan praktis penggunaan klinis obat
psikotropik. Edisi 3. Jakarta. 2001. hal. 23.
7. Tjay T H, Rahardja K. Antidepresiva. Obat-obat penting khasiat, penggunaan
dan efek-efek sampingnya. Edisi 5. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
2002. hal. 434.