Anda di halaman 1dari 26

1.1.

LATAR BELAKANG
Kabupaten Nabire memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
(RTRWK) 1999/2000–2009/2010. Sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2007
yang menggantikan Undang-undang Nomor 24 tahun 1992 tentang
Penataan Ruang. Pada Pasal 3 UU dimaksud, diamanatkan bahwa
penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang
wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan
berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan:
(1) Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan
buatan;
(2) Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dan
sumberdaya buatan dengan memperhatikan sumberdaya manusia;
(3) Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak
negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa penyelenggaraan penataan ruang


adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan
pengawasan penataan ruang (penataan ruang adalah suatu sistem dari
proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang). Penataan ruang diselenggarakan dengan
memperhatikan:
(1) Kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
rentan terhadap bencana;
(2) Potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumber daya
buatan. kondisi ekonomi, sosial budaya, politik, hukum, pertahanan
keamanan, lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai satu kesatuan;
(3) Geostrategi, geopolitik dan geoekonomi.

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I-1


Penataan ruang yang diklasifikasikan sebagai penataan ruang wilayah
nasional, penataan ruang wilayah provinsi dan penataan ruang wilayah
kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang dan ”Komplementer” artinya
adalah bahwa penataan ruang wilayah nasional, penataan ruang wilayah
provinsi dan penataan ruang wilayah kabupaten/kota saling melengkapi
satu sama lain, bersinergi dan tidak terjadi tumpang tindih kewenangan
dalam penyelenggaraannya. Untuk itu, setiap tingkatan kepemerintahan
diatur wewenangnya dalam menyelenggarakan penataan ruang. Wewenang
pemerintah daerah kabupaten seperti halnya Kabupaten Nabire meliputi:
(1) Pengaturan, pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
penataan ruang wilayah kabupaten/kota dan kawasan strategis
kabupaten/kota;
(2) Pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten/kota;
(3) Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota;
(4) Kerjasama penataan ruang antar kabupaten/kota.

Khusus tentang wewenang pemerintah daerah kabupaten/kota dalam


pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten/kota meliputi:
(1) Perencanaan tata ruang wilayah kabupaten/kota;
(2) Pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota;
(3) Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota.

Selain itu, dalam UU Nomor 26 Tahun 2007 diamanatkan bahwa


jangka waktu rencana tata ruang wilayah kabupaten yaitu 20 tahun (Pasal
26 ayat 4). Hal-hal lain yang diatur dalam UU Penataan Ruang baru (Pasal
26 ayat 2 dan ayat 3) tentang rencana tata ruang wilayah kabupaten
adalah:
(1) Rencana tata ruang wilayah kabupaten menjadi pedoman untuk:
(a) Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;
(b) Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah
daerah;
(c) Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di
wilayah kabupaten;
(d) Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan
antarsektor;

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I-2


(e) Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi;
(f) penataan ruang kawasan strategis kabupaten.
(2) Rencana tata ruang wilayah kabupaten menjadi dasar untuk
penerbitan perizinan lokasi pembangunan dan administrasi
pertanahan.

Beberapa kejadian yang mempengaruhi dasar-dasar kehidupan


masyarakat, antara lain gempa bumi yang terjadi berulang-ulang dengan
kekuatan gempa yang menghancurkan. Kondisi ini mengharuskan
Pemerintah Kabupaten Nabire untuk mengatur kembali pembangunan
wilayah dengan mewaspadai wilayah-wilayah bahaya gempa. Gempa bumi
pada tanggal 26 November 2004 sangat kuat yaitu sebesar 8.1 SR sehingga
merusakkan sebagian besar prasarana dan sarana yang ada di wilayah
Kabupaten Nabire.
Demikian pula kecenderungan perkembangan yang terjadi selama
lima tahun terakhir ini, antara lain menyangkut meluasnya lahan kritis,
eksploitasi sumberdaya alam, kerusakan lingkungan hidup, hak ulayat atas
tanah, isu pemekaran wilayah dan lain-lain, menambah pentingnya segera
dilakukan penyempurnaan RTRW Kabupaten Nabire 1999/2000–2009/2010.
Adapun tujuan dari penyususan RTRW secara normatif adalah untuk
mewujudkan ruang wilayah kabupaten yang memenuhi kebutuhan
pembangunan dengan senantiasa berwawasan lingkungan, efisien dalam
alokasi investasi, bersinergi dan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan
program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Dengan adanya perubahan lingkungan strategis nasional, antara lain
berupa pemilihan kepala daerah (Pilkada) dan perubahan pada struktur
perencanaan pembangunan nasional yang dicirikan dengan terbitnya
Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan
Nasional, maka kepala daerah terpilih diharuskan menyusun RPJM dan RPJP
di daerahnya masing-masing. Dokumen RPJM ini akan menjadi acuan
pembangunan daerah yang memuat antara lain visi, misi, arah kebijakan
dan program-program pembangunan selama 5 (lima) tahun kedepan.
Dengan demikian, terkait kondisi tersebut, maka Dokumen RTRW yang ada
juga harus mengacu pada visi dan misi tersebut. Dengan kata lain RTRW

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I-3


yang ada merupakan bagian dari terjemahan visi dan misi daerah yang
direpresentasikan dalam bentuk pola dan struktur pemanfaatan ruang.
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
Penyusunan RTRW Kabupaten Nabire 2007–2027 ini dimaksudkan
agar pelaksanaaan pembangunan di Kabupaten Nabire dapat lebih terarah
serta mampu mendorong percepatan pembangunan di wilayah yang
bersangkutan, secara rinci RTRW ini bertujuan untuk:
(1) Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam
secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat;
(2) Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan antar
wilayah serta keserasian antar sektor melalui pemanfaatan ruang
kawasan secara serasi, selaras dan seimbang serta berkelanjutan
dengan memperhatikan tingkat risiko bencana alam yang meliputi
gempa bumi, tsunami, longsor dan banjir;
(3) Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan mencegah timbulnya
dampak negatif terhadap lingkungan;
(4) Meningkatkan fungsi dan peran Kabupaten Nabire dalam
pengembangan wilayah yang lebih luas, berupa pengembangan
kawasan budidaya dan non budidaya serta aspek-aspek strategis
dalam mewujudkan fungsi yang nyata sebagai satu kesatuan dengan
wilayah-wilayah sekitarnya.

1.3. SASARAN
Sedangkan sasaran Penyusunan Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Nabire ini adalah:
(1) Terkendalinya pembangunan di wilayah kabupaten Nabire, baik
yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat;
(2) Terciptanya keserasian antara kawasan lindung dan kawasan
budidaya;
(3) Tersusunnya rencana dan keterpaduan program-program
pembangunan di wilayah Kabupaten Nabire;
(4) Terdorongnya minat investasi masyarakat dan dunia usaha di
wilayah Kabupaten Nabire;

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I-4


(5) Tersusunnya arahan indikasi program pembangunan dan arahan
pengembangan kawasan-kawasan prioritas;
(6) Terkoordinasinya pembangunan antar wilayah dan antar sektor
pembangunan dengan memperhatikan tingkat risiko bencana di
Kabupaten Nabire.

1.4. METODE PENDEKATAN STUDI


Penyusunan RTRW Kabupaten Nabire, berisikan uraian mengenai
pendekatan dan metodologi yang akan mengacu kepada Undang Undang
Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007, Keputusan Nomor
327/KPTS/M/2002 menetapkan Pedoman Peninjauan Kembali dan
Penyusunan RTRW Kabupaten dan Provinsi serta Rencana Tata Ruang
Kawasan Perkotaan.

1.4.1 Pendekatan Perkejaan


Beberapa hal yang melatarbelakangi perlu dilaksanakannya
kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten
Nabire, antara lain:
(1) Proses perencanaan yang menyeluruh (comprehensive),
berurutan, memahami hubungan kausal antarvariabel dan
dapat/mudah diikuti oleh bukan-profesi perencana tata ruang yang
terlibat;
(2) Menerapkan ketentuan yang berlaku dalam Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
maupun ketentuan yang lebih teknis, antara lain Kepmen Kimpraswil
327/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kawasan Perkotaan;
(3) Berpedoman kepada tingkatan rencana tata ruang di atasnya, yaitu
RTRW Nasional (skala 1 : 1.000.000);
(4) Penggunaan metode kuantitatif maupun kualitatif yang sesuai
dengan kondisi khas setempat, ketersediaan data dan kecenderungan
perkembangan;

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I-5


(5) Penyusunan rencana tata ruang yang dapat digunakan pada
tingkatan skalanya (1 : 100.000);
(6) Mempertimbangkan otonomi daerah dengan memasukkan prinsip
partisipasi aktif daerah sebagai salah satu pendekatan pelaksanaan
pekerjaan/ proses pekerjaan;
(7) Pada kedudukannya sebagai pedoman perencanaan sektoral, maka
RTRW Kabupaten harus melingkupi seluruh aspek sektoral yang ada
dalam wilayah Kabupaten, seperti pemanfaatan lahan untuk
pengendalian pertanahan, perkiraan penduduk dan sebarannya untuk
parameter pengembangan air bersih, listrik, fasilitas umum dan
pengembangan ekonomi untuk investasi.
Saat ini, dalam pengembangan suatu wilayah terdapat suatu
paradigma yang semakin kental khususnya yang berhubungan dengan
otonomi daerah. Nuansa tersebut terkait dengan proses suatu perencanaan.
Proses Bottom-up Planning dan peran serta masyarakat dalam seluruh
kegiatan pembangunan semakin menjadi lebih dominan. Kentalnya nuansa
tersebut kadangkala menjadikan ego sektoral dan wilayah semakin
membesar tanpa melihat nuansa global dan regional.
Dilain pihak masih terdapatnya upaya-upaya pengembangan suatu
wilayah yang masih bersifat top-down. Pendekatan ini biasa dilakukan oleh
pemerintah pusat yang umumnya berorientasi pertumbuhan, efisiensi, dan
pengembangan jaringan.
Dengan adanya dua pendekatan tersebut regional planning
mempertemukan kedua pendekatan di atas menjadi suatu sinergi dengan
tujuan mengembangkan wilayah ke arah pertumbuhan secara merata
dengan memperhatikan faktor-faktor kelestarian lingkungan lingkungan.

1.4.2 Metodologi
Proses yang harus diikuti dalam RTRW Kabupaten Nabire adalah:
(1) Tahap Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan;
(2) Tahap Peninjauan Kembali RTRW Kabupaten Sebelumnya;
(3) Tahap Pengumpulan Data dan Informasi;
(4) Tahap Kajian/Analisa;
(5) Tahap Perumusan Konsep RTRW Kabupaten Nabire;

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I-6


(6) Tahap Perumusan RTRW Kabupaten Nabire;
(7) Tahap Kelembagaan dalam Proses Penyusunan RTRW Kabupaten
Nabire;
(8) Tahap Perumusan Peran Serta Masyarakat dalam Proses
Penyusunan RTRW Kabupaten Nabire;
(9) Proses Legalisasi RTRW Kabupaten Nabire;
(10) Tahap pelaporan Penyusunan RTRW Kabupaten Nabire.

1.4.3 Tahapan Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan


Tahap persiapan bertujuan menyiapkan tim, baik secara substansial
maupun administratif, untuk melaksanakan pekerjaan ini dan memenuhi
tujuan dan keluaran yang diharapkan. Kegiatan pada tahap ini meliputi:
(1) Penyusunan Rencana Kerja, yang meliputi penyempurnaan
metodologi agar lebih rinci dan operasional, dan penyempurnaan
jadwal kerja untuk melengkapi dan mensinkronkan tugas tenaga ahli
dengan jadwal kerja;
(2) Description study, untuk untuk mendapatkan gambaran awal
wilayah studi. Pada tahap ini dikaji data sekunder, seperti: dokumen
RTRW Kabupaten yang telah ada sebelumnya, peta sumber daya lahan
yang terdiri dari peta topografi, peta land system skala 1 : 100.000,
peta geologi, dan peta lain yang relevan dan tersedia. Peta-peta
tersebut digunakan untuk menyiapkan peta dasar dalam kegiatan
lapangan. Pada tahap ini, dilakukan pula penyusunan daftar data yang
diperlukan, pengumpulan data sekunder atau dokumen pendukung,
penyusunan daftar pertanyaan dan surat pengantar/administrasi untuk
di lapangan;
(3) Mobilisasi tenaga ahli dan penjelasan kembali alokasi tugas tenaga
ahli serta pertemuan tahap awal.

1.4.4 Tahap Pengumpulan Data dan Informasi


Tahap pengumpulan data bertujuan mengidentifikasi kondisi dan
kecenderungan perkembangan wilayah, melalui data/informasi yang
dikumpulkan. Pada tahap ini, dilakukan pengumpulan data, baik data
primer maupun sekunder.

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I-7


Kegiatan yang dilakukan adalah:
(1) Sebelum pelaksanaan pekerjaan lapangan, terlebih dahulu
dilakukan konsultasi awal dengan pihak pemerintah kabupaten untuk
memperoleh informasi mengenai isu pembangunan terkini, persepsi,
preferensi, permasalahan pembangunan dan arahan dalam melakukan
pekerjaan lapangan. Pada tahap ini juga dibicarakan rencana kerja
dalam seluruh proses perencanaan;
(2) Pengumpulan data primer yang akan dilakukan adalah observasi
lapangan dan wawancara. Observasi dilakukan untuk memeriksa
(plotting) penggunaan lahan, perubahan batas administrasi, kondisi
sistem transportasi wilayah, fasilitas umum dan utilitas. Wawancara
akan dilakukan terhadap pengambil kebijakan di sektor negara dan
swasta, pemuka masyarakat dan stakeholder terkait lainnya, untuk
memahami persepsi dan preferensi mereka terhadap pembangunan di
daerahnya;
(3) Kegiatan survei ini diakhiri dengan konsultasi akhir dengan
pemerintah provinsi, dalam hal ini Provinsi Papua untuk menyampaikan
hasil survei serta mendapatkan masukan untuk melengkapi data yang
masih kurang.

Metode yang digunakan dalam pekerjaan lapangan ini dapat


diuraikan sebagai berikut:
(1) Pengumpulan Data Primer
(a) Observasi lapangan di wilayah perencanaan, termasuk preliminary
reconnaissance survey (PRS), pemeriksaan data penggunaan
lahan dan fasilitas umum (bila tidak ada data sekunder),
pencatatan permasalahan aktual di lapangan. Bahan yang
digunakan adalah peta dasar dan peta tematik tertentu (sebagai
bahan recheck & revisi di lapangan);
(b) Wawancara tidak terstruktur (open ended interview) dengan
stakeholder yang berkompeten, untuk mendapatkan masukan
pengembangan Provinsi, persepsi, kebutuhan, permasalahan,
potensi serta aspirasi masyarakat. Bahan yang digunakan dapat

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I-8


berupa daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya,
untuk membantu responden agar memberikan masukan secara
terarah.
(2) Pengumpulan Data Sekunder
Survei ini dilakukan dengan kunjungan ke instansi-instansi terkait
untuk mengumpulkan data sekunder. Data sekunder yang dimaksud adalah
data berkaitan dengan kebijakan pengembangan wilayah, ekonomi, dan
sosial serta peta-peta tematik yang diperlukan dalam perencanaan.
Bahan yang digunakan adalah check list data dengan sumbernya
yang sudah dipersiapkan pada tahap persiapan pelaksanaan pekerjaan.
Secara diagramatis, metoda pengumpulan data yang dilakukan di dalam
melaksanakan pekerjaan ini dapat dilihat pada Gambar 1.1.

WAWANCARA : PERSEPSI DAN PREFERENSI MASYARAKAT


DATA PRIMER :
DIPEROLEH MELALUI
WAWANCARA/ WAWANCARA/KONSULTASI DENGAN INSTANSI , TOKOH MASYARAKAT.
KONSULTASI DENGAN LSM : ISU PENTING PENGEMBANGAN, KONDISI SOSIAL BUDAYA
STAKEHOLDER, MASYARAKAT, DAN INFORMASI PENTING
OBSERVASI
LAPANGAN
OBSERVASI LAPANGAN : PENGAMATAN DAN PENCATATAN JARINGAN
JALAN, MODA TRANSPORT, SARANA DAN PRASARANA WILAYAH, FOTO
IMAGE WILAYAH

PETA TEMATIK WILAYAH : PETA ADMINISTRATIF, JENIS TANAH, TATA


GUNA LAHAN, PADUSERASI, SEBARAN IKLIM, PRASARANA WILAYAH,
JARINGAN TRANSPORTASI.

DATA SEKUNDER, KEBIJAKAN DAN PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PERENCANAAN


SUMBER : : UNDANG-UNDANG, RTRWN, RTRWP, RPJP, RPJM, RENSTRA
INSTANSIONAL TERKAIT SEKTORAL, PERDA-PERDA

DATA-DATA STATISTIK : DEMOGRAFI, EKONOMI, FISIK, TRANSPORTASI

Gambar 1.1
Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang dibutuhkan mengikuti lingkup kajian yang akan


dilaksanakan, tercakup dalam data Kabupaten, yang terdiri dari data
kebijakan daerah, data fisik dasar, fisik buatan, data kependudukan,
ekonomi, dan dokumen rencana sektoral, antara lain:

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I-9


1. Data Kebijakan Pembangunan Daerah (Sasaran dan
Tujuan) dan Data Regional
(1) Data Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional dan
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Nabire;
(2) Data Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional
dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten
Nabire;
(3) Data Rencana Strategis (Renstra) Satuan Kerja Perangkat Daerah
Kabupaten Nabire;
(4) Data atau informasi arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional,
Rencana Tata Ruang Kabupaten Nabire.

2. Data Karakteristik Ekonomi Wilayah dan


Perkembangannya
(1) Data PDRB Kabupaten Nabire (selama 5 tahun terakhir);
(2) Data sistem jaringan transportasi jalan (selama 5 tahun terakhir);
(3) Data produksi persektor pembangunan total Kabupaten Nabire
(selama 5 tahun terakhir);
(4) Data produksi persektor pembangunan Kabupaten Nabire .

3. Data dan Kondisi Perkembangan


Kependudukan/Demografi
(1) Data jumlah penduduk Kabupaten Nabire (selama 5 tahun
terakhir);
(2) Data kepadatan penduduk Kabupaten Nabire (selama 5 tahun
terakhir);
(3) Data tingkat pertumbuhan Kabupaten Nabire (selama 5 tahun
terakhir);
(4) Data lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Nabire (selama 5
tahun terakhir).

4. Data Sumberdaya Buatan dengan peta dibuat dengan


kedalaman skala 1 : 100.000
(1) Data sarana ekonomi Kabupaten Nabire (selama 5 tahun terakhir);
(2) Data sarana sosial Kabupaten Nabire (selama 5 tahun terakhir);

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I - 10


(3) Data dan peta sarana dan prasarana transportasi di Kabupaten
Nabire (selama 5 tahun terakhir);
(4) Data dan prasarana pengairan Kabupaten Nabire (selama 5 tahun
terakhir);
(5) Data dan peta sumber air baku di Kabupaten Nabire tiap
kabupaten/kota dan kecamatan (selama 5 tahun terakhir);
(6) Data dan peta sistem jaringan listrik di Kabupaten Nabire (selama 5
tahun terakhir);
(7) Data dan peta sistem telekomunikasi di Kabupaten Nabire (selama
5 tahun terakhir).

5. Data sumberdaya alam dengan peta dibuat dengan


kedalaman skala 1 : 100.000
(1) Data dan peta penggunaan lahan/tanah/pesisir/perairan/
kelautan/bawah laut;
(2) Data dan peta hidrologi/sumberdaya air;
(3) Data dan peta topografi dan morfologi;
(4) Data dan peta demografi, geologi dan jenis tanah;
(5) Data dan peta unsur iklim dan sumberdaya mineral;
(6) Data dan peta kawasan budidaya dan non budidaya;
(7) Data dan peta pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan,
pertambangan;
(8) Data dan peta kawasan rawan bencana.

1.5. RUANG LINGKUP


1.5.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan penyusunan tata ruang pada umumnya meliputi:
1. Tahapan Persiapan Survei
Pokok pekerjaan dan hasilnya adalah sebagai berikut:
(1) Persiapan dasar, berupa pengkajian data dan literatur yang telah
ada, yang berkaitan dengan rencana tata ruang wilayah yang
hasilnya dapat berupa asumsi dan hipotesa mengenai keadaan tata
ruang yang direncanakan;

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I - 11


(2) Persiapan teknis survei, berupa pengumpulan peta-peta dasar,
daftar data, dan daftar pertanyaan serta persiapan peralatan
lainnya yang diperlukan dalam menyusun rencana tata ruang;
2. Tahapan Survei
Pokok-pokok pekerjaan dan hasilnya adalah sebagai berikut:
(1) Survei data instansi, berupa pengumpulan data angka atau peta,
uraian mengenai keadaan wilayah, uraian mengenai keadaan
wilayah Kabupaten Nabire;
(2) Survei lapangan, berupa pengecekan kondisi di lapangan yang
selanjutnya dituangkan pada peta. Untuk lingkup kabupaten, maka
yang perlu dipetakan adalah zona resiko bencana alam, kawasan
non-budidaya, pola penggunaan lahan, kondisi topografi/kemiringan
tanah, geologi/daya dukung tanah, hidrologi/sumber air, kondisi
sistem transportasi (laut, udara, darat), penyebaran kegiatan
penduduk di tiap pulau (fasilitas sosial dan ekonomi) dan jaringan
utilitas wilayah serta program proyek yang ada dan sedang
berjalan;
(3) Melakukan kajian ulang dan memperbaharui kevaliditasan data
temasuk peta-peta yang tersedia di tingkat kabupaten;
(4) Interview, yaitu untuk melengkapi ketiga survei tersebut apabila
dirasakan sangat penting guna memperoleh bahan/keterangan
yang lebih rinci.
3. Tahap Kompilasi Data
Pokok-pokok pekerjaan dan hasilnya adalah sebagai berikut:
(1) Pekerjaan kompilasi data adalah suatu tahap proses
seleksi data, tabulasi data dan
mengelompokkan/mensistematisasikan data sesuai dengan yang
diperlukan didalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten. Hasilnya adalah buku data dan analisa yang disajikan
menurut urutan sesuai dengan sistematika dilengkapi dengan tabel,
angka-angka diagram dan peta, yang disusun sedemikian rupa
sehingga mudah dibaca serta siap untuk dianalisa;
(2) Jenis data dan sistematikanya adalah sebagai berikut:

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I - 12


(a) Kebijakan nasional dan daerah yang diduga berpengaruh pada
perkembangan Kabupaten yang direncanakan;

(b) Aspek Kebencanaaan, antara lain:


(i) Penentuan zonasi kerawanan bencana alam;
(ii) Penentuan zonasi kerentanan bencana alam;
(iii) Penentuan zonasi risiko bencana alam.
(c) Aspek kependudukan, antara lain:
(i) Jenis kelamin, tingkat pendidikan, agama, lapangan
kerja, pendapatan dan sebagainya;
(ii) Perkembangan penduduk, dalam hal jumlah,
penyebaran dan komposisi;
(iii) Adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan, dan sebagainya.
(d) Aspek perekonomian, antara lain:
(i) Produksi tiap sektor kegiatan ekonomi dan
penyebarannya;
(ii) Pola aliran barang dan jasa dalam proses koleksi dan
distribusi.
(e) Aspek sumber daya alam, antara lain:
(i) Keadaan sumber daya laut, pulau kecil, tanah, air dan
iklim;
(ii) Sumber daya alam yang belum diolah;
(iii) Keadaan, kondisi dan pengolahan tanah.
(f) Aspek fasilitas pelayanan dan prasarana, antara lain :
(i) Jenis-jenis fasilitas, jumlah dan penyebarannya di
wilayah perencanaan, baik untuk melayani kegiatan sosial
maupun kegiatan ekonomi;
(ii) Jenis-jenis prasarana wilayah dan perkotaan seperti
jalan, listrik, drainase, air minum, baik dalam kualitas
maupun kuantitasnya;
(iii) Perkembangan mengenai pengadaan fasilitas dan
prasarana/ sarana, baik dalam hal kualitas, kuantitasnya

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I - 13


maupun sumber dana yang digunakan bagi pembiayaan
pembangunannya.

(g) Aspek administrasi/pengelolaan pembangunan, antara lain:


(i) Keadaan organisasi aparatur pelaksanaan
pembangunan, struktur organisasi, tata kerja, khususnya
yang menggambarkan mekanisme dan tata kerja dinas
atau unit pelaksana teknis daerah yang berfungsi dalam
pengendalian pelaksanaan rencana Kabupaten;
(ii) Keadaan keuangan daerah, pajak dan retribusi ditinjau
menurut sumbernya beserta perkembangannya;
(iii) Keadaan status pemilikan/hak guna usaha tanah
seperti Hak Pengelolaan Hutan secara umum;
(iv) Keadaan tanah dan guna lahan secara umum;
(v) Peraturan-peraturan Daerah atau kebijakan
Pemerintah Daerah lainnya tentang pelaksanaan
pembangunan.
(h) Selain data kuantitatif mengenai kondisi eksisting, juga
dilengkapi data mengenai potensi pembangunan dan mengenai
permasalahan yang dihadapi.
4. Tahap Analisis
Merupakan kegiatan pengkajian terhadap beberapa aspek kondisi
wilayah dan data berdasarkan prinsip-prinsip, pendekatan dan metode
serta teknik analisis perencanaan kabupaten yang dilakukan baik secara
ilmiah maupun secara praktis.
Secara umum, tahapan analisis, pokok pekerjaan dan hasilnya adalah
sebagai berikut:
(1) Di dalam keseluruhan analisis pada prinsipnya terdapat empat jenis
penilaian yaitu:
(a) Analisis keadaan dasar adalah menilai kondisi pada saat
sekarang;

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I - 14


(b) Analisis kecenderungan kerawanan bencana alam sejak masa
lalu sampai sekarang dan kemungkinan-kemungkinannya di
masa depan;
(c) Analisis sistem perwilayahan serta kebutuhan ruang dan
prasarana dan sarana, yaitu menilai hubungan ketergantungan
antara sub sistem atau antar fungsi dan pengaruhnya;
(d) Analisis kemampuan pengelolaan pembangunan pada
pemerintahan Kabupaten Nabire, yaitu menilai kondisi
keuangan daerah, organisasi pelaksana dan pengawasan
pembangunan, personalia, baik pada saat sekarang maupun
yang diperlukan di masa depan.
(2) Hal-hal pokok analisa adalah:
(a) Makro mencakup analisis kemampuan tumbuh dan
berkembangnya provinsi, antara lain menilai :
(i) Potensi wilayah dan permasalahannya, sehingga
terdapat gambaran hubungan atau ketergantungan
provinsi dengan wilayah sekitarnya;
(ii) Pengaruh potensi dan permasalahan tersebut terdapat
perkembangan sektor-sektor kegiatan di Kabupaten
sehingga terdapat gambaran hubungan atau
ketergantungan antar sektor;
(iii) Pengaruh potensi dan permasalahan yang berkaitan
dengan bencana alam sehingga terdapat gambaran
arahan struktur dan pola ruang di Kabupaten Nabire untuk
pembangunan.
(b) Mikro mencakup:
(i) Analisis kependudukan;
(ii) Analisis perekonomian;
(iii) Analisa bentuk dan struktur ruang;
(iv) Analisis keadaan fasilitas dan prasarana;
(v) Analisis penentuan fungsi wilayah;
(vi) Analisis keuangan dan pengelolaan.
(3) Tahap Penyusunan Rancangan Rencana.

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I - 15


Merupakan suatu tahap sebelum mencapai penyusunan Rencana
Final, yang merupakan suatu Rancangan Rencana sebagai bahan
yang akan dibahas didalam forum seminar.

Pokok-pokok pekerjaan dan hasilnya adalah sebagai berikut:


(a) Rancangan Rencana tersebut merupakan rumusan kebijakan
dasar dalam pengembangan tata ruang wilayah sampai kurun
waktu 20 tahun mendatang;
(b) Merumuskan tujuan pembangunan dan pengendalian tata
ruang wilayah Kabupaten sesuai dengan cita-cita masyarakat
setempat..
(c) Merumuskan kebijakan dasar rencana antara lain mencakup:
(i) Penentuan fungsi dan peranan serta kedudukan
Kabupaten;
(ii) Penentuan Zonasi Resiko Bencana;
(iii) Penentuan strategi dasar pengembangan sektor-sektor
kegiatan pembangunan, sebagaimana disebut dalam Pola
Umum Pembangunan Nasional/Daerah jangka panjang
dan pada Pola Dasar Pembangunan Daerah yang
disesuaikan untuk pengembangan wilayah;
(iv) Kebijakan kependudukan, dalam jumlah dan
kepadatan;
(v) Pengembangan tata ruang, datam hal penetapan
struktur wilayah yang optimal, pola intensifikasi dan arah
ekstensifikasi pemanfaatan ruang di seluruh daratan,
perairan laut dan udara yang masuk di dalam Kab.
Nabire;
(vi) Pengembangan fasilitas dan utilitas, dalam kaitannya
dengan fungsi-fungsi yang akan ditingkatkan.

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I - 16


Selanjutnya, rumusan kebijakan dasar rencana tersebut dijabarkan
dan dituangkan dalam bentuk rancangan rencana tata ruang yang
meliputi:
(a) Pengembangan konsep wilayah yang direncanakan di masa
depan yang memberikan gambaran komponen-komponen
utama wilayah seluruh daratan, perairan laut dan udara yang
masuk di dalam Kabupaten Nabire;
(b) Rencana struktur termasuk di dalamnya sistem perkotaan dan
sistem jaringan prasarana;
(c) Rencana pola ruang yang meliputi kawasan lindung dan
kawasan budidaya;
(d) Penetapan kawasan strategis Kabupaten;
(e) Arahan pemanfaatan ruang Kabupaten;
(f) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten.

(4) Tahapan Penyusunan Rencana


(a) Penyempurnaan dan Pengesahan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Nabire;
(b) Pengenalan rencana tata ruang bagi seluruh instansi terkait
dan masyarakat.

1.5.2 Lingkup Wilayah


Lingkup perencanaan RTRW Kabupaten Nabire meliputi batas-batas
administrasi yang telah ditetapkan berdasarkan Nabire Dalam Angka Tahun
2007 dengan luas 13.397,59 km2. Unit terkecil analisis umumnya berupa
kecamatan/distrik, tetapi beberapa bagian langsung menyentuh pada
perencanaan di level desa atau kelurahan. Wilayah perencanaan meliputi
seluruh daratan, perairan laut dan udara yang masuk di dalam Kabupaten
Nabire dengan 22 distrik, yaitu:
(1) Distrik Nabire (6) Distrik Dogiyai
(2) Distrik Napan (7) Distrik Mapia
(3) Distrik Wapoga (8) Distrik Tengah
(4) Distrik Yaur (9) Distrik Uwapa
(5) Distrik Kamu (10) Distrik Wanggar

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I - 17


(11) Distrik Nabire (17) Distrik Teluk Utama
Barat (18) Distrik Mapia Barat
(12) Distrik Kamu Utara (19) Distrik Kamu Selatan
(13) Distrik Kamu Timur (20) Distrik Sukikai Selatan
(14) Distrik Sukikai (21) Distrik Teluk Kimi
(15) Distrik Sirowo (22) Distrik Yaro
(16) Distrik Makimi

Buku Data dan Analisa, RTRW Kabupaten Nabire 2007-2027 I - 18


Tabel 1.1.
Ruang Lingkup Analisis Penyusunan RTRW
No
Aspek Penjelasan
.
1. Analisis Kebijakan pembangunan adalah untuk memahami
arahan kebijakan pembangunan wilayah kabupaten yang
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

bersangkutan dan kedudukannya dalam perspektif Kebijakan


pembangunan nasional dan propinsi, serta untuk
mengantisipasi dan mengakomodasi program-program
pembangunan sektoral yang akan dilaksanakan. Oleh karena
itu, selain dilakukan pengkajian terhadap tujuan dan sasaran
pembangunan kabupaten yang bersangkutan, juga dilakukan
pengkajian terhadap RTRWP dan RTRWN serta program-
program sektoral untuk melihat peranan wilayah kabupaten
dalam pembentukan pola dan struktur ruang nasional dan
regional.
2.
REGIONAL
ANALISIS

Analisis regional dilakukan untuk memahami kedudukan dan


keterkaitan kabupaten dalam sistem regional yang lebih luas
dalam aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan budaya

3. Analisis ekonomi dilakukan untuk mewujudkan ekonomi


EKONOMI DAN SEKTOR UNGGULAN

wilayah yang sustainable melalui keterkaitan ekonomi lokal


dalam sistem ekonomi wilayah yang lebih luas. Dalam
pengertian tersebut, analisis ekonomi diarahkan untuk
menciptakan keterkaitan ekonomi antar kawasan di dalam
wilayah kabupaten dan keterkaitan ekonomi antar wilayah
kabupaten.
Dari analisis ini, diharapkan diperoleh pengetahuan
mengenai karakteristik perekonomian wilayah dan ciri-ciri
ekonomi kawasan dengan mengidentifikasi basis ekonomi
kabupaten, sektor-sektor unggulan, besaran kesempatan
kerja, pertumbuhan dan disparitas pertumbuhan ekonomi di
wilayah kabupaten.
Lanjutan Tabel 1.1
No
Aspek Penjelasan
.
4. Analisis sumberdaya manusia dilakukan untuk memahami
aspek-aspek kependudukan terutama yang memiliki
pengaruh timbal balik dengan pertumbuhan perkembangan
SUMBE
RDAYA

sosial dan ekonomi. Selain itu, analisis sumberdaya manusia


dilakukan untuk memahami faktor-faktor sosial
kemasyarakatan yang mempengaruhi perkembangan wilayah
MANUS

serta hubungan kausalitas diantara faktor-faktor tersebut.


IA

Dari hasil analisis ini dapat diketahui sebaran/distribusi,


struktur, kualitas, karakteristik masyarakat, tingkat
pertumbuhan penduduk, kendala dalam pengembangan serta
potensi sumberdaya manusia yang dapat dikembangkan.
5. A. Sistem Prasarana Transportasi
SUMBERDAYA BUATAN

Analisis sistem prasarana transportasi yang meliputi


transportasi darat, air, dan udara dilakukan untuk
memperoleh gambaran mengenai:
(1) Keterkaitan fungsional dan ekonomi antar kota, antar
kawasan baik dalam wilayah maupun antar wilayah
kabupaten, dengan melihat pengumpul hasil produksi,
pusat kegiatan transportasi, dan pusat distribusi barang
dan jasa;
(2) Kecenderungan perkembangan prasarana transportasi
yang ada;
(3)Aksesibilitas lokasi-lokasi kegiatan di wilayah kabupaten.
Lanjutan Tabel 1.1
No
Aspek Penjelasan
.
B. Sistem Prasarana Pengairan
Analisis sistem prasarana pengarian dilakukan untuk
memperoleh gambaran mengenai:
(1) Keterkaitan fungsional antara sumber-sumber air baku
dengan lokasi atau kawasan industri, pertanian,
permukiman, dan sebagainya;
(2) Kecenderungan perkembangan pelayanan prasarana
pengairan yang ada;
(3) Kondisi sumber air dikaitkan dengan upaya
pelestarian;
(4) Standar kebutuhan air baku pada masing-masing
kegiatan.
C. Sistem prasarana wilayah lainnya
Yaitu prasarana energi/listrik, telekomunikasi, pengelolaan
lingkungan (seperti sampah, air limbah dan air bersih),
prasarana kota, dan sebagainya. Idenfikasi ini dimaksudkan
untuk menemui dan mengenali fungsi, kondisi, dan tingkat
pelayanan prasarana wilayah tersebut.
6. Analisis terhadap sumberdaya alam dimaksudkan untuk
SUMBERDAYA ALAM

memahami kondisi, daya dukung lingkungan, dan untuk


memahami tingkat perkembangan pemanfaatan sumberdaya
lahan/tanah, sumberdaya air, sumberdaya udara,
sumberdaya hutan, dan sumberdaya alam lainnya serta
potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam
menunjang pengembangan wilayah kabupaten.
Lanjutan Tabel 1.1
No
Aspek Penjelasan
.
A. Sumberdaya Tanah
Analisis sumberdaya tanah dilakukan untuk mengidentifikasi
potensi pengembangan berdasarkan kesesuaian tanah
merekomendasikan tentang peruntukan bagi kegiatan
budidaya (kawasan permukiman, pertanian, perkebunan,
pariwisata, pertambangan, industri, dan lain-lain) dan
kawasan lindung.
B. Sumberdaya Air
Analisis terhadap sumberdaya air dilakukan untuk
memahami bentuk-bentuk penguasaan, penggunaan, dan
kesesuaian pemanfaatan sumberdaya air.
6. C. Sumberdaya Udara
Analisis terhadap sumberdaya udara dilakukan untuk
mengetahui bentuk-bentuk penguasaan, penggunaan, dan
kesesuaian pemanfaatan sumberdaya udara dalam rangka
pengembangan kawasan yang menjaga kualitas udara.
D. Sumberdaya Hutan
Analisis terhadap sumberdaya hutan dilakukan untuk
mengetahui daya dukung/kemampuan kawasan dalam
menunjang fungsi hutan baik untuk perlindungan maupun
kegiatan produksi. Selain itu, analisis ini dimaksudkan untuk
menilai kesesuaian lahan bagi penggunaan hutan produksi
tetap dan terbatas, hutan yang dapat dikonversi, hutan
lindung, dan sebagainya.
E. Sumberdaya Alam Lainnya
Analisis sumberdaya alam lainnya dapat mencakup
sumberdaya hayati dan non-hayati yang dimaksudkan untuk
mengetahui bentuk-bentuk penguasaan, penggunaan, dan
kesesuaian pemanfaatan sumberdaya tersebut.
Lanjutan Tabel 1.1
No
Aspek Penjelasan
.
7. Analisis sistem permukiman dilakukan untuk memahami
PERMUKIMAN kondisi, jumlah, jenis, letak, ukuran, dan keterkaitan antar
SISTEM

pusat-pusat permukiman di wilayah kabupaten yang


digambarkan dengan sistem hirarki dan fungsi kawasan
permukiman.
8. Analisis penggunaan lahan dilakukan untuk mengetahui
bentuk-bentuk penguasaan, penggunaan, dan kesesuaian
pemanfaatan lahan untuk kegiatan budidaya dan lindung.
UNAAN
PENGG

Selain itu, dengan analisis ini dapat diketahui besarnya


fluktuasi intensitas kegiatan di suatu kawasan, perubahan,
perluasan fungsi kawasan, okupasi kegiatan tertentu
LAHAN

terhadap kawasan, benturan kepentingan sektoral dalam


pemanfaatan ruang, kecenderungan pola perkembangan
kawasan budidaya dan pengaruhnya terhadap
perkembangan kegiatan sosial ekonomi serta kelestarian
lingkungan.
9.
PEMBIAYAAN

Analisis pembiayaan pembangunan dilakukan untuk


mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan pembangunan
dan besaran biaya pembangunan baik dari Pendapatan Asli
Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi
Khusus (DAK), bantuan dan pinjaman luar negeri, perkiraan
PEMBANGUNA

sumber-sumber pembiayaan masyarakat, dan sumber-


sumber pembiayaan lainnya.
N
No
Aspek Penjelasan
.
10. Analisis kelembagaan dilakukan untuk memahami kapasitas
KELEMBAGAAN Pemerintah Kabupaten dalam menyelenggarakan
pembangunan yang mencakup struktur organisasi dan tata
laksana pemerintahan, sumberdaya manusia, sarana dan
prasarana kerja, produk-produk pengaturan serta
organisasi non-pemerintah (Ornop) dan perguruan tinggi.

1.6. PRODUK PEKERJAAN


Hasil yang diharapkan dari pekerjaan ini adalah Naskah Akademis
Penyempurnaan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Nabire
berupa Buku Data dan Analisa beserta Buku Rencana berupa arahan dan
prioritas pembangunan, upaya mitigasi bencana alam serta mekanisme
peran serta masyarakat, dengan kedalaman peta-peta berskala 1 :
100.000.

1.7. SISTEMATIKA PEMBAHASAN


Sesuai dengan tujuan penyusunannya, ruang lingkup pembahasan
dokumen “Buku Data dan Analisa” pekerjaan Penyempurnaan
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire ini dirinci
berdasarkan susunan sistematika sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang
lingkup kegiatan, hasil akhir yang diharapkan, metodologi dan
sistematika penyajian.

BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN WILAYAH


KABUPATEN NABIRE
Bab ini berisi tinjauan kebijakan yang terkait dengan perencanaan
pembangunan Kabupaten Nabire, yaitu Kebijakan Pembangunan
Nasional, Kebijakan Pembangunan Provinsi Papua, sampai dengan
Kebijakan Pembangunan dan Tata Ruang Nabire dan Isu Strategis
pengembangan wilayah Nabire.
BAB III TINJAUAN WILAYAH KABUPATEN NABIRE
Pembahasan yang dilakukan pada bab ini merupakan tinjauan
wilayah Kabupaten Nabire yang meliputi profil Provinsi Papua,
Kabupaten Nabire, dan isu wilayah aspek fisik dasar, penggunaan
lahan, kependudukan dan sosial budaya, sumber daya alam dan
dan perekonomian wilayah.
BAB IV PENENTUAN ZONA RISIKO BENCANA ALAM KABUPATEN
NABIRE
Pembahasan pada bab ini menitikberatkan pada penentuan zona
rawan bencana di kabupaten Nabire, meliputi zonasi kerawanan
bencana, zonasi kerentanan bencana, zona risiko bencana dan
penentuan zona multi bencana.

BAB V ANALISA PENGEMBANGAN WILAYAH


Pembahasan pada bab ini mengenai analisis kebijakann
pembangunan, kesesuaian lahan, pengembangan wilayah laut,
perekonomian wilayah, sumberdaya manusia, sumberdaya
buatan, sumberdaya alam (daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup), sistem permukiman, penggunaan lahan,
kelembagaan, potensi dan permasalahan pengembangan wilayah
kabupaten Nabire.