Anda di halaman 1dari 41

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya serta petunjuknya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
kasus yang berjudul “Gastroenteritis Akut”. Laporan ini diajukan sebagai salah
satu syarat/ kewajiban bagi setiap ko-ass untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik
di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Makassar di puskesmas.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya atas segala bantuan, bimbingan dan motivasi kepada yang terhormat :
1. dr. Mahmud Ghaznawie, Sp.PA(K),Ph.D selaku dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. dr. Hj. Hatase Nurna atas waktunya untuk membimbing Penulis selama ko-ass
di Puskesmas Jongaya.
3. dr. Aminah Darwis, dr.Nungki Mahesarani, serta para pegawai Puskesmas
Jongaya atas waktunya untuk membimbing Penulis selama ko-ass di
Puskesmas Jongaya.
4. Bakordik Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Makassar.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan laporan kasus ini jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.Semoga
laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, April 2017

Penulis

1
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Muh. Ainul Mahfuz, S.Ked.


Judul Lapsus : Gastroenteritis Akut

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian


Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah
Makassar.

Makassar, April 2017

Pembimbing / Supervisor

dr. Hj. Hatase Nurna

1
BAB I
PENDAHULUAN

Puskesmas adalah pusat pengembangan pembinaan, dan pelayanan


sekaligus merupakan pos pelayanan terdepan dalam pelayanan pembangunan
kesehatan masyarakat yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh,
terpadu dan berkesinambungan pada masyarakat yang bertempat tinggal dalam
wilayah tertentu.
Diare dan Gastroenteritis akut (GEA) merupakan keluhan yang sering
ditemukan pada dewasa. Diperkirakan pada orang dewasa setiap tahunnya
mengalami diare akut atau gastroenteritis akut sebanyak 99.000.000 kasus.
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2001, diare
menduduki peringkat pertama penyebab kematian anak dengan persentase sebesar
35% atau sekitar 4 miliar kasus diare akut/tahun dengan mortalitas 3-4 juta
pertahun (Soewondo ES, 2002). Di Indonesia sendiri dapat ditemukan sekitar 60
juta penderita diare setiap tahunnya dimana 70-80% dari penderitanya adalah anak
dibawah lima tahun dengan masih tingginya angka kesakitan yang dilaporkan,
yaitu 23,35 per 1000 penduduk pada tahun 1998 meningkat menjadi 26,13 per
1000 penduduk pada tahun 1999. (Profil Kesehatan Indonesia, 2002)
Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih menyumbangkan sekitar
33% atau sepertiga dari total kematian seluruh kelompok umur. Hal ini dapat
disebabkan oleh ketidakmampuan dan ketidaktahuan masyarakat dalam
memelihara kesehatan lingkungan. Masalah kesehatan lingkungan misalnya
pembuangan kotoran (tinja), pembuangan sampah, pembuangan air limbah,
penyediaan air bersih berpengaruh terhadap kesehatan terutama tingginya
penyakit infeksi saluran pencernaan khususnya penyakit diare. Faktor lingkungan
yang berupa penyediaan air bersih dan jamban keluarga yang tidak memenuhi
syarat kesehatan secara perilaku manusia akan mempermudah terjadinya
penularan penyakit. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa suatu komunitas
yang memiliki penyediaan air bersih, melakukan pola hidup bersih, dan memiliki
sarana sanitasi maka derajat kesehatannya akan meningkat pula.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair
atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai
kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari tiga kali perhari.
Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.
Dikatakan Gastroenteritis akut (GEA) bila selain diare, terdapat juga
gejala – gejala akibat gangguan lambung, misalnya nyeri ulu hati, mual –
muntah, perut kembung, rasa penuh pada perut, dan sendawa kecut.

Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.


Sedangkan menurut World Gastroenterology Organisation global
guideline 2005, diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang
cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang
dari 14 hari. Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.

Diare infektif adalah bila penyebabnya infeksi. Sedangkan diare


non infeksi bila tidak ditemukan infeksi sebagai penyebab pada kasus
tersebut. Diare organik adalah bila ditemukan penyebab anatomik,
bakteriologik, hormonal atau toksikologik. Diare fungsional bila tidak
dapat ditemukan penyebab organik (Sudoyo,2009).

B. EPIDEMIOLOGI

Di Indonesia pada tahun 70 sampai 80-an, prevalensi penyakit


diare sekitar 200-400 per 1000 penduduk per tahun. Angka Case Fatality
Rate (CFR) menurun dari tahun ke tahun, pada tahun 1975 CFR sebesar
40-50%, tahun 1980-an CFR sebesar 24%. Berdasarkan hasil survey
kesehatan rumah tangga (SKRT), tahun 1986 CFR sebesar 15%, tahun
1990 CFR sebesar 12%, dan diharapkan pada tahun 1999 akan menurun

3
menjadi 9%. Angka kesakitan dan kematian akibat diare mengalami
penurunan dari tahun ke tahun. (Widoyono, 2008).

Tabel 2.1 Angka Kesakitan dan Kematian Akibat Diare (Semua Umur)
Tahun 1990-1999

Angka kesakitan per


Tahun CFR (%)
1000 penduduk

1990 29,79 0,024

1991 25,64 0,027

1992 25,41 0,017

1993 28,77 0,015

1994 26,64 0,019

1995 24,26 0,021

1996 23,57 0,019

1997 26,20 0,012

1998 25,30 0,009

1999 26,13 0,006

Sumber: Widoyono, 2008

Tabel 2.1 menggambarkan penurunan angka kesakitan diare dari


29,79 per 1000 penduduk pada tahun 1990 mencapai angka terendah 23,57
per 1000 penduduk pada tahun 1996, tetapi meningkat lagi menjadi 26,13
per 1000 penduduk pada tahun 1999. Demikian pula dengan angka
kematian, terjadi penurunan dari 0,024% pada tahun 1990 menjadi 0,006%
pada tahun 1999. Angka ini relatif lebih rendah dibandingkan angka hasil
SKRT karena sistem pencatatan dan pelaporan yang masih lemah.
(Widoyono, 2008)

4
Masih seringnya terjadi wabah atau kejadian luar biasa (KLB)
diare menyebabkan pemberantasannya menjadi suatu hal yang sangat
penting. Di Indonesia, KLB diare masih terus terjadi hampir di setiap
musim sepanjang tahun. Data KLB diare dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.2 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare di Indonesia Tahun 1996-2000

Tahun Penderita Meninggal CFR (%)

1996 6139 161 2,62

1997 17890 184 1,08

1998 11818 275 2,33

1999 5159 76 1,47

2000 5680 109 1,92

Sumber: Widoyono 2008

KLB diare menyerang hampir semua propinsi di Indonesia. Angka


kematian yang jauh lebih tinggi daripada kejadian kasus diare biasa
membuat perhatian para ahli kesehatan masyarakat tercurah pada
penanggulangan KLB diare secara tepat. (Widoyono, 2008)

C. KLASIFIKASI

Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan:

1. Lama waktu diare : akut atau kronik,


2. Mekanisme patofisiologi : osmotik atau sekretorik dll,
3. Berat ringan diare : tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan – sedang, dehidrasi
berat
4. Penyebab infeksi atau tidak : infeksi atau non-infeksi
5. Penyebab organik atau tidak : organik atau fungsional. (Sudoyo,2009)

5
D. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO

Diare akut disebabkan oleh banyak penyebab antara lain infeksi (bakteri,
parasit, virus), keracunan makanan, efek obat-obatan dan lain-lain.
(Sudoyo,2009)

Faktor-faktor penyebab diare :

1. Faktor Infeksi
Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh bakteri, virus
maupun parasit. Penyebab lain timbulnya diare akut adalah toksin dan
obat, nutrisi enteral yang diikuti puasa yang lama, kemoterapi,impaksi
fekal (overflow diarrhea) atau berbagai kondisi lain. Dari penelitian pada
tahun1993-1994 terhadap 123 pasien dewasa yang menderita diare akut,
penyebab terbanyak hasil infeksi bakteri E.coli (38.29%), V.cholerae
Ogawa (18.29%), Aeromonas. Sp (14.29%) (Mansjoer,2001).

Diare oleh sebab infeksi Diare oleh sebab non-infeksi

1. Bakteri 1.Defek Anatomi


Shigela, Salmonella, E.colli,  Short Bowel Syndrome
Vibrio cholera,  Penyakit Hirchsprung
Staphylococcus aureus, 2. Malabsorbsi
Campilobacter aeromonas  Defisiensi disakaridase
2. Virus  Cholestasis
Rotavirus, Norwalk, Norwalk 3.Alergi
like agent, Adenovirus  Alergi susu sapi
3. Parasit 4.Keracunan makanan
Protozoa : Entamoeba  Logam berat
histolytica, Giardia lamblia,  Mushroom
Balantidium coli, Cacing : 5.Vitamin C terlalu tinggi
Ascaris, Trichiuris trichiura 6. fruktosa berlebih
Jamur : Candida

2. Faktor Umur
3. Faktor Status Gizi

6
4. Faktor Lingkungan  sanitasi dasar, sarana air bersih, limbah dan
sampah, serta jamban keluarga
5. Faktor Susunan Makan  yang mempengaruhi angka kejadian diare
adalah adanya antigen, osmolaritas terhadap cairan, malabsorpsi, dan
mekanik.
Cara penularan diare melalui cara faecal-oral yaitu melalui
makanan atau minuman yang tercemar kuman atau kontak langsung
tangan penderita atau tidak langsung melalui lalat ( melalui 5F = faeces,
flies, food, fluid, finger).

Faktor risiko terjadinya diare adalah:


1. Faktor perilaku

2. Faktor lingkungan
Faktor perilaku antara lain:
a. Tidak memberikan Air Susu Ibu/ASI (ASI eksklusif), memberikan
Makanan Pendamping/MP ASI terlalu dini akan mempercepat bayi
kontak terhadap kuman

b. Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena


penyakit diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu

c. Tidak menerapkan Kebiasaaan Cuci Tangan pakai sabun sebelum


memberi ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan setelah
membersihkan BAB anak

d. Penyimpanan makanan yang tidak higienis

Faktor lingkungan antara lain:


a. Ketersediaan air bersih yang tidak memadai, kurangnya ketersediaan
Mandi Cuci Kakus (MCK)

b. Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk

7
Disamping faktor risiko tersebut diatas ada beberapa faktor dari
penderita yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk diare antara lain:
kurang gizi/malnutrisi terutama anak gizi buruk, penyakit imunodefisiensi
/ imunosupresi dan penderita campak (Depkes RI, 2011).

Gambar 2.1 Peta konsep etiologi diare dari segi IKM

Menurut Mansjoer (2001), diare akibat infeksi ditularkan secara


fekal oral. Hal ini disebabkan makanan atau minuman yang masuk
terkontaminasi tinja ditambah ekskresi yang buruk, makanan yang tidak
matang bahkan disajikan tanpa dimasak. Penularannya adalah melalui
transmisi orang ke orang melalui aerosolisasi, tangan yang terkontaminasi
(Clostridium difficile), atau melalui aktifitas seksual.

Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain


penetrasi yang merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin
yang mempengaruhi sekresi cairan di usus serta daya lekat kuman. Kuman
tersebut membentuk koloni yang dapat menginduksi diare. Patogenesis
diare yang disebabkan karena infeksi bakteri terbagi dua, yaitu :

8
1. Bakteri noninvasif (enterotoksigenik)

Toksin yang diproduksi bakteri akan terikat pada usus halus namun tidak
merusak mukosa. Bakteri yang termasuk golongan ini adalah V. cholera,
Enterotoksigenik E.coli, C.perfingers, S.aureus, dan vibrio-nonaglutinabel.
Secara klinis, diare berupa cairan dan meninggalkan dubur seara deras dan
banyak. Keadaan seperti ini disebut diare sekretorik isotonik voluminal.

2. Bakteri enteroinvasif

Diare yang menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan


ulserasi dan bersifat sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat bercampur
lender dan darah. Bakteri yang termasuk golongan ini adalah
enteroinvasive E.coli, S.paratyphi B,S. typhimurium, S.enteriditis, S.
choleraesuis, Shigela, Yersinia dan C.perfingers Tipe C (Sudoyo,2009).

Penyakit diare sebagian besar (75%) disebabkan oleh kuman


seperti virus dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui orofekal terjadi
dengan mekanisme berikut ini:

1. Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi
bila seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik
tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-
rumah, atau tercemar pada saat disimpan di rumah. Pencemaran di
rumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila
tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari
tempat penyimpanan.
2. Melalui tinja terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus
atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh
binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap di makanan, maka
makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang yang memakannya.
3. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko diare adalah:
a. Pada usia 4 bulan bayi sudah tidak diberi ASI ekslusif lagi. (ASI
ekslusif adalah pemberian ASI saja sewaktu bayi berusia 0-4 bulan).

9
Hal ini akan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian karena
diare, karena ASI banyak mengandung zat-zat kekebalan terhadap
infeksi.
b. Memberikan susu formula dalam botol kepada bayi. Pemakaian
botol akan meningkatkan risiko pencemaran kuman, dan susu akan
terkontaminasi oleh kuman dari botol. Kuman akan cepat
berkembang bila susu tidak segera diminum.
c. Menyimpan makanan pada suhu kamar. Kondisi tersebut akan
menyebabkan permukaan makanan mengalami kontak dengan
peralatan makanan yang merupakan media yang sangat baik bagi
perkembangan mikroba.
d. Tidak mencuci tangan pada saat memasak, makan, atau sesudah
buang air besar (BAB) akan memungkinkan kontaminasi langsung
(Widoyono, 2008).

E. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis

Keluhan diare biasanya berlangsung kurang dari 15 hari. Pasien


dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas yaitu nausea,
muntah, nyeri abdomen, demam dan tinja yang sering, bisa air,
malabsortif, atau berdarah tergantung bakteri patogen yang spesifik.
Pasien yang memakan toksin atau pasien yang mengalami infeksi
toksigenik secara khas mengalami nausea dan muntah sebagai gejala
prominen bersamaan dengan diare air tetapi jarang mengalami demam.
Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya makanan mengarahkan
kita pada keracunan makanan karena toksin yang dihasilkan.

10
Pemeriksaan Fisik

Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat


berguna dalam menentukan beratnya diare daripada menentukan penyebab
diare. Status volume dinilai dengan memperhatikan perubahan ortostatik
pada tekanan darah dan nadi, temperatur tubuh dan tanda toksisitas.
Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang penting. Adanya
kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak adanya distensi abdomen dan
nyeri tekan merupakan ”clue” bagi penentuan etiologi.

Gambar 2.2 Penilaian Derajat Dehidrasi

Pemeriksaan Penunjang

Pada pasien yang mengalami dehidrasi atau toksisitas berat atau


diare berlangsung lebih dari beberapa hari, diperlukan beberapa
pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan tersebut antara lain pemeriksaan
darah tepi lengkap (hemoglobin, hematokrit, leukosit, hitung jenis
leukosit), kadar elektrolit serum, ureum, dan kreatinin, pemeriksaan tinja
dan pemeriksaan Enzym-linked immunosorbent assay (ELISA) mendeteksi

11
giardiasis dan test serologic amebiasis dan foto x-ray abdomen. (Sudoyo,
2009)

F. PENATALAKSANAAN

Rehidrasi

Aspek paling penting dari terapi diare adalah untuk menjaga


hidrasi yang adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut. Ini
dilakukan dengan rehidrasi oral, dimana harus dilakukan pada semua
pasien kecuali yang tidak dapat minum atau yang mengalami diare
dehidrasi berat yang memerlukan hidrasi intavena yang membahayakan
jiwa. Idealnya, cairan rehidrasi oral harus terdiri dari 3,5 g Natrium
klorida, dan 2,5 g Natrium bikarbonat, 1,5 g kalium klorida, dan 20 g
glukosa per liter air. Cairan seperti itu tersedia secara komersial dalam
paket-paket yang mudah disiapkan dengan mencampurkan dengan air. Jika
sediaan secara komersial tidak ada, cairan rehidrasi oral pengganti dapat
dibuat dengan menambahkan ½ sendok teh garam, ½ sendok teh baking
soda, dan 2 – 4 sendok makan gula per liter air. Dua pisang atau 1 cangkir
jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium. Pasien harus minum cairan
tersebut sebanyak mungkin sejak mereka merasa haus pertama kalinya.
Jika terapi intra vena diperlukan, cairan normotonik seperti cairan saline
normal atau laktat Ringer harus diberikan dengan suplementasi kalium
sebagaimana panduan kimia darah. Status hidrasi harus dimonitor dengan
baik dengan memperhatikan tanda-tanda vital, pernapasan, dan urin, dan
penyesuaian infus jika diperlukan. Pemberian harus diubah ke cairan
rehidrasi oral sesegera mungkin. (Khalid, 2004)

Nilai status hidrasi pasien ke dalam penilaian status dehidrasi


menurut WHO yang telah dijelaskan di atas, lalu klasifikasikan apakah
pasien mengalami diare tanpa dehidrasi, diare dengan dehidrasi ringan /
sedang, atau diare dengan dehidrasi berat. Lakukan rencana terapi A untuk

12
diare tanpa dehidrasi, rencana terapi B untuk diare dengan dehidrasi ringan
/ sedang, dan rencana terapi C untuk diare dengan dehidrasi berat.

13
14
15
Antibiotik

Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare


akut infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari
tanpa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik di indikasikan pada :
Pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses
berdarah, kejang, letargis, prolaps rekti, leukosit pada feses. Diare lender
darah diterapi sebagai Shigellosis menggunakan Cotrimoxazole 10 mg
(TMP) / kgBB / hari dibagi 2 dosis selama 5 hari. Dilakukan evaluasi 2
hari, bila tidak ada perbaikan, dilakukan pemeriksaan tinja untuk mencari
amuba. Bila didapatkan amuba, diberikan Metronidazole dosis 10 mg /
kgBB 3x sehari selama 5 hari (WHO,2009).

Zink

Pada saat diare, anak akan kehilangan zinc dalam tubuhnya.


Pemberian Zinc mampu menggantikan kandungan Zinc alami tubuh yang
hilang tersebut dan mempercepat penyembuhan diare. Zinc juga
meningkatkan sistim kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah risiko
terulangnya diare selama 2-3 bulan setelah anak sembuh dari diare.
Berdasarkan studi WHO selama lebih dari 18 tahun, manfaat zinc sebagai
pengobatan diare adalah mengurangi :1) Prevalensi diare sebesar 34%; (2)
Insidens pneumonia sebesar 26%; (3) Durasi diare akut sebesar 20%; (4)
Durasi diare persisten sebesar 24%, hingga; (5) Kegagalan terapi atau
kematian akibat diare persisten sebesar 42%.

Kemampuan zinc untuk mencegah diare terkait dengan


kemampuannya meningkatkan sistim kekebalan tubuh. Zinc merupakan
mineral penting bagi tubuh. Lebih 300 enzim dalam tubuh yang
bergantung pada zinc. Zinc juga dibutuhkan oleh berbagai organ tubuh,
seperti kulit dan mukosa saluran cerna. Semua yang berperan dalam fungsi
imun, membutuhkan zinc. Jika zinc diberikan pada anak yang sistim
kekebalannya belum berkembang baik, dapat meningkatkan sistim

16
kekebalan dan melindungi anak dari penyakit infeksi. Itulah sebabnya
mengapa anak yang diberi zinc (diberikan sesuai dosis) selama 10 hari
berturut - turut berisiko lebih kecil untuk terkena penyakit infeksi, diare
dan pneumonia.

Zinc diberikan satu kali sehari selama 10 hari berturut-turut.


Pemberian zinc harus tetap dilanjutkan meskipun diare sudah berhenti. Hal
ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap
kemungkinan berulangnya diare pada 2 – 3 bulan ke depan. Obat Zinc
merupakan tablet dispersible yang larut dalam waktu sekitar 30 detik.

Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut dengan dosis sebagai berikut:

a. Balita umur < 6 bulan: 1/2 tablet (10 mg)/ hari

b. Balita umur ≥ 6 bulan: 1 tablet (20 mg)/ hari

Obat Zinc yang tersedia di Puskesmas baru berupa tablet


dispersible. Saat ini perusahaan farmasi juga telah memproduksi dalam
bentuk sirup dan serbuk dalam sachet. (WHO, 2009)

Diet

Jika anak masih mendapatkan ASI, maka teruskan pemberian ASI


sebanyak dia mau. Jika anak mau lebih banyak dari biasanya itu akan lebih
baik. Biarkan dia makan sebanyak dan selama dia mau. ASI bukan
penyebab diare. ASI justru dapat mencegah diare. Bayi dibawah 6 bulan
sebaiknya hanya mendapat ASI untuk mencegah diare dan meningkatkan
sistim imunitas tubuh bayi.

Anak harus diberi makan seperti biasa dengan frekuensi lebih


sering. Lakukan ini sampai dua minggu setelah anak berhenti diare. Jangan
batasi makanan anak jika ia mau lebih banyak, karena lebih banyak
makanan akan membantu mempercepat penyembuhan, pemulihan dan
mencegah malnutrisi. Untuk anak yang berusia kurang dari 2 tahun,
anjurkan untuk mulai mengurangi susu formula dan menggantinya dengan

17
ASI. Untuk anak yang berusia lebih dari 2 tahun, teruskan pemberian susu
formula. Ingatkan ibu untuk memastikan anaknya mendapat oralit dan air
matang. (WHO,2009)

G. FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI


TERJADINYA DIARE

Sumber air minum

Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Di dalam tubuh


manusia sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa sekitar 55-
60% berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk
bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain
untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Di Negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60
liter per hari. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat
penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan
minum dan masak air harus mempunyai persyaratan khusus agar air
tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia (Notoatmodjo, 2003).

Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi


yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian diare. Sebagian
kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral.
Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau
benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan,
dan makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar
(Depkes RI, 2000). Abdullah (1987) menyimpulkan bahwa penduduk
disuatu daerah yang tidak menggunakan air bersih, akan memiliki
kecenderungan menderita penyakit diare. Hal ini sejalan dengan penelitian
Munir (1983) yang menyatakan bahwa penyediaan air bersih dapat
menurunkan risiko diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga
yang memanfaatkan air bersih dari sumber yang memenuhi syarat
kesehatan angka kejadian diarenya lebih sedikit bila dibandingkan dengan

18
keluarga yang memanfaatkan air dari sumber yang tidak memenuhi syarat
kesehatan (Kusnindar, 1994).

Menurut Depkes RI (2000), hal - hal yang perlu diperhatikan dalam


penyediaan air bersih adalah:

1. Mengambil air dari sumber air yang bersih.


2. Mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup
serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air.
3. Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang,
anak-anak, dan sumber pengotoran. Jarak antara sumber air minum
dengan sumber pengotoran seperti septiktank, tempat pembuangan
sampah dan air limbah harus lebih dari 10 meter.
4. Mengunakan air yang direbus.
5. Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan
cukup.
Jenis tempat pembuangan tinja

Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan


lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan
terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penulurannya melalui tinja
antara lain penyakit diare. Menurut Notoatmodjo (2003), syarat
pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah :

1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya,


2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya,
3. Tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya,
4. Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat
bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya,
5. Tidak menimbulkan bau,
6. Pembuatannya murah, dan
7. Mudah digunakan dan dipelihara.

19
Pembuangan sampah

Sampah adalah semua zat atau benda yang sudah tidak terpakai
baik yang berasal dari rumah tangga atau hasil proses industri. Jenis-jenis
sampah antara lain, yakni sampah anorganik, adalah sampah yang
umumnya tidak dapat membusuk, misalnya: logam/besi, pecahan gelas,
plastik. Sampah organik, adalah sampah yang pada umumnya dapat
membusuk, misalnya : sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan. Cara
pengolahan sampah antara lain sebagai berikut: (Notoatmodjo, 2003).

1. Pengumpulan dan pengangkutan sampah.


Pengumpulan sampah diperlukan tempat sampah yang terbuat dari bahan
yang mudah dibersihkan, tidak mudah rusak, harus tertutup rapat,
ditempatkan di luar rumah. Pengangkutan dilakukan oleh dinas pengelola
sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA)

2. Pemusnahan dan pengelolaan sampah


Dilakukan dengan berbagai cara yakni, ditanam (Landfill), dibakar
(Inceneration), dijadikan pupuk (Composting)

Perumahan

Keadaan perumahan adalah salah satu faktor yang menentukan


keadaan higiene dan sanitasi lingkungan. Adapun syarat-syarat rumah
yang sehat ditinjau dari ventilasi, cahaya, luas bangunan rumah, Fasilitas-
fasilitas di dalam rumah sehat sebagai berikut : (Notoatmodjo, 2003).

1. Ventilasi
Fungsi ventilasi adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah
tersebut tetap segar dan untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-
bakteri, terutama bakteri patogen.. Luas ventilasi kurang lebih 15-20 %
dari luas lantai rumah

20
2. Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, kurangnya cahaya
yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari
disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat baik untuk
hidup dan berkembangnya bibit penyakit. Penerangan yang cukup baik
siang maupun malam 100-200 lux.

3. Luas bangunan rumah


Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5-3 m2
untuk tiap orang. Jika luas bangunan tidak sebanding dengan jumlah
penghuni maka menyebabkan kurangnya konsumsi O2, sehingga jika
salah satu penghuni menderita penyakit infeksi maka akan mempermudah
penularan kepada anggota keluarga lain.

4. Fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat


Rumah yang sehat harus memiliki fasilitas seperti penyediaan air bersih
yang cukup, pembuangan tinja, pembuangan sampah, pembuangan air
limbah, fasilitas dapur, ruang berkumpul keluarga, gudang, kandang ternak

Air limbah

Air limbah adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah
tangga, industri dan pada umumnya mengandung bahan atau zat yang
membahayakan. Sesuai dengan zat yang terkandung di dalam air limbah,
maka limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan
gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain limbah
sebagai media penyebaran berbagai penyakit terutama kolera, diare, typus,
media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen, tempat
berkembangbiaknya nyamuk, menimbulkan bau yang tidak enak serta
pemandangan yang tidak sedap, sebagai sumber pencemaran air
permukaan tanah dan lingkungan hidup lainnya, mengurangi produktivitas
manusia, karena bekerja tidak nyaman (Notoatmodjo, 2003).

21
Usaha untuk mencegah atau mengurangi akibat buruk tersebut
diperlukan kondisi, persyaratan dan upaya sehingga air limbah tersebut
tidak mengkontaminasi sumber air minum, tidak mencemari permukaan
tanah, tidak mencemari air mandi, air sungai, tidak dihinggapi serangga,
tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit dan
vektor, tidak terbuka kena udara luar sehingga baunya tidak mengganggu
(Notoatmodjo, 2003).

H. PENCEGAHAN
 Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai 2
tahun
 Memberikan makanan pendamping ASI sesuai umur
 Memberikan minum air yang sudah direbus dan menggunakan air
bersih yang cukup
 Mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan dan sesudah
buang air besar
 Buang air besar di jamban
 Membuang tinja bayi dengan benar
 Memberikan imunisasi campak (WHO, 2009)

22
BAB III
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. H
Usia : 1 tahun 6 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : -
Alamat : Jl. Kumala II No. 50 A
Masuk PKM : 16 April 2017
Pulang : 20 April 2017

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama :
Buang air besar encer
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang pasien perempuan berumur 1 tahun 6 bulan dibawa
keluarganya ke Puskesmas Jongaya dengan keluhan buang bair besar
tiba – tiba sebanyak + > 5 kali. Buang air besar dikatakan berwarna
kuning, konsistensi cair, ampas (+), lendir (+), dan darah (-). Pasien
juga mengalami muntah (+) sebanyak 3 – 4 kali berisi makanan dan
air. Demam (+) terus menerus. Ibu pasien menyangkal adanya
pemberian makanan yang lain dari biasanya sebelum anaknya diare.
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya, kira – kira 6
bulan yang lalu.
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Ibu pasien menyangkal adanya penyakit yang sama dalam keluarga
5. Riwayat Alergi :
Pasien menyangkal adanya alergi obat ataupun makanan

23
6. Riwayat Pengobatan : Pasien belum pernah mengonsumsi obat –
obatan apapun sebelumnya.

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
- Pasien tampak lemah, compos mentis (GCS 15)
2. Tanda – Tanda Vital
- Nadi : 112x/menit, reguler
- Pernapasan : 36x/menit
- Suhu : 38,5oC
3. Status Generalis
- Kepala : Bentuk normocephali, simetris kiri dan
kanan, rambut berwarna hitam, tidak rontok, deformitas (-)
- Mata : Konjungtiva normal, sklera normal, pupil isokor
3/3, RC +/+
- Telinga : Bentuk normal, tidak ada sekret/cairan, fungsi
pendengaran normal
- Hidung : Bentuk normal, sekret (-), perdarahan (-)
- Mulut : Bibir kering, sianosis (-), lidah kotor (-), Tonsil
T1/T1, hiperemis (-)
- Leher : Pembesaran KGB (-), Pembesaran tiroid (-)
- Thorax : Tampak pengembangan dada simetris kiri dan
kanan, retraksi (-). Pada palpasi, vocal fremitus sama kiri dan
kanan, nyeri tekan (-). Pada perkusi, bunyi sonor pada kedua
lapangan paru. Pada auskultasi, didapatkan bunyi pernapasan
vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
- Cor : Pada inspeksi, tidak tampak ictus cordis. Pada
palpasi, ictus cordis tidak teraba. Pada perkusi, batas jantung dalam
batas normal. Pada auskultasi, didapatkan bunyi jantung I dan II
regular, bising (-), bunyi gallop (-)

24
- Abdomen : Pada inspeksi, abdomen tampak cembung,
mengikuti gerak napas. Pada palpasi, nyeri tekan (-), organomegali
(-). Pada perkusi, didapatkan bunyi timpani (+). Pada auskultasi,
bunyi peristaltik (+) kesan meningkat
- Punggung : Tampak dalam batas normal
- Genitalia : Tidak dievaluasi
- Ekstremitas : Akral hangat, petekie (-), CRT < 2 detik.
4. Status Dehidrasi
- Menurut Tabel Penilaian WHO, pasien mengalami diare tanpa
dehidrasi, karena keadaan umum baik dan sadar, mata tidak
cekung, turgor menurun namun kembali cepat, meskipun terdapat
rasa haus.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Tes Widal :
S.Typhi ‘’O’’ : 1/80
S.Typhi ‘’H’’ : 1/80
- Trombosit : 214.000 u/l
E. DIAGNOSIS KERJA
Gastroenteritis Akut (GEA) Tanpa Dehidrasi
F. DIAGNOSIS BANDING
Demam Tifoid
Demam Berdarah Dengue + GEA
G. KAPAN MENURUT ANDA PASIEN INI PERLU DI RUJUK DAN
HARUS DI RUJUK KEMANA?
Apabila ditemukan tanda tanda dehidrasi berat dan adanya komplikasi,
sehingga pasien perlu endapatkan penanganan yang lebih komprehensif lagi
di Rumah Sakit.

25
H. PENATALAKSANAAN
1. Farmakologis
- Oralit ad lib
- Paracetamol syrup 3 x 1 cth
- Zink 20 mg tab 1 x 1
- Domperidon syrup 3 x 1/2 cth
- Kotrimoksazole syrup 2 x 1 cth
2. Edukasi
- Istirahat yang cukup
- Diet lunak biasa
- Banyak diminumkan oralit
- Minum obat teratur
- Buang sampah pada tempat yang ditentukan
- Kebiasaan cuci tangan sebelum makan dan sesudah dari toilet
- Menggunakan air bersih dan sanitasi yang baik
- Memasak makanan dan air minuman hingga matang
- Menghindarkan makanan yang telah terkontaminasi oleh lalat, makanan
yang telah jatuh ke lantai, tidak memakan makanan basi, dan menghindari
makanan yang dapat menimbulkan alergi tubuh.
- Higiene lingkungan yang lebih baik.

I. PROGNOSIS
- Ad vitam : ad bonam
- Ad functionam : ad bonam
- Ad sanationam : ad bonam

26
J. PERKEMBANGAN PENYAKIT
 Home Visit I (23/04/2017)
Didapatkan :
- Rumah pasien cukup bersih walaupun agak berantakan, kamar mandi
dan jamban tersedia dan bersih, Ukuran rumah ± 4 x 5 m dengan 2
kamar tidur dan 1 dapur. Ditinggali oleh 5 orang. Ventilasi kurang
dan pencahayaan cukup. Rumah terletak di pemukiman padat
penduduk dan terletak berdekatan dengan rumah lain.
- Kondisi halaman cukup bersih, jalanan lorong cukup bersih
- Pasien masih mengalami BAB encer 3 x sehari, muntah dan demam
(-), Makan dan tidur baik.
- Dilakukan edukasi untuk mencegah diare berulang
 Home Visit II (26/04/2017)
- Terlihat rumah lebih rapi dari kunjungan pertama disertai tata
perabotan yang sangat baik.
- Pasien sudah tidak mempunyai keluhan. Makan dan tidur baik
- Dilakukan edukasi untuk mencegah diare berulang
 Home Visit III (27/04/2017)
- Rumah pasien sudah lebih tertata, bersih dan rapi
- Pasien sudah tidak mempunyai keluhan
- Dilakukan edukasi untuk mencegah diare berulang

K. KELUARGA
 GENOGRAM

27
 ANGGOTA KELUARGA

Nama Umur / JK Status dalam Pendidikan Pekerjaan


Keluarga

Ny. S 46 thn / Ibu Rumah SMA Ibu Rumah


Perempuan Tangga Tangga
Nn. Y 22 thn / Anak Pertama SMA Pengangguran
Perempuan
Nn. Yu 17 tahun / Anak Kedua SMA Pelajar
Perempuan
Tn. A 16 tahun / Laki - Anak Ketiga SMA Pelajar
Laki
Nn. H 1,5 tahun / Anak Keempat Belum -
Perempuan Sekolah

 Penilaian Status sosial dan kesejahteraan hidup


 Lingkungan tempat tinggal
Status kepemilikan rumah : Milik sendiri
Daerah perumahan : Sangat Padat penduduk
Luas rumah 4x5m
Bertingkat Tidak
Jumlah penghuni rumah 5 orang
Luas halaman -
Lantai rumah terbuat dari Tehel
Dinding rumah terbuat dari Tembok
Kondisi dalam rumah Bersih
Penerangan listrik Ada
Jamban Ada
Ketersediaan air bersih Ada

28
 Kepemilikan barang – barang berharga
o Ny. S, ibu pasien, memiliki beberapa barang elektronik di
rumahnya antara lain yaitu, 1 buah televisi, 1 buah kipas angin,
dan 1 buah rice cooker.
 Penilaian perilaku kesehatan keluarga
o Apabila sakit lebih dari 2 hari, Ny. S sering berobat ke puskesmas
dengan menggunakan jaminan kesehatan berupa kartu KIS.
Namun, sang pasien, yaitu Nn. H tidak memiliki kartu KIS karena
masih kecil.
 Status Sosial dan Kesejahteraan Keluarga
o Pekerjaan sehari-hari pasien adalah seorang ibu rumah tangga.
Yang mencari nafkah adalah anak pertama dalam keluarga, dan
penghasilannya tidak menentu. Pasien ini tinggal di rumah yang
terletak di Jl. Kumala Dua No. 50 A. Rumah pasien terletak di
belakang rumah penduduk lain. Sehingga kita harus melalui lorong
kecil untuk sampai ke rumah korban. Sekitar rumah yaitu bagian
samping kiri dan kanannya diapit dan berbatasan dengan rumah
batu, dan berada di lingkungan perumahan yang sangat padat.
 Pola Konsumsi Makanan Keluarga
o Pola makan 2-3 kali sehari dengan menu yang dimasak sendiri.
Tiap hari, Ny. S membeli bahan makanan di pasar dekat rumahnya
dan memasak sendiri makanan untuk keluarganya. Menu yang
paling sering di konsumsi adalah nasi, tahu, tempe, dan sayur.
 Psikologi Dalam Hubungan Antar Anggota Keluarga
o Pasien memiliki hubungan yang baik dengan sesama anggota
keluarga yang lainnya. Dengan seluruh anggota keluarga, terjalin
komunikasi yang baik dan cukup lancar.
 Kebiasaan
o Pasien, yaitu Nn.H sering mengkonsumsi makanan yang kadang
sudah jatuh ke lantai. Pasien juga kadang sering merangkak dan
memegang benda – benda di lantai.

29
o
 Lingkungan
o Lingkungan tempat tinggal sudah cukup baik. Tata pemukiman di
sekitar rumah pun tertata dengan baik hanya saja terlalu padat.
Kebersihan lingkungan rumah tidak terlalu baik. Jalanan di depan
rumah dalam kondisi baik dan teraspal, sehingga meminimalkan
terbawanya debu oleh aktifitas jalanan.

Data sarana pelayanan kesehatan dan lingkungan kehidupan keluarga

Faktor Keterangan Kesimpulan tentang faktor


pelayanan kesehatan
Sarana pelayanan Puskesmas Pelayanan dengan
kesehatan yang menggunakan Kartu Keluarga
digunakan oleh
keluarga
Cara mencapai Jalan Kaki Pasien tidak memiliki
sarana pelayanan kendaraan pribadi
kesehatan tersebut
Tarif pelayanan Gratis Semua pelayanan dengan
kesehatan yang menggunakan Kartu Keluarga
dirasakan tanpa iuran apapun.
Kualitas pelayanan Baik Pasien merasa pelayanan baik
kesehatan yang karena dimulai dari
dirasakan pendaftaran , pengambilan
kartu, konsul dokter,
pengambilan obat berjalan
dengan lancar.

30
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Analisis Kasus
Seorang pasien perempuan berumur 1 tahun 6 bulan dibawa
keluarganya ke Puskesmas Jongaya dengan keluhan buang bair besar tiba
– tiba sebanyak + > 5 kali. Buang air besar dikatakan berwarna kuning,
konsistensi cair, ampas (+), lendir (-), dan darah (-). Pasien juga
mengalami muntah (+) sebanyak 3 – 4 kali berisi makanan dan air.
Demam (+) terus menerus. Ibu pasien menyangkal adanya pemberian
makanan yang lain dari biasanya sebelum anaknya diare. Pasien pernah
mengalami keluhan yang sama sebelumnya, kira – kira 6 bulan yang lalu.
Ibu pasien menyangkal adanya penyakit yang sama dalam keluarga
Dari pemeriksaan fisik, pasien tampak lemah, namun compos
mentis (GCS 15). Dari pemeriksaan tanda vital, diperoleh Nadi
112x/menit, regular, Pernapasan 36x/menit, Suhu 38,5oC. Pada
pemeriksaan abdomen, abdomen tampak cembung, mengikuti gerak napas.
Pada palpasi, nyeri tekan dan organomegali (-). Pada perkusi, didapatkan
bunyi timpani (+). Pada auskultasi, bunyi peristaltik (+) kesan meningkat.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan,
maka kami menyimpulkan pasien mengalami Gastroenteritis Akut.
Selanjutnya, dilakukan penilaian terhadap derajat dehidrasi pasien.
Menurut Tabel Penilaian WHO, pasien mengalami diare tanpa
dehidrasi, karena keadaan umum baik dan sadar walaupun tampak lemah,
mata tidak cekung, turgor menurun namun kembali cepat, meskipun
terdapat rasa haus.
Penatalaksanaan berupa pemberian agen farmakologi maupun
edukasi diberikan kepada pasien. Terapi farmakologi yang diberikan
berupa pemberian oralit sebagai terapi rehidrasi pada pasien, yaitu rencana
terapi A berdasarkan WHO. Pada rencana terapi A, diberikan oralit dan

31
zink sesuai kebutuhan pasien, lalu diberikan juga antibiotik karena adanya
diare berlendir, demam tinggi yang dialami pasien, yaitu Cotrimoxazole.
Diberikan Paracetamol sebagai antipiretik untuk menurunkan
demam pasien, dan Domperidon sebagai agen antiemetik untuk mengatasi
gejala muntah yang dialami pasien dan merupakan salah satu faktor
penting penyebab dehidrasi.
Diberikan edukasi kepada ibu pasien tentang diare akut dan betapa
mudahnya penyakit ini menyerang anak – anak, sehingga yang perlu juga
untuk diketahui adalah bila di kemudian hari, terjadi diare lagi pada anak,
segera lakukan rehidrasi dengan oralit, atau air sayur, air tajin, dsb.
Ketahui tanda bahaya yang dialami anak, yaitu bila BAB cair lebih sering,
muntah berulang – ulang, mengalami rasa haus yang nyata, makan atau
minum sedikit, demam, tinjanya berdarah, dan tidak membaik dalam 3
hari. Bila ibu pasien mendapatkan tanda seperti ini, segera bawa anak
menuju pelayanan kesehatan terdekat.
Selain itu, diberikan pula edukasi kepada ibu pasien yang bertujuan
untuk memutus rantai penularan diare dan mencegah terjadinya diare yang
berulang di kemudian hari, baik terhadap pasien maupun keluarganya,
yaitu disarankan buang sampah pada tempat yang ditentukan, Kebiasaan
cuci tangan sebelum dan makan dan sesudah BAB menggunakan sabun,
Menggunakan air bersih dan sanitasi yang baik, Memasak makanan dan air
minuman hingga matang, Menghindari makanan yang telah terkontaminasi
oleh lalat, tidak memakan makanan basi, dan menghindari makanan yang
dapat menimbulkan alergi tubuh, dan Higiene lingkungan yang lebih baik.
Edukasi merupakan kunci dari terapi pada penyakit pasien,
sehingga diharapkan dengan pemberian edukasi yang mendalam terhadap
pasien, kejadian penyakit ini kedepannya dapat ditekan. Prognosis pada
pasien ini umumnya baik jika tidak ditemukan adanya komplikasi serta
penyulit yang dapat memperberat kondisi pasien.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang didapatkan dari
pasien,dokter menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah untuk

32
mencari dan menyingkirkan adanya kemungkinan penyakit penyerta lain
pada pasien, dikarenakan demam yang juga dialami pasien, yaitu
pemeriksaan trombosit dan widal tes. Hasil dari pemeriksaan didapatkan
Tes widal dan trombosit dalam batas normal, sehingga demam tifoid dan
DBD dapat disingkirkan.

B. Analisis kunjungan rumah


- Pasien
Pasien tinggal dirumah sendiri
- Pekerjaan
Pasien belum bekerja
- Keadaan tempat tinggal
Pasien tinggal di pemukiman padat penduduk dengan kondisi ventilasi
yang tidak memadai ,terdapat listrik dan air PAM untuk minum

C. Penilaian perilaku hidup bersih dan sehat


- Perilaku
Pasien masih balita sehingga sering mengkonsumsi makanan yang
kadang sudah jatuh ke lantai dan luput dari orang tuanya. Pasien juga
kadang sering merangkak dan memegang benda – benda di lantai yang
kotor dan luput dari orang tuanya.
- Lingkungan
Lingkungan tempat tinggal sudah cukup baik. Tata pemukiman di
sekitar rumah pun tertata dengan baik hanya saja terlalu padat.
Kebersihan lingkungan rumah tidak terlalu baik. Jalanan di depan
rumah dalam kondisi baik dan teraspal, sehingga meminimalkan
terbawanya debu oleh aktifitas jalanan.

Penegakan diagnosis pada pasien ini berdasarkan anamnesis secara


holistic yaitu, aspek personal, aspek klinik, aspek resiko internal, dan
aspek resiko eksternal serta pemeriksaan penunjang dengan melakukan
pendekatan menyeluruh dan pendekatan diagnosis holistik.

33
 Aspek Personal (Alasan berobat, harapan dan kekhawatiran)
a. Alasan berobat : pasien dibawa karena BAB encer, muntah, dan
demam.
b. Harapan : Ibu pasien berharap agar pasien sembuh dan keluhan
yang dialaminya bisa berkurang.
c. Kekhawatiran : Ibu pasien takut penyakit pasien tidak kunjung
sembuh dan bertambah parah.
 Aspek klinik
- BAB encer, muntah, demam, kejang
 Aspek Faktor Resiko Internal
- Kurangnya pengetahuan tentang diare akut
- Belum maksimal mengidentifikasi dan mengeliminasi faktor
penyebab diare
- Kurangnya ketelitian mengawasi kebersihan tangan pasien.
 Aspek Faktor Resiko Eksternal
- Lingkungan sekitar rumah pasien dengan kepadatan penduduk
yang cukup padat dan kebersihan yang masih kurang.
- Ventilasi dan jendela rumah yang masih kurang sehingga
pencahayaan dan pertukaran udara menjadi kurang.
 Aspek Psikososial Keluarga
Di dalam keluarga terdapat faktor-faktor yang dapat menghambat
dan mendukung kesembuhan pasien. Di antara faktor-faktor yang
dapat menghambat kesembuhan pasien yaitu, kurangnya pengetahuan
keluarga tentang penyakit yang diderita pasien sehingga tidak ada
upaya pencegahan faktor pencetus. Sedangkan faktor yang dapat
mendukung kesembuhan pasien yaitu adanya dukungan dan motivasi
dari semua anggota keluarga baik secara moral dan materi.
 Aspek Fungsional
Secara aspek fungsional, pasien tidak ada kesulitan dan masih mampu
dalam hal fisik dan mental untuk melakukan aktifitas di dalam maupun
di luar rumah.

34
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak lemah, Composmentis
Frek. Nadi : 112x/menit, reguler
Frek Pernapasan : 36x/menit
Suhu : 38,5oC

Pemeriksaan Penunjang
- Tes Widal :
S.Typhi ‘’O’’ : 1/80
S.Typhi ‘’H’’ : 1/80
- Trombosit : 214.000 u/l

 Diagnosis Holistik (Bio-Psiko-Sosial)


 Diagnose Klinis: Gastroenteritis Akut
 Diagnose Psikososial: Ibu pasien takut penyakit pasien tidak kunjung
sembuh dan bertambah parah.

Penatalaksanaan
 Promosi kesehatan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat seperti
kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan setelah BAB dengan
sabun.
 Memberikan edukasi tentang penyakit gastroenteritis akut agar dapat
mencegah penyakit GEA

Penatalaksanaan secara kedokteran keluarga pada pasien ini


meliputi pencegahan primer, pencegahan sekunder (terapi untuk pasien
dan keluarga pasien)
Pencegahan Primer
Promosi kesehatan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat seperti
kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan setelah BAB dengan
sabun.

35
Pencegahan Sekunder
Terapi untuk pasien
Farmakologis
- IVFD Asering 13 tpm
- Paracetamol syrup 3 x ½ cth
- Zink 20 mg tab 1 x 1
- Domperidon syrup 3 x 1 cth
- Oralit ad lib
- Kotrimoksazole syrup 2 x 1 cth
Edukasi
- Istirahat yang cukup
- Diet lunak biasa
- Banyak diminumkan oralit
- Minum obat teratur
- Buang sampah pada tempat yang ditentukan
- Kebiasaan cuci tangan sebelum makan dan sesudah dari toilet
- Menggunakan air bersih dan sanitasi yang baik
- Memasak makanan dan air minuman hingga matang
- Menghindarkan makanan yang telah terkontaminasi oleh lalat, makanan
yang telah jatuh ke lantai, tidak memakan makanan basi, dan
menghindari makanan yang dapat menimbulkan alergi tubuh.
- Higiene lingkungan yang lebih baik.

Terapi untuk keluarga


Terapi untuk keluarga hanya berupa memberikan informasi dan
penjelasan mengenai penyakit GEA

36
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi kasus GEA yang dilakukan di Puskesmas Jongaya
mengenai penatalaksanaan penderita GEA dengan pendekatan kedokteran
keluarga, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a) Diagnose Klinis : Nn.H menderita penyakit GEA dengan hasil anamnesis
berupa BAB encer, muntah dan demam.
- Pemeriksaan fisis yang bermakna ditemukan peristaltic (+) kesan
meningkat, Status dehidrasi didapatkan tanpa dehidrasi. Pada
pmeriksaan penunjang didapatkan trombosit dan tes widal dalam batas
normal sehingga menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit
penyerta, berupa demam tifoid dan demam berdarah dengue
b) Pasien ini diobati sesuai dengan prosedur tatalaksana GEA berdasarkan
kompetensi dokter indonesia.
c) Diagnose Psiko-sosial: Ibu pasien takut penyakit pasien tidak kunjung
sembuh dan bertambah parah.
d) Memberikan informasi berupa promosi kesehatan dan edukasi pada pasien
yang menderita GEA ataupun keluarga pasien, masyarakat, sekaligus mitra
kerja dalam mencegah terjadinya GEA.
e) Perbaikan dapat dievaluasi setelah pengobatan dengan didapatkan
berkurangnya gejala

Saran

Dari beberapa masalah yang dapat ditemukan pada Nn. H berupa : penyakit
GEA dengan pola hidup yang kurang bersih maka disarankan :

a) Menjaga kebersihan tangan pasien, dengan sering mencuci tangan pasien


dengan sabun, karena belum tahunya pasien menjaga hygiene nya sendiri.
b) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit GEA.

37
BAB VI

LAMPIRAN

Sebelum Home Visit

38
Sesudah Home Visit

39
DAFTAR PUSTAKA

Depkes, R. I., 2011. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare. Jakarta : Ditjen
PPM dan PL.

Depkes, R.I., 2011. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta : Ditjen


PPM dan PL.

Hendarwanto. 2013. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ketiga. Jakarta:
Pusat Informasi dan Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI

Khalid, Zein dkk. 2004. Diare Akut Disebabkan Bakteri. Fakultas Kedokteran
Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Universitas
Sumatera Utara

Mansjoer, Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Notoatmodjo, S., 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.

Soewondo ES. 2002. Seri Penyakit Tropik Infeksi Perkembangan Terkini Dalam
Pengelolaan Beberapa penyakit Tropik Infeksi. Surabaya : Airlangga
University Press.

Sudoyo, Aru W. dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V.
Jakarta : Interna Publishing.

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan &


Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.

40